<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>MMI &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/mmi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Mon, 10 May 2021 09:14:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>MMI &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Wali Kota Malang Apresiasi Buku &#8216;Empat Dekade Sejarah Musik Kota Malang Era 60-90&#8217;</title>
		<link>https://memontum.com/wali-kota-malang-apresiasi-buku-empat-dekade-sejarah-musik-kota-malang-era-60-90</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum Editorial Team 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 10 May 2021 09:14:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pemerintahan]]></category>
		<category><![CDATA[Berita hari ini]]></category>
		<category><![CDATA[kota malang]]></category>
		<category><![CDATA[MMI]]></category>
		<category><![CDATA[sutiaji]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=142360</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Museum Musik Indonesia (MMI) tak henti-hentinya memperkenalkan musisi asli Kota Malang yang legendaris pada masyarakat. Kali ini melalui launching buku Empat Dekade Sejarah Musik Kota Malang Era 60-90 yang ditulis oleh Arief Wibisono, MMI kembali mengajak untuk tak melupakan sejarah Kota Malang. Hal tersebut diapresiasi oleh Wali Kota Malang, Sutiaji, yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang </strong>&#8211; Museum Musik Indonesia (MMI) tak henti-hentinya memperkenalkan musisi asli Kota Malang yang legendaris pada masyarakat. Kali ini melalui launching buku Empat Dekade Sejarah Musik Kota Malang Era 60-90 yang ditulis oleh Arief Wibisono, MMI kembali mengajak untuk tak melupakan sejarah Kota Malang.</p>



<p>Hal tersebut diapresiasi oleh Wali Kota Malang, Sutiaji, yang turut melaunching buku tersebut, Senin (10/05). &#8220;Dengan keinginan dan visi yang sama, ini menjadi kekuatan yang luar biasa. Sehingga saya mengucapkan terimakasih pada MMI, penulis, maupun penerbit yang telah berkolaborasi membuat karya yang luar biasa ini,&#8221; ungkapnya.</p>



<p class="has-text-color" style="color:#0700a3"><strong><span style="text-decoration: underline">Baca juga:</span></strong></p>


<ul class="wp-block-latest-posts__list is-grid columns-3 wp-block-latest-posts"><li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/pemkot-dan-dprd-kota-malang-jemput-dukungan-pusat-untuk-penanganan-pasar-besar">Pemkot dan DPRD Kota Malang Jemput Dukungan Pusat untuk Penanganan Pasar Besar</a></li>
<li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/bupati-lumajang-pastikan-pembangunan-kkdmp-berjalan-tertib-dan-memiliki-kepastian-hukum">Bupati Lumajang Pastikan Pembangunan KKDMP Berjalan Tertib dan Memiliki Kepastian Hukum</a></li>
<li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/bahas-masalah-incenerator-waste-to-energy-bupati-malang-audensi-bersama-rektor-universitas-brawijaya">Bahas Masalah Incenerator Waste To Energy, Bupati Malang Audensi bersama Rektor Universitas Brawijaya</a></li>
</ul>


<p>Bagi orang nomor satu di jajaran Pemerintah Kota (Pemkot) Malang itu, penulis dan penggagas buku ini patut diapresiasi. Pasalnya, menulis sejarah tidak sama halnya dengan menulis buku lainnya.</p>



<p>&#8220;Ketika menulis sejarah kan pasti harus diuji bagaimana faktualisasinya dari berbagai narasumber. Nah ini bisa menjadi dokumentasi di masa depan,&#8221; jelasnya.</p>



<p>Dengan adanya buku sejarah permusikan di Kota Malang ini, diharapkan Sutiaji mampu membuat generasi muda lebih menghargai akan karya. Terlebih saat ini, menurutnya sudah terjadi degradasi moral di kalangan anak muda.</p>



