<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>penurunan produksi &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/penurunan-produksi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Thu, 26 May 2022 08:17:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>penurunan produksi &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Dampak PMK, Penjualan Daging Sapi Kota Malang Alami Penurunan dan Peternak Kota Batu Lakukan Ritual Tolak PMK</title>
		<link>https://memontum.com/dampak-pmk-penjualan-daging-sapi-kota-malang-alami-penurunan-dan-peternak-kota-batu-lakukan-ritual-tolak-pmk</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 2]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 May 2022 08:05:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Batu]]></category>
		<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[Berita hari ini]]></category>
		<category><![CDATA[kota batu]]></category>
		<category><![CDATA[kota malang]]></category>
		<category><![CDATA[penurunan produksi]]></category>
		<category><![CDATA[Peternakan]]></category>
		<category><![CDATA[PMK]]></category>
		<category><![CDATA[PMK Kota Malang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=169704</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Dampak PMK pada hewan ternak, terutama sapi, membuat penjualan daging sapi di beberapa pasar di Kota Malang, mengalami penurunan. Kondisi itu, seperti salah satunya yang disampaikan penjual daging sapi yang berada di Pasar Oro-oro dowo Kota Malang, Toriq (43). Disampaikan Toriq, bahwa penjualan daging sapi, menurun hingga hampir setengahnya. Jika biasanya [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Dampak PMK pada hewan ternak, terutama sapi, membuat penjualan daging sapi di beberapa pasar di Kota Malang, mengalami penurunan. Kondisi itu, seperti salah satunya yang disampaikan penjual daging sapi yang berada di Pasar Oro-oro dowo Kota Malang, Toriq (43).</p>



<p>Disampaikan Toriq, bahwa penjualan daging sapi, menurun hingga hampir setengahnya. Jika biasanya beberapa pembeli itu membeli dengan jumlah yang banyak, kini malah sebaliknya.</p>



<p>“Untuk harga masih tetap. Tetapi penjualan ini mengalami penurunan, hampir setengahnya. Biasanya itu banyak yang beli, sekarang turun dan bahkan jarang ada yang beli,” ungkap Toriq, saat ditemui di Pasar Oro-Oro Dowo, Kamis (26/05/2022) tadi.</p>



<p>Dirinya menjelaskan, bahwa daging yang diperjual belikan, itu didapatkan dari Rumah Potong Hewan (RPH) Kota Malang. Sehingga menurutnya, daging itu aman dan tidak terkena PMK. Karena, sapi yang sakit atau terkena PMK itu dagingnya tidak boleh untuk dijual.</p>



<p>Baca juga:</p>


<ul class="wp-block-latest-posts__list wp-block-latest-posts"><li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/pemkot-dan-dprd-kota-malang-jemput-dukungan-pusat-untuk-penanganan-pasar-besar">Pemkot dan DPRD Kota Malang Jemput Dukungan Pusat untuk Penanganan Pasar Besar</a></li>
<li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/bupati-lumajang-pastikan-pembangunan-kkdmp-berjalan-tertib-dan-memiliki-kepastian-hukum">Bupati Lumajang Pastikan Pembangunan KKDMP Berjalan Tertib dan Memiliki Kepastian Hukum</a></li>
<li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/bahas-masalah-incenerator-waste-to-energy-bupati-malang-audensi-bersama-rektor-universitas-brawijaya">Bahas Masalah Incenerator Waste To Energy, Bupati Malang Audensi bersama Rektor Universitas Brawijaya</a></li>
<li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/peringatan-nuzulul-quran-sekda-kabupaten-malang-ingatkan-pentingnya-pembangunan-spiritual-masyarakat">Peringatan Nuzulul Quran, Sekda Kabupaten Malang Ingatkan Pentingnya Pembangunan Spiritual Masyarakat</a></li>
<li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/masuki-pertengahan-ramadan-kiriman-uang-pmi-via-kantor-pos-malang-turun-rp-18-miliar">Masuki Pertengahan Ramadan, Kiriman Uang PMI via Kantor Pos Malang Turun Rp 1,8 Miliar</a></li>
</ul>


<p>“Nggak boleh dijual kalau sapi itu penyakitan. Jadi, sapi itu harus disembuhkan dahulu kalau sakit, baru kemudian bisa dilakukan pemotongan. Karena itu mempengaruhi kualitas daging yang dijualkan,” jelasnya.</p>



