<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>pesarean &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/pesarean/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Thu, 27 Feb 2025 09:36:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>pesarean &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Sambut Ramadan, Pokdarwis Pesarean Ki Ageng Gribig Gelar Tradisi Kirab Apem</title>
		<link>https://memontum.com/sambut-ramadan-pokdarwis-pesarean-ki-ageng-gribig-gelar-tradisi-kirab-apem</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Feb 2025 09:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar Desa]]></category>
		<category><![CDATA[gribig]]></category>
		<category><![CDATA[pesarean]]></category>
		<category><![CDATA[Pokdarwis]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[sambut]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=219710</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Menyambut Bulan Suci Ramadan, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pesarean Ki Ageng Gribig, kembali menggelar tradisi Kirab Apem, Kamis (27/02/2025) tadi. Ketua Pokdarwis Pesarean Ki Ageng Gribig, Devi Nur Hadianto, menyampaikan bahwa Kirab Apem merupakan bagian dari megengan dan itu sebuah tradisi turun-temurun yang melambangkan permohonan maaf, serta kesiapan menyambut Ramadan dengan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Menyambut Bulan Suci Ramadan, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pesarean Ki Ageng Gribig, kembali menggelar tradisi Kirab Apem, Kamis (27/02/2025) tadi.</p>



<p>Ketua Pokdarwis Pesarean Ki Ageng Gribig, Devi Nur Hadianto, menyampaikan bahwa Kirab Apem merupakan bagian dari megengan dan itu sebuah tradisi turun-temurun yang melambangkan permohonan maaf, serta kesiapan menyambut Ramadan dengan hati yang damai. Dalam pembuatan dan pembagian kue apem, itu menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan tersebut.</p>



<p>&#8220;Konsep apem dalam megengan adalah simbol permohonan maaf dan refleksi diri sebelum memasuki Ramadan. Tradisi ini diwariskan oleh para tetua kami sebagai bentuk kesiapan spiritual dalam menyongsong bulan suci,&#8221; ujar Devi.</p>



<p>Sebagai bagian dari syiar Ramadan, kue apem tersebut tidak hanya dibuat dan dibagikan saja, namun juga dikirab keliling area makam Ki Ageng Gribig.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>&#8220;Dikirabnya apem ini bertujuan untuk syiar, grebek, sekaligus mengingatkan masyarakat bahwa besok sudah memasuki bulan puasa. Ini cara kami meramaikan sekaligus mengajak masyarakat menyambut Ramadan dengan suka cita,&#8221; tambahnya.</p>



<p>Pada tahun ini, kue apem yang diproduksi ada sekitar 15 kilogram, di mana setiap kilogramnya menghasilkan sekitar 70 kue. Apem-apem tersebut nantinya akan dibagikan kepada masyarakat, pengunjung dan peziarah yang datang ke kompleks makam.</p>



<p>&#8220;Banyak warga yang juga turut berpartisipasi dengan mengirimkan apem sebagai bentuk rasa syukur dan doa agar Ramadan tahun ini lebih baik dari sebelumnya,&#8221; katanya.</p>



<p>Sebagai informasi, tradisi Kirab Apem di Pesarean Ki Ageng Gribig telah rutin diselenggarakan sejak tahun 2020, setelah Pokdarwis resmi berdiri pada 2017. Sebagian besar peserta kirab berasal dari lingkungan sekitar, yang setiap tahunnya dengan antusias menjaga dan melestarikan budaya tersebut sebagai bagian dari wisata religi di kawasan makam Ki Ageng Gribig. <strong>(rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">219710</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Masuk Tahun Baru Muharram, Komplek Pesarean Ki Ageng Gribig Malang Gelar Tradisi Mbubar Mbubur Suro</title>
		<link>https://memontum.com/masuk-tahun-baru-muharram-komplek-pesarean-ki-ageng-gribig-malang-gelar-tradisi-mbubar-mbubur-suro</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 2]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 19 Jul 2023 08:25:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[ageng]]></category>
		<category><![CDATA[baru]]></category>
		<category><![CDATA[gelar]]></category>
		<category><![CDATA[gribig]]></category>
		<category><![CDATA[kita]]></category>
		<category><![CDATA[komplek]]></category>
		<category><![CDATA[kota]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>
		<category><![CDATA[masuk]]></category>
		<category><![CDATA[mbubar]]></category>
		<category><![CDATA[mbubur]]></category>
		<category><![CDATA[muharram,]]></category>
		<category><![CDATA[pesarean]]></category>
		<category><![CDATA[sekitar]]></category>
		<category><![CDATA[suro]]></category>
		<category><![CDATA[tahun]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=193749</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Memasuki Tahun Baru Islam 1 Muharram, Kampung Gribig Religi (KGR) menghadirkan ritual tahunan yang dikenal dengan sebutan Mbubar Mbubur Suro di Komplek Pesarean Ki Ageng Gribig, Kelurahan Madyopuro, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, Rabu (19/07/2023) tadi. Ketua Pokdarwis KGR, Devi Nur Hadianto, mengatakan bahwa kegiatan tersebut telah menjadi bagian dari visi misi [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Memasuki Tahun Baru Islam 1 Muharram, Kampung Gribig Religi (KGR) menghadirkan ritual tahunan yang dikenal dengan sebutan Mbubar Mbubur Suro di Komplek Pesarean Ki Ageng Gribig, Kelurahan Madyopuro, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, Rabu (19/07/2023) tadi.</p>



