<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Nyadran &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/nyadran/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Sun, 08 Sep 2024 09:04:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Nyadran &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Hormati Leluhur, Masyarakat Suku Tengger Gelar Tradisi Nyadran</title>
		<link>https://memontum.com/hormati-leluhur-masyarakat-suku-tengger-gelar-tradisi-nyadran</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Sep 2024 05:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar Desa]]></category>
		<category><![CDATA[hormati]]></category>
		<category><![CDATA[leluhur]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Nyadran]]></category>
		<category><![CDATA[tengger]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=213906</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Lumajang &#8211; Bertempat di Desa Ranupani, Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang, masyarakat Suku Tengger menggelar tradisi Nyadran dengan penuh khidmat. Tradisi ini diadakan, digelar masyrakat setiap perayaan Hari Raya Karo, yang jatuh pada tanggal 15 bulan Karo dalam kalender Saka. Nyadran sendiri menjadi puncak dari rangkaian perayaan Hari Raya Karo, yang diselenggarakan pada tahun 2024 [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Lumajang</strong> &#8211; Bertempat di Desa Ranupani, Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang, masyarakat Suku Tengger menggelar tradisi Nyadran dengan penuh khidmat. Tradisi ini diadakan, digelar masyrakat setiap perayaan Hari Raya Karo, yang jatuh pada tanggal 15 bulan Karo dalam kalender Saka.</p>



<p>Nyadran sendiri menjadi puncak dari rangkaian perayaan Hari Raya Karo, yang diselenggarakan pada tahun 2024 ini. Momen ini, menjadi ajang penting bagi warga masyarakat Tengger untuk mempererat hubungan spiritual dengan leluhur mereka.</p>



<p>Pj Kepala Desa Ranupani, Bambang Sugianto, mengatakan bahwa pelaksanaan tradisi Nyadran adalah bagian tidak terpisahkan dari perayaan Hari Raya Karo. &#8220;Tradisi Nyadran ini digelar pada puncak atau penutupan Hari Raya Karo 2024,&#8221; katanya, Minggu (08/09/2024) tadi.</p>



<p>Masyarakat Desa Ranupani, tambahnya, berpartisipasi dengan penuh antusias dalam prosesi ini, dalam rangka menjaga semangat gotong royong dan kekompakan antar warga.</p>



<p>Sementara pelaksanaan Upacara Nyadran, dipimpin oleh dukun adat setempat, yaitu Romo Dukun Kariyoleh, Ngato dan Suwarno. Mereka adalah figur penting dalam masyarakat Suku Tengger, yang memegang peranan sebagai penjaga tradisi dan penghubung spiritual antara warga dan leluhur mereka.</p>



<p>Dalam prosesi ini, para dukun adat memanjatkan doa-doa khusus untuk memohon berkah dan keselamatan bagi seluruh anggota komunitas. Tradisi Nyadran sendiri, dimulai dengan warga berbondong-bondong menuju makam leluhur mereka, dengan membawa bunga dan sesajen. Mereka berjalan kaki ke area pemakaman, yang menjadi tempat peristirahatan para pendahulu.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Setibanya di makam, mereka melakukan tabur bunga sebagai simbol penghormatan terhadap para leluhur, sekaligus sebagai wujud syukur atas kehidupan yang mereka jalani. Prosesi tabur bunga ini bukan sekadar ritual biasa, melainkan manifestasi dari keyakinan kuat masyarakat Suku Tengger akan pentingnya menghormati leluhur. Mereka percaya, bahwa roh-roh leluhur berperan dalam menjaga keselamatan dan kesejahteraan keluarga dan desa.</p>



<p>Dengan memanjatkan doa di makam leluhur, mereka berharap mendapatkan restu dan perlindungan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Selain aspek spiritual, Nyadran juga memiliki nilai sosial yang sangat penting bagi Suku Tengger. Tradisi ini tidak hanya mempererat hubungan antar warga, tetapi juga menjadi momen untuk memperkuat ikatan antar generasi.</p>



<p>Anak-anak dan remaja diajak untuk ikut serta dalam prosesi ini, belajar tentang pentingnya menghormati tradisi dan nilai-nilai yang diwariskan oleh leluhur.</p>



<p>Kegiatan Nyadran ini, juga menjadi sarana bagi Suku Tengger untuk menjaga keberlanjutan tradisi mereka. Meski zaman terus berkembang, masyarakat Tengger tetap teguh memelihara warisan budaya mereka. Nilai-nilai seperti rasa syukur, penghormatan kepada leluhur dan kebersamaan terus ditanamkan dalam setiap generasi, sehingga tradisi ini tetap lestari.</p>



<p>Bagi Suku Tengger, tradisi Nyadran bukan sekadar ritual tahunan, tetapi cerminan dari identitas mereka sebagai masyarakat yang menjaga keseimbangan antara kehidupan spiritual dan sosial. Dengan semaraknya acara Nyadran, mereka menunjukkan bahwa tradisi ini bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga bagian penting dari kehidupan mereka saat ini dan di masa depan.</p>



