<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>sejarah &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/sejarah/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Wed, 01 Apr 2026 06:03:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.9</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>sejarah &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>HUT Ke-112 Kota Malang, Pemkot Luncurkan Busana Khas Malangan yang Miliki Nilai Sejarah</title>
		<link>https://memontum.com/hut-ke-112-kota-malang-pemkot-luncurkan-busana-khas-malangan-yang-miliki-nilai-sejarah</link>
					<comments>https://memontum.com/hut-ke-112-kota-malang-pemkot-luncurkan-busana-khas-malangan-yang-miliki-nilai-sejarah#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Apr 2026 05:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintahan]]></category>
		<category><![CDATA[busana]]></category>
		<category><![CDATA[ke-112]]></category>
		<category><![CDATA[luncurkan]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>
		<category><![CDATA[Malangan]]></category>
		<category><![CDATA[miliki]]></category>
		<category><![CDATA[Pemkot]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=231399</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke 112 Kota Malang menjadi momen bersejarah dengan diluncurkannya busana khas Malangan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Malang, Rabu (01/04/2026) tadi. Peluncuran busana tersebut, sebagai upaya memperkuat identitas budaya daerah. Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, mengatakan bahwa busana khas Malangan tidak sekadar pakaian seremonial, namun memiliki filosofi [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke 112 Kota Malang menjadi momen bersejarah dengan diluncurkannya busana khas Malangan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Malang, Rabu (01/04/2026) tadi. Peluncuran busana tersebut, sebagai upaya memperkuat identitas budaya daerah.</p>



<p>Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, mengatakan bahwa busana khas Malangan tidak sekadar pakaian seremonial, namun memiliki filosofi sejarah panjang perjalanan Kota Malang. Menurutnya, desain pakaian tersebut merepresentasikan perjalanan kepemimpinan dan perkembangan Kota Malang sejak era pemerintahan kolonial Belanda hingga masa sekarang.</p>



<p>“Hari ini menjadi momen bersejarah karena Kota Malang mulai memiliki pakaian khas yang filosofinya menggambarkan nilai histori dan kearifan lokal asli Kota Malang,” kata Wali Kota Wahyu.</p>



<p>Dirinya menjelaskan, busana tersebut nantinya akan digunakan dalam berbagai kegiatan resmi dan upacara tertentu di lingkungan Pemkot Malang. Menurutnya, karakter budaya Kota Malang berbeda dengan daerah di Malang Raya lainnya. Jika Kabupaten Malang memiliki kultur kerajaan dan Kota Batu berkembang dengan karakter tersendiri, maka Kota Malang merupakan perpaduan budaya tradisional dan pengaruh kolonial.</p>



<p>“Perpaduan antara kolonial dan tradisional inilah yang menjadi identitas Kota Malang, dan itu diwujudkan dalam busana khas Malangan,” ujarnya.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang, Suwarjana, menjelaskan bahwa busana khas Kota Malang dirancang melalui kajian nilai sosial budaya masyarakat dari masa ke masa. Secara desain, busana menggunakan atasan jas berwarna hitam dengan dalaman kemeja putih berkerah tinggi dan dasi panjang. Bawahan berupa celana panjang hitam dipadukan kain batik motif Tugu Pucuk Kopi yang dikenakan sebatas paha.</p>



<p>Kemudian, untuk penutup kepala menggunakan topi Aalstenaar yang dipadukan dengan udeng bermotif batik Tugu Pucuk Kopi, serta dilengkapi aksesoris pejabat berupa selempang dan obybelt. Untuk alas kaki, menggunakan sepatu pantofel kulit hitam untuk menampilkan kesan formal klasik dan elegan.</p>



<p>&#8220;Motif batik Tugu Pucuk Kopi sendiri terinspirasi dari ornamen batik kawung pada peninggalan era Kerajaan Singasari yang kemudian dipadukan dengan simbol kopi dan tugu khas Kota Malang,&#8221; jelas Suwarjana.</p>



<p>Lebih lanjut dikatakannya, bahwa desain busana tersebut juga mengadopsi inspirasi dari pakaian pejabat masa lalu, khususnya busana yang dikenakan Raden Adipati Aryo Suryo Adiningrat yang menjabat Bupati Malang pada periode 1898–1934. Dalam perkembangannya, konsep busana turut mempertimbangkan mobilitas kerja pejabat di lapangan.</p>



<p>Kain panjang yang sebelumnya digunakan disesuaikan menjadi lebih praktis hingga sebatas lutut agar mendukung kesiapan pejabat turun langsung menyelesaikan persoalan masyarakat. &#8220;Peluncuran busana khas ini dilatarbelakangi karena belum adanya standar busana identitas resmi Kota Malang. Harapannya menjadi simbol identitas budaya, memperkuat branding Kota Malang, sekaligus mendukung promosi pariwisata di tingkat regional hingga internasional,” imbuh Suwarjana. <strong>(rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://memontum.com/hut-ke-112-kota-malang-pemkot-luncurkan-busana-khas-malangan-yang-miliki-nilai-sejarah/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">231399</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Hari Jadi Kota Malang 2026, Pemkot Siapkan Busana Sejarah hingga Peluncuran Tugu Unesco</title>
		<link>https://memontum.com/hari-jadi-kota-malang-2026-pemkot-siapkan-busana-sejarah-hingga-peluncuran-tugu-unesco</link>
					<comments>https://memontum.com/hari-jadi-kota-malang-2026-pemkot-siapkan-busana-sejarah-hingga-peluncuran-tugu-unesco#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 27 Mar 2026 09:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintahan]]></category>
		<category><![CDATA[busana]]></category>
		<category><![CDATA[hingga]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>
		<category><![CDATA[peluncuran]]></category>
		<category><![CDATA[Pemkot]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[siapkan]]></category>
		<category><![CDATA[UNESCO]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=231307</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Pemerintah Kota (Pemkot) Malang tengah mematangkan rangkaian peringatan Hari Jadi Kota Malang 2026, dengan konsep berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, memastikan perayaan tahun ini akan dikemas lebih bermakna, menonjolkan identitas sejarah dan budaya Kota Malang tanpa kemeriahan berlebihan. Sehingga, saat ini fokus utama Pemkot Malang adalah memastikan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Pemerintah Kota (Pemkot) Malang tengah mematangkan rangkaian peringatan Hari Jadi Kota Malang 2026, dengan konsep berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.</p>



