<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>mbah &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/mbah/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Sun, 02 Jul 2023 09:06:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>mbah &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Es Campur Mbah Said Kota Batu, Racikan Lawas Nan Menggoda yang Bertahan Sejak 1954</title>
		<link>https://memontum.com/es-campur-mbah-said-kota-batu-racikan-lawas-nan-menggoda-yang-bertahan-sejak-1954</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 02 Jul 2023 07:05:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KREATIF MASYARAKAT]]></category>
		<category><![CDATA[Batu]]></category>
		<category><![CDATA[bertahan]]></category>
		<category><![CDATA[campur]]></category>
		<category><![CDATA[kota]]></category>
		<category><![CDATA[Kreatif]]></category>
		<category><![CDATA[lawas]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[mbah]]></category>
		<category><![CDATA[menggoda]]></category>
		<category><![CDATA[racikan]]></category>
		<category><![CDATA[said]]></category>
		<category><![CDATA[sejak]]></category>
		<category><![CDATA[yang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=192294</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Batu &#8211; Es campur dengan kombinasi isi berupa agar-agar, ketan hitam, kacang hijau, tape, mutiara, roti, sirup dan susu kental manis, menjadi kesan yang komplit dari sajian sebuah es campur. Kombinasi apik itu pula, yang bisa dijumpai di kawasan sekitar Alun-alun Kota Batu, persisnya di sebelah Masjid An-Nur. Dari sebuah rombong kecil di [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Batu</strong> &#8211; Es campur dengan kombinasi isi berupa agar-agar, ketan hitam, kacang hijau, tape, mutiara, roti, sirup dan susu kental manis, menjadi kesan yang komplit dari sajian sebuah es campur. Kombinasi apik itu pula, yang bisa dijumpai di kawasan sekitar Alun-alun Kota Batu, persisnya di sebelah Masjid An-Nur.</p>



<p>Dari sebuah rombong kecil di depan Gang Kauman, Kota Batu, siapa sangka sajian nan menggoda itu, adalah es campur legendaris di Kota Dingin Batu. Berdiri sejak tahun 1954, es nan menggoda tersebut seolah menjadi saksi bisu nikmatnya sajian penutup di masa itu. Termasuk, perkembangan Kota Batu, yang dahulunya adalah wilayah administratif berupa kecamatan yang kemudian berdiri mandiri sebagai Kota Pariwisata.</p>



<p>Disampaikan oleh tangan pertama penjual es campur, yaitu Muhammad Said, 85 tahun, bahwa awal keberadaan es campur miliknya sudah ada tatkala Kota Batu, masih menjadi desa atau kecamatan. Di mana kala itu, tempatnya berjualan adalah di sekitar Pasar Batu, atau sekarang sudah berubah menjadi Alun-alun Kota Batu.</p>



<p>&#8220;Awal jualan es campur ini, yakni ketika saat itu saya masih berusia 16 tahun. Kala itu, modal untuk usaha ini dirintis dengan modal sekitar Rp 1.000. Pertama berjualan, yaitu di Pasar Batu pada tanggal 7 Agustus 1954,&#8221; terang Mbah Said-sapaan pria lanjut yang berdomisili di Jalan Lesti, Kota Batu, Minggu (02/07/2023) tadi.</p>



<p>Sedangkan, tambahnya, seiring perkembangan pembangunan atau di tahun 1973, Pasar Batu kala itu harus dibongkar untuk direnovasi. Sehingga, usahanya sempat berpindah untuk sementara waktu, sebelum akhirnya kembali berjualan tatkala renovasi sudah selesai.</p>



<p>Hanya saja, cerita Mbah Said, tidak sampai berusia 10 tahun atau sekitar 5 Februari 1982, Pasar Batu terkena musibah kebakaran. Sehingga, semua pedagang harus dipindahkan ke lahan relokasi.</p>



<p>&#8220;Setelah kejadian kebakaran di Pasar Batu tahun 1982, tepatnya habis Pemilu, saya dipindahkan ke lahan relokasi. Sampai pada akhirnya atau sejak tahun 1985, saya memilih untuk tetap berjualan di depan Gang Kauman ini,&#8221; jelasnya.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Sejak awal berjualan es campur, papar Mbah Said, racikan es campur miliknya tidak pernah lepas dari kombinasi agar-agar, ketan hitam, kacang hijau, kemudian tape. Termasuk, mutiara ditambah roti yang ditaburi susu kental manis dan sirup. Sejumlah sajian menarik itu, diberikannya kepada konsumen dengan belajar otodidak. Sehingga, seiring perkembangan zaman masih bisa bertahan hingga sekarang.</p>



<p>Meski kala itu Kota Batu lumayan atau sangat dingin, imbuhnya, namun varian kombinasi dari ketan hitam dan tape, membuat es yang disajikan tidak sepenuhnya menjadi dingin ke tubuh. Namun, juga sedikit membuat hangat karena dua kombinasi makanan tersebut.</p>



<p>Untuk harga sendiri, meski sejumlah bahan-bahan kini terus merangkak naik, namun tidak membuat Mbah Said secara serta menaikkan harga. Sebaliknya, dari sajian es campur nan menggoda itu, dirinya menjual dengan harga Rp 6 ribu permangkuk. Bahkan, dari kerja kerasnya ini pula, akhirnya bisa membiayai sekolah dua anaknya hingga membuatnya kini memiliki lima cucu.</p>



<p>Masih menurut Mbah Said, meskipun harga es campur miliknya terbilang murah, namun dirinya tetap bersyukur. Apalagi, perharinya masih bisa memperoleh pendapatan kotor hingga Rp 200 ribu. Dan, kalaupun bisa ramai sekali, maka bisa di angka hingga Rp 600 ribu.</p>



