<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Mata Air &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/mata-air/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Sat, 30 Jan 2021 06:58:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Mata Air &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Tak Ada Peremajaan Paska Penebangan Sonokeling, Warga dan Pegiat Lingkungan Lumajang Sangat Menyayangkan</title>
		<link>https://memontum.com/tak-ada-peremajaan-paska-penebangan-sonokeling-warga-dan-pegiat-lingkungan-lumajang-sangat-menyayangkan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 30 Jan 2021 05:51:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Lumajang]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[Mata Air]]></category>
		<category><![CDATA[Memontum.com]]></category>
		<category><![CDATA[Sumber Mata Air]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=133478</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Lumajang &#8211; Penebangan Pohon Sonokeling di wilayah Desa Sumberejo, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang oleh Perhutani Lumajang, sekitar pertengahan November 2020 lalu, menuai penyesalan warga dan pegiat lingkungan. Masalahnya, usai penebangan pohon bernama latin Dalbergia Latifolia dalam kategori appendix II CITES (Convention on International Trade in Endagered Species of Wild Fauna and Flora), tidak diikuti [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Lumajang</strong> &#8211; Penebangan Pohon Sonokeling di wilayah Desa Sumberejo, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang oleh Perhutani Lumajang, sekitar pertengahan November 2020 lalu, menuai penyesalan warga dan pegiat lingkungan. Masalahnya, usai penebangan pohon bernama latin Dalbergia Latifolia dalam kategori appendix II CITES (Convention on International Trade in Endagered Species of Wild Fauna and Flora), tidak diikuti dengan peremajaan atau penanaman pohon baru.</p>



<p>Sehingga, dikhawatirkan juga berdampak pada sumber mata air di sekitar kawasan. &#8220;Penebangan (Pohon) Sonokeling oleh Perhutani, bisa berdampak pada pasokan air, sumber mata air mengecil. Kita khawatir, saat musim kemarau nanti, sumbernya mati,&#8221; ungkap Mbah Priyo (60) Warga Dusun Krajan, Desa Sumberejo.</p>



<p>Wakil Kepala (Waka) Administratur/KSKPH Perhutani Lumajang, Marhaendro Bagyo Sungkowo, mengatakan bahwa di Sumberejo, Sonokeling merupakan tanaman tepi atau bukan tanaman pokok. Sehingga, seperti untuk penebangan, bisa sepengetahuan Muspika.</p>



<p><strong>Baca Juga : <a href="https://memontum.com/127862-perhutani-tebang-sonokeling-hutan-candipuro" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Perhutani Tebang Sonokeling Hutan Candipuro</a></strong></p>



<p>&#8220;Di Sumberejo itu karena tanaman tepi dan penebangannya sudah sepengetahuan Muspika,&#8221; kata Waka Administratur.</p>



<p>Bagaimana dengan peremajaan Sonokeling ? Waka mengatakan, jika pihaknya tidak punya pembibitan Sonokeling di Lumajang. &#8220;Kalau untuk Lumajang, karena tidak ada rencana penanaman Sonokeling, maka tidak ada upaya itu. Tetapi, permudaan alam itu yang kita perdayaan. Yang ditebang lupa berapa pohon, kalau 100 pohon ada tapi sporadis tempatnya,&#8221; terang Waka.</p>



<p>Ditanya pertimbangannya apa, Waka mengatakan, Sonokeling di Lumajang hanya sebagai tananaman sela, tidak mencakup luas. Hanya sporadis.</p>



<p>Pegiat Lingkungan Lumajang, Arsyad Subekti, saat dikonfirmasi Sabtu (30/01) tadi, berharap pihak Perhutani maupun BKSDA harusnya benar-benar mengkaji terlebih dulu sebelum mengeluarkan izin untuk penebangan Pohon Sonokeling. Karena selain kayu tersebut masuk apendik ll, dampak yang ditimbulkan juga perlu dipikirkan.</p>



