<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>keberagaman &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/keberagaman/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Sun, 23 Nov 2025 12:42:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>keberagaman &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Kunjungi Persembahyangan Umat Hindu, Jember Rumah Besar Keberagaman Miniatur of Indonesia</title>
		<link>https://memontum.com/kunjungi-persembahyangan-umat-hindu-jember-rumah-besar-keberagaman-miniatur-of-indonesia</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 22 Nov 2025 08:40:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jember]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[Hindu]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[keberagaman]]></category>
		<category><![CDATA[kunjungi]]></category>
		<category><![CDATA[miniatur]]></category>
		<category><![CDATA[persembahyangan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=228011</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Jember &#8211; Bupati Jember, Muhammad Fawait, menegaskan bahwa Kabupaten Jember adalah kota toleransi, rumah besar bagi keberagaman seluruh adat budaya, suku, ras hingga agama. Pernyataan itu disampaikannya, saat melakukan kunjungan ke area persembahyangan Umat Hindu di Pantai Paseban, Kecamatan Kencong, Sabtu (22/11/2025) tadi. Kunjungan yang dilakukan ini, menjadi wujud penghormatan pemerintah daerah terhadap keberagaman [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Jember</strong> &#8211; Bupati Jember, Muhammad Fawait, menegaskan bahwa Kabupaten Jember adalah kota toleransi, rumah besar bagi keberagaman seluruh adat budaya, suku, ras hingga agama. Pernyataan itu disampaikannya, saat melakukan kunjungan ke area persembahyangan Umat Hindu di Pantai Paseban, Kecamatan Kencong, Sabtu (22/11/2025) tadi.</p>



<p>Kunjungan yang dilakukan ini, menjadi wujud penghormatan pemerintah daerah terhadap keberagaman keyakinan yang hidup berdampingan di Kabupaten Jember. Bupati Fawait sendiri, hadir untuk menyapa Umat Hindu, masyarakat setempat yang melakukan persiapan pelaksanaan Upacara Melasti. Hal ini, sekaligus mempertegas komitmen Jember sebagai daerah yang menjunjung tinggi toleransi dan harmoni antar umat beragama.</p>



<p>Dalam kesempatan tersebut, Gus Fawait-sapaan Bupati Jember, menyampaikan bahwa kehadirannya bukan hanya sebagai bagian dari agenda Bunga Desaku ke-7, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan kepada keberagaman masyarakat Jember yang hidup berdampingan dalam bingkai NKRI. “Alhamdulillah, dalam kesempatan Bunga Desa ke-7 ini, kami bisa bersilaturahmi dengan saudara-saudara kita dari Umat Hindu yang memiliki tempat peribadatan di Pantai Selatan, tepatnya di Pantai Paseban,” kata Gus Fawait.</p>



<p>Bupati Fawait juga menegaskan, bahwa Jember telah bertekad mentasbihkan diri sebagai miniatur of Indonesia, rumah besar bagi semua agama, suku, golongan dan organisasi masyarakat. Bupati menyoroti, bahwa keberagaman tersebut tampak nyata dalam kebersamaan seluruh pihak yang ikut mendampingi kegiatan Bunga Desaku, mulai dari Dinas Perhubungan, Satpol PP, TNI, Polri, hingga organisasi masyarakat seperti Ansor, Banser dan Kokam Muhammadiyah.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>“Di Jember hari ini, kita harus memperkuat diri sebagai rumah besar semua organisasi yang sesuai dengan NKRI. Rumah besar semua kebudayaan, semua kesenian, bahkan semua agama,” tegasnya.</p>



<p>Selain menyapa Umat Hindu yang sedang mempersiapkan pelaksanaan ibadah mereka, Gus Fawait juga menyampaikan informasi tentang rencana pembukaan rute penerbangan Bali &#8211; Jember. Menurutnya, langkah ini diharapkan dapat memberikan kemudahan mobilitas bagi Umat Hindu yang kerap beraktivitas ke wilayah selatan Jember maupun kawasan Senduro di Kabupaten Lumajang.</p>