<p>&#8220;Pendapatan sebenarnya nggak mesti. Tapi yang penting adalah sabar. Karena, sejak tahun 1954, es campur saya ini bisa bertahan dan melayani banyak orang, sudah alhamdulillah. Ini pelajaran untuk menjalani hidup,&#8221; paparnya.</p>



<p>Meski di usianya yang sudah lanjut, namun kelincahan Mbah Said saat melayani pelanggan, pun masih terlihat gesit dan lincah. Walau terkadang tangannya terlihat tampak bergetar saat memegang mangkok, namun semua konsumen terlayani dengan sabar. Mbah Said sendiri, membuka usaha esnya sejak sekitar pukul 09.00 hingga 20.00. <strong>(put/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">192294</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Hari Bhayangkara Ke-77, Mbah Sriana dapat Bangunan Rumah Baru dari Polresta Malang Kota</title>
		<link>https://memontum.com/hari-bhayangkara-ke-77-mbah-sriana-dapat-bangunan-rumah-baru-dari-polresta-malang-kota</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 2]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 30 Jun 2023 09:30:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hukum & Kriminal]]></category>
		<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[android]]></category>
		<category><![CDATA[bangunan]]></category>
		<category><![CDATA[baru]]></category>
		<category><![CDATA[bhayangkara]]></category>
		<category><![CDATA[dapat]]></category>
		<category><![CDATA[dari]]></category>
		<category><![CDATA[hari]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[ke-77,]]></category>
		<category><![CDATA[kota]]></category>
		<category><![CDATA[kriminal]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>
		<category><![CDATA[mbah]]></category>
		<category><![CDATA[polresta]]></category>
		<category><![CDATA[rumah]]></category>
		<category><![CDATA[sriana]]></category>
		<category><![CDATA[uncategorized]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=192186</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Wajah bahagia terpancar dari Nenek Sriana (75), warga Jalan Bandulan Gang IV RT09 RW03, Kecamatan Sukun, Kota Malang, saat didatangi Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol Budi Hermanto, Jumat (30/06/2023) siang. Bagaimana tidak, menjelang Hari Bhayangkara Ke-77, dirinya mendapat bangunan baru hasil Program Bedah Rumah Polresta Malang Kota. Proses pembangunannya sendiri, terbilang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Wajah bahagia terpancar dari Nenek Sriana (75), warga Jalan Bandulan Gang IV RT09 RW03, Kecamatan Sukun, Kota Malang, saat didatangi Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol Budi Hermanto, Jumat (30/06/2023) siang. Bagaimana tidak, menjelang Hari Bhayangkara Ke-77, dirinya mendapat bangunan baru hasil Program Bedah Rumah Polresta Malang Kota.</p>



<p>Proses pembangunannya sendiri, terbilang cukup cepat. Sebab pada Jumat (16/06/2023) lalu, rumahnya masih rata dengan tanah dan sekarang sudah berdiri kokoh menjadi bangunan layak huni.</p>



<p>Janda istri pensiunan polisi ini, sama sekali tidak menyangka di masa tuanya bakal memiliki bangunan rumah baru. Apalagi, perabotannya seperti beberapa kasur springbed dan beberapa barang lainnya, juga dibawakan langsung oleh Kombes Pol Budi Hetmanto dan anggota.</p>



<p>Nenek Sriana terlihat tidak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang perduli dengannya. &#8220;Almarhum suami saya dahulu, adalah polisi di Malang. Saya sangat bahagia. Terima kasih kepada Pak Kapolresta dan pihak-pihak yang telah peduli dengan saya,&#8221; ujarnya.</p>



<p><strong>Baca juga:</strong></p>





<p>Rasa bahagia juga dirasakan pasangan Roni Wijaya (45) dan Widyawati (30), yang rumahnya juga berada tidak jauh dari Nenek Sriana. Dirinya juga memiliki bangunan rumah baru dari Program bedah rumah Polresta Malang Kota.</p>



<p>Bahkan, Widyawati terlihat beberapa kali meneteskan air mata saat bertemu dengan Kombes Pol Budi Hermanto dan beberapa pihak swasta yang ikut membangunkan rumahnya. Sehingga, sekarang menjadi rumah layak huni yang lebih baik.</p>



<p>Kebahagiaan serupa, juga dirasakan Suwadi, warga Jalan Klayatan Gang III, Kecamatan Sukun, Kota Malang. Dirinya terlihat bahagia saat didatangi Kombes Pol Budi Hermanto. Pria ini, juga mendapatkan program bedah rumah. Kini, rumahnya terlihat kokoh dengan berisikan barang-barang baru.</p>



<p>Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol Budi Hermanto, mengatakan bahwa bedah rumah yang dilakukan adalah rangkaian Hari Bhayangkara Ke-77. Kegiatan itu adalah hasil kerja sama pihak kepolisian dan beberapa pihak swasta.</p>



<p>&#8220;Ada tiga bedah rumah. Rumah Pak Suwadi sudah selesai 100 persen. Rumah Bu Sriana masih kurang pada MCK. Lalu, rumah Pak Roni sudah selesai dan tinggal mengeluarkan barang-barangnya yang lama. Untuk Masjid yang di Klayatan Gang III, akan dilakukan pengecoran di bagian atap,&#8221; jelas Kombes Pol Budi Hermanto.</p>



<p>Ditambahkannya, bahwa pihaknya juga sangat memperhatikan ventilasi rumah. Memastikan rumah tersebut layak huni dan menjadi rumah sehat. &#8220;Kami membangun bukan karena rumah mereka sebelumnya tidak layak, namun kami bangun agar lebih sehat,&#8221; jelasnya. <strong>(gie)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">192186</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
