<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>organik &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/organik/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Oct 2025 09:37:30 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>organik &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Rencana Pendirian TPS Khusus Dikaji, Pemkot Malang Dorong Pengelolaan Limbah Organik SPPG</title>
		<link>https://memontum.com/rencana-pendirian-tps-khusus-dikaji-pemkot-malang-dorong-pengelolaan-limbah-organik-sppg</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 09 Oct 2025 05:20:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[dikaji,]]></category>
		<category><![CDATA[dorong]]></category>
		<category><![CDATA[khusus]]></category>
		<category><![CDATA[Limbah]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>
		<category><![CDATA[organik]]></category>
		<category><![CDATA[Pemkot]]></category>
		<category><![CDATA[pendirian]]></category>
		<category><![CDATA[Pengelolaan]]></category>
		<category><![CDATA[rencana]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=226614</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Pemerintah Kota Malang terus berupaya mendorong pengelolaan limbah organik dari dapur Sentra Pangan dan Pasar Grosir (SPPG). Hal itu dilakukan, agar lebih bermanfaat dan tidak menimbulkan pencemaran lingkungan. Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, menyampaikan bahwa pihaknya tengah berkoordinasi lintas dinas, melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Pemerintah Kota Malang terus berupaya mendorong pengelolaan limbah organik dari dapur Sentra Pangan dan Pasar Grosir (SPPG). Hal itu dilakukan, agar lebih bermanfaat dan tidak menimbulkan pencemaran lingkungan.</p>



<p>Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, menyampaikan bahwa pihaknya tengah berkoordinasi lintas dinas, melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dispangtan), untuk mengoptimalkan pemanfaatan limbah organik. Khususnya, dari sisa sayuran yang dapat dimanfaatkan oleh peternak.</p>



<p>“Ada banyak peternak yang akan mengambil sampah organik tersebut. Mereka memang memerlukan, jadi untuk limbah sayur itu nantinya bisa digunakan untuk peternakan. Beberapa sudah menunggu untuk pengambilan limbah ini. Kita harapkan, ada pengelolaan sendiri sebelum dibuang,” ucap Wahyu, Kamis (09/10/2025) tadi.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Kemudian, dikatakannya bahwa saat ini masih banyak peternak dan petani yang datang langsung untuk mengambil limbah organik dari dapur SPPG secara mandiri. Bahkan di beberapa lokasi, para peternak saling berebut untuk mendapat sisa bahan organik yang bisa dijadikan pakan ternak.</p>



<p>“Peternak dan petani biasanya mencari sendiri. Kadangkala mereka ini rebutan untuk mengambil limbah itu. Tapi sementara ini Alhamdulillah aman,” tuturnya.</p>



<p>Meski belum ada Tempat Pembuangan Sementara (TPS) khusus untuk limbah SPPG, Wali Kota Wahyu menilai rencana tersebut penting untuk dikaji bersama para koordinator SPPG se-Kota Malang.</p>



<p>“Kalau untuk TPS khusus, itu belum, karena di luar SOP-nya. Tapi ini penting, nanti kami akan kumpulkan bersama koordinator SPPG di Kota Malang,” imbuh Wali Kota Wahyu.</p>



<p>Saat ini, dari 10 SPPG yang aktif di Kota Malang, sebagian besar sudah terhubung dengan peternak yang menampung limbah organik. Ke depan, Pemkot Malang menargetkan jumlah SPPG mencapai 80 titik, dengan sistem pengelolaan limbah yang lebih teratur dan berkelanjutan. <strong>(rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">226614</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Pemkab Lumajang Kesepakatan Bersama Pertanian Organik melalui Pupuk Organik Teknologi Terbarukan</title>
		<link>https://memontum.com/pemkab-lumajang-kesepakatan-bersama-pertanian-organik-melalui-pupuk-organik-teknologi-terbarukan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 27 Dec 2024 06:20:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Lumajang]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintahan]]></category>
		<category><![CDATA[bersama]]></category>
		<category><![CDATA[Kesepakatan]]></category>
		<category><![CDATA[melalui]]></category>
		<category><![CDATA[organik]]></category>
		<category><![CDATA[Pemkab]]></category>
		<category><![CDATA[Pertanian]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[terbarukan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=217918</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Lumajang &#8211; Pemerintah Kabupaten Lumajang menegaskan komitmen untuk mendukung dan mengembangkan produksi pertanian organik melalui Kesepakatan Bersama Sinergi dan Kolaborasi Pertanian Organik melalui Distribusi Pupuk Organik Teknologi Terbarukan. Langkah ini, bertujuan untuk meningkatkan kualitas produk pertanian, memperbaiki keseimbangan lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan petani lokal. &#8220;Yang jelas, menggunakan pupuk organik lebih ramah lingkungan dan juga [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Lumajang</strong> &#8211; Pemerintah Kabupaten Lumajang menegaskan komitmen untuk mendukung dan mengembangkan produksi pertanian organik melalui Kesepakatan Bersama Sinergi dan Kolaborasi Pertanian Organik melalui Distribusi Pupuk Organik Teknologi Terbarukan. Langkah ini, bertujuan untuk meningkatkan kualitas produk pertanian, memperbaiki keseimbangan lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan petani lokal.</p>



