<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>plastik &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/plastik/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Wed, 27 May 2026 10:59:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>plastik &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Kelompok Warga di Kencong Jember Berhasil Olah Sampah Plastik Rumah Tangga Jadi Solar Dex</title>
		<link>https://memontum.com/kelompok-warga-di-kencong-jember-berhasil-olah-sampah-plastik-rumah-tangga-jadi-solar-dex</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 May 2026 06:35:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jember]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[berhasil]]></category>
		<category><![CDATA[kelompok]]></category>
		<category><![CDATA[Kencong]]></category>
		<category><![CDATA[plastik]]></category>
		<category><![CDATA[Sampah]]></category>
		<category><![CDATA[tangga]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=232706</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Jember &#8211; Warga Desa Kencong, Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember, berhasil membuat terobosan ramah lingkungan dengan merancang sistem pengelolaan limbah domestik secara mandiri. Mereka memanfaatkan teknologi penyulingan khusus, untuk mengolah tumpukan sampah plastik rumah tangga menjadi bahan bakar minyak (BBM) alternatif jenis Solar. Aktivitas pemrosesan limbah harian yang berpusat di Dusun Krajan tersebut, ditinjau langsung [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Memontum Jember</strong> &#8211; Warga Desa Kencong, Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember, berhasil membuat terobosan ramah lingkungan dengan merancang sistem pengelolaan limbah domestik secara mandiri. Mereka memanfaatkan teknologi penyulingan khusus, untuk mengolah tumpukan sampah plastik rumah tangga menjadi bahan bakar minyak (BBM) alternatif jenis Solar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aktivitas pemrosesan limbah harian yang berpusat di Dusun Krajan tersebut, ditinjau langsung oleh Penjabat (Pj) Kepala Desa Kencong, Thomas Heru Indra, Selasa (26/05/2026) tadi. Peninjauan lapangan ini, difokuskan untuk mengamati proses teknis operasional alat, volume sampah yang berhasil direduksi, serta kuantitas bahan bakar cair yang dihasilkan melalui sistem pemanasan tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Prosedur pengubahan limbah plastik menjadi sumber energi alternatif ini, mengandalkan pasokan sampah kering yang dikumpulkan secara swadaya oleh masyarakat sekitar. Jenis sampah yang masuk ke dalam mesin reaktor, mencakup tiga komponen utama, yaitu kantong kresek, botol plastik bekas kemasan murni, serta bungkus saset makanan ringan. Seluruh bahan baku tersebut, dibersihkan terlebih dahulu untuk meminimalkan kadar air dan kontaminan tanah sebelum masuk tahap pembakaran.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk alat utama yang digunakan, berupa tabung reaktor pembakar khusus yang dirancang dengan sistem kedap udara. Metode yang diaplikasikan adalah pirolisis, yakni sebuah sistem dekomposisi bahan organik melalui proses pemanasan suhu tinggi tanpa melibatkan unsur oksigen. Absennya gas oksigen di dalam ruang bakar memastikan bahwa material plastik tidak berubah menjadi abu atau menghasilkan asap polusi hitam, melainkan melumer dan pecah menjadi fase gas hidrokarbon.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Uap gas yang dihasilkan dari proses pemanasan tersebut, kemudian dialirkan secara konstan menuju pipa kondensator yang dilengkapi sistem pendingin air bersirkulasi. Proses penurunan suhu yang terjadi secara mendadak, memaksa gas kembali mengembun dan berubah wujud menjadi cairan minyak mentah. Pada tahapan final, cairan minyak mentah ini masuk ke dalam tabung penyulingan khusus untuk memisahkan zat murni. Hasil akhir dari proses distilasi bertingkat ini adalah bahan bakar cair jernih yang secara fisik, warna dan daya bakar menyerupai Solar kualitas komersial jenis Dex.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Baca juga :</strong></p>





