<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>kemiren &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/kemiren/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Fri, 30 May 2025 16:19:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>kemiren &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Meriahkan Tumpeng Sewu Adat Kemiren, Ribuan Warga Duduk Lesehan di Kanan Kiri Jalan Lengkap Pecel Pitik</title>
		<link>https://memontum.com/meriahkan-tumpeng-sewu-adat-kemiren-ribuan-warga-duduk-lesehan-di-kanan-kiri-jalan-lengkap-pecel-pitik</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 29 May 2025 14:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar Desa]]></category>
		<category><![CDATA[kemiren]]></category>
		<category><![CDATA[lengkap]]></category>
		<category><![CDATA[lesehan]]></category>
		<category><![CDATA[meriahkan]]></category>
		<category><![CDATA[ribuan]]></category>
		<category><![CDATA[tumpeng]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=222562</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Banyuwangi &#8211; Ribuan warga turut meramaikan pelaksanaan Tumpeng Sewu, yang digelar di Desa Adat Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Kamis (29/05/2025) malam. Bukan hanya warga masyarakat sekitar, wisatawan juga turut datang menikmati sajian menu khas Suku Osing, etnis asli Banyuwangi. Warga dan pengunjung telah memadati kanan-kiri jalan raya sejak sebelum Magrib. Mereka duduk lesehan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Banyuwangi</strong> &#8211; Ribuan warga turut meramaikan pelaksanaan Tumpeng Sewu, yang digelar di Desa Adat Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Kamis (29/05/2025) malam. Bukan hanya warga masyarakat sekitar, wisatawan juga turut datang menikmati sajian menu khas Suku Osing, etnis asli Banyuwangi.</p>



<p>Warga dan pengunjung telah memadati kanan-kiri jalan raya sejak sebelum Magrib. Mereka duduk lesehan di pinggir jalan, dengan hidangan lengkap yang siap disantap.</p>



<p>Selepas Magrib, festival dimulai dengan pertunjukan Barong Kemiren. Diiringi lantunan musik khas dan pembawa obor, dua barong masing-masing berjalan dari ujung lokasi Festival menuju ke Kantor Desa, pusat arena pagelaran.</p>



<p>Di sela pertunjukan itu, para pembawa obor menyalakan tiap-tiap obor yang berjajar di kanan-kiri jalan. Usainya pertunjukan, menjadi pertanda bagi warga untuk mulai menyantap menu Tumpeng Sewu yang telah tersedia di lesehan masing-masing.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Warga Kemiren, Mastuki, mengatakan bahwa seluruh warga Kemiren menyiapkan makanan besar setiap pelaksanaan Tumpeng Sewu. Salah satu menu yang wajib ada dalam hidangan ada Pecel Pitik.</p>



<p>Pecel Pitik adalah lauk yang berbahan utama ayam kampung panggang yang dibumbui dengan kelapa parut dan beberapa jenis bahan dapur. Menu ini adalah salah satu makanan khas Suku Osing.</p>



<p>&#8220;Biasanya, satu keluarga tidak hanya menyiapkan satu tumpeng. Namun, bisa sampai tiga, empat atau lima. Karena saat Tumpeng Sewu, mereka biasanya akan mengundang kerabatnya yang berasal dari luar Kemiren,&#8221; kata Mastuki.</p>



<p>Ketua Lembaga Adat Osing Kemiren, Suhaimi, menjelaskan bahwa tradisi Tumpeng Sewu adalah budaya leluhur sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta. &#8220;Dalam Tumpeng Sewu, ada beberapa tradisi yang juga digelar oleh warga, salah satunya Mepe Kasur (jemur kasus) yang dilakukan pada pagi hingga siang hari,&#8221; ujar Suhaimi.</p>



