<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Jajanan Tradisional &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/jajanan-tradisional/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Sun, 27 Aug 2023 11:28:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Jajanan Tradisional &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Melihat Perkembangan Jajanan Ladu Beras Ketan Khas Kota Batu</title>
		<link>https://memontum.com/melihat-perkembangan-jajanan-ladu-beras-ketan-khas-kota-batu</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 2]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 27 Aug 2023 07:35:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KREATIF MASYARAKAT]]></category>
		<category><![CDATA[Beras ketan]]></category>
		<category><![CDATA[Berita hari ini]]></category>
		<category><![CDATA[jajanan]]></category>
		<category><![CDATA[Jajanan Tradisional]]></category>
		<category><![CDATA[kota batu]]></category>
		<category><![CDATA[melihat]]></category>
		<category><![CDATA[perkembangan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=196822</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Batu &#8211; Jajanan Ladu, yang menjadi khas Kota Batu, siapa sangka masih eksis hingga saat ini. Salah satu desa yang hingga saat ini masih bertahan memproduksi Ladu, yakni di Dusun Kandangan, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Meskipun, saat ini di tempat tersebut hanya ada dua warga yang memproduksi jajanan jadul itu. Salah [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Batu</strong> &#8211; Jajanan Ladu, yang menjadi khas Kota Batu, siapa sangka masih eksis hingga saat ini. Salah satu desa yang hingga saat ini masih bertahan memproduksi Ladu, yakni di Dusun Kandangan, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Meskipun, saat ini di tempat tersebut hanya ada dua warga yang memproduksi jajanan jadul itu.</p>



<p>Salah satu warga yang memproduksi Ladu, Sungkono (43), mengatakan bahwa perkembangan peminat Ladu selama beberapa terakhir mengalami penurunan. Bahkan, selama dua bulan ini sepi peminat.</p>



<p>&#8220;Biasanya bulan-bulan tertentu, misalnya Hari Raya banyak yang membeli jajanan Ladu ini. Tapi, mungkin bulannya nggak cocok, terus banyak yang keluar biaya anaknya sekolah dan sepi hajatan. Imbasnya, sekarang Ladu jadi sepi,&#8221; terangnya, saat ditemui di rumah produksi di Dusun Kandangan, Minggu (27/08/2023) siang.</p>



<p>Dalam sehari, paparnya, biasanya sebanyak 12 kilogram Ladu terjual. Tetapi, beberapa hari lalu sebanyak 24 kilogram Ladu hingga sepekan, masih belum terjual. &#8220;Untuk harga jual Ladu, setengah kilogram saya jual Rp 43 ribu. Dan, yang seperempat kilogram saya jual Rp 22 ribu,&#8221; tuturnya.</p>



<p><strong>Baca Juga :</strong></p>


<ul class="wp-block-latest-posts__list wp-block-latest-posts"><li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/pemkot-dan-dprd-kota-malang-jemput-dukungan-pusat-untuk-penanganan-pasar-besar">Pemkot dan DPRD Kota Malang Jemput Dukungan Pusat untuk Penanganan Pasar Besar</a></li>
<li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/bupati-lumajang-pastikan-pembangunan-kkdmp-berjalan-tertib-dan-memiliki-kepastian-hukum">Bupati Lumajang Pastikan Pembangunan KKDMP Berjalan Tertib dan Memiliki Kepastian Hukum</a></li>
<li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/bahas-masalah-incenerator-waste-to-energy-bupati-malang-audensi-bersama-rektor-universitas-brawijaya">Bahas Masalah Incenerator Waste To Energy, Bupati Malang Audensi bersama Rektor Universitas Brawijaya</a></li>
<li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/peringatan-nuzulul-quran-sekda-kabupaten-malang-ingatkan-pentingnya-pembangunan-spiritual-masyarakat">Peringatan Nuzulul Quran, Sekda Kabupaten Malang Ingatkan Pentingnya Pembangunan Spiritual Masyarakat</a></li>
<li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/masuki-pertengahan-ramadan-kiriman-uang-pmi-via-kantor-pos-malang-turun-rp-18-miliar">Masuki Pertengahan Ramadan, Kiriman Uang PMI via Kantor Pos Malang Turun Rp 1,8 Miliar</a></li>
</ul>


<p>Produksi jajanan Ladu tersebut, paparnya, digelutinya sejak empat tahun lalu. Sebelumnya, jajanan ini sudah ditekuni bersama keluarganya selama 23 tahun, yang salah satunya adalah pembuat Ladu. Hanya saja, kini yang memproduksi hanya menyisakan dua orang warga.</p>



<p>&#8220;Kalau ditekuni, sebenarnya Ladu mendapatkan hasil yang bagus. Keuntungannya rata-rata dahulu saat masih populer, bisa mencapai Rp 4 juta sampai Rp 5 juta, dalam sebulan dari omset kotor paling banyak Rp 10 juta. Dan, di kampung ini yang memproduksi Ladu hanya dua orang. Saya dan ibu saya. Sebelumnya, itu ada enam orang dan yang bertahan masih dua,&#8221; jelasnya.</p>