<p>“Harapannya, saudara-saudara kita dari Bali yang ingin melaksanakan persembahyangan atau wisata spiritual ke Paseban ataupun ke Senduro, tidak lagi harus melalui jalur darat sepenuhnya. Mereka bisa terbang ke Jember, transit dan melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan dengan lebih efisien,” tambah Bupati Fawait.</p>



<p>Kunjungan ini menjadi penegasan, bahwa Pemerintah Kabupaten Jember tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga memperkuat ruang kebersamaan dan toleransi antar umat beragama. Program Bunga Desaku kembali menjadi jembatan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat, memperlihatkan bagaimana kehadiran negara dapat dirasakan langsung hingga ke tingkat desa. <strong>(kom/rio/gie)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">228011</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Keberagaman Kuliner Kekinian dan Nyaman Jadikan Pasar Klojen sebagai Destinasi Favorit Gen Z</title>
		<link>https://memontum.com/keberagaman-kuliner-kekinian-dan-nyaman-jadikan-pasar-klojen-sebagai-destinasi-favorit-gen-z</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 29 Jan 2025 09:50:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[favorit]]></category>
		<category><![CDATA[jadikan]]></category>
		<category><![CDATA[keberagaman]]></category>
		<category><![CDATA[kekinian]]></category>
		<category><![CDATA[Klojen]]></category>
		<category><![CDATA[kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[nyaman]]></category>
		<category><![CDATA[sebagai]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=218787</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Pasar Klojen di Jalan Cokroaminoto, Kota Malang, kini tidak hanya menjadi pusat perbelanjaan kebutuhan pokok, tetapi juga destinasi favorit bagi generasi Z (Gen Z). Itu karena, dengan banyaknya keberagaman kuliner kekinian dan suasana yang nyaman, membuat pasar semakin ramai dikunjungi muda-mudi yang ingin menikmati. Salah satu pengunjung, Santi Wahyu (25), mengatakan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Pasar Klojen di Jalan Cokroaminoto, Kota Malang, kini tidak hanya menjadi pusat perbelanjaan kebutuhan pokok, tetapi juga destinasi favorit bagi generasi Z (Gen Z). Itu karena, dengan banyaknya keberagaman kuliner kekinian dan suasana yang nyaman, membuat pasar semakin ramai dikunjungi muda-mudi yang ingin menikmati.</p>



<p>Salah satu pengunjung, Santi Wahyu (25), mengatakan bahwa dirinya sangat tertarik untuk mengunjungi pasar tersebut, karena ada beragam kuliner yang sudah viral di media sosial. Terlebih, saat ini sedang di musim libur panjang.</p>



<p>&#8220;Mumpung ponakan lagi libur sekolah, jadi sekalian mampir ke Pasar Klojen karena juga sering muncul di sosial media. Suasananya hari ini ramai sekali, tempatnya bersih, antrean di stand makaman panjang banget, terutama di kuliner yang sering direkomendasikan warganet. Bisa sampai sejam antre,&#8221; ujar Santi, Rabu (29/01/2025) tadi.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Masih menurut Santi, dibandingkan dengan Pasar Oro-Oro Dowo, Pasar Klojen menawarkan lebih banyak pilihan kuliner. &#8220;Kalau soal variasi kuliner, Pasar Klojen lebih banyak pilihannya. Tapi kalau dari segi parkir, mungkin lebih leluasa di Pasar Oro-Oro Dowo karena lahannya lebih luas,&#8221; tambahnya.</p>



<p>Selain itu, pengunjung lainnya Eddy (24), warga asal Bandung mengaku jika dirinya sering datang ke Pasar Klojen, hanya untuk berburu kuliner khas maupun kekinian. Dirinya juga mengapresiasi kemudahan transaksi di beberapa stand, yang sudah menerapkan pembayaran non tunai.</p>