<p>&#8220;Banyak anak jaman sekarang yang kurang menghargai orang lain. Oleh karena itu saya harap dengan hadirnya buku ini, mereka tau kalau di Kota Malang pernah jadi barometer musik Indonesia. Sehingga kedepannya bisa menghasilkan musisi-musisi Kota Malang yang berkualitas dan bisa berprestasi hingga internasional,&#8221; tegas Wali Kota.</p>



<p>Senada dengan hal tersebut, penulis buku, Arief Wibisono, pun mengatakan bahwa Kota Malang sempat mendapat julukan Kota Barometer Musik di Indonesia.</p>



<p>&#8220;Dimana yang menjadi patokan barometer adalah tingginya kepekaan selera musik arek–arek Malang pada saat itu,&#8221; katanya.</p>



<p>Empat Dekade Sejarah Musik Kota Malang Era 60 – 90 baginya adalah sebuah kumpulan data dokumentasi sejarah musik yang dimiliki Kota Malang. Mulai peradaban musik dari genre pop ke musik rock sampai tempat gedung pertunjukan semua terdata dengan jelas.</p>



<p>&#8220;Perjalanan mahal tentang karya seniman musik Kota Malang kalau tidak dibukukan secara otentik akan muncul sebuah dongeng usang buat generasi berikutnya,&#8221; ujar Arief Wibisono. <strong>(hms/mus/ed2)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">142360</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Gelar Pojok Karya, MMI Tampilkan Musisi Wanita Legendaris Kota Malang</title>
		<link>https://memontum.com/gelar-pojok-karya-mmi-tampilkan-musisi-wanita-legendaris-kota-malang</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum Editorial Team 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 24 Apr 2021 09:25:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[Berita hari ini]]></category>
		<category><![CDATA[kota malang]]></category>
		<category><![CDATA[MMI]]></category>
		<category><![CDATA[Museum Musik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[pojok karya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=141110</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Museum Musik Indonesia (MMI) kembali persembahkan Pojok Karya yang berlangsung hingga 30 April 2021 di Lobi Balai Kota Malang. Kali ini Pojok Karya digelar dengan tema perempuan karena dalam rangka memeriahkan Hari Kartini. Ketua MMI, Hengki Herwanto, mengatakan bahwa Pojok Karya ini oleh MMI semaksimal mungkin akan dibuat rutin acaranya. Baca [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Museum Musik Indonesia (MMI) kembali persembahkan Pojok Karya yang berlangsung hingga 30 April 2021 di Lobi Balai Kota Malang. Kali ini Pojok Karya digelar dengan tema perempuan karena dalam rangka memeriahkan Hari Kartini.</p>



<p>Ketua MMI, Hengki Herwanto, mengatakan bahwa Pojok Karya ini oleh MMI semaksimal mungkin akan dibuat rutin acaranya.</p>



<p><strong>Baca juga:</strong></p>


<ul class="wp-block-latest-posts__list is-grid columns-3 wp-block-latest-posts"><li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/pemkot-dan-dprd-kota-malang-jemput-dukungan-pusat-untuk-penanganan-pasar-besar">Pemkot dan DPRD Kota Malang Jemput Dukungan Pusat untuk Penanganan Pasar Besar</a></li>
<li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/bupati-lumajang-pastikan-pembangunan-kkdmp-berjalan-tertib-dan-memiliki-kepastian-hukum">Bupati Lumajang Pastikan Pembangunan KKDMP Berjalan Tertib dan Memiliki Kepastian Hukum</a></li>
<li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/bahas-masalah-incenerator-waste-to-energy-bupati-malang-audensi-bersama-rektor-universitas-brawijaya">Bahas Masalah Incenerator Waste To Energy, Bupati Malang Audensi bersama Rektor Universitas Brawijaya</a></li>
</ul>


<p>&#8220;Pojok Karya akan menjadi kegiatan rutin kami, tiap dua minggu display foto dan poster di Lobi Balaikota akan kami ganti. Pastinya sesuai dengan momen peringatan di periode waktu tersebut,&#8221; ungkapnya ketika dihubungi melalui sambungan telepon, Sabtu (24/04).</p>