<p class="wp-block-paragraph">Salah satu warga yang menjadi inisiator utama pembuatan alat pirolisis di Dusun Krajan, Anton, membeberkan bahwa proyek mandiri ini dirancang untuk menjawab keresahan warga terkait biaya operasional desa. Karakteristik plastik yang merupakan produk turunan minyak bumi, dimanfaatkan kembali agar memiliki nilai guna tinggi bagi masyarakat yang mayoritas bermata pencaharian di sektor agraris.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Selain mengurangi volume sampah plastik, hasil solar dari pengolahan ini nantinya bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan mesin pertanian dan peralatan warga,” ujarnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berdasarkan data uji coba internal yang dilakukan oleh kelompok warga, solar hasil pirolisis ini terbukti mampu menggerakkan mesin diesel stasioner dengan aman. Penggunaan Solar Dex alternatif ini direncanakan mengalir untuk kebutuhan bahan bakar pompa air irigasi sawah, mesin traktor pembajak tanah, hingga mesin perontok padi milik warga desa. Langkah ini, sekaligus memotong pengeluaran modal harian para petani lokal secara signifikan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pemerintah Desa Kencong memberikan perhatian penuh, terhadap volume limbah yang berhasil ditekan melalui operasional alat ini. Pj Kades Kencong, Thomas Heru Indra, menyampaikan bahwa tanggapan masyarakat sangat positif karena mereka bisa melihat langsung solusi nyata atas masalah sampah kemasan yang selama ini sulit diurai oleh alam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Thomas, keberadaan fasilitas pirolisis mandiri di tingkat dusun ini sangat klop dengan pokok arahan Bupati Jember, Muhammad Fawait, yang mendorong program penanganan sampah berbasis kekuatan masyarakat. Melalui sistem tata kelola lingkungan yang mandiri di tingkat tapak, beban pengangkutan sampah menuju ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) utama milik kabupaten dapat berkurang secara berkala.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Thomas mengharapkan, skema kerja teknis ini tidak berhenti di wilayah Dusun Krajan saja, melainkan diadopsi secara luas oleh desa-desa tetangga di wilayah Jember. &#8220;Kami berharap cara ini bisa ditiru desa lain di Kecamatan Kencong. Selain menekan persoalan limbah, juga bisa jadi sumber energi alternatif,&#8221; ujar Thomas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara nasional, penerapan metode pirolisis memang sudah mulai marak diaplikasikan di berbagai daerah perkotaan dan sentra industri sebagai bagian dari strategi nasional pengurangan sampah plastik. Penerapan teknologi tepat guna ini terbukti efektif dalam memusnahkan bentuk fisik sampah plastik secara permanen sekaligus menghasilkan output energi bersih yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomi tinggi bagi masyarakat luas. <strong>(rio/gie/adv)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">232706</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Harga Plastik Terus Naik, Pengrajin Tempe Sanan Terjepit</title>
		<link>https://memontum.com/harga-plastik-terus-naik-pengrajin-tempe-sanan-terjepit</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 22 May 2026 04:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar Desa]]></category>
		<category><![CDATA[Pengrajin]]></category>
		<category><![CDATA[plastik]]></category>
		<category><![CDATA[terjepit]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=232603</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Lonjakan harga plastik, yang salah satunya juga untuk pembungkus, kini menjadi keluhan utama pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) tempe di Sentra Industri Tempe Sanan, Kota Malang. Bahkan, kenaikan harga plastik yang terus naik itu, dinilai lebih memberatkan dibanding kenaikan harga kedelai. Salah satu pengrajin tempe Sanan, Wiji Astuti, mengatakan bahwa [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Lonjakan harga plastik, yang salah satunya juga untuk pembungkus, kini menjadi keluhan utama pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) tempe di Sentra Industri Tempe Sanan, Kota Malang. Bahkan, kenaikan harga plastik yang terus naik itu, dinilai lebih memberatkan dibanding kenaikan harga kedelai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu pengrajin tempe Sanan, Wiji Astuti, mengatakan bahwa harga plastik roll yang biasa digunakan untuk membungkus tempe melonjak tajam. Kenaikan itu mulai terjadi menjelang Ramadan lalu dan terus merangkak naik hingga sekarang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Dahulu satu roll plastik sekitar Rp 19 ribu. Dari situ, awalnya hanya naik menjadi Rp 21 ribu perroll dan kemudian Rp 27 ribu, hingga akhirnya menyentuh Rp 30 ribu. Naiknya itu, sedikit-sedikit sejak mau Ramadan dan sampai sekarang belum turun lagi,” kata Wiji, Jumat (22/05/2026) tadi.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Baca juga :</strong></p>