<p>Pada tengah malam, masyarakat melanjutkan kegiatan dengan Mocoan Lontar Yusup semalam suntuk. Lontar Yusup merupakan naskah kuno yang bercerita tentang kehidupan Nabi Yusuf. <strong>(kom/bwi/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">222562</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Hindari Bencana dan Wabah Penyakit, Masyarakat Desa Kemiren Banyuwangi Gelar Tradisi Barong Ider Bumi</title>
		<link>https://memontum.com/hindari-bencana-dan-wabah-penyakit-masyarakat-desa-kemiren-banyuwangi-gelar-tradisi-barong-ider-bumi</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 01 Apr 2025 07:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar Desa]]></category>
		<category><![CDATA[Banyuwangi]]></category>
		<category><![CDATA[barong]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hindari]]></category>
		<category><![CDATA[kemiren]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=220795</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Banyuwangi &#8211; Tradisi adat Barong Ider Bumi berlangsung meriah di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Selasa (01/04/2025) tadi. Meski di bawah guyuran hujan, ratusan warga lokal dan wisatawan dari berbagai daerah tetap antusias mengikuti dan menyaksikan prosesi arak-arakan Barong berusia ratusan tahun tersebut. Ritual Barong Ider Bumi sendiri, digelar setiap tanggal 2 Syawal, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Banyuwangi</strong> &#8211; Tradisi adat Barong Ider Bumi berlangsung meriah di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Selasa (01/04/2025) tadi. Meski di bawah guyuran hujan, ratusan warga lokal dan wisatawan dari berbagai daerah tetap antusias mengikuti dan menyaksikan prosesi arak-arakan Barong berusia ratusan tahun tersebut.</p>



<p>Ritual Barong Ider Bumi sendiri, digelar setiap tanggal 2 Syawal, atau bertepatan dengan hari ke dua Idul Fitri. Tradisi ini, dipercaya sebagai bentuk ikhtiar masyarakat untuk menolak bencana dan pageblug (wabah penyakit) yang pernah melanda desa pada masa lampau.</p>



<p>Tokoh masyarakat adat Desa Kemiren, Suhaimi, menjelaskan bahwa ritual Barong Ider Bumi pertama kali dilakukan sekitar tahun 1840 an. Kala itu, Desa Kemiren dilanda wabah yang menyebabkan banyak korban jiwa serta gagal panen akibat serangan hama.</p>



<p>Keadaan semakin sulit, dengan masa paceklik yang berkepanjangan. Hingga akhirnya, dilakukanlah arak-arakan Barong.</p>



<p>&#8220;Sesepuh desa, saat itu meminta saran kepada Mbah Buyut Cili, atau leluhur Desa Kemiren. Dalam mimpi, beliau mendapat petunjuk agar warga mengadakan arak-arakan Barong keliling kampung sebagai upaya penolak bala,&#8221; ungkap Suhaimi.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Barong, tambahnya, dalam tradisi ini digambarkan sebagai sosok makhluk bermahkota dengan sayap yang dipercaya mampu melindungi desa dari marabahaya. &#8220;Ritual diawali dengan doa yang dipanjatkan oleh para tokoh pelestari Barong di petilasan Buyut Cili,&#8221; tambah Suhaimi.</p>



<p>Kepala Desa Kemiren, Arifin, mengungkapkan rasa syukur atas terlaksananya ritual tahun ini meskipun dalam kondisi hujan. &#8220;Kita tetap bersyukur karena hujan adalah anugerah dari Yang Maha Kuasa,&#8221; ujarnya.</p>



<p>Arifin menambahkan, ritual Barong Ider Bumi merupakan bagian dari upaya pelestarian adat dan budaya. “Ini merupakan kewajiban kami untuk melestarikan budaya leluhur. Ke depan, kami berharap tradisi ini tetap dilestarikan oleh generasi muda, sehingga budaya dan adat istiadat Osing tetap lestari,” tambah Arifin.</p>



<p>Saat gamelan mulai dimainkan, Barong siap diarak keliling desa dengan iringan masyarakat yang mengenakan pakaian adat. Arak-arakan dimulai dari sisi timur Desa Kemiren menuju bagian barat, menempuh jarak sekitar 2 km. Sepanjang perjalanan, tokoh adat melakukan tradisi Sembur Uthik-Uthik, yaitu menebarkan sekitar 999 koin logam yang dicampur dengan beras kuning dan berbagai macam bunga sebagai simbol penolak bala.</p>



