<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>PU Pengairan Banyuwangi &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/pu-pengairan-banyuwangi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Tue, 23 Jun 2020 10:25:30 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>PU Pengairan Banyuwangi &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>PU Pengairan Banyuwangi Gelar Sosialisasi Pembinaan HIPPA dan GHIPPA</title>
		<link>https://memontum.com/pu-pengairan-banyuwangi-gelar-sosialisasi-pembinaan-hippa-dan-ghippa</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 23 Jun 2020 10:25:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pemerintahan]]></category>
		<category><![CDATA[GHIPPA]]></category>
		<category><![CDATA[HIPPA]]></category>
		<category><![CDATA[PU Pengairan Banyuwangi]]></category>
		<category><![CDATA[Sosialisasi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=117247</guid>

					<description><![CDATA[Banyuwangi Memontum &#8211; Sebagai upaya peningkatan SDM dalam pengelolaan dan pengembangan sumberdaya air. Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Pengairan Banyuwangi melaksanakan sosialisiasi pembinaan pada Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) dan Gabungan Himpunan Petani Pemakai Air (GHIPPA). Pembinaan terhadap HIPPA/GHIPPA itu dilakukan sebagai wujud nyata pembinaan kepada masyarakat khususnya petani agar bisa mandiri serta berpartisipasi aktif terhadap [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Banyuwangi Memontum</strong> &#8211; Sebagai upaya peningkatan SDM dalam pengelolaan dan pengembangan sumberdaya air. Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Pengairan Banyuwangi melaksanakan sosialisiasi pembinaan pada Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) dan Gabungan Himpunan Petani Pemakai Air (GHIPPA).</p>
<p>Pembinaan terhadap HIPPA/GHIPPA itu dilakukan sebagai wujud nyata pembinaan kepada masyarakat khususnya petani agar bisa mandiri serta berpartisipasi aktif terhadap pengelolaan, pemanfaatan dan rehabilitasi air irigasi.</p>
<p>Plt Kepala Dinas PU Pengairan Banyuwangi Guntur Priambodo melalui Kepala Bidang Bina Manfaat dan Kemitraan Doni Arsilo Sofyan mengatakan, kegiatan pembinaan kepada HIPPA dan GHIPPA itu dilakukan rutin setiap tahun.</p>
<p>“Pembinaan tersebut bertujuan agar masyarakat khususnya petani yang tergabung dalam HIPPA/GHIPPA itu bisa mandiri secara kelembagaan, operasional, dan rehabilitasi,” ungkapnya.</p>
<p>“Sekaligus memberikan motivasi kepada HIPPA dan GHIPPA agar mandiri, hingga meningkatkan kesejahteraan para anggotanya,” kata Doni saat ditemui di kantornya, Senin (22/6/2020) siang.</p>
<p>Upaya pembinaan HIPPA dan GHIPPA ini lebih mengarah kepada pemberdayaan masyarakat tani dalam mengelola atau memelihara jaringan irigasi.</p>
<p>Juga mencari solusi lebih mandiri terhadap persoalan-persoalan menyangkut air yang muncul di wilayah masing-masing.<br />
Serta meningkatkan kemampuan lembaga tani dalam menjalin kerjasama dengan pihak luar termasuk Pemerintah Daerah ataupun dengan lembaga lain.</p>
<p>“Seperti kita tahu, GHIPPA dan HIPPA ini adalah lembaga atau kelompok petani di persesaan yang handal dan berperan penting dalam pengelolaan, pemanfaatan, dan rehabilitasi,” jelasnya.</p>
<p>“Lembaga ini secara khusus mewadahi para petani yang terkait dengan tata kelola air irigasi di tingkat usaha tani sekaligus pengelolaan sumberdaya air lainnya untuk meningkatkan produksi pangan dan kepentingan pembangunan perdesaan,” jelasnya.</p>
