<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Larung &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/larung/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Sun, 29 Jun 2025 09:41:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Larung &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Ritual Larung Saji di Kondang Merak, Tradisi Simbol Penghormatan untuk Laut dan Sang Pencipta</title>
		<link>https://memontum.com/ritual-larung-saji-di-kondang-merak-tradisi-simbol-penghormatan-untuk-laut-dan-sang-pencipta</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Jun 2025 08:40:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar Desa]]></category>
		<category><![CDATA[Kabupaten Malang]]></category>
		<category><![CDATA[kondang]]></category>
		<category><![CDATA[Larung]]></category>
		<category><![CDATA[merak,]]></category>
		<category><![CDATA[pencipta]]></category>
		<category><![CDATA[penghormatan]]></category>
		<category><![CDATA[Ritual]]></category>
		<category><![CDATA[simbol]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=223447</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Malang &#8211; Bertepatan dengan 1 Suro 1447 H, para nelayan dan warga Desa Sumber Bening, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, menggelar ritual Larung Saji di Pantai Kondang Merak, Sabtu (28/06/2025) tadi. Gelaran ini dilakukan, sebagai ungkapan syukur dan doa keselamatan dalam menjalani kehidupan laut yang penuh tantangan. Meski langit mendung dan ombak bergulung hebat sejak [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Malang</strong> &#8211; Bertepatan dengan 1 Suro 1447 H, para nelayan dan warga Desa Sumber Bening, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, menggelar ritual Larung Saji di Pantai Kondang Merak, Sabtu (28/06/2025) tadi. Gelaran ini dilakukan, sebagai ungkapan syukur dan doa keselamatan dalam menjalani kehidupan laut yang penuh tantangan.</p>



<p>Meski langit mendung dan ombak bergulung hebat sejak dini hari, namun prosesi ritual tetap berjalan dengan lancar. Cuaca yang tak bersahabat, menurut nelayan justru menegaskan keteguhan hati warga, bahwa momen ini lebih dari sekadar tradisi.</p>



<p>Rangkaian tradisi sendiri, diawali dengan pembacaan khataman Al-Quran dan makan bersama di Balai Nelayan, tempat para warga berkumpul dalam suasana kebersamaan. Doa-doa dipanjatkan oleh sesepuh nelayan, memohon perlindungan dan limpahan rezeki.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Prosesi pun, berlanjut dengan arak-arakan menuju laut, membawa sesaji berisi hasil bumi dan makanan tradisional untuk dilarungkan sebagai simbol penghormatan kepada laut dan Sang Pencipta. &#8220;Semua itu berkah,&#8221; ujar Ketua Nelayan Bina Karya Mina Kondang Merak, Aral Subagyo.</p>



<p>Diketahui, bahwa Larung Saji merupakan warisan budaya masyarakat pesisir Jawa yang telah hidup turun-temurun. Istilah larung bermakna menghanyutkan, sedangkan saji berarti persembahan.</p>



<p>Di banyak wilayah Pantai Selatan Jawa, tradisi ini menjadi jembatan spiritual antara nelayan dan lautan yang menjadi sumber hidup mereka. Selain doa dan syukur, Larung Saji juga memperkuat ikatan sosial antar warga dan menyemai kebanggaan atas warisan leluhur.</p>



<p>Hadir dalam prosesi ini, perangkat Desa Sumber Bening, LMDH Wonoraharjo, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta NGO Sahabat Alam Indonesia yang turut menyaksikan kekuatan budaya lokal dalam menjaga harmoni antara manusia dan alam. <strong>(had/gie)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">223447</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Nyadran Dam Bagong, Bupati Arifin Larung Kepala Kerbau Suryo Maeso Tunggo</title>
		<link>https://memontum.com/nyadran-dam-bagong-bupati-arifin-larung-kepala-kerbau-suryo-maeso-tunggo</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 07 Jun 2024 04:50:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar Desa]]></category>
		<category><![CDATA[Trenggalek]]></category>
		<category><![CDATA[arifin]]></category>
		<category><![CDATA[bagong,]]></category>
		<category><![CDATA[bupati]]></category>
		<category><![CDATA[kepala]]></category>
		<category><![CDATA[kerbau]]></category>
		<category><![CDATA[Larung]]></category>
		<category><![CDATA[Nyadran]]></category>
		<category><![CDATA[tunggo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=210366</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Trenggalek &#8211; Usai dikirab dari Desa Kerjo menuju Pendopo Manggala Praja Nugraha dan kemudian diserahkan kepada warga Kelurahan Ngantru untuk disembelih, kerbau yang disedekahkan dalam tradisi Nyadran Dam Bagong dilarung. Tradisi Nyadran Dam Bagong ini, adalah tradisi pelemparan tumbal kepala kerbau. Tradisi ini dilakukan, untuk mengenang seorang ulama yang menyiarkan agama Islam di Trenggalek, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Trenggalek</strong> &#8211; Usai dikirab dari Desa Kerjo menuju Pendopo Manggala Praja Nugraha dan kemudian diserahkan kepada warga Kelurahan Ngantru untuk disembelih, kerbau yang disedekahkan dalam tradisi Nyadran Dam Bagong dilarung. Tradisi Nyadran Dam Bagong ini, adalah tradisi pelemparan tumbal kepala kerbau.</p>