<p>Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, memastikan perayaan tahun ini akan dikemas lebih bermakna, menonjolkan identitas sejarah dan budaya Kota Malang tanpa kemeriahan berlebihan. Sehingga, saat ini fokus utama Pemkot Malang adalah memastikan seluruh rangkaian Hari Jadi berjalan maksimal.</p>



<p>“Kita ingin Hari Jadi Kota Malang tahun 2026 ini spesial. Ada konsep baru yang menampilkan perjalanan sejarah Kota Malang melalui busana yang memiliki cerita budaya,” ujar Wali Kota Wahyu, Jumat (27/03/2026) tadi.</p>



<p>Dirinya menjelaskan, Pemkot Malang telah menyiapkan desain pakaian khusus yang menggambarkan perjalanan kepemimpinan Kota Malang, sejak masa pemerintahan Belanda hingga era modern. Busana tersebut akan dikenakan dalam momentum peringatan hari jadi sebagai simbol identitas daerah.</p>



<p>“Setiap unsur pakaian itu ada maknanya, ada cerita sejarahnya. Ini menjadi simbol perjalanan Kota Malang dari masa ke masa,” tuturnya.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Salah satu agenda paling menarik dalam perayaan tahun ini, adalah peluncuran tugu penanda pengakuan Kota Malang sebagai Kota Kreatif Dunia bidang Media Art oleh Unesco. Tugu tersebut, akan diresmikan pada 1 April 2026 di kawasan Alun-Alun Merdeka sebagai simbol kebanggaan warga Kota Malang.</p>



<p>“Ini kebanggaan besar karena Kota Malang menjadi Kota Kreatif Dunia bidang Media Art pertama di Asia Tenggara. Konsepnya sudah disetujui Unesco,” jelasnya.&nbsp;</p>



<p>Menurutnya, pemasangan identitas kota kreatif dunia sebenarnya telah dijadwalkan sejak Februari lalu, mengikuti kota-kota kreatif dunia lainnya. Namun, Pemkot Malang sengaja menunggu momentum Hari Jadi agar peluncurannya memiliki nilai simbolis lebih kuat.</p>



<p>&#8220;Harusnya memang pemasangannya itu pertengahan Februari kemarin, sama seperti 58 di Kota Kreatif Dunia yang lain sudah terpasang. Tetapi untuk Kota Malang memang menunggu momennya pas tanggal 1 April,&#8221; tambahnya.</p>



<p>Meski menghadirkan konsep baru, Wali Kota Wahyu menegaskan perayaan tetap digelar secara sederhana. Pemkot Malang tidak ingin peringatan Hari Jadi identik dengan pesta besar, melainkan refleksi perjalanan kota.</p>



<p>&#8220;Rangkaian kegiatan akan berlangsung bertahap, mulai dari agenda pra-acara, peringatan hari H, hingga kegiatan lanjutan bagi masyarakat. Kita tidak hura-hura. Resepsi juga dilaksanakan sederhana di Gedung Cendrawasih. Yang penting maknanya, bukan kemeriahannya,” imbuh Wali Kota Wahyu. <strong>(rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://memontum.com/hari-jadi-kota-malang-2026-pemkot-siapkan-busana-sejarah-hingga-peluncuran-tugu-unesco/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">231307</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Harlah 1 Abad NU, Presiden Prabowo Hadir di Kota Malang dan Stadion Gajayana Jadi Saksi Sejarah</title>
		<link>https://memontum.com/harlah-1-abad-nu-presiden-prabowo-hadir-di-kota-malang-dan-stadion-gajayana-jadi-saksi-sejarah</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Feb 2026 04:40:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Gajayana]]></category>
		<category><![CDATA[Harlah]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo]]></category>
		<category><![CDATA[Presiden]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[stadion]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=230062</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menghadiri Mujahadah Kubro dalam rangka peringatan Harlah Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) di Stadion Gajayana, Kota Malang, Minggu (08/02/2026) tadi. Prabowo tiba di Stadion Gajayana sekitar pukul 06.46 WIB, menggunakan kendaraan MV3 Garuda Limousine. Kedatangannya, pun disambut antusias oleh ratusan ribu warga NU dari berbagai daerah [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menghadiri Mujahadah Kubro dalam rangka peringatan Harlah Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) di Stadion Gajayana, Kota Malang, Minggu (08/02/2026) tadi.</p>