<p>&#8220;Kebetulan suka hunting kuliner, terus ketemulah pasar ini. Tadi udah antre pesen gyoza, pisang wijen, sama niatnya mau ngopi-ngopi di warung kopi depan. Meskipun tidak bawa uang tunai, tapi disini bisa memanfaatkan pembayaran non tunai karena dibeberapa stand telah menyediakan dan sangat memudahkan,&#8221; imbuh Eddy. <strong>(rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">218787</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Peringatan Hari Jadi Banyuwangi Dihiasi Keberagaman Pakaian Adat hingga Penghargaan</title>
		<link>https://memontum.com/peringatan-hari-jadi-banyuwangi-dihiasi-keberagaman-pakaian-adat-hingga-penghargaan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Dec 2024 07:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Banyuwangi]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintahan]]></category>
		<category><![CDATA[dihiasi]]></category>
		<category><![CDATA[hingga]]></category>
		<category><![CDATA[keberagaman]]></category>
		<category><![CDATA[pakaian]]></category>
		<category><![CDATA[penghargaan]]></category>
		<category><![CDATA[peringatan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=217663</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Banyuwangi &#8211; Hari Ulang Tahun (HUT) ke-235 Kabupaten Banyuwangi digelar di Taman Blambangan, dengan penuh nuansa keberagaman, Rabu (18/12/2024) tadi. Pelaksanaan itu, diikuti peserta upacara dengan mengenakan berbagai pakaian adat dari sejumlah suku dan etnis yang tinggal di ujung timur Pulau Jawa. Bahkan, tidak hanya mengenakan pakaian adat Suku Osing, yang berasal dari Banyuwangi. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Banyuwangi</strong> &#8211; Hari Ulang Tahun (HUT) ke-235 Kabupaten Banyuwangi digelar di Taman Blambangan, dengan penuh nuansa keberagaman, Rabu (18/12/2024) tadi. Pelaksanaan itu, diikuti peserta upacara dengan mengenakan berbagai pakaian adat dari sejumlah suku dan etnis yang tinggal di ujung timur Pulau Jawa.</p>



<p>Bahkan, tidak hanya mengenakan pakaian adat Suku Osing, yang berasal dari Banyuwangi. Tetapi ada juga yang mengenakan pakaian adat dari Suku Bali, Madura, Jawa, Bugis, Melayu hingga Arab dan Tionghoa.</p>



<p>“Banyuwangi adalah Taman Nasional Nusantara. Ada berbagai suku dan etnis. Bersama-sama kita jaga dan kembangkan Kabupaten Banyuwangi,” kata Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, saat memimpin upacara. Bupati Ipuk sendiri, dalam peringatan itu mengenakan pakaian etnik Tionghoa, Cheongsam Sangjit. Dengan semangat kebersamaan itu, tambah Bupati Ipuk, menjadi modal penting bagi pembangunan.</p>



<p>“Tanpa adanya kolaborasi, kebersamaan dan kerja sama semua pihak, mustahil Banyuwangi bisa seperti ini,” jelasnya.</p>



<p>Bupati Ipuk merinci, mengenai sejumlah keberhasilan yang diraih Banyuwangi, dalam setahun terakhir. Mulai dari ditetapkan sebagai Unesco Global Geopark (UGG) untuk Geopark Ijen hingga mendapat penghargaan dari Kementerian Dalam Negeri sebagai Kabupaten Paling Inovatif.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>“Prestasi ini berkat kita semua bersama-sama. Mari kita peduli untuk mengembangkan Banyuwangi di tahun-tahun berikutnya,” paparnya.</p>



<p>Bupati Ipuk pun mengajak seluruh pihak, untuk bersinergi menciptakan berbagai inovasi demi menuntaskan pembangunan daerah. Tantangan fiskal yang akan dihadapi, tidak bisa menjadi hambatan untuk terus bergerak.</p>



<p>“Sekali lagi, kita harus bekerja sama,” tegasnya.</p>



<p>Peringatan Hari Jadi Banyuwangi ke-253, ini juga diisi dengan pemberian penghargaan kepada sejumlah tokoh yang telah memberikan kontribusi positif bagi daerah. Salah satunya, diberikan kepada Laita Ro&#8217;ati Masykuroh, yang merupakan putri warga Dusun Ringinmulyo, Desa Ringintelu, Kecamatan Bangorejo, yang mengantarkan Timnas Indonesia menjuarai Piala Wanita AFF 2024 dan meraih penghargaan khusus sebagai penjaga gawang terbaik (Best Goalkeeper).</p>