<p>&#8220;Yang jelas, menggunakan pupuk organik lebih ramah lingkungan dan juga sekarang di perkotaan sesuatu yang organik menjadi tren sehat seperti sayur atau buah dengan label organik harganya bisa lebih mahal. Ini potensial,&#8221; kata Pj Bupati Lumajang, Indah Wahyuni, saat Penyerahan Kesepakatan Bersama di Ruang Mahameru, beberapa waktu yang lalu.</p>



<p>Sementara itu, aktivis lingkungan dan pemuda pelopor dari Lumajang, Asriafi Ath Tha&#8217;ariq, menjelaskan bahwa pengembangan inovasi penemuannya mampu menciptakan pupuk teknologi terbarukan. Inovasinya, diklaim mampu membantu program pemerintah dalam menyediakan pupuk teknologi baru dengan kualitas dan harga yang terjangkau dan telah mendapatkan pengakuan sebagai peraih Juara I Nasional Teknologi Tepat Guna (TTG) Unggulan oleh Kemendes PDTT.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Asriafi Ath Tha&#8217;ariq menjelaskan, bahwa pupuk teknologi terbarukan ini mampu menjadi solusi dari permasalahan nasional kelangkaan dan mahalnya harga pupuk dan dapat membantu para petani dalam mencukupi kebutuhan pupuknya. &#8220;Selain itu dengan kerja sama bersama lima tahun ke depan ini, diharapkan pemerintah lebih komitmen bersinergi antar dinas terkait, pemuda, petani dalam mengembangkan pertanian organik yang sehat dan berkualitas,&#8221; jelasnya, Jumat (27/12/2024) tadi.</p>



<p>Dengan kesepakatan bersama ini, diharapkan kebutuhan pupuk, khususnya di Lumajang tercukupi bahkan mampu bersaing dan mencukupi kebutuhan pupuk Jawa Timur bahkan nasional. &#8220;Dengan diserahkannya kesepakatan bersama pada 24 Desember 2024 di Ruang Mahameru Pemkab Lumajang antara Waroeng Domba Sembilan Sembilan &amp; Pemkab Lumajang 5 Tahun ke depan, insyaallah kita sama-sama kawal dalam mewujudkan pertanian Lumajang organik yang sehat dan komitmen memperbaiki kualitas lahan pertanian di Lumajang,&#8221; paparnya. <strong>(kom/adi/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">217918</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Ciptakan Inovasi Brikomek, SMPN 30 Malang Ubah Limbah Organik Jadi Briket Bernilai Ekonomis</title>
		<link>https://memontum.com/ciptakan-inovasi-brikomek-smpn-30-malang-ubah-limbah-organik-jadi-briket-bernilai-ekonomis</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 12 Nov 2024 09:50:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[bernilai]]></category>
		<category><![CDATA[briket]]></category>
		<category><![CDATA[brikomek,]]></category>
		<category><![CDATA[ciptakan]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomis]]></category>
		<category><![CDATA[Inovasi]]></category>
		<category><![CDATA[Limbah]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>
		<category><![CDATA[organik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=216449</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; SMP Negeri 30 Kota Malang berinovasi menciptakan Briket Kompos Ekonomi (Brikomek) berbasis screw press. Hal itu dilakukan, karena melihat adanya penumpukan sampah di lingkungan sekolah. Inovasi tersebut, merupakan gagasan dari salah satu guru di SMPN 30 Kota Malang, yakni Supriadi. Itu dikembangkan bersama tim sekolah sebagai solusi atas limbah organik yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; SMP Negeri 30 Kota Malang berinovasi menciptakan Briket Kompos Ekonomi (Brikomek) berbasis screw press. Hal itu dilakukan, karena melihat adanya penumpukan sampah di lingkungan sekolah.</p>