<p>&#8220;Harusnya sebelum dilakukan penebangan, dikaji lebih dahulu. Apalagi, dikawasan tersebut ada sumber mata air yang sangat dibutuhkan bagi masyarakat. Kita berharap Perhutani lebih bijaklah. Jangan hanya memikirkan profit semata. Karena sekarang ini bencana banjir, longsor di mana-mana, salah satunya akibat hutan kita sudah banyak yang gundul,&#8221; ungkap Arsyad. <strong>(adi/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">133478</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Perhutani Tebang Sonokeling Hutan Candipuro</title>
		<link>https://memontum.com/perhutani-tebang-sonokeling-hutan-candipuro</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum Editorial Team 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 19 Nov 2020 05:18:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Lumajang]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[hutan]]></category>
		<category><![CDATA[Kayu Sonokeling]]></category>
		<category><![CDATA[Mata Air]]></category>
		<category><![CDATA[penebangan]]></category>
		<category><![CDATA[Perhutani]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=127862</guid>

					<description><![CDATA[Sumber Mata Air Dilaporkan Mengalami Penurunan Memontum Lumajang &#8211; Sejumlah Pohon Sonokeling yang berada di hutan Desa Sumber Rejo, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, telah ditebangi oleh Perhutani. Akibat penebangan secara besar-besaran itu, menyebabkan menurunnya debit sumber mata air. Warga Dusun Krajan, Desa Sumber Rejo, Mbah Priyo (60), mengatakan kalau warga setempat kini mulai kesulitan air. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h3><strong>Sumber Mata Air Dilaporkan Mengalami Penurunan</strong></h3>
<p><strong>Memontum Lumajang</strong> &#8211; Sejumlah Pohon Sonokeling yang berada di hutan Desa Sumber Rejo, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, telah ditebangi oleh Perhutani. Akibat penebangan secara besar-besaran itu, menyebabkan menurunnya debit sumber mata air.</p>
<p>Warga Dusun Krajan, Desa Sumber Rejo, Mbah Priyo (60), mengatakan kalau warga setempat kini mulai kesulitan air. Diduga, penyebabnya adalah dari Kayu Sonokeling di hutan daerahnya, ditebangi oleh Perhutani. Sehingga, berdampak pada pasokan air.</p>
<p>&#8220;Sebelum ditebang tidak ada masalah, tetapi setelah ada penebangan secara besar-besaran, banyak sumber mata air menurun drastis. Seperti sumber pitek misalnya, sekarang ini debit airnya sudah tidak sebesar dulu. Akibatnya, kami masyarakat Dusun Sumber Rejo, Dusun Krajan dan Dusun Bulak Manggis, sulit mendapatkan air. Padahal, ini sudah memasuki musim hujan. Jadi, bagaimana nanti di musim kemarau,&#8221; ungkap Mbah Priyo, Kamis (19/11) tadi.</p>