<p class="wp-block-paragraph">Akibat kenaikan itu, tambahnya, kontan membuat biaya produksi tempe ikut membengkak. Bahkan, Wiji menyebut bila dampak kenaikan plastik lebih terasa dibanding kenaikan harga kedelai, yang saat ini berada di kisaran Rp 10.500 perkilogram.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kalau kenaikan kedelai tidak begitu riskan daripada kenaikan harga plastik,” tambahnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meski biaya produksi naik, para pengrajin tempe di Sanan belum berani mengurangi ukuran produk maupun menaikkan harga jual. Sebab, mereka khawatir pelanggan akan beralih ke produk lain.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk bertahan, dirinya memilih memangkas keuntungan agar usaha tetap berjalan. Jika sebelumnya laba bisa mencapai dua kali modal, kini keuntungan yang didapat hanya berkisar Rp 40 ribu hingga Rp 50 ribu per hari produksi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Yang penting masih bisa produksi dan pelanggan tetap ada,” imbuhnya. <strong>(rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">232603</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Bukan Kebaya, Tapi Kardus dan Plastik Jadi Simbol Perjuangan Misyani di Hari Kartini</title>
		<link>https://memontum.com/bukan-kebaya-tapi-kardus-dan-plastik-jadi-simbol-perjuangan-misyani-di-hari-kartini</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Apr 2026 06:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar Desa]]></category>
		<category><![CDATA[kardus]]></category>
		<category><![CDATA[kartini]]></category>
		<category><![CDATA[kebaya]]></category>
		<category><![CDATA[misyani]]></category>
		<category><![CDATA[perjuangan]]></category>
		<category><![CDATA[plastik]]></category>
		<category><![CDATA[simbol]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=231842</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Memperingati Hari Kartini, tidak selalu harus identik dengan kebaya atau seremoni. Bagi Misyani (54), semangat Kartini justru hadir dalam kerja keras sehari-hari demi bertahan hidup secara mandiri dan menghidupi keluarga. Sejak pukul 05.30, Misyani yang bekerja sebagai pemulung, sudah mulai menyusuri jalanan untuk mengumpulkan barang bekas. Kardus, botol plastik hingga gelas [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Memperingati Hari Kartini, tidak selalu harus identik dengan kebaya atau seremoni. Bagi Misyani (54), semangat Kartini justru hadir dalam kerja keras sehari-hari demi bertahan hidup secara mandiri dan menghidupi keluarga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejak pukul 05.30, Misyani yang bekerja sebagai pemulung, sudah mulai menyusuri jalanan untuk mengumpulkan barang bekas. Kardus, botol plastik hingga gelas air mineral, menjadi sumber penghasilannya. Aktivitas itu, di jalani hingga sekitar pukul 10.30 hingga 11.00 di setiap hari.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Mulai tahun 2004, saya mulung di sini. Dahulu sama bapaknya anak-anak, sekarang sudah tidak ada. Jadi, saya sendiri yang meneruskan,” kata Misyani, saat ditemui di Tempat Penampungan Sementara (TPS) Borobudur, Selasa (21/04/2026) tadi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pekerjaan sebagai pemulung, bagi Misyani tentunya bukan pilihan mudah. Namun, setelah sang suami meninggal dunia, dirinya memilih tetap bekerja agar tidak bergantung pada orang lain. Baginya, bekerja adalah bentuk kemandirian sekaligus cara bertahan hidup.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam sehari, Misyani mengaku kalau penghasilannya tidak menentu. Namun bila dirata-rata, hasil yang diperolehnya sekitar Rp 35 ribu hingga Rp 50 ribu. Tergantung, dari banyaknya barang yang berhasil dikumpulkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Baca juga :</strong></p>





<p class="wp-block-paragraph">Harga jual barang bekas, pun relatif kecil, seperti botol plastik yang hanya dihargai Rp 500 hingga Rp 600 perkg. Sementara untuk kardus, sekitar Rp 1.500.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Dapat sedikit disyukuri, dapat banyak juga disyukuri. Yang penting berkah,&#8221; papar perempuan yang tinggal di kawasan Plaosan, Kecamatan Blimbing.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Usai bekerja, Misyani biasanya pulang menggunakan becak langganan. Ongkosnya berkisar Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu, tergantung banyaknya barang bawaan. Sementara untuk berangkat, sesekali menggunakan ojek daring karena sudah tidak mampu mengayuh sepeda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Saya punya empat anak. Dua diantaranya sudah berkeluarga dan saya hidup mandiri di rumah sendiri, agar tidak merepotkan anak-anak,&#8221; katanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Semangat sederhana itulah, yang membuat kisah Misyani menjadi potret nyata perjuangan perempuan di Hari Kartini. Tanpa sorotan panggung, dirinya terus bekerja, menjaga harga diri melalui kemandirian. Harapannya pun sederhana.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Semoga diberi kesehatan, rezeki yang berkah dan panjang umur supaya bisa terus bekerja,” imbuhnya. <strong>(rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">231842</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Harga Plastik di Kota Malang Melonjak hingga Dua Kali Lipat</title>
