<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>kolektif &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/kolektif/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Sat, 20 Dec 2025 15:46:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>kolektif &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Kepedulian Kolektif, Pemkab Lumajang Gelar Sedekah Udara 770 dan Sekolah Adiwiyata</title>
		<link>https://memontum.com/kepedulian-kolektif-pemkab-lumajang-gelar-sedekah-udara-770-dan-sekolah-adiwiyata</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 19 Dec 2025 08:35:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Lumajang]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[adiwiyata]]></category>
		<category><![CDATA[kepedulian]]></category>
		<category><![CDATA[kolektif]]></category>
		<category><![CDATA[Pemkab]]></category>
		<category><![CDATA[sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[Sekolah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=228896</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Lumajang &#8211; Sedekah Udara 770 dalam rangka Hari Jadi Lumajang (Harjalu) ke-770 dimaknai sebagai ajakan moral untuk membangun kepedulian kolektif terhadap kualitas lingkungan hidup. Hal tersebut ditegaskan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Lumajang, Hertutik, saat aksi penanaman pohon di kawasan Alun-Alun Lumajang, Jumat (19/12/2025) tadi. Menurut Hertutik, sedekah udara bukan sekadar kegiatan seremonial, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Lumajang</strong> &#8211; Sedekah Udara 770 dalam rangka Hari Jadi Lumajang (Harjalu) ke-770 dimaknai sebagai ajakan moral untuk membangun kepedulian kolektif terhadap kualitas lingkungan hidup. Hal tersebut ditegaskan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Lumajang, Hertutik, saat aksi penanaman pohon di kawasan Alun-Alun Lumajang, Jumat (19/12/2025) tadi.</p>



<p>Menurut Hertutik, sedekah udara bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan upaya nyata menggerakkan partisipasi seluruh elemen masyarakat dalam menjaga kualitas lingkungan. Penanaman pohon di kawasan pusat kota sendiri, dinilai strategis karena berdampak langsung terhadap kualitas udara sekaligus meningkatkan kenyamanan ruang publik.</p>



<p>“Kegiatan ini adalah wujud nyata kepedulian terhadap kualitas udara. Harapannya, pohon-pohon yang ditanam hari ini akan memberi manfaat jangka panjang bagi kesehatan lingkungan dan masyarakat,” jelasnya.</p>



<p>Pada kesempatan yang sama, penyerahan penghargaan Sekolah Adiwiyata Tingkat Kabupaten Lumajang kepada 13 sekolah menjadi penegasan bahwa upaya pelestarian lingkungan tidak dapat dilepaskan dari peran dunia pendidikan. Sekolah diposisikan sebagai ruang strategis dalam menanamkan kesadaran ekologis dan membangun budaya peduli lingkungan sejak dini.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Bupati Lumajang, Indah Amperawati, dalam memon itu memberikan apresiasi kepada sekolah-sekolah penerima penghargaan yang dinilai konsisten menerapkan pengelolaan lingkungan hidup secara berkelanjutan. “Sekolah Adiwiyata memiliki peran strategis dalam membentuk karakter generasi muda. Pendidikan lingkungan yang ditanamkan sejak dini akan melahirkan perilaku yang bertanggung jawab terhadap alam di masa depan,” kata Bupati Indah-sapaan Bupati Lumajang.</p>



<p>Melengkapi hal tersebut, Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lumajang, Ari Murcono, menegaskan bahwa capaian Sekolah Adiwiyata merupakan hasil kolaborasi seluruh warga sekolah, mulai dari pendidik, peserta didik, hingga lingkungan sekitar. Menurutnya, Program Adiwiyata tidak hanya berorientasi pada kebersihan dan penghijauan sekolah, tetapi juga memperkuat pendidikan karakter peserta didik.</p>



<p>“Sekolah menjadi agen perubahan. Nilai-nilai kepedulian lingkungan yang ditanamkan melalui Adiwiyata akan membentuk karakter peserta didik yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan,” ujarnya.</p>



<p>Ari juga menegaskan komitmen Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Lumajang untuk terus mendorong sekolah-sekolah mengikuti Program Adiwiyata melalui pendampingan berkelanjutan dan penguatan sinergi lintas sektor. Melalui Sedekah Udara 770 dan penguatan Program Adiwiyata, Pemerintah Kabupaten Lumajang menegaskan arah pembangunan yang menempatkan kelestarian lingkungan dan pendidikan karakter sebagai fondasi utama mewujudkan Lumajang yang sehat, lestari dan berkelanjutan. <strong>(kom/adi/gie)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">228896</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Raih Penghargaan Proklim Utama, Ketua Proklim Sumberwuluh Lumajang Sebut Semangat Kolektif Masyarakat</title>
		<link>https://memontum.com/raih-penghargaan-proklim-utama-ketua-proklim-sumberwuluh-lumajang-sebut-semangat-kolektif-masyarakat</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 12 Aug 2024 06:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar Desa]]></category>
		<category><![CDATA[Lumajang]]></category>
		<category><![CDATA[kolektif]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[penghargaan]]></category>
		<category><![CDATA[Proklim]]></category>
		<category><![CDATA[semangat]]></category>
		<category><![CDATA[sumberwuluh]]></category>
		<category><![CDATA[utama,]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=212881</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Lumajang &#8211; Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, baru-baru ini berhasil menerima kehormatan besar dengan dianugerahi Penghargaan Tropi Program Kampung Iklim (Proklim) Utama oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Penghargaan prestisius tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, dalam sebuah upacara bergengsi di Jakarta Convention Center (JCC), Jumat (09/08/2024) [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Lumajang</strong> &#8211; Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, baru-baru ini berhasil menerima kehormatan besar dengan dianugerahi Penghargaan Tropi Program Kampung Iklim (Proklim) Utama oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Penghargaan prestisius tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, dalam sebuah upacara bergengsi di Jakarta Convention Center (JCC), Jumat (09/08/2024) lalu.</p>



