<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Kemarau &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/kemarau/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Mon, 27 Apr 2026 13:36:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.9</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Kemarau &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Hadapi Kemarau, DLH Kota Malang Genjot Perempesan Pohon dan Penyiraman RTH</title>
		<link>https://memontum.com/hadapi-kemarau-dlh-kota-malang-genjot-perempesan-pohon-dan-penyiraman-rth</link>
					<comments>https://memontum.com/hadapi-kemarau-dlh-kota-malang-genjot-perempesan-pohon-dan-penyiraman-rth#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 Apr 2026 10:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[genjot]]></category>
		<category><![CDATA[hadapi]]></category>
		<category><![CDATA[Kemarau]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>
		<category><![CDATA[penyiraman]]></category>
		<category><![CDATA[perempesan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=232011</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Menghadapi musim kemarau, Pemerintah Kota (Pemkot) Malang melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang memperkuat langkah antisipasi pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Salah satu upaya utama yang dilakukan tersebut, yakni mempercepat perempesan pohon serta meningkatkan perawatan tanaman di sejumlah titik kota. Plh Kepala DLH Kota Malang, Gamaliel Raymond Hatigoran, mengatakan bahwa [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Menghadapi musim kemarau, Pemerintah Kota (Pemkot) Malang melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang memperkuat langkah antisipasi pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Salah satu upaya utama yang dilakukan tersebut, yakni mempercepat perempesan pohon serta meningkatkan perawatan tanaman di sejumlah titik kota.</p>



<p>Plh Kepala DLH Kota Malang, Gamaliel Raymond Hatigoran, mengatakan bahwa persiapan menghadapi kemarau sebenarnya sudah dilakukan sejak beberapa bulan sebelumnya. Yakni melalui kegiatan penanaman pohon di berbagai lokasi milik pemerintah daerah.</p>



<p>“Sejak Oktober lalu kami rutin melakukan penanaman pohon, baik di tanah milik Pemkot, area makam, maupun kawasan Rusunawa Kuturan,” ujar Raymond, Senin (27/04/2026) tadi.</p>



<p>Memasuki masa peralihan menuju kemarau, menurutnya DLH memprioritaskan perempesan pohon guna mengantisipasi risiko pohon tumbang akibat angin kencang yang lazim terjadi saat musim kering. Menurutnya, kegiatan perempesan dilakukan hampir setiap hari, termasuk akhir pekan, karena tingginya antrean permintaan dari masyarakat maupun hasil pemantauan internal petugas.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>&#8220;Pada Agustus 2025 lalu, antrean perempesan tercatat mencapai sekitar 400 permohonan. Saat ini jumlah tersebut berhasil ditekan menjadi sekitar 124 antrean. Sementara antrean penebangan pohon turun dari sekitar 150 permohonan menjadi sekitar 52 antrean,&#8221; tuturnya.</p>



<p>Raymond menjelaskan, banyaknya antrean tidak lepas dari jumlah pohon di Kota Malang yang mencapai sekitar 12.600 batang. Dengan tiga regu petugas, dalam sehari maksimal hanya tiga hingga empat pohon yang dapat ditangani, bahkan satu pohon tertentu bisa membutuhkan waktu pengerjaan hingga dua hari.</p>



<p>Selain perempesan, DLH juga mulai meningkatkan perawatan tanaman melalui penyiraman rutin. Langkah itu dilakukan karena selama musim hujan sebelumnya tanaman tidak memerlukan penyiraman tambahan.</p>



<p>“Kalau musim kemarau tentu intensitas penyiraman ditambah. Jadwalnya keliling karena tangki penyiraman kami masih terbatas,” ucapnya.</p>