<p>Prabowo tiba di Stadion Gajayana sekitar pukul 06.46 WIB, menggunakan kendaraan MV3 Garuda Limousine. Kedatangannya, pun disambut antusias oleh ratusan ribu warga NU dari berbagai daerah di Jawa Timur yang sejak Sabtu (07/02/2026) malam kemarin, memadati stadion bersejarah itu.</p>



<p>Didampingi Gubernur Jawa Timur Khofifah, Indar Parawansa, Ketua PWNU Jawa Timur, Abdul Hakim Mahfud, Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, serta jajaran menteri Kabinet Merah Putih, Presiden Prabowo menyapa para Nahdliyin yang memadati tribun dan lapangan stadion. Dalam sambutannya, Presiden mengaku merasa terhormat dapat hadir di tengah keluarga besar NU pada momentum bersejarah 1 abad berdirinya NU. Dirinya menyebut, setiap pertemuannya dengan warga NU selalu memberikan energi dan semangat persatuan.</p>



<p>“Setiap kali saya berada di tengah-tengah Nahdlatul Ulama, saya selalu bahagia dan merasa sejuk. Saya merasakan semangat persatuan dan harapan bagi bangsa Indonesia,” ujar Presiden Prabowo.</p>



<p>Tak hanya itu, Prabowo juga menyinggung peran Jawa Timur dalam sejarah bangsa. Menurutnya, meski Proklamasi Kemerdekaan dibacakan di Jakarta, ujian sesungguhnya kemerdekaan Indonesia terjadi di Jawa Timur, khususnya Surabaya, dengan peran besar para kiai dan ulama NU.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>“Rakyat Jawa Timur yang dipimpin para kiai dan ulama telah membuktikan bahwa bangsa Indonesia tidak mau tunduk kepada siapa pun yang ingin menjajah,” tegasnya.</p>



<p>Lebih lanjut, Presiden Prabowo juga mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjaga persatuan dan kerukunan. Dirinya menekankan, bahwa perbedaan pendapat adalah hal yang wajar, namun persatuan tetap menjadi kunci kekuatan bangsa.</p>



<p>Sementara itu, Ketua PWNU Jawa Timur Abdul Hakim Mahfud, menyampaikan bahwa kehadiran Presiden Prabowo dalam puncak Harlah NU menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga NU dan masyarakat Jawa Timur. Dirinya menilai, kehadiran presiden bukan sekadar simbolik, melainkan bentuk nyata kedekatan ulama dan umara.</p>



<p>“Stadion Gajayana hari ini menjadi saksi sejarah persatuan umat dan bangsa, sebagaimana pesan para pendiri Nahdlatul Ulama,” imbuhnya.</p>



<p>Sebagai informasi, Stadion Gajayana yang menjadi lokasi Mujahadah Kubro juga memiliki nilai historis tersendiri. Stadion tertua di Indonesia itu, tahun ini juga genap berusia satu abad. Sehingga, menjadikannya saksi dua momentum besar sekaligus, yakni 1 Abad Nahdlatul Ulama dan 1 abad Stadion Gajayana. <strong>(rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">230062</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Lomba Mewarna dan Edukasi Sejarah di Museum Airlangga, Disbudparpora Kota Kediri Ajak Generasi Muda Cinta Budaya</title>
		<link>https://memontum.com/lomba-mewarna-dan-edukasi-sejarah-di-museum-airlangga-disbudparpora-kota-kediri-ajak-generasi-muda-cinta-budaya</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 02 Nov 2025 06:30:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kediri]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[airlangga,]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[disbudparpora]]></category>
		<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[generasi]]></category>
		<category><![CDATA[kediri]]></category>
		<category><![CDATA[mewarna]]></category>
		<category><![CDATA[Museum]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=227451</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Kediri &#8211; Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga (Disbudparpora) Kota Kediri menggelar kegiatan lomba mewarnai tingkat TK hingga SMP di Museum Airlangga, Jalan Selomangleng No.1 Kota Kediri, Minggu (02/11/2025) tadi. Kegiatan tersebut, dibuka Kepala Disbudparpora Kota Kediri, Bambang Priambodo SH MM, yang sekaligus memberikan motivasi kepada para peserta untuk terus berkarya dan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Kediri</strong> &#8211; Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga (Disbudparpora) Kota Kediri menggelar kegiatan lomba mewarnai tingkat TK hingga SMP di Museum Airlangga, Jalan Selomangleng No.1 Kota Kediri, Minggu (02/11/2025) tadi. Kegiatan tersebut, dibuka Kepala Disbudparpora Kota Kediri, Bambang Priambodo SH MM, yang sekaligus memberikan motivasi kepada para peserta untuk terus berkarya dan berani mengekspresikan diri.</p>



<p>“Melalui lomba mewarnai ini, kami ingin menumbuhkan kreativitas, kepercayaan diri, serta kemampuan motorik halus anak-anak. Ini juga menjadi wadah bagi mereka untuk mengekspresikan gagasan dan imajinasi secara positif,” kata Kadisbudparpora.</p>