<p>Penghargaan Tropi Proklim Utama ini, merupakan bentuk pengakuan atas komitmen dan dedikasi luar biasa masyarakat Desa Sumberwuluh, dalam upaya pelestarian lingkungan. Program Kampung Iklim yang diinisiasi oleh KLHK, bertujuan untuk mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam menghadapi tantangan perubahan iklim melalui upaya adaptasi dan mitigasi yang berkelanjutan di tingkat lokal.</p>



<p>Ketua Proklim Desa Sumberwuluh, Samsul Arifin, saat dikonfirmasi menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya atas pencapaian yang diterima oleh desanya. Termasuk, ucapan terima kasih untuk masyarakat, pemerintah daerah dan pemerintah pusat.</p>



<p>&#8220;Kami awalnya mengikuti Proklim untuk menambah pengalaman. Tetapi alhamdulillah, kami berhasil mendapat penghargaan ini. Ini adalah hasil kerja keras dan gotong royong seluruh masyarakat Desa Sumberwuluh,&#8221; katanya, Senin (12/08/2024) tadi.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Cak Sul-panggilan akrab Samsul Arifin, juga menekankan bahwa keberhasilan ini merupakan buah dari kerja sama dan semangat kolektif masyarakat desa dalam berbagai aktivitas lingkungan. Salah satunya, seperti kegiatan penanaman pohon, pengelolaan sampah berbasis komunitas serta pemanfaatan energi terbarukan. Semuanya bertujuan menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan berkelanjutan.</p>



<p>&#8220;Saya merasa terhormat, dapat mewakili masyarakat Desa Sumberwuluh dalam menerima penghargaan ini. Selain itu, kesempatan ini juga memperluas jaringan kami dengan pelaku lingkungan di seluruh Indonesia,&#8221; katanya.</p>



<p>Dirinya berharap, penghargaan tersebut bisa memotivasi desa-desa lain untuk berinovasi dan aktif dalam melestarikan lingkungan. Acara penganugerahan tersebut dihadiri oleh pejabat tinggi negara, organisasi lingkungan dan perwakilan desa-desa partisipan Program Kampung Iklim.</p>



<p>Dengan diraihnya Tropi Proklim Utama ini, Desa Sumberwuluh tidak hanya menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan. Tetapi juga, menjadi contoh inspiratif bagi desa-desa lain dalam mengimplementasikan program-program lingkungan yang berdampak positif. Keberhasilan tersebut, tentunya membuktikan bahwa dengan komitmen dan kerja keras, masyarakat dapat memainkan peran penting dalam menghadapi perubahan iklim dan menjaga bumi tetap hijau dan sehat. <strong>(kom/adi/gie)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">212881</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Perpusnas RI Usung Naskah Kuno Banyuwangi Jadi Ingatan Kolektif Nasional 2024</title>
		<link>https://memontum.com/perpusnas-ri-usung-naskah-kuno-banyuwangi-jadi-ingatan-kolektif-nasional-2024</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 May 2024 08:05:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Banyuwangi]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[ingatan]]></category>
		<category><![CDATA[kolektif]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[naskah]]></category>
		<category><![CDATA[perpusnas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=209207</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Banyuwangi &#8211; Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI mengusung naskah kuno dari Kabupaten Banyuwangi untuk menjadi Ingatan Kolektif Nasional (Ikon) 2024. Ini dilakukan, untuk memperteguh identitas keindonesiaan yang tak bisa terlepas dari dokumentasi masa silam. Hal ini terungkap, pada acara sosialisasi &#8216;Pengarusutamaan Naskah Nusantara Ingatan Kolektif Nasional (Ikon)&#8217; yang berlangsung di salah satu hotel di Banyuwangi, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Banyuwangi</strong> &#8211; Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI mengusung naskah kuno dari Kabupaten Banyuwangi untuk menjadi Ingatan Kolektif Nasional (Ikon) 2024. Ini dilakukan, untuk memperteguh identitas keindonesiaan yang tak bisa terlepas dari dokumentasi masa silam.</p>