<p>Inovasi tersebut, merupakan gagasan dari salah satu guru di SMPN 30 Kota Malang, yakni Supriadi. Itu dikembangkan bersama tim sekolah sebagai solusi atas limbah organik yang dihasilkan setiap hari.</p>



<p>Guru SMPN 30 Kota Malang, Utari Dian Palupi, menyampaikan bahwa Brikomek tersebut dihasilkan dari pengolahan sampah organik. Yakni daun dan sekam, yang diubah menjadi briket kompos ramah lingkungan.</p>



<p>&#8220;Bahan-bahan untuk membuat Brikomek ini hampir semuanya gratis karena berasal dari limbah organik. Satu-satunya bahan yang perlu dibeli hanyalah tepung kanji sebagai perekat,&#8221; kata Utari, Selasa (12/11/2024) tadi.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Dalam prosesnya, kompos dicampur dengan tepung kanji dengan menggunakan perbandingan tertentu. Kemudian, dicetak dengan alat pengepres yang telah dimodifikasi.</p>



<p>&#8220;Screw press ini kami buat sendiri dan telah diatur agar memiliki daya tekan yang maksimal dan stabil. Setelah dicetak, briket dijemur selama lima hari di bawah sinar matahari,&#8221; tambahnya.</p>



<p>Inovasi Brikomek tidak hanya menjadi solusi pengolahan sampah organik yang lebih ramah lingkungan, tetapi juga mengurangi polusi udara yang diakibatkan metode pembakaran sampah. Sebelumnya, sampah yang tidak terolah di sekolah kerap dibakar, namun metode ini menimbulkan polusi dan merusak lingkungan sekitar.</p>



<p>Selain sebagai langkah mengurangi sampah, Brikomek kini dijadikan media pembelajaran di SMPN 30 Kota Malang. Maka dari itu, siswa dapat memahami langsung bagaimana mengolah limbah organik menjadi produk bernilai ekonomis yang dapat menjadi bahan bakar alternatif.</p>



<p>&#8220;Melalui Brikomek, kami berharap siswa turut belajar tentang pentingnya inovasi dalam menjaga kebersihan lingkungan dan bagaimana memanfaatkan limbah menjadi sesuatu yang bermanfaat,&#8221; imbuh Utari. <strong>(rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">216449</post-id>	</item>
		<item>
		<title>RSUD Jombang Menyapa Bahas Pemanfaatan Limbah Organik Jadi Eco Enzym</title>
		<link>https://memontum.com/rsud-jombang-menyapa-bahas-pemanfaatan-limbah-organik-jadi-eco-enzym</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Aug 2024 02:55:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jombang]]></category>
		<category><![CDATA[Kabar Desa]]></category>
		<category><![CDATA[Limbah]]></category>
		<category><![CDATA[menyapa]]></category>
		<category><![CDATA[organik]]></category>
		<category><![CDATA[pemanfaatan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=212645</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Jombang &#8211; RSUD Jombang melalui Program RSUD Menyapa membahas Pemanfaatan Limbah Organik Dapur Instalasi Gizi menjadi Eco Enzym, dengan menghadirkan nara sumber, Selasa (06/08/2024) tadi. RSUD Jombang sendiri merupakan rumah sakit Tipe B yang memili kapasitas 554 tempat tidur. Dengan kegiatan pelayanan itu, tentunya menghasilkan sampah yang tidak sedikit, baik sampah organik maupun anorganik. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Jombang</strong> &#8211; RSUD Jombang melalui Program RSUD Menyapa membahas Pemanfaatan Limbah Organik Dapur Instalasi Gizi menjadi Eco Enzym, dengan menghadirkan nara sumber, Selasa (06/08/2024) tadi.</p>



<p>RSUD Jombang sendiri merupakan rumah sakit Tipe B yang memili kapasitas 554 tempat tidur. Dengan kegiatan pelayanan itu, tentunya menghasilkan sampah yang tidak sedikit, baik sampah organik maupun anorganik.</p>



<p>Kepala Sanitasi Lingkungan RSUD Jombang, Suyati, saat menjadi nara sumber menyampaikan bahwa instalasi sanitasi lingkungan memiliki sebuah inovasi yaitu pengolahan sampah organik menjadi eco enzym. &#8220;Eco Enzyme adalah hasil dari fermentasi limbah dapur organik seperti ampas buah, sayuran, gula (gula coklat, gula merah atau gula tebu) dan air. Perbandingan untuk membuat eco enzyme dari kulit buah, gula, dan air adalah 3:1:10,&#8221; katanya.</p>



