<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Obat Mata Ayam &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/obat-mata-ayam/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Thu, 21 Jan 2021 06:30:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Obat Mata Ayam &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Petani Sumberbrantas Batu Temukan Formula Atasi Mata Ayam Buah Apel</title>
		<link>https://memontum.com/petani-sumberbrantas-batu-temukan-formula-atasi-mata-ayam-buah-apel</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 Jan 2021 06:30:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[Kesejahteraan Masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[memontum]]></category>
		<category><![CDATA[Memontum.com]]></category>
		<category><![CDATA[Obat Mata Ayam]]></category>
		<category><![CDATA[organik]]></category>
		<category><![CDATA[Pariwisata]]></category>
		<category><![CDATA[penelitian]]></category>
		<category><![CDATA[Penyakit Mata Ayam]]></category>
		<category><![CDATA[Pertanian]]></category>
		<category><![CDATA[Wisatawan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=132750</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Batu &#8211; Di tengah keputus-asaan petani apel Kota Batu, dengan merebaknya penyakit mata ayam pada buah tanaman, harapan baru pun muncul. Rudy Mardiyanto, petani asal Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji, memiliki formula atau &#8216;obat&#8217; khusus sebagai solusinya.Petani yang dikenal cerdik dan suka berinovasi dengan melakukan penelitian, siapa sangka mampu mengendalikan hama tanaman tersebut. Ditemui [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p></p>



<p><strong>Memontum Kota Batu </strong>&#8211; Di tengah keputus-asaan petani apel Kota Batu, dengan merebaknya penyakit mata ayam pada buah tanaman, harapan baru pun muncul. Rudy Mardiyanto, petani asal Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji, memiliki formula atau &#8216;obat&#8217; khusus sebagai solusinya.<br>Petani yang dikenal cerdik dan suka berinovasi dengan melakukan penelitian, siapa sangka mampu mengendalikan hama tanaman tersebut. Ditemui di ladang apel miliknya, Rudy-sapaan akrabnya, menunjukan sejumlah apel yang sembuh dari wabah mata ayam. Bintik hitam yang menjadi tanda wabah mata ayam di buah, terlihat memudar. Bahkan, bercaknya pun juga tidak banyak.<br>Temuannya ini, tentu menjadi kabar baik bagi para petani. Rudy sendiri juga mengaku senang dengan temuannya tersebut. Dan berharap, temuannya bisa membantu para petani apel.</p>



<p><br>Di ladang miliknya, Rudy memulai aktivitas penelitiannya. Dari hasil penelitian, ternyata mata ayam cenderung menyerang apel jenis manalagi yang memiliki karakteristik buah yang lebih manis sedangkan pada apel jenis lainnya, tidak seberapa.</p>



<p><br>&#8220;Apel rasa manis cenderung dihinggapi mata ayam. Seperti, Apel Manalagi. Apel Anna juga ada, tapi tidak separah Apel Manalagi,&#8221; ujar Rudy kepada memontum.com.</p>



<p><br>Ladang apel miliknya yang seluas 1 Ha, sengaja dijadikan laboratorium penelitiannya. Dirinya meneliti, dengan biaya sendiri, tenaga dan pemikiran sendiri. Penelitian itu, dilakukannya mulai sejak delapan bulan yang lalu, dengan memadukan sejumlah pestisida dalam ‘ramuannya’.</p>



<p><br>Empat bulan berselang, kerja kerasnya membuahkan hasil. Tanaman apel miliknya, mulai terlihat baik dan mata ayam tidak berkembang setelah di semprot dengan formula ciptaannya. Rudy sendiri belum memberi nama atas hasil temuannya tersebut. Dirinya hanya menyebut temuannya itu sebagai obat atau fungisida.</p>



<p><br>“Akhirnya dari hasil observasi yang saya lakukan ini, menemukan jika mata ayam itu berasal dari jamur. Jamur itu penyebarannya berjalan selama empat hari. Mulai dari spora hingga spora lagi,” kata.<br>Buah yang mendapat semprotan fungisida ciptaan Rudy, akan berkembang tanpa bintik mata ayam yang lebih banyak. Bintik mata ayam hanya sampai pada permukaan kulit saja, tidak sampai masuk ke dalam daging buah.</p>



