<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Ogoh-Ogoh &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/ogoh-ogoh/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Wed, 18 Mar 2026 12:19:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.9</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Ogoh-Ogoh &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Pawai Ogoh-Ogoh Jelang Nyepi, Wali Kota Malang Tekankan Toleransi Umat Beragama</title>
		<link>https://memontum.com/pawai-ogoh-ogoh-jelang-nyepi-wali-kota-malang-tekankan-toleransi-umat-beragama</link>
					<comments>https://memontum.com/pawai-ogoh-ogoh-jelang-nyepi-wali-kota-malang-tekankan-toleransi-umat-beragama#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Mar 2026 08:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintahan]]></category>
		<category><![CDATA[beragama,]]></category>
		<category><![CDATA[jelang]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>
		<category><![CDATA[nyepi]]></category>
		<category><![CDATA[Ogoh-Ogoh]]></category>
		<category><![CDATA[tekankan]]></category>
		<category><![CDATA[toleransi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=231115</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, membuka sekaligus memberangkatkan pawai ogoh-ogoh dalam rangka perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948, di Lapangan Rampal, Rabu (18/03/2026) tadi. Dalam kegiatan tersebut, Wali Kota Wahyu menekankan pentingnya menjaga toleransi beragama, terutama karena perayaan Nyepi tahun ini bertepatan dengan Bulan Ramadan. Menurutnya, kedua momentum keagamaan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, membuka sekaligus memberangkatkan pawai ogoh-ogoh dalam rangka perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948, di Lapangan Rampal, Rabu (18/03/2026) tadi.</p>



<p>Dalam kegiatan tersebut, Wali Kota Wahyu menekankan pentingnya menjaga toleransi beragama, terutama karena perayaan Nyepi tahun ini bertepatan dengan Bulan Ramadan. Menurutnya, kedua momentum keagamaan tersebut memiliki kesamaan nilai, yakni pengendalian diri, disiplin, serta menahan hawa nafsu.</p>



<p>“Ada satu hakikat yang sama, yaitu pengendalian diri, pengendalian hawa nafsu, toleransi, dan disiplin. Ini menjadi bentuk toleransi beragama yang baik,” ujar Wali Kota Wahyu.</p>



<p>Dirinya menilai, keberagaman yang berjalan harmonis di Kota Malang menjadi contoh positif. Bahkan, praktik toleransi tersebut disebut mendapat apresiasi dari Presiden RI.</p>



<p>“Ini menjadi bentuk toleransi beragama yang baik di Kota Malang dan juga diapresiasi oleh Bapak Presiden,” tambahnya.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Selain itu, Wali Kota Wahyu juga mengimbau masyarakat untuk saling menghormati, khususnya kepada umat Hindu yang akan menjalankan Catur Brata Penyepian. “Kami mengajak seluruh masyarakat untuk saling menjaga dan menghormati. Toleransi harus terus dijaga,” tegasnya.</p>



<p>Sementara itu, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Malang, N G Made Wartana, menjelaskan bahwa rangkaian Nyepi telah dimulai sejak beberapa hari sebelumnya, salah satunya melalui ritual Jalanidhi. Kemudian, melaksanakan Tawur Agung Kesanga sebagai bagian dari penyelarasan diri dan alam semesta. Dalam prosesi tersebut, ogoh-ogoh menjadi simbol energi negatif yang ada dalam kehidupan manusia.</p>



<p>“Ogoh-ogoh itu melambangkan energi negatif. Saat diarak, diyakini menyerap hal-hal buruk, kemudian setelah itu akan dipralina atau dibakar sebagai simbol pembersihan,” tuturnya.</p>



<p>Lebih lanjut, pelaksanaan ogoh-ogoh di pusat kota memiliki makna tersendiri, yakni sebagai titik netralisasi berbagai energi negatif yang berasal dari aktivitas manusia. “Pusat kota itu pusat aktivitas, maka di situlah simbol penetralisirannya dilakukan,” ucapnya.</p>



<p>Untuk puncak perayaan Nyepi ditandai dengan pelaksanaan Catur Brata Penyepian selama 24 jam, yang meliputi tidak menyalakan api (Amati Geni), tidak bekerja (Amati Karya), tidak bepergian (Amati Lelungan), dan tidak menikmati hiburan (Amati Lelanguan).</p>