<p>Asper KRPH Candipuro, BKPH Pasirian, SKPH Lumajang, Subur, ketika akan dikonfirmasi di kantornya untuk dimintai penjelasan terkait penebangan Pohon Sonokeling di wilayahnya, sedang tidak ada di tempat. Sementara ketika nomor teleponnya dihubungi via telepon, belum memberikan jawaban.</p>
<p>Pegiat Lingkungan Lumajang, Arsyad Subekti, ketika meninjau langsung area hutan tersebut, merasa kaget melihat kondisi hutan di Desa Sumber Rejo. Itu karena, hutan tersebut kini sebagian terlihat gundul. Hanya menyisakan tonggak-tonggak Kayu Sonokeling pasca ditebang.</p>
<p>Mensikapi kondisi itu, Arsyad menjelaskan, bahwa Uni Internasional untuk Konservasi Alam IUCN sudah menetapkan bahwa Kayu Sonokeling sebagai kayu langka dan terancam punah. Kayu Sonokeling masuk kategori apendiks 2, sehingga peredaran Kayu Sonokeling lebih diperketat dibandingkan dengan kayu jenis lainnya.</p>
<p>&#8220;Saya heran, kenapa Kayu Sonokeling di Candipuro, justru ditebangi. Bukan hanya yang pohonnya besar, tapi juga yang kecil juga ditebang,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Ditambahkan Arsyad, walau pun Perhutani sudah punya dasar aturan dalam melakukan penebangangan hutan, pihaknya mengingatkan bahwa ada beberapa hal yang perlu menjadi dipertimbangkan sebelum penebangan dilakukan.</p>
<p>&#8220;Selain bisa berdampak banjir, yang setiap saat bisa terjadi. Penebangan pepohonan besar juga bisa menyebabkan kekeringan. Apalagi, ini pohon yang kecil juga ditebangi. Kalau alasan prosedur, masa pohon yang masih kecil ditebang juga. Padahal saat musim penghujan seperti ini, air yang diserap oleh pohon sangat berguna untuk menyimpan air dan mengantisipasi bencana banjir,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>Arsyad meminta, agar Perhutani tidak sekadar mementingkan diri sendiri. Tetapi juga harus memikirkan masyarakat sekitar hutan yang membutuhkan sumber mata air untuk keberlangsungan hidup.</p>
<p>&#8220;Perhutani jangan hanya pikirkan profit, sementara masyarakat sekitar diabaikan. Kalau sudah tidak ada lagi pepohonan besar karena ditebang seperti sekarang, maka tidak ada lagi cadangan air yang disimpan,&#8221; terangnya. <strong>(adi/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">127862</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Pemdes Senggreng Sumberpucung Sasar Mata Air</title>
		<link>https://memontum.com/pemdes-senggreng-sumberpucung-sasar-mata-air</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 Aug 2020 14:42:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar Desa]]></category>
		<category><![CDATA[desa senggreng]]></category>
		<category><![CDATA[Mata Air]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/120881-pemdes-senggreng-sumberpucung-sasar-mata-air</guid>

