<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>nabati &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/nabati/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Sun, 17 May 2026 14:32:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>nabati &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Soroti Program MBG, Dokter Umum di Kota Malang Dorong Pemanfaatan Pangan Lokal dan Protein Nabati</title>
		<link>https://memontum.com/soroti-program-mbg-dokter-umum-di-kota-malang-dorong-pemanfaatan-pangan-lokal-dan-protein-nabati</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 16 May 2026 07:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[Dokter]]></category>
		<category><![CDATA[dorong]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>
		<category><![CDATA[nabati]]></category>
		<category><![CDATA[Pangan]]></category>
		<category><![CDATA[pemanfaatan]]></category>
		<category><![CDATA[program]]></category>
		<category><![CDATA[protein]]></category>
		<category><![CDATA[soroti]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=232437</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini turut menyasar Balita, mendapat perhatian dari kalangan tenaga medis. Dokter umum bersertifikasi pola makan nabati, Rochelle Vernique Siem, menilai penyusunan menu MBG masih perlu evaluasi, terutama dalam pemanfaatan pangan lokal dan sumber protein nabati. Menurutnya, komposisi makanan dalam program MBG dinilai belum sepenuhnya menyesuaikan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini turut menyasar Balita, mendapat perhatian dari kalangan tenaga medis. Dokter umum bersertifikasi pola makan nabati, Rochelle Vernique Siem, menilai penyusunan menu MBG masih perlu evaluasi, terutama dalam pemanfaatan pangan lokal dan sumber protein nabati.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurutnya, komposisi makanan dalam program MBG dinilai belum sepenuhnya menyesuaikan karakteristik masyarakat Indonesia, khususnya terkait pemberian susu sebagai salah satu menu utama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Sekitar 70 persen orang Asia, termasuk Indonesia, memiliki intoleransi laktosa. Jadi konsumsi susu setiap hari belum tentu cocok bagi semua anak,” ujar Rochelle, Sabtu (16/05/2026) tadi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dirinya menilai, Indonesia sebenarnya memiliki kekayaan sumber pangan lokal berbasis nabati yang melimpah, namun belum dimanfaatkan secara optimal dalam program pemenuhan gizi nasional. Bahkan, menurutnya di berbagai daerah Indonesia memiliki beragam jenis polong-polongan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Tempe saja masih dari kedelai semua, padahal sebenarnya bikin tempe itu bisa dari polong-polongan yang lain-lain. Buktinya kan kalau di pasar ada tempe kacang merah gitu kan, tempe kacang. Nah, itu kan belum dimanfaatkan secara maksimal,&#8221; tuturnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Baca juga :</strong></p>





<p class="wp-block-paragraph">Selain lebih sesuai dengan kondisi masyarakat, pangan nabati dinilai memiliki keunggulan dari sisi efisiensi biaya dan nilai gizi. Dirinya juga menyoroti, penggunaan ayam potong sebagai sumber protein hewani dalam penyediaan makanan massal yang dinilai perlu dikaji kembali dari aspek kualitas nutrisi dan metode produksi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Pola makan berbasis nabati masih kerap dipandang sebelah mata di Indonesia karena dianggap berisiko menyebabkan kekurangan gizi atau protein. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan kebutuhan gizi tetap dapat terpenuhi melalui kombinasi pangan nabati yang tepat,&#8221; tambahnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena itu, Rochelle mendorong adanya pelatihan bagi penyedia makanan MBG maupun pengambil kebijakan, baik di tingkat daerah maupun nasional, agar lebih memahami potensi pangan lokal berbasis nabati.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Perlu ada training bagi penyedia MBG dan pengambil kebijakan supaya pangan lokal dan protein nabati bisa lebih banyak dimasukkan dalam menu, demi kesehatan balita jangka panjang,” imbuhnya. <strong>(rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">232437</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Komunitas 21 Hari Vegan Edukasi Kader Posyandu Rampal Celaket Terapkan Pola Makan Nabati</title>
		<link>https://memontum.com/komunitas-21-hari-vegan-edukasi-kader-posyandu-rampal-celaket-terapkan-pola-makan-nabati</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Apr 2026 04:45:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[celaket]]></category>
		<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[nabati]]></category>
		<category><![CDATA[Posyandu]]></category>
		<category><![CDATA[rampal]]></category>