<p>Tidak hanya dibina saja, Doni menambahkan, Dinas PU Pengairan juga akan melakukan kontroling dan evalusi terhadap kinerja HIPPA dan GHIPPA.“Selain pembinaan, kami juga melakukan kontroling dan evalusi kinerja mereka. Tujuaanya agar lembagai selain bisa mandiri juga diharapkan bisa berkembang,” pungkasnya. <strong>(ras/oso)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">117247</post-id>	</item>
		<item>
		<title>HIPPA 5 Desa Kecamatan Kabat Desak PU Pengairan Bongkar 2 Tandon Di Desa Pakel</title>
		<link>https://memontum.com/hippa-5-desa-kecamatan-kabat-desak-pu-pengairan-bongkar-2-tandon-di-desa-pakel</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 21 Jun 2020 10:57:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar Desa]]></category>
		<category><![CDATA[Desa Pakel]]></category>
		<category><![CDATA[HIPPA]]></category>
		<category><![CDATA[PU Pengairan Banyuwangi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=117042</guid>

					<description><![CDATA[Banyuwangi Memontum &#8211; Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) dari 5 Desa, Kecamatan Kabat ancam bongkar tandon air minum di Dusun Taman Glugo, Desa Pakel, Kecamatan Licin. Pasalnya keberadaan tandon air minum sangat merugikan petani desa Pakel dan 4 desa disekitar tandon tersebut yang berdampak pertanian yang ada di 5 desa tidak bisa maksimal. Dalam musyawarah [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Banyuwangi Memontum</strong> &#8211; Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) dari 5 Desa, Kecamatan Kabat ancam bongkar tandon air minum di Dusun Taman Glugo, Desa Pakel, Kecamatan Licin. Pasalnya keberadaan tandon air minum sangat merugikan petani desa Pakel dan 4 desa disekitar tandon tersebut yang berdampak pertanian yang ada di 5 desa tidak bisa maksimal.</p>
<p>Dalam musyawarah tersebut juga dihadiri Camat Kabat Drs Susanto Wibowo MM, Kapolsek Kabat AKP Supriyadi, serta 5 Kepala Desa, yakni Kades Macanputih, Kades Pakel, Kades Gombolirang, Kades Pakistaji, Kades Labanasem, dan Korsda Pengairan Rogojampi, Supardi.</p>
<div id="attachment_117044" style="width: 760px" class="wp-caption aligncenter"><img aria-describedby="caption-attachment-117044" decoding="async" class="size-full wp-image-117044" src="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/06/IMG-20200621-WA0019-copy.jpg?resize=740%2C395&#038;ssl=1" alt="Musyawarah 5 Desa terkait keberadaan dua tandon yang ada di dusun Tamanglugo, Desa Pakel, Kecamatan Licin bertempat di aula Desa Macanputih, Kecamatan Kabat. (Ant) " width="740" height="395" srcset="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/06/IMG-20200621-WA0019-copy.jpg?w=750&amp;ssl=1 750w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/06/IMG-20200621-WA0019-copy.jpg?resize=300%2C160&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/06/IMG-20200621-WA0019-copy.jpg?resize=600%2C320&amp;ssl=1 600w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/06/IMG-20200621-WA0019-copy.jpg?resize=200%2C107&amp;ssl=1 200w" sizes="(max-width: 740px) 100vw, 740px" data-recalc-dims="1" /><p id="caption-attachment-117044" class="wp-caption-text">Musyawarah 5 Desa terkait keberadaan dua tandon yang ada di dusun Tamanglugo, Desa Pakel, Kecamatan Licin bertempat di aula Desa Macanputih, Kecamatan Kabat. (Ant)</p></div>
<p>Musyawarah pengurus HIPPA dari 5 desa, yakni desa Pakel, Desa Macanputih, desa Gombolirang, desa Labanasem, dan desa Pakistaji mengeluhkan keberadaan tandon air minum yang dibangun oleh HIPAM Kecamatan Songgon, yang berdampak pada petani di 5 desa tersebut.</p>