<p>Profil delapan tokoh wanita Kota Malang yang memiliki prestasi dalam bidang musik pun terpajang apik. Berharap setiap tamu yang mengunjungi Balaikota bisa mampir melihat dan membaca sejarah singkat prestasi para warganya yang luar biasa.</p>



<p>&#8220;Pastinya karena memperingati Hari Kartini, MMI memasang seniman Kota Malang wanita. Kita ingin memperkenalkan prestasi seniman perempuan warga Kota Malang khususnya dalam seni dan budaya ini adlah minimal usaha yang dilakukan MMI untuk mengenalkan seniman perempuan yang perlu diketahui oleh masyarakat. Oleh karena itu, karya dan foto-foto mereka kita pajang di Balaikota, agar tiap tamu yang datang diharapkan bisa melihat, membaca, dan mengetahui,&#8221; paparnya.</p>



<p>Disampaikan Hengki, ke 8 tokoh seniman yang kami pilih ini karene mereka memilik karya dan prestasi yang bisa dibanggakan selain memiliki prestasi musik yang luar biasa, tokoh-tokoh ini dipilih karena karya mereka juga dikoleksi oleh MMI.</p>



<p>&#8220;Pertimbangan kami, karena 8 tokoh ini berkarya dan sebagian karya mereka ada di MMI. Intinya kedelapan tokoh ini punya karya, perempuan, berangkat dari Kota Malang, dan beberapa karyanya tersimpan di MMI,&#8221; bebernya.</p>



<p>Kedelapannya adalah Anggar, Sadhana Devi, Kartika Cahaya Arisanti, Laily Dimjathie, Marini, Mira Tania, Nova Ruth, dan Tiga Nada.</p>



<p>&#8220;Anggar ini adalah penyanyi yang multi genre dan prestasinya hingga tingkat internasional. Salah satunya adalah ketika dia tergabung dalam Duo Etniholic, menjadi 1st degree mixed category (vocal-instrumen) sopravista Festival Italy,&#8221; ceritanya.</p>



<p>Kemudian Sadhana Devi, penyanyi wanita asli Malang yang pernah menjadi pengisi suara sound track film Catatan Si Boy (Cabo) 2 tahun 1990. Dimana dijelaskan Hengki, musisi yang sampai saat ini masih aktif berkarya lewat Youtube itu, pernah mengeluarkan album pertama Arema Voice berjudul Tegar yang menjadi salah satu Lagu kebangsaan Aremania.</p>



<p>&#8220;Kalau Kartika Cahaya Arisanti adalah seniman muda berusia 20 tahunan yang memilih profesi sebagai sinden. Lalu ada juga profil dari Almarhumah Laily Dimjathie, musisi Indonesia era60-an. Karyanya yang paling hits adalah Bunga Flamboyan,&#8221; kata Hengki.</p>



<p>Selanjutnya ada Kanjeng Raden Ayu Soemarini Soerjosoemarno, atau yang lebih dikenal dengan Marini. Dijelaskan Hengki, dia adalah musisi sekaligus bintang film yang memulai karirnya sebagai penyanyi pada tahun 1962.</p>



<p>&#8220;Pada tahun 1975, Marini bermain dalam film Cinta besutan sutradara Wim Umboh. Setahun berikutnya, dia mendapat penghargaan sebagai Pendatang Baru Terbaik dalam Festival Film Indonesia 1976 di Bandung. Berkat film itu pula, Marini mendapat penghargaan internasional berupa Twin Lion Award dalam Festival Film di Pusan Korea Selatan sebagai The Excellent Actress,&#8221; ujar Hengki.</p>



<p>Berikutnya ada Mira Tania, penyanyi asli Malang di era 80-an yang hijrah ke Jakarta untuk mengembangkan karirnya. Profil seniman selanjutnya ada arek Klojen yang telah menjelajahi Laut Karibia dan Samudera Pasifik membawa misi pelestarian lautan dan pertukaran budaya melalui Kapal Arka Kinari. Dia adalah Nova Ruth.</p>



