<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Riskesdas &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/riskesdas/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Sun, 08 Dec 2019 11:46:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Riskesdas &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Ketua DPRD Abdul Ghofur Tegaskan Siap Mendukung Lamongan Zero Stunting</title>
		<link>https://memontum.com/ketua-dprd-abdul-ghofur-tegaskan-siap-mendukung-lamongan-zero-stunting</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Dec 2019 11:45:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pemerintahan]]></category>
		<category><![CDATA[DPRD Lamongan]]></category>
		<category><![CDATA[Riskesdas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/101509-ketua-dprd-abdul-ghofur-tegaskan-siap-mendukung-lamongan-zero-stunting</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Lamongan &#8211; Persoalan stunting atau pertumbuhan anak yang terhambat (kekerdilan) merupakan masalah global yang dihadapi banyak negara. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa pada tahun 2016 sekitar 155 juta (23 persen) anak di dunia mengalami stunting. Di Indonesia, data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan RI menyebutkan bahwa pada 2018, prevalensi balita yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memontum Lamongan</strong> &#8211; Persoalan stunting atau pertumbuhan anak yang terhambat (kekerdilan) merupakan masalah global yang dihadapi banyak negara. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa pada tahun 2016 sekitar 155 juta (23 persen) anak di dunia mengalami stunting.</p>
<p>Di Indonesia, data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan RI menyebutkan bahwa pada 2018, prevalensi balita yang mengalami stunting sebesar 30,8 persen, atau lebih tinggi dibandingkan rata-rata dunia.</p>
<p><img decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-63255" src="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2018/11/Bersihkan-Material-Longsor-Kapolres-Trenggalek-Pimpin-Kurvei.jpg?resize=740%2C395&#038;ssl=1" alt="" width="740" height="395" data-recalc-dims="1" /></p>
<p>Tahun 2017 stunting di Lamongan masih berada pada angka 23 persen dan Februari 2018 turun menjadi 15 persen. Selanjutnya, pada Agustus 2018 berada di 10,17 persen dan Februari 2019 menjadi 9,57 persen. Terakhir, pada Agustus lalu turun menjadi 7,71 persen.</p>
<p>“Untuk itu, dibutuhkan komitmen bersama agar jumlah balita stunting terus menurun. Saya pribadi akan terus mendorong Pemkab Lamongan meningkatkan program agar Lamongan Zero Stunting,” tegas Ketua DPRD Lamongan, H. Abdul Ghofur, Minggu (6/12/2019).</p>
<p>Menurut Ghofur, penanganan stunting perlu sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah dan dunia usaha, serta organisasi kemasyarakatan.</p>
<p>&#8220;Sebab, persoalan stunting merupakan masalah global. Dengan keterlibatan banyak pihak, maka penangannya akan lebih muda,&#8221; Ujar Ghofur menegaskan.</p>
<p>Selain itu, Ghofur juga menjelaskan, dengan melakukan konvergensi penuntasan stunting lintas perangkat daerah bersama pemanfaatan dana desa, penurunan angka stunting di Lamongan signifikan.</p>
<p>“Bersama KPM, kita mampu melakukan deteksi dini anak yang terindikasi stunting. Memiliki data yang akurat by name by address, sehingga bisa segera dilakukan intervensi dan Kami berharap tahun 2020 Lamongan menjadi Kabupaten zero stunting,&#8221; pungkasnya menandaskan. <strong>(dc/zen/yan)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">101509</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Gunakan Antiseptik PHMB, Cepat Sembuhkan Luka</title>
		<link>https://memontum.com/gunakan-antiseptik-phmb-cepat-sembuhkan-luka</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 19 Feb 2019 14:40:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[Antiseptik]]></category>
		<category><![CDATA[Hansaplast]]></category>
		<category><![CDATA[Riskesdas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=78888</guid>

					<description><![CDATA[Launching Hansaplast Spray Antiseptik Memontum Kota Malang &#8211; Luka dapat terjadi kapan saja dan di mana pun. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, berdasarkan urutan proporsi terbanyak untuk tempat terjadinya cedera, sebanyak 36,5% cedera terjadi di rumah dan penyebab cedera terbanyak adalah jatuh sebanyak 40,9%. Namun luka sekecil apapun tidak boleh dianggap sepele dan perlu [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Launching Hansaplast Spray Antiseptik</strong></h2>