					<description><![CDATA[Jaga Kelestarian Lingkungan Memontum, Malang &#8211; Pemerintah Desa (Pemdes) Senggreng, Kecamatan Sumberpucung berkomitmen melestarikan lingkungan di wilayahnya untuk menjaga keberlanjutan ekosistem. Kepala Desa Senggreng, Sriyono mengatakan, salah satu yang menjadi perhatian pihaknya adalah mata air Sumberpucung yang berada di Dusun Ngrancah. &#8220;Kemarin sudah kita pasang sanitasi disana. Selama ini kan di tempat itu hanya dibuat [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2>Jaga Kelestarian Lingkungan</h2>
<p><strong>Memontum, Malang </strong>&#8211; Pemerintah Desa (Pemdes) Senggreng, Kecamatan Sumberpucung berkomitmen melestarikan lingkungan di wilayahnya untuk menjaga keberlanjutan ekosistem. Kepala Desa Senggreng, Sriyono mengatakan, salah satu yang menjadi perhatian pihaknya adalah mata air Sumberpucung yang berada di Dusun Ngrancah.</p>
<p>&#8220;Kemarin sudah kita pasang sanitasi disana. Selama ini kan di tempat itu hanya dibuat mancing oleh warga. Itu kan ada pohon Pucung-nya, jadi disebut sumber air Sumberpucung,&#8221; kata Sriyono, Rabu (5/8/2020) kemarin.</p>
<p>Ditambahkan Siyono, kedepan pihaknya bakal melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar ikut melestarikan ekosistem mata air Sumberpucung.</p>
<p>&#8220;Jadi selama ini belum sosialisasi. Nanti akan kami sosialisasikan ke masyarakat,&#8221; terangnya.</p>
<p>Selain untuk menjaga ekosistem, mata air Sumberpucung diharapkan Sriyono juga membawa manfaat kepada masyarakat.</p>
<p>&#8220;Disamping pelestarian mata air agar ada manfaat untuk warga, untuk pemberdayaan. Makanya saya berusaha agar potensi yang ada di Senggreng bisa berkembang. Potensi disini kan ada perikanan, pertanian, peternakan. Disini ada tempat penggemukan sapi. Bulan ini juga mulai pembibitan dari UB (Universitas Brawijaya, red) dan BI (Bank Indonesia, red),&#8221; Sriyono mengakhiri.<strong> (sur/man)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">120881</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Miris, Sumber Mata Air Tinggal 50 Persen</title>
		<link>https://memontum.com/miris-sumber-mata-air-tinggal-50-persen</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 14 Nov 2018 16:26:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Batu]]></category>
		<category><![CDATA[kota batu]]></category>
		<category><![CDATA[Mata Air]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=64086</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Batu &#8211; Kemajuan di Kota Batu yang pesat ternyata berimbas negatif kepada lingkungan sekitar, bukti salah satunya yaitu berkurangnya sumber mata air di Kecamatan Bumiaji mencapai 50 persen lebih. Hal mencengangkan tersebut dijelaskan oleh Anggota Tim Peneliti Impala Water Spring Research. Lius Alffiando salah satu anggota IWSR menjelaskan, peneliataan yang dimulai sejak September [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memontum Kota Batu </strong>&#8211; Kemajuan di Kota Batu yang pesat ternyata berimbas negatif kepada lingkungan sekitar, bukti salah satunya yaitu berkurangnya sumber mata air di Kecamatan Bumiaji mencapai 50 persen lebih. Hal mencengangkan tersebut dijelaskan oleh Anggota Tim Peneliti Impala Water Spring Research. </p>
<p>Lius Alffiando salah satu anggota IWSR menjelaskan, peneliataan yang dimulai sejak September silam hingga Oktober 2018 ini memperlihatkan adanya pengurangan sumber mata air yang sangat disayangkan. Jika hal ini dibiarkan, jelasnya, akan berimbas besar kepada produksi air bersih untuk masyarakat serta merusak ekologi. </p>
<p>&#8220;Ya benar, usai kami teliti sebelumnya ada 111 sumber, namun sekarang hanya 52 sumber saja yang tersisa. Penelitian ini meliputi debit, rasa, warna, kualitas, dan pemanfaatan,&#8221; jelas dia, Rabu (14/11/2018). Lanjut Lius, dalam hasil penelitian, memang  warga memanfaatkan air dari sumber untuk pertanian. Hilangnya sumber ini disebabkan banyaknya bangunan baru yang dibangun sangat berdekatan dengan sumber mata air.</p>
<p>&#8221; Bangunan itu rata-rata tidak sampai 200 meter bahkan ada yang hanya berjarak 100 meter. Jika pemerintah membiarkan hal ini bisa dipastikan 10 tahun kedepan sumber air di Kota Batu bisa hilang atau mengecil, &#8221; keluhnya. </p>
<p>&#8221; Total ada sektiar 17 pelanggaran di 52 sisa sumber air aktif di Batu. Pemerintah wajib memantaunya,&#8221; tambah dia mahasiswa yang juga tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam (Impala) Universitas Brawijaya. </p>