<p>Warisan leluhur yang terwujud dalam tradisi Nyadran di Desa Ranupani ini menjadi simbol keteguhan hati masyarakat Suku Tengger dalam menjaga nilai-nilai kearifan lokal. Di mana, mereka tetap kokoh mempertahankan identitas budaya mereka, mewariskan kearifan yang terus hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman. <strong>(kom/adi/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">213906</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Nyadran Dam Bagong, Bupati Arifin Larung Kepala Kerbau Suryo Maeso Tunggo</title>
		<link>https://memontum.com/nyadran-dam-bagong-bupati-arifin-larung-kepala-kerbau-suryo-maeso-tunggo</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 07 Jun 2024 04:50:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar Desa]]></category>
		<category><![CDATA[Trenggalek]]></category>
		<category><![CDATA[arifin]]></category>
		<category><![CDATA[bagong,]]></category>
		<category><![CDATA[bupati]]></category>
		<category><![CDATA[kepala]]></category>
		<category><![CDATA[kerbau]]></category>
		<category><![CDATA[Larung]]></category>
		<category><![CDATA[Nyadran]]></category>
		<category><![CDATA[tunggo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=210366</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Trenggalek &#8211; Usai dikirab dari Desa Kerjo menuju Pendopo Manggala Praja Nugraha dan kemudian diserahkan kepada warga Kelurahan Ngantru untuk disembelih, kerbau yang disedekahkan dalam tradisi Nyadran Dam Bagong dilarung. Tradisi Nyadran Dam Bagong ini, adalah tradisi pelemparan tumbal kepala kerbau. Tradisi ini dilakukan, untuk mengenang seorang ulama yang menyiarkan agama Islam di Trenggalek, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Trenggalek</strong> &#8211; Usai dikirab dari Desa Kerjo menuju Pendopo Manggala Praja Nugraha dan kemudian diserahkan kepada warga Kelurahan Ngantru untuk disembelih, kerbau yang disedekahkan dalam tradisi Nyadran Dam Bagong dilarung. Tradisi Nyadran Dam Bagong ini, adalah tradisi pelemparan tumbal kepala kerbau.</p>



<p>Tradisi ini dilakukan, untuk mengenang seorang ulama yang menyiarkan agama Islam di Trenggalek, yaitu Adipati Menak Sopal. Dimana kala itu, berperan penting terhadap kehidupan warga Trenggalek pada masa itu, khususnya wilayah Dam Bagong. Adipati Menak juga membangun pengairan sawah masyarakat di kawasan itu.</p>



<p>Bupati Trenggalek, Mochammad Nur Arifin, dalam prosesi itu berkesempatan langsung melarung kepala, berikut kaki dan kulit Kerbau Bule yang dinamakan warga setempat Suryo Maeso Tunggo ke dalam Dam Bagong. Sudah menjadi sebuah tradisi turun temurun, bahwa kepala, kaki dan kulit kerbau ini dilarung&nbsp; kemudian diperebutkan warga.</p>



<p>&#8220;Terima kasih seluruh masyarakat Ngantru dan Masyarakat Desa Kerjo, serta masyarakat yang juga menerima manfaat aliran Sungai Dam Bagong. Terima kasih ini bentuk syukur. Kerbaunya memilih yang terbaik, jadi syukurnya betul-betul syukur,&#8221; kata Bupati Arifin, Jumat (07/06/2024) tadi.</p>



<p>Tradisi Nyadran Dam Bagong ini, diperingati setiap hari Jumat Kliwon Bulan Selo atau Bulan Zulkaidah dalam kalender Hijriah. Ritualnya diawali dengan tahlilan di samping makam Adipati Menak Sopal.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Kemudian, dilanjutkan dengan ziarah makam yang diikuti oleh tokoh masyarakat dan warga. Sementara itu, di halaman sekitar komplek pemakaman disajikan hiburan tarian jaranan yang diikuti musik gamelan.</p>



<p>Puncaknya, adalah pelemparan tumbal kepala kerbau ke dasar Dam Bagong. Kemudian, acara pun dilanjutkan dengan pagelaran wayang kulit.</p>



<p>&#8220;Ini bertujuan untuk tolak bala serta ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT, atas keberhasilan pembangunan Dam Bagong yang sangat besar manfaatnya. Selain itu, tradisi ini dilakukan sebagai ungkapan terima kasih kepada Adipati Menak Sopal karena telah membangun Dam Bagong,&#8221; terangnya.</p>



<p>Adapun makna khusus yang terkandung dalam Tradisi Nyadran Dam Bagong ini, yakni bergotong-royong. Dimana, ini tidak terlihat perbedaan antara warga yang berkecukupan dengan warga yang kurang mampu.</p>



<p>Masyarakat sangat kompak pada saat menyiapkan kebutuhan dan perlengkapan yang digunakan saat peringatan upacara Tradisi Nyadran Dam Bagong. &#8220;Semoga bentuk gotong royong dan kekompakan antar warga ini bisa saling kuat. Juga, sedekah ini nantinya akan digantikan rizqi yang melimpah. Dan, segera diberikan hujan yang juga bisa menjadi berkah bagi para petani kita di Trenggalek,&#8221; harap Mas Ipin-sapaan akrabnya. <strong>(mil/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">210366</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Bupati Trenggalek Jalani Tradisi Kirab Kerbau Nyadran Dam Bagong</title>
		<link>https://memontum.com/bupati-trenggalek-jalani-tradisi-kirab-kerbau-nyadran-dam-bagong</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 Jun 2024 11:55:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar Desa]]></category>
		<category><![CDATA[Trenggalek]]></category>
		<category><![CDATA[bagong,]]></category>
		<category><![CDATA[bupati]]></category>
		<category><![CDATA[jalani]]></category>
		<category><![CDATA[kerbau]]></category>
		<category><![CDATA[Nyadran]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=210360</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Trenggalek &#8211; Bupati Trenggalek, Mochammad Nur Arifin, menjalani tradisi Kirab Nyadran Kerbau Dam Bagong. Dimana dalam tradisi itu, sebelum disembelih, kerbau untuk tradisi Nyadran Dam Bagong dilakukan kirab dari Desa Kerjo menuju Dam Bagong di Kelurahan Ngantru. Baru kemudian, kepala, kulit dan kakinya dilarung di Dam Bahong. Dalam perjalanannya, kerbau yang dinamakan Suryo Maeso [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Trenggalek</strong> &#8211; Bupati Trenggalek, Mochammad Nur Arifin, menjalani tradisi Kirab Nyadran Kerbau Dam Bagong. Dimana dalam tradisi itu, sebelum disembelih, kerbau untuk tradisi Nyadran Dam Bagong dilakukan kirab dari Desa Kerjo menuju Dam Bagong di Kelurahan Ngantru. Baru kemudian, kepala, kulit dan kakinya dilarung di Dam Bahong.</p>