<p>Tradisi ini dilakukan, untuk mengenang seorang ulama yang menyiarkan agama Islam di Trenggalek, yaitu Adipati Menak Sopal. Dimana kala itu, berperan penting terhadap kehidupan warga Trenggalek pada masa itu, khususnya wilayah Dam Bagong. Adipati Menak juga membangun pengairan sawah masyarakat di kawasan itu.</p>



<p>Bupati Trenggalek, Mochammad Nur Arifin, dalam prosesi itu berkesempatan langsung melarung kepala, berikut kaki dan kulit Kerbau Bule yang dinamakan warga setempat Suryo Maeso Tunggo ke dalam Dam Bagong. Sudah menjadi sebuah tradisi turun temurun, bahwa kepala, kaki dan kulit kerbau ini dilarung&nbsp; kemudian diperebutkan warga.</p>



<p>&#8220;Terima kasih seluruh masyarakat Ngantru dan Masyarakat Desa Kerjo, serta masyarakat yang juga menerima manfaat aliran Sungai Dam Bagong. Terima kasih ini bentuk syukur. Kerbaunya memilih yang terbaik, jadi syukurnya betul-betul syukur,&#8221; kata Bupati Arifin, Jumat (07/06/2024) tadi.</p>



<p>Tradisi Nyadran Dam Bagong ini, diperingati setiap hari Jumat Kliwon Bulan Selo atau Bulan Zulkaidah dalam kalender Hijriah. Ritualnya diawali dengan tahlilan di samping makam Adipati Menak Sopal.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Kemudian, dilanjutkan dengan ziarah makam yang diikuti oleh tokoh masyarakat dan warga. Sementara itu, di halaman sekitar komplek pemakaman disajikan hiburan tarian jaranan yang diikuti musik gamelan.</p>



<p>Puncaknya, adalah pelemparan tumbal kepala kerbau ke dasar Dam Bagong. Kemudian, acara pun dilanjutkan dengan pagelaran wayang kulit.</p>



<p>&#8220;Ini bertujuan untuk tolak bala serta ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT, atas keberhasilan pembangunan Dam Bagong yang sangat besar manfaatnya. Selain itu, tradisi ini dilakukan sebagai ungkapan terima kasih kepada Adipati Menak Sopal karena telah membangun Dam Bagong,&#8221; terangnya.</p>



<p>Adapun makna khusus yang terkandung dalam Tradisi Nyadran Dam Bagong ini, yakni bergotong-royong. Dimana, ini tidak terlihat perbedaan antara warga yang berkecukupan dengan warga yang kurang mampu.</p>



<p>Masyarakat sangat kompak pada saat menyiapkan kebutuhan dan perlengkapan yang digunakan saat peringatan upacara Tradisi Nyadran Dam Bagong. &#8220;Semoga bentuk gotong royong dan kekompakan antar warga ini bisa saling kuat. Juga, sedekah ini nantinya akan digantikan rizqi yang melimpah. Dan, segera diberikan hujan yang juga bisa menjadi berkah bagi para petani kita di Trenggalek,&#8221; harap Mas Ipin-sapaan akrabnya. <strong>(mil/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">210366</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Mengintip Cerita Dibalik Upacara Adat Labuh Laut Larung Sembonyo di Pantai Prigi Trenggalek</title>
		<link>https://memontum.com/mengintip-cerita-dibalik-upacara-adat-labuh-laut-larung-sembonyo-di-pantai-prigi-trenggalek</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 May 2024 07:30:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar Desa]]></category>
		<category><![CDATA[Trenggalek]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[dibalik]]></category>
		<category><![CDATA[Larung]]></category>
		<category><![CDATA[mengintip]]></category>
		<category><![CDATA[Pantai]]></category>
		<category><![CDATA[sembonyo]]></category>
		<category><![CDATA[upacara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=209656</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Trenggalek &#8211; Labuh Laut Larung Sembonyo, sebuah tradisi yang selalu dilestarikan dan diperingati oleh nelayan di Pantai Prigi, Desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek. Menjadi salah satu kalender wisata, gelaran Sembonyo tentunya menjadi daya tarik kunjungan wisata di Kabupaten Trenggalek. Sembonyo sendiri, merupakan sesajen dan patung manten serta tumpeng agung yang nantinya akan dilarung [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Trenggalek</strong> &#8211; Labuh Laut Larung Sembonyo, sebuah tradisi yang selalu dilestarikan dan diperingati oleh nelayan di Pantai Prigi, Desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek. Menjadi salah satu kalender wisata, gelaran Sembonyo tentunya menjadi daya tarik kunjungan wisata di Kabupaten Trenggalek.</p>