<p>Dalam pelaksanaan itu, sejumlah peserta tampak antusias mengikuti kegiatan. Anak-anak TK berfokus pada mewarnai gambar bertema budaya dan alam Kota Kediri, sementara peserta dari jenjang SMP mendapatkan kesempatan belajar sejarah langsung di lingkungan Museum Airlangga. Mereka berkeliling, mengamati koleksi, serta melakukan dokumentasi foto sambil mendengarkan penjelasan tentang sejarah Goa Selomangleng dan peradaban masa Airlangga.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Disampaikan Bambang, pengenalan sejarah kepada generasi muda sangat penting, terutama di era modern yang serba digital. “Kediri memiliki sejarah panjang yang menjadi identitas daerah. Jangan sampai nilai-nilai sejarah dan budaya ini hilang hanya karena kurang dikenalkan sejak dini,” tegasnya.</p>



<p>Suasana kegiatan semakin meriah, dengan dukungan penuh dari para orang tua yang hadir mendampingi anak-anaknya. Sambil menunggu jalannya perlombaan, pihak penyelenggara juga menyediakan hiburan musik untuk seluruh pengunjung yang hadir.</p>



<p>Bambang berharap, melalui kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan. “Semoga acara seperti ini bisa menjadi agenda rutin setiap tahun, agar kreativitas dan kecintaan terhadap budaya lokal semakin tumbuh di kalangan generasi muda,” paparnya. <strong>(pan/sit/adv)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">227451</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Napak Tilas Bangunan Sejarah dari De Javasche Bank hingga Lahirnya Bank Indonesia</title>
		<link>https://memontum.com/napak-tilas-bangunan-sejarah-dari-de-javasche-bank-hingga-lahirnya-bank-indonesia</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Sep 2025 09:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[bangunan]]></category>
		<category><![CDATA[hingga]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[javasche]]></category>
		<category><![CDATA[lahirnya]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=226246</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Siapa sangka, di balik bangunan megah yang berdiri di Jalan Pintu Besar Utara No.3, Jakarta Barat, menyimpan kisah panjang tentang lahirnya kedaulatan ekonomi bangsa. Arsitektur bergaya kolonial dengan dinding kokoh dan pilar-pilar tinggi, itu bukan sekadar hiasan masa lalu, melainkan saksi bisu perjalanan panjang perbankan Indonesia, dari masa kolonial hingga lahirnya [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Siapa sangka, di balik bangunan megah yang berdiri di Jalan Pintu Besar Utara No.3, Jakarta Barat, menyimpan kisah panjang tentang lahirnya kedaulatan ekonomi bangsa. Arsitektur bergaya kolonial dengan dinding kokoh dan pilar-pilar tinggi, itu bukan sekadar hiasan masa lalu, melainkan saksi bisu perjalanan panjang perbankan Indonesia, dari masa kolonial hingga lahirnya Bank Indonesia (BI).</p>



<p>Dari Kota Malang, bersama dengan rekan seprofesi, menapaki halaman Museum Bank Indonesia, pada Selasa (23/09/2025) kemarin. Ditemani udara Kota Tua yang riuh dengan aktivitas wisatawan, terasa kontras dengan kesan teduh saat memasuki area museum.</p>



<p>Dari luar, bangunan bergaya neoklasik itu memancarkan wibawa. Di dalam, sejarah seolah berbicara lewat ruang-ruang pamer yang ditata modern dan interaktif.</p>



<p>“Bangunan ini dahulu adalah Kantor De Javasche Bank (DJB). Sejak berdiri tahun 1828, menjadi pusat sirkulasi keuangan Hindia Belanda. Setelah melalui perjalanan panjang, akhirnya lahirlah Bank Indonesia pada 1953,” kata Edukator Museum BI, Tri Kanti Wigati.</p>



<p>Awal berdirinya DJB sendiri, juga tidak lepas dari krisis ekonomi setelah kebangkrutan VOC. Raja Willem I memerintahkan pendirian bank swasta bernama DJB pada 1828, untuk memulihkan sistem keuangan di Hindia Belanda. Dengan kantor pusatnya yang menempati bekas Binnenhospital, sebuah rumah sakit dua lantai di dalam tembok Kota Batavia.</p>



<p>Kala itu, Batavia adalah pusat perdagangan internasional. Kapal-kapal dari berbagai penjuru dunia, berlabuh di Pelabuhan Sunda Kelapa, membawa rempah, kopi, teh, hingga tekstil. Gudang-gudang berjejer di sekitar kota, menjadi denyut ekonomi yang menghubungkan Hindia Belanda dengan pasar dunia.</p>



<p>“Kehadiran DJB menjadi penting, karena berfungsi sebagai bank sirkulasi yang mengatur peredaran uang dan mendukung perdagangan hasil bumi,” ujarnya.</p>



<p>Tidak hanya di Batavia, DJB pun membuka cabang di berbagai kota besar. Seperti Semarang, Surabaya, Padang, Medan dan Solo. Seiring berjalannya waktu, aktivitas DJB makin berkembang.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p></p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img decoding="async" width="600" height="444" src="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2025/09/Napak-Tilas-Bangunan-Sejarah-dari-De-Javasche-Bank-hingga-Lahirnya-Bank-Indonesia-2.jpg?resize=600%2C444&#038;ssl=1" alt="" class="wp-image-226248" srcset="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2025/09/Napak-Tilas-Bangunan-Sejarah-dari-De-Javasche-Bank-hingga-Lahirnya-Bank-Indonesia-2.jpg?w=600&amp;ssl=1 600w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2025/09/Napak-Tilas-Bangunan-Sejarah-dari-De-Javasche-Bank-hingga-Lahirnya-Bank-Indonesia-2.jpg?resize=300%2C222&amp;ssl=1 300w" sizes="(max-width: 600px) 100vw, 600px" data-recalc-dims="1" /><figcaption class="wp-element-caption">MUSEUM: Bangunan Museum Bank Indonesia. (memontum.com/rsy)</figcaption></figure></div>