<p>Puncak acara ditandai dengan kenduri massal, di mana warga duduk bersama di sepanjang jalan desa, menikmati hidangan khas Banyuwangi, pecel pithik yang disajikan secara beramai-ramai. Hidangan ini, dibuat dari ayam kampung muda yang dipanggang utuh di perapian. Kemudian, disuwir dan dicampur dengan bumbu khas yang terdiri dari cabai rawit, terasi, daun jeruk, gula serta parutan kelapa muda.</p>



<p>Wisatawan asal Surabaya, Dian Eka Putri Nasution, menyebut atmosfer kekeluargaan dalam ritual ini sangat terasa. “Yang paling saya suka adalah kendurinya. Semua duduk bersama, makan bersama di jalanan desa. Rasanya hangat dan sangat membumi. Ini pengalaman yang tidak bisa saya temukan di kota,&#8221; ujar Dian. <strong>(kom/bwi/gie)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">220795</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Desa Wisata Tradisional Osing Kemiren Raih Penghargaan Internasional The 5th ASEAN Homestay Award</title>
		<link>https://memontum.com/desa-wisata-tradisional-osing-kemiren-raih-penghargaan-internasional-the-5th-asean-homestay-award</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Jan 2025 08:50:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar Desa]]></category>
		<category><![CDATA[Homestay]]></category>
		<category><![CDATA[Internasional]]></category>
		<category><![CDATA[kemiren]]></category>
		<category><![CDATA[penghargaan]]></category>
		<category><![CDATA[tradisional]]></category>
		<category><![CDATA[wisata]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=218562</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Banyuwangi &#8211; Desa Wisata Tradisional Osing Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, kembali berhasil menorehkan prestasi membanggakan. Kali ini, desa yang mayoritas penduduknya adalah suku Osing (masyarakat asli Banyuwangi, red) ini berhasil meraih penghargaan internasional The 5th ASEAN Homestay Award. Penghargaan tersebut, diserahkan pada Asean Tourism Award (ATA) 2025 yang diselenggarakan di Persada Johor Convention [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Banyuwangi</strong> &#8211; Desa Wisata Tradisional Osing Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, kembali berhasil menorehkan prestasi membanggakan. Kali ini, desa yang mayoritas penduduknya adalah suku Osing (masyarakat asli Banyuwangi, red) ini berhasil meraih penghargaan internasional The 5th ASEAN Homestay Award.</p>



<p>Penghargaan tersebut, diserahkan pada Asean Tourism Award (ATA) 2025 yang diselenggarakan di Persada Johor Convention Centre, Johor, Malaysia, Senin (20/01/2025) kemarin. “Kami bersyukur desa-desa di Banyuwangi terus bangkit dengan keragaman potensi yang dimiliki. Ada yang maju di bidang pertanian, ada yang maju di bidang pemerintahan dan ada pula yang menonjol di bidang pariwisata. Termasuk, Desa Kemiren yang berulang kali mendapatkan penghargaan,” kata Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, Selasa (21/01/2025) tadi.</p>



<p>Menurut Bupati Ipuk, kinerja Desa Wisata Kemiren semakin mengokohkan posisi Banyuwangi di kancah pariwisata internasional. Khususnya, dalam pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal melalui pengembangan desa wisata.</p>



<p>“Kami ucapkan terima kasih atas kerja keras teman-teman di desa. Keberhasilan Desa Kemiren ini akan menjadi pengungkit bagi desa wisata lainnya di Banyuwangi untuk terus berbenah,” ujarnya.</p>



<p>Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Kemiren, Moh Edy Saputro, menjelaskan bahwa keunikan budaya dan keramahan masyarakat menjadi kunci keberhasilan Desa Kemiren, dalam meraih penghargaan. Suku Osing yang merupakan masyarakat desa setempat terus melestarikan adat istiadat, bahasa dan kesenian tradisionalnya. Termasuk, bagaimana warga desa setempat mendirikan homestay yang menonjolkan nuansa kehidupan suku Osing.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>“Alhamdulillah, dengan konsisten menjunjung tinggi kearifan lokal, Desa Kemiren mampu meraih penghargaan tingkat ASEAN di bidang homestay,” ujar Edy yang hadir menerima penghargaan.</p>