<p>Hal ini terungkap, pada acara sosialisasi &#8216;Pengarusutamaan Naskah Nusantara Ingatan Kolektif Nasional (Ikon)&#8217; yang berlangsung di salah satu hotel di Banyuwangi, Selasa (07/05/2024) tadi. Acara tersebut, dibuka oleh Kepala Pusat Jasa Informasi Perpustakaan dan Pengelolaan Naskah Nusantara, Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI, Agus Sutoyo.</p>



<p>“Pada kegiatan ini para narasumber dan pakar akan berdiskusi dan menelaah lebih dalam mana naskah kuno Banyuwangi yang akan dimasukkan dalam Ikon,” kata Agus Sutoyo, saat memberikan sambutan.</p>



<p>Banyuwangi sendiri, merupakan satu-satunya kabupaten yang mendapat Program Ikon dari Perpusnas. Lima daerah lainnya bertaraf provinsi. Yakni, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan.</p>



<p>“Banyuwangi terpilih dalam Ikon salah satunya karena memiliki tradisi naskah kuno yang berakar dari tradisi setempat. Memiliki ekosistem yang baik ditandai dengan banyaknya komunitas, aktivitas dan perhatian masyarakat pada naskah kuno, juga mendapat dukungan dari pemerintah daerah. Selain itu, juga memilki naskah unggulan yang dapat diarus utamakan pada tingkat nasional,” imbuhnya.</p>



<p>Perlu diketahui, bahwa Ikon merupakan salah satu program Perpusnas yang bekerja sama dengan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa). Yakni untuk mencatat naskah kuno secara nasional yang memiliki nilai penting bagi peradaban bangsa Indonesia. Naskah kuno yang telah ditetapkan sebagai Ikon akan diproyeksikan untuk diusulkan menjadi Memory of the World (MoW), UNESCO.</p>



<p>Sementara itu, melalui sambungan video conference, Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menyampaikan terima kasih karena Perpusnas telah memasukkan naskah kuno Banyuwangi sebagai salah satu budaya bernilai penting bagi kebudayaan nasional, sejarah dan ilmu pengetahuan melalui Ikon.</p>



<p>“Kami berterima kasih atas program dari Perpusnas ini. Hal ini menjadi ikhtiar penting bagi Banyuwangi untuk memperkuat identitas dan budaya berbasis kekayaan masa silam,” ungkap Bupati Ipuk.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Selama ini, lanjut Bupati Ipuk, Banyuwangi memberikan perhatian terhadap upaya pelestarian naskah kuno dan praktik-praktik kebudayaan yang mengitarinya. “Melalui Perpustakaan Daerah, kami telah melakukan pendataan, katalogisasi dan penerjemahan naskah-naskah kuno yang ditemukan di Banyuwangi,” terangnya.</p>



<p>Setidaknya, sudah ada enam buku berbasis naskah kuno Banyuwangi yang diterbitkan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuwangi. Diantaranya, Lontar Sri Tanjung, Lontar Hadis Dagang, Katalog Naskah Kuno Banyuwangi (edisi I), Lontar Juwarsah, Katalog Naskah Kuno Banyuwangi (edisi II) dan Candra Jagat. Untuk tahun 2024 ini akan menerbitkan edisi transliterasi dan terjemahan Lontar Yusup Murub Muncar.</p>



<p>“Buku-buku tersebut bisa dibaca langsung di perpustakaan daerah atau bisa diakses di Website Perpusda langsung,” terang Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Banyuwangi, Zen Kostolani.</p>



<p>Selain upaya pelestarian pada naskahnya, di Banyuwangi juga dilakukan penyelematan terhadap tradisi yang mengikutinya. Seperti halnya masih kuatnya tradisi dan ritual pelantunan tembang berbasis naskah kuno yang dikenal dengan mocoan (Osing) dan mamaca (Madura).</p>



<p>Hal tersebut sebagaimana diakui oleh Wiwin Indiarti, peneliti naskah kuno Banyuwangi dari Universitas PGRI Banyuwangi. Tradisi living manuscript di Banyuwangi masih terus dilestarikan. Diantaranya dalam cara membaca dan menembangkannya.</p>



<p>“Bahkan, saat ini mulai bermunculan generasi muda yang belajar mocoan yang merupakan bagian tak terpisahkan dalam living manuscript. Seperti halnya komunitas Mocoan Lontar Yusup Milenial,” paparnya.</p>



<p>Selain itu, keberadaan naskah-naskah kuno di Banyuwangi juga tidak bisa lepas dari tradisi pesantren yang menjadi bagian penting dalam mengintegrasikan Islam dan kebudayaan di daerah ini. Menurut Ayung Notonegoro dari Komunitas Pegon, pesantren-pesantren di Banyuwangi juga banyak menyimpan naskah kuno.</p>



<p>“Tidak semata naskah keagamaan, tapi juga naskah-naskah lainnya, seperti sastra dan sejarah. Di Komunitas Pegon sendiri tak kurang ada 50 naskah kuno yang berasal dari sejumlah pesantren di Banyuwangi,” terang Ayung. <strong>(kom/gie)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">209207</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