<p>Dalam perjalanannya, kerbau yang dinamakan Suryo Maeso Tunggo oleh warga setempat, disinggahkan sejenak di Pendopo Manggala Praja Nugraha-Trenggalek. Di pendopo, serangkaian tradisi dijalani, kemudian diserahkan oleh Bupati Trenggalek kepada warga Kelurahan Ngantru, untuk dilakukan upacara penyembelihan.</p>



<p>Sesuai dengan ceritanya, tradisi Nyadram Dam Mbagong berawal dari hikayat yang berkembang turun temurun dan dipercaya oleh warga sebagai cikal bakal Dam Bagong. Dimana keberadaan Dam Bagong yang dibangun Adipati Menak Sopal, menjadikan warga mendapatkan irigasi pertanian dan terhindar dari bencana banjir.</p>



<p>Dalam pembangunannya, Menak Sopal melakukan persembahan dengan penyembelihan Gajah Putih yang kala itu dipinjamkan dari Mbok Roro Krandon di Desa Kerjo, Kecamatan Karangan. Tradisi ini, yang ingin coba dikembalikan dan dilestarikan lagi oleh masyarakat Trenggalek.</p>



<p>&#8220;Ini kegiatan setiap Bulan Selo, sebagai bentuk syukurnya para petani atas karunia bisa menanam dan tersedianya air. Maka, dicurahkan dengan bergotong royong melakukan sedekah bumi berupa penyembelihan kerbau,&#8221; kata Bupati Arifin, seusai mengikuti serangkaian upacara adat Kirab Mahesa (kerbau), Kamis (06/06/2024) tadi.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Mas Ipin-sapaan akrabnya menuturkan bahwa acara tahunan tersebut merupakan bentuk syukur para petani tani atas ketersediaan air di sawah. Sehingga, bisa terus menanam padi.</p>



<p>&#8220;Rasa syukur ini dicurahkan dengan bergotong royong melakukan sedekah bumi berupa penyembelihan kerbau dengan kualitas bagus. Ibaratnya, memilih hewan yang akan digunakan untuk sodaqohan ini yang terbaik, berarti syukurnya itu betul-betul syukur. Semoga nanti, Allah Tuhan Yang Maha Esa memberikan kelancaran rizqi bagi para sedulur tani yang ada di Ngantru dan sekitarnya yang teraliri Dam Bagong,&#8221; terangnya.</p>



<p>Tradisi ini, sambungnya, dapat diartikan mengembalikan sejarah terkait dengan Adipati Menak Sopal. Puncaknya besok, akan diselenggarakan penyembelihan. Kemudian dibagi dagingnya, dimasak untuk warga dan nanti kepalanya akan ada prosesi larung, yang ujungnya sebenarnya juga diambil oleh warga sebagai bentuk doa.</p>



<p>&#8220;Kepala itu adalah simbul kehormatan, kepercayaan. Jadi ini sedekahnya orang banyak, kemudian diperebutkan orang banyak juga kepalanya yang merupakan simbol kepercayaan tertinggi,&#8221; terangnya.</p>



<p>Suami Novita Hardiny ini berharap, dalam pelaksanaan Bersih Dan Bagong yang dimulai hari ini hingga esok itu, diberikan kelancaran dan keberkahan. Terlebih, memberikan kesejahteraan bagi petani di Kabupaten Trenggalek.</p>



<p>&#8220;Semoga nanti warga suka cita berbahagia. Dan semoga, Allah SWT memberikan kelancaran rezeki bagi para sedulur tani yang ada di Ngantru dan sekitarnya yang teraliri Dam Bagong, maupun masyarakat Desa Kerjo,&#8221; tambahnya. <strong>(mil/gie)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">210360</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Sambut Ramadan, Kampung Budaya Polowijen Kota Malang Gelar Tradisi Megengan dan Nyadran</title>
		<link>https://memontum.com/sambut-ramadan-kampung-budaya-polowijen-kota-malang-gelar-tradisi-megengan-dan-nyadran</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 Mar 2024 06:05:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[kampung]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>
		<category><![CDATA[megengan]]></category>
		<category><![CDATA[Nyadran]]></category>
		<category><![CDATA[Polowijen]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[sambut]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=205074</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Menyambut Bulan Suci Ramadan, Kampung Budaya Polowijen (KBP) Kota Malang, menggelar tradisi budaya Jawa, yang masih terus dilestarikan dan kaya akan makna. Yakni, tradisi Megengan dan Nyadran. Penggagas KBP Kota Malang, Isa Wahyudi, menyampaikan bahwa tradisi tersebut setiap tahunnya selalu digelar. Diawali dengan mocopatan, kemudian umbul dungo (baca doa, red), lalu [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Menyambut Bulan Suci Ramadan, Kampung Budaya Polowijen (KBP) Kota Malang, menggelar tradisi budaya Jawa, yang masih terus dilestarikan dan kaya akan makna. Yakni, tradisi Megengan dan Nyadran.</p>