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Luka dapat terjadi kapan saja dan di mana pun. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, berdasarkan urutan proporsi terbanyak untuk tempat terjadinya cedera, sebanyak 36,5% cedera terjadi di rumah dan penyebab cedera terbanyak adalah jatuh sebanyak 40,9%. Namun luka sekecil apapun tidak boleh dianggap sepele dan perlu ditangani dengan tepat. Langkah pertama dalam proses penanganan luka adalah membersihkan luka dengan benar untuk mencegah terjadinya infeksi.</p>
<p>&#8220;Sebenarnya ada banyak cara membersihkan dan merawat luka agar cepat sembuh. Dalam dunia medis, mencuci luka yang aman untuk kulit dan mampu membunuh bakteri. Sebagian masyarakat berpandangan, alkohol membunuh bakteri, namun dampaknya akan merusak jaringan kulit. Ada juga dengan air mengalir, tapi itu upaya pertolongan pertama luka bakar, agar panasnya mengalir untuk menghilangkan rasa nyeri,&#8221; jelas Dr. Adisaputra Ramadhinara, dokter spesialis luka pertama, saat menjadi narasumber bertajuk ”Semakin Perih, Semakin Bagus Mitos atau Fakta?&#8221; yang berlangsung di Giant Hypermarket, MOG, Selasa (19/2/2019).</p>
<div id="attachment_78891" style="width: 660px" class="wp-caption aligncenter"><a href="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2019/02/IMG_20190219_164154-copy.jpg?ssl=1"><img aria-describedby="caption-attachment-78891" decoding="async" class="size-full wp-image-78891" src="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2019/02/IMG_20190219_164154-copy.jpg?resize=650%2C366&#038;ssl=1" alt="Produk Hansaplast Spray Antiseptik. (rhd)" width="650" height="366" srcset="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2019/02/IMG_20190219_164154-copy.jpg?w=650&amp;ssl=1 650w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2019/02/IMG_20190219_164154-copy.jpg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2019/02/IMG_20190219_164154-copy.jpg?resize=600%2C338&amp;ssl=1 600w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2019/02/IMG_20190219_164154-copy.jpg?resize=200%2C113&amp;ssl=1 200w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2019/02/IMG_20190219_164154-copy.jpg?resize=120%2C69&amp;ssl=1 120w" sizes="(max-width: 650px) 100vw, 650px" data-recalc-dims="1" /></a><p id="caption-attachment-78891" class="wp-caption-text"><strong> Produk Hansaplast Spray Antiseptik. (rhd)</strong></p></div>
<p>Luka yang ditutup, lanjut Adi, sapaan akrabnya, lebih cepat sembuh dibandingkan luka yang dibiarkan terbuka. Sebab saat ditutup, akan menjadi lembab, sehingga jaringan kulit lebih cepat terkontruksi.</p>
<p>&#8220;Setelah dibersihkan, luka perlu ditutup untuk menjaganya agar tidak terkena kuman dari luar. Tapi jangan menggunakan kapas ya, karena kapas itu rapuh dan akan menempel. Sehingga jaringan kulitnya tercampur benda asing. Boleh menggunakan kasa. Namun lebih baik menggunakan plester. Salah satunya produk Hansaplast. Dan setiap kali mengganti plester, sebaiknya luka dibersihkan kembali,&#8221; &#8221; terang Adi, dalam perkenalan Hansaplast Spray Antiseptik, produk pembersih luka praktis, modern, tidak perih, tidak berwarna dan tidak berbau.</p>
<p>Kandungan utama Hansaplast Spray Antiseptik adalah Polyhexamethylene Biguanide (PHMB), zat antiseptik yang banyak digunakan oleh para dokter karena efektif dalam mengatasi infeksi, tidak perih, tidak meninggalkan noda dan tidak berbau. Selain itu, tidak berdampak pada jaringan kulit, dan mampu membunuh bakteri.</p>
<p>&#8220;Obat pembersih luka yang mengandung Polyhexanide (PHMB) tidak meninggalkan noda. PHMB juga tidak berbau dan tidak menimbulkan rasa perih,” jelas dokter spesialis luka bersertifikasi Certified Wound Specialist Physician, pertama dan satu-satunya di Indonesia.</p>
<p>Sementara itu, Marketing Manager Hansaplast, Setiawan Saputra, mengatakan kandungan PHMB dalam pembersih luka yang secara umum digunakan di klinik dan rumah sakit. Hansaplast meluncurkan dalam produk OTC/ Over The Counterproduk yang djual bebas tanpa resep dokter, yang diperkenalkan September 2018.</p>
<p>&#8220;Respon masyarakat sangat luar biasa. Tujuan kami agar masyarakat teredukasi dengan baik. Secara angka, setidaknya menguasai marketshare 50 persen. Karena sudah tersedia hampir di semua minimarket, supermarket, dan apotek. Dan kemasannya aman, karena kami mengadopsi teknologi Jerman. Hansaplast Spray Antiseptik kemasan Spray 50 ml harga eceran yang dianjurkan Rp. 44.450,&#8221; tandas Wawan, sapaan akrabnya.<strong> (adn/yan)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">78888</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