<p>Lebih lanjut disampaikan, pembuatan eco enzyme diperlukan waktu tiga bulan, larutan berwarna coklat gelap dan memiliki aroma fermentasi asam manis yang kuat. Larutan ini memiliki segudang manfaat.</p>



<p>&#8220;Pupuk yang dihasilkan dari sampah organik bisa diproses menjadi eco enzyme,&#8221; tambahnya.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Selain itu, eco enzyme memiliki beberapa manfaat, yang diantarnya sebagai pupuk. Hal itu, disebabkan karena eco enzym mengandung nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman dengan perbandingan 15 ml dicampur air 1 liter, sebagai pemberantas hama tanaman dengan perbandingan 15 ml di campur dengan 1/2 liter air, menghilangkan bau pada kolam lele.</p>



<p>&#8220;Manfaat lainya dapat menghilangkan bau pada kandang ternak, meningkatkan kealitas buah dan sayur, mengusir hewan penganggu di sekitar rumah seperti semut, kecoa, lalat, rayap dan serangga lainnya. Cara pembuatan eco enzyme, yaitu siapkan bahan dengan perbandingan, gula merah atau tetes 1 kg, sampah organik segar kulit sayur dan buah 3 kg, air 10 liter,&#8221; ujarnya.</p>



<p>Kemudian, cuci bersih sampah yang akan dipakai (sampah yang dipakai harus sampah segar dan fres) ditimbang sesuai perbandingan. Masukkan semua bahan ke dalam wadah plastik jangan sampai penuh dan aduk hingga rata lalu tutup rapat. Pasang label tanggal, bulan pembuatan dan pemanenan biar tidak lupa. &#8220;Setelah satu minggu, tutup dibuka dan dilihat apabila bahan mengambang diaduk kembali dan ditutup rapat. Tunggu 3 bulan atau 90 hari eco enzym siap dipanen,&#8221; ungkapnya.</p>



<p>Seiring dengan kesadaran akan pentingnya pelestarian lingkungan, eco enzym menjadi salah satu alternatif yang menjanjikan untuk mendukung gaya hidup ramah lingkungan. <strong>(azl/gie)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">212645</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Molong Kopi Sareng Bupati, Kadis Pertangan Situbondo Sebut Kopi Kayumas Adalah Kopi Organik.</title>
		<link>https://memontum.com/molong-kopi-sareng-bupati-kadis-pertangan-situbondo-sebut-kopi-kayumas-adalah-kopi-organik</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 21 Jun 2024 08:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[Situbondo]]></category>
		<category><![CDATA[adalah]]></category>
		<category><![CDATA[bupati]]></category>
		<category><![CDATA[kayumas]]></category>
		<category><![CDATA[molong]]></category>
		<category><![CDATA[organik]]></category>
		<category><![CDATA[pertangan]]></category>
		<category><![CDATA[sareng]]></category>
		<category><![CDATA[situbondo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=210970</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Situbondo &#8211; Molong kopi sareng Bupati (petik kopi bareng Bupati saat panen kopi, red) menjadi agenda yang ditunggu oleh masyarakat petani kopi di perkebunan Desa Kayumas, Kecamatan Arjasa Situbondo. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Kadis Pertangan) Kabupaten Situbondo, Dadang Aries Bintoro, menjelaskan bahwa Kopi Kayumas di Kecamatan Arjasa, sudah menjadi kopi organik. Tentunya, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Situbondo</strong> &#8211; Molong kopi sareng Bupati (petik kopi bareng Bupati saat panen kopi, red) menjadi agenda yang ditunggu oleh masyarakat petani kopi di perkebunan Desa Kayumas, Kecamatan Arjasa Situbondo.</p>



<p>Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Kadis Pertangan) Kabupaten Situbondo, Dadang Aries Bintoro, menjelaskan bahwa Kopi Kayumas di Kecamatan Arjasa, sudah menjadi kopi organik. Tentunya, itu menjadi salah satu kelebihan kopi tersebut.</p>