<p>Saat ini DLH hanya memiliki tiga unit tangki penyiraman yang difokuskan pada tanaman hias di koridor jalan utama seperti Jalan Jaksa Agung Suprapto, Jalan Ijenbdan Jalan Veteran. Tanaman hias diprioritaskan karena membutuhkan suplai air lebih rutin dibanding pohon besar yang memiliki daya tahan lebih lama. <strong>(rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://memontum.com/hadapi-kemarau-dlh-kota-malang-genjot-perempesan-pohon-dan-penyiraman-rth/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">232011</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Pemkab Banyuwangi Siapkan Satgas Antisipasi Kemarau Panjang Dampak Fenomena El Nino</title>
		<link>https://memontum.com/pemkab-banyuwangi-siapkan-satgas-antisipasi-kemarau-panjang-dampak-fenomena-el-nino</link>
					<comments>https://memontum.com/pemkab-banyuwangi-siapkan-satgas-antisipasi-kemarau-panjang-dampak-fenomena-el-nino#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 Apr 2026 05:35:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Banyuwangi]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[Antisipasi]]></category>
		<category><![CDATA[dampak]]></category>
		<category><![CDATA[fenomena]]></category>
		<category><![CDATA[Kemarau]]></category>
		<category><![CDATA[panjang]]></category>
		<category><![CDATA[Pemkab]]></category>
		<category><![CDATA[Satgas]]></category>
		<category><![CDATA[siapkan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=231992</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Banyuwangi &#8211; Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi meningkatkan kesiapsiagaan guna mengantisipasi potensi kemarau panjang akibat fenomena El Nino, yang memicu panas ekstrem tahun ini. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi, pun kini tengah menyiapkan Satuan Tugas (Satgas) Antisipasi Kemarau Panjang yang siap diterjunkan sewaktu-waktu. Kalaksa BPBD Banyuwangi, Partana, mengatakan bahwa langkah ini menindaklanjuti imbauan dari [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Banyuwangi</strong> &#8211; Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi meningkatkan kesiapsiagaan guna mengantisipasi potensi kemarau panjang akibat fenomena El Nino, yang memicu panas ekstrem tahun ini. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi, pun kini tengah menyiapkan Satuan Tugas (Satgas) Antisipasi Kemarau Panjang yang siap diterjunkan sewaktu-waktu.</p>



<p>Kalaksa BPBD Banyuwangi, Partana, mengatakan bahwa langkah ini menindaklanjuti imbauan dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), yang dirilis secara nasional terkait potensi kemarau panjang. Meskipun pihaknya berharap dampak El Nino tidak berakibat fatal, langkah antisipasi sejak dini diperlukan.</p>



<p>&#8220;Strategi yang disiapkan mencakup mitigasi komprehensif terhadap potensi kekeringan serta ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla),&#8221; kata Partana, Senin (27/04/2026) tadi.</p>



<p>Satgas ini, nantinya akan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait di lingkungan Pemkab Banyuwangi, TNI-Polri, BMKG, Basarnas, pengelola Taman Nasional Alas Purwo, hingga elemen masyarakat. &#8220;Saat ini, statusnya masih kesiapsiagaan. Jika sewaktu-waktu dibutuhkan, tim sudah siap,&#8221; tambah Partana.</p>



<p>Dalam proses mitigasi, BPBD telah memetakan 11 kecamatan dengan tingkat kerawanan kekeringan tinggi. Wilayah tersebut, meliputi Wongsorejo, Tegaldlimo, Singojuruh, Blimbingsari, Kabat, Gambiran, Purwoharjo, Siliragung, Muncar, Bangorejo dan Pesanggaran.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Untuk wilayah dengan tingkat kerawanan sedang, tercatat ada Kecamatan Glagah, Kalipuro, Giri dan Cluring. Sementara itu, 10 kecamatan lainnya seperti Banyuwangi Kota, Rogojampi, Tegalsari, Srono, Songgon, Glenmore, Genteng, Licin, Kalibaru dan Sempu masuk dalam kategori kerawanan rendah.</p>



<p>&#8220;Selain pemetaan air bersih, kami juga memberikan atensi khusus pada pemetaan titik-titik potensi kebakaran hutan dan lahan di wilayah hutan produksi maupun taman nasional,&#8221; imbuhnya.</p>



<p>Koordinasi sendiri, telah dilakukan melalui rapat awal dengan sejumlah stakeholder di Banyuwangi hingga tingkat provinsi. Hal ini, bertujuan agar setiap instansi dapat melakukan mitigasi sesuai dengan wewenang dan kapasitas masing-masing.</p>



<p>Berdasarkan prediksi BMKG, potensi kemarau panjang tahun ini dimulai sejak awal April dan diprediksi mencapai puncaknya pada bulan Agustus hingga September mendatang. &#8220;Karena itulah, kami mengumpulkan seluruh stakeholders. Untuk OPD, tugas pokok dan fungsinya sudah jelas. Peran utama ada di Dinas Pertanian, Dinas Pengairan dan PUDAM untuk memastikan kecukupan debit air serta kelancaran suplai air bersih bagi warga,&#8221; jelasnya.</p>