<p>Di pasar Oro-Oro Dowo sendiri, tiap minggunya dilakukan sidak daging yang dijualkan. Itu dilakukan, agar tidak ditemui kecurangan oleh penjual daging, dan mengecek kesehatan daging sapi yang dijual.</p>



<p>“Nggak mesti harinya, tapi pasti diperiksa ngambil sampel daging yang dijualkan ini. Benar atau nggak ini yang dijual daging sapi kualitas bagus atau daging celeng. Di sini, nggak ada yang ditemukan sebagai penjual nakal. Insyaallah, semua benar-benar menjaga kualitas,” bebernya.</p>



<p>Dikatakannya, kalau ditemukan penjual daging yang nakal, pasti akan ditindak. Untuk memilih daging sapi yang masih bagus, itu melihat dari warna daging sapinya. Jika daging berwarna putih itu berati sapinya tidak sehat atau sakit.</p>



<p>“Dari warna daging sapi, itu sudah kelihatan. Mungkin kalau sapinya sakit, dagingnya warna putih. Kalau daging sapi, itu warna merah berarti bagus, sehat dan segar,” katanya.</p>



<p>Dirinya berharap, agar tidak ada oknum-oknum yang menjualkan daging sapi dengan mengidap penyakit. Karena, itu akan berpengaruh kepada yang membeli dan penjual tetap.</p>



<p>“Mudah-mudahan, jangan sampai ada oknum yang seperti itu. Kasihan penjual dan pembelinya. Semoga sama-sama sadar dan wabah ini cepat selesai,” lanjutnya.</p>



<p>Sementara itu, salah satu penjual daging sapi di Pasar Besar Kota Malang, Sumina (42), juga mengalami hal yang serupa. Penjualan daging sapi miliknya, juga mengalami penurunan, meskipun harga masih tetap normal.</p>



<p>“Mengalami penurunan, karena ada isu sapi terkena PMK itu,” ujarnya.</p>



<p>Namun, dirinya tetap meyakinkan pembeli bahwa daging sapi yang dijualnya, itu aman. Karena pihaknya, mendapatkan daging sapi dari RPH Kota Malang.</p>



<p>“Ada beberapa pelanggan yang takut membeli daging sapi, tapi ya saya yakinkan kalau di sini aman. Karena kami kan dagingnya dapat dari RPH. Kalau ada apa-apa yang tanggung jawab ya RPH,” imbuhnya.</p>



<p>Sementara itu di tempat berbeda atau di pedagang daging sapi di Kota Batu, Latifah, menjelaskan bahwa harga daging sapi stabil di angka sekitar Rp 120 ribu per Kg. Sementara suplai daging, mengalami kelangkaan atau menurun. &#8220;Penjualan jumlahnya sama setiap hari, rata-rata 40 Kg,&#8221; terangnya.</p>



<p>Merebaknya PMK, juga membuat peternak di Desa Sumbergondo-Kota Batu, melakukan &#8216;ritual&#8217; khusus untuk menjauhkan wabah PMK yang menyerang sapi. Trisno misalkan atau salah satu warga RT 4 RW 3, Dusun Tegalsari, Desa Sumbergondo, melakukan tradisi tolak wabah hewan ternak dengan cara mengoleskan daun jati ke bagian kepala hewan hingga mengeluarkan warna merah.</p>



