<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>kerbau &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/kerbau/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Fri, 07 Jun 2024 06:39:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>kerbau &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Nyadran Dam Bagong, Bupati Arifin Larung Kepala Kerbau Suryo Maeso Tunggo</title>
		<link>https://memontum.com/nyadran-dam-bagong-bupati-arifin-larung-kepala-kerbau-suryo-maeso-tunggo</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 07 Jun 2024 04:50:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar Desa]]></category>
		<category><![CDATA[Trenggalek]]></category>
		<category><![CDATA[arifin]]></category>
		<category><![CDATA[bagong,]]></category>
		<category><![CDATA[bupati]]></category>
		<category><![CDATA[kepala]]></category>
		<category><![CDATA[kerbau]]></category>
		<category><![CDATA[Larung]]></category>
		<category><![CDATA[Nyadran]]></category>
		<category><![CDATA[tunggo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=210366</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Trenggalek &#8211; Usai dikirab dari Desa Kerjo menuju Pendopo Manggala Praja Nugraha dan kemudian diserahkan kepada warga Kelurahan Ngantru untuk disembelih, kerbau yang disedekahkan dalam tradisi Nyadran Dam Bagong dilarung. Tradisi Nyadran Dam Bagong ini, adalah tradisi pelemparan tumbal kepala kerbau. Tradisi ini dilakukan, untuk mengenang seorang ulama yang menyiarkan agama Islam di Trenggalek, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Trenggalek</strong> &#8211; Usai dikirab dari Desa Kerjo menuju Pendopo Manggala Praja Nugraha dan kemudian diserahkan kepada warga Kelurahan Ngantru untuk disembelih, kerbau yang disedekahkan dalam tradisi Nyadran Dam Bagong dilarung. Tradisi Nyadran Dam Bagong ini, adalah tradisi pelemparan tumbal kepala kerbau.</p>



<p>Tradisi ini dilakukan, untuk mengenang seorang ulama yang menyiarkan agama Islam di Trenggalek, yaitu Adipati Menak Sopal. Dimana kala itu, berperan penting terhadap kehidupan warga Trenggalek pada masa itu, khususnya wilayah Dam Bagong. Adipati Menak juga membangun pengairan sawah masyarakat di kawasan itu.</p>



<p>Bupati Trenggalek, Mochammad Nur Arifin, dalam prosesi itu berkesempatan langsung melarung kepala, berikut kaki dan kulit Kerbau Bule yang dinamakan warga setempat Suryo Maeso Tunggo ke dalam Dam Bagong. Sudah menjadi sebuah tradisi turun temurun, bahwa kepala, kaki dan kulit kerbau ini dilarung&nbsp; kemudian diperebutkan warga.</p>



<p>&#8220;Terima kasih seluruh masyarakat Ngantru dan Masyarakat Desa Kerjo, serta masyarakat yang juga menerima manfaat aliran Sungai Dam Bagong. Terima kasih ini bentuk syukur. Kerbaunya memilih yang terbaik, jadi syukurnya betul-betul syukur,&#8221; kata Bupati Arifin, Jumat (07/06/2024) tadi.</p>



<p>Tradisi Nyadran Dam Bagong ini, diperingati setiap hari Jumat Kliwon Bulan Selo atau Bulan Zulkaidah dalam kalender Hijriah. Ritualnya diawali dengan tahlilan di samping makam Adipati Menak Sopal.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Kemudian, dilanjutkan dengan ziarah makam yang diikuti oleh tokoh masyarakat dan warga. Sementara itu, di halaman sekitar komplek pemakaman disajikan hiburan tarian jaranan yang diikuti musik gamelan.</p>



<p>Puncaknya, adalah pelemparan tumbal kepala kerbau ke dasar Dam Bagong. Kemudian, acara pun dilanjutkan dengan pagelaran wayang kulit.</p>



<p>&#8220;Ini bertujuan untuk tolak bala serta ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT, atas keberhasilan pembangunan Dam Bagong yang sangat besar manfaatnya. Selain itu, tradisi ini dilakukan sebagai ungkapan terima kasih kepada Adipati Menak Sopal karena telah membangun Dam Bagong,&#8221; terangnya.</p>



<p>Adapun makna khusus yang terkandung dalam Tradisi Nyadran Dam Bagong ini, yakni bergotong-royong. Dimana, ini tidak terlihat perbedaan antara warga yang berkecukupan dengan warga yang kurang mampu.</p>