<p>Hal itu, dikatakan oleh Dadang saat menyampaikan sambutan dalam acara Molong Kopi Sareng Bupati di lahan Kopi Arabika di Dusun/Desa Kayumas, Kecamatan Arjasa, Jumat (21/06/2024) tadi. &#8220;Kopi Kayumas ini sudah menjadi kopi organik. Petani di sini sudah tidak menggunakan pupuk kimia sama sekali. Sehingga, produk kopi Kayumas kita ini banyak dicari pasar nasional maupun global,&#8221; katanya.</p>



<p>Ditambahkan Dadang, para petani kopi Kayumas juga sudah mampu mengolah kopi hasil panen menjadi kopi siap saji dengan kemasan yang menarik. Sehingga, ini bisa meningkatkan pendapatan mereka.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>&#8220;Saat ini petani kopi Kayumas tidak hanya memproduksi kopi gelondongan. Namun, tetapi juga memproduksi kopi siap saji. Dan ini dijual ke berbagai daerah di Indonesia,&#8221; ujarnya.</p>



<p>Dadang menjelaskan, ada beberapa wilayah yang menjadi sentra kopi di Kabupaten Situbondo. Diantaranya di Desa Kayumas dan Dusun Taman Dadar, Desa Curah Tatal, Kecamatan Arjasa, Kecamatan Sumbermalang, Kecamatan Jatibanteng, dan Kecamatan Mlandingan.</p>



<p>&#8220;Perlu saya sampaikan, di Situbondo ada 7 juta lebih pohon kopi, baik itu jenis arabika maupun robusta. Jutaan pohon kopi ini tumbuh subur di lahan seluas 34.492 hektare dan total produksi 8.218 ton,&#8221; urainya.</p>



<p>Sementara itu, salah satu petani Kopi Kayumas, Dedi menjelaskan bahwa harga Kopi Arabika basah Kayumas mengalami kenaikan. Dari yang awalnya Rp 14 ribu perkilogram menjadi Rp16 ribu perkilogram.</p>



<p>&#8220;Untuk satu hektare lahan pertanian kopi di sini, itu mampu menghasilkan 3 sampai 4 ton kopi basah atau istilahnya itu gelondongan. Musim panen sendiri, mulai bulan ini sampai empat bulan ke depan,&#8221; ujarnya. <strong>(her/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">210970</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Bunga Desa di Sumberbaru, Bupati Banyuwangi Kunjungi dan Beri Apresiasi Pertanian Organik Petani</title>
		<link>https://memontum.com/bunga-desa-di-sumberbaru-bupati-banyuwangi-kunjungi-dan-beri-apresiasi-pertanian-organik-petani</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 14 Jun 2024 12:20:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Banyuwangi]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[apresiasi]]></category>
		<category><![CDATA[bupati]]></category>
		<category><![CDATA[kunjungi]]></category>
		<category><![CDATA[organik]]></category>
		<category><![CDATA[Pertanian]]></category>
		<category><![CDATA[Petani]]></category>
		<category><![CDATA[sumberbaru]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=210752</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Banyuwangi &#8211; Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, mengapresiasi pertanian organik yang dilakukan para petani di Desa Sumberbaru, Kecamatan Singojuruh. Hal ini disampaikan, saat melaksanakan Program Bupati Ngantor di Desa (Bunga Desa) di Desa Sumberbaru. Dalam kesempatan itu, Bupati Ipuk bahkan menyempatkan diri mengunjungi lahan pertanian organik milik para petani. &#8220;Telah terbukti, yang organik kini sangat [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Banyuwangi</strong> &#8211; Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, mengapresiasi pertanian organik yang dilakukan para petani di Desa Sumberbaru, Kecamatan Singojuruh. Hal ini disampaikan, saat melaksanakan Program Bupati Ngantor di Desa (Bunga Desa) di Desa Sumberbaru.</p>



<p>Dalam kesempatan itu, Bupati Ipuk bahkan menyempatkan diri mengunjungi lahan pertanian organik milik para petani. &#8220;Telah terbukti, yang organik kini sangat diminati. Secara ekonomi,.juga lebih menjanjikan. Karena itu, kami terus mendorong para petani menerapkan sistem pertanian terintegrasi,&#8221; kata Bupati Ipuk, Jumat (14/06/2024) tadi.</p>



<p>Salah satu pengusaha beras organik Banyuwangi, Ahmed Tessario, menjelaskan bahwa dirinya awalnya menggandeng 16 petani untuk menggarap lahan seluas 1,6 hektare. Seiring dengan perkembangan dan permintaan pasar organik yang tinggi, petani yang menjadi mitranya saat ini menjadi 1.500 orang.</p>