		<category><![CDATA[terapkan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=232026</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Komunitas 21 Hari Vegan menggelar Lokakarya Pola Makan Sehat Berbasis Nabati bagi kader Posyandu di Kelurahan Rampal Celaket, Kota Malang, Selasa (28/04/2026) tadi. Kegiatan tersebut, menjadi langkah awal edukasi pola konsumsi sehat sekaligus kampanye gaya hidup ramah lingkungan di tingkat masyarakat. Outreach Coordinator 21 Hari Vegan, Oktariani, mengatakan bahwa kegiatan tersebut [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Komunitas 21 Hari Vegan menggelar Lokakarya Pola Makan Sehat Berbasis Nabati bagi kader Posyandu di Kelurahan Rampal Celaket, Kota Malang, Selasa (28/04/2026) tadi. Kegiatan tersebut, menjadi langkah awal edukasi pola konsumsi sehat sekaligus kampanye gaya hidup ramah lingkungan di tingkat masyarakat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Outreach Coordinator 21 Hari Vegan, Oktariani, mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan pilot project di Kota Malang, sebelum nantinya akan diperluas ke sekolah-sekolah dan berbagai komunitas lainnya. Karena menurutnya, kampanye pola makan nabati dilatarbelakangi kekhawatiran terhadap perubahan iklim dan meningkatnya dampak lingkungan dari industri peternakan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kami ingin masyarakat memahami bahwa pilihan makanan juga berpengaruh pada keberlanjutan bumi,” kata Okta-sapaannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dikatakannya, bahwa komunitas 21 Hari Vegan memiliki dua fokus utama, yakni edukasi publik melalui pendampingan daring dan kolaborasi dengan institusi. Salah satunya melalui pembukaan grup WhatsApp selama tujuh hari untuk peserta yang ingin mencoba pola makan berbasis nabati.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Dalam grup tersebut peserta mendapatkan materi harian berupa resep makanan lokal, panduan praktis menjalani pola makan vegan, hingga sesi berbagi pengalaman bersama mentor yang telah menjalani gaya hidup vegan. Harapannya perubahan kecil pola makan bisa berdampak besar bagi kesehatan dan lingkungan,” tambahnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara itu, Dokter umum bersertifikasi gizi nabati, Rochelle Vernique Siem, menilai pola makan berbasis nabati sebenarnya memiliki dasar penelitian ilmiah yang kuat dalam pencegahan penyakit kronis. Menurutnya pola makan berbasis nabati tidak harus diterapkan secara ekstrem menjadi vegan penuh, melainkan dapat dimulai dengan konsep plant forward, yakni pola makan yang didominasi sumber pangan nabati namun tetap memperhatikan keseimbangan gizi.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Baca juga :</strong></p>





<p class="wp-block-paragraph">“Bisa diterapkan sejak bayi hingga lansia, tetapi harus disertai edukasi agar kebutuhan zat besi, kalsium, protein, dan vitamin B12 tetap terpenuhi,” jelas Rochelle.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurutnya, tren penyakit tidak menular seperti penyakit jantung, stroke, diabetes, hingga kanker meningkat seiring konsumsi makanan ultra proses yang tinggi. Karena itu masyarakat didorong bertransisi menuju makanan utuh (whole food) secara bertahap.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Kalau konsumsi hewani berlebihan, risiko penyakit tidak menular meningkat. Sekarang anak-anak juga banyak terpapar makanan ultra proses yang memicu obesitas,&#8221; tuturnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk anak-anak, kebutuhan protein nabati dapat dipenuhi bahan pangan lokal seperti kacang merah, kacang hijau, serta berbagai jenis polong-polongan yang mudah ditemukan di Indonesia. &#8220;Kebutuhan protein anak memang besar saat masa tumbuh kembang. Tetapi jumlah konsumsinya tetap menyesuaikan berat badan anak,&#8221; lanjutnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sisi lain, Chef Nova Swandara Putra menilai tantangan terbesar orang tua adalah keterbatasan waktu dalam menyiapkan menu sehat. Menurutnya, makanan nabati tidak terbatas pada tahu dan tempe saja. Beragam menu praktis dapat dibuat dari sayuran, jamur, hingga kacang-kacangan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Menu sederhana seperti sandwich sayur, sup, atau minuman jus kombinasi buah dan sayur bisa menjadi pilihan cepat bagi keluarga,” imbuh Nova.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nova juga menyarankan orang tua mengenalkan makanan sehat secara bertahap, terutama bagi anak yang terbiasa mengonsumsi makanan ultra proses. Salah satunya dengan memodifikasi menu favorit anak, seperti nugget berbahan tempe atau tahu yang dipadukan dengan kacang merah. <strong>(rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">232026</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