		<link>https://memontum.com/harga-plastik-di-kota-malang-melonjak-hingga-dua-kali-lipat</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Apr 2026 07:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar Desa]]></category>
		<category><![CDATA[hingga]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>
		<category><![CDATA[melonjak]]></category>
		<category><![CDATA[plastik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=231519</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Berbagai jenis plastik kemasan di Kota Malang mengalami lonjakan harga hingga dua kali lipat. Kenaikan tersebut, dipicu meningkatnya biaya bahan baku plastik yang mengikuti pergerakan harga minyak mentah dunia serta nilai tukar dolar. Dampak dari kenaikan harga ini, salah satunya dirasakan langsung para pelaku usaha. Termasuk, distributor plastik hingga pedagang kuliner [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Berbagai jenis plastik kemasan di Kota Malang mengalami lonjakan harga hingga dua kali lipat. Kenaikan tersebut, dipicu meningkatnya biaya bahan baku plastik yang mengikuti pergerakan harga minyak mentah dunia serta nilai tukar dolar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dampak dari kenaikan harga ini, salah satunya dirasakan langsung para pelaku usaha. Termasuk, distributor plastik hingga pedagang kuliner kaki lima yang bergantung pada kemasan plastik untuk berjualan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pengelola Grosir Plastik Eka di Jalan Muharto, Muhammad Umam, mengatakan kenaikan harga terjadi sepenuhnya karena faktor bahan baku dari pabrik. “Kenaikan ini murni dari bahan baku. Plastik itu kan turunan minyak, jadi ketika harga minyak dunia naik karena konflik, otomatis ikut terdampak,” ujar Umam, Selasa (07/04/2026) tadi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurutnya, kenaikan harga plastik rata-rata mencapai 50 persen. Bahkan, beberapa jenis kemasan mengalami lonjakan hingga 100 persen. Umam mencontohkan plastik PP atau kantong bening yang sebelumnya dijual sekitar Rp 30 ribu per kilogram kini melonjak menjadi Rp 55 ribu per kilogram. Sementara kemasan makanan jenis thinwall 500 ml yang sebelumnya Rp 25 ribu per slop (isi 25 pcs) kini naik menjadi Rp 52 ribu per slop.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kenaikan segini baru pertama kali terjadi selama saya jualan plastik. Ini bukan dari toko, tapi langsung dari pabrik karena bahan bakunya mahal,” katanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Baca juga :</strong></p>





<p class="wp-block-paragraph">Lonjakan harga tersebut berdampak langsung pada pedagang kecil. Banyak pelanggan grosir plastik terpaksa mengurangi pembelian bahkan membatalkan pesanan karena tidak sanggup menanggung kenaikan biaya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Banyak pembeli akhirnya balik karena harganya tinggi sekali. Sekarang pabrik juga mintanya pembayaran cash, jadi kalau tidak ada uang muka barang tidak diproduksi,” tambahnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Akibat kondisi tersebut, omzet penjualan di tokonyapun ikut menurun seiring melemahnya daya beli para pedagang. Sementara dampak yang paling terasa, juga dialami pelaku UMKM kuliner, salah satunya pedagang seblak di kawasan Dieng, Yanti. Dirinya mengaku, terpaksa menaikkan harga jual karena hampir seluruh kemasan makanannya menggunakan plastik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Biasanya beli plastik masih terjangkau, sekarang mahal sekali. Mau tidak mau harga seblak saya naik sekitar seribu sampai dua ribu rupiah per porsi,” ucap Yanti.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurutnya, penggunaan plastik sulit dihindari karena mayoritas pembeli memilih makanan dibungkus untuk dibawa pulang maupun melalui layanan pesan online. “Kalau tidak pakai plastik ya susah, pembeli kebanyakan takeaway. Jadi ketika plastik naik, otomatis biaya produksi ikut naik,” imbuhnya. <strong>(rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">231519</post-id>	</item>
		<item>
		<title>TPS 3R Banyuwangi Sukses Kelola Sampah Plastik Jadi Bahan Bakar Alternatif</title>
		<link>https://memontum.com/tps-3r-banyuwangi-sukses-kelola-sampah-plastik-jadi-bahan-bakar-alternatif</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 Nov 2025 07:20:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Banyuwangi]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[alternatif]]></category>
		<category><![CDATA[kelola]]></category>
		<category><![CDATA[plastik]]></category>
		<category><![CDATA[Sampah]]></category>