<p>Luas tanam juga terus bertambah. Dari yang awalnya 1,6 hektar kini menjadi 500 hektar. Dari luas lahan 500 hektar itu, dirinya mengaku mampu memproduksi beras organik sebanyak 70 hingga 100 ton per bulan. Selain dipasarkan melalui distributor ke pasar-pasar modern, Ahmed juga menjual beras organiknya melalui marketplace dan reseller.</p>



<p>&#8220;Alhamdulillah, permintaan selalu ada. Setiap tiga hari sekali, kami kirim 8 hingga 10 ton kepada distributor. Itu belum termasuk permintaan dari reseller dan konsumen dari marketplace. Permintaan hampir di seluruh provinsi. Seperti Jawa Timur, Bali, Sumatera, Kalimantan hingga Papua,&#8221; kata Direktur Utama PT Sirtanio Organik Indonesia ini.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Ahmed menceritakan, dirinya mulai mengembangkan padi organik mengikuti jejak sang paman, Samanhudi, yang lebih dulu terjun ke pertanian organik. &#8220;Awalnya saya diajak untuk membantu paman. Lama-lama saya tertarik dan akhirnya ikut terjun ke pertanian organik. Saya ingin membantu petani untuk mendapatkan harga gabah yang bagus,&#8221; terang Ahmed.</p>



<p>Upayanya bertahun-tahun mengkonversi lahan pertanian non-organik menjadi organik, pun membuahkan hasil. Pada tahun 2019, beras organik produksi PT Sirtanio Organik Indonesia mulai diekspor ke Italia dan Afrika Selatan. Ekspor beras organiknya terpaksa dihentikan, karena pandemi Covid-19. Negara tujuan ekspor mengalami krisis ekonomi dan regulasi juga semakin ketat.</p>



<p>&#8220;Sejak saat itu, kami putuskan untuk fokus pada pasar domestik. Alhamdulillah saat pandemi,.penjualan domestik justru meningkat karena kesadaran masyarakat untuk menjaga imunitas tubuh semakin tinggi,&#8221; ungkapnya.</p>



<p>Untuk beras merah, perkilogramnya dibanderol Rp 31.000, beras putih Rp 27.000, beras coklat Rp 26.500, beras hitam pekat Rp 35.000 dan beras hitam Melik Rp 45.000. Kualitas beras organik Banyuwangi diminati pasar nasional. Permintaan yang cukup tinggi, membuat beras organik Banyuwangi kini tersedia di 18.000 supermarket se-Indonesia.</p>



<p>Sejak beberapa tahun terakhir, Banyuwangi terus mendorong petani menerapkan sistem pertanian terintegrasi dengan budidaya secara organik. Lahan-lahan pertanian di desa-desa Banyuwangi, seperti Sumberwaru, Segobang, Parijatah dan desa-desa lannya telah beralih ke budidaya beras organik.</p>



<p>Beras organik yang diproduksi adalah Beras Merah Varietas A3 Segobang, Beras Hitam Melik Parijatah, Beras Coklat dan Beras Putih Berlian. Varietas-varietas itu telah didaftarkan sebagai padi asli Banyuwangi oleh Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi di Kementerian Pertanian. Dan telah mendapatkan sertifikat organik dari lembaga terkait. <strong>(kom/gie)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">210752</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Bupati Jember Bangga Lihat Panen Padi Desa Darsono dari Pupuk Organik Hasil Kolaborasi</title>
		<link>https://memontum.com/bupati-jember-bangga-lihat-panen-padi-desa-darsono-dari-pupuk-organik-hasil-kolaborasi</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 17 Apr 2024 10:10:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jember]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintahan]]></category>
		<category><![CDATA[bangga]]></category>
		<category><![CDATA[bupati]]></category>
		<category><![CDATA[darsono]]></category>
		<category><![CDATA[kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[organik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=208598</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Jember &#8211; Bupati Jember, Hendy Siswanto, melihat secara langsung panen padi di Desa Darsono, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember, Rabu (17/04/2024). Dia merasa bangga karena padi yang dipanen ini adalah hasil dari pupuk organik yang dibuat Pos Pelayanan Agen Hayati (PPAH) &#8216;Ollenah Terro&#8217; yang berkolaborasi dengan Gapoktan serta PPL, TPHP dan para mahasiswa, hasilnya memuaskan. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Jember</strong> &#8211; Bupati Jember, Hendy Siswanto, melihat secara langsung panen padi di Desa Darsono, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember, Rabu (17/04/2024). Dia merasa bangga karena padi yang dipanen ini adalah hasil dari pupuk organik yang dibuat Pos Pelayanan Agen Hayati (PPAH) &#8216;Ollenah Terro&#8217; yang berkolaborasi dengan Gapoktan serta PPL, TPHP dan para mahasiswa, hasilnya memuaskan.</p>



