<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Mata ayam &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/mata-ayam/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Sat, 06 Feb 2021 05:35:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Mata ayam &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Dinas Pertanian Batu Bantu Petani Apel Atasi Penyakit Mata Ayam</title>
		<link>https://memontum.com/dinas-pertanian-batu-bantu-petani-apel-atasi-penyakit-mata-ayam</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 05 Feb 2021 04:58:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Batu]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[Apel Batu]]></category>
		<category><![CDATA[Dinas Pertanian Kota Batu]]></category>
		<category><![CDATA[Hama]]></category>
		<category><![CDATA[Mata ayam]]></category>
		<category><![CDATA[Penyakit Mata Ayam]]></category>
		<category><![CDATA[Penyemprotan]]></category>
		<category><![CDATA[Petani Apel]]></category>
		<category><![CDATA[Petani Apel Batu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=134073</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Batu &#8211; Untuk mengatasi penyakit mata ayam (busuk buah) pada buah Apel, Dinas Pertanian Kota Batu memberikan bantuan penyemprotan insektisida kepada petani. Adalah Desa Sumbergondo dan Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, yang menjadi sasaran penyemprotan, Jumat (05/02) tadi. &#8220;Hari ini agenda dinas pertanian bersama kelompok tani yang punya lahan beserta teman-teman kelompok pengendalian, melakukan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memontum Kota Batu</strong> &#8211; Untuk mengatasi penyakit mata ayam (busuk buah) pada buah Apel, Dinas Pertanian Kota Batu memberikan bantuan penyemprotan insektisida kepada petani. Adalah Desa Sumbergondo dan Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, yang menjadi sasaran penyemprotan, Jumat (05/02) tadi.</p>
<p>&#8220;Hari ini agenda dinas pertanian bersama kelompok tani yang punya lahan beserta teman-teman kelompok pengendalian, melakukan tindakan untuk apel yang terserang penyakit (mata ayam). Baik kategori sedang maupun berat. Khususnya, untuk busuk buah yang disebabkan iklim atau cuaca,&#8221; jelas Kepala Dinas Pertanian, Sugeng Pramono.</p>
<p>Penyakit busuk buah atau yang umum di sebut mata ayam, tambahnya, memang sering muncul pada musim penghujan dan menyerang apel Jenis Manalagi. Langkah yang diambil Dinas Pertanian, yakni dengan mengendalikan hama melalui penyemprotan maupun pensortiran buah yang terkena busuk buah lalu menimbun dengan diberikan dekomposer supaya bisa terurai.<br />
Dinas Pertanian menambahkan, bahwa petani apel yang ada di Kota Batu, tidak semuanya menjadi anggota kelompok tani. Sebagian besar merupakan petani mandiri. Sementara Dinas Pertanian, tidak bisa memaksa petani harus menjadi anggota kelompok tani.</p>
<p>&#8220;Memang petani disini belum semuanya menjadi anggota kelompok tani dan kegiatan yang dilakukan hari ini adalah membantu kepada kelompok tani. Tetapi, kami juga melakukan pendampingan pada petani yang bukan anggota kelompok (petani mandiri),&#8221; tambah Sugeng.</p>
<p>Sedangkan penimbunan apel yang terkena busuk buah, tambahnya, dimaksudkan agar jamur glosforium yang menyerang buah apel, supaya bisa terurai. Karena kalau dibiarkan di atas permukaan tanah, maka jamur tersebut juga masih bisa menyerang buah apel lain. Sebab, glosforium ini bukan penyakit ulat tanah. Sehingga jika sudah dikubur, tidak akan menularkan lagi.<br />
Selain itu, menurut Sugeng, buah yang terkena busuk buah itu, 20 sampai 25 persen. Itu, bukan berarti dalam waktu yang sama. Karena, apel sepanjang tahun penitrasi penyakit busuknya pada waktu hujan tinggi mulai Desember sampai Maret.</p>
<p><a href="https://memontum.com/132703-penyakit-mata-ayam-petani-apel-batu-butuh-solusi-bukan-keyakinan#ixzz6lfN1IbT5"><strong>Baca Juga : Penyakit Mata Ayam Petani Apel Batu Butuh Solusi, Bukan Keyakinan</strong></a></p>
<p>&#8220;Sebenarnya ini sudah efektif menurut kajian ilmiahnya. Tapi memang kita kurang memotivasi para petani sebab seharusnya kegiatan ini bisa di lakukan secara bersamaan namun masih belum bisa karena petani yang belum masuk gapoktan masih banyak. Karena seharusnya seluruh petani untuk melakukan kegiatan serentak jadi ini kurang efektif, sedang aturan regulasinya yang bisa kita bantu yang sudah masuk di kelembagaan,&#8221; paparnya.</p>
<p>Anggota kelompok tani dari Desa Sidomulyo, Hadi Utomo, yang lahannya berada di Desa Sumbergondo, ini ada 300 pohon apel dari luas 3000 m persegi miliknya. Dirinya mengatakan, setiap musim hujan, tanaman Manalagi akan merugi. Namun, ketika musim kemarau, akan tertutupi.</p>
<p>&#8220;Hama ini sudah sekitar tiga tahun menyerang apel di lahan saya, dan Jenis Manalagi yang paling rentan terkena busuk buah,&#8221; ujarnya. <strong>(bir/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">134073</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Dinas Pertanian Yakin Apel Batu Takkan Punah</title>
		<link>https://memontum.com/dinas-pertanian-yakin-apel-batu-takkan-punah</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum Editorial Team 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 25 Jan 2021 11:35:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[Apel Batu]]></category>
		<category><![CDATA[Berita hari ini]]></category>
		<category><![CDATA[Dinas Pertanian]]></category>
		<category><![CDATA[kota batu]]></category>
		<category><![CDATA[Mata ayam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=133063</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Batu &#8211; Keluhan petani apel akibat hama atau penyakit &#8216;mata ayam&#8217; yang menjadikan buah membusuk, tidak dipungkiri Kepala Dinas Pertanian Kota Batu, Sugeng Pramono. Karena itu, pihaknya tengah melakukan langkah strategis dengan merevitalisasi tanaman apel petani. Misalnya, dengan memberikan bantuan pupuk organik padat dan pupuk organik cair serta bantuan bibit untuk peremajaan. Sebab, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum <a href="https://memontum.com/133057-sikapi-pemulasaran-jenazah-covid-19-pmi-batu-jemput-bola">Kota Batu</a></strong> &#8211; Keluhan petani apel akibat hama atau penyakit &#8216;mata ayam&#8217; yang menjadikan buah membusuk, tidak dipungkiri Kepala Dinas Pertanian Kota Batu, Sugeng Pramono. Karena itu, pihaknya tengah melakukan langkah strategis dengan merevitalisasi tanaman apel petani.</p>