<p>Penggagas KBP Kota Malang, Isa Wahyudi, menyampaikan bahwa tradisi tersebut setiap tahunnya selalu digelar. Diawali dengan mocopatan, kemudian umbul dungo (baca doa, red), lalu nyekar ke makam Empu Topeng Ki Tjandro Suwono (Mbah Reni) di KBP hingga arak-arakan topeng dan penampilan tari-tarian.</p>



<p>“Lebih dari 100 orang mengikuti Megengan dan Nyadran di KBP Kota Malang dengan khidmat sampai acara selesai. Mereka ada dari Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Malang, Kampung Gadang Wiswakala, Perempuan Bersanggul Nusantara, Komunitas Mocopat Kota Batu, SMP Wahid Hasyim Singosari, perwakilan Kampung Tematik Kota Malang, murid dan wali murid KBP serta Warga KBP sendiri,” ujar Ki Demang-sapaannya, Senin (11/03/2024) tadi.</p>



<p>Uniknya dalam tradisi tersebut, para warga KBP yang hadir membawa makanan, kemudian saling tukar menukar untuk dibawa pulang ke rumah. Tidak lupa juga, mereka membawa kue legendaris, apem dan buah pisang.</p>



<p>“Karena biasanya warga itu membagikan ke tetangga sekitar atau di bawa ke mushola, lha di sini kita saling menukar makanan kemudian bisa dibawa pulang. Tetapi, sebelumnya mereka juga mengikuti kegiatan arak-arakan Nyadran ke makam,” jelasnya.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Sementara itu, Sekretaris TACB Kota Malang, Rakai Hino Galeswangi, memberikan penjelasan mengenai makna dari Megengan dan Nyadran itu sendiri. Menurut Rakai, Megengan diambil dari bahasa Jawa mèkèk yang artinya menahan. Tradisi Megengan sendiri juga merupakan tradisi lama dari masyarakat Jawa yang masih tetap lestasri dan dilakukan jelang puasa.</p>



<p>“Untuk puasa sendiri, berasal dari penggabungan dua suku kata upa dan vasa. Upa bermakna dekat dan vasa itu Yang Maha Agung, sehingga upavasa ini sendiri memiliki arti mendekatkan diri ke Yang Maha Kuasa. Ini merujuk pada perilaku atau tradisi puasa masyarakat nusantara terdahulu yang mayoritas menganut Hindu-Budha,” tutur Rakai.</p>



<p>Kemudian, Nyadran berasal dari bahasa Sanskerta, Sraddha yang artinya keyakinan. Tradisi Nyadran merupakan suatu budaya mendoakan leluhur yang sudah meninggal dan seiring berjalannya waktu mengalami proses perkembangan budaya sehingga menjadi adat dan tradisi yang memuat berbagai macam seni budaya.</p>



<p>“Nyadran itu selalu di selenggarakan di bulan Jawa Ruwah dan bermakna meruwat atau merawat arwah arwah. Khususnya, kalau di KBP sendiri ini meruwat arwah para seniman dan budayawan topeng Malang yang sudah tidak ada, namun jiwa dan ruhnya masih bisa dirasakan pada generasi topeng saat ini,” imbuhnya. <strong>(rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">205074</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Melihat Sedekah Tahunan Nyadran Dam Bagong, Kerbau Diarak Singgah ke Pendopo Trenggalek</title>
		<link>https://memontum.com/melihat-sedekah-tahunan-nyadran-dam-bagong-kerbau-diarak-singgah-ke-pendopo-trenggalek</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 15 Jun 2023 11:40:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar Desa]]></category>
		<category><![CDATA[Trenggalek]]></category>
		<category><![CDATA[bagong,]]></category>
		<category><![CDATA[DAM]]></category>
		<category><![CDATA[Desa]]></category>
		<category><![CDATA[diarak]]></category>
		<category><![CDATA[kabar]]></category>
		<category><![CDATA[ke]]></category>
		<category><![CDATA[kerbau]]></category>
		<category><![CDATA[melihat]]></category>
		<category><![CDATA[Nyadran]]></category>
		<category><![CDATA[Pendopo]]></category>
		<category><![CDATA[sedekah]]></category>
		<category><![CDATA[singgah]]></category>
		<category><![CDATA[tahunan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=191041</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Trenggalek &#8211; Ada yang berbeda dari rangkaian acara Bersih Dam Bagong yang ada di Kelurahan Ngantru, Kecamatan Trenggalek, Kabupaten Trenggalek. Di tahun ini, sedekah tahunan yang biasa disebut Nyadran Dam Bagong dilakukan dengan merekonstruksi ulang sejarah dengan nilai dan pendekatan yang baru. Dalam sejarah yang ada, Ki Ageng Minak Sopal meminjam Gajah Putih milik [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Trenggalek</strong> &#8211; Ada yang berbeda dari rangkaian acara Bersih Dam Bagong yang ada di Kelurahan Ngantru, Kecamatan Trenggalek, Kabupaten Trenggalek. Di tahun ini, sedekah tahunan yang biasa disebut Nyadran Dam Bagong dilakukan dengan merekonstruksi ulang sejarah dengan nilai dan pendekatan yang baru.</p>



