<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Komodo &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/komodo/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Thu, 24 Oct 2024 13:19:30 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Komodo &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>KSOP Kelas III Labuan Bajo Imbau Pelaku Wisata dan Kapal Waspada saat Berlayar di Perairan Komodo</title>
		<link>https://memontum.com/ksop-kelas-iii-labuan-bajo-imbau-pelaku-wisata-dan-kapal-waspada-saat-berlayar-di-perairan-komodo</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 24 Oct 2024 12:30:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[berlayar]]></category>
		<category><![CDATA[Komodo]]></category>
		<category><![CDATA[labuan]]></category>
		<category><![CDATA[pelaku]]></category>
		<category><![CDATA[perairan]]></category>
		<category><![CDATA[Waspada]]></category>
		<category><![CDATA[wisata]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=215817</guid>

					<description><![CDATA[Memontum NTT &#8211; Antisipasi potensi gelombang tinggi dan angin kencang, pelaku wisata dan kapal lain yang berlayar di perairan Taman Nasional Komodo (TNK), diimbau waspada dan mengikuti perkembangan prakiraan cuaca terkini melalui laman resmi BMKG maupun media sosial resmi KSOP Kelas III Labuan Bajo. Himbauan tersebut, disampaikan langsung oleh Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum NTT</strong> &#8211; Antisipasi potensi gelombang tinggi dan angin kencang, pelaku wisata dan kapal lain yang berlayar di perairan Taman Nasional Komodo (TNK), diimbau waspada dan mengikuti perkembangan prakiraan cuaca terkini melalui laman resmi BMKG maupun media sosial resmi KSOP Kelas III Labuan Bajo. Himbauan tersebut, disampaikan langsung oleh Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Labuan Bajo, Kamis (24/10/2024) tadi.</p>



<p>&#8220;Berdasarkan prakiraan cuaca BMKG ada fenomena alam yaitu angin kencang selama satu minggu ke depan ini,&#8221; kata Kepala KSOP Kelas III Labuan Bajo, Stephanus Risdiyanto di Labuan Bajo.</p>



<p>Pemberitahuan kepada para nakhoda kapal dan nelayan itu, telah disampaikan juga melalui Notice to Mariners (NtM) atau pemberitahuan kepada nakhoda kapal yang dikeluarkan pada 21 Oktober 2024. Dalam surat tersebut disebut gelombang tinggi dan angin kencang akan terjadi selama 8 hari yakni pada 22-29 Oktober 2024.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Untuk itu, nakhoda juga diimbau menghindari perairan sekitar Pulau Kelor dan selatan Pulau Padar karena berpotensi gelombang tinggi dan angin kencang. &#8220;Contohnya angin pada 22 hingga 27 Oktober nanti, Kapal Pinisi jangan kembangkan layar, karena potensi angin tinggi. Hanya pola angin itu belum sepenuhnya Musim Barat karena masih terjadi dalam waktu yang penting antara 1 hingga 2 jam saja sehingga KSOP tidak perlu menutup pelayaran secara keseluruhan,&#8221; katanya.</p>



<p>Para nakhoda diminta harus bisa waspada dan menyikapi adanya potensi gelombang tinggi. &#8220;Jangan memaksakan berlayar kalau ada arus atau gelombang tinggi, berlindung dulu. Karena periode untuk angin kencang tidak lama, itu yang saya harapkan,&#8221; katanya. <strong>(ant/gie)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">215817</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Punya 142 Komodo, KBS akan Kembangbiakkan Sendiri</title>
		<link>https://memontum.com/punya-142-komodo-kbs-akan-kembangbiakkan-sendiri</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 05 Mar 2019 13:19:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[Kebun Binatang Surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[Komodo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=80363</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Surabaya &#8211; Kebun Binatang Surabaya (KBS) kini mengalami peningkatan populasi Komodo hingga 100 persen, di tahun 2019 ini. Ini tak luput dari suksesnya breeding komodo yang dalam satu musim kawin, tujuh induk komodo menetaskan 74 telur dari 114 telur setelah hasil inkubasi disiplin selama 6 sampai 7 bulan sejak 2018 lalu. &#8220;Tahun ini KBS [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memontum Surabaya</strong> &#8211; Kebun Binatang Surabaya (KBS) kini mengalami peningkatan populasi Komodo hingga 100 persen, di tahun 2019 ini. Ini tak luput dari suksesnya breeding komodo yang dalam satu musim kawin, tujuh induk komodo menetaskan 74 telur dari 114 telur setelah hasil inkubasi disiplin selama 6 sampai 7 bulan sejak 2018 lalu.</p>
<p>&#8220;Tahun ini KBS berhasil meningkatkan populasi komodo, dan pencapaian sebanyak ini baru terjadi di Indonesia. Karena biasanya Komodo menetas rata-rata hanya 15 sampai 20 ekor saja,&#8221; kata Direktur Utama Perusahaan Daerah Taman Satwa (PDTS) KBS, Chairul Anwar saat diwawancarai soal kelahiran komodo, Selasa (5/3).</p>
<p><a href="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2019/03/IMG_8955-copy.jpg?ssl=1"><img decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-80366" src="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2019/03/IMG_8955-copy.jpg?resize=650%2C366&#038;ssl=1" alt="" width="650" height="366" srcset="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2019/03/IMG_8955-copy.jpg?w=650&amp;ssl=1 650w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2019/03/IMG_8955-copy.jpg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2019/03/IMG_8955-copy.jpg?resize=600%2C338&amp;ssl=1 600w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2019/03/IMG_8955-copy.jpg?resize=200%2C113&amp;ssl=1 200w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2019/03/IMG_8955-copy.jpg?resize=120%2C69&amp;ssl=1 120w" sizes="(max-width: 650px) 100vw, 650px" data-recalc-dims="1" /></a></p>
<p>Chairul menjelaskan proses inkubasi pun melalui tahap yang cukup rumit, karena keeper secara intensif melakukan pengamatan selama 24 jam untuk mengamati Komodo yang akan bertelur. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah rusaknya telur oleh gangguan komodo lain.</p>
<p>&#8220;Karena jika ada telur yang rusak, kami harus segera mengambilnya dari inkubator untuk mencegah kerusakan telur yang lain,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Dari 74 ekor anak komodo yang berasal dari 7 induk komodo nantinya akan dipelihara di kompleks komodo KBS. Dan tetap dikembangbiakkan di lingkungan sendiri.</p>
<p>&#8220;Pertukaran jenis komodo tidak mudah kita lakukan, karena dilindungi UU Perlindungan Satwa. Segala bentuk tukar-menukar satwa purba jenis reptil harus melalui izin presiden,&#8221; jelas Anwar.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">80363</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