<p>Sembonyo sendiri, merupakan sesajen dan patung manten serta tumpeng agung yang nantinya akan dilarung di tengah laut menggunakan kapal nelayan. Upacara adat ini, merupakan simbol rasa syukur para nelayan atas hasil tangkapan yang melimpah serta harapan keselamatan saat melaut.</p>



<p>Menurut salah satu tokoh masyarakat di Watulimo, Suparlan, upacara adat ini berdasarkan cerita rakyat yang sudah turun temurun sejak dulu. &#8220;Menurut cerita turun temurun, upacara adat ini merupakan kisah perkawinan antara Raden Tumenggung Yudho Negoro dalam rangka membuka wilayah di Prigi. Ada sarana yang harus dijalani dengan menikahi Putri Gambar Inten, putri di Tengahan,&#8221; ucapnya, dalam prosesi Labuh Laut Larung Sembonyo, Selasa (21/05/2024) tadi.</p>



<p>Dijelaskan Suparlan, jatuhlah pernikahan keduanya pada hari Senin Kliwon pada penanggalan Jawa. Raden Tumenggung meminta agar setiap tahunnya diperingati dengan acara Labuh Laut Larung Sembonyo. &#8220;Makanya, upacara adat ini selalu diperingati setiap Senin Kliwon Bulan Selo dalam setiap tahunnya,&#8221; tegas Suparlan.</p>



<p>Ketika itu, juga meminta hiburannya Langgam Tayub dan Jaranan. Jadi Tayub dan Jaranan ini menjadi salah satu cerita dalam kegiatan Labuh Laut Larung Sembonyo ini. &#8220;Kegiatan Labuh Laut Larung Sembonyo ini lebih kepada wujud syukur para nelayan atas rejeki tangkapan yang melimpah dan doa harapan tidak ada musibah, kecelakaan dan bencana lainnya. Nelayan sehat, nelayan selamat dengan tangkapan melimpah sehingga dapat meningkatkan perekonomian nelayan dan masyarakat serta meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Trenggalek,&#8221; jelasnya.</p>



<p>Hadir dan menjadi bagian dalam kegiatan Labuh Laut Larung Sembonyo 2024, Bupati Trenggalek, Mochammad Nur Arifin. Dirinya menyampaikan rasa syukur atas budaya luhur yang masih dan akan selalu dilestarikan ini. &#8220;Mari bersyukur, karena masih diberi kesehatan, kesadaran melestarikan budaya leluhur. Semoga kita senantiasa diberikan kesehatan kelancaran sampai sekarang,&#8221; ujarnya.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Mas Ipin-sapaan akrabnya juga mengajak masyarakat yang hadir dalam kegiatan Sembonyo ini, untuk mengirim doa kepada nelayan yang menjadi korban laka laut dan sampai sekarang belum diketemukan. Dirinya berdoa, agar keluarga yang ditinggalkan diangkat derajatnya. Perlu diketahui, ada delapan orang nelayan Teluk Prigi yang menjadi korban Laka laut tahun 2023 kemarin yang sampai sekarang belum diketemukan jasadnya.</p>



<p>Bupati Trenggalek itu juga mengingatkan, bahwa banyak ahli yang menyatakan bumi sedang tidak baik-baik saja. Cuaca semakin tidak menentu (terjadi krisis iklim). Semakin sulit nelayan menangkap ikan dan tangkapan semakin jauh. Ini diharapkan mejadi refleksi bagi nelayan untuk mau menjaga alam. Dengan hidup berdampingan dengan alam dipercaya kepala daerah muda itu, bahwa alam akan memberikan rejeki.</p>