<p>&#8220;Ritual atau tradisi ini merupakan keyakinan kami, secara turun temurun dari leluhur. Sehingga, selain adanya pendampingan dari pemerintah, setidaknya ini wujud ikhtiar kamu memohon perlindungan kepada Sang Pencipta untuk menghindarkan wabah,&#8221; ujar Trisno.<strong> (cm2/mg3)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">169704</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Harga Kedelai Melonjak, Pengrajin Tempe dan Tahu Kota Batu Menjerit</title>
		<link>https://memontum.com/harga-kedelai-melonjak-pengrajin-tempe-dan-tahu-kota-batu-menjerit</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 04 Jan 2021 11:34:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[Camat]]></category>
		<category><![CDATA[dampak]]></category>
		<category><![CDATA[kepala desa]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>
		<category><![CDATA[Malang Raya]]></category>
		<category><![CDATA[memontum]]></category>
		<category><![CDATA[Pandemi Covid-19]]></category>
		<category><![CDATA[pemkot batu]]></category>
		<category><![CDATA[penurunan produksi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=131307</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Batu &#8211; Pengrajin tempe Desa Beji, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, menjerit. Mereka mengeluhkan kondisi bahan baku kedelai, yang mengalami peningkatan harga. Akibatnya, tingkat produksi menjadi berkurang, terlebih akibat masa pandemi Covid-19. Kades Beji, Deny Cahyono, menyampaikan hal tersebut sebab banyak pengrajin tempe di desanya yang terdampak akibat meroketnya harga kedelai. Bahkan, beberapa rumah [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memontum Kota Batu</strong> &#8211; Pengrajin tempe Desa Beji, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, menjerit. Mereka mengeluhkan kondisi bahan baku kedelai, yang mengalami peningkatan harga. Akibatnya, tingkat produksi menjadi berkurang, terlebih akibat masa pandemi Covid-19.</p>
<p>Kades Beji, Deny Cahyono, menyampaikan hal tersebut sebab banyak pengrajin tempe di desanya yang terdampak akibat meroketnya harga kedelai. Bahkan, beberapa rumah produksi sampai berhenti produksi.</p>
<p>&#8220;Produksi tempe Desa Beji, normalnya dalam setiap hari berkisar 4-5 ton. Namun, saat pandemi ini ada penurunan produksi sampai dengan 3-4 ton. Sedangkan untuk bahan baku kedelai, juga mengalami peningkatan harga dari sebelumnya berkisar Rp 6.500 sampai Rp 7000/kg sekarang menjadi Rp 9500 sampai Rp 10000/kg. Ini yang menyebabkan pengrajin tempe, menjadi bingung. Sebab, kondisi belum pulih karena pandemi dan mempengaruhi daya beli masyarakat di sisi lain biaya produksi meningkat karena bahan baku kedelai yang meningkat pula,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Akibat lonjakan harga kedelai, tambahnya, kini berdampak pada 30 UMKM Tempe di Desa Beji, yang memilih untuk tidak beroperasional. “Dari 260 UMKM di Kampung Tempe, 30 diantaranya tercatat berhenti. Hal ini, dikarenakan biaya operasional dan bahan baku yang cukup tinggi,” tambah Deny Cahyono, Senin (4/1) sore.</p>
<p>Salah satu pengrajin tahu di kawasan Kelurahan Temas , Suwono, pun memilih untuk mengurangi ketebalan tahunya guna menyiasati agar produksi terus berjalan dan masih dapat keuntungan.</p>
<p>“Ketebalan kami kurangi setengah centimeter. Harga penjualan tahu, juga naik dari Rp. 250 untuk satu kotak tahu goreng kini naik menjadi Rp. 300 sampai Rp. 400 perkotak,” paparnya.</p>
<p>Ketua Kadin (Kamar Dagang Indonesia) Kota Batu, Endro Wahyu, mengaku bahwa pihaknya ingin ada perhatian khusus dari Pemkot Batu.</p>
<p>Hal ini dikarenakan, belum ada bimbingan dari Pemkot terhadap UMKM Tempe di Kota Batu, setelah pihaknya selesai melakukan hearing dengan Kepala Desa Beji.</p>
<p>“Kami akan membantu dengan jaringan Malang Raya dan Surabaya dalam segi pemasaran. Sudah saatnya tempe ini juga dikonsumsi oleh golongan menengah keatas,” tandasnya.<strong> (bir/cw2/sit)</strong></p>


