<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>simbol &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/simbol/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Tue, 21 Apr 2026 09:36:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.9</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>simbol &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Bukan Kebaya, Tapi Kardus dan Plastik Jadi Simbol Perjuangan Misyani di Hari Kartini</title>
		<link>https://memontum.com/bukan-kebaya-tapi-kardus-dan-plastik-jadi-simbol-perjuangan-misyani-di-hari-kartini</link>
					<comments>https://memontum.com/bukan-kebaya-tapi-kardus-dan-plastik-jadi-simbol-perjuangan-misyani-di-hari-kartini#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Apr 2026 06:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar Desa]]></category>
		<category><![CDATA[kardus]]></category>
		<category><![CDATA[kartini]]></category>
		<category><![CDATA[kebaya]]></category>
		<category><![CDATA[misyani]]></category>
		<category><![CDATA[perjuangan]]></category>
		<category><![CDATA[plastik]]></category>
		<category><![CDATA[simbol]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=231842</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Memperingati Hari Kartini, tidak selalu harus identik dengan kebaya atau seremoni. Bagi Misyani (54), semangat Kartini justru hadir dalam kerja keras sehari-hari demi bertahan hidup secara mandiri dan menghidupi keluarga. Sejak pukul 05.30, Misyani yang bekerja sebagai pemulung, sudah mulai menyusuri jalanan untuk mengumpulkan barang bekas. Kardus, botol plastik hingga gelas [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Memperingati Hari Kartini, tidak selalu harus identik dengan kebaya atau seremoni. Bagi Misyani (54), semangat Kartini justru hadir dalam kerja keras sehari-hari demi bertahan hidup secara mandiri dan menghidupi keluarga.</p>



<p>Sejak pukul 05.30, Misyani yang bekerja sebagai pemulung, sudah mulai menyusuri jalanan untuk mengumpulkan barang bekas. Kardus, botol plastik hingga gelas air mineral, menjadi sumber penghasilannya. Aktivitas itu, di jalani hingga sekitar pukul 10.30 hingga 11.00 di setiap hari.</p>



<p>“Mulai tahun 2004, saya mulung di sini. Dahulu sama bapaknya anak-anak, sekarang sudah tidak ada. Jadi, saya sendiri yang meneruskan,” kata Misyani, saat ditemui di Tempat Penampungan Sementara (TPS) Borobudur, Selasa (21/04/2026) tadi.</p>



<p>Pekerjaan sebagai pemulung, bagi Misyani tentunya bukan pilihan mudah. Namun, setelah sang suami meninggal dunia, dirinya memilih tetap bekerja agar tidak bergantung pada orang lain. Baginya, bekerja adalah bentuk kemandirian sekaligus cara bertahan hidup.</p>



<p>Dalam sehari, Misyani mengaku kalau penghasilannya tidak menentu. Namun bila dirata-rata, hasil yang diperolehnya sekitar Rp 35 ribu hingga Rp 50 ribu. Tergantung, dari banyaknya barang yang berhasil dikumpulkan.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Harga jual barang bekas, pun relatif kecil, seperti botol plastik yang hanya dihargai Rp 500 hingga Rp 600 perkg. Sementara untuk kardus, sekitar Rp 1.500.</p>



<p>&#8220;Dapat sedikit disyukuri, dapat banyak juga disyukuri. Yang penting berkah,&#8221; papar perempuan yang tinggal di kawasan Plaosan, Kecamatan Blimbing.</p>



<p>Usai bekerja, Misyani biasanya pulang menggunakan becak langganan. Ongkosnya berkisar Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu, tergantung banyaknya barang bawaan. Sementara untuk berangkat, sesekali menggunakan ojek daring karena sudah tidak mampu mengayuh sepeda.</p>



<p>&#8220;Saya punya empat anak. Dua diantaranya sudah berkeluarga dan saya hidup mandiri di rumah sendiri, agar tidak merepotkan anak-anak,&#8221; katanya.</p>