<p>Dirinya juga menyebutkan, di Desa Kemiren sudah ada 40 homestay yang dibangun warga dengan arsitektur osing. Datang ke desa ini, wisatawan akan disuguhkan dengan beragam atraksi wisata seperti pendidikan, kuliner dan budaya.</p>



<p>Termasuk ada Pasar Kampoeng Osing di Minggu pagi, warung kuliner dan berbagai atraksi tradisional yang populer di desa tersebut. Kami ingin siapa pun yang berkunjung bisa mengenal baik kehidupan suku Osing, ujarnya.</p>



<p>Desa itu juga didukung dengan fasilitas yang baik, mulai dari toilet umum hingga pelayanan publik berbasis digital melalui aplikasi Smart Village. Di desa ini kehadiran Gandrung juga sangat melekat, karena selain sebagai maskot wisata dan tarian selamat datang juga tidak terlepas dari karya maestro gandrung Temu yang merupakan penduduk asli Desa Kemiren. Ada pula burdah, angklung paglak dan Mocoan Lontar Yusup sebagai salah satu warisan budaya takbenda.</p>



<p>Desa Kemiren sebelumnya juga pernah meraih Penghargaan Desa Wisata Indonesia (ADWI) pada tahun 2024. <strong>(kom/bwi/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">218562</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Desa Wisata Adat Osing Kemiren Banyuwangi Raih Prestasi ADWI 2024</title>
		<link>https://memontum.com/desa-wisata-adat-osing-kemiren-banyuwangi-raih-prestasi-adwi-2024</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 19 Nov 2024 13:50:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Banyuwangi]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[kemiren]]></category>
		<category><![CDATA[Prestasi]]></category>
		<category><![CDATA[wisata]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=216724</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Banyuwangi &#8211; Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, berhasil menorehkan prestasi nasional. Desa Kemiren atau yang lebih dikenal sebagai Desa Wisata Adat Osing Kemiren, itu berhasil meraih Juara II Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024, Kategori Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia (SDM), yang digelar Kementerian Pariwisata (Kemenpar). Plt Bupati Banyuwangi, Sugirah, dalam kesempatan itu [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Banyuwangi</strong> &#8211; Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, berhasil menorehkan prestasi nasional. Desa Kemiren atau yang lebih dikenal sebagai Desa Wisata Adat Osing Kemiren, itu berhasil meraih Juara II Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024, Kategori Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia (SDM), yang digelar Kementerian Pariwisata (Kemenpar).</p>



<p>Plt Bupati Banyuwangi, Sugirah, dalam kesempatan itu hadir langsung di penyerahan penghargaan dalam acara Malam Anugerah Desa Wisata Indonesia 2024 di Teater Tanah Airku, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Minggu (17/11/2024) malam. Hadir dalam acara tersebut Menteri Pariwisata RI, Widiyanti Putri Wardhana. Sementara penghargaan sendiri, diserahkan Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenpar, Hariyanto.</p>



<p>&#8220;Kami bersyukur desa-desa di Banyuwangi terus bangkit dengan keanekaragaman potensinya. Ada yang maju di sektor pertanian, ada yang tata kelola pemerintahanya, ada pula yang menonjol pariwisatanya. Termasuk, Desa Kemiren ini yang sudah berulang kali mendapat penghargaan,&#8221; kata Plt Bupati Sugirah, Selasa (19/11/2024) tadi.</p>



<p>ADWI merupakan ajang pemberian penghargaan kepada desa-desa wisata yang memiliki prestasi dengan kriteria-kriteria penilaian dari Kemenpar RI. Untuk mendapatkan penghargaan tersebut, Desa Wisata Adat Kemiren harus bersaing dengan 6.016 desa wisata se-Indonesia.</p>



<p>Setelah melalui serangkaian kurasi, terpilih 300 besar desa wisata yang kemudian dikerucutkan menjadi 100 Besar. Setelah itu, terpilih menjadi 50 besar desa wisata terbaik hasil kurasi para dewan kurator dan dewan juri.</p>



<p>&#8220;Kami ucapkan terima kasih atas kerja keras teman-teman di desa. Semoga prestasi Desa Kemiren bisa menjadi inspirasi bagi desa wisata yang lain di Banyuwangi untuk terus bangkit dan berbenah,” imbuh Plt Bupati Sugirah.</p>