<p>Dalam sejarah yang ada, Ki Ageng Minak Sopal meminjam Gajah Putih milik Mbok Roro Krandon, untuk dijadikan persembahan pembangunan Dam Bagong. Sebelum disembelih dan dipersembahkan, kepala Kerbau harus dikirab terlebih dahulu.</p>



<p>Kirab Kerbau yang diperuntukkan Nyadran Dam Bagong ini menjadi salah satu bagian sakral dari adat budaya yang dilestarikan oleh masyarakat di Kelurahan Ngantru dan baru tahun ini dilakukan. &#8220;Ini memang terbilang baru, karena sebelum-sebelumnya tidak ada. Tahun ini kita mencoba melakukan rekonstruksi kembali sejarah kenapa Nyadran Dam Bagong. Kalau dahulunya, akadnya Menak Sopal meminjam Gajah Putih milik Mbok Roro Krandon itu akan dikembalikan. Namun, akhirnya disembelih sebagai syarat membangun Dam Bagong,&#8221; terang Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin, saat dikonfirmasi, Kamis (15/06/2023) sore.</p>



<p>Akan tetapi, tambah Bupati Arifin, pihaknya ingin merekonstruksi sejarah tersebut. Menurutnya, masyarakat Krandon sudah ikhlas Gajah itu disembelih karena manfaatnya dirasakan oleh masyarakat luas. Dari sini, kedua desa ini coba dirangkaikan karena menjadi asal usul dari upacara adat Dam Bagong. Keduanya coba di kolaborasikan, sehingga Kerbau untuk Nyadran disinggahkan semalam di Desa Kerjo. Juga, ada beberapa rangkaian kegiatan dilakukan disana.</p>



<p>&#8220;Dari Kerjo kemudian Kerbau atau Mahesa, ini di kirab menuju Pendopo Trenggalek. Lalu di kirab kembali ke Tlatah Mbagongan (Dam Bagong),&#8221; imbuhnya.</p>



<p>Kegiatan ini, ada Bregodo yang mana Mahesa diserahkan kepada Bupati Trenggalek. Kemudian, bupati menyerahkan kembali Kerbau ini untuk dibawa ke Dam Bagong dan berikut dengan peralatan sembelihnya.</p>



<p>&#8220;Jadi kegiatan hari ini sebenarnya kegiatan rutin tahunan. Yaitu, Nyadran Dam Bagong ditandai dengan sedekah daging Kerbau kepada masyarakat di Desa Ngantru,&#8221; tutur Mas Ipin-sapaan akrabnya.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Maka dari itu, sambungnya, ini memang sudah diniatkan untuk sedekahan. Kerbau yang diarak dimulai dari Desa Kerjo, Kecamatan Karangan sampai ke Pendopo Manggala Praja Nugraha Trenggalek. Selanjutnya, dari pendopo akan diarak kembali ke Ngantru untuk dilakukan penyembelihan.</p>



<p>&#8220;Besok (Jumat, red) akan dilakukan adat Nyadran Dam Bagong dengan melempar kepala kerbau beserta kakinya,&#8221; jelasnya.</p>



<p>Untuk rangkaian Nyadran Dam Bagong sendiri, jelas Bupati Trenggalek, sudah dimulai pada hari Rabu malam dan hari sakralnya Nyadran Dam Bagong sendiri yang dilaksanakan pada Jumat besok. Menurutnya, ini akan menjadi agenda tahunan yang dilaksanakan rutin setiap tahun.</p>



<p>Nyadran Dam Bagong sendiri, sebenarnya merupakan perwujudan rasa syukur dari warga lingkungan sekitar dan petani yang dialiri oleh aliran sungai Dam Bagong. Mereka bersyukur karena sebelumnya Trenggalek merupakan rawa rawa tandus yang kering ketika musim kemarau dan banjir ketika musim penghujan.</p>



<p>Berawal dari tokoh yang bernama Menak Sopal, keadaan ini dirubah. Dengan membangun sebuah Dam atau bendungan kecil di area Bagongan, tanah yang dahulunya tandus ketika kemarau dan banjir ketika hujan menjadi areal persawahan yang subur.</p>



<p>Sedangkan cerita-cerita lain di balik pembangunan Dam ini, menyembelih Gajah Putih yang pada waktu itu milik Mbok Roro Krandon, menjadi cikal bakal upacara adat Nyadran sekarang. Cuma, hewan yang disembelih dari Gajah digantikan dengan seekor kerbau.</p>