<p><br>Serangga seperti lalat buah juga memiliki peran menyebarkan mata ayam. Diterangkan Rudy, lalat melubangi buah apel. Namun uniknya, yang dihinggapi sebagian besar adalah Apel Manalagi.<br>Setelah dilubangi lalu datang hujan sehingga jamur masuk melalui lubang itu dan menyebar mulai ukuran 1 mili hingga beberapa sentimeter. Berdasarkan penelitiannya, wujud jamur mata ayam itu sendiri memiliki bentuk pipih seperti padi.</p>



<p><br>“Apel yang disemprot ini juga layak konsumsi karena ambang dosis yang kami gunakan sangat tepat. Bahan kimia itu jika terlalu banyak bahaya, sedangkan jika kurang tidak akan ada efeknya,” paparnya.</p>



<p><br>Rudy tidak ingin menyimpan rahasia atas kesuksesannya menemukan obat mata ayam pada apel. Dirinya pun sangat terbuka jika ada petani yang butuh berbagi ilmunya. Rudy menegaskan, penelitian yang dilakukannya karena idealisme sebab pertanian telah memberikan kehidupan dan kesejahteraan masyarakat Kota Batu, jauh sebelum menjadi kota dan berkembang pariwisatanya.</p>



<p><br>Karena menurutnya, pertanian dan pariwisata bisa saling menunjang sebab daya tarik wisata Kota Batu, masih bergantung pada alam hingga wisatawan banyak berkunjung.</p>



<p><br>“Ketika saya berhasil, maka harus saya tularkan ke teman-teman sehingga bisa mendapatkan kepuasan tersendiri dengan membantu orang-orang,” akunya.</p>



<p><br>Rudy masih terus mengembangkan temuannya tersebut. Dirinya juga tengah memproduksi temuannya secara masal, agar bisa digunakan oleh banyak petani, khususnya petani apel. Di samping itu, Rudy tengah mencari formula dalam bentuk organik. Dikatakannya, untuk menemukan formula organik perlu waktu yang cukup lama. <strong>(bir/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">132750</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Buang Apel Hingga Ratusan Ton, Petani Bumiaji Temukan &#8216;Obat&#8217; Penyakit Mata Ayam</title>
		<link>https://memontum.com/buang-apel-hingga-ratusan-ton-petani-bumiaji-temukan-obat-penyakit-mata-ayam</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum Editorial Team 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 Jan 2021 05:56:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KREATIF MASYARAKAT]]></category>
		<category><![CDATA[Apel Batu]]></category>
		<category><![CDATA[Apel Batu Punah]]></category>
		<category><![CDATA[Desa Bumiaji]]></category>
		<category><![CDATA[kota batu]]></category>
		<category><![CDATA[Mata ayam]]></category>
		<category><![CDATA[Obat Mata Ayam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=132727</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Batu &#8211; Penyakit mata ayam yang membuat petani apel kelimpungan dan putus asa, sedikit terobati. Slamet (57), petani dari Dusun Binangun, Desa/Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, menceritakan pengalamannya menggunakan fungisida temuan Rudy di ladang apelnya yang memiliki luas 7 hektar. Slamet yang cukup gigih dan ulet dalam mempertahankan lahan apel miliknya, termasuk sempat merugi [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Batu</strong> &#8211; Penyakit mata ayam yang membuat petani apel kelimpungan dan putus asa, sedikit terobati. Slamet (57), petani dari Dusun Binangun, Desa/Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, menceritakan pengalamannya menggunakan fungisida temuan Rudy di ladang apelnya yang memiliki luas 7 hektar.</p>



<p>Slamet yang cukup gigih dan ulet dalam mempertahankan lahan apel miliknya, termasuk sempat merugi hingga miliaran rupiah, karena pernah membuang sekitar 70 ton hasil panennya karena rusak, mulai punya cara dalam mengatasi penyakit mata ayam pada tanaman Apel. Walau pun, selama perjalanannya mengatasi penyakit itu, butuh biaya yang mahal.</p>



<p>&#8220;Saya pernah mengalami kerugian, yang kalau di total bisa sampai miliaran rupiah karena ada ratusan ton apel yang saya buang. Bahkan, satu lahan saja pernah 70 ton, yang harus terbuang,&#8221; ujarnya menceritakan perjalanannya mengatasi mata ayam.</p>