<p>“Ini adalah momen kontemplasi, introspeksi diri, untuk menjadi pribadi yang lebih baik ke depan,” imbuhnya. <strong>(rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://memontum.com/pawai-ogoh-ogoh-jelang-nyepi-wali-kota-malang-tekankan-toleransi-umat-beragama/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">231115</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Sambut Hari Suci Nyepi, Umat Hindu Banyuwangi Gelar Pawai Budaya dengan Suguhkan Puluhan Ogoh-ogoh</title>
		<link>https://memontum.com/sambut-hari-suci-nyepi-umat-hindu-banyuwangi-gelar-pawai-budaya-dengan-suguhkan-puluhan-ogoh-ogoh</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 22 Mar 2025 05:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Banyuwangi]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[dengan]]></category>
		<category><![CDATA[nyepi]]></category>
		<category><![CDATA[Ogoh-Ogoh]]></category>
		<category><![CDATA[puluhan]]></category>
		<category><![CDATA[sambut]]></category>
		<category><![CDATA[suguhkan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=220502</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Banyuwangi &#8211; Ribuan Umat Hindu di Banyuwangi menggelar pawai budaya dalam rangka memeriahkan perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1947, Sabtu (22/03/2035) tadi. Parade yang dipusatkan di RTH Karetan, Kecamatan Purwoharjo, itu menampilkan puluhan Ogoh-ogoh berbagai bentuk dan ukuran. Patung besar yang melambangkan Bhuta Kala atau sifat negatif pada manusia dan alam semesta, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Banyuwangi</strong> &#8211; Ribuan Umat Hindu di Banyuwangi menggelar pawai budaya dalam rangka memeriahkan perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1947, Sabtu (22/03/2035) tadi. Parade yang dipusatkan di RTH Karetan, Kecamatan Purwoharjo, itu menampilkan puluhan Ogoh-ogoh berbagai bentuk dan ukuran.</p>



<p>Patung besar yang melambangkan Bhuta Kala atau sifat negatif pada manusia dan alam semesta, itu diarak oleh pemuda Hindu (Yowana) dari berbagai Sekaa Teruna Teruni (STT) yang tersebar di seluruh Kabupaten Banyuwangi. Kreasi Ogoh-ogoh yang dipamerkan juga dibuat oleh mereka, mulai dari bentuk raksasa yang menyeramkan hingga tokoh mitologi lain. Termasuk, iringan ritmis Gamelan Bali menambah semarak suasana pawai.</p>



<p>Pawai Budaya Umat Hindu ini, pun menyedot perhatian warga Banyuwangi dari berbagai suku dan agama yang memadati sepanjang rute pawai. &#8220;Pawai Ogoh-ogoh bukan sekedar atraksi budaya, tetapi juga cerminan kekayaan adat dan semangat toleransi yang tumbuh subur di Kabupaten Banyuwangi. Ini adalah aset berharga yang harus kita jaga bersama,&#8221; kata Wakil Bupati Banyuwangi, Mujiono.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Dirinya juga menambahkan, bahwa Pemerintah Kabupaten Banyumas terus mendukung kegiatan keagamaan dan budaya bagi seluruh masyarakat, sebagai bagian dari upaya menjaga keberagaman dan mempererat persatuan. &#8220;Meskipun bertepatan dengan Bulan Puasa, pawai ini tetap berlangsung. Ini menunjukkan toleransi antar masyarakat di Kabupaten Banyuwangi, yang berjalan baik dan saling menghargai satu sama lain,&#8221; imbuhnya.</p>



<p>Sementara itu, Ketua PHDI Banyuwangi, Sardiyanto, mengatakan bahwa Pawai Budaya Hindu tersebut diikuti 3 ribu Umat Hindu yang tersebar di wilayah Kecamatan Purwoharjo dan Bangorejo, serta Umat Hindu dari Kampung Bali, Patoman.</p>



