<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>memengan &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/memengan/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Sat, 26 Jul 2025 13:04:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>memengan &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Dorong Anak Berkarakter, Pemkab Banyuwangi Gelar Festival Memengan Tradisional</title>
		<link>https://memontum.com/dorong-anak-berkarakter-pemkab-banyuwangi-gelar-festival-memengan-tradisional</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 26 Jul 2025 08:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Banyuwangi]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[berkarakter,]]></category>
		<category><![CDATA[dorong]]></category>
		<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[memengan]]></category>
		<category><![CDATA[Pemkab]]></category>
		<category><![CDATA[tradisional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=224350</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Banyuwangi &#8211; Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi menggelar Festival Memengan (Mainan) Tradisional di RTH Maron, Genteng, Kabupaten Banyuwangi, Sabtu (26/07/2025) tadi. Festival yang dilaksanakan dalam momen Hari Anak Nasional, ini sebagai bentuk kampanye agar anak banyak beraktivitas fisik dan menguatkan karakter anak. Festival sendiri, mengusung tema &#8216;7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat&#8217;, dari kebiasaan positif anak [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Banyuwangi</strong> &#8211; Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi menggelar Festival Memengan (Mainan) Tradisional di RTH Maron, Genteng, Kabupaten Banyuwangi, Sabtu (26/07/2025) tadi. Festival yang dilaksanakan dalam momen Hari Anak Nasional, ini sebagai bentuk kampanye agar anak banyak beraktivitas fisik dan menguatkan karakter anak.</p>



<p>Festival sendiri, mengusung tema &#8216;7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat&#8217;, dari kebiasaan positif anak mulai bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat, gemar belajar, bermasyarakat dan tidur tepat waktu. Di gelaran itu, ratusan anak-anak terlihat ceria memainkan permainan tradisional seperti Egrang Batok, Egrang Bambu dan Terompah (teklek panjang).</p>



<p>“Seru banget main terompah bareng teman-teman. Kuncinya harus kompak,” kata peserta dari SDN 1 Jambesari, Luna.</p>



<p>Suasana makin meriah, saat kelompok-kelompok peserta menampilkan atraksi budaya dalam sebuah defile. Masing-masing mengusung tema permainan khas anak tempo dulu. Mereka terlihat senang dan ceria, dalam membawakan aneka permainan. Mulai dari balap pelek, balap complong, lompat tali, bedil-bedilan, hula hoop, jaranan, gamelan, kapal-kapalan, terompet dan permainan tradisional lainnya.</p>



<p>Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, mengatakan bahwa anak-anak saat ini cenderung kurang beraktivitas fisik. Sebaliknya, anak lebih banyak bermain gadget.</p>



<p>Bahkan Bupati Ipuk mengutip data dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), bahwa lebih dari dua juta anak di Indonesia aktif bermain gim daring. Sementara, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga mencatat sekitar 30 persen anak mengalami kecanduan gim dan judi online.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>“Digitalisasi tak bisa dihindari, tapi harus diimbangi dengan penguatan karakter dan budaya lokal. Jangan sampai anak kita hanya akrab dengan gim digital, tapi lupa dengan akar budayanya,” kata Bupati Ipuk.</p>



<p>Oleh karena itu, dirinya menyebut Pemkab Banyuwangi terus berupaya mengurangi pemakaian gadget pada anak, salah satunya dengan menggelar Festival Memengan. Karena, permainan tradisional bisa menjadi media edukasi yang menyenangkan bagi anak.</p>



<p>“Kita ingin anak-anak kita tidak hanya mengenal budaya digital, tapi juga cinta budaya lokal. Festival ini menjadi ruang mereka belajar sportivitas, jujur, berempati, hingga leadership. Dan yang penting mereka juga banyak bergerak, beraktivitas fisik. Ini sangat baik untuk kesehatan mereka,&#8221; ujar Bupati Ipuk.</p>



<p>Dirinya juga mendorong, permainan tradisional ini tidak hanya berhenti di festival saja. Tapi, dirinya meminta agar seluruh sekolah dan orang tua di rumah juga mengajak anak-anaknya untuk bermain permainan tradisional.</p>



<p>“Semua ini butuh dukungan terutama dari orang tua. Orang tua juga harus mengajarkan kepada anak-anaknya dalam kehidupan sehari-hari di rumah,” papar Bupati Ipuk.</p>



<p>Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi, Suratno, menambahkan bahwa Festival Memengan ini digelar dalam rangkaian memperingati Hari Anak Nasional. Permainan tradisional ini, juga diikuti serentak seluruh SD di Banyuwangi secara daring. Totalnya, ada 900 siswa dari 25 kecamatan.</p>