<p>Semangat sederhana itulah, yang membuat kisah Misyani menjadi potret nyata perjuangan perempuan di Hari Kartini. Tanpa sorotan panggung, dirinya terus bekerja, menjaga harga diri melalui kemandirian. Harapannya pun sederhana.</p>



<p>“Semoga diberi kesehatan, rezeki yang berkah dan panjang umur supaya bisa terus bekerja,” imbuhnya. <strong>(rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://memontum.com/bukan-kebaya-tapi-kardus-dan-plastik-jadi-simbol-perjuangan-misyani-di-hari-kartini/feed</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">231842</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Ketua Dekranasda Lumajang Tegaskan Batik sebagai Simbol Identitas Budaya</title>
		<link>https://memontum.com/ketua-dekranasda-lumajang-tegaskan-batik-sebagai-simbol-identitas-budaya</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Oct 2025 10:20:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar Desa]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Dekranasda]]></category>
		<category><![CDATA[identitas]]></category>
		<category><![CDATA[Lumajang]]></category>
		<category><![CDATA[sebagai]]></category>
		<category><![CDATA[simbol]]></category>
		<category><![CDATA[tegaskan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=226494</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Lumajang &#8211; Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Lumajang, Dewi Natalia Yudha Adji Kusuma, menegaskan bahwa batik Lumajang bukan sekadar kain hias, tetapi simbol identitas budaya yang sarat nilai filosofis dan estetika lokal. Hal itu disampaikannya, saat membuka Pameran Batik Lumajang 2025, di Pendopo Arya Wiraraja, Kamis (02/10/2025) tadi. Even yang diselenggarakan bertepatan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Lumajang</strong> &#8211; Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Lumajang, Dewi Natalia Yudha Adji Kusuma, menegaskan bahwa batik Lumajang bukan sekadar kain hias, tetapi simbol identitas budaya yang sarat nilai filosofis dan estetika lokal. Hal itu disampaikannya, saat membuka Pameran Batik Lumajang 2025, di Pendopo Arya Wiraraja, Kamis (02/10/2025) tadi.</p>



<p>Even yang diselenggarakan bertepatan dengan Hari Batik Nasional, ini menghadirkan pameran beragam motif batik khas Lumajang, yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya lokal, mulai dari Gunung Semeru, hamparan Pasir Lumajang, Pisang Agung, kesenian Jaran Kencak, hingga Tari Topeng Kaliwungu. “Batik Lumajang bukan sekadar Wastra. Setiap motif menyimpan cerita, filosofi dan nilai-nilai kehidupan masyarakat kami. Ini adalah cerminan jati diri dan kebanggaan daerah,” kata Dewi Natalia.</p>



<p>Dirinya menekankan, bahwa pameran ini merupakan momentum strategis untuk meneguhkan batik Lumajang, sebagai warisan budaya yang harus dijaga dan diwariskan lintas generasi. Menurutnya, memahami setiap motif dan maknanya adalah bagian dari menjaga identitas kultural daerah.</p>



<p>“Melalui batik, kita dapat memahami filosofi kehidupan, harmoni dengan alam dan semangat kolektif masyarakat Lumajang. Generasi muda perlu mengenal dan mencintai batik sebagai bagian dari akar budaya mereka,” ujarnya.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Penyelenggaraan pameran bertepatan dengan Hari Batik Nasional, juga menegaskan komitmen Lumajang untuk aktif dalam gerakan nasional pelestarian batik, yang telah diakui Unesco sebagai warisan budaya dunia. “Batik adalah warisan bangsa. Dengan merawatnya, kita menjaga keberlanjutan nilai budaya yang membentuk karakter dan identitas masyarakat,” katanya.</p>



<p>Pameran ini, dihadiri jajaran Kepala Perangkat Daerah, TP PKK Kabupaten Lumajang, Ketua GOW dan Ketua Dharma Wanita Kabupaten Lumajang, Ketua TP PKK Kecamatan, yang menunjukkan dukungan lintas sektor dalam menjaga dan memperkenalkan batik Lumajang.</p>