<p>Pawai ogoh-ogoh juga merupakan bagian dari upacara Tawur Kesanga. &#8220;Ogoh-ogoh ini merupakan simbol Bhuta Kala atau energi negatif yang perlu dinetralisir sebelum memasuki Hari Suci Nyepi dengan Catur Brata Penyepian. Setelah diarak, Ogoh-ogoh ini akan dicairkan atau dibakar sebagai simbol penyucian diri dan alam semesta,&#8221; jelasnya.</p>



<p>Setelah pawai selesai, Umat Hindu akan melanjutkan persiapan Hari Suci Nyepi, Senin (29/03/2025) dengan melaksanakan Catur Brata Penyepian. Yakni, Amati Geni (tidak menyalakan api atau lampu), Amati Karya (tidak bekerja), Amati Lelungan (tidak bepergian) dan Amati Lelanguan (tidak bersenang-senang. <strong>(kom/bwi/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">220502</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Bupati Yuhronur Hadiri Pawai Ogoh-ogoh Penuh Toleransi dan Keharmonisan di Desa Balun</title>
		<link>https://memontum.com/bupati-yuhronur-hadiri-pawai-ogoh-ogoh-penuh-toleransi-dan-keharmonisan-di-desa-balun</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 2]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Mar 2023 12:20:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Lamongan]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[Berita hari ini]]></category>
		<category><![CDATA[Bupati Yuhronur]]></category>
		<category><![CDATA[nyepi]]></category>
		<category><![CDATA[Ogoh-Ogoh]]></category>
		<category><![CDATA[Pawai Ogoh-ogoh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=185540</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Lamongan &#8211; Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi, menghadiri pelaksanaan Pawai Ogoh-ogoh yang merupakan salah satu rangkaian peringatan Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1945, di Desa Balun, Kecamatan Turi, Rabu (22/03/2023) tadi. Dalam kesempatan itu, dirinya mengatakan bahwa Pawai Ogoh-ogoh yang masuk dalam kalender event Kabupaten Lamongan 2023, ini merupakan bentuk masyarakat yang penuh toleransi dan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Lamongan</strong> &#8211; Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi, menghadiri pelaksanaan Pawai Ogoh-ogoh yang merupakan salah satu rangkaian peringatan Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1945, di Desa Balun, Kecamatan Turi, Rabu (22/03/2023) tadi. Dalam kesempatan itu, dirinya mengatakan bahwa Pawai Ogoh-ogoh yang masuk dalam kalender event Kabupaten Lamongan 2023, ini merupakan bentuk masyarakat yang penuh toleransi dan keharmonisan.</p>



<p>&#8220;Mudah-mudahan tahun ke depan akan terus bisa dilaksanakan dengan tambah baik. Ini sekaligus kita menunjukkan tidak hanya kepada masyarakat Indonesia, tetapi juga masyarakat dunia bahwa ada Desa Balun, yang di dalamnya masyarakatnya penuh toleransi hingga keharmonisan,&#8221; ungkapnya.</p>



<p>Masih menurut Bupati Yuhronur, Pawai Ogoh-ogoh memiliki makna filosofi selayaknya Idul Fitri yang membuat masyarakat muslim kembali ke Fitri (tanpa dosa). &#8220;Punya makna filosofi yang sangat dalam, pada Pawai Ogoh-ogoh ini. Karena, ini membakar segala sifat-sifat negatif, keangkaramurkaan, kesombongan dan hal-hal yang buruk di dalam diri manusia. Sehingga setelah Hari Raya Nyepi ini, berarti kembali menjadi fitri (bersih), layaknya masyarakat muslim yang merayakan hari raya idul Fitri,&#8221; tambahnya.</p>