<p>&#8220;Besok kepala kerbau dan kaki kerbau akan dilarung dengan cara dilemparkan ke dalam Dam Bagong. Yang kemudian diperebutkan oleh masyarakat sekitar. Menurut kepercayaan, barang siapa mendapatkan kepala kerbau tersebut akan mendapatkan keberkahan dalam hidupnya,&#8221; papar Bupati Arifin. <strong>(mil/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">191041</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Semarakkan Ramadan, Kampung Budaya Polowijen Kota Malang Lakukan Tradisi Megengan dan Nyadran</title>
		<link>https://memontum.com/semarakkan-ramadan-kampung-budaya-polowijen-kota-malang-lakukan-tradisi-megengan-dan-nyadran</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Mar 2023 10:10:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[KREATIF MASYARAKAT]]></category>
		<category><![CDATA[Berita hari ini]]></category>
		<category><![CDATA[Kabupaten Malang]]></category>
		<category><![CDATA[Kampung Budaya Polowijen]]></category>
		<category><![CDATA[kota malang]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>
		<category><![CDATA[Nyadran]]></category>
		<category><![CDATA[Polowijen]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Megengan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=185517</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Sebagai wujud syukur dalam menyambut Bulan Ramadan, warga Kampung Budaya Polowijen (KBP) Kota Malang, menggelar tradisi megengan dan nyadran, Rabu (22/03/2023) sore. Dalam gelaran megengan tersebut, terlihat masyarakat mengenakan pakaian adat tradisional jawa dan juga membaca doa jawa. Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Tempatik Kota Malang, Isa Wahyudi, mengatakan jika [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Sebagai wujud syukur dalam menyambut Bulan Ramadan, warga Kampung Budaya Polowijen (KBP) Kota Malang, menggelar tradisi megengan dan nyadran, Rabu (22/03/2023) sore. Dalam gelaran megengan tersebut, terlihat masyarakat mengenakan pakaian adat tradisional jawa dan juga membaca doa jawa.</p>



<p>Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Tempatik Kota Malang, Isa Wahyudi, mengatakan jika megengan sendiri memiliki arti menahan. Tentunya, menahan dari hawa nafsu yang menggugurkan dari ibadah puasa. Selain itu, megengan juga sebagai salah satu cara untuk merekatkan kembali masyarakat sekitar atau pegiat seni budaya.</p>



<p>“Kampung Budaya Polowijen ini berkepentingan untuk mengembalikan gerakan kegiatan masyarakat dalam melestarikan adat istiadat. Dimana, megengan ini juga untuk saling maaf maafan. Sehingga, kita bisa mendapatkan pertolongan, perlindungan, dan menjalankan ibadah puasa secara khusyuk,” jelas Ki Demang-sapannya.</p>



<p>Dalam tradisi tersebut juga telah disajikan makanan khas, seperti apem, dan pisang raja. Tentunya, dalam menyajikan itu juga memiliki makna tersendiri. Menurutnya, apem sendiri menandakan simbol permohon maaf, kemudian pisang raja diharapkan bisa memberikan perlindungan saat bulan Ramadan.</p>



<p>Baca juga :</p>


<ul class="wp-block-latest-posts__list wp-block-latest-posts"><li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/sasar-224-pemudik-dishub-kota-malang-tambah-kuota-mudik-gratis-jadi-enam-bus">Sasar 224 Pemudik, Dishub Kota Malang Tambah Kuota Mudik Gratis Jadi Enam Bus</a></li>
<li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/musrenbang-rkpd-2027-bupati-ipuk-sebut-fokus-penguatan-sdm-ekonomi-berbasis-hirilisasi-dan-pariwisata">Musrenbang RKPD 2027, Bupati Ipuk Sebut Fokus Penguatan SDM, Ekonomi Berbasis Hirilisasi dan Pariwisata</a></li>
<li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/wali-kota-malang-pastikan-sanksi-tegas-untuk-sppg-yang-langgar-sop">Wali Kota Malang Pastikan Sanksi Tegas untuk SPPG yang Langgar SOP</a></li>
<li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/diduga-korupsi-pengadaan-jasa-outsourcing-kpk-tetapkan-bupati-pekalongan-sebagai-tersangka">Diduga Korupsi Pengadaan Jasa Outsourcing, KPK Tetapkan Bupati Pekalongan sebagai Tersangka</a></li>
<li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/terdakwa-dugaan-penggelapan-emas-rp-33-miliar-minta-diskon-hukuman">Terdakwa Dugaan Penggelapan Emas Rp 3,3 Miliar Minta &#8216;Diskon&#8217; Hukuman</a></li>
</ul>


<p>“Apem itu selain karena artinya permintaan maaf, juga waktu itu yang paling gampang dibuat dan bisa dimakan orang banyak. Sehingga tradisi itu sampai saat ini masih berkembang di tengah masyarakat. Kemudian jika digabungkan dengan pisang raja, menggambarkan seperti payung, yang harapannya bisa memberikan perlindungan dari godaan dalam menjalani ibadah puasa,” katanya.</p>



<p>Kemudian, tradisi nyadran ke makam salah satu Mpu Pembuat Topeng KBP, Mbah Reni, juga dilakukan. Tentunya tradisi tersebut, dilakukan dengan tujuan untuk menghormati para leluhur dan mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan. Nyadran, menurutnya menjadi acara yang penting bagi masyarakat Jawa dan hampir tidak pernah terlewat.</p>



<p>“Nyadran itu untuk membangun masyarakat menjadi seimbang dan sesuai ruh Islam. Lewat nyadran, masyarakat mampu menciptakan kemesraan rohani, antara manusia, alam, dan Tuhan. Nyadran tak hanya urusan religi, namun erat kaitannya dengan budaya, nasionalisme, bahkan pariwisata. Selain itu juga sebagai bentuk syukur kepada Tuhan, dan agar terhindar dari penyakit,” lanjutnya.</p>