<p>Masyarakat sangat kompak pada saat menyiapkan kebutuhan dan perlengkapan yang digunakan saat peringatan upacara Tradisi Nyadran Dam Bagong. &#8220;Semoga bentuk gotong royong dan kekompakan antar warga ini bisa saling kuat. Juga, sedekah ini nantinya akan digantikan rizqi yang melimpah. Dan, segera diberikan hujan yang juga bisa menjadi berkah bagi para petani kita di Trenggalek,&#8221; harap Mas Ipin-sapaan akrabnya. <strong>(mil/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">210366</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Bupati Trenggalek Jalani Tradisi Kirab Kerbau Nyadran Dam Bagong</title>
		<link>https://memontum.com/bupati-trenggalek-jalani-tradisi-kirab-kerbau-nyadran-dam-bagong</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 Jun 2024 11:55:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar Desa]]></category>
		<category><![CDATA[Trenggalek]]></category>
		<category><![CDATA[bagong,]]></category>
		<category><![CDATA[bupati]]></category>
		<category><![CDATA[jalani]]></category>
		<category><![CDATA[kerbau]]></category>
		<category><![CDATA[Nyadran]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=210360</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Trenggalek &#8211; Bupati Trenggalek, Mochammad Nur Arifin, menjalani tradisi Kirab Nyadran Kerbau Dam Bagong. Dimana dalam tradisi itu, sebelum disembelih, kerbau untuk tradisi Nyadran Dam Bagong dilakukan kirab dari Desa Kerjo menuju Dam Bagong di Kelurahan Ngantru. Baru kemudian, kepala, kulit dan kakinya dilarung di Dam Bahong. Dalam perjalanannya, kerbau yang dinamakan Suryo Maeso [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Trenggalek</strong> &#8211; Bupati Trenggalek, Mochammad Nur Arifin, menjalani tradisi Kirab Nyadran Kerbau Dam Bagong. Dimana dalam tradisi itu, sebelum disembelih, kerbau untuk tradisi Nyadran Dam Bagong dilakukan kirab dari Desa Kerjo menuju Dam Bagong di Kelurahan Ngantru. Baru kemudian, kepala, kulit dan kakinya dilarung di Dam Bahong.</p>



<p>Dalam perjalanannya, kerbau yang dinamakan Suryo Maeso Tunggo oleh warga setempat, disinggahkan sejenak di Pendopo Manggala Praja Nugraha-Trenggalek. Di pendopo, serangkaian tradisi dijalani, kemudian diserahkan oleh Bupati Trenggalek kepada warga Kelurahan Ngantru, untuk dilakukan upacara penyembelihan.</p>



<p>Sesuai dengan ceritanya, tradisi Nyadram Dam Mbagong berawal dari hikayat yang berkembang turun temurun dan dipercaya oleh warga sebagai cikal bakal Dam Bagong. Dimana keberadaan Dam Bagong yang dibangun Adipati Menak Sopal, menjadikan warga mendapatkan irigasi pertanian dan terhindar dari bencana banjir.</p>



<p>Dalam pembangunannya, Menak Sopal melakukan persembahan dengan penyembelihan Gajah Putih yang kala itu dipinjamkan dari Mbok Roro Krandon di Desa Kerjo, Kecamatan Karangan. Tradisi ini, yang ingin coba dikembalikan dan dilestarikan lagi oleh masyarakat Trenggalek.</p>



<p>&#8220;Ini kegiatan setiap Bulan Selo, sebagai bentuk syukurnya para petani atas karunia bisa menanam dan tersedianya air. Maka, dicurahkan dengan bergotong royong melakukan sedekah bumi berupa penyembelihan kerbau,&#8221; kata Bupati Arifin, seusai mengikuti serangkaian upacara adat Kirab Mahesa (kerbau), Kamis (06/06/2024) tadi.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Mas Ipin-sapaan akrabnya menuturkan bahwa acara tahunan tersebut merupakan bentuk syukur para petani tani atas ketersediaan air di sawah. Sehingga, bisa terus menanam padi.</p>



<p>&#8220;Rasa syukur ini dicurahkan dengan bergotong royong melakukan sedekah bumi berupa penyembelihan kerbau dengan kualitas bagus. Ibaratnya, memilih hewan yang akan digunakan untuk sodaqohan ini yang terbaik, berarti syukurnya itu betul-betul syukur. Semoga nanti, Allah Tuhan Yang Maha Esa memberikan kelancaran rizqi bagi para sedulur tani yang ada di Ngantru dan sekitarnya yang teraliri Dam Bagong,&#8221; terangnya.</p>