<p>Baca juga:</p>


<ul class="wp-block-latest-posts__list wp-block-latest-posts"><li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/bupati-pasuruan-gelar-salat-id-bersama-ribuan-umat-muslim-di-masjid-agung-bangil">Bupati Pasuruan Gelar Salat Id bersama Ribuan Umat Muslim di Masjid Agung Bangil</a></li>
<li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/bupati-malang-bersama-opd-salat-idul-fitri-di-masjid-jami-baiturahman-kepanjen">Bupati Malang bersama OPD Salat Idul Fitri di Masjid Jami Baiturahman Kepanjen</a></li>
<li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/1-611-wbp-lapas-kelas-1-malang-terima-remisi-khusus-hari-raya-idul-fitri">1.611 WBP Lapas Kelas 1 Malang Terima Remisi Khusus Hari Raya Idul Fitri</a></li>
<li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/bupati-rio-salat-id-dan-berlebaran-di-desa-terpencil-wilayah-banyuglugur-situbondo">Bupati Rio Salat Id dan Berlebaran di Desa Terpencil Wilayah Banyuglugur Situbondo</a></li>
<li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/gereja-kayutangan-kota-malang-buka-halaman-untuk-pelaksanaan-salat-id">Gereja Kayutangan Kota Malang Buka Halaman untuk Pelaksanaan Salat Id</a></li>
</ul>


<p>Sementara itu, salah satu pemangku di Pura Sweta Maha Suci, Tadi, bahwa tahun ini jumlah Ogoh-ogoh dalam pawai merupakan jumlah terbanyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pelaksanaan, dilakukan dengan toleransi antar umat dan dari 13 Ogoh-ogoh yang diarak, sembilan diantaranya merupakan hasil karya kelompok.</p>