<p>Sebagai informasi, dalam kegiatan tersebut, usai dilakukan megengan dilanjutkan dengan doa bersama menggunakan tembang macapat dan penampilan Tari Sadran. Kemudian, dilanjutkan nyadran ke makam. <strong>(rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">185517</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Nyadran Dam Bagong, Bentuk Rasa Syukur Masyarakat Trenggalek</title>
		<link>https://memontum.com/nyadran-dam-bagong-bentuk-rasa-syukur-masyarakat-trenggalek</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Jul 2020 10:45:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pemerintahan]]></category>
		<category><![CDATA[bupati trenggalek]]></category>
		<category><![CDATA[Dam Bagong]]></category>
		<category><![CDATA[Nyadran]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/118264-nyadran-dam-bagong-bentuk-rasa-syukur-masyarakat-trenggalek</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Trenggalek &#8211; Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin ikuti kegiatan Nyadran Dam Bagong di tengah Pandemi Covid-19. Di daerah Kabupaten Trenggalek Nyadran sudah menjadi tradisi masyarakat yang wajib dilakukan. Nyadran ini dilakukan di Dam Bagong mengingat Dam tersebut didirikan oleh Adipati Minak Sopal pada jamannya. &#8220;Kegiatan ini merupakan salah satu hajat kebudayaan warga masyarakat Trenggalek [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memontum Trenggalek</strong> &#8211; Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin ikuti kegiatan Nyadran Dam Bagong di tengah Pandemi Covid-19. Di daerah Kabupaten Trenggalek Nyadran sudah menjadi tradisi masyarakat yang wajib dilakukan. Nyadran ini dilakukan di Dam Bagong mengingat Dam tersebut didirikan oleh Adipati Minak Sopal pada jamannya.</p>
<p>&#8220;Kegiatan ini merupakan salah satu hajat kebudayaan warga masyarakat Trenggalek yaitu Nyandran Dam Bagong. Kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap tahun sebagai bentuk syukur masyarakat atas rejeki yang diberikan oleh Yang Kuasa seperti halnya kebutuhan air,&#8221; ucap Bupati usai melarung kepala kerbau ke sungai, Jumat (03/07/2020) siang.</p>
<p><img decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-118267" src="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/07/Nyadran-Dam-Bagong-Bentuk-Rasa-Syukur-Masyarakat-Trenggalek.jpg?resize=740%2C395&#038;ssl=1" alt="" width="740" height="395" srcset="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/07/Nyadran-Dam-Bagong-Bentuk-Rasa-Syukur-Masyarakat-Trenggalek.jpg?w=750&amp;ssl=1 750w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/07/Nyadran-Dam-Bagong-Bentuk-Rasa-Syukur-Masyarakat-Trenggalek.jpg?resize=300%2C160&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/07/Nyadran-Dam-Bagong-Bentuk-Rasa-Syukur-Masyarakat-Trenggalek.jpg?resize=600%2C320&amp;ssl=1 600w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/07/Nyadran-Dam-Bagong-Bentuk-Rasa-Syukur-Masyarakat-Trenggalek.jpg?resize=200%2C107&amp;ssl=1 200w" sizes="(max-width: 740px) 100vw, 740px" data-recalc-dims="1" /></p>
<p>Seperti yang diketahui aliran Sungai dari Dam Bagong ini menyebar ke lahan pertanian masyarakat. Musim panen yang dirasakan masyarakat pun juga tidak pernah ada kendala.</p>
<p>&#8220;Dan hari ini masyarakat bersedekah dengan membagikan daging kerbau sebagai bentuk syukur itu,&#8221; imbuhnya.</p>
<p><img decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-118266" src="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/07/IMG-20200703-WA0028-copy.jpg?resize=740%2C395&#038;ssl=1" alt="" width="740" height="395" srcset="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/07/IMG-20200703-WA0028-copy.jpg?w=750&amp;ssl=1 750w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/07/IMG-20200703-WA0028-copy.jpg?resize=300%2C160&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/07/IMG-20200703-WA0028-copy.jpg?resize=600%2C320&amp;ssl=1 600w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/07/IMG-20200703-WA0028-copy.jpg?resize=200%2C107&amp;ssl=1 200w" sizes="(max-width: 740px) 100vw, 740px" data-recalc-dims="1" /></p>
<p>Sedikit berbeda dengan Nyandran tahun lalu, tahun ini dilaksanakan secara terbatas mengingat masa pandemi Covid-19 masyarakat dilarang untuk berkumpul tau berkerumun.</p>
<p>&#8220;Rangkaian kegiatan Nyadran kali ini digelar dengan sederhana seperti kirim doa kepada leluhur Minak Sopal dan juga sesepuh yang ada di Kabupaten Trenggalek, dilanjutkan dengan melarung kepala kerbau ke dasar sungai Bagong,&#8221; kata M Nur Arifin.</p>
<p><img decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-118265" src="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/07/IMG-20200703-WA0029-copy.jpg?resize=740%2C395&#038;ssl=1" alt="" width="740" height="395" srcset="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/07/IMG-20200703-WA0029-copy.jpg?w=750&amp;ssl=1 750w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/07/IMG-20200703-WA0029-copy.jpg?resize=300%2C160&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/07/IMG-20200703-WA0029-copy.jpg?resize=600%2C320&amp;ssl=1 600w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/07/IMG-20200703-WA0029-copy.jpg?resize=200%2C107&amp;ssl=1 200w" sizes="(max-width: 740px) 100vw, 740px" data-recalc-dims="1" /></p>
