<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Perajin &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/perajin/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Thu, 19 Aug 2021 13:05:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Perajin &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Sempat Terseok Dihantam Pandemi, Anyaman Limbah Tali Plastik Tetap Bertahan</title>
		<link>https://memontum.com/sempat-terseok-dihantam-pandemi-anyaman-limbah-tali-plastik-tetap-bertahan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum Editorial Team 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 19 Aug 2021 13:05:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KREATIF MASYARAKAT]]></category>
		<category><![CDATA[Berita hari ini]]></category>
		<category><![CDATA[Kota Probolinggo]]></category>
		<category><![CDATA[Perajin]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=151226</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Probolinggo &#8211; Salah satu perajin anyaman limbah tali plastik, Sutanto (60), asal Kelurahan Kademangan, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo mengutarakan perjalanannya mempertahankan usaha yang sudah dirintisnya selama puluhan tahun ini, dirasa sangat berat ketika dihantam Pandemi Covid-19. Disini setiap hari memproduksi anyaman berbahan limbah tali plastik, seperti tempat kranjang sampah, tempat tisu, keranjang, tudung saji, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Probolinggo</strong> &#8211; Salah satu perajin anyaman limbah tali plastik, Sutanto (60), asal Kelurahan Kademangan, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo mengutarakan perjalanannya mempertahankan usaha yang sudah dirintisnya selama puluhan tahun ini, dirasa sangat berat ketika dihantam Pandemi Covid-19. </p>



<p>Disini setiap hari memproduksi anyaman berbahan limbah tali plastik, seperti tempat kranjang sampah, tempat tisu, keranjang, tudung saji, kotak aksesoris, gazebo dan lain-lain, Kamis (19/08).</p>



<p>Baca juga:</p>


<ul class="wp-block-latest-posts__list is-grid columns-3 wp-block-latest-posts"><li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/kota-malang-masuk-31-besar-program-lsdp-kemendagri-proyek-rdf-ditarget-mulai-2027">Kota Malang Masuk 31 Besar Program LSDP Kemendagri, Proyek RDF Ditarget Mulai 2027</a></li>
<li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/mudik-lebaran-2026-diprediksi-turun-dishub-kota-malang-siapkan-7-pos-dan-rekayasa-lalin-situasional">Mudik Lebaran 2026 Diprediksi Turun, Dishub Kota Malang Siapkan 7 Pos dan Rekayasa Lalin Situasional</a></li>
<li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/evaluasi-penataan-lalin-jalan-merdeka-selatan-dishub-kota-malang-tak-tutup-permanen-saat-ramadan">Evaluasi Penataan Lalin Jalan Merdeka Selatan, Dishub Kota Malang Tak Tutup Permanen saat Ramadan</a></li>
</ul>


<p>Pada periode Maret &#8211; Agustus lalu merupakan periode tersulit dalam perjalannya sebagai perajin. Karena saat itu, angka penderita Covid-19 di Indonesia sedang mengalami kenaikan dan terjadi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa kota.</p>



<p>Akibat pademi pada bulan-bulan itu, dirinya kehilangan pendapatan, karena sama sekali di saat itu, lanjut Sutanto, tidak memikirkan hilangnya omset. Tetapi lebih memikirkan bagaimana nasib para pegawainya yang berjumlah 8 orang agar tidak sampai kehilangan pekerjaan.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Sempat Terseok Dihantam Pandemi, Anyaman Limbah Tali Plastik Tetap Bertahan" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/VGqLMihK3eU?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Beruntung saat itu masih ada pesanan meski dalam jumlah sangat terbatas. &#8220;Paling pesanan hanya 40 persen saja, itu pun menyelesaikan sisa pesanan sebelum juga saat pandemi,&#8221; jelasnya.</p>



<p>Dilema lain, ketika ada pesanan dalam jumlah cukup lumayan, namun disisi lain ekspedisi pengiriman barang banyak yang tidak beroperasi. Jika pun ada, maka harganya cukup tinggi.</p>



<p>Sutanto menambahkan, Sekalipun metode penjualan lewat kanal daring telah diadopsi, Sutanto mengatakan pelaku usaha tetap akan kesulitan mempertahankan bisnis dalam jangka panjang.</p>



<p>“Bagaimanapun penjualan lewat metode take away dan online tidak bisa menggantikan dine-in. Selain itu tidak semua jenis produk bisa dipasarkan secara daring,” tambahnya.</p>