<p>&#8220;Nova Ruth berangkat dari Rotterdam bulan Agustus 2019, kapal layar yang ia naiki menyusuri pantai Afrika, Amerika Selatan, sampai berlabuh di Pulau Bali pada bulan Oktober 2020. Nova bersama suaminya, Grey Filastine, telah berkeliling dunia mementaskan karya musiknya yang memiliki bunyi-bunyian nusantara,&#8221; tutur Hengki.</p>



<p>Terakhir adalah group band rock cilik asal Kota Malang, Tiga Nada and Friends. Dikatakan Hengki personil group ini masih berusia 8 hingga 11 tahun.</p>



<p>&#8220;Awalnya mereka adalah teman-teman yang berkumpul dalam suatu sekolah music di Kota Malang. Awal mulanya mereka pernah membawakan berbagai jenis genre music, namun para punggawa cilik group ini lebih sreg dengan music rock. Bahkan mereka sempat viral membawakan lagu-lagu rock papan atas dari band legendaris seperti Metallica, Genesis hingga Nazareth,&#8221; beber Hengki. <strong>(mus/ed2)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">141110</post-id>	</item>
		<item>
		<title>MMI di HUT Ke-107 Kota Malang Sajikan 9 Tokoh Musisi pada Pojok Karya</title>
		<link>https://memontum.com/mmi-di-hut-ke-107-kota-malang-sajikan-9-tokoh-musisi-pada-pojok-karya</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum Editorial Team 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Apr 2021 07:55:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[Berita hari ini]]></category>
		<category><![CDATA[HUT Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[kota malang]]></category>
		<category><![CDATA[MMI]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=138938</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Museum Musik Indonesia (MMI) tak ingin ketinggalan memeriahkan HUT ke-107 Kota Malang. Dengan menggelar Pojok Karya bertajuk &#8216;Historical Iconia Musisi Bumi Arema&#8217;, MMI tak hanya berpartisipasi dalam rangkaian HUT Kota Malang. Melainkan juga sebagai bentuk apresiasi dan berbagi informasi mengenai tokoh-tokoh musik di Kota Malang. Digelar di Balai Kota Malang, Pojok [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Museum Musik Indonesia (MMI) tak ingin ketinggalan memeriahkan HUT ke-107 Kota Malang. Dengan menggelar Pojok Karya bertajuk &#8216;Historical Iconia Musisi Bumi Arema&#8217;, MMI tak hanya berpartisipasi dalam rangkaian HUT Kota Malang. Melainkan juga sebagai bentuk apresiasi dan berbagi informasi mengenai tokoh-tokoh musik di Kota Malang.</p>



<p>Digelar di Balai Kota Malang, Pojok Karya ini akan berlangsung hingga 14 April 2021 mendatang.</p>



<ul><li>Baca juga: <a href="https://memontum.com/138843-wali-kota-malang-beberkan-tiga-pr-pembangunan">Wali Kota Malang Beberkan Tiga PR Pembangunan</a></li></ul>



<p>Ketua MMI, Hengki Herwanto, mengatakan bahwa Pojok Karya ini menyajikan poster kumpulan foto-foto, karya, maupun album para musisi Kota Malang.</p>



<p>&#8220;Ada 9 musisi yang kami pilih, yaitu Ian Antono, Toto Tewel, Sylvia Saartje, Arema Voice, Donny Hardono, Anto Baret. Lalu ada juga Tani Maju, Kos Atos, dan Ria Enes,&#8221; ungkapnya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Sabtu (03/04).</p>



<p>Bukan tanpa sebab MMI memilih 9 musisi tersebut. Dijelaskan Hengki, nama-nama mereka ada di Buku Pokok Pikiran Kebudayaan Kota Malang. Dimana dokumen resmi pemerintah itu memiliki daftar-daftar nama seniman musik yang ada di kota Malang.</p>



<p>&#8220;Jadi ada sumber resmi dari Pemerintah Kota (Pemkot) Malang. Alasan kedua, kami punya koleksi mereka , karya-karya para musisi itu kita simpan di MMI,&#8221; tambahnya.</p>