<p>&#8220;Laut ini adalah lahan rejeki, wadah makan kita jangan kotori dengan sampah. Masak kita mau makan dengan sampah. Jagalah alam ini dengan tidak membuang sampah sembarangan. Kemudian tidak melakukan pembalakan liar, menebang pohon sembarangan. Dengan begitu alam akan lebih terjaga,&#8221; ujar suami Novita Hardiny ini.</p>



<p>Bupati Arifin juga menyinggung soal infrastruktur yang semakin baik di sekitar Prigi. Jalur Lintas Selatan (JLS) sudah tersambung dengan Tulungagung, diharapkan masyarakat bisa menangkap momentum ini dengan baik, sehingga berdampak ekonomi kepada masyarakat.</p>



<p>&#8220;Dalam kesempatan yang berbahagia ini, saya berpamitan dengan masyarakat di Teluk Prigi karena pada 7-8 Juni 2024 nanti Kabupaten Trenggalek menjadi tuan rumah ajang Putri Otonomi Indonesia. Akan ada tamu dari berbagai daerah, di penjuru tanah air, bahkan luar negeri di Teluk Prigi dalam ajang ini. Tentunya, ini momentum langka yang diharapkan bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh warga Trenggalek,&#8221; tambahnya. <strong>(mil/gie)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">209656</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kemeriahan Ritual Bersih Desa dan Larung Sesaji di Pantai Lenggoksono Curi Perhatian Wisatawan Mancanegara</title>
		<link>https://memontum.com/kemeriahan-ritual-bersih-desa-dan-larung-sesaji-di-pantai-lenggoksono-curi-perhatian-wisatawan-mancanegara</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 04 Aug 2023 11:44:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar Desa]]></category>
		<category><![CDATA[Kabupaten Malang]]></category>
		<category><![CDATA[bersih]]></category>
		<category><![CDATA[kemeriahan]]></category>
		<category><![CDATA[Larung]]></category>
		<category><![CDATA[Lenggoksono]]></category>
		<category><![CDATA[Mancanegara]]></category>
		<category><![CDATA[Pantai]]></category>
		<category><![CDATA[perhatian]]></category>
		<category><![CDATA[Ritual]]></category>
		<category><![CDATA[sesaji]]></category>
		<category><![CDATA[Wisatawan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=194946</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Malang &#8211; Pemerintah desa (Pemdes) dan masyarakat Desa Wisata Bowele Purwodadi, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang, mengadakan Ritual Bersih Desa dan Larung Sesaji di Pantai Lenggoksono. Prosesi itu, sedikitnya diikuti sekitar 8 ribu masyarakat yang turt menyaksikan berjalannya ritual. Ketua Pokdarwis Desa Wisata Bowele Purwodadi, Mukhlis, mengatakan kegiatan ini untuk mohon keselamatan, berkah, rahmat Allah [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong><a href="http://memontum.com" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Memontum</a> Malang</strong> &#8211; Pemerintah desa (Pemdes) dan masyarakat Desa Wisata Bowele Purwodadi, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang, mengadakan Ritual Bersih Desa dan Larung Sesaji di Pantai Lenggoksono. </p>



<p>Prosesi itu, sedikitnya diikuti sekitar 8 ribu masyarakat yang turt menyaksikan berjalannya ritual.</p>



<p>Ketua Pokdarwis Desa Wisata Bowele Purwodadi, Mukhlis, mengatakan kegiatan ini untuk mohon keselamatan, berkah, rahmat Allah SWT atas limpahan hasil bumi. Termasuk, kesehatan warga dan karunia lainnya selama ini.</p>



<p>&#8220;Alhamdulillah bahwa ini sebagai refleksi rasa syukur kami mengadakan bersih desa dan larungan,&#8221; ujar Mukhlis, Jumat (04/08/2023) tadi.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>