<p></p>



<p>Sementara gedung lama bekas rumah sakit, ini semakin terasa sempit. Empat kali renovasi besar dilakukan, mulai 1909 hingga 1933. Pada akhirnya, bangunan rumah sakit, pun sirna digantikan dengan kantor baru yang megah dan modern.</p>



<p>“Bangunan inilah yang kini berdiri sebagai Museum BI, saksi transformasi dari bank kolonial menjadi bank sentral Republik Indonesia,” tambahnya.</p>



<p>Sejak awal, DJB berfungsi sebagai bank sirkulasi Hindia Belanda. Dalam kurun lebih dari satu abad, menjadi tulang punggung sistem keuangan kolonial. Hingga di tahun 1942, cabang DJB sudah tersebar di 22 kota, terdiri atas 10 di Jawa, 8 di Sumatera, 2 di Kalimantan dan 2 di Sulawesi.</p>



<p>Saat Jepang menduduki Indonesia, DJB dilikuidasi. Jepang mendirikan bank baru, bernama Nanpo Kaihatsu Ginko (NKG) yang berfungsi sebagai bank sirkulasi. Dengan mengedarkan uang invasi dengan tiga seri, yakni De Japansche Regeering (1942), Dai Nippon Teikoku Seihu (1943) dan Pemerintah Dai Nippon (1944).</p>



<p>Kemudian, Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 dan Belanda tidak mengakuinya. Mereka kembali mengaktifkan DJB dan mengedarkan mata uang NICA, yang kemudian dikenal dengan sebutan uang merah. Melalui Konferensi Meja Bundar, Belanda akhirnya mengakui kedaulatan Indonesia dan membentuk Republik Indonesia Serikat (RIS). Salah satu keputusan penting, adalah pembentukan bank sentral untuk RIS.</p>



<p>“Lalu, Pemerintah Indonesia membentuk panitia nasionalisasi DJB pada 2 Juli 1951. Langkah ini sesuai dengan gagasan Bung Hatta tentang pentingnya memiliki bank sentral untuk mewujudkan kedaulatan ekonomi. Menteri Keuangan Jusuf Wibisono mengusulkan nasionalisasi DJB, yang kemudian disahkan dengan UU No.24/1951,” ucapnya.</p>



<p>Proses nasionalisasi berlangsung hingga 1953. Pemerintah membeli saham DJB dengan harga 20 persen di atas nilai pasar. Pada 30 Juni 1953, DJB resmi dibubarkan. Sehari setelahnya, 1 Juli 1953, Bank Indonesia ditetapkan sebagai bank sentral RI melalui UU No.11/1953. Sjafruddin Prawiranegara diangkat sebagai gubernur pertama dan salah satu momen penting, yakni pidatonya yang dibacakan dalam peringatan 125 tahun DJB pada 24 Januari 1953.</p>



<p>“Tak dapat disangkal lagi, apalagi sesudah semua saham telah dimiliki oleh pemerintah, bahwa bank kami ini adalah bank kita semua, Bank Nasional. Sifat nasional itu tak dapat disangkal, meskipun sebagian besar pegawai-pegawai bank kami masih terdiri dari orang-orang yang bukan warga negara Indonesia. Indonesianisasi Bank merupakan program pertama dari direksi. Tetapi justru untuk menjaga keutuhan organisasi itu, Indonesianisasi itu harus dijalankan secara berangsur-angsur dan sistematis. Tidak lama lagi DJB akan menutup riwayatnya dan diganti dengan bank baru, Bank Indonesia. Jika kita dapat menilai dan menghargai bank yang lama sebagaimana mestinya, maka mungkin BI akan menempuh sejarah yang lebih lama dan lebih jaya lagi daripada DJB,” isi pidato Sjafruddin Prawiranegara.</p>



<p>Pidato itu seolah menjadi pengantar peralihan sejarah, dari bank kolonial menuju bank sentral nasional. Kini, bangunan bersejarah itu telah beralih fungsi menjadi Museum Bank Indonesia. Di dalamnya, pengunjung bisa menelusuri ruang-ruang pamer dengan koleksi uang kuno, arsip, hingga diorama interaktif. Setiap ruang menyuguhkan potongan sejarah, mulai dari peran DJB di masa kolonial, perjuangan kemerdekaan, hingga lahirnya BI sebagai simbol kedaulatan ekonomi bangsa.</p>



<p>“Selain menyimpan artefak berharga, museum ini juga berfungsi sebagai pusat edukasi. Kami ingin generasi muda memahami bahwa berdirinya Bank Indonesia tidak terlepas dari perjuangan panjang bangsa,” lanjut Kanti.</p>