<p>Meruginya petani apel ini, dirasakan hingga kurun waktu sampai tiga tahun terakhir ini. Bahkan, Slamet mengaku telah mengeluarkan modal sebanyak Rp 2,3 miliar. Uang itu, didapatkan dari berhutang sebab perlu untuk mempertahankan apel miliknya.</p>



<p>&#8220;Sejak memakai fungisida temuan Rudy, sekitar dua bulan lalu, buah apel tampak sehat. Meskipun, ada satu dan dua buah terserang. Namun, secara keseluruhan kondisinya bisa diatasi. Bintik mata ayam tidak sampai merusak apel. Penyebaran wabah juga tidak meluas,&#8221; katanya.</p>



<p>Sambil menunjukkan tanaman apel yang sedang berbuah di ladangnya, Slamet berharap, besar panen apel kali ini bisa mendapatkan keuntungan. Meski pun, dirinya tahu bahwa rupiah yang bakal didapat nanti akan digunakan untuk membayar hutang jua.</p>



<p>“Hutang saya banyak. Kalau buat beli Rubicon (mobil, red) bisa dapat dua,” katanya sambil tersenyum, Rabu (20/01) tadi.</p>



<p>Slamet sendiri, tetap bertahan menjadi petani apel, karena memiliki kebanggaan tersendiri. Apel adalah sumber kehidupan baginya, maka tidak mungkin mematikan sumber penghidupannya.</p>



<p>“Penyakit mata ayam itu sendiri nampak ketika apel telah berusia 60 hari sejak berbunga. Mulai nampak bintik hitamnya. Sudah dilakukan penyemprotan masih saja tidak mempan. Menggunakan obat apa saja juga tidak ada hasilnya. Terus masih saya rawat secara terus menerus dengan melakukan pengompresan sedikit demi sedikit,” paparnya.</p>



<p>Awal mula Slamet bertemu Rudy, siapa sangka melalui perantara temannya. Saat itu, dirinya mengeluhkan kepada temannya akan serangan mata ayam yang tiada henti. Sudah banyak biaya dan tenaga yang dikeluarkan, namun tidak membuahkan hasil bagus.</p>



<p>“Kota Batu sebagai kota apel itu hanya slogan saja namun pada kenyataannya banyak petani apel yang dibunuh. Salah satunya adalah sangat sulitnya melakukan perawatan apel,” keluhnya.</p>



<p>Kemudian Slamet bertemu Rudy dan membeli fungisida ciptaan lelaki yang telah banyak melakukan penelitian di sektor pertanian tersebut. Tidak sulit bagi Slamet untuk mendapatkan bahan.</p>



<p>Dengan mencoba formula ciptaan Rudy tersebut, sejumlah apel di ladangnya tampak bagus. Beberapa hari ke depan, bahkan sudah siap dipanen. Terutama Apel Manalagi.</p>



<p>Slamet merindukan, panen apel yang berlangsung cemerlang seperti tahun-tahun sebelum 2018. Kala itu, hasil panen apel selalu memberikan dampak positif bagi petani termasuk penjual.</p>



<p>&#8220;Saat memasuki tahun 2018 atau tiga tahun belakangan, saya mulai banyak membuang buah karena terserang hama mata ayam. Yang paling terasa terjadi pada 2018. Saya membuang 60 ton hingga 70 ton. Dari 1 Ha ladang. Angka kerugiannya mencapai Rp 350 juta,” kenangnya.</p>



<p>Padahal, tambahnya, di tahun sebelumnya sekitar 2016, Slamet bisa memanen hingga 80 ton Apel Manalagi dan 15 ton Apel Anna.</p>



<p>“Dengan menggunakan fungisida ini, buahnya bisa lebih bagus. Memang ada beberapa yang masih terkena namun tidak separah dulu,” terangnya.</p>



<p>Dengan adanya temuan itu, Slamet berharap panen apel kali ini bisa lebih bagus. Dirinya memperkirakan akan membuang sekitar 5 ton apel saja pada panen kali ini.</p>



<p>&#8220;Saya hanya berharap, Pemkot Batu bisa menawarkan solusi stabilitas harga apel. Harga apel anjlok saat ini. Petani harus menghadapi sendirian anjloknya harga apel. Padahal, Pemkot Batu memiliki keleluasaan untuk mengendalikan harga melalui kebijakan yang dikeluarkan,&#8221; harap Salamet.<strong> (bir/sit)</strong></p>



<p></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">132727</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