<p>Tradisi ini, sambungnya, dapat diartikan mengembalikan sejarah terkait dengan Adipati Menak Sopal. Puncaknya besok, akan diselenggarakan penyembelihan. Kemudian dibagi dagingnya, dimasak untuk warga dan nanti kepalanya akan ada prosesi larung, yang ujungnya sebenarnya juga diambil oleh warga sebagai bentuk doa.</p>



<p>&#8220;Kepala itu adalah simbul kehormatan, kepercayaan. Jadi ini sedekahnya orang banyak, kemudian diperebutkan orang banyak juga kepalanya yang merupakan simbol kepercayaan tertinggi,&#8221; terangnya.</p>



<p>Suami Novita Hardiny ini berharap, dalam pelaksanaan Bersih Dan Bagong yang dimulai hari ini hingga esok itu, diberikan kelancaran dan keberkahan. Terlebih, memberikan kesejahteraan bagi petani di Kabupaten Trenggalek.</p>



<p>&#8220;Semoga nanti warga suka cita berbahagia. Dan semoga, Allah SWT memberikan kelancaran rezeki bagi para sedulur tani yang ada di Ngantru dan sekitarnya yang teraliri Dam Bagong, maupun masyarakat Desa Kerjo,&#8221; tambahnya. <strong>(mil/gie)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">210360</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Larung Kepala Kerbau di Dam Bagong, Ini Kata Bupati Trenggalek</title>
		<link>https://memontum.com/larung-kepala-kerbau-di-dam-bagong-ini-kata-bupati-trenggalek</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 16 Jun 2023 09:05:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pemerintahan]]></category>
		<category><![CDATA[Trenggalek]]></category>
		<category><![CDATA[bagong,]]></category>
		<category><![CDATA[bupati]]></category>
		<category><![CDATA[DAM]]></category>
		<category><![CDATA[di]]></category>
		<category><![CDATA[ini]]></category>
		<category><![CDATA[kata]]></category>
		<category><![CDATA[kepala]]></category>
		<category><![CDATA[kerbau]]></category>
		<category><![CDATA[Larung]]></category>
		<category><![CDATA[pemerintahan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=191119</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Trenggalek &#8211; Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, melarung kepala, kaki dan kulit kerbau dalam upacara adat Bersih Dam Bagong atau sering disebut Nyadran Dam Bagong. Disaksikan ribuan masyarakat dan juga tokoh agama, kegiatan yang rutin digelar tahunan ini berlangsung sakral. Kegiatan ini, merupakan upacara adat yang rutin dan senantiasa dilestarikan oleh masyarakat setempat. Semangatnya [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Trenggalek</strong> &#8211; Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, melarung kepala, kaki dan kulit kerbau dalam upacara adat Bersih Dam Bagong atau sering disebut Nyadran Dam Bagong. Disaksikan ribuan masyarakat dan juga tokoh agama, kegiatan yang rutin digelar tahunan ini berlangsung sakral.</p>



<p>Kegiatan ini, merupakan upacara adat yang rutin dan senantiasa dilestarikan oleh masyarakat setempat. Semangatnya adalah bersedekah, dengan harapan mendapatkan berkah Allah SWT.</p>



<p>Nyadran Dam Bagong sendiri, merupakan bentuk penghormatan masyarakat atas perjuangan Ki Ageng Menak Sopal yang telah berjasa membawa kemakmuran masyarakat setelah membangun Dam Bagong. Lebih-lebih Dam ini, diyakini selain sebagai sumber pengairan pertanian juga dapat menampung air ketika musim kemarau dan mampu mengendalikan banjir ketika musim penghujan.</p>



<p>&#8220;Ini prosesi nyadran sudah dilaksanakan. Semoga sedekahnya seluruh warga Desa Ngantru dan sedekahnya seluruh warga Desa Kerjo nanti dibalas oleh Allah dengan rejeki yang melimpah,&#8221; kata Bupati Arifin, Jumat (16/06/2023) siang.</p>



<p>Dijelaskan suami Novita Hardiny ini, kepala kerbau sebenarnya simbol kehormatan dan kepercayaan. &#8220;Jadi kalau membangun atau kita katakanlah sebagai pelayanan masyarakat, kepercayaan itu adalah segala-galanya,&#8221; imbuhnya.</p>