<p>Perjalanan Bank Indonesia, tidak hanya sekadar kisah ekonomi. Namun, juga bagian dari perjuangan bangsa merebut kedaulatan, sama pentingnya dengan pertempuran fisik di medan perang. Museum BI menjadi pengingat bahwa Bangsa Indonesia pernah berjuang bukan hanya dengan bambu runcing, tetapi juga dengan pena, kebijakan dan keberanian menasionalisasi bank kolonial. <strong>(rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">226246</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Raih Lebih 100 Medali Emas, Kota Malang Cetak Sejarah di Ajang Porprov Jatim 2025</title>
		<link>https://memontum.com/raih-lebih-100-medali-emas-kota-malang-cetak-sejarah-di-ajang-porprov-jatim-2025</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 05 Jul 2025 07:20:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>
		<category><![CDATA[Medali]]></category>
		<category><![CDATA[Porprov]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=223667</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Kota Malang berhasil mencatat sejarah baru dalam gelaran Pekan Olah Raga Provinsi (Porprov) IX Jawa Timur 2025. Untuk pertama kalinya, Kota Malang berhasil menembus perolehan lebih dari 100 medali emas dan tentunya ini sebuah pencapaian yang sebelumnya hanya pernah diraih oleh Kontingen Kota Surabaya. Bahkan hingga Sabtu (05/07/2025) ini, Kota Malang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Kota Malang berhasil mencatat sejarah baru dalam gelaran Pekan Olah Raga Provinsi (Porprov) IX Jawa Timur 2025. Untuk pertama kalinya, Kota Malang berhasil menembus perolehan lebih dari 100 medali emas dan tentunya ini sebuah pencapaian yang sebelumnya hanya pernah diraih oleh Kontingen Kota Surabaya.</p>



<p>Bahkan hingga Sabtu (05/07/2025) ini, Kota Malang telah berhasil meraih 119 medali emas, 105 perak dan 106 perunggu dengan total poin 792. Raihan ini, pun mendapat sambutan positif Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat.</p>



<p>&#8220;Raihan dalam Porprov kali ini luar biasa. Baru Kota Malang yang medali emasnya dapat tembus 100 medali, selain tentunya Kota Surabaya. Jadi, raihan ini sebelumnya sama sekali tidak ada, walaupun di Porprov sebelumnya. Bahkan, Kabupaten Sidoarjo yang sempat di posisi runner up, tetapi untuk medali emasnya tidak sampai 100, atau hanya 90 an. Sementara kita, sampai detik ini sudah 119 medali emas,&#8221; kata Wali Kota Wahyu, seusai menonton pertandingan Cabor Tenis.</p>



<p>Kendati demikian, Wali Kota Wahyu menegaskan bahwa dirinya masih belum cukup puas. Karenanya, melalui menonton langsung pertandingan atlet, dirinya ingin terus menunjukkan komitmennya dengan memberikan dukungan pada para atlet hingga akhir pertandingan Porprov 2025.</p>



<p>&#8220;Saya terus mendampingi. Habis ini saya ke pertandingan softball, lalu ke Kota Batu, untuk melihat Tarung Derajat. Dari Jakarta pun saya langsung ke sini, karena saya ingin terus bersama atlet sampai akhir,” tambahnya.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Sebagai bentuk apresiasi, menurutnya Pemkot Malang tentunya sudah menyiapkan bonus bagi atlet berprestasi. “Bonus tetap ada. Terutama yang meraih emas, sudah saya janjikan sejak awal. Untuk peraih perak dan perunggu juga akan kami beri penghargaan, termasuk bonus mentas langsung di lapangan,” ujarnya.</p>



<p>Sementara itu, Kepala Dinas Kepemudaan, Olah Raga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang, Baihaqi, menyampaikan bahwa jumlah medali emas berpotensi bertambah. Karena masih ada beberapa final yang berlangsung pada hari ini.</p>



<p>&#8220;Hari ini masih ada final di angkat besi, kemudian di balap sepeda, atletik itu masih ada empat nomor yang masuk final semua. Hari ini semuanya sudah selesai. Targetnya hari ini bisa mencapai tiga sampai empat emas, sehingga lebih dari 120 emas,&#8221; ucap Baihaqi.</p>



<p>Lebih lanjut, Baihaqi juga menegaskan bahwa semua capaian dari masing-masing Cabor akan dievaluasi, baik yang berhasil melampaui target maupun yang belum. “Evaluasi pasti akan kami lakukan bersama KONI. Karena pembinaan olahraga harus berkelanjutan. Apalagi dua tahun lagi Porprov X digelar di Surabaya. Kami harus siapkan dari sekarang,” tegasnya.</p>



<p>Terkait target awal, Baihaqi menyampaikan bahwa Kota Malang memang menargetkan posisi juara umum, tetapi secara realistis menempatkan diri di posisi dua di bawah Kota Surabaya. “Surabaya sudah seperti juara tetap. Tapi dibandingkan Porprov sebelumnya, capaian kita meningkat pesat. Dahulu hanya 74 emas, sekarang sudah 119. Ini bukti kemajuan pembinaan dan semangat luar biasa dari para atlet kita,” imbuh Baihaqi. <strong>(rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">223667</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Gelaran Porprov Jatim 2025 di Kota Malang Jadi Penyelenggaraan Terbesar Sepanjang Sejarah</title>
		<link>https://memontum.com/gelaran-porprov-jatim-2025-di-kota-malang-jadi-penyelenggaraan-terbesar-sepanjang-sejarah</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Jun 2025 15:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[gelaran]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>
		<category><![CDATA[penyelenggaraan]]></category>
		<category><![CDATA[Porprov]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[sepanjang]]></category>
		<category><![CDATA[terbesar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=223435</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Pekan Olah Raga Provinsi (Porprov) IX Jawa Timur 2025 yang digelar di Kota Malang dan wilayah Malang Raya, tercatat sebagai penyelenggaraan terbesar sepanjang sejarah Porprov. Sebab, jumlah peserta dalam gelaran antar kabupaten dan kota di Jatim, ini mencapai puluhan ribu dan cabang olah raga yang dipertandingkan semakin banyak. Kepala Dinas Kepemudaan, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Pekan Olah Raga Provinsi (Porprov) IX Jawa Timur 2025 yang digelar di Kota Malang dan wilayah Malang Raya, tercatat sebagai penyelenggaraan terbesar sepanjang sejarah Porprov. Sebab, jumlah peserta dalam gelaran antar kabupaten dan kota di Jatim, ini mencapai puluhan ribu dan cabang olah raga yang dipertandingkan semakin banyak.</p>