<p>“Di Jawa Timur hanya Banyuwangi yang memiliki permainan (Memengan) tradisional semacam ini. Mudah-mudahan ini bisa menjadi inspirasi bagi daerah lain,” ungkapnya. <strong>(kom/bwi/gie)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">224350</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kurangi Pemakaian Gadget, Pemkab Banyuwangi Gelar Festival Memengan Tradisional</title>
		<link>https://memontum.com/kurangi-pemakaian-gadget-pemkab-banyuwangi-gelar-festival-memengan-tradisional</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 27 Jul 2024 11:10:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Banyuwangi]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[gadget]]></category>
		<category><![CDATA[kurangi]]></category>
		<category><![CDATA[memengan]]></category>
		<category><![CDATA[pemakaian]]></category>
		<category><![CDATA[Pemkab]]></category>
		<category><![CDATA[tradisional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=212344</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Banyuwangi &#8211; Mengusung tema &#8216;Tinggalen Gadget Iro, Ayo Memengan Nang Njobo (Tinggalkan Gadgetmu, Ayo Main di Luar)&#8217;, Pemkab Banyuwangi terus berupaya mengurangi pemakaian gadget pada anak dengan menggelar Festival Memengan (permainan, red) Tradisional, di Lapangan Lugjak, Rogojampi, Sabtu (27/07/2024) tadi. Dalam kesempatan itu, ratusan anak-anak yang terlibat nampak terlihat ceria saat memainkan berbagai permainan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Banyuwangi</strong> &#8211; Mengusung tema &#8216;Tinggalen Gadget Iro, Ayo Memengan Nang Njobo (Tinggalkan Gadgetmu, Ayo Main di Luar)&#8217;, Pemkab Banyuwangi terus berupaya mengurangi pemakaian gadget pada anak dengan menggelar Festival Memengan (permainan, red) Tradisional, di Lapangan Lugjak, Rogojampi, Sabtu (27/07/2024) tadi.</p>



<p>Dalam kesempatan itu, ratusan anak-anak yang terlibat nampak terlihat ceria saat memainkan berbagai permainan tradisional seperti egrang bambu, terompah, egrang batok, gobak sodor, dan lainnya. Termasuk, sejumlah orang tua juga tidak kalah antusias, dalam memberikan semangat dan arahan di euforia permainan.</p>



<p>&#8220;Seru banget! Aku baru pertama kali main Egrang Bambu. Susah tapi asyik,&#8221; kata siswi SDN 1 Lemahbangdewo, Rani (10) dengan napas tersengal-sengal.</p>



<p>Kemeriahan acara semakin terasa, dengan adanya defile yang menampilkan aksi permainan tradisional lain. Seperti Bedhil-Bedhilan, Kucing Tikus, Barong, Balap Karung, Hoola Hoop, Terompet, Jaranan, Pesawat Kertas, Pal-palan dan masih banyak lagi.</p>



<p>Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, mengatakan bahwa festival ini rutin digelar sebagai upaya mengajak anak-anak untuk memilih permainan tradisional yang banyak gerak, dibanding gadget. Mereka dikenalkan aneka permainan tradisional dengan harapan agar anak-anak tidak hanya terpaku pada gadget dan lebih banyak interaksi dengan sesama.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>&#8220;Yang tidak kalah penting, permainan tradisional juga sebagai upaya untuk mengurangi pengaruh gadget. Permainan tradisional memiliki nilai-nilai positif mengajak anak-anak saling bekerjasama, meningkatkan empati, menghormati aturan main dan bisa menghadapi tantangan,&#8221; jelas Bupati Ipuk.</p>



<p>Dirinya juga menekankan pentingnya melestarikan dan menghidupkan kembali permainan tradisional, yang mungkin sudah mulai dilupakan oleh generasi saat ini. &#8220;Ini adalah warisan budaya. Bukan hanya soal permainan, tetapi juga tentang menjaga keakraban, sportivitas dan kreativitas,&#8221; terangnya.</p>



<p>Pada kesempatan itu, Bupati Ipuk juga mengingatkan kepada para orang tua untuk bersama-sama melindungi anak-anak dari bullying. &#8220;Kebijakan dan regulasi kami optimalkan penuh untuk melindungi anak. Mari kita samakan tekad, bergandengan tangan bersama lindungi anak-anak kita,&#8221; paparnya.</p>



<p>Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi, Suratno, menambahkan bahwa festival yang digelar ini dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional. Karenanya, salah satu upaya yang dilakukan yaitu dengan mendukung gerakan sekolah sehat dengan mengurangi permainan anak berbasis gawai dan lebih ke permainan fisik.</p>