<p>Meski tengah bersiap menghadapi kemarau, BPBD juga tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi lainnya seperti banjir dan angin kencang. Pasalnya, dalam beberapa hari terakhir, hujan dengan intensitas tinggi masih kerap mengguyur sejumlah wilayah di Banyuwangi dan menyebabkan kenaikan debit air sungai.</p>



<p>&#8220;Salah satu dampaknya adalah amblesnya jembatan di Desa Sraten, Kecamatan Cluring, akibat terjangan banjir beberapa hari lalu. Belum lama banjir juga terjadi di Kalibaru,&#8221; terangnya. <strong>(kom/bwi/gie)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://memontum.com/pemkab-banyuwangi-siapkan-satgas-antisipasi-kemarau-panjang-dampak-fenomena-el-nino/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">231992</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Gerakan Tanam Serentak, Pemkot Malang Jaga Produktivitas Padi Jelang Kemarau</title>
		<link>https://memontum.com/gerakan-tanam-serentak-pemkot-malang-jaga-produktivitas-padi-jelang-kemarau</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 23 Apr 2026 04:35:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintahan]]></category>
		<category><![CDATA[gerakan]]></category>
		<category><![CDATA[jelang]]></category>
		<category><![CDATA[Kemarau]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>
		<category><![CDATA[Pemkot]]></category>
		<category><![CDATA[produktivitas]]></category>
		<category><![CDATA[serentak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=231904</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, bersama Wakil Wali Kota Malang, Ali Muthohirin, melakukan penanaman bibit padi di lahan Kelompok Tani (Poktan) Mulyo III, Jalan Raya Mulyorejo, Kecamatan Sukun, Kamis (23/04/2026) tadi. Penanaman itu, menjadi bagian dari Gerakan Percepatan Tanam Serempak seluruh kabupaten dan kota se-Jawa Timur, sebagai langkah menjaga produktivitas pertanian [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, bersama Wakil Wali Kota Malang, Ali Muthohirin, melakukan penanaman bibit padi di lahan Kelompok Tani (Poktan) Mulyo III, Jalan Raya Mulyorejo, Kecamatan Sukun, Kamis (23/04/2026) tadi. Penanaman itu, menjadi bagian dari Gerakan Percepatan Tanam Serempak seluruh kabupaten dan kota se-Jawa Timur, sebagai langkah menjaga produktivitas pertanian sekaligus mengantisipasi musim kemarau yang diprediksi berlangsung cukup panjang.</p>



<p>Pria nomor satu di lingkungan Pemkot Malang itu, menjelaskan bahwa dari total sekitar 10 hektare lahan sawah di Kelurahan Mulyorejo, penanaman tahap awal dilakukan di lahan seluas 1,1 hektare. “Percepatan tanam ini menandakan bahwa produktivitas padi di Kota Malang harus tetap kita jaga. Lahan sawah yang ada juga harus kita kendalikan agar tidak terus berkurang,” ujar Wali Kota Wahyu.</p>



<p>Menurutnya, masa tanam padi hingga panen diperkirakan berlangsung sekitar 112 hingga 115 hari atau kurang lebih empat bulan. Dalam satu tahun, petani dapat melakukan dua kali masa tanam padi. Diharapkan, dengan dilakukan percepatan tanam mampu menjaga stabilitas ketersediaan beras sekaligus menekan fluktuasi harga pangan di masyarakat.</p>



<p>“Kita ingin ketersediaan padi tetap terjaga sehingga masyarakat bisa mendapatkan bahan pangan dengan harga yang lebih terjangkau,” katanya.</p>



<p>Kemudian, ditambahkannya bahwa gerakan tanam dilakukan serentak sebagai bentuk kesiapan menghadapi potensi musim kemarau. “Kita akan menghadapi musim kemarau yang agak panjang, sehingga produktivitas padi harus dipastikan tidak terganggu,” ucapnya.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Selain itu, penanaman serentak di Kota Malang dilaksanakan di empat kecamatan yang masih memiliki lahan pertanian, yakni Sukun, Kedungkandang, Lowokwaru dan Blimbing. Sementara, di Kecamatan Klojen tidak lagi memiliki lahan persawahan.</p>