<p>Bahkan untuk bisa bercocok tanam, petani dari 5 desa tersebut harus menunggu musim hujan. Padahal, sumber mata air di Taman Glugo sangat besar dan sangat bagus untuk mengairi pertanian.</p>
<p>Sayangnya, dengan dua tandon yang dibangun oleh Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (HIPPAM) Dusun Tegalrejo, Desa Bayu, Kecamatan Songgon, dan HIPAM warga Kecamatan Songgon, para petani tidak bisa bertani secara maksimal.</p>
<p>Dalam musyawarah tersebut, HIPPA 5 desa mendesak kepada dinas PU Pengairan Kabupaten Banyuwangi bertindak tegas untuk membongkar tandon tersebut. Jika dalam waktu 7 hari dinas PU Pengairan tidak membongkar tandon tersebut, petani dan pengurus HIPPA yang ada di 5 desa tersebut akan membongkarnya.</p>
<p>&#8220;Di sumber mata air dusun Taman Glugo itu ada dua tandon air minum, 1 tandon berukuran 2 meter persegi, dan tandon berukuran 1,5 meter persegi. Keberadaan dua tandon air minum ini sangat merugikan petani di 5 desa,&#8221; ujar Kades Macanputih, Farid mewakili Kades lainnya, kepada Memontum.com, Minggu (21/6/2020) siang.</p>
<p>Menurut Farid agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, hendaknya dinas PU Pengairan Banyuwangi bertindak cepat dan tegas untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Sebab pembangunan dua tandon tersebut diduga tidak Seijin dinas PU Pengairan.</p>
<p>&#8220;Dua tandon itu dibangun pada tahun 2008 dan tahun 2016. Dari hasil musyawarah ini terungkap kalau pembangunan dua tandon itu tidak Seijin PU Pengairan Banyuwangi makanya dibongkar saja,&#8221; ujar Farid.</p>
<p>Akibat pembangunan dua tandon tersebut, petani yang mengandalkan air dari sumber mata air Taman Glugo tidak bisa bertani dengan maksimal. Bahkan petani dari 5 desa mengeluhkan pertumbuhan tanamannya kurang bagus karena kekurangan air.</p>
<p>&#8220;Sampean tahu sendiri kan, bagaimana jeritan petani saat musyawarah tadi. Mereka banyak yang mengeluh pertaniannya kurang bagus karena kekurangan air,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Agar bertindak adil kata Farid HIPPA 5 Desa yang ada di Kecamatan Kabat mendesak kepada dinas PU Pengairan agar bertindak cepat dan menyelesaikan permasalah yang dihadapi oleh petani tersebut.</p>
<p>&#8220;Petani minta dinas Pengairan tanggap masalah ini. Kalau tidak menggubris keluhan petani ya dibongkar sendiri 2 tandon itu,&#8221; tandasnya.</p>
<p>Sementara Koordinator Sumber Daya Air (Korsda) PU Pengairan Rogojampi, Supardi mengatakan, terkait permasalahan ini pihaknya menyarankan agar hasil musyawarah ini untuk membuat berita acara. Dan berita acara tersebut dikirimkan ke dinas PU Pengairan.</p>
<p>&#8220;Untuk membongkar dua tandon itu bukan kewenangan kami, itu kewenangan Satpol PP,&#8221; kata Supardi.</p>
<p>Supardi mengatakan terkait ada ijin atau tidaknya pembangunan dua tandon tersebut dirinya tidak tahu. &#8220;Biasanya kalau ada pembangunan diwilayah PU Pengairan, Korsda yang membawahi wilayah tersebut diberi tindasan. Untuk pembangunan dua tandon itu, tidak ada pemberitahuan ke Korsda Rogojampi,&#8221; dalihnya. <strong>(Ant/oso)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">117042</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Antisipasi Banjir, PU Pengairan Banyuwangi  Rencanakan Normalisasi dan Revitalisasi Sungai</title>
		<link>https://memontum.com/antisipasi-banjir-pu-pengairan-banyuwangi-rencanakan-normalisasi-dan-revitalisasi-sungai</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Mar 2020 10:07:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pemerintahan]]></category>
		<category><![CDATA[Antisipasi Banjir]]></category>
