<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>payung &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/payung/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Sat, 26 Oct 2024 12:22:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>payung &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Festival Gandrung Sewu Payung Agung Sukses Hipnotis Ribuan Penonton di Pantai Marina Boom Banyuwangi</title>
		<link>https://memontum.com/festival-gandrung-sewu-payung-agung-sukses-hipnotis-ribuan-penonton-di-pantai-marina-boom-banyuwangi</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 26 Oct 2024 06:30:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Banyuwangi]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[Festival]]></category>
		<category><![CDATA[gandrung]]></category>
		<category><![CDATA[Hipnotis]]></category>
		<category><![CDATA[marina]]></category>
		<category><![CDATA[Pantai]]></category>
		<category><![CDATA[payung]]></category>
		<category><![CDATA[penonton]]></category>
		<category><![CDATA[ribuan]]></category>
		<category><![CDATA[sukses,]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=215872</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Banyuwangi &#8211; Festival Gandrung Sewu kembali berhasil memukau dan menghipnotis ribuan penonton yang memadati Pantai Marina Boom, Sabtu (26/10/2024) tadi. Tidak kurang sebanyak 1350 Penari Gandrung, sukses menyajikan pertunjukkan seni kolosal yang berkelas dunia. Mengusung tema &#8216;Payung Agung&#8217; The Diversity of Culture, Gandrung Sewu kali ini menjadi jendela beragamnya kekayaan budaya nusantara yang hidup [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Banyuwangi</strong> &#8211; Festival Gandrung Sewu kembali berhasil memukau dan menghipnotis ribuan penonton yang memadati Pantai Marina Boom, Sabtu (26/10/2024) tadi. Tidak kurang sebanyak 1350 Penari Gandrung, sukses menyajikan pertunjukkan seni kolosal yang berkelas dunia.</p>



<p>Mengusung tema &#8216;Payung Agung&#8217; The Diversity of Culture, Gandrung Sewu kali ini menjadi jendela beragamnya kekayaan budaya nusantara yang hidup secara harmonis di Banyuwangi. &#8220;Gandrung Sewu Payung Agung adalah cerminan keelokan dari keragaman budaya yang ada di Banyuwangi, tempat dimana tradisi dan nilai hidup saling berinteraksi. Meskipun berbeda, kita menghargai menghormati mendukung satu sama lain,&#8221; kata Plt Bupati Banyuwangi, Sugirah.</p>



<p>Plt Bupati Sugirah mengatakan, Gandrung Sewu yang masuk dalam Kharisma Event Nusantara (KEN) sejak 2023, ini bukan hanya merayakan kekayaan budaya. Tetapi juga mengajak semua pihak berperan aktif melestarikannya. Pemkab Banyuwangi sendiri, telah menggelar event Gandrung Sewu sejak tahun 2012.</p>



<p>&#8220;Kemasan tradisi dalam format modern seperti Gandrung Sewu kami yakini akan melestarikan kekayaan seni budaya lokal sambil menarik generasi muda untuk terus melestarikannya,&#8221; ujar Plt Bupati Sugirah.</p>



<p>Pagelaran tari kolosal Gandrung Sewu tahun ini, ujarnya, menggambarkan harmonisasi berbagai suku yang ada di Banyuwangi dan bagaimana upaya-upaya mereka dalam menjaga persatuan saat terjadi konflik. Dimunculkan pula tokoh Umar Moyo yang bijak bestari dalam menjaga harmonisasi hubungan antar suku.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Dalam sendratari tersebut, ribuan penari Gandrung membentuk bermacam-macam formasi yang apik. Sehingga, mengundang banyak kekaguman, aplaus dari ribuan penonton yang hadir.</p>



<p>Staf Ahli Menteri Bidang Inovasi dan Kreativitas Kementerian Pariwisata, Restog Krisna Kusuma, yang turut hadir mengapresiasi Pemkab Banyuwangi yang terus mendorong kemajuan pariwisata dan ekonomi kreatif. Salah satunya dengan menggelar berbagai event yang berkualitas.</p>



<p>&#8220;Gandrung Sewu ini tidak terlepas dari inovasi serta peningkatan kualitas pelaksanaan dari tahun ke tahun sehingga menjadi event unggulan yang menjadi daya tarik bagi wisatawan domestik dan mancanegara,&#8221; ujarnya.</p>



<p>Event ini, ujarnya, juga contoh bagaimana kolaborasi dan sinergi lintas sektor dalam menggerakkan ekonomi daerah dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat mulai dari seniman, pelaku industri pariwisata hingga umkm. &#8220;Kami berharap event ini bisa menjadi benchmark bagi daerah lainnya,&#8221; imbuh Restog.</p>