<p>&#8220;Melalui permainan tradisional, anak-anak diajak untuk aktif bergerak, bersosialisasi dan mengeksplorasi dunia luar dengan cara yang menyenangkan,&#8221; tambah Suratno. <strong>(kom/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">212344</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Peringati Hari Anak Nasional, Bupati Banyuwangi Ajak Ribuan Anak Memengan Permainan Tradisional</title>
		<link>https://memontum.com/peringati-hari-anak-nasional-bupati-banyuwangi-ajak-ribuan-anak-memengan-permainan-tradisional</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 22 Jul 2023 04:40:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Banyuwangi]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[ajak]]></category>
		<category><![CDATA[anak,]]></category>
		<category><![CDATA[bupati]]></category>
		<category><![CDATA[hari]]></category>
		<category><![CDATA[memengan]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[peringati]]></category>
		<category><![CDATA[permainan]]></category>
		<category><![CDATA[ribuan]]></category>
		<category><![CDATA[tradisional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=193991</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Banyuwangi &#8211; Ribuan anak nampak bermain bersama di Taman Blambangan Banyuwangi, dalam tajuk &#8216;Festival Permainan Tradisional&#8217;, Sabtu (22/07/2023) tadi. Sejumlah anak-anak itu, bermain atau dalam Bahasa Osing, disebut Memengan aneka permainan tradisional. Seperti halnya Enggrang Bambu, Enggrang Batok, Balap Karung, Congklak, Gobak Sodor dan lain sebagainya, adalah mainan tradision. Suasana meriah tersebut, adalah bagian [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong><a href="http://memontum.com" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Memontum</a> Banyuwangi</strong> &#8211; Ribuan anak nampak bermain bersama di Taman Blambangan Banyuwangi, dalam tajuk &#8216;Festival Permainan Tradisional&#8217;, Sabtu (22/07/2023) tadi. Sejumlah anak-anak itu, bermain atau dalam Bahasa Osing, disebut Memengan aneka permainan tradisional.</p>



<p>Seperti halnya Enggrang Bambu, Enggrang Batok, Balap Karung, Congklak, Gobak Sodor dan lain sebagainya, adalah mainan tradision. Suasana meriah tersebut, adalah bagian dalam rangka peringatan Hari Anak Nasional (HAN) yang jatuh setiap 23 Juli nanti.</p>



<p>Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, mengungkapkan bahwa aneka permainan tradisional itu patut dilestarikan. Selain sebagai khazanah kebudayaan, juga menjadi medium edukasi yang efektif untuk melatih kebersamaan dan kebahagiaan.</p>



<p>&#8220;Esensi pendidikan adalah mewujudkan kebahagiaan. Sisi ini tak boleh diabaikan. Untuk itu, perlu anak-anak diajak bermain dan diajarkan filosofi di balik permainan tersebut. Seperti halnya kebersamaan, gotong royong dan lain sebagainya,&#8221; katanya.</p>



<p>Dengan mengenalkan aneka permainan tradisional kepada anak-anak tersebut, ujar Bupati Ipuk, diharapkan bisa menjadi alternatif dari aneka permainan modern yang berbasis gadget. Dimana dalam sejumlah riset tak sedikit memberikan ekses negatif.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>“Ini membuat anak lebih sehat. Saraf motoriknya terlatih. Juga harus kompak dan disiplin kalau mau menang,” ujar Bupati Ipuk seusai mencoba permainan Bakiak dan bola bekel bersama anak-anak.</p>



<p>Selain ada sejumlah cabang permainan tradisional yang dilombakan, juga terdapat kirab defile dari masing-masing kontingen yang berasal dari Unit Pembantu Teknis Dinas (UPTD) Dispendik se Kabupaten Banyuwangi. Ada 25 defile yang menyajikan aneka permainan dan kekhasan dari masing-masing kecamatannya.</p>



<p>Ada yang menampilkan permainan jaran kepang, engklek, bedil-bedilan, congklak, tarik tambang dan lain sebagainya. Dipadu dengan gerak teatrikal dan musik dari beragam tetabuhan sederhana. Tak pelak penampilan mereka banyak mengundang tawa para penonton.</p>



<p>“Kegiatan ini saya kira sangat tepat dalam mengkampanyekan tentang kesehatan pada anak. Mereka bisa bermain sekaligus bisa didorong mengasah kreativitas,” ujar Plt Direktur PAUD Kemendikbud RI, Komalasari yang turut menyaksikan acara tersebut.</p>



<p>Para siswa tanpak memainkan setiap permainan dengan suka cita. &#8220;Ternyata memang asyik bisa membuat mainan sendiri lalu dimainkan bareng-bareng. Tidak hanya handphone saja yang asyik,&#8221; kata siswa yang bermain serompetan (terompet). Perlu diketahui, Festival Memengan atau Permainan Tradisional ini telah digelar setiap tahun di Kabupaten Banyuwangi. Melibatkan ribuan anak didik setingkat Sekolah Dasar. <strong>(kom/gie)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">193991</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