<p>Sehingga dari sekian banyak musisi yang terdata di Buku Pokok Pikiran Kebudayaan Kota Malang dan karyanya dikoleksi oleh MMI, maka MMI melakukan rapat internal bersama staff. Dari meeting tersebut akhirnya ditetapkanlah 9 nama itu.</p>



<p>&#8220;Dengan adanya Pojok Karya di HUT ke-107, semoga Kota Malang makin maju kebudayaannya. Termasuk kebudayaan kesenian dan khususnya musiknya,&#8221; tegas Hengki.</p>



<p>Tak lupa dia juga berharap adanya apresiasi yang diperoleh seniman-seniman Kota Malang dari masyarakat maupun pemerintah.<strong> (mus/ed2)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">138938</post-id>	</item>
		<item>
		<title>MMI Rampungkan ‘Dokumentasi Sejarah Musik Populer di Indonesia Tahun 1967-1978’</title>
		<link>https://memontum.com/mmi-rampungkan-dokumentasi-sejarah-musik-populer-di-indonesia-tahun-1967-1978</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum Editorial Team 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 17 Dec 2020 11:00:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KREATIF MASYARAKAT]]></category>
		<category><![CDATA[Dokumentasi]]></category>
		<category><![CDATA[Katalog]]></category>
		<category><![CDATA[MMI]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Musik Populer]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun 1967-1978]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=130184</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang – Setelah diburu waktu yang singkat, akhirnya Museum Musik Indonesia (MMI) berhasil melaksanakan pekerjaan ‘Dokumentasi Sejarah Musik Populer di Indonesia Tahun 1967-1978’. Hal itu, disampaikan dalam konferensi pers di salah satu hotel di Kota Malang, Kamis (16/12) siang. Ketua MMI, Hengki Herwanto, merasa senang dan bersyukur karena telah terpilih dalam program FBK [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> – Setelah diburu waktu yang singkat, akhirnya Museum Musik Indonesia (MMI) berhasil melaksanakan pekerjaan ‘Dokumentasi Sejarah Musik Populer di Indonesia Tahun 1967-1978’. Hal itu, disampaikan dalam konferensi pers di salah satu hotel di Kota Malang, Kamis (16/12) siang.</p>
<p>Ketua MMI, Hengki Herwanto, merasa senang dan bersyukur karena telah terpilih dalam program FBK (Fasilitasi Bidang Kebudayaan). FBK merupakan upaya Pemerintah melalui Ditjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk membantu pembiayaan kegiatan pelaku budaya.</p>
<p>Dimana ini digalakkan dalam rangka Pemajuan Kebudayaan Indonesia. “Tahun 2020 ini proposal yang diterima sejumlah lebih dari 2000 buah dan yang berhasil lolos seleksi 129 proposal. Salah satunya adalah proposal yang diajukan oleh MMI,” kata pria yang akrab disapa Hengki ini.</p>
<p>Pekerjaan dokumentasi yang dilakukan MMI, sebenarnya cukup sederhana. Dimulai dengan menghimpun 200 edisi dari 8 majalah musik, yaitu Diskorina, Favorita, Paradiso, Junior, Star, Top, Varia Nada, dan Vista. “Semua majalah tersebut saat ini sudah tidak terbit lagi,” tuturnya.</p>
<p>Tahap selanjutnya adalah memindai (scan) semua halaman, yang kemudian halaman dalam satu edisi digabung dan dilengkapi dengan daftar isi. Lalu diunggah ke laman website MMI.</p>
<p>Tak ketinggalan buku katalog juga disediakan dalam jumlah terbatas yang berisi gambar cover dan daftar isi setiap edisi majalah. Dilengkapi pula dengan story telling dari 8 majalah dan petikan sejarah musik Indonesia pada tahun 1967-1978.</p>