<p>&#8220;Kalau Umat Hindu sendiri membuat 4 Ogoh-ogoh dan yang 9 itu dari kelompok masyarakat luar. Saya katakan kelompok masyarakat, karena di situ campuran. Ada yang Kristen, ada yang Muslim,  dan kelompok-kelompok seperti grup LA Mania, grup pesilat-pesilat, grup kelompok warung-warung itu banyak yang buat. Itu pun, kami tidak mengajak ataupun memberikan biaya, namun melalui swadaya sendiri. Itulah toleransi yang ada di Desa Balun,&#8221; ucap Tadi.<strong> (zen/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">185540</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Pawai Ogoh-ogoh Balun, Bukti Toleransi Umat</title>
		<link>https://memontum.com/pawai-ogoh-ogoh-balun-bukti-toleransi-umat</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 Mar 2019 15:24:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Lamongan]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Raya Nyepi]]></category>
		<category><![CDATA[Ogoh-Ogoh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/80589-pawai-ogoh-ogoh-balun-bukti-toleransi-umat</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Lamongan &#8211; Pawai ogoh-ogoh dalam menyambut perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1941, di Desa Balun, Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan, Rabu (6/3/2019) sore menunjukkan kentalnya toleransi antar umat beragama dalam masyarakatnya. Bukan hanya umat Hindu, namun umat agama lain yang ada di desa yang juga dikenal sebagai Desa Pancasila tersebut, yakni umat Islam [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memontum Lamongan</strong> &#8211; Pawai ogoh-ogoh dalam menyambut perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1941, di Desa Balun, Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan, Rabu (6/3/2019) sore menunjukkan kentalnya toleransi antar umat beragama dalam masyarakatnya. Bukan hanya umat Hindu, namun umat agama lain yang ada di desa yang juga dikenal sebagai Desa Pancasila tersebut, yakni umat Islam dan Kristen melebur jadi satu.</p>
<p>Salah satunya yakni keberadaan sekelompok wanita berhijab yang memainkan alat musik tradisional untuk mengiringi arak-arakan ogoh-ogoh. Mereka merupakan kelompok seni Karawitan Panjak Telaga Biru asli Desa Balun. Hesti Apriliawati, salah seorang anggota kelompok seni Karawitang Panjak Telaga Biru mengatakan, mereka sengaja turut berpartisipasi dalam pawai ogoh-ogoh ini sebagai bentuk toleransi antar umat beragama.</p>
<p>&#8220;Ini memang niat dari kami untuk membangun Desa balun, agama kami ya agama kami, agama mereka ya agama mereka, toleransi sesama umat beragama,&#8221; kata Hesti.</p>
<p>Hesti juga mengatakan untuk mengikuti pawai ogoh-ogoh ini, Ia bersama kelompoknya melakukan persiapan secara khusus. &#8220;Biasanya latihan hanya seminggu sekali, setiap hari jum&#8217;at, tapi untuk memeriahkan ini satu minggu terakhir lebih rutin untuk melakukan persiapan,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Hesti pun berharap untuk kedepannya toleransi antar umat beragama di Desa Balun, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan semakin kental, dan masyarakatnya semakin guyup rukun. Pada pawai ogoh-ogoh tersebut, selain masyarakat Desa Balun, juga dinikmati oleh sejumlah masyarakat luar desa yang sengaja datang untuk melihat pawai ogoh-ogoh. Dalam pawai ini, ada delapan ogoh-ogoh yang di arak keliling desa. <strong>(ifa/zen/yan)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">80589</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Pembakaran Ogoh-Ogoh Jember Jujukan Wisatawan</title>
		<link>https://memontum.com/pembakaran-ogoh-ogoh-jember-jujukan-wisatawan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 07 Mar 2019 11:34:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jember]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Raya Nyepi]]></category>
		<category><![CDATA[Ogoh-Ogoh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=80507</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Jember &#8211; Sebelum merayakan Nyepi Penyucian Tahun Baru Caka 1941, umat Hindu di Desa Sukoreno Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember Rabu (6/3/2019) malam, mengarak ogoh-ogoh keliling desa setempat. Total ada 9 ogoh-ogoh yang diarak, berasal dari 3 desa, yakni Desa Sukoreno, Desa Gunungsari, Kecamatan Umbulsari, dan Desa Wringin Agung, Kecamatan Jombang Kesembilan ogoh-ogoh tersebut diarak [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memontum Jember</strong> &#8211; Sebelum merayakan Nyepi Penyucian Tahun Baru Caka 1941, umat Hindu di Desa Sukoreno Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember Rabu (6/3/2019) malam, mengarak ogoh-ogoh keliling desa setempat.</p>
<p>Total ada 9 ogoh-ogoh yang diarak, berasal dari 3 desa, yakni Desa Sukoreno, Desa Gunungsari, Kecamatan Umbulsari, dan Desa Wringin Agung, Kecamatan Jombang</p>