<p>Kepala Dinas Kepemudaan, Olah Raga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang, Baihaqi, menyebut bahwa total kontingen dan official yang terlibat mencapai 22.283 orang. Jumlah tersebut, melampaui Porprov sebelumnya yang hanya diikuti sekitar 15 hingga 16 ribu orang.</p>



<p>“Jumlah atlet dari Kota Malang sendiri sebanyak 1.375 orang. Kalau total seluruh kontingen dan official dari semua daerah, ada 22.283 orang. Ini bukan hanya Porprov terbesar di Jawa Timur, tapi juga terbesar di Indonesia,” kata Baihaqi, Sabtu (28/06/2025) tadi.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Baihaqi merinci, bahwa jumlah peserta terbanyak berasal dari Kota Surabaya, disusul Kabupaten Sidoarjo, Kota Malang dan Kabupaten Malang. “Jadi, Porprov ini tidak hanya dilihat dari sisi seremoni pembukaannya yang megah, tapi juga dari skala pertandingannya. Jumlah Cabor, atlet dan officialnya luar biasa,” tambahnya.</p>



<p>Dari sisi Cabang Olah Raga (Cabor), terdapat total 90 disiplin yang dipertandingkan. Terdiri atas 65 cabor induk dan beberapa cabang tambahan, termasuk cabor baru seperti pickleball.</p>



<p>“Beberapa cabor baru ikut menambah jumlah keseluruhan. Jadi, dari sisi penyelenggaraan, ini Porprov paling besar sepanjang sejarah,” imbuh Baihaqi. <strong>(rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">223435</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Dekatkan Sejarah dan Budaya ke Generasi Muda, Museum Daerah Lumajang Ajak Jelajah Candi</title>
		<link>https://memontum.com/dekatkan-sejarah-dan-budaya-ke-generasi-muda-museum-daerah-lumajang-ajak-jelajah-candi</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 17 Oct 2024 12:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Lumajang]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[daerah]]></category>
		<category><![CDATA[dekatkan]]></category>
		<category><![CDATA[generasi]]></category>
		<category><![CDATA[jelajah]]></category>
		<category><![CDATA[Museum]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=215563</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Lumajang &#8211; Sebanyak 72 siswa Kelas 9 SMP Negeri 1 Gucialit, Kabupaten Lumajang, menjelajahi Candi Agung yang terletak di Desa Randuagung, Kabupaten Lumajang, Kamis (17/10/2024) tadi. Kegiatan edukatif yang diselenggarakan oleh Museum Daerah Kabupaten Lumajang, untuk meningkatkan pengetahuan pelajar dengan cara yang menarik. Kunjungan ini, merupakan bagian dari Program Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Lumajang</strong> &#8211; Sebanyak 72 siswa Kelas 9 SMP Negeri 1 Gucialit, Kabupaten Lumajang, menjelajahi Candi Agung yang terletak di Desa Randuagung, Kabupaten Lumajang, Kamis (17/10/2024) tadi. Kegiatan edukatif yang diselenggarakan oleh Museum Daerah Kabupaten Lumajang, untuk meningkatkan pengetahuan pelajar dengan cara yang menarik.</p>



<p>Kunjungan ini, merupakan bagian dari Program Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dengan tema &#8216;Kearifan Lokal Kabupaten Lumajang&#8217;. Melalui kegiatan ini, Museum Daerah Kabupaten Lumajang berupaya mendekatkan sejarah dan budaya kepada generasi muda dengan cara yang lebih interaktif dan menyenangkan.</p>



<p>Para pelajar tidak hanya diajak mengamati struktur bangunan candi, tetapi juga mendapatkan penjelasan detail mengenai sejarah, fungsi dan makna yang terdapat pada candi. &#8220;Melalui observasi langsung seperti ini, diharapkan siswa-siswi dapat mempelajari nilai-nilai sejarah, seni, dan budaya yang terkandung di dalamnya secara lebih mendalam,&#8221; kata salah satu Tim Museum Daerah, Siyono Hadi Kurniawan, saat dikonfirmasi di lokasi.</p>



<p>Selama kunjungan, para pelajar tampak antusias mengamati setiap detail candi dan mencatat informasi yang diberikan oleh Tim Museum Daerah. Mereka juga aktif bertanya dan berdiskusi untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Menurut Siyono, kegiatan tersebut merupakan salah satu bentuk implementasi Kurikulum Merdeka yang menekankan pada pembelajaran berbasis projek dan pengalaman nyata. Pihaknya juga akan terus berkomitmen untuk menyajikan program-program edukatif yang bermanfaat bagi pelajar di Lumajang.&nbsp;</p>



<p>&#8220;Museum Daerah Kabupaten Lumajang berkomitmen untuk terus berinovasi dalam menyajikan program-program edukatif yang menarik dan bermanfaat bagi pelajar,&#8221; jelasnya.</p>