<p>Cara pembuatan Ladu, imbuhnya, selama ini dengan cara manual. Beras ketan pilihan direndam selama 5 jam. Lalu diselep jadi tepung baru direbus.</p>



<p>Setelah matang, kemudian ditumbuk dicampur gula pasir cair. Kemudian diolah terus dilempengkan lalu dijemur. Setelah kering, diiris kotak-kotak lalu di open.</p>



<p>&#8220;Ladu yang menjadi khas jajanan Kota Batu, ini rasanya kriuk leleh di mulut dengan rasa manis. Dan, tanpa bahan pengawet,&#8221; ujarnya.</p>



<p>Mengenai pemasaran selama ini, diakuinya, masih berada di pasaran lokal Kota Batu. &#8220;Kemarin izin halal sudah saya buat. Di sini karena saya ingin pemasaran bisa keluar Kota Batu. Saya terbentur modal. Saya berharap, Ladu ini benar-benar menjadi ikon Kota Batu. Tahun 2022 lalu memang pernah Dinas Pariwisata Kota Batu mengunjungi kampung kami hingga menamakan Kampung Ladu tetapi hanya sekali saja. Saya ingin Pemkot Batu memperhatikan Ladu yang menjadi jajanan khas Kota Batu ini,&#8221; harapnya. <strong>(put/gie)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">196822</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Mahasiswa Ubaya Bikin Lonceng Natal Raksasa dari Jajanan Tradisional</title>
		<link>https://memontum.com/mahasiswa-ubaya-bikin-lonceng-natal-raksasa-dari-jajanan-tradisional</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 23 Dec 2018 12:02:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[hari natal]]></category>
		<category><![CDATA[Jajanan Tradisional]]></category>
		<category><![CDATA[Ubaya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/69994-mahasiswa-ubaya-bikin-lonceng-natal-raksasa-dari-jajanan-tradisional</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Surabaya &#8211; Menyambut Hari Natal yang jatuh pada 25 Desember, mahasiswa Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya (Ubaya) membuat sebuah karya lonceng natal raksasa yang terbuat dari ratusan kue tradisional, yaitu kue Cenil, Lupis, Klepon, Ongol-ongol dan Gethuk. Lonceng natal yang didominasi oleh warna merah dan putih ini, bertemakan Nuansa Nusantara. Lonceng Natal raksasa yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memontum Surabaya</strong> &#8211; Menyambut Hari Natal yang jatuh pada 25 Desember, mahasiswa Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya (Ubaya) membuat sebuah karya lonceng natal raksasa yang terbuat dari ratusan kue tradisional, yaitu kue Cenil, Lupis, Klepon, Ongol-ongol dan Gethuk. Lonceng natal yang didominasi oleh warna merah dan putih ini, bertemakan Nuansa Nusantara. </p>
<p>Lonceng Natal raksasa yang disusun oleh Florentina Tiffany sebagai Dosen Fakultas Industri Kreatif bersama tiga mahasiswa, yakni Fabiana Giovani (2015), Eunike Hermawan (2015) dan Refsi Fenny Utomo (2016) berkonsep terhadap budaya di Indonesia yang sudah sejak lama dimasukan ke mata kuliah. Dari cerita-cerita mengenai seringnya perayaan natal dengan kue tart atau cookis, padahal indonesia masih memiliki jajanan tradisional. </p>
<p>&#8220;Dari situ muncul ide buat lonceng besar, tapi disusun dari kue tradisional. Belinya juga di pasar tradisional dan penjual kue-kue tradisional di sekitar Ubaya,&#8221; kata Florentina di Gedung International Village Ubaya, Jumat (22/12). </p>
<p>Beragam kue tradisional sengaja dipilih guna menampilkan warna yang diinginkan. Cenil berwarna merah untuk bagian pita, lupis berwarna putih di bagian lonceng, klepon berwarna hijau untuk bagian daun, gethuk warna kuning pada bagian dalam lonceng dan ongol-ongol berwarna hitam sebagai outline mempertegas bentuk Lonceng Natal Raksasa.</p>
<p>Florentina juga mengatakan, jika lonceng yang biasanya berwarna merah dan kuning. Kini di ubah menjadi merah dan putih, tetap mendominasi karya unik berukuran 2,5m x 2,5m, yang disertai dengan tulisan ‘Semarak Nusantara, Rayakan Natal 2018’.</p>
<p>&#8220;Merayakannya dengan spirit nusantaranya yang kita bawa, supaya anak-anak muda juga tertarik akan kue-kue tradisional dengan banyak macam-macam,&#8221; ujarnya. </p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">69994</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