<p>Ia berharap kegiatan seperti ini tetap dilestarikan sehingga mampu membentuk sikap menghormati jasa leluhur yang berjuang demi kesejahteraan masyarakat dahulunya.</p>
<p>&#8220;Ini harus dilestarikan dan akan menjadi warisan budaya yang terus diingat. Agar nantinya anak cucu kita tau bagaimana perjuangan para leluhur demi mensejahterakan rakyatnya dahulu kala,&#8221; tutupnya.</p>
<p>Perlu diketahui Nyadran ini dilakukan di hari jumat kliwon bulan selo. Dahulu tradisi Nyadran ini dilakukan dengan menyembelih gajah putih kemudian kepalanya di lempar ke Dam Bagong. Namun sekarang gajah putih sudah mulai langka sehingga diganti dengan kepala kerbau. <strong>(mil/oso)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">118264</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Bupati Arifin Lempar Kepala Kerbau di Dam Bagong</title>
		<link>https://memontum.com/bupati-arifin-lempar-kepala-kerbau-di-dam-bagong</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 19 Jul 2019 13:31:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pemerintahan]]></category>
		<category><![CDATA[Trenggalek]]></category>
		<category><![CDATA[bupati trenggalek]]></category>
		<category><![CDATA[Dam Bagong]]></category>
		<category><![CDATA[Nyadran]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/88562-bupati-arifin-lempar-kepala-kerbau-di-dam-bagong</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Trenggalek &#8211; Lestarikan tradisi Nyadran, Bupati Trenggalek Mochammad Nur Arifin beserta istri ikut melempar kepala kerbau ke Dam Bagong. Upacara adat yang dilakukan ini disebut dengan bersih Dam Bagong atau Nyadran. Berbicara Trenggalek tentu tak lepas dari kisah Menak Sopal yang membangun Dam Bagong. Kisah tersebut juga yang melatar belakangi tradisi Nyadran oleh masyarakat [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memontum Trenggalek</strong> &#8211; Lestarikan tradisi Nyadran, Bupati Trenggalek Mochammad Nur Arifin beserta istri ikut melempar kepala kerbau ke Dam Bagong. Upacara adat yang dilakukan ini disebut dengan bersih Dam Bagong atau Nyadran.</p>
<p>Berbicara Trenggalek tentu tak lepas dari kisah Menak Sopal yang membangun Dam Bagong. Kisah tersebut juga yang melatar belakangi tradisi Nyadran oleh masyarakat Kelurahan Ngantru yang terus dilestarikan hingga sekarang.</p>
<p><div id="attachment_20597" style="width: 660px" class="wp-caption aligncenter"><img aria-describedby="caption-attachment-20597" decoding="async" class="size-full wp-image-20597" src="https://i0.wp.com/pemerintahan.memontum.com/wp-content/uploads/sites/5/2019/07/IMG-20190719-WA0198-copy.jpg?resize=650%2C366&#038;ssl=1" alt="Bupati Trenggalek bersama istri mengikuti upacara adat bersih Dam Bagong " width="650" height="366" data-recalc-dims="1" /><p id="caption-attachment-20597" class="wp-caption-text"><strong>Bupati Trenggalek bersama istri mengikuti upacara adat bersih Dam Bagong </strong></p></div></p>
<p>Turut menjadi bagian melestarikan tradisi turun temurun tersebut, Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin, didampingi istri Novita Hardiny yang ikut melempar kepala kerbau ke Dam Bagong, Jum&#8217;at (19/7/2019) siang.</p>
<p>Tradisi Nyadran merupakan wujud rasa syukur masyarakat petani kepada Tuhan. Dengan adanya Dam Bagong, persediaan pengairan untuk persawahan dan ladang warga terjamin. Acara juga terselenggara berkat hasil dari sedekah dari para petani yang teraliri sungai dari Dam Bagong untuk kemudian digelar tasyakuran.</p>
<p>&#8220;Jangan lupakan sejarah, pendahulu maupun agama kita mengajarkan kepada kita untuk mengambil hikmah dari sejarah tersebut, &#8221; ucap Bupati Nur Arifin.</p>
<p>Bupati Trenggalek tersebut juga menghimbau agar tradisi Nyadran tidak hanya dibesarkan acaranya, tetapi juga ditambah kekhidmatan acaranya.</p>
<p>&#8220;Kita menghormati leluhur, khususnya Menak Sopal yang sudah membangun Dam Bagong sejak abad ke-16 dan mengairi ribuan hektar lahan sawah di Kabupaten Trenggalek, khususnya di Kecamatan Trenggalek dan Pogalan, &#8221; imbuhnya.</p>
<p>Lebih lanjut, Arifin mengungkapkan, Menak Sopal merupakan tokoh yang pertama kali membuat Trenggalek yang terkenal dengan kekeringannya bisa teraliri air. Dengan membangun Dam Bagong ini.</p>
<p>&#8220;Semoga upacara adat bersih Dam Bagong ini akan tetap dijaga dan dilestarikan sebagai bentuk penghormatan kita kepada leluhur yaitu Ki Ageng Minak Sopal dalam memberikan kehidupan kepada masyarakat khususnya di Kabupaten Trenggalek, &#8221; pungkas Arifin.</p>
<p>Dalam sejarahnya, Bagong memang tidak dibangun sendirian oleh Menak Sopal, namun juga atas bantuan masyarakat sekitar. Sehingga untuk mengenang keguyub rukunan tersebut, hingga saat ini masyarakat bersedekah hewan kerbau.</p>
<p>Kepalanya dilempar lalu diperebutkan lagi oleh masyarakat, sementara dagingnya dibagikan juga kepada masyarakat yang telah bergotong royong melestarikan tradisi tersebut. <strong>(mil/yan)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">88562</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