<p>Desa Wisata Adat Osing Kemiren sendiri merupakan destinasi yang lengkap. Desa yang menjadi basis Suku Osing (masyarakat asli Banyuwangi) tersebut, memiliki keindahan alam, kesenian yang menawan, kebudayaan yang terus dijaga turun temurun.</p>



<p>Pada 2021 silam, Desa wisata tersebut telah memperoleh sertifikasi sebagai Desa Wisata Berkelanjutan dari Kemenpar.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Kepala Desa Wisata Adat Kemiren, M Arifin, menjelaskan desanya berhasil meraih penghargaan ADWI 2024 pada kategori Kelembagaan dan SDM. Penghargaan ini diraih, lantaran Desa Kemiren dinilai berhasil memperkuat ekosistem pemberdayaan SDM di desanya untuk meningkatkan lapangan kerja dan perekonomian warga. Selain itu, Desa Kemiren dinilai memiliki komitmen kuat dalam mendukung kesetaraan gender.</p>



<p>Hal itu dibuktikan, melalui berbagai program yang telah dijalankan oleh desa. Diantaranya, pendampingan legalitas lembaga, pelatihan peningkatan produksi UMKM dan pelatihan energi terbarukan (biogas).</p>



<p>“Kami juga memberikan pelatihan manajemen tata kelola pariwisata bagi para pemilik home stay dan pelaku usaha pariwisata yang lain. Dengan harapan usaha yang mereka jalankan bisa terus tumbuh dan berkelanjutan,” urai Arifin.</p>



<p>Dengan berbagai program yang dijalankan, Desa Kemiren telah berdiri 40 homestay. Jumlah UMKM yang terlisensi (mengantongi PIRT, SNI dan sertifikasi halal) semakin bertambah. Selain itu, peran serta perempuan juga terus meningkat, hampir dalam setiap kegiatan adat ditampilkan atraksi seni yang pelakunya mayoritas adalah perempuan.</p>



<p>Pengembangan desa ini, juga melibatkan warga. Bahkan, banyak homestay yang didirikan warga lokal dengan arsitektur Osing dan keramahan warganya membuat nyaman terasa di kampung sendiri. Selain juga didukung amenitas yang baik, mulai toilet umum hingga pelayanan publiknya berbasis digital melalui aplikasi Smart Kampung.</p>



<p>Datang ke desa ini, wisatawan akan disajikan dengan daya tarik wisata yang beragam seperti edukasi, kuliner dan budaya. Adanya Pasar Kampoeng Osing, Warung Makan Pesantogan Kemangi dan kawasan Rumah Adat Osing, untuk memanjakan wisatawan.</p>



<p>Di desa ini keberadaan Gandrung begitu melekat, karena selain maskot pariwisata dan tari selamat datang, tak lepas dari kiprah maestro Gandrung Temu yang asli Desa Kemiren. Ada juga, Burdah, Angklung Paglak dan Mocoan Lontar Yusup sebagai salah satu warisan budaya tak benda. <strong>(kom/bwi/gie)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">216724</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Festival Ngopi Sepuluh Ewu Kembali Dihadirkan di Desa Adat Kemiren Banyuwangi</title>
		<link>https://memontum.com/festival-ngopi-sepuluh-ewu-kembali-dihadirkan-di-desa-adat-kemiren-banyuwangi</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 06 Nov 2024 14:20:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar Desa]]></category>
		<category><![CDATA[Banyuwangi]]></category>
		<category><![CDATA[dihadirkan]]></category>
		<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[kembali]]></category>
		<category><![CDATA[kemiren]]></category>
		<category><![CDATA[sepuluh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=216265</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Banyuwangi &#8211; Plt Bupati Banyuwangi, Sugirah, mengatakan Festival Ngopi Sepuluh Ewu (minum sepuluh ribu kopi) telah menjadi event tradisi yang menjadi bagian dari Banyuwangi Festival. Event ini, lebih dari sekadar acara minum kopi bersama, melainkan ajang unjuk nilai luhur masyarakat Osing. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Festival Ngopi Sepuluh Ewu digelar di sepanjang jalan utama Desa [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Banyuwangi</strong> &#8211; Plt Bupati Banyuwangi, Sugirah, mengatakan Festival Ngopi Sepuluh Ewu (minum sepuluh ribu kopi) telah menjadi event tradisi yang menjadi bagian dari Banyuwangi Festival. Event ini, lebih dari sekadar acara minum kopi bersama, melainkan ajang unjuk nilai luhur masyarakat Osing.</p>