<ul class="wp-block-latest-posts__list wp-block-latest-posts"><li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/pemkot-malang-rencanakan-bangun-skywalk-di-dua-lokasi-dari-dana-bank-dunia">Pemkot Malang Rencanakan Bangun Skywalk di Dua Lokasi dari Dana Bank Dunia</a></li>
<li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/objek-wisata-banyuwangi-2026-perkuat-seni-dan-budaya-masyarakat">Objek Wisata Banyuwangi 2026 Perkuat Seni dan Budaya Masyarakat</a></li>
<li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/cara-unik-umkm-malang-kenalkan-gamis-bordir-gandeng-petugas-kebersihan-jadi-model-ramadan">Cara Unik UMKM Malang Kenalkan Gamis Bordir, Gandeng Petugas Kebersihan Jadi Model Ramadan</a></li>
<li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/kecamatan-lumbang-dan-potensi-produksi-madu-yang-dihasilkan">Kecamatan Lumbang dan Potensi Produksi Madu yang Dihasilkan</a></li>
<li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/antisipasi-pewarna-makanan-berlebih-wali-kota-malang-siapkan-tes-sampel-di-pasar-takjil">Antisipasi Pewarna Makanan Berlebih, Wali Kota Malang Siapkan Tes Sampel di Pasar Takjil</a></li>
</ul>


<p>Event yang penuh dengan nilai kearifan budaya lokal ini, tambahnya, sudah ke-41 kalinya diadakan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. Adapun kegiatan yang dilakukan, diantaranya di hari pertama, istigosah yang dikemas juga ada jaranan. Hari kedua, istighotsah dan atraksi pencak silat.</p>



<p>&#8220;Harapannya, dengan kegiatan ini semakin banyak karunia rejeki, warga sehat selamanya, serta dihindarkan dari berbagai bencana,&#8221; ujarnya.</p>



<p>Acara yang digelar sangat apik ini, pun menyita perhatian wisatawan dari mancanegara. Diantaranya, Matthias dan Vanessa, asal Jerman. Keduanya tampak antusias melihat berjalannya kegiatan ini. Bahkan, keduanya juga sesekali mengabadikan moment-moment inspiratif di Pantai Lenggoksono. <strong>(gie)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">194946</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Larung Kepala Kerbau di Dam Bagong, Ini Kata Bupati Trenggalek</title>
		<link>https://memontum.com/larung-kepala-kerbau-di-dam-bagong-ini-kata-bupati-trenggalek</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 16 Jun 2023 09:05:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pemerintahan]]></category>
		<category><![CDATA[Trenggalek]]></category>
		<category><![CDATA[bagong,]]></category>
		<category><![CDATA[bupati]]></category>
		<category><![CDATA[DAM]]></category>
		<category><![CDATA[di]]></category>
		<category><![CDATA[ini]]></category>
		<category><![CDATA[kata]]></category>
		<category><![CDATA[kepala]]></category>
		<category><![CDATA[kerbau]]></category>
		<category><![CDATA[Larung]]></category>
		<category><![CDATA[pemerintahan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=191119</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Trenggalek &#8211; Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, melarung kepala, kaki dan kulit kerbau dalam upacara adat Bersih Dam Bagong atau sering disebut Nyadran Dam Bagong. Disaksikan ribuan masyarakat dan juga tokoh agama, kegiatan yang rutin digelar tahunan ini berlangsung sakral. Kegiatan ini, merupakan upacara adat yang rutin dan senantiasa dilestarikan oleh masyarakat setempat. Semangatnya [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Trenggalek</strong> &#8211; Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, melarung kepala, kaki dan kulit kerbau dalam upacara adat Bersih Dam Bagong atau sering disebut Nyadran Dam Bagong. Disaksikan ribuan masyarakat dan juga tokoh agama, kegiatan yang rutin digelar tahunan ini berlangsung sakral.</p>



<p>Kegiatan ini, merupakan upacara adat yang rutin dan senantiasa dilestarikan oleh masyarakat setempat. Semangatnya adalah bersedekah, dengan harapan mendapatkan berkah Allah SWT.</p>



<p>Nyadran Dam Bagong sendiri, merupakan bentuk penghormatan masyarakat atas perjuangan Ki Ageng Menak Sopal yang telah berjasa membawa kemakmuran masyarakat setelah membangun Dam Bagong. Lebih-lebih Dam ini, diyakini selain sebagai sumber pengairan pertanian juga dapat menampung air ketika musim kemarau dan mampu mengendalikan banjir ketika musim penghujan.</p>



<p>&#8220;Ini prosesi nyadran sudah dilaksanakan. Semoga sedekahnya seluruh warga Desa Ngantru dan sedekahnya seluruh warga Desa Kerjo nanti dibalas oleh Allah dengan rejeki yang melimpah,&#8221; kata Bupati Arifin, Jumat (16/06/2023) siang.</p>