<p>Lebih lanjut, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang, Slamet Husnan, mengatakan bahwa percepatan tanam dilakukan saat curah hujan masih tersedia. Sehingga, kebutuhan air tanaman tercukupi.</p>



<p>“Menurut BMKG, sampai akhir April ini Jawa Timur masih mengalami hujan dan kondisi El Nino berada pada kategori sedang. Di Kota Malang sendiri ketersediaan air relatif tercukupi dari aliran sungai,” tutur Slamet.</p>



<p>Dalam kegiatan tersebut, Pemkot Malang juga menyalurkan bantuan benih padi varietas Inpari 32 dan Inpari 45 kepada petani. Total bantuan benih yang disalurkan pada tahun anggaran 2026 mencapai 10.000 kilogram atau 10 ton.</p>



<p>“Harapannya petani tidak kesulitan menyediakan benih sehingga bisa langsung melaksanakan usaha tani,” imbuh Slamet. <strong>(rsy/sit/adv)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">231904</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Hadapi Kemarau dan Potensi El Nino, BPBD Kota Malang Fokus Mitigasi Kebakaran</title>
		<link>https://memontum.com/hadapi-kemarau-dan-potensi-el-nino-bpbd-kota-malang-fokus-mitigasi-kebakaran</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 18 Apr 2026 07:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[hadapi]]></category>
		<category><![CDATA[kebakaran]]></category>
		<category><![CDATA[Kemarau]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>
		<category><![CDATA[Mitigasi]]></category>
		<category><![CDATA[Potensi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=231770</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang mulai memperkuat langkah mitigasi menghadapi potensi cuaca hidrometeorologi serta musim kemarau yang diperkirakan semakin dominan dalam beberapa bulan ke depan. Hal itu, dikatakan Kepala BPBD Kota Malang, Prayitno. Menurutnya, arah mitigasi bencana kini bergeser dari penanganan dampak hujan menuju antisipasi musim kemarau dan fenomena [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang mulai memperkuat langkah mitigasi menghadapi potensi cuaca hidrometeorologi serta musim kemarau yang diperkirakan semakin dominan dalam beberapa bulan ke depan. Hal itu, dikatakan Kepala BPBD Kota Malang, Prayitno.</p>



<p>Menurutnya, arah mitigasi bencana kini bergeser dari penanganan dampak hujan menuju antisipasi musim kemarau dan fenomena El Nino yang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran. “Ke depan lebih ditekankan pada mitigasi kemarau. Dengan El Nino otomatis potensi titik panas dan kebakaran akan meningkat,” ujar Prayitno, Sabtu (18/04/2026) tadi.</p>



<p>Dalam hal ini, BPBD Kota Malang mendorong langkah mitigasi sederhana di tingkat masyarakat, seperti kerja bakti lingkungan, pembersihan sedimentasi saluran air, serta peningkatan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca ekstrem. Meskipun, memang dalam penanganan kebakaran lahan maupun permukiman menjadi kewenangan utama Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemadam Kebakaran di bawah Satpol PP.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>“Kalau kebakaran lebih banyak ditangani Damkar. BPBD lebih pada edukasi mitigasi kepada masyarakat,” katanya.</p>



<p>Lebih lanjut ditambahkannya, bahwa Kota Malang tidak memiliki kawasan hutan luas. Sehingga, potensi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) relatif kecil. Risiko kebakaran lebih banyak muncul di area Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), rumpun bambu, maupun permukiman padat akibat kelalaian penggunaan sumber api atau korsleting listrik.</p>