<p>Demi mencegah tekanan ekonomi yang makin buruk, Sutanto menyarankan agar pemerintah mengambil langkah tegas dalam implementasi kebijakan. Dia menyebutkan pembatasan yang berlaku acap kali hanya sebatas pengumuman tanpa diiringi dengan penegakan aturan di lapangan.</p>



<p>Dampak ini juga tak bisa dihindari oleh bisnis restoran dan rumah makan berskala UMKM. Laporan Kementerian Koperasi dan UKM menyebutkan bahwa sekitar 60 persen UMKM bergerak di bidang pangan. <strong>(geo/ed2)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">151226</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Sawah Mengering,  Petani Sugio Beralih Jadi Perajin Kiso</title>
		<link>https://memontum.com/sawah-mengering-petani-sugio-beralih-jadi-perajin-kiso</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 Aug 2018 16:33:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Lamongan]]></category>
		<category><![CDATA[kekeringan]]></category>
		<category><![CDATA[Perajin]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=53899</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Lamongan &#8211; Musim kemarau yang terjadi pada tahun ini mengakibatkan sejumlah area persawahaan di Kabupaten Lamongan mengering. Mengeringnya area persawahan ini membuat sejumlah petani di Lamongan memilih untuk menjadi pengerajin Kiso (Tas untuk membawa ayam) agar asap dapur mereka tetap mengepul. Seperti yang dilakukan oleh Rumiati (63), dan anaknya, Rufian (40), petani asal Dusun [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memontum Lamongan </strong>&#8211; Musim kemarau yang terjadi pada tahun ini mengakibatkan sejumlah area persawahaan di Kabupaten Lamongan mengering.  Mengeringnya area persawahan ini membuat sejumlah petani di Lamongan memilih untuk menjadi pengerajin Kiso (Tas untuk membawa ayam) agar asap dapur mereka tetap mengepul.</p>
<p>Seperti yang dilakukan oleh Rumiati (63), dan anaknya, Rufian (40), petani asal Dusun Sidowayah, Desa Lawangan Agung, Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan. </p>
<p><a href="https://memontum.com/53899-sawah-mengering-petani-sugio-beralih-jadi-perajin-kiso/img-20180828-wa0038-copy" rel="attachment wp-att-53902"><img decoding="async" src="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2018/08/IMG-20180828-WA0038-copy.jpg?resize=650%2C333&#038;ssl=1" alt="" width="650" height="333" class="aligncenter size-full wp-image-53902" srcset="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2018/08/IMG-20180828-WA0038-copy.jpg?w=650&amp;ssl=1 650w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2018/08/IMG-20180828-WA0038-copy.jpg?resize=300%2C154&amp;ssl=1 300w" sizes="(max-width: 650px) 100vw, 650px" data-recalc-dims="1" /></a></p>
<p>&#8220;Kalau kemarau seperti ini kan sawah kering, tidak ada tanaman, jadi ya lebih banyak menghabiskan waktu membuat kiso ini. Lumayan untuk menutupi kebutuhan sehari-hari,&#8221; kata Rufian, Kamis, (30/8/2018).</p>
<p>Rufian mengaku sudah menekuni pekerjaan sampingannya itu selama lebih dari 15 tahun. Hal yang sama juga dilakukan oleh beberapa tetangganya. &#8220;Seratus biji (Kiso), dapat uang 130.000. Diambil pengepul,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>Dikatakan Rufian, Kiso yang dibuatnya ini berbahan utama daun lontar, untuk mendapatkannya Ia biasanya membeli dari pemilik pohon lontar. &#8220;Untuk satu pelepah daun lontar belinya Rp. 2000, kalau daunnya bagus dan panjang-panjang ya bisa jadi 3 buah Kiso,&#8221; ucapnya.</p>
<p>Dalam sehari, Rufian mengaku bisa menghasilkan 30 Kiso dari hasil kerjanya dengan ibunya. Itu pun jika tinggal menganyam daun lontar yang sudah terpisah dari lidinya. </p>
<p>&#8220;Kalau terlebih dulu memisahkan ruas satu dengan ruas lain dan memisahkan lembar daun lontar dengan lidinya ya tidak sampai 30 buah,&#8221; ungkap Rufian yang juga mengatakan Kiso buatannya tersebut akan diambil oleh pengepul dan dikirim hingga ke luar kota, seperti Malang, Madiun, Ponorogo, Nganjuk, Trenggalek, Blitar dan sekitarnya. <strong>(ifa/zen/yan)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">53899</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