		<category><![CDATA[sukses,]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=227469</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Banyuwangi &#8211; Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, mengapresiasi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Reduce Reuse Recycle (TPS 3R) Banyuwangi yang telah berhasil mengelola sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif Refuse Derived Fuel (RDF). Bahkan, puluhan ton RDF juga telah dikirim untuk menjadi bahan industri. Diketahui, bahwa RDF merupakan bahan bakar alternatif yang dihasilkan dari olahan sampah [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Memontum Banyuwangi</strong> &#8211; Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, mengapresiasi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Reduce Reuse Recycle (TPS 3R) Banyuwangi yang telah berhasil mengelola sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif Refuse Derived Fuel (RDF). Bahkan, puluhan ton RDF juga telah dikirim untuk menjadi bahan industri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Diketahui, bahwa RDF merupakan bahan bakar alternatif yang dihasilkan dari olahan sampah non organik seperti sampah plastik. Melalui proses pencacahan, pengeringan dan pemadatan, sampah yang tadinya tidak bernilai diubah menjadi sumber energi baru yang ramah lingkungan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Ada sampah plastik yang bernilai ekonomis dan tidak. Yang tidak ini biasanya menjadi limbah. Limbah inilah yang kemudian diubah menjadi RDF di TPS 3R Banyuwangi. Limbah sampah plastik yang merupakan sisa pengolahan sampah berhasil diubah menjadi RDF yang bernilai ekonomis,” kata Bupati Ipuk, Kamis (06/11/2025) tadi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bupati Ipuk juga terus mendorong pengolahan sampah di Banyuwangi, dengan memperbanyak pendirian TPS 3R. Kebijakan ini, dilakukan sebagai bagian dari pembangunan yang ramah lingkungan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat ini, terdapat 26 TPS 3R di Banyuwangi. Bahkan, salah satu TPS 3R yakni TPS 3R Tembokrejo di Kecamatan Muncar, telah berhasil mendapatkan Plakat Adipura sebagai TPS 3R Terbaik Nasional dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Baca juga :</strong></p>





<p class="wp-block-paragraph">“Ini merupakan bentuk nyata penerapan prinsip ekonomi sirkular. Dimana limbah tidak lagi dibuang, tetapi diolah kembali menjadi produk bernilai guna. Langkah ini juga akan mengurangi beban tempat pembuangan akhir (TPA),&#8221; imbuhnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat ini, TPS 3R yang telah sukses mengolah limbah sampah plastik menjadi RDF, yakni TPS 3R Balak di Kecamatan Songgon dan TPS 3R Desa Tembokrejo Kecamatan Muncar. Total, RDF yang telah diproduksi dan dikirim ke industri oleh 2 TPS 3R tersebut sebanyak 60 ton.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kami telah bekerja sama untuk bisa menyerap hasil RDF dari semua TPS 3R di Banyuwangi. Ini akan menciptakan sistem yang berkelanjutan dan mendorong TPS 3R untuk terus berproduksi,” kata Bupati Ipuk.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ditambahkan Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Dwi Handayani, total RDF yang dihasilkan Banyuwangi sebanyak 60 ton. Rinciannya, TPS 3R Balak Kecamatan Songgon 20 ton RDF, sedangkan TPS 3R Tembokrejo, Muncar sebanyak 40 ton.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara untuk industri yang menjadi tujuan pengiriman RDF dari Banyuwangi, adalah PT Solusi Bangun Indonesia (SBI), perusahaan semen yang dikenal mengembangkan konsep co-processing yakni pemanfaatan limbah sebagai bahan bakar pengganti batu bara di proses produksi semen.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Kami kirim ke SBI pada Oktober 2025 lalu,” jelasnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yani-sapaan Kepala DLH melanjutkan, bahwa sampah RDF yang dikirim Banyuwangi telah memenuhi sejumlah kriteria yang ditentukan. Diantaranya, kandungan nilai kalor, ukuran dan bentuk, kandungan air, sulfur dan klorin. <strong>(kom/bwi/gie)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">227469</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Ketua DPRD Kota Malang Dorong Kebijakan Penggunaan Plastik Sekali Pakai</title>
		<link>https://memontum.com/ketua-dprd-kota-malang-dorong-kebijakan-penggunaan-plastik-sekali-pakai</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 14 Aug 2025 07:40:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[dorong]]></category>
		<category><![CDATA[kebijakan]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>
		<category><![CDATA[penggunaan]]></category>
		<category><![CDATA[plastik]]></category>