<p>“Kegiatan pendokumentasian ini merupakan ikhtiar awal untuk mengumpulkan tulisan-tulisan sejarah musik yang bertebaran di berbagai media. Kegiatan yang mentransformasikan koleksi museum dari wujud fisik ke wujud digital setidaknya memiliki tiga manfaat,” jelasnya.</p>
<p>Manfaat itu antara lain, pertama untuk pelindungan informasi agar tetap terjaga keberadaannya. Kedua, daftar isi yang terdapat dalam laman MMI maupun catalog dapat menjadi bahan baku pangkalan data dalam Sistem Pendataan Kebudayaan Terpadu. Manfaat ketiga, informasi dapat diakses oleh masyarakat luas di seluruh wilayah dunia.</p>
<p>Pada kesempatan itu, turut hadir pula Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang , Dian Kuntari.</p>
<p>“Salah satu persyaratan mengikuti FBK adalah adanya rekomendasi dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) setempat, maka kewajiban kami untuk memberikan. Hal ini sesuai UU No 5 Tahun 2017, yaitu dengan memelihara kebudayaan yang ada,” tuturnya.</p>
<p>Ke depan, pihak Disdikbud akan menunjuk tiga instrumen, salah satunya adalah MMI untuk menjadi coach dari elemen kebudayaan di Kota Malang.</p>
<p>“Siapa tau ada elemen kebudayaan lain yang ingin mengikuti program dari Ditjen Kebudayaan,Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun depan. Ini bentuk kepedulian Pemerintah terhadap kemajuan kebudayaan di Kota Malang,” tandasnya. <strong>(cw1/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">130184</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Museum Musik Indonesia, Siap Arsipkan Majalah Musik dan Bantu Ambon sebagai Kota Musik Dunia</title>
		<link>https://memontum.com/museum-musik-indonesia-siap-arsipkan-majalah-musik-dan-bantu-ambon-sebagai-kota-musik-dunia</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 Jul 2020 10:18:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[MMI]]></category>
		<category><![CDATA[Museum Musik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Musik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/120171-museum-musik-indonesia-siap-arsipkan-majalah-musik-dan-bantu-ambon-sebagai-kota-musik-dunia</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Di Lantai dua Gedung Kesenian Gajayana Kota Malang, terdapat sebuah Museum Musik yang berdiri sejak tahun 2016. Sebelumnya telah dirintis mulai tahun 2009 dengan nama Galeri Malang Bernyanyi. Setelah itu diubah menjadi Museum Musik Indonesia pada tahun 2016 sampai sekarang. Jumat (24/7/2020) Hengky Herwanto, ketua MMI di sela-sela kesibukaannya mengungkapkan bahwa [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Di Lantai dua Gedung Kesenian Gajayana Kota Malang, terdapat sebuah Museum Musik yang berdiri sejak tahun 2016. Sebelumnya telah dirintis mulai tahun 2009 dengan nama Galeri Malang Bernyanyi. Setelah itu diubah menjadi Museum Musik Indonesia pada tahun 2016 sampai sekarang.</p>
<p>Jumat (24/7/2020) Hengky Herwanto, ketua MMI di sela-sela kesibukaannya mengungkapkan bahwa baru-baru ini UNESCO memberikan kepercayaan kepada MMI untuk mengarsipkan Majalah Aktuil yang terbit sekitar tahun 1967 sampai 1978 untuk di digitalisasi dan akan di share di website resmi MMI agar dapat di akses secara gratis oleh pecinta Musik di seluruh dunia.</p>
<p><img decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-120172" src="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/07/IMG-20200727-WA0180-copy.jpg?resize=740%2C555&#038;ssl=1" alt="" width="740" height="555" srcset="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/07/IMG-20200727-WA0180-copy.jpg?w=750&amp;ssl=1 750w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/07/IMG-20200727-WA0180-copy.jpg?resize=300%2C225&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/07/IMG-20200727-WA0180-copy.jpg?resize=600%2C450&amp;ssl=1 600w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/07/IMG-20200727-WA0180-copy.jpg?resize=200%2C150&amp;ssl=1 200w" sizes="(max-width: 740px) 100vw, 740px" data-recalc-dims="1" /></p>