<p>Misalnya, dengan memberikan bantuan pupuk organik padat dan pupuk organik cair serta bantuan bibit untuk peremajaan. Sebab, rata-rata usia pohon apel yang ada sudah lebih dari 20 tahun, kurang optimal.</p>



<p>Dijelaskan Sugeng, bahwa produktivitas apel di Kota Batu, tidak seperti pada tahun 80an. Yang mana, pada masa itu Kota Batu tidak ramai seperti sekarang dan suhunya pun masih sejuk dan sangat cocok untuk tanaman apel.</p>



<p>“Kalau dahulu, bisa 30 ton sampai 40 ton per hektarnya. Sekarang, sudah tidak bisa. Paling banyak 10 ton sampai 15 ton. Memang benar mengalami penurunan, karena tidak hanya iklim, tapi juga masalah lahan yang kurang bahan nutrisi,” paparnya.</p>



<p>Namun sekarang, memang sangat berbeda. Karena, banyak faktor penyebab turunnya produktivitas apel. Gagalnya peningkatan produksi panen, juga karena petani tidak memiliki manajemen pengelolaan lahan yang baik. Akibatnya, pengelolaan lahan tidak maksimal. Sehingga produksi apel ikut berimbas.</p>



<p>Selain itu, Sugeng mengatakan, lahan pertanian apel di Kota Batu, banyak yang tidak bersih. Banyak buah apel membusuk di tanah sehingga menjadi sumber munculnya hama. Belakangan, penyuluh pertanian mengimbau agar buah-buahan yang gagal panen dikubur bersama larutan zat kimia.</p>



<p>“Artinya, pemeliharaan kurang diperhatikan oleh mereka, akibatnya lima tahun belakangan ini jadi masalah,” kata Sugeng.</p>



<p>Pemerintah Kota Batu sendiri, mengadakan revitalisasi lahan apel di Kecamatan Bumiaji. Melalui Dinas Pertanian, Pemkot Batu menaruh perhatian kepada enam desa yang ada Kecamatan Bumiaji agar pertanian apel bisa selamat. </p>