<p></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">131307</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Produksi Jambu Kristal dan Getas Merah di Malang Merosot, Dampak Cuaca Tak Menentu</title>
		<link>https://memontum.com/produksi-jambu-kristal-dan-getas-merah-di-malang-merosot-dampak-cuaca-tak-menentu</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 19 Mar 2018 13:25:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabupaten Malang]]></category>
		<category><![CDATA[penurunan produksi]]></category>
		<category><![CDATA[petani buah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/32364-produksi-jambu-kristal-dan-getas-merah-di-malang-merosot-dampak-cuaca-tak-menentu</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Malang &#8212; Nama buah jambu sebenarnya cukup populer di kalangan masyarakat Indonesia, namun saat ini produksi tanaman ini merosot. Itu akibat kondisi cuaca yang tak menentu. Petani buah jambu di Kabupaten Malang, berharap masyarakat yang punya lahan pertanian, untuk tidak patah semangat menanam tanaman buah. Adalah Syaiful Asyari. Petani buah di Dusun Paras, Desa [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memontum Malang</strong> &#8212;   Nama buah jambu sebenarnya cukup populer di kalangan masyarakat Indonesia, namun saat ini produksi tanaman ini merosot. Itu akibat kondisi cuaca yang tak menentu. Petani buah jambu di Kabupaten Malang, berharap masyarakat yang punya lahan pertanian, untuk tidak patah semangat menanam tanaman buah. Adalah Syaiful Asyari. Petani buah di Dusun Paras, Desa Karangnongko, Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang, bisa jadi contoh para petani ditempat lain.</p>
<p>Berkecimpung di dunia pertanian buah-buahan, pembibitan dan pemupukan, Syaiful tahu betul arah kembang sektor pertanian buah-buahan. Meski tak punya basis Ilmu Pertanian, berbekal pernah menimba ilmu di bidang Manajemen Ekonomi, Syaiful menyulap lahan sempit di rumahnya menjadi lahan income yang sangat besar sejak 15 tahun silam dari bibit buah berbagai jenis.&#8221;Saya dulu hanya punya lahan kecil disamping rumah. Sekitar 20 x 30 meter. Saya tanami tebu dan singkong, cuma dapat income Rp 750 ribu pertahun,&#8221; terang Syaiful, Senin (19/3/2018).</p>
<p>Dikatakan, di kebun jambu biji miliknya seluas 2000 meter. Syaiful kemudian merombak sistem tanaman. Ia gunakan lahan kecil dengan menanam Kelengkeng Mutiara. Hasilnya, income yang di dapat naik 5 kali lipat dari budidaya dan pembibitan kelengkeng sebesar Rp 8 juta per tahun. Syaiful kini melirik Jambu Getas Merah dan Kristal Tanpa Biji. Meski baru 2 tahun berproduksi, Syaiful sudah memiliki 150 tanaman jambu. Dalam setiap 4 hari, ia mampu memetik 1 kwintal jambu Biji Getas Merah per pohon. Sekali panen dalam 4 hari sekali, Syaiful berhasil menjual 5 ton jambu Biji Getas Merah dengan harga Rp 3.000 per kilo.</p>
<p>&#8220;Teman-teman petani sudah saya suruh nandur jambu biji. Dari pada tanaman sayur biaya produksi padat. Proses pemetikan juga langsung oleh pembeli,&#8221; papar Syaiful yang juga menjadi Ketua Kelompok Tani Kecamatan Poncokusumo ini.Syaiful membeberkan, jambu biji Getas Merah dan Kristal Tanpa Biji, berbeda tekstur dan rasa. Jambu kristal cenderung lebih manis dan enak dimakan langsung. Sementara Getas Merah, lebih cocok dibuat minuman seperti Jus dan saribuah.Jika Getas merah mampu menghasilkan 1 kwintal per pohon, khusus Kristal hanya 25 kilogram saja. Hanya harga jualnya berbeda. &#8220;Keduanya jenis jambu biji itu proses perawatannya sama. Hanya rasa dan harga jualnya berbeda,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Dia menambahkan, khusus di Desa Karangnongko, terdapat 10 hektar jambu biji. Syaiful lah yang memberikan bibit dan cara merawat pada semua petani jambu biji Getas Merah dan Kristal Tanpa biji. &#8220;Rasa jambu kristal tanpa biji lebih manis, harga dari petani biasanya Rp 10 ribu perkilo. Soal hama tanaman, kalau hujan rata-rata bunga rontok, dan itu wajar. Kita sudah jual 4 ton selama satu tahun,&#8221; bebernya. </p>
<p>Proses perawatan jambu biji, hanya menyediakan pupuk kandang dengan volume 10 kilo per pohon selama satu tahun. Sementara pupuk kimia seperti NPK per pohon, cukup satu kilo. &#8220;Empat hari sekali kami panen. Khusus tanaman jambu biji ini, bisa bertahan sampai 25 tahun. Tinggal proses perawatannya saja,&#8221; pungkasnya. <strong>(sur/nay)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">32364</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