<p>Dijelaskan suami Novita Hardiny ini, kepala kerbau sebenarnya simbol kehormatan dan kepercayaan. &#8220;Jadi kalau membangun atau kita katakanlah sebagai pelayanan masyarakat, kepercayaan itu adalah segala-galanya,&#8221; imbuhnya.</p>



<p>Dapat diartikan, ujarnya, kepala ini adalah performa Pemerintah Daerah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Kerbau juga melambangkan makhluk Tuhan yang biasa bekerja keras. Maka kepercayaan dan kerja keras itu yang akan menghantarkan kepada kesuksesan.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Jika ada yang mengira, kepala kerbau itu dilarung maka akan mengapung di air dan bisa menyebabkan difteri, itu adalah salah besar. Kenyataannya, setelah dilemparkan ke dalam Dam Bagong, kepala kerbau beserta kaki dan kulitnya akan direbut lagi oleh masyarakat.</p>



<p>&#8220;Jadi tidak ada yang tertinggal di aliran sungai. Sebenarnya upacara adat ini adalah sedekah untuk masyarakat. Jadi dagingnya dimakan lagi oleh masyarakat,&#8221; tutur Mas Ipin-sapaan akrabnya.</p>



<p>Pihaknya juga akan meminta Dinas Pengairan untuk mengecek secara berkala, karena Dam ini tidak hanya mengaliri sawah yang ada di kota. Namun, juga mengaliri sampai ke Pogalan dan seterusnya.</p>



<p>Cita-cita besarnya Pemerintah saat ini adalah Proyek Strategis Nasional itu mereplikasi atau membesarkan Dam Bagong dengan Bendungan Bagong yang nanti ada di Sumurup. Ini perjuangan Menak Sopal jaman dulu dengan Menak Sopal jaman kini dan untuk Menak Sopal jaman kini adalah Pemerintah Daerah.</p>



<p>&#8220;Mari kita doakan pembangunan Bendungan Bagong yang saat ini dilaksanakan, masyarakat di sana juga yang mengikhlaskan bahwa kegiatan di sana bisa berjalan semoga diberi rizqi yang melimpah. Diberi kesabaran dan juga yang mengerjakan bisa tepat waktu dan semoga bisa segera termanfaatkan,&#8221; paparnya. <strong>(mil/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">191119</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Bupati Arifin Ikuti Tradisi Larung Kepala Kerbau di Dam Bagong Trenggalek</title>
		<link>https://memontum.com/bupati-arifin-ikuti-tradisi-larung-kepala-kerbau-di-dam-bagong-trenggalek</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 2]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Jun 2022 08:15:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pemerintahan]]></category>
		<category><![CDATA[Trenggalek]]></category>
		<category><![CDATA[Berita hari ini]]></category>
		<category><![CDATA[Bupati Arifin]]></category>
		<category><![CDATA[Larung]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=170126</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Trenggalek &#8211; Dalam rangka melestarikan Tradisi Nyadran (Larung, red) kepala kerbau, Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, mengikuti upacara adat bersih Dam Bagong. Upacara adat yang dikenal dengan Nyadran Dam Bagong, merupakan upacara adat yang rutin digelar setiap Bulan Selo (dalam penanggalan Jawa, red), guna memperingati jasa Adipati Menak Sopal, yang telah membangun dam ini. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Trenggalek</strong> &#8211; Dalam rangka melestarikan Tradisi Nyadran (Larung, red) kepala kerbau, Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, mengikuti upacara adat bersih Dam Bagong. Upacara adat yang dikenal dengan Nyadran Dam Bagong, merupakan upacara adat yang rutin digelar setiap Bulan Selo (dalam penanggalan Jawa, red), guna memperingati jasa Adipati Menak Sopal, yang telah membangun dam ini.</p>



<p>&#8220;Ini kegiatan rutin yang setiap tahun kita laksanakan. Semua desa, rata-rata punya kegiatan bersih desanya masing-masing. Dan di kawasan kota ini, kita punya kebiasaan Nyadran Dam Bagong,&#8221; terang Bupati Arifin saat dikonfirmasi, Jumat (03/06/2022) siang.</p>



<p>Tradisi ini, tambahnya, juga sebagai perwujudan rasa syukur atas jasa Adipati Menak Sopal, oleh petani yang telah dialiri Dam Bagong. Kemudian, petani menyedekahkan kerbau untuk disembelih.</p>



<p>Dengan adanya bangunan tersebut, ujarnya, Trenggalek yang dulunya rawa, menjadi areal pertanian yang produktif. Sedangkan bencana banjir dan kekeringan yang kala itu sering terjadi, dapat diredam.</p>