		<category><![CDATA[sekali]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=224979</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Ketua DPRD Kota Malang, Amithya Ratnanggani Sirraduhita, mendukung penuh usulan adanya Peraturan Daerah (Perda) pembatasan penggunaan plastik sekali pakai. Apalagi, usulan yang muncul dari sejumlah aktivis tersebut, juga sudah melakukan audiensi bersama dengan Komisi C DPRD Kota Malang. Perempuan yang kerap disapa Mia, itu mengatakan bahwa upaya menjaga kelestarian lingkungan masih [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Ketua DPRD Kota Malang, Amithya Ratnanggani Sirraduhita, mendukung penuh usulan adanya Peraturan Daerah (Perda) pembatasan penggunaan plastik sekali pakai. Apalagi, usulan yang muncul dari sejumlah aktivis tersebut, juga sudah melakukan audiensi bersama dengan Komisi C DPRD Kota Malang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perempuan yang kerap disapa Mia, itu mengatakan bahwa upaya menjaga kelestarian lingkungan masih menghadapi tantangan besar karena minimnya kebiasaan dan kesadaran masyarakat. Proses menuju perubahan perilaku itu dinilai akan memakan waktu panjang, sehingga perlu dimulai dari langkah edukasi dan sosialisasi yang berkelanjutan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Tetapi pastinya harus dimulai dari edukasi dan sosialisasi terhadap masyarakat. Saya kira untuk Perdanya, kalau memang bisa menanggulangi itu sangat perlu,&#8221; kata Mia, Kamis (14/08/2025) tadi.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Baca juga :</strong></p>





<p class="wp-block-paragraph">Menurutnya, plastik merupakan material yang sulit terurai dan berdampak besar terhadap pencemaran lingkungan. Mia mencontohkan, di Bali kebijakan pelarangan penggunaan kantong plastik di toko-toko sudah diterapkan. Sehingga, volume sampah plastik dapat ditekan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Di Kota Malang, budaya menggunakan tas belanja berulang masih belum terbentuk. Padahal, dulu kita sempat ketat tidak menyediakan tas belanja plastik, tapi sekarang mulai tersedia lagi, meski berbayar. Kebijakan ini perlu digalakkan kembali agar produksi plastik berlebihan bisa dikurangi,&#8221; tuturnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lebih lanjut, Mia juga menceritakan kebiasaannya membawa tas belanja lipat sebagai langkah pribadi mengurangi plastik sekali pakai. Selain itu, Mia menilai pemerintah daerah bisa menjadi contoh melalui kebijakan sederhana, seperti menyediakan dispenser air dan wadah isi ulang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Sehingga dalam kegiatan rapat di lingkungan pemerintah ini tidak menyediakan air mineral kemasan sekali pakai. Terima kasih atas masukannya, itu akan menjadi evaluasi untuk kami,&#8221; imbuh Mia. <strong>(rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">224979</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Aktivis Lingkungan Desak Pemkot Malang Sahkan Perda Pembatasan Plastik Sekali Pakai</title>
		<link>https://memontum.com/aktivis-lingkungan-desak-pemkot-malang-sahkan-perda-pembatasan-plastik-sekali-pakai</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 13 Aug 2025 09:40:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[aktivis]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>
		<category><![CDATA[pembatasan]]></category>
		<category><![CDATA[Pemkot]]></category>
		<category><![CDATA[plastik]]></category>
		<category><![CDATA[sahkan]]></category>
		<category><![CDATA[sekali]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=224946</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Aktivis lingkungan dari Yayasan Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton Foundation), Mahasiswa Relawan Peduli Air Masyarakat dan Alam (Marapaima), serta Aksi Biroe Universitas Brawijaya melakukan aksi teatrikal, di depan Balai Kota Malang, Rabu (13/08/2025) tadi. Kegiatan aksi yang diikuti oleh 20 orang ini, mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Malang untuk segera [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Aktivis lingkungan dari Yayasan Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton Foundation), Mahasiswa Relawan Peduli Air Masyarakat dan Alam (Marapaima), serta Aksi Biroe Universitas Brawijaya melakukan aksi teatrikal, di depan Balai Kota Malang, Rabu (13/08/2025) tadi. Kegiatan aksi yang diikuti oleh 20 orang ini, mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Malang untuk segera mengesahkan Peraturan Daerah (Perda) Pembatasan Plastik Sekali Pakai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Langkah itu, dinilai penting untuk menekankan kontaminasi mikroplastik di masyarakat dan lingkungan. &#8220;Sudah hampir empat tahun kami mengusulkan adanya regulasi dan Ranperda tentang pembatasan plastik sekali pakai. Namun belum ada tindaklanjutnya. Hari ini kami membawa instalasi semi artistik berdasarkan temuan bahwa masyarakat sudah mengandung mikroplastik, baik di amnion, ketuban maupun plasenta,&#8221; ujar salah satu perwakilan aktivis Ecoton, Prigi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian, dikatakannya bahwa bulan lalu telah ditemukan indikasi kuat keberadaan mikroplastik di Kota Malang. Selain itu, sejumlah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sudah mengalami kelebihan kapasitas, sehingga sampah plastik menjadi masalah serius.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Di Surabaya, Gresik, Tulungagung, Situbondo sudah ada regulasi pengurangan plastik. Bahkan di Bali, produksi kemasan di bawah 1 liter dilarang. Kota Malang justru belum memiliki aturan, padahal ini kota pendidikan yang menghasilkan banyak sampah,&#8221; tegasnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Baca juga :</strong></p>