<p>“Kita dapat bantuan dari UNESCO untuk digitalisasi majalah aktuil ini sekitar 200 majalah, rencana selesai pada bulan November dan ini masih lagi tahap pengerjaan,” terang ketua MMI Hengky Herwanto.</p>
<p>MMI sebagai salah satu museum musik yang berada di Kota Malang memiliki beragam koleksi mulai dari Rekaman, cetak, digital, instrumen hingga memorabelia seperti souvenir sampai kostum dan merchandise para musisi yang sangat bersejarah.</p>
<p>Untuk rekaman mempunyai tifa klasifikasi mulai kaset pita, CD hingga vinyl. Ketua MMI itu mengungkapkan bahwa sebagian besar koleksi di museum ini yaitu sumbangan dari masyarakat, pecinta musik, kolektor hingga seluruh dunia. “Disini sebagian kecil memang koleksi pribadi saya, tetapi sebagian besarnya lagi adalah sumbangan dari masyarakat seluruh dunia,” tambahnya.</p>
<p>Kedutaan Belanda pernah menyumbangkan 800 buah CD khusus penyanyi-penyanyi belanda untuk di taruh di Museum Musik Indonesia. Hal-hal lainnya juga ada dari pegiat musik lokal dan kolektor musik seluruh Indonesia yang juga perduli dengan Museum ini dan menyumbangkan banyak koleksinya untuk di pajang di museum.</p>
<p>Klasifikasi musik yang berada di museum sangat beragam. Tetapi dari awal MMI juga memfokuskan pada musik traditional seluruh indonesia yang sudah di bagi-bagi penempatannya. Ada juga beberapa alat musik traditional indonesia yang juga masih di mainkan oleh para musisi di MMI.</p>
<p>Bagi ketua MMI rilisan musik yang paling bersejarah yaitu milik Koes Bersaudara yaitu album yang di buat ketika grup Koes Bersaudara berada di dalam penjara setelah memainkan musik-musik Rock barat. “Kita punya rilisan fisiknya dan itu sangat bersejarah menurut saya karena ke unikan musik dan liriknya ketika dibuat di dalam penjara tersebut,” ungkapnya.</p>
<p>Tak sedikit musisi indonesia yang sering datang ke Museum Musik Indonesia diantara lain ada Ebiet G Ade, Krisdayanti, The Rollies, Ahmad Albar (Godbless), Grace Simon hingga Ryan D’Masiv. Tak hanya musisi lokal namun juga banyak dari musisi Indie luar negeri yang sempat berkunjung ke MMI dan memberikan beberapa koleksi nya untuk di tempatkan di museum ini.</p>
<p>Tak hanya penghargaan dari UNESCO, MMI juga membantu Kota Ambon untuk menjadi Kota Musik Dunia setelah Ambon di nobatkan oleh UNESCO sebagai Kota Musik. MMI membantu dari sisi dokumentasi musiknya, telah dikirimkan 100 kaset pita, 100 CD dan juga 100 Vinyl (piringan hitam) untuk menjadi pusat dokumentasi musik Nasional.</p>
<p>“Kita juga sudah mengerimkan banyak sekali dokumentasi musik dan rilisan kepada Kota Ambon sebagai pusat Kota Musik Dunia,” tambahnya.</p>
<p>MMI juga berharap kepada pemerintah agar bisa di fasilitasi lebih dari segi tempat, karena semakin banyaknya koleksi yang bertambah juga membutuhkan space ruang yang lebih meluas juga, “ya semoga pemerintah bisa membantu dari gedungnya, ini kan kami di pinjami pemerintah semoga nanti bisa di perluas di lantai duanya kalo bisa keseluruhan gedung kesenian ini karena semakin bertambahnya koleksi kami juga butuh space yang lebih luas untuk menata koleksi kita ini,” tutupnya. <strong>(mg1/yan)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">120171</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