<p>Baca juga:</p>


<ul class="wp-block-latest-posts__list wp-block-latest-posts"><li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/pemkot-malang-rencanakan-bangun-skywalk-di-dua-lokasi-dari-dana-bank-dunia">Pemkot Malang Rencanakan Bangun Skywalk di Dua Lokasi dari Dana Bank Dunia</a></li>
<li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/objek-wisata-banyuwangi-2026-perkuat-seni-dan-budaya-masyarakat">Objek Wisata Banyuwangi 2026 Perkuat Seni dan Budaya Masyarakat</a></li>
<li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/cara-unik-umkm-malang-kenalkan-gamis-bordir-gandeng-petugas-kebersihan-jadi-model-ramadan">Cara Unik UMKM Malang Kenalkan Gamis Bordir, Gandeng Petugas Kebersihan Jadi Model Ramadan</a></li>
<li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/kecamatan-lumbang-dan-potensi-produksi-madu-yang-dihasilkan">Kecamatan Lumbang dan Potensi Produksi Madu yang Dihasilkan</a></li>
<li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/antisipasi-pewarna-makanan-berlebih-wali-kota-malang-siapkan-tes-sampel-di-pasar-takjil">Antisipasi Pewarna Makanan Berlebih, Wali Kota Malang Siapkan Tes Sampel di Pasar Takjil</a></li>
</ul>


<p>Kepala, kaki dan kulit Kerbau yang disembelih, kemudian di larung atau dilemparkan ke dalam aliran Dam Bagong. Sedangkan untuk dagingnya, dimasak dan kemudian dibagikan kepada warga masyarakat sekitar dan warga yang menyaksikan kegiatan ini.</p>



<p>&#8220;Kegiatan ini, mengingatkan perjuangan dari Kanjeng Adipati Menak Sopal, yang dahulu membangun Dam Bagong. Sehingga, bisa mengairi beberapa sawah sampai di Kecamatan Trenggalek, Pogalan dan beberapa tempat lainnya,&#8221; imbuhnya.</p>



<p>Jadi, lanjut suami Novita Hardiny ini, seluruh petani atau kelompok tani yang ada diseputaran Dam Bagong bersedekah dengan menyembelih kerbau. &#8220;Jadi, Nyadran ini sebenarnya bukan kemudian karena ada mistisnya atau apa-apa. Tetapi kita percaya kalau siapa yang bersyukur, itu nanti nikmatnya ditambah. Ini sedekahnya petani yang bersyukur karena Dam Bagong, selalu mengairi sawah mereka,&#8221; jelas Mas Ipin-sapaan akrabnya.</p>



<p>Dirinya berharap, tradisi semacam ini bisa tetap dilestarikan hingga anak cucu kelak. Dengan demikian, Nyadran Dam Bagong ini nantinya akan bisa dilaksanakan dari tahun ke tahun.</p>



<p>Adapun yang unik dari tradisi Nyadran Dam Bagong ini, yakni antusias warga yang tidak sedikitpun merasa takut menyelami dalamnya Dam bagong, untuk merebutkan kepala, kulit dan kaki Kerbau yang dilempar. Berebut kepala kerbau sendiri menjadi atraksi yang sangat menarik dan dinanti oleh para pengunjung. Ditambah, setelah kepala kerbau dan yang lainnya dilempar, kemudian masyarakat berlomba-lomba mengambilnya di kedalaman sungai.</p>