<p>Enam desa itu terdiri atas Desa Bulukerto, Bumiaji, Giripurno, Punten, Sumbergondo, dan Tulungrejo. Sedangkan untuk Desa, Sumberbrantas, Gunungsari dan Pandanrejo.</p>



<p>&#8220;Beberapa waktu lalu kami secara serentak bersama Wakil Wali Kota dan seluruh SKPD yang ada di Pemkot Batu melakukan penyemprotan untuk memberantas hama tersebut. Untuk bahan penyemprotan itu, kami juga memberikan bantuan berupa pestisida,&#8221; katanya.</p>



<p>Menanggapi merosotnya produktifitas hasil pertanian apel di Kota Batu. Dirinya sangat yakin apel Kota Batu, tidak akan mengalami kepunahan. Itu karena, saat ini pihaknya betul-betul konsen dalam perbaikan pertanian apel Kota Batu.</p>



<p>Bahkan, kata dia, permasalahan merosotnya produktifitas apel ini sudah mendapatkan perhatian dari pusat. Yang mana, pemerintah pusat telah menggembar-gemborkan semua produk buah-buahan harus murni dari dalam negeri.</p>



<p>&#8220;Terkait perbaikan apel ini kami juga telah memasukkan proposal yang ditujukan kepada pemerintah pusat. Yang berisikan permasalahan-permasalahan terkait apel Kota Batu. Serta terkait masalah pasar dan masih banyak lagi,&#8221; ungkapnya.</p>



<p>Menanggapi permasalah yang disebabkan karena terus meruginya para petani apel, dirinya menjelaskan, jika setiap melakukan usaha itu pasti ada naik turunnya. Apalagi dalam bidang pertanian holtikultura.</p>



<p><strong><a href="https://memontum.com/132703-penyakit-mata-ayam-petani-apel-batu-butuh-solusi-bukan-keyakinan">Baca Juga: Penyakit Mata Ayam Petani Apel Batu Butuh Solusi, Bukan Keyakinan</a></strong><br><br>Menurutnya, kerugian itu hanya terjadi pada satu kali panen saja pertahun. Karena untuk panen apel ini, dalam setahun bisa dua kali panen.</p>



<p>&#8220;Untuk mengatasi masa sulit ini. Pihaknya juga telah membuat demplot di tiga titik yang dikhususkan untuk pertanian apel. Dari masing-masing titik itu, memiliki luas 2000 meter persegi. Titik itu ada di Desa Tulungrejo, Sumbergondo dan Bukukerto. Yang di gunakan sebagai percontohan,&#8221; lanjutnya. <strong>(bir/cw2/sit)</strong></p>



<p></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">133063</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Buang Apel Hingga Ratusan Ton, Petani Bumiaji Temukan &#8216;Obat&#8217; Penyakit Mata Ayam</title>
		<link>https://memontum.com/buang-apel-hingga-ratusan-ton-petani-bumiaji-temukan-obat-penyakit-mata-ayam</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum Editorial Team 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 Jan 2021 05:56:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KREATIF MASYARAKAT]]></category>
		<category><![CDATA[Apel Batu]]></category>
		<category><![CDATA[Apel Batu Punah]]></category>
		<category><![CDATA[Desa Bumiaji]]></category>
		<category><![CDATA[kota batu]]></category>
		<category><![CDATA[Mata ayam]]></category>
		<category><![CDATA[Obat Mata Ayam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=132727</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Batu &#8211; Penyakit mata ayam yang membuat petani apel kelimpungan dan putus asa, sedikit terobati. Slamet (57), petani dari Dusun Binangun, Desa/Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, menceritakan pengalamannya menggunakan fungisida temuan Rudy di ladang apelnya yang memiliki luas 7 hektar. Slamet yang cukup gigih dan ulet dalam mempertahankan lahan apel miliknya, termasuk sempat merugi [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Batu</strong> &#8211; Penyakit mata ayam yang membuat petani apel kelimpungan dan putus asa, sedikit terobati. Slamet (57), petani dari Dusun Binangun, Desa/Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, menceritakan pengalamannya menggunakan fungisida temuan Rudy di ladang apelnya yang memiliki luas 7 hektar.</p>



