<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>keboan &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/keboan/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Jun 2025 06:02:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>keboan &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Wakil Bupati Banyuwangi Apresiasi Keguyuban dalam Ritual Adat Keboan Aliyan</title>
		<link>https://memontum.com/wakil-bupati-banyuwangi-apresiasi-keguyuban-dalam-ritual-adat-keboan-aliyan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 29 Jun 2025 04:30:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Banyuwangi]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[aliyan]]></category>
		<category><![CDATA[apresiasi]]></category>
		<category><![CDATA[bupati]]></category>
		<category><![CDATA[keboan]]></category>
		<category><![CDATA[keguyuban]]></category>
		<category><![CDATA[Ritual]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=223456</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Banyuwangi &#8211; Wakil Bupati Banyuwangi, Mujiono, bersama ribuan orang menyaksikan ritual adat Keboan Aliyan, di Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi, Minggu (29/06/2025) tadi. Tradisi sakral yang digelar setiap Bulan Suro ini, sudah menjadi magnet wisatawan setiap tahunnya. Meski prosesi pelaksanaan sendiri sempat diguyur hujan, namun antusiasme pengunjung tidak surut. Bahkan, sisi kanan-kiri Lapangan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Banyuwangi</strong> &#8211; Wakil Bupati Banyuwangi, Mujiono, bersama ribuan orang menyaksikan ritual adat Keboan Aliyan, di Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi, Minggu (29/06/2025) tadi. Tradisi sakral yang digelar setiap Bulan Suro ini, sudah menjadi magnet wisatawan setiap tahunnya.</p>



<p>Meski prosesi pelaksanaan sendiri sempat diguyur hujan, namun antusiasme pengunjung tidak surut. Bahkan, sisi kanan-kiri Lapangan Desa Aliyan, atau yang pusat pelaksanaan ritual adat masyarakat Osing, tetap padat menjadi konsentrasi wisatawan dan warga.</p>



<p>Wakil Bupati Banyuwangi, Mujiono, mengapresiasi keguyuban warga. Selain menjaga gotong royong, tradisi ini menurutnya menjadi salah satu daya tarik wisatawan untuk datang ke Desa Aliyan.</p>



<p>“Tradisi seperti ini sangat penting untuk dilestarikan. Selain menjaga warisan budaya, juga bisa menjadi daya tarik wisata yang memberi dampak ekonomi bagi masyarakat,” kata Wabup Mujiono.</p>



<p>Keboan Aliyan sendiri, merupakan tradisi turun-temurun sebagai bentuk syukur atas panen, sekaligus permohonan kelimpahan hasil bumi di musim tanam berikutnya. Dalam prosesi ini, sejumlah warga yang telah mengalami kerasukan bertingkah seperti kebo (kerbau), lengkap dengan tingkah laku membajak sawah dan berkubang di lumpur.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>“Tradisi ini sudah turun temurun sejak ratusan tahun. Sebagai bentuk ungkapan syukur kami atas hasil panen yang diberikan Allah SWT, sekaligus tolak balak dan memohon agar hasil panen berikutnya lebih melimpah,” ujar Kepala Desa Aliyan, Agus Robani Yusuf.</p>



<p>Ritual sendiri, diawali dengan selamatan dan Ider Bumi (berkeliling desa) ke 4 penjuru mata angin. Warga yang kerasukan kemudian mulai berkeliling desa, bertingkah mirip kerbau yang tengah mengolah sawah. Selain itu mereka juga mengairi, hingga menabur benih padi, layaknya siklus cocok tanam. Mereka bahkan membawa alat bajak di punggung.</p>



<p>Terdapat dua kelompok warga yang melakukan arak-arakan Keboan Aliyan. Dari sisi timur kantor desa, berasal dari warga Dusun Krajan, Cempokosari, Bolot dan Temurejo. Lalu disusul kemudian dari sisi barat, oleh rombongan dari Dusun Sukodono dan Kedawung. Keduanya mempertontonkan atraksi di hadapan para tamu dan wisatawan.</p>



<p>Salah satu wisatawan asal Rusia, Aleksei, yang datang ke festival tersebut mengaku kagum atas semangat pelestarian budaya masyarakat Banyuwangi. “Ini pertama kalinya saya ke sini. Saya diberitahu teman saya yang menyukai budaya Indonesia. (Ritual keboan) Ini sangat menarik bagi saya. Budayanya berbeda dan saya suka cara warga menjaga tradisi selama ratusan tahun. Saya bangga bisa ke sini,” ujar Aleksei.</p>



<p>Diketahui, Keboan Aliyan sendiri dirangkai dengan berbagai kegiatan pendukung lainnya sejak Jumat (27/06/2025) lalu. Seperti bazar UMKM dan pentas seni. Keboan Aliyan konon dilaksanakan sejak era kerajaan Blambangan adalah warisan Buyut Wongso Kenongo, yang lokasi makam berada di Dusun Cempokosari, Desa Aliyan. Ritual ini dilaksanakan oleh masyarakat setempat yang berkultur Osing setiap memasuki Bulan Suro penanggalan Jawa. <strong>(kom/bwi/gie)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">223456</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