<p>Seperti tahun-tahun sebelumnya, Festival Ngopi Sepuluh Ewu digelar di sepanjang jalan utama Desa Adat Kemiren, Rabu (06/11/2024) malam. Deretan rumah warga di Desa Adat Kemiren, disulap menjadi warung kopi dadakan. Di teras-teras rumah yang diubah menjadi area lesehan dan meja-meja, warga menyuguhkan kopi dalam cangkir-cangkir yang diwariskan secara turun temurun.&nbsp;</p>



<p>&#8220;Ngopi Sepuluh Ewu merupakan sebuah pertunjukan budaya yang menggambarkan keramahan dan kemurahan hati masyarakat Osing, sekaligus mempererat rasa persaudaraan antar warga,&#8221; kata Plt Bupati Sugirah.</p>



<p>Festival Ngopi Sepuluh Ewu telah menjadi event rutin sejak 2014 dan sangat dinanti para wisatawan. Ribuan orang selalu memadati perayaan tradisi ngopi warga suku Using Banyuwangi tersebut.</p>



<p>Ngopi Sepuluh Ewu rutin digelar Desa Adat Kemiren, Kecamatan Glagah Banyuwangi. Warga desa yang sebagian besar suku Osing Banyuwangi, ini memiliki tradisi Ngopai (ngopi-minum kopi). Kopi bisa dibilang suguhan wajib kepada tamu, saat berkunjung ke rumah warga Kemiren.</p>



<p>Para pengunjung disambut dengan beragam pilihan kopi, mulai dari Arabika dan Robusta hingga House Blend khas racikan warga. Tidak hanya kopi, aneka jajanan tradisional juga menemani momen kebersamaan ini.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Vibes yang dihadirkan festival tersebut, menjadikan Festival Ngopi ini ajang ngumpul bareng bersama kawan lama. Merantau di Palangkaraya, Putra Pengayoman, mengaku dirinya bersama kawan lama diundang warga asli Kemiren, Suroso yang dahulu pernah menjadi induk semang (orang tua asuh) sewaktu sekolah.</p>



<p>&#8220;Selalu senang kembali ke Festival Ngopi. Alhamdulillah, kami sengaja buat acara temu kangen bareng teman sekolah dan berkunjung ke rumah Pak Osok, kami bercengkrama dan ngobrol banyak sambil mengenang masa lalu,&#8221; ujar Ayom.</p>



<p>Sementara itu, Suroso mengatakan budaya masyarakat Osing adalah memuliakan tamu. Ia menganggap siapa saja yang datang bertamu seperti keluarganya sendiri. &#8220;Masih punya kontak dan turut senang bisa ngobrol lagi sama anak-anak. Semoga semuanya sukses,&#8221; harap Osok, panggilannya.</p>



<p>Hal yang sama juga dirasakan pengunjung asal Jerman, Malte dan Kathi. Mereka bertemu di Indonesia setelah beberapa tahun tak bertemu. &#8220;Mampir ke Banyuwangi bareng sahabat lama dan ada event minum kopi ini mengingatkan saya dengan tradisi yang sama di Jerman. Kita minum bersama dengan kawan layaknya saudara. Ini kopinya sangat enak,&#8221; tutur Malte.</p>



<p>Sementara itu, Kepala Desa Kemiren, Muhamad Arifin, Ngopi Sepuluh Ewu ini digelar bersama dengan perayaan Hari Jadi Desa Kemiren pada tanggal 5 November. &#8220;Kami sengaja mengundang seluruh masyarakat Banyuwangi dan wisatawan datang ke perayaan Desa Kemiren untuk merasakan kehangatan dan persaudaraan dalam setiap teguk kopi,&#8221; jelas Arifin. <strong>(kom/bwi/gie)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">216265</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