<p>&#8220;Tentu kami juga mengimbau kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau dan mengenai edukasi mitigasi kebakaran juga bisa diakses melalui kanal informasi Damkar,” imbuh Prayitno. <strong>(rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">231770</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Hadapi Musim Kemarau, Pemkot Malang Antisipasi Longsor dan Perkuat Mitigasi Bencana</title>
		<link>https://memontum.com/hadapi-musim-kemarau-pemkot-malang-antisipasi-longsor-dan-perkuat-mitigasi-bencana</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Apr 2026 09:45:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[Antisipasi]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hadapi]]></category>
		<category><![CDATA[Kemarau]]></category>
		<category><![CDATA[longsor]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>
		<category><![CDATA[Mitigasi]]></category>
		<category><![CDATA[Pemkot]]></category>
		<category><![CDATA[perkuat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=231685</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Pemerintah Kota (Pemkot) Malang mulai memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana menjelang musim kemarau. Meski berdasarkan kajian hidrologi dan hidrometeorologi tingkat kerawanan bencana di Kota Malang tergolong ringan, langkah antisipasi tetap dilakukan untuk meminimalkan risiko yang mungkin terjadi. Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, mengatakan bahwa Pemkot Malang telah mendapatkan arahan dari Pemerintah [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Pemerintah Kota (Pemkot) Malang mulai memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana menjelang musim kemarau. Meski berdasarkan kajian hidrologi dan hidrometeorologi tingkat kerawanan bencana di Kota Malang tergolong ringan, langkah antisipasi tetap dilakukan untuk meminimalkan risiko yang mungkin terjadi.</p>



<p>Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, mengatakan bahwa Pemkot Malang telah mendapatkan arahan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur terkait kesiapan menghadapi potensi bencana. Koordinasi juga terus dilakukan bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).</p>



<p>“Kita tetap melakukan antisipasi. Walaupun dari kajian provinsi tingkat kerawanan Kota Malang termasuk ringan, tetapi prediksi bisa saja berubah, sehingga kita harus tetap siap,” ujar Wali Kota Wahyu, Selasa (14/04/2026) tadi.</p>



<p>Menurutnya, potensi bencana yang paling diwaspadai saat musim kemarau adalah tanah longsor di sejumlah wilayah tertentu. Pemkot Malang pun menyiapkan berbagai langkah mitigasi agar penanganan dapat dilakukan secara cepat apabila terjadi bencana.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Selain itu, Wali Kota Wahyu juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran yang kerap meningkat saat cuaca panas. Dirinya menilai faktor kelalaian manusia masih menjadi penyebab utama kebakaran di kawasan permukiman padat.</p>



<p>“Kami juga meminta masyarakat lebih berhati-hati, terutama penggunaan kompor gas maupun instalasi listrik. PLN juga kami dorong untuk terus melakukan sosialisasi karena masih banyak masyarakat yang belum memahami risiko kelistrikan,” jelasnya.</p>



<p>Lebih lanjut, dikatakan bahwa Pemkot Malang telah menyiapkan langkah mitigasi melalui penguatan kesiapan relawan kebencanaan hingga tingkat kecamatan dan kelurahan. Dalam waktu dekat, kesiapsiagaan tersebut akan kembali diperkuat melalui apel siaga bencana.</p>



<p>&#8220;Nanti kita apelkan lagi lebih lebih dini untuk kesiapan menghadapi bencana,&#8221; lanjutnya.</p>



<p>Tak hanya itu, penyusunan peta rawan bencana berbasis wilayah hingga tingkat RT juga terus diprogreskan. Peta tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesiapan masyarakat dalam menghadapi situasi darurat.</p>



<p>“Progresnya sudah berjalan. Tidak hanya relawan, masyarakat juga mulai memahami langkah yang harus dilakukan saat terjadi bencana,” ujar Wali Kota Wahyu. <strong>(rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">231685</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Dispangtan Kota Malang Pastikan Pertanian Aman Hadapi Musim Kemarau 2026</title>
		<link>https://memontum.com/dispangtan-kota-malang-pastikan-pertanian-aman-hadapi-musim-kemarau-2026</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 10 Apr 2026 08:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[dispangtan]]></category>
		<category><![CDATA[hadapi]]></category>
		<category><![CDATA[Kemarau]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>
		<category><![CDATA[pastikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pertanian]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=231595</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang memastikan sektor pertanian di Kota Malang tetap aman menghadapi musim kemarau tahun 2026. Ketersediaan air untuk lahan pertanian sendiri, dinilai masih mencukupi sepanjang tahun. Kepala Dispangtan Kota Malang, Slamet Husnan, mengatakan bahwa selama satu tahun terakhir pasokan air bagi pertanian di Kota Malang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang memastikan sektor pertanian di Kota Malang tetap aman menghadapi musim kemarau tahun 2026. Ketersediaan air untuk lahan pertanian sendiri, dinilai masih mencukupi sepanjang tahun.</p>