		<category><![CDATA[PU Pengairan Banyuwangi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/108315-antisipasi-banjir-pu-pengairan-banyuwangi-rencanakan-normalisasi-dan-revitalisasi-sungai</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Banyuwangi &#8211; Hujan deras yang mengguyur Banyuwangi kota baru-baru ini menyebabkan banjir di beberapa titik. Bahkan akibat luapan air yang tidak tertampung di saluran drainase mengakibatkan air menggenangi rumah-rumah maupun jalan raya. Agar aliran sungai bisa berjalan normal, dan mencegah adanya banjir di Banyuwangi Kota, Dinas Pekerjaan Umum (PU) Pengairan Banyuwangi akan akan melakukan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memontum Banyuwangi </strong>&#8211; Hujan deras yang mengguyur Banyuwangi kota baru-baru ini menyebabkan banjir di beberapa titik. Bahkan akibat luapan air yang tidak tertampung di saluran drainase mengakibatkan air menggenangi rumah-rumah maupun jalan raya.</p>
<p>Agar aliran sungai bisa berjalan normal, dan mencegah adanya banjir di Banyuwangi Kota, Dinas Pekerjaan Umum (PU) Pengairan Banyuwangi akan akan melakukan normalisasi sungai Kalilo.</p>
<p>Akibat tumpahan air sungai Kalilo, empat kelurahan yang terdampak banjir, yakni Kelurahan Kepatihan, Kelurahan Tukangkayu, Kelurahan Sobo dan Kelurahan Wilayah terdampak banjir akibat luapan sungai Kalilo, yakni, Kelurahan Kepatihan, Kelurahan Tukangkayu, Kelurahan Karangrejo, dan Kelurahan Sobo.</p>
<p>Menyikapi permasalahan ini, Plt Kepala Dinas PU Pengairan Banyuwangi, Guntur Priambodo mengatakan, ada dua persoalan yang hingga kini belum terselesaikan, yakni soal Das Kalilo dan saluran drainase yang kurang optimal.</p>
<p>Guntur menjelaskan, di Sungai Kalilo sendiri terdapat sedimentasi yang cukup parah di muara kalilo yang seharusnya segera segera dilakukan normalisasi. Karena disitu, kata Guntur, terdapat beberapa tanaman mangrove yang menyebabkan pendangkalan. Dan pendangkalan itu sudah sedemikian parah, sehingga tinggi muka tanah dasar dengan tanggul tinggal sekitar 1 m.</p>
<p>Dengan demikian, menurutnya, ketika curah hujan yang terjadi mulai siang hingga sore pada Senin (09/03/2020) lalu, debit airnya diperkirakan 400 meter kubik perdetik itu tumpah.</p>
<p>“Jadi kemarin itu tidak sampai banjir rob, hanya saja debit air yang tinggi karena persoalan yang ada di muara Sungai Kalilo,” jelas Guntur, Rabu (11/03/2020) siang.</p>
<p>Kemudian, lanjut Guntur, persoalan mengenai drainase di beberapa titik Banyuwangi kota yang perlu direvitalisasi serta peningkatan fungsi operasinal dan pemeliharaan.</p>
<p>“Artinya ketika menjelang musim penghujan, seluruh drainase, sedimen, dan walet-waletnya harus diangkat. Sehingga ketika hujan turun, bisa tertampung di saluran drainase,” ujar Guntur yang juga menjabat sebagai Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemkab Banyuwangi.</p>
<p>Guntur menambahkan, beberapa titik sungai di wilayah Banyuwangi selatan sudah dilakukan normalisasi secara rutin dan bahkan di beberapa titik disiapkan alat berat, seperti daerah aliran sungai (DAS) Binau yang sebelumnya sempat meluap dan menyebabkan banjir cukup parah hingga merendam sejumlah rumah warga di Kecamatan Songgon hingga Kecamatan Singojuruh.</p>
<p>“Kita juga hindari semaksimal mungkin terjadinya human error. Untuk itu diharapkan seluruh petugas pengairan bisa siaga satu, terutama petugas penjaga pintu air jangan sampai telat membuka pintu air,” harapnya. <strong>(ras/oso)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">108315</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