<p>&#8220;Ini menjadi atraksi yang menarik juga bisa menjadi daya tarik, dalam tanda kutib untuk pariwisata,&#8221; terang Bupati Arifin. <strong>(mil/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">170126</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Tradisi Turun Temurun, Labuh Larung Sembonyo Dilakukan di Pantai Karanggongso</title>
		<link>https://memontum.com/tradisi-turun-temurun-labuh-larung-sembonyo-dilakukan-di-pantai-karanggongso</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 29 Jul 2018 12:51:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Trenggalek]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Larung]]></category>
		<category><![CDATA[Pantai Karanggongso]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/49231-tradisi-turun-temurun-labuh-larung-sembonyo-dilakukan-di-pantai-karanggongso</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Trenggalek &#8211; Sebagai bentuk rasa syukur nelayan terhadap hasil tangkapan ikan yang melimpah dan permintaan keselamatan bagi nelayan Prigi saat melaut, masyarakat Desa Tasikmadu melakukan tradisi labuh larung sembonyo. Tradisi dan budaya yang dilestarikan masyarakat ini lahir dari mitos yang berkembang hingga diyakini oleh masyarakat di Pantai Karanggongso. Mitos ini menceritakan tentang awal dibukanya [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memontum Trenggalek</strong> &#8211; Sebagai bentuk rasa syukur nelayan terhadap hasil tangkapan ikan yang melimpah dan permintaan keselamatan bagi nelayan Prigi saat melaut, masyarakat Desa Tasikmadu melakukan tradisi labuh larung sembonyo. Tradisi dan budaya yang dilestarikan masyarakat ini lahir dari mitos yang berkembang hingga diyakini oleh masyarakat di Pantai Karanggongso.</p>
<p>Mitos ini menceritakan tentang awal dibukanya kawasan atau babad alas teluk Prigi yang menjadi cikal bakal atau asal usul adanya upacara Larung sembonyo ini. Masyarakat meyakini bahwa tradisi yang biasa dilakukan pada bulan Selo penanggalan jawa ini merupakan adat budaya yang harus dilestarikan.</p>
<p><img decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-49232" src="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2018/07/IMG-20180729-WA0110-copy-300x180.jpg?resize=300%2C180&#038;ssl=1" alt="" width="300" height="180" srcset="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2018/07/IMG-20180729-WA0110-copy.jpg?resize=300%2C180&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2018/07/IMG-20180729-WA0110-copy.jpg?w=500&amp;ssl=1 500w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" data-recalc-dims="1" /></p>
<p>Menanggapi tradisi ini, Ketua Panitia kegiatan mengatakan bahwa Upacara adat labuh larung Sembonyo ini dilakukan oleh masyarakat nelayan dan petani utamanya bagi nelayan yang menggantungkan hidupnya di Teluk Watulimo. Tak hanya itu, upacara adat ini dilakukan guna menghormati para leluhur yang telah membuka atau babad alas teluk ini, &#8221; ucap Tongky saat dikonfirmasi usai labuh larung sembonyo dilaksanakan, Minggu (29/7/2018).</p>
<p>Dikatakan Tongky, masyarakat menyakini jika upacara adat ini ditinggalkan, akan ada halangan seperti kesulitan menangkap ikan, gagal panen, wabah, bencana alam dan beberapa musibah lainnya.</p>
<p>Selain itu, upacara Labuh Larung Sembonyo ini sudah mulai tahun 1985 yang dilaksanakan secara besar &#8211; besaran setelah sebelumnya terhenti akibat situasi politik yang tidak memungkinkan.</p>
<p>&lt;!–nextpage–&gt;</p>
<p>&#8220;Peringatan Sembonyo saat ini sudah menjadi agenda tradisi budaya masyarakat Kabupaten Trenggalek yang rutin digelar. Pemerintah setempat juga ikut andil dalam terselenggaranya upacara adat nelayan di Pantai Karanggongso ini, &#8221; imbuhnya.</p>
<p>Upacara adat Labuh Larung Sembonyo ini dilaksanakan dibeberapa titik pantai di Desa Tasikmadu atau Karanggongso Kecamatan Watulimo. Salah satunya di Desa Tasikmadu, Prigi, Margomulyo, Karanggandu, dan Karanggongso.</p>
<p>Tongky juga menjelaskan ada beberapa sebutan untuk upacara adat ini, seperti sedekah laut, larung sembonyo, upacara adat sembonyo, mbucal sembonyo, dan bersih laut.</p>
<p>Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Trenggalek menuturkan proses pelarungan sembonyo dan berbagai srasrahan dan sesaji ini didorong dengan niat, harapan dan permohonan untuk mendapatkan keselamatan dan memperoleh hasil dari laut dan daratan yang melimpah.</p>
<p>&#8220;Karena labuh larung sembonyo ini merupakan aset budaya, maka Dinas Pariwisata dan Kebudayaan berupaya membantu semampunya agar proses ini bisa berjalan dengan lancar dan khidmat, tanpa mengurangi tradisi yang ada sebelumnya, &#8221; tutur Joko Irianto.</p>
<p>Perlu diketahui bahwa tahap &#8211; tahap upacara adat Larung Sembonyo dibagi menjadi dua tahap persiapan yang meliputi malam widodaren membuat sembonyo, kembang mayang, menyiapkan encek atau sesaji serta menyiapkan kesenian jaranan untuk pengiring dan tahap pelaksanaan.<strong> (mil/yan) </strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">49231</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