<p>Ketua Pokdarwis KGR, Devi Nur Hadianto, mengatakan bahwa kegiatan tersebut telah menjadi bagian dari visi misi pokdarwis untuk mengembangkan kepariwisataan, khususnya di Komplek Pesarean Ki Ageng Gribig tersebut. Terlebih, dalam setahun KGR menggelar enam acara yang berbeda-beda.</p>



<p>“Kami ada enam acara dalam setahun. Diantaranya, konsep bubur atau njenangan. Yang saat ini kita jalani, itu njenang suro atau mbubur suro. Ini telah kita awali pada tahun 2020 lalu, dengan harapan jejak kami sebagai objek wisata religi tetap eksis dan berkelanjutan sampai sekarang,” ujar Devi tadi.</p>



<p><strong>Baca juga:</strong></p>





<p>Kemudian, Devi juga menjelaskan bahwa bubur tersebut memiliki makna dan filosofi yang tersendiri. Bubur yang memiliki warna putih ini melambangkan awal tahun dan awal doa bagi masyarakat Jawa. Sehingga, tradisi tersebut mengajarkan untuk selalu berbaik sangka dan berharap kebaikan selama setahun ke depan.</p>



<p>“Kita orang jawa hendaknya selalu berbaik sangka. Mengawalinya itu pakai putih, sae, bagus. Dengan harapan dalam satu tahun ke depan apa yang kami harapkan, apa yang kita nikmatkan kepada tuhan semua baik-baik saja. Termasuk kepada semua yang ada di lingkungan masyarakat,” katanya.</p>



<p>Selain berwarna putih, bubur suro ini juga memiliki toping yang melambangkan awal penghidupan, seperti telur, ayam atau ikan, serta beberapa unsur lain. Terlebih, juga harus selalu disajikan dengan daun sebagai simbol harapan akan kehidupan dan doa untuk tahun-tahun mendatang.</p>



<p>“Menurut beberapa tetua kita, tradisi seperti itu jangan sampai diubah. Sebab ada harapan ada penghidupan, ada doa dan ada keinginan yang mungkin bisa terkabul di tahun-tahun yang akan datang,” tambahnya.</p>



<p>Berdasarkan perkembangan dari tahun ke tahun, acara tersebut mengalami peningkatan jumlah bubur yang dibuat. Jika pada tahun sebelumnya hanya sekitar 200 takir bubur yang dimasak, tahun ini jumlahnya meningkat hingga hampir 20 kilogram beras.</p>



<p>“Belum tahu ini nanti jadinya berapa, tapi semoga bisa mencapai sekitar 300 takir bubur untuk dibagikan kepada semua masyarakat yang hadir, baik yang datang untuk berziarah maupun berdoa di komplek makam Ki Ageng Gribig ini,” lanjutnya.</p>



<p>Meskipun bubur tersebut dibagikan kepada para pengunjung dan peziarah, namun tetap disajikan dengan cita rasa yang enak dan gurih. &#8220;Kami ingin setiap pengunjung dan peziarah yang datang agak banyak di bulan suro ini bisa mencicipi jenang suro atau bubur suro yang dibikin oleh pegiat atau masyarakat RW 4 atau sekitar makam ini. Agar sama sama merasakan kenikmatan bubur suro kami, sekaligus menganggapnya sebagai sesuatu yang lezat dan berkesan,&#8221; imbuhnya. <strong>(rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">193749</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