<p>Festival Gandrung Sewu turut dihadiri Direktur Utama PT Pelindo Properti Indonesia Sukariyadi Rudi Meidianto dan perwakilan kepala daerah se-Jawa Timur dan Bali. <strong>(kom/bwi/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">215872</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kuliner di Jalur Payung Batu-Pujon Makin Sepi, Pedagang berharap Sentuhan Perhatian Pemkot</title>
		<link>https://memontum.com/kuliner-di-jalur-payung-batu-pujon-makin-sepi-pedagang-berharap-sentuhan-perhatian-pemkot</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 30 Jun 2023 10:20:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar Desa]]></category>
		<category><![CDATA[Kota Batu]]></category>
		<category><![CDATA[Batu]]></category>
		<category><![CDATA[batu-pujon]]></category>
		<category><![CDATA[berharap]]></category>
		<category><![CDATA[Desa]]></category>
		<category><![CDATA[jalur]]></category>
		<category><![CDATA[kabar]]></category>
		<category><![CDATA[kota]]></category>
		<category><![CDATA[kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[makin]]></category>
		<category><![CDATA[payung]]></category>
		<category><![CDATA[Pedagang]]></category>
		<category><![CDATA[Pemkot]]></category>
		<category><![CDATA[perhatian]]></category>
		<category><![CDATA[sentuhan]]></category>
		<category><![CDATA[sepi,]]></category>
		<category><![CDATA[uncategorized]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=192189</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Batu &#8211; Pedagang kuliner di Jalur Payung, Kelurahan Songgokerto, Kecamatan Batu, Kota Batu, butuh perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Batu. Itu karena, wisata kuliner yang dahulunya pernah berjaya tersebut, kini kian sepi dari pembeli. Bahkan, pedagang dibuat harus gigit jari, karena penghasilannya semakin menurun. Salah satu pedagang Wisata Kuliner Payung, Ahmad Yusuf, mengatakan bahwa [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Batu</strong> &#8211; Pedagang kuliner di Jalur Payung, Kelurahan Songgokerto, Kecamatan Batu, Kota Batu, butuh perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Batu. Itu karena, wisata kuliner yang dahulunya pernah berjaya tersebut, kini kian sepi dari pembeli. Bahkan, pedagang dibuat harus gigit jari, karena penghasilannya semakin menurun.</p>



<p>Salah satu pedagang Wisata Kuliner Payung, Ahmad Yusuf, mengatakan bahwa paska pandemi, kondisi kuliner Payung seolah tidak ada perubahan. Padahal, dahulunya untuk bisa menikmati wisata kuliner di Payung, pembeli harus mengantre untuk bisa mendapatkan tempat duduk.</p>



<p>&#8220;Sekarang di Kuliner Payung ini sepi sekali pengunjungnya. Saya yang mencoba terus bertahan, sampai tidak tahu lagi harus bagaimana,&#8221; katanya, Jumat (30/06/2023) tadi.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Sepinya pengunjung atau pembeli, tambah Yusuf, berdampak kepada sejumlah kios yang ada. Dari total kios yang berkisar sekitar 64 unit, sekarang hanya menyisakan sekitar 25 unit. Itupun, kondisinya juga hampir sama.</p>



<p>&#8220;Karena terus-menerus sepi, membuat beberapa kios juga banyak yang tutup. Dan kalau ini dibiarkan, pastinya akan membuat kawasan kian sepi. Karenanya, butuh perhatian pemerintah terkait atau minimal Pemkot Batu, untuk membantu kondisi ini,&#8221; paparnya.</p>



<p>Ditanya pendapatan perharinya, Yusuf mengatakan, bahwa saat ini dalam sehari hanya mendapatkan penghasilan sekitar Rp 100 ribu. Hasil itu, adalah angka yang lumayan selama beberapa hari terakhir. Sementara, jika dibandingkan dahulu, jelas itu sangat kecil karena untuk tingkatan penjual jagung bakar, itu bisa sampai Rp 500 ribu.</p>