<p>Terpisah, Punjul Santoso, Wakil Wali Kota Batu, saat dikonfirmasi adanya pengurangan sumber mata air berujar jika segera mengagendakan  diskusi terbuka yang membahas tentang sumber mata air dan bagaimana menjaganya. </p>
<p>Pemerintah, ungkap Punjul,  sudah mengimbau seluruh sekolah, hotel, dan tempat memiliki sumur resapan.</p>
<p>&#8221; Suatu ketika Kota Batu ini pasti butuh sumur resapan. Kami juga perlu memelihara sumber mata air di Kota Batu,&#8221; tutupnya.<strong> (Bir/yan)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">64086</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Melalui DM UB, Memanen Mata Air Kampung Konservasi</title>
		<link>https://memontum.com/melalui-dm-ub-memanen-mata-air-kampung-konservasi</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Jul 2018 12:43:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[Doktor Mengabdi]]></category>
		<category><![CDATA[Drainase]]></category>
		<category><![CDATA[Mata Air]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Brawijaya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/48462-melalui-dm-ub-memanen-mata-air-kampung-konservasi</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Dalam era kekinian, drainase bawah permukaan (subsurface drainage) dibuat sebagai solusi untuk mengatasi debit limpasan permukaan, atau terjadi genangan akibat banjir sementara saat turun hujan. Selain itu, teknologi drainase bawah permukaan ini bisa dikembangkan sebagai model konservasi air. Dimana inovasi melalui teknologi ini digunakan untuk menampung mata air yang berlimpah dan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memontum Kota Malang </strong>&#8211; Dalam era kekinian, drainase bawah permukaan (subsurface drainage) dibuat sebagai solusi untuk mengatasi debit limpasan permukaan, atau terjadi genangan akibat banjir sementara saat turun hujan. Selain itu, teknologi drainase bawah permukaan ini bisa dikembangkan sebagai model konservasi air. Dimana inovasi melalui teknologi ini digunakan untuk menampung mata air yang berlimpah dan dimanfaatkan sebagai budidaya ikan yang berdampak ekonomi.</p>
<p>Melalui program Doktor Mengabdi (DM) sejak tahun 2017, kegiatan Doktor Mengabdi berjudul &#8220;IbM Drainase Bawah Permukaan untuk Mengatasi Aliran Rembesan di RW 23 dan RW 5 Kelurahan Purwantoro-Blimbing Kota Malang,&#8221; yang diketuai oleh Prof. Dr. Ir. Mohammad Bisri, MS sebagai ahli bidang konservasi, telah memberikan hasil signifikan yang bisa dirasakan saat ini.  </p>
<p><div id="attachment_48463" style="width: 660px" class="wp-caption aligncenter"><img aria-describedby="caption-attachment-48463" decoding="async" src="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2018/07/IMG-20180723-WA0006-copy.jpg?resize=650%2C333&#038;ssl=1" alt="Sinergitas UB, RW 23 dan RW 5 Purwantoro. (ist)" width="650" height="333" class="size-full wp-image-48463" srcset="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2018/07/IMG-20180723-WA0006-copy.jpg?w=650&amp;ssl=1 650w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2018/07/IMG-20180723-WA0006-copy.jpg?resize=300%2C154&amp;ssl=1 300w" sizes="(max-width: 650px) 100vw, 650px" data-recalc-dims="1" /><p id="caption-attachment-48463" class="wp-caption-text"><em>Sinergitas UB, RW 23 dan RW 5 Purwantoro. (ist)</em></p></div></p>
<p>Pada kegiatan DM ini, telah dilakukan pekerjaan fisik drainase bawah permukaan menggunakan kombinasi pipa PVC dan box culvert yang menampung aliran air dari beberapa titik spring (mata air) di wilayah tersebut. Pipa PVC berdiameter 12 inch dan box culvert berukuran lebar 0,5 meter dipasang total sepanjang sekitar 200 meter menuju outlet sungai utama. Saluran box culvert bawah tanah ini dimodifikasi, sehingga bisa digunakan untuk budidaya ikan Gurami dan sejenisnya yang bermanfaat bagi warga sekitar. </p>
<p>Selain itu, kegiatan Doktor Mengabdi memberikan bantuan Pompa Centrifugal sejumlah 1 unit yang digunakan sebagai pompa darurat pengoperasian kondisi banjir, jika permukaan air di sungai utama lebih tinggi. &#8220;Kegiatan konservasi air sangat penting untuk dilakukan. Keberadaan air bersih dengan kualitas baik sangat terbatas. Dengan melakukan konservasi, akan memperlambat aliran air menjadi limpasan permukaan yang akan hilang begitu saja menuju ke outlet sungai dan waduk,” terang Prof Bisri.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">48462</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