<p class="wp-block-paragraph">Dari data Ecoton, sekitar 18 persen sampah di Kota Malang adalah plastik, sementara 50 persen lainnya adalah sampah makanan. Menurutnya, upaya sukarela dari masyarakat tidak cukup tanpa adanya aturan tegas seperti Perda atau pun Surat Edaran (SE) Wali Kota.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara itu, salah satu mahasiswa Universitas Negeri Malang, Nabila, mengatakan bahwa mikroplastik telah terdeteksi dalam darah, ketuban dan urine manusia. Kontaminasi tersebut dapat terjadi melalui udara yang dihirup, makanan dan minuman dalam kemasan plastik, maupun kontak kulit dari produk perawatan seperti scrub dan skincare.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Dampaknya bisa memicu autoimun, infeksi, hingga kerusakan organ tubuh. Karena itu, perlu regulasi baku mutu penggunaan plastik sekali pakai,” ujarnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai informasi, aksi tersebut digelar juga bertepatan dengan pertemuan Intergovernmental Negotiation Committee yang dihadiri 187 negara untuk membahas pengaturan plastik secara global. Aktivis berharap, desakan dari Kota Malang ini dapat menjadi bagian dari gerakan internasional mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. <strong>(rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">224946</post-id>	</item>
		<item>
		<title>DLH Kota Malang Uji Coba Penampungan Botol Plastik di Kawasan Kayutangan Heritage</title>
		<link>https://memontum.com/dlh-kota-malang-uji-coba-penampungan-botol-plastik-di-kawasan-kayutangan-heritage</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Jun 2025 08:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[heritage,]]></category>
		<category><![CDATA[kawasan]]></category>
		<category><![CDATA[Kayutangan]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>
		<category><![CDATA[penampungan]]></category>
		<category><![CDATA[plastik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=222735</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang mulai melakukan uji coba penampungan sampah botol plastik dengan menempatkan sebuah tempat khusus di Kawasan Kayutangan Heritage. Tempat penampungan berbentuk keranjang kotak berukuran 1,5 x 2 meter tersebut, menjadi prototype pertama untuk menilai potensi program daur ulang berbasis masyarakat. Kepala Bidang Persampahan dan Limbah B3 [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang mulai melakukan uji coba penampungan sampah botol plastik dengan menempatkan sebuah tempat khusus di Kawasan Kayutangan Heritage. Tempat penampungan berbentuk keranjang kotak berukuran 1,5 x 2 meter tersebut, menjadi prototype pertama untuk menilai potensi program daur ulang berbasis masyarakat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kepala Bidang Persampahan dan Limbah B3 DLH Kota Malang, Roni Kuncoro, menjelaskan bahwa program tersebut merupakan hasil kerja sama dengan salah satu perguruan tinggi di Kota Malang. &#8220;Ini masih prototype, kerja sama awal dengan perguruan tinggi. Kalau ke depan potensinya bagus, akan kami perluas melalui kerja sama dengan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), bank sampah, atau perguruan tinggi lainnya,” ujarnya, Kamis (/05/06/2025) tadi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian, ditambahkannya bahwa DLH Kota Malang juga berencana mengajukan program Corporate Social Responsibility (CSR) ke Bank Syariah Indonesia (BSI) untuk mendukung pengadaan vending machine daur ulang botol plastik. Mesin tersebut akan memberikan poin atau nilai tukar dalam bentuk uang kepada warga yang memasukkan botol plastik.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Baca juga :</strong></p>