<p>Bahkan Bupati Jember juga melihat langsung penimbangan hasil Ubinan Padi Perlakuan Organik dan juga melakukan dialog bersama petani sekitar. &#8220;Yang kami risaukan perubahan dari pupuk kimia ke organik itu akan menurunkan produktifitas, namun ternyata tidak dan hasilnya lebih bagus,&#8221; tutur Hendy.</p>



<p>Dia berharap dengan adanya kegiatan ini akan menjadi percontohan, untuk bisa menggunakan pupuk organik di desa yang lain. Karena bukan hanya hasilnya yang lebih bagus, tetapi bisa meningkatkan kualitas tanah atau lahan secara berkelanjutan,&#8221; harapnya.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Pemerintah Kabupaten Jember membagi wilayah sebanyak 6 cluster karena memang perbedaan lahannya sangat berbeda dan treatmentnya juga berbeda sehingga pupuk organiknya yang berbeda-beda.</p>



<p>Bupati Jember juga menyampaikan bahwa tujuan Pemerintah Kabupaten Jember menggratiskan pupuk organik kepada petani Jember adalah untuk menyuburkan lahan yang dimiliki. Untuk seluruh masyarakat Jember, Bupati Hendy meminta agar mengkonsumsi beras hasil dari penanaman dengan pupuk organik. &#8220;Karena itu dapat menyehatkan meskipun untuk harga beras organik ini sedikit lebih mahal,&#8221; ujarnya.&nbsp; <strong>(kom/gie)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">208598</post-id>	</item>
		<item>
		<title>J-Bersadaqoh di Sumbersari, Bupati Jember Kembali Gelontor Pupuk Organik Si Jempol</title>
		<link>https://memontum.com/j-bersadaqoh-di-sumbersari-bupati-jember-kembali-gelontor-pupuk-organik-si-jempol</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Apr 2024 10:45:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jember]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[bupati]]></category>
		<category><![CDATA[gelontor]]></category>
		<category><![CDATA[j-bersadaqoh]]></category>
		<category><![CDATA[jempol]]></category>
		<category><![CDATA[kembali]]></category>
		<category><![CDATA[organik]]></category>
		<category><![CDATA[sumbersari,]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=208183</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Jember &#8211; Bupati Jember, Hendy Siswanto, terus menguji coba pupuk organik Si Jempol, hasil produksi pabrik pupuk milik Pemkab Jember, Rabu (03/04/2024) tadi. Dalam rangkaian kegiatan J-Bersadaqoh di Kelurahan Wirolegi, Kecamatan Sumbersari, Bupati Jember, kembali sejumlah petani diberikan pupuk secara gratis untuk diuji coba di sawah petani masing-masing. Dalam kesempatan itu, bupati juga menyampaikan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Jember</strong> &#8211; Bupati Jember, Hendy Siswanto, terus menguji coba pupuk organik Si Jempol, hasil produksi pabrik pupuk milik Pemkab Jember, Rabu (03/04/2024) tadi. Dalam rangkaian kegiatan J-Bersadaqoh di Kelurahan Wirolegi, Kecamatan Sumbersari, Bupati Jember, kembali sejumlah petani diberikan pupuk secara gratis untuk diuji coba di sawah petani masing-masing.</p>



<p>Dalam kesempatan itu, bupati juga menyampaikan kepada para petani bahwa pupuk organik ini sedang dalam masa pengembangan. Nantinya, setelah dipakai petani dan diaplikasikan ke sawah, bupati kembali akan mengevaluasi dan melihat performanya seperti apa.</p>



<p>&#8220;Mudah-mudahan Pupuk Si Jempol ini membawa manfaat untuk para petani di Jember. Nanti kita akan melihat hasilnya, setelah diaplikasikan ke sawah. Produk ini apa yang perlu diperbaiki, untuk kemudian diambil langkah-langkah,” kata Bupati Hendy.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Melalui langkah ini, ujar Bupati, dirinya berharap bisa mewujudkan Jember mandiri pangan dan mandiri energi. Salah satunya, dengan membangun pabrik pupuk milik daerah. Dengan berproduksinya pabrik pupuk, maka petani di Jember tidak kebingungan pupuk lagi.</p>