<p>Kesembilan ogoh-ogoh tersebut diarak keliling desa dari garis start di sekitar gang desa setempat, dengan jarak 5 km dan kembali ke titik awal, kemudian dimusnahkan dengan cara dibakar.</p>
<p><a href="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2019/03/IMG-20190307-WA0029-copy.jpg?ssl=1"><img decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-80510" src="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2019/03/IMG-20190307-WA0029-copy.jpg?resize=650%2C460&#038;ssl=1" alt="" width="650" height="460" srcset="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2019/03/IMG-20190307-WA0029-copy.jpg?w=650&amp;ssl=1 650w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2019/03/IMG-20190307-WA0029-copy.jpg?resize=300%2C212&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2019/03/IMG-20190307-WA0029-copy.jpg?resize=600%2C425&amp;ssl=1 600w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2019/03/IMG-20190307-WA0029-copy.jpg?resize=200%2C142&amp;ssl=1 200w" sizes="(max-width: 650px) 100vw, 650px" data-recalc-dims="1" /></a></p>
<p>Hal itu (dibakarnya ogoh-ogoh) dimaksudkan sebagai simbol untuk memusnahkan keangkara murkaan dan sebagai bentuk penyucian diri, sehingga ibadah yang dilakukan berikutnya mendapat ketenangan jiwa.</p>
<p>Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Jember Dedi Winarno mengatakan kegiatan ini adalah rangkaian Tradisi yang harus dilakukan masyarakat Umat Hindu sebelum merayakan Hari Raya Nyepi</p>
<p>&#8220;Sebelum besok Nyepi, malam ini mengarak ogoh-ogoh dan membakarnya, kegiatan ini berpotensi untuk menjadi jujukan wisata di Kabupaten Jember,&#8221; kata Dedi kepada sejumlah awak media.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">80507</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Perayaan Hari Raya Nyepi, Sukoreno Akan Ramai Ogoh-ogoh</title>
		<link>https://memontum.com/perayaan-hari-raya-nyepi-sukoreno-akan-ramai-ogoh-ogoh</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 04 Mar 2019 14:21:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jember]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Raya Nyepi]]></category>
		<category><![CDATA[Ogoh-Ogoh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/80284-perayaan-hari-raya-nyepi-sukoreno-akan-ramai-ogoh-ogoh</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Jember &#8211; Ogoh-ogoh merupakan kesenian umat Hindu berupa boneka raksasa yang biasanya digunakan untuk menyambut hari raya Nyepi yang diiringi dengan gamelan bali yang disebut Bleganjur. Maka dari itu umat Hindu yang di Desa Sukoreno kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember di upacara Nyepi tahun baru saka 1941 Senin (4/3/2019) tadu, melakukan persiapan ogoh-ogoh. &#8220;Sudah hampir [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memontum Jember </strong>&#8211; Ogoh-ogoh merupakan kesenian umat Hindu berupa boneka raksasa yang biasanya digunakan untuk menyambut hari raya Nyepi yang diiringi dengan gamelan bali yang disebut Bleganjur.</p>
<p>Maka dari itu umat Hindu yang di Desa Sukoreno kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember di upacara Nyepi tahun baru saka 1941 Senin (4/3/2019) tadu, melakukan persiapan ogoh-ogoh.</p>
<p><div id="attachment_80285" style="width: 510px" class="wp-caption aligncenter"><img aria-describedby="caption-attachment-80285" decoding="async" class="size-full wp-image-80285" src="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2019/03/IMG-20190304-WA0047-copy.jpg?resize=500%2C282&#038;ssl=1" alt="SIAP : Ogoh-ogoh siap ditampilkan. (ist) " width="500" height="282" srcset="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2019/03/IMG-20190304-WA0047-copy.jpg?w=500&amp;ssl=1 500w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2019/03/IMG-20190304-WA0047-copy.jpg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2019/03/IMG-20190304-WA0047-copy.jpg?resize=200%2C113&amp;ssl=1 200w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2019/03/IMG-20190304-WA0047-copy.jpg?resize=129%2C74&amp;ssl=1 129w" sizes="(max-width: 500px) 100vw, 500px" data-recalc-dims="1" /><p id="caption-attachment-80285" class="wp-caption-text"><strong>SIAP : Ogoh-ogoh siap ditampilkan. (ist) </strong></p></div></p>
<p>&#8220;Sudah hampir 80 persen hanya tinggal memasang aksesoris dan pakaian, &#8221; kata Wahyu Widodo Spd salah tokoh agama Hindu di setempat, Senin (4/3/2019) siang.</p>
<p>Widodo mengatakan bahwa perayaan ogoh ogoh yang akan di gelar pada hari Rabu (6/3/2019) akan diikuti sedikitnya 9 regu dari kelompok umat hindu yang ada di kabupaten Jember.</p>
<p>&#8220;Karena biasanya berdasarkan pengalaman pada waktu perayaan jumlahnya bisa lebih dari yang direncanakan,&#8221; katanya.</p>
<p>Dia juga mengungkapkan kalau perayaan kali juga akan di ikuti komonitas pecinta seni Indonesia (KPSI) yang jumlahnya di perkirakan 300 orang, dengan pakaian khas kesenian yang akan di berangkatkan paling depan sebagai regu penghormatan.</p>