<p>Kepala Dispangtan Kota Malang, Slamet Husnan, mengatakan bahwa selama satu tahun terakhir pasokan air bagi pertanian di Kota Malang berjalan lancar dan baik saat musim hujan maupun kemarau. “Alhamdulillah selama satu tahun penuh ini ketersediaan air di Kota Malang cukup lancar, sehingga kebutuhan air pertanian tetap terpenuhi,” ujar Slamet, Jumat (10/04/2026) tadi.</p>



<p>Slamet menjelaskan, berdasarkan informasi dari BMKG, musim kemarau di wilayah Jawa Timur tahun ini diperkirakan masuk kategori sedang. Bahkan, hingga akhir April potensi hujan masih terjadi di wilayah Kota Malang.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Kondisi tersebut, turut menjaga ketersediaan debit air di lima aliran sungai yang menjadi penopang utama suplai air pertanian, khususnya untuk komoditas padi. “Pertanian di Kota Malang terbantu dengan keberadaan lima sungai. Selain itu, seluruh jaringan irigasi yang ada merupakan irigasi teknis, sehingga distribusi air relatif stabil,” jelasnya.</p>



<p>Terkait potensi fenomena El Nino, Slamet menilai dampaknya terhadap pertanian Kota Malang tidak akan terlalu signifikan. “Dengan kategori musim kemarau sedang, pengaruh El Nino tidak terlalu besar. Ketersediaan air masih aman, sehingga petani, khususnya penanam padi, tetap mendapatkan suplai air yang cukup,” imbuh Slamet. <strong>(rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">231595</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Awal Mei 2026 Masuk Musim Kemarau, BMKG Ingatkan Waspada Cuaca Ekstrem Pancaroba</title>
		<link>https://memontum.com/awal-mei-2026-masuk-musim-kemarau-bmkg-ingatkan-waspada-cuaca-ekstrem-pancaroba</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 10 Apr 2026 07:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[ekstrem]]></category>
		<category><![CDATA[ingatkan]]></category>
		<category><![CDATA[Kemarau]]></category>
		<category><![CDATA[pancaroba]]></category>
		<category><![CDATA[Waspada]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=231592</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau di wilayah Malang Raya, akan mulai berlangsung pada dasarian pertama Mei 2026. Kondisi hujan yang masih kerap terjadi saat ini, merupakan bagian dari fase peralihan musim atau pancaroba. Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Anung Suprayitno, menjelaskan bahwa prediksi itu merujuk pada rilis [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau di wilayah Malang Raya, akan mulai berlangsung pada dasarian pertama Mei 2026. Kondisi hujan yang masih kerap terjadi saat ini, merupakan bagian dari fase peralihan musim atau pancaroba.</p>



<p>Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Timur, Anung Suprayitno, menjelaskan bahwa prediksi itu merujuk pada rilis Stasiun Klimatologi Jawa Timur pada akhir Maret 2026 lalu. Menurutnya, sebelum pergantian musim, wilayah Indonesia umumnya mengalami masa transisi atau pancaroba yang ditandai meningkatnya potensi cuaca ekstrem.</p>



<p>“Periode sekarang ini adalah masa peralihan musim. Ciri utamanya muncul awan kumulonimbus. Biasanya pagi terasa sangat terik, lalu menjelang siang muncul awan putih seperti bunga kol, kemudian berubah menjadi awan gelap,” jelas Anung, Jumat (10/04/2026) tadi.</p>



<p>Awan kumulonimbus tersebut, berpotensi memicu berbagai cuaca ekstrem seperti hujan lebat berdurasi singkat, hujan es, angin puting beliung, hingga badai guntur. Dikatakannya, bahwa pada masa pancaroba intensitas dan frekuensi kejadian cuaca ekstrem cenderung meningkat.</p>



<p>“Di mana pun lintasan awan kumulonimbus lewat, potensi cuaca ekstrem pasti ada. Bedanya, durasinya biasanya tidak lama, tapi intensitasnya tinggi,” ujarnya.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Anung menambahkan, hujan yang masih turun hampir setiap sore belakangan ini tidak berarti musim hujan masih berlangsung. Secara klimatologis, suatu wilayah disebut memasuki musim kemarau ketika curah hujan bulanan berada di bawah 150 milimeter.</p>