<p>Slamet yang cukup gigih dan ulet dalam mempertahankan lahan apel miliknya, termasuk sempat merugi hingga miliaran rupiah, karena pernah membuang sekitar 70 ton hasil panennya karena rusak, mulai punya cara dalam mengatasi penyakit mata ayam pada tanaman Apel. Walau pun, selama perjalanannya mengatasi penyakit itu, butuh biaya yang mahal.</p>



<p>&#8220;Saya pernah mengalami kerugian, yang kalau di total bisa sampai miliaran rupiah karena ada ratusan ton apel yang saya buang. Bahkan, satu lahan saja pernah 70 ton, yang harus terbuang,&#8221; ujarnya menceritakan perjalanannya mengatasi mata ayam.</p>



<p>Meruginya petani apel ini, dirasakan hingga kurun waktu sampai tiga tahun terakhir ini. Bahkan, Slamet mengaku telah mengeluarkan modal sebanyak Rp 2,3 miliar. Uang itu, didapatkan dari berhutang sebab perlu untuk mempertahankan apel miliknya.</p>



<p>&#8220;Sejak memakai fungisida temuan Rudy, sekitar dua bulan lalu, buah apel tampak sehat. Meskipun, ada satu dan dua buah terserang. Namun, secara keseluruhan kondisinya bisa diatasi. Bintik mata ayam tidak sampai merusak apel. Penyebaran wabah juga tidak meluas,&#8221; katanya.</p>



<p>Sambil menunjukkan tanaman apel yang sedang berbuah di ladangnya, Slamet berharap, besar panen apel kali ini bisa mendapatkan keuntungan. Meski pun, dirinya tahu bahwa rupiah yang bakal didapat nanti akan digunakan untuk membayar hutang jua.</p>



<p>“Hutang saya banyak. Kalau buat beli Rubicon (mobil, red) bisa dapat dua,” katanya sambil tersenyum, Rabu (20/01) tadi.</p>



<p>Slamet sendiri, tetap bertahan menjadi petani apel, karena memiliki kebanggaan tersendiri. Apel adalah sumber kehidupan baginya, maka tidak mungkin mematikan sumber penghidupannya.</p>



<p>“Penyakit mata ayam itu sendiri nampak ketika apel telah berusia 60 hari sejak berbunga. Mulai nampak bintik hitamnya. Sudah dilakukan penyemprotan masih saja tidak mempan. Menggunakan obat apa saja juga tidak ada hasilnya. Terus masih saya rawat secara terus menerus dengan melakukan pengompresan sedikit demi sedikit,” paparnya.</p>



<p>Awal mula Slamet bertemu Rudy, siapa sangka melalui perantara temannya. Saat itu, dirinya mengeluhkan kepada temannya akan serangan mata ayam yang tiada henti. Sudah banyak biaya dan tenaga yang dikeluarkan, namun tidak membuahkan hasil bagus.</p>



<p>“Kota Batu sebagai kota apel itu hanya slogan saja namun pada kenyataannya banyak petani apel yang dibunuh. Salah satunya adalah sangat sulitnya melakukan perawatan apel,” keluhnya.</p>



<p>Kemudian Slamet bertemu Rudy dan membeli fungisida ciptaan lelaki yang telah banyak melakukan penelitian di sektor pertanian tersebut. Tidak sulit bagi Slamet untuk mendapatkan bahan.</p>



<p>Dengan mencoba formula ciptaan Rudy tersebut, sejumlah apel di ladangnya tampak bagus. Beberapa hari ke depan, bahkan sudah siap dipanen. Terutama Apel Manalagi.</p>



<p>Slamet merindukan, panen apel yang berlangsung cemerlang seperti tahun-tahun sebelum 2018. Kala itu, hasil panen apel selalu memberikan dampak positif bagi petani termasuk penjual.</p>



<p>&#8220;Saat memasuki tahun 2018 atau tiga tahun belakangan, saya mulai banyak membuang buah karena terserang hama mata ayam. Yang paling terasa terjadi pada 2018. Saya membuang 60 ton hingga 70 ton. Dari 1 Ha ladang. Angka kerugiannya mencapai Rp 350 juta,” kenangnya.</p>



<p>Padahal, tambahnya, di tahun sebelumnya sekitar 2016, Slamet bisa memanen hingga 80 ton Apel Manalagi dan 15 ton Apel Anna.</p>



<p>“Dengan menggunakan fungisida ini, buahnya bisa lebih bagus. Memang ada beberapa yang masih terkena namun tidak separah dulu,” terangnya.</p>