<p>Dapat diartikan, ujarnya, kepala ini adalah performa Pemerintah Daerah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Kerbau juga melambangkan makhluk Tuhan yang biasa bekerja keras. Maka kepercayaan dan kerja keras itu yang akan menghantarkan kepada kesuksesan.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Jika ada yang mengira, kepala kerbau itu dilarung maka akan mengapung di air dan bisa menyebabkan difteri, itu adalah salah besar. Kenyataannya, setelah dilemparkan ke dalam Dam Bagong, kepala kerbau beserta kaki dan kulitnya akan direbut lagi oleh masyarakat.</p>



<p>&#8220;Jadi tidak ada yang tertinggal di aliran sungai. Sebenarnya upacara adat ini adalah sedekah untuk masyarakat. Jadi dagingnya dimakan lagi oleh masyarakat,&#8221; tutur Mas Ipin-sapaan akrabnya.</p>



<p>Pihaknya juga akan meminta Dinas Pengairan untuk mengecek secara berkala, karena Dam ini tidak hanya mengaliri sawah yang ada di kota. Namun, juga mengaliri sampai ke Pogalan dan seterusnya.</p>



<p>Cita-cita besarnya Pemerintah saat ini adalah Proyek Strategis Nasional itu mereplikasi atau membesarkan Dam Bagong dengan Bendungan Bagong yang nanti ada di Sumurup. Ini perjuangan Menak Sopal jaman dulu dengan Menak Sopal jaman kini dan untuk Menak Sopal jaman kini adalah Pemerintah Daerah.</p>



<p>&#8220;Mari kita doakan pembangunan Bendungan Bagong yang saat ini dilaksanakan, masyarakat di sana juga yang mengikhlaskan bahwa kegiatan di sana bisa berjalan semoga diberi rizqi yang melimpah. Diberi kesabaran dan juga yang mengerjakan bisa tepat waktu dan semoga bisa segera termanfaatkan,&#8221; paparnya. <strong>(mil/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">191119</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Melihat Sedekah Tahunan Nyadran Dam Bagong, Kerbau Diarak Singgah ke Pendopo Trenggalek</title>
		<link>https://memontum.com/melihat-sedekah-tahunan-nyadran-dam-bagong-kerbau-diarak-singgah-ke-pendopo-trenggalek</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 15 Jun 2023 11:40:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar Desa]]></category>
		<category><![CDATA[Trenggalek]]></category>
		<category><![CDATA[bagong,]]></category>
		<category><![CDATA[DAM]]></category>
		<category><![CDATA[Desa]]></category>
		<category><![CDATA[diarak]]></category>
		<category><![CDATA[kabar]]></category>
		<category><![CDATA[ke]]></category>
		<category><![CDATA[kerbau]]></category>
		<category><![CDATA[melihat]]></category>
		<category><![CDATA[Nyadran]]></category>
		<category><![CDATA[Pendopo]]></category>
		<category><![CDATA[sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[singgah]]></category>
		<category><![CDATA[tahunan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=191041</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Trenggalek &#8211; Ada yang berbeda dari rangkaian acara Bersih Dam Bagong yang ada di Kelurahan Ngantru, Kecamatan Trenggalek, Kabupaten Trenggalek. Di tahun ini, sedekah tahunan yang biasa disebut Nyadran Dam Bagong dilakukan dengan merekonstruksi ulang sejarah dengan nilai dan pendekatan yang baru. Dalam sejarah yang ada, Ki Ageng Minak Sopal meminjam Gajah Putih milik [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Trenggalek</strong> &#8211; Ada yang berbeda dari rangkaian acara Bersih Dam Bagong yang ada di Kelurahan Ngantru, Kecamatan Trenggalek, Kabupaten Trenggalek. Di tahun ini, sedekah tahunan yang biasa disebut Nyadran Dam Bagong dilakukan dengan merekonstruksi ulang sejarah dengan nilai dan pendekatan yang baru.</p>



<p>Dalam sejarah yang ada, Ki Ageng Minak Sopal meminjam Gajah Putih milik Mbok Roro Krandon, untuk dijadikan persembahan pembangunan Dam Bagong. Sebelum disembelih dan dipersembahkan, kepala Kerbau harus dikirab terlebih dahulu.</p>