<p>“Hujan tetap bisa terjadi saat kemarau ataupun peralihan musim. Yang membedakan, hujannya lebat tetapi singkat dan biasanya terjadi siang hingga sore hari,” katanya.</p>



<p>Secara umum, sebagian besar wilayah Malang Raya diprediksi mulai memasuki kemarau pada awal Mei. Namun, daerah di sisi timur yang berbatasan dengan Lumajang diperkirakan mengalami kemarau lebih lambat.</p>



<p>Sementara itu, BMKG masih memantau perkembangan fenomena El Nino yang diperkirakan muncul pada pertengahan tahun dengan intensitas lemah. “Kalau El Nino menguat menjadi moderat atau kuat, musim kemarau 2026 berpotensi lebih panjang dan awal musim hujan bisa mundur bahkan hingga awal 2027 di beberapa daerah,” tuturnya.</p>



<p>Sebagai langkah antisipasi, pemerintah provinsi bersama kabupaten dan kota telah menyiapkan berbagai mitigasi. Mulai dari pemetaan titik rawan kebakaran hutan dan lahan, penyediaan sumur bor, hingga opsi modifikasi cuaca untuk menjaga ketersediaan air waduk selama musim kemarau.</p>



<p>&#8220;Pada saat lebaran kemarin kami melakukan modifikasi cuaca untuk mendukung keselamatan penyeberangan. Ke depan, langkah serupa juga disiapkan untuk memantau ketinggian air waduk, agar panen air hujan bisa dimaksimalkan sehingga dampak musim kemarau tidak terlalu berat terhadap kebutuhan air masyarakat,&#8221; imbuhnya. <strong>(rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">231592</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kasus ISPA Dominasi Penyakit Warga Kota Malang di Musim Kemarau</title>
		<link>https://memontum.com/kasus-ispa-dominasi-penyakit-warga-kota-malang-di-musim-kemarau</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 21 Sep 2024 08:30:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[dominasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kemarau]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=214451</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) mendominasi penyakit yang diderita masyarakat Kota Malang, selama musim kemarau seperti saat ini. Hal itu, dikatakan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, Husnul Muarif. Dari data yang masuk di Dinas Kesehatan Kota Malang, bahwa per Puskesmas jumlah kasus tersebut berbeda-beda. Salah satunya, seperti di Puskesmas [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) mendominasi penyakit yang diderita masyarakat Kota Malang, selama musim kemarau seperti saat ini. Hal itu, dikatakan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, Husnul Muarif.</p>



<p>Dari data yang masuk di Dinas Kesehatan Kota Malang, bahwa per Puskesmas jumlah kasus tersebut berbeda-beda. Salah satunya, seperti di Puskesmas Janti, dalam seharinya kasus tersebut bisa sampai dengan 39 kasus.</p>



<p>“Per puskesmas itu jumlah kasusnya tidak sama,” kata Husnul, Sabtu (21/09/2024) tadi.</p>



<p>Menurutnya, penyebab penyakit ISPA tersebut dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan cuaca. Selain itu, imunitas tubuh juga mempengaruhi.</p>



<p>“Faktor eksternal seperti cuaca, lingkungan, dan aktivitas sehari-hari, termasuk lingkungan rumah dan tempat kerja, sangat berpengaruh. Namun, daya tahan tubuh juga menentukan bagaimana seseorang menghadapi risiko ISPA,” jelasnya.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Untuk pengobatan ISPA sendiri, menurutnya di puskesmas rata-rata memerlukan waktu antara dua sampai tiga hari. Namun, untuk kasus yang lebih parah atau disertai komplikasi lain, pengobatan bisa memakan waktu hingga satu minggu.</p>



<p>“Tergantung dari penyebabnya, kalau hanya gangguan pernapasan ringan, biasanya tidak butuh antibiotik. Tapi kalau ada infeksi yang lebih berat, antibiotik akan diberikan sesuai kondisi,” tambahnya.</p>



<p>Lebih lanjut Husnul menjelaskan, bahwa ISPA menyerang saluran pernapasan, mulai dari hidung hingga tenggorokan. Rentang usia yang paling rentan terkena penyakit ISPA, adalah balita, lansia hingga anak-anak usia sekolah.</p>