<p>Dalam kesempatan yang sama, salah satu Guru SMP Negeri 1 Gucialit, Yepta Putra Ferdiansyah, mengatakan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat bagi para pelajar dalam memahami kearifan lokal dan menumbuhkan rasa cinta tanah air.</p>



<p>Selain itu, kegiatan tersebut juga dapat menumbuhkan kebanggaan terhadap kekayaan budaya Indonesia dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian cagar budaya.</p>



<p>&#8220;Dengan mengenal sejarah lokal secara langsung, diharapkan siswa-siswi dapat lebih menghargai dan melestarikan warisan budaya bangsa,&#8221; tambahnya. <strong>(kom/adi/gie)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">215563</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Peringatan Hari Mas TRIP, Pj Wali Kota Wahyu Ajak Pelajar Kota Malang Kenali Sejarah Melalui Sarasehan</title>
		<link>https://memontum.com/peringatan-hari-mas-trip-pj-wali-kota-wahyu-ajak-pelajar-kota-malang-kenali-sejarah-melalui-sarasehan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 29 Jul 2024 09:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[kenali]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>
		<category><![CDATA[melalui]]></category>
		<category><![CDATA[pelajar]]></category>
		<category><![CDATA[peringatan]]></category>
		<category><![CDATA[Sarasehan]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=212389</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Dalam rangka menyambut peringatan Mas Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP), Pj Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, membuka kegiatan sarasehan sejarah perjuangan, di Museum Brawijaya, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Senin (29/07/2024) tadi. Pria yang menduduki kursi N1 di Kota Malang itu menyampaikan bahwa kegiatan tersebut diikuti oleh para pelajar, baik ditingkat SMP, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Dalam rangka menyambut peringatan Mas Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP), Pj Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, membuka kegiatan sarasehan sejarah perjuangan, di Museum Brawijaya, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Senin (29/07/2024) tadi.</p>



<p>Pria yang menduduki kursi N1 di Kota Malang itu menyampaikan bahwa kegiatan tersebut diikuti oleh para pelajar, baik ditingkat SMP, SMA bahkan mahasiswa. Sehingga, diharapkan nantinya selain mengenang juga dapat mengetahui sejarah dari Mas Trip Kota Malang.</p>



<p>“Kadang kala mereka banyak yang tidak tahu terkait dengan sejarah Mas Trip. Seperti Jalan Pahlawan Trip itu kenapa, sejarahnya mereka bagaimana, tidak tahu. Hari ini rangkaian kegiatan dari Mas Trip, yang kemudian juga bersama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang mengundang seluruh pelajar dengan nara sumber yang dapat memberikan penjelasan,” kata Pj Wali Kota Wahyu.</p>



<p>Tidak hanya itu, menurutnya para guru-guru PKN dan sejarah yang ada di Kota Malang juga dilibatkan, agar dapat menjelaskan sejarah-sejarah Mas Trip tersebut kepada para siswa. Sehingga, semangat perjuangan tentara pelajar dapat diteruskan.</p>



<p>“Tentu sekarang para pelajar harus bisa meneruskan bagaimana perjuangan tentara pelajar pada saat itu. Kalau dahulu perjuangannya melawan Belanda, kalau sekarang para pelajar ini harus bisa menjadi pelajar yang berkualitas untuk Indonesia emas 2045,” tambahnya.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Sebagai informasi, peringatan Mas Trip yang jatuh pada 31 Juli nantinya juga akan diperingati menjadi hari besar Mas Trip Kota Malang. Tentunya, rangkaian-rangkaian kegiatan dilakukan untuk mengenang para jasa perjuangan Mas Trip.</p>



<p>Sementara itu, Ketua Penasehat Mas Trip Jawa Timur, Hendy Hendriyono, mengatakan jika kegiatan tersebut menjadi reminder (pengingat, red) dan penyegaran kembali bagi para pemuda khususnya di Kota Malang. Menurutnya, peristiwa di Jalan Salak pada saat itu sangat luar biasa.&nbsp;</p>



<p>“Pada saat itu, kelas militer komando Belanda berhadapan dengan 35 anggota pelajar kita (tentara pelajar) untuk melakukan pertempuran di Jalan Salak itu. Bayangkan kalau sekarang anak-anak SMP, SMA melawan pasukan baret hijau, itu luar biasa. Disitu ada kehebatan dan keberanian anak-anak malang. Kalau sekarang mungkin lari. Kalau dulu itu tidak, mereka dihajar dan dilawan. Walaupun gugur, tapi tidak sia-sia,” tambah Hendy.</p>



<p>Diakhir, Hendy juga menyampaikan apresiasinya pada Pemkot Malang yang menjadikan Mas Trip sebagai hari besar daerah pada 31 Juli mendatang. Termasuk juga, akan menjadikan sejarah perjuangan Mas Trip sebagai muatan lokal di lingkungan sekolah.</p>



<p>“Kami dari Paguyuban Mas Trip Jawa Timur mengucapkan banyak terima kasih pada Pemkot Malang. Apalagi dengan dukungan mengundang para pelajar. Ini merupakan hari besar daerah sekaligus sejarahnya yang mempunyai benang merah kepada seluruh perjuangan bangsa, untuk menjadi muatan lokal di dalam bangku sekolah,” imbuhnya. <strong>(rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">212389</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