<p>Dalam acara peringatan tersebut, juga diserahkan santunan kepada 253 anak yatim piatu dan acara ditutup dengan makan tumpeng bersama warga sekitar, Sewu Ankak. <strong>(kom/bwi/gie)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">217663</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Karnaval Merdeka Banyuwangi Tampilkan Keberagaman Bangsa</title>
		<link>https://memontum.com/karnaval-merdeka-banyuwangi-tampilkan-keberagaman-bangsa</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 20 Aug 2024 09:35:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Banyuwangi]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[bangsa]]></category>
		<category><![CDATA[karnaval]]></category>
		<category><![CDATA[keberagaman]]></category>
		<category><![CDATA[merdeka]]></category>
		<category><![CDATA[tampilkan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=213172</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Banyuwangi &#8211; Karnaval Merdeka yang dicanangkan Pemkab Banyuwangi dalam rangka memperingati HUT ke-79 Kemerdekaan RI berlangsung meriah, Selasa (20/08/2024) tadi. Ribuan penonton dalam kesempatan itu nampak memadati jalur sepanjang 2,5 kilometer, untuk menyaksikan karnaval yang menampilkan keberagaman Indonesia. Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, mengatakan Karnaval Merdeka ini merupakan ajang untuk mempererat rasa persatuan dan kesatuan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Banyuwangi</strong> &#8211; Karnaval Merdeka yang dicanangkan Pemkab Banyuwangi dalam rangka memperingati HUT ke-79 Kemerdekaan RI berlangsung meriah, Selasa (20/08/2024) tadi. Ribuan penonton dalam kesempatan itu nampak memadati jalur sepanjang 2,5 kilometer, untuk menyaksikan karnaval yang menampilkan keberagaman Indonesia.</p>



<p>Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, mengatakan Karnaval Merdeka ini merupakan ajang untuk mempererat rasa persatuan dan kesatuan seluruh elemen yang ada di Banyuwangi. Karnaval ini, bukan sekadar untuk perayaan melainkan cara untuk terus menjaga keberagaman. Terlebih lagi, Banyuwangi juga merupakan daerah keberagaman yang menjadi rumah bagi masyarakat dari berbagai suku dan agama.</p>



<p>“Melalui karnaval ini, kami mencanangkan bahwa Banyuwangi adalah miniatur keberagaman. Dengan beragamnya suku, budaya dan agama tidak membuat kita terpecah belah. Justru perbedaan itulah yang membuat kita semakin kuat,” kata Bupati Ipuk.</p>



<p>Pelaksanaan karnaval sendiri, diikuti oleh hampir 2 ribu siswa SMP/MTs dan SMA/MA/SMK sekolah negeri dan swasta se-Banyuwangi. Mereka mengenakan dan membawa berbagai atribut keanekaragaman seni dan budaya Indonesia.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>“Karnavalnya bagus. Hal ini dapat menginspirasi generasi muda untuk lebih mengenal Indonesia, betapa beragamnya Indonesia,&#8221; kata salah satu penonton, Astiyah.</p>



<p>Dalam kesempatan itu, ribuan pelajar menampilkan keberagaman Indonesia melalui kostum, tarian dan sandiwara dalam parade karnaval. Ada yang menyajikan adat istiadat Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Bali, Aceh dan daerah lain di Nusantara.</p>



<p>Pelaksanaan karnaval sendiri, diawali dengan drum band yang dilanjutkan dengan barisan di belakangnya. Ada barisan pembawa Bendera Merah Putih, disusul barisan kontingen dengan kostum yang memvisualisasikan Indonesia.</p>



<p>Ada pula, penggalan sajian yang menceritakan tentang berbagai tradisi dari berbagai daerah di Indonesia.</p>



<p>Seperti kontingen SMP I Kabat yang mengusung tema adat istiadat Jawa Tengah. Selain kostum, kontingen ini juga menghadirkan beragam kuliner, tradisi dan kesenian tradisional Jawa Tengah. Disusul kemudian, SMPN I Banyuwangi yang membawakan budaya Sulawesi. Mulai dari kostum, kesenian, hingga miniatur rumah adat Tongkonan ditampilkan. <strong>(kom/gie)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">213172</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