<p>Karena itu, Dinas Kesehatan Kota Malang terus mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga kesehatan. Terutama dengan menjaga kebersihan lingkungan, meningkatkan imunitas dan menghindari aktivitas yang memperburuk risiko ISPA selama musim kemarau. <strong>(rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">214451</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Penuhi Kebutuhan Air Ketika Kemarau, Pemkab Situbondo Siapkan Pembangunan Sumur Bor</title>
		<link>https://memontum.com/penuhi-kebutuhan-air-ketika-kemarau-pemkab-situbondo-siapkan-pembangunan-sumur-bor</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 16 Sep 2024 06:30:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pemerintahan]]></category>
		<category><![CDATA[Situbondo]]></category>
		<category><![CDATA[kebutuhan]]></category>
		<category><![CDATA[Kemarau]]></category>
		<category><![CDATA[ketika]]></category>
		<category><![CDATA[pembangunan]]></category>
		<category><![CDATA[Pemkab]]></category>
		<category><![CDATA[penuhi]]></category>
		<category><![CDATA[siapkan]]></category>
		<category><![CDATA[situbondo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=214242</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Situbondo &#8211; Pemerintah Kabupaten Situbondo merencanakan pembangun sumur bor untuk memenuhi kebutuhan air pertanian di musim kemarau di beberapa wilayah. Dua diantara wilayah yang direncanakan, adalah di Dusun Bendera, Desa Sumberejo dan Dusun Belangguan, Desa Sumberwaru, Kecamatan Banyuputih. Hal itu, disampaikan Bupati Situbondo, Karna Suswandi, saat menyalurkan bantuan air bersih dan Sembako kepada warga [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Situbondo</strong> &#8211; Pemerintah Kabupaten Situbondo merencanakan pembangun sumur bor untuk memenuhi kebutuhan air pertanian di musim kemarau di beberapa wilayah. Dua diantara wilayah yang direncanakan, adalah di Dusun Bendera, Desa Sumberejo dan Dusun Belangguan, Desa Sumberwaru, Kecamatan Banyuputih.</p>



<p>Hal itu, disampaikan Bupati Situbondo, Karna Suswandi, saat menyalurkan bantuan air bersih dan Sembako kepada warga yang terdampak kekeringan. &#8220;Kita dapat tambahan anggaran dari dana insentif fiskal sekitar Rp 11 miliar lebih. Sebesar Rp 2 miliar, rencananya saya kasihkan (alokasikan, red) ke Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan untuk pembangunan sumur bor, guna dimanfaatkan mengairi lahan pertanian bapak-ibu,&#8221; ujarnya, Senin (16/09/2024) tadi.</p>



<p>Orang nomor satu di pemerintahan Situbondo ini mengatakan, di tahun ini Dusun Bendera dan Dusun Belangguan masing-masing akan dibangun satu sumur bor air dalam. &#8220;Harapannya nanti, lahan pertanian di dua dusun ini tetap mendapat suplai air di saat musim kemarau seperti sekarang ini,&#8221; tambah Bupati Karna.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Pria asal Desa Curah Tatal, Kecamatan Arjasa, ini menambahkan bahwa pembangunan sumur bor untuk lahan pertanian ini akan dilakukan setelah pemerintah daerah dan DPRD Situbondo mengesahkan P-ABPD Tahun Anggaran 2024. &#8220;Kalau PAK sudah didok, dua dusun ini langsung direncanakan dan dikerjakan pembangunan sumur bornya,&#8221; urainya.</p>



<p>Untuk lokasi sumur bornya sendiri, sambung pria yang akrab disapa Bung Karna ini, diserahkan sepenuhnya kepada warga dan pemerintah desa setempat. &#8220;Lokasinya saya ngikut warga dan Pak Kades. Dimana pun itu,&#8221; imbuhnya.</p>



<p>Sementara itu, Kepala Desa Sumberejo, Dwi Aris, menyampaikan bahwa lahan pertanian di Dusun Bendera memang kekurangan air bersih di saat musim kemarau tiba. Sehingga, keberadaan sumur bor pertanian sangat dibutuhkan.</p>



<p>&#8220;Di Dusun Bendera ini warganya menanam tembakau dan tebu. Saat musim kemarau tiba sungai mengering, sehingga lahan pertanian kekurangan air. Dengan adanya pembangunan sumur bor pertanian nantinya jelas sangat membantu warga kami untuk mengairi lahan pertaniannya,&#8221; katanya. <strong>(kom/sit/gie)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">214242</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