<p>“Apabila petani punya saran, dipersilakan disampaikan ke kami, untuk kemajuan pabrik pupuk organik Si Jempol,” paparnya.</p>



<p>Bupati Hendy juga menargetkan, dengan mengaplikasikan pupuk organik Si Jempol, para petani di Jember bisa panen 7 hingga 8 ton perhektar. <strong>(kom/gie)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">208183</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Sapa Petani Tegalsari, Bupati Hendy Gelontor Pupuk Organik Si Jempol ke Petani Jember</title>
		<link>https://memontum.com/sapa-petani-tegalsari-bupati-hendy-gelontor-pupuk-organik-si-jempol-ke-petani-jember</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 Mar 2024 13:40:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jember]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[bupati]]></category>
		<category><![CDATA[gelontor]]></category>
		<category><![CDATA[jempol]]></category>
		<category><![CDATA[organik]]></category>
		<category><![CDATA[Petani]]></category>
		<category><![CDATA[tegalsari,]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=207775</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Jember &#8211; Bupati Jember, Hendy Siswanto, melakukan kunjungan ke persawahan di Desa Tegalsari, Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember, Selasa (26/03/2024) tadi. Kunjungan yang digelar di sela kegiatan Jember Bersadaqoh atau J-Bersadaqoh itu, disambut antusias petani dengan berencana mengaplikasikan pupuk organik merk Si Jempol buatan pabrik pupuk milik Pemkab Jember. &#8220;Sore ini kami berikan pupuk Si [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Jember</strong> &#8211; Bupati Jember, Hendy Siswanto, melakukan kunjungan ke persawahan di Desa Tegalsari, Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember, Selasa (26/03/2024) tadi. Kunjungan yang digelar di sela kegiatan Jember Bersadaqoh atau J-Bersadaqoh itu, disambut antusias petani dengan berencana mengaplikasikan pupuk organik merk Si Jempol buatan pabrik pupuk milik Pemkab Jember.</p>



<p>&#8220;Sore ini kami berikan pupuk Si Jempol ke petani untuk diuji coba. Seperti apa nanti hasilnya, dari situ akan kami tingkatkan terus mutunya,&#8221; kata Bupati Hendy Siswanto.</p>



<p>Disampaikannya, bahwa ada empat kelompok tani yang menerima pupuk organik Si Jempol pada kesempatan tersebut. Untuk diketahui, pabrik pupuk organik Si Jempol milik Pemkab Jember, saat ini sedang pengembangan. Pabrik tersebut, untuk pertama kalinya mendistribusikan hasil produksinya sebanyak 30 ton ke para petani lokal secara gratis untuk diuji coba, seperti pada Jumat (08/03/2024) lalu.</p>



<p>“Distribusi perdana ini kita berikan gratis kepada petani lokal untuk uji coba. Nanti hasil panennya akan kami monitor, sebagai bahan evaluasi,” terangnya.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Bupati Hendy juga menegaskan, jika pihaknya akan terus meningkatkan kualitas pupuk organik yang dihasilkan. Tujuannya, tentu agar bermanfaat bagi para petani. Sementara pabrik pupuk milik daerah ini, diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan petani lokal Jember.</p>



<p>Ditambahkannya, kelangkaan pupuk yang dialami petani, melatar belakangi dibangunnya pabrik pupuk milik Pemkab Jember ini. Tujuannya, agar kebutuhan petani lokal Jember terpenuhi, mengingat potensi pertanian di Kabupaten Jember sangat tinggi.</p>



<p>Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Jember sendiri, merilis luas panen padi Kabupaten Jember pada 2021 mencapai sekitar 124.027,77 hektar. Jumlah itu, mengalami peningkatan sebanyak 2.421,90 hektar atau 1,99 persen dibandingkan 2020 yang hanya sebesar 121.605,87 hektar. Sedangkan untuk produksi padi Kabupaten Jember pada 2021, mencapai 615,70 ribu ton GKG, atau mengalami peningkatan sebanyak 25,43 ribu ton GKG atau 4,31 persen dibandingkan 2020 yang sebesar 590,26 ribu ton GKG.</p>



<p>“Saya minta, ayo kita dukung pupuk Si Jempol ini. Petani lokal Jember semuanya menggunakan pupuk Si Jempol di sawahnya masing-masing,” paparnya. <strong>(kom/rio/gie)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">207775</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