<p>Dengan adanya temuan itu, Slamet berharap panen apel kali ini bisa lebih bagus. Dirinya memperkirakan akan membuang sekitar 5 ton apel saja pada panen kali ini.</p>



<p>&#8220;Saya hanya berharap, Pemkot Batu bisa menawarkan solusi stabilitas harga apel. Harga apel anjlok saat ini. Petani harus menghadapi sendirian anjloknya harga apel. Padahal, Pemkot Batu memiliki keleluasaan untuk mengendalikan harga melalui kebijakan yang dikeluarkan,&#8221; harap Salamet.<strong> (bir/sit)</strong></p>



<p></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">132727</post-id>	</item>
		<item>
		<title>DPRD Batu Minta Dispertan Miliki Terobosan Atasi Mata Ayam</title>
		<link>https://memontum.com/dprd-batu-minta-dispertan-miliki-terobosan-atasi-mata-ayam</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum Editorial Team 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 19 Jan 2021 10:09:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Didik Subiyanto]]></category>
		<category><![CDATA[Dispertan]]></category>
		<category><![CDATA[DPRD Kota Batu]]></category>
		<category><![CDATA[Fraksi PKB]]></category>
		<category><![CDATA[Kaji Bi]]></category>
		<category><![CDATA[Mata ayam]]></category>
		<category><![CDATA[Petani Apel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=132471</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Batu &#8211; Penyakit mata ayam yang acapkali menimpa petani apel di Kota Batu, mengundang perhatian Ketua Fraksi PKB DPRD Kota Batu, HM Didik Subiyanto. Dirinya berpendapat, bahwa Pemerintah Kota Batu melalui Dinas Pertanian (Dispertan) harus berani mengambil terobosan. Tidak sekedar mengulang kegiatan seperti yang sebelumnya, karena pada kenyataannya permasalahan di petani apel masih [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Batu</strong> &#8211; Penyakit mata ayam yang acapkali menimpa petani apel di Kota Batu, mengundang perhatian Ketua Fraksi PKB DPRD Kota Batu, HM Didik Subiyanto. Dirinya berpendapat, bahwa Pemerintah Kota Batu melalui Dinas Pertanian (Dispertan) harus berani mengambil terobosan.</p>



<p>Tidak sekedar mengulang kegiatan seperti yang sebelumnya, karena pada kenyataannya permasalahan di petani apel masih saja terjadi seperti tahun sebelumnya.</p>



<p>&#8220;Dinas Pertanian harus berani ambil langkah yang berani. Tidak sekedar copy paste, dari kegiatan sebelumnya. Namun, harus lebih fokus dan kongkrit untuk membantu petani,&#8221; jelasnya.</p>



<p>Permasalahan petani apel itu, tambahnya, kompleks sekali. Satu sisi areal lahan yang semakin terdesak oleh kebutuhan permukiman, kondisi alamnya juga turut mempengaruhi seperti cuaca ekstrem yang menyebabkan hasil panen tidak sesuai baik secara kualitas maupun kuantitas.</p>



<p>&#8220;Hal ini kalau dibiarkan lambat laun, bisa mengakibatkan petani enggan merawat tanamannya. Karena, tidak lagi memberikan masa depan (penghasilan yang mencukupi) karena selalu merugi,&#8221; tambahnya.</p>



<p>Sedangkan untuk mengatasi permasalahan tersebut, pria yang akrab disapa Kaji Bi ini, memberikan saran kepada Pemerintah Kota Batu, agar membuat suatu program terintegritas.</p>



<p>&#8220;Dispertan harusnya tidak hanya memberikan bantuan yang sifatnya global. Namun, bisa dengan cara lebih spesifik yaitu dengan membuat lahan percontohan milik salah satu petani untuk percobaan mengatasi penyakit mata ayam, kalau berhasil baru di buat program secara massal,&#8221; ungkapnya.</p>



<p>Kalau upaya tersebut juga tidak berhasil, paparnya, Dinas Pertanian bisa berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian maupun Kemenristek agar ada suatu kajian mendalam guna mengatasinya.</p>



<p>&#8220;Kita di DPRD siap kok, apabila dilakukan komunikasi dengan para pihak khususnya para petani, bahkan turun langsung melihat kondisi lahan apel milik petani,&#8221; pungkasnya. <strong>(bir/sit)</strong></p>



<p></p>



<p></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">132471</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