<p>&#8220;Pendapatan yang diperoleh selama ini, itu masih harus dipotong dengan retribusi sebesar Rp 100 ribu perbulan. Karenanya, dengan kondisi sepi ini pastinya berdampak,&#8221; paparnya. <strong>(put/gie)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">192189</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Wisata Kuliner Payung Kota Batu Meredup dan Perlu Sentuhan Perhatian</title>
		<link>https://memontum.com/wisata-kuliner-payung-kota-batu-meredup-dan-perlu-sentuhan-perhatian</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 2]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 18 Jun 2023 07:20:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar Desa]]></category>
		<category><![CDATA[Kota Batu]]></category>
		<category><![CDATA[Batu]]></category>
		<category><![CDATA[dan]]></category>
		<category><![CDATA[Desa]]></category>
		<category><![CDATA[kabar]]></category>
		<category><![CDATA[kota]]></category>
		<category><![CDATA[kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[meredup]]></category>
		<category><![CDATA[payung]]></category>
		<category><![CDATA[perhatian]]></category>
		<category><![CDATA[perlu]]></category>
		<category><![CDATA[sentuhan]]></category>
		<category><![CDATA[wisata]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=191200</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Batu &#8211; Wisata Kuliner Payung yang berada di Kelurahan Songgokerto, Kecamatan/Kota Batu, pernah menjadi favorit kalangan muda di tahun 90 an. Hanya saja seiring berjalan berjalannya waktu, kondisi itu sudah mulai berubah dan bahkan lebih banyak ditinggalkan. Kondisi itulah, yang sontak menjadi perhatian. Seiring menjamurnya kafe dan tempat dengan seguhan serupa, membuat Wisata [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Batu</strong> &#8211; Wisata Kuliner Payung yang berada di Kelurahan Songgokerto, Kecamatan/Kota Batu, pernah menjadi favorit kalangan muda di tahun 90 an. Hanya saja seiring berjalan berjalannya waktu, kondisi itu sudah mulai berubah dan bahkan lebih banyak ditinggalkan.</p>



<p>Kondisi itulah, yang sontak menjadi perhatian. Seiring menjamurnya kafe dan tempat dengan seguhan serupa, membuat Wisata Kuliner Payung, perlu banyak sentuhan.</p>



<p>Ketua Wisata Kuliner Payung, Endrik Andika, menjelaskan bahwa saat ini memang Wisata Kuliner Payung membutuhkan inovasi yang menyesuaikan tren kekinian. Dengan tujuan, untuk kembali menarik pengunjung supaya lebih betah dan nyaman saat menikmati kuliner.</p>



<p>&#8220;Jadi, seiring banyaknya kafe, memang Wisata Kuliner Payung yang melegenda ini butuh dipermak supaya lebih menarik,&#8221; terangnya di Jalur Payung, Kota Batu, Minggu (18/06/2023) tadi.</p>



<p>Saat ini, ujarnya, banyak muncul tren warung kopi dengan konsep coffee shop. Perubahan ini, sudah pasti perlu diimbangi. Hanya saja, karena dominasi pengelola di Payung adalah warga lanjut usia, sudah barang tentu butuh inovasi lain yang lebih mengena.</p>



<p>Baca juga:</p>





<p>“Karena beberapa warga di Payung sudah sepuh (lanjut usia, red), jadi kompetensi untuk diajak inovatif sangat berat. Kebanyakan, hanya bisa pasrah sedangkan di destinasi lain berlomba membangun yang bagus-bagus,&#8221; urainya.</p>



<p>Belum adanya perubahan Wisata Kuliner Payung, tegas Endrik, sangat berpengaruh besar. Sehingga, bisa dikatakan saat ini peminatnya menurun drastis. &#8220;Wisatawan kemungkinan menilai di sini (payung, red) sudah ketinggalan zaman. Karena, pesaing yang terdekat dari sini berdiri destinasi kuliner atau kafe modern. Seperti warung-warung di Paralayang dan Coban Rondo,&#8221; ujarnya.</p>



<p>Untuk itu, tegasnya, agar bisa mengembalikan Payung menjadi ramai seperti dahulu diperlukan strategi untuk menggaet wisatawan. Yaitu, dengan merenovasi ataupun melakukan desain ulang meskipun ini membutuhkan dana yang tidak sedikit</p>



<p>&#8220;Yang jelas, Wisata Kuliner Payung butuh pembaharuan untuk menggaet wisatawan. Masalah pendanaan, kita memang tidak ada yang mendukung selama ini maupun dari segi ide. Untuk kas paguyuban memang ada, tapi cuma sedikit sekali,” jelasnya.</p>



<p>Lesunya perekonomian wisata Payung, pun turut dirasakan pemilik warung, Siti Mauludiarti (36). Diungkapkan, ketika masih ramai-ramainya dahulu di hari biasa, dirinya bisa meraup omzet hingga jutaan rupiah. Namun sekarang, justru menurun.</p>



<p>Bahkan, tambahnya, dahulu saat akhir pekan seperti sekarang ini, banyak pengunjung yang melakukan reservasi terlebih dahulu sebelum datang. Namun saat ini, perharinya mendapatkan Rp 200 ribu sangat sulit.</p>



<p>&#8220;Jika mengikuti zaman, Payung ini harus dibuat kesan moderen hingga tetap eksis. Karena, kalau tidak ada inovasi baru maka kondisinya sepi seperti sekarang,&#8221; tegasnya.</p>



<p>Sekedar diketahui, Wisata Kuliner Payung adalah merupakan jalan puncak yang menghubungkan akses Kota Batu dengan Kabupaten Malang dan Kediri. Keberadaan jalan ini, berada di kawasan Jalan Provinsi Jatim. <strong>(put/gie)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">191200</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