<p>&#8220;Tidak hanya itu, karang taruna Desa Sukoreno juga akan di libatkan dalam acara tersebut dengan menggelar bassar,&#8221; tambahnya.</p>
<p>Menurut Widodo, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Muspika Umbulsari agar pelaksanaan perayaan ogoh ogoh nanti bisa aman dan lancar.&#8221; Kami sudah mengirimkan undangan ke jajaran Pemkab Jember, Polres dan Kodim, &#8221; ungkasnya.<strong> (bud/yud/oso)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">80284</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Unik, Pembuatan Ogoh-ogoh di Desa Sukorno Libatkan Agama Lain</title>
		<link>https://memontum.com/unik-pembuatan-ogoh-ogoh-di-desa-sukorno-libatkan-agama-lain</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 08 Mar 2018 13:45:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jember]]></category>
		<category><![CDATA[nyepi]]></category>
		<category><![CDATA[Ogoh-Ogoh]]></category>
		<category><![CDATA[Umat Hindu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/30492-unik-pembuatan-ogoh-ogoh-di-desa-sukorno-libatkan-agama-lain</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Jember &#8212; Desa sukoreno, Kecamatan Umbulsari Jember siap gelar acara hari raya nyepi tahun baru saka 1940 yang akan dilaksanakan pada Jumat (16/3/2018) malam. Dalam penyambutan jelang hari raya nyepi tersebut desa sukorno sendiri ada 5 buah ogoh ogoh yang dibuat dalam 2 pure yang berada di Dusun Krajan Kidul yaitu pure Perwitosari dan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memontum Jember </strong>&#8212; Desa sukoreno, Kecamatan Umbulsari Jember siap gelar acara hari raya nyepi tahun baru saka 1940 yang akan dilaksanakan pada Jumat (16/3/2018) malam. Dalam penyambutan jelang hari raya nyepi tersebut desa sukorno sendiri ada 5 buah ogoh ogoh yang dibuat dalam 2 pure yang berada di Dusun Krajan Kidul yaitu pure Perwitosari dan Pure Swasti Darma yang berada di Dusun Kandangrejo, Desa Sukorno, Umbulsari. </p>
<p>Dalam gelaran tahun ini ada yang unik yaitu pembuatan ogoh ogoh di bantu oleh umat muslim dan hal tersebut sangat di sambut antusias oleh umat hindu yang akan menyambut hari raya nyepi. </p>
<p><img decoding="async" src="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2018/03/IMG-20180308-WA0119-copy.jpg?resize=500%2C300&#038;ssl=1" alt="" width="500" height="300" class="aligncenter size-full wp-image-30494" srcset="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2018/03/IMG-20180308-WA0119-copy.jpg?w=500&amp;ssl=1 500w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2018/03/IMG-20180308-WA0119-copy.jpg?resize=300%2C180&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2018/03/IMG-20180308-WA0119-copy.jpg?resize=200%2C120&amp;ssl=1 200w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2018/03/IMG-20180308-WA0119-copy.jpg?resize=400%2C240&amp;ssl=1 400w" sizes="(max-width: 500px) 100vw, 500px" data-recalc-dims="1" /></p>
<p>Salah satunya umat muslim yaitu bernama Miko Effendi, (15) warga Dusun Krajan Kidul dirinya mengaku</p>
<p>&#8220;Saya membantu ini dikarenakan hal ini selain dilakukan bapak dan ibu kami dan semua umat muslim disini dan hal ini juga membantu bapak bapak yang jika siang hari bekerja,&#8221; ucap anak yang masih sekolah di salah satu SMP di Umbulsari tersebut. </p>
<p>Hal senada juga di katakan Tokoh Hindu Sukoreno bernama Suroto (75) dirinya menuturkan pada Rabu (8/3/2018) </p>
<p><img decoding="async" src="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2018/03/IMG-20180308-WA0115-copy.jpg?resize=500%2C300&#038;ssl=1" alt="" width="500" height="300" class="aligncenter size-full wp-image-30493" srcset="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2018/03/IMG-20180308-WA0115-copy.jpg?w=500&amp;ssl=1 500w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2018/03/IMG-20180308-WA0115-copy.jpg?resize=300%2C180&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2018/03/IMG-20180308-WA0115-copy.jpg?resize=200%2C120&amp;ssl=1 200w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2018/03/IMG-20180308-WA0115-copy.jpg?resize=400%2C240&amp;ssl=1 400w" sizes="(max-width: 500px) 100vw, 500px" data-recalc-dims="1" /></p>
<p>Jika kerukunan antar umat beragama disini sudah tercipta lama dan tiap tahun pasti ada kebersamaan dalam membuat ogoh ogoh dengan cara sumbangsih berpatungan agar tercipta semarak ogoh ogoh berbagai wujud yang di kehendaki bersama. Dan untuk kali ini tema ogoh ogoh adalah perwujudan butakala, ucapnya. </p>
<p>Pihaknya berharap semoga hari raya nyepi tahun ini semua berjalan lancar dan tidak ada aral melintang dan pembuatan sudah 80 persen dan hari H semua bisa di arak keliling kampung bersama gamelan dan berbagai upakara keagamaan dengan jarak 6 KM tersebut, pungkas suroto. <strong>(Lum/yan) </strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">30492</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