<p class="wp-block-paragraph">“CSR dari BSI ini rencananya akan mendukung vending machine. Jadi nanti warga bisa langsung mendapatkan poin atau dinilai dalam bentuk uang,” tambahnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apabila program tersebut mendapatkan respon positif dari masyarakat, DLH Kota Malang akan memperbanyak keranjang serupa di berbagai lokasi publik, seperti Balai Kota, Alun-alun Kota, Mal Pelayanan Publik (MPP) dan kawasan ramai lainnya. Botol-botol plastik yang terkumpul nantinya akan dikelola melalui kerja sama dengan bank sampah atau kader lingkungan setempat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Semangatnya adalah pemberdayaan masyarakat, khususnya organisasi yang bergerak di bidang pengelolaan lingkungan hidup,&#8221; ungkapnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk sementara, pengangkutan botol plastik masih akan menyesuaikan kebutuhan. Apabila diperlukan, menurutnya DLH Kota Malang siap membantu distribusi ke pihak pengelola. “Bank sampah umumnya belum punya armada, jadi kalau perlu kita bantu antar-jemputnya,” imbuh Roni. <strong>(rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">222735</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Pemkab Kediri Susun Peraturan Bupati Guna Ubah Gaya Hidup Minim Plastik</title>
		<link>https://memontum.com/pemkab-kediri-susun-peraturan-bupati-guna-ubah-gaya-hidup-minim-plastik</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Jun 2025 05:15:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kediri]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[bupati]]></category>
		<category><![CDATA[kediri]]></category>
		<category><![CDATA[Pemkab]]></category>
		<category><![CDATA[peraturan]]></category>
		<category><![CDATA[plastik]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=223085</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kediri &#8211; Pemerintah Kabupaten Kediri tengah menyusun Peraturan Bupati (Perbup) yang mengatur tentang pembatasan penggunaan plastik sekali pakai. Regulasi ini, untuk mengubah pola hidup masyarakat ke arah yang lebih ramah lingkungan. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kediri, Putut Agung Subekti, mengungkapkan bahwa Perbup tersebut kini tengah disusun dan akan menjadi landasan untuk menekan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Memontum Kediri</strong> &#8211; Pemerintah Kabupaten Kediri tengah menyusun Peraturan Bupati (Perbup) yang mengatur tentang pembatasan penggunaan plastik sekali pakai. Regulasi ini, untuk mengubah pola hidup masyarakat ke arah yang lebih ramah lingkungan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kediri, Putut Agung Subekti, mengungkapkan bahwa Perbup tersebut kini tengah disusun dan akan menjadi landasan untuk menekan konsumsi plastik di berbagai sektor kehidupan masyarakat. “Saat ini masih dalam proses penyusunan, semoga segera selesai,” kata Putut, dalam Peringatan Hari Lingkungan Hidup se-Dunia, yang berlangsung di kawasan Taman Hijau Simpang Lima Gumul (SLG), Kamis (05/06/2025) tadi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penyusunan regulasi ini, imbuhnya, menindaklanjuti arahan Bupati Kediri, Hanindhito Himawan Pramana, yang mengajak seluruh elemen masyarakat untuk lebih peduli terhadap pengelolaan sampah. Terutama, dengan menerapkan gaya hidup minim plastik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam hal ini, Wakil Bupati Kediri, Dewi Mariya Ulfa, menyampaikan akan pentingnya mengubah pola pikir dan kebiasaan sehari-hari. Seperti membiasakan membawa botol minum (tumbler) dari rumah. Hal ini, tentunya sejalan dengan tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini, ‘Hentikan Polusi Plastik’.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Baca juga :</strong></p>





<p class="wp-block-paragraph">“Sebisa mungkin minimalisir penggunaan sampah plastik,” ajak Mbak Dewi-sapaan Wabup Kediri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, menurut Mbak Dewi, pola hidup ramah lingkungan perlu dimulai dari hal kecil. Seperti memilah sampah, tidak membakar sampah, tidak membuang sampah sembarangan dan ikut berperan dalam pengaktifan bank sampah di tingkat RT dan RW.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pihaknya menilai, ajakan ini menjadi langkah yang memiliki dampak besar. Terlebih, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai menjadi tanggung jawab bersama dalam menghadapi tantangan global, mulai dari perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati dan polusi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Data DLH Kabupaten Kediri menunjukkan, bahwa timbunan sampah selama tahun 2024 mencapai sekitar 240 ton, namun hanya sekitar 10 persen dari sampah plastik yang berhasil didaur ulang. “Ini menunjukkan polusi plastik menjadi ancaman terhadap penurunan kualitas lingkungan hidup dan polusi plastik adalah simbol sekaligus akibat dari cara hidup yang tidak berkelanjutan,” jelasnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai langkah nyata, dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup se-dunia ini digelar aksi bersih di kawasan SLG, yang terbagi dalam 8 zona. Kegiatan ini melibatkan jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Paguyuban Pedagang Kaki Lima (PKL), berbagai komunitas dan pegiat lingkungan. <strong>(kom/pan/gie)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">223085</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