<p>Kirab Kerbau yang diperuntukkan Nyadran Dam Bagong ini menjadi salah satu bagian sakral dari adat budaya yang dilestarikan oleh masyarakat di Kelurahan Ngantru dan baru tahun ini dilakukan. &#8220;Ini memang terbilang baru, karena sebelum-sebelumnya tidak ada. Tahun ini kita mencoba melakukan rekonstruksi kembali sejarah kenapa Nyadran Dam Bagong. Kalau dahulunya, akadnya Menak Sopal meminjam Gajah Putih milik Mbok Roro Krandon itu akan dikembalikan. Namun, akhirnya disembelih sebagai syarat membangun Dam Bagong,&#8221; terang Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin, saat dikonfirmasi, Kamis (15/06/2023) sore.</p>



<p>Akan tetapi, tambah Bupati Arifin, pihaknya ingin merekonstruksi sejarah tersebut. Menurutnya, masyarakat Krandon sudah ikhlas Gajah itu disembelih karena manfaatnya dirasakan oleh masyarakat luas. Dari sini, kedua desa ini coba dirangkaikan karena menjadi asal usul dari upacara adat Dam Bagong. Keduanya coba di kolaborasikan, sehingga Kerbau untuk Nyadran disinggahkan semalam di Desa Kerjo. Juga, ada beberapa rangkaian kegiatan dilakukan disana.</p>



<p>&#8220;Dari Kerjo kemudian Kerbau atau Mahesa, ini di kirab menuju Pendopo Trenggalek. Lalu di kirab kembali ke Tlatah Mbagongan (Dam Bagong),&#8221; imbuhnya.</p>



<p>Kegiatan ini, ada Bregodo yang mana Mahesa diserahkan kepada Bupati Trenggalek. Kemudian, bupati menyerahkan kembali Kerbau ini untuk dibawa ke Dam Bagong dan berikut dengan peralatan sembelihnya.</p>



<p>&#8220;Jadi kegiatan hari ini sebenarnya kegiatan rutin tahunan. Yaitu, Nyadran Dam Bagong ditandai dengan sedekah daging Kerbau kepada masyarakat di Desa Ngantru,&#8221; tutur Mas Ipin-sapaan akrabnya.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Maka dari itu, sambungnya, ini memang sudah diniatkan untuk sedekahan. Kerbau yang diarak dimulai dari Desa Kerjo, Kecamatan Karangan sampai ke Pendopo Manggala Praja Nugraha Trenggalek. Selanjutnya, dari pendopo akan diarak kembali ke Ngantru untuk dilakukan penyembelihan.</p>



<p>&#8220;Besok (Jumat, red) akan dilakukan adat Nyadran Dam Bagong dengan melempar kepala kerbau beserta kakinya,&#8221; jelasnya.</p>



<p>Untuk rangkaian Nyadran Dam Bagong sendiri, jelas Bupati Trenggalek, sudah dimulai pada hari Rabu malam dan hari sakralnya Nyadran Dam Bagong sendiri yang dilaksanakan pada Jumat besok. Menurutnya, ini akan menjadi agenda tahunan yang dilaksanakan rutin setiap tahun.</p>



<p>Nyadran Dam Bagong sendiri, sebenarnya merupakan perwujudan rasa syukur dari warga lingkungan sekitar dan petani yang dialiri oleh aliran sungai Dam Bagong. Mereka bersyukur karena sebelumnya Trenggalek merupakan rawa rawa tandus yang kering ketika musim kemarau dan banjir ketika musim penghujan.</p>



<p>Berawal dari tokoh yang bernama Menak Sopal, keadaan ini dirubah. Dengan membangun sebuah Dam atau bendungan kecil di area Bagongan, tanah yang dahulunya tandus ketika kemarau dan banjir ketika hujan menjadi areal persawahan yang subur.</p>



<p>Sedangkan cerita-cerita lain di balik pembangunan Dam ini, menyembelih Gajah Putih yang pada waktu itu milik Mbok Roro Krandon, menjadi cikal bakal upacara adat Nyadran sekarang. Cuma, hewan yang disembelih dari Gajah digantikan dengan seekor kerbau.</p>



<p>&#8220;Besok kepala kerbau dan kaki kerbau akan dilarung dengan cara dilemparkan ke dalam Dam Bagong. Yang kemudian diperebutkan oleh masyarakat sekitar. Menurut kepercayaan, barang siapa mendapatkan kepala kerbau tersebut akan mendapatkan keberkahan dalam hidupnya,&#8221; papar Bupati Arifin. <strong>(mil/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">191041</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