<p>“Setiap helai batik yang dipamerkan adalah simbol harmoni alam dan budaya. Mengajarkan kita untuk menghargai sejarah, estetika dan kearifan lokal. Tugas kita bersama adalah melestarikannya agar tetap hidup di tengah arus modernisasi,” imbuhnya.</p>



<p>Dengan semangat Hari Batik Nasional, Dewi Natalia menegaskan bahwa batik Lumajang akan terus menjadi ikon identitas daerah dan kebanggaan masyarakat, sekaligus pengingat akan kekayaan budaya yang harus dijaga dan diwariskan ke generasi berikutnya. <strong>(kom/adi/gie)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">226494</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Malam Keakraban, Bunda Indah Tegaskan Paskibraka Simbol Keteguhan Hati Generasi Muda Lumajang</title>
		<link>https://memontum.com/malam-keakraban-bunda-indah-tegaskan-paskibraka-simbol-keteguhan-hati-generasi-muda-lumajang</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 Aug 2025 12:40:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Lumajang]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[generasi]]></category>
		<category><![CDATA[keakraban]]></category>
		<category><![CDATA[keteguhan]]></category>
		<category><![CDATA[Paskibraka]]></category>
		<category><![CDATA[simbol]]></category>
		<category><![CDATA[tegaskan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=225146</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Lumajang &#8211; Bupati Lumajang, Indah Amperawati, menegaskan bahwa Paskibraka adalah lebih dari sekadar pasukan pengibar bendera. Namun, juga merupakan simbol kedisiplinan, ketenangan dan keteguhan hati generasi muda Lumajang. Hal ini disampaikan Bunda Indah-sapaan Bupati Lumajang, dalam acara Malam Keakraban Paskibraka Kabupaten Lumajang 2025, yang digelar di halaman belakang Pendopo Arya Wiraraja, Minggu (17/08/2025) tadi. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Lumajang</strong> &#8211; Bupati Lumajang, Indah Amperawati, menegaskan bahwa Paskibraka adalah lebih dari sekadar pasukan pengibar bendera. Namun, juga merupakan simbol kedisiplinan, ketenangan dan keteguhan hati generasi muda Lumajang.</p>



<p>Hal ini disampaikan Bunda Indah-sapaan Bupati Lumajang, dalam acara Malam Keakraban Paskibraka Kabupaten Lumajang 2025, yang digelar di halaman belakang Pendopo Arya Wiraraja, Minggu (17/08/2025) tadi. Kegiatan ini, tidak hanya menghadirkan kebersamaan, tetapi juga menjadi panggung pembelajaran kepemimpinan dan penguatan karakter bagi para Paskibraka.</p>



<p>Bunda Indah-sapaan Bupati Lumajang, juga menekankan bahwa keberhasilan pengibaran bendera tidak hanya ditentukan oleh latihan fisik. Namun, juga oleh doa, fokus dan kesiapan mental.</p>



<p>“Kalian adalah cermin dari semangat bangsa. Di pundak kalian, nilai disiplin, tanggung jawab dan cinta tanah air dipertaruhkan,” kata Bunda Indah.</p>



<p>Menyinggung kasus pengibaran bendera terbalik di salah satu daerah yang sempat viral, Bunda Indah menegaskan, bahwa kejadian tersebut harus menjadi pelajaran berharga. “Kesalahan bisa terjadi, tetapi yang paling penting adalah bagaimana kita menyiapkan diri agar kehormatan bangsa tidak terciderai,” tambahnya.</p>



<p>Pesan itu memperkuat makna, bahwa Paskibraka bukan sekadar pasukan upacara, melainkan kader masa depan bangsa yang ditempa melalui disiplin, kebersamaan dan tanggung jawab. &#8220;Paskibraka adalah cikal bakal pemimpin bangsa. Kami tidak ingin semangat mereka berhenti setelah upacara, tetapi terus tumbuh dalam setiap langkah hidup mereka,” imbuh Bunda Indah.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Bagi pemerintah daerah, Paskibraka bukan hanya pasukan simbolik, tetapi juga aset pembangunan manusia. Melalui pembinaan berkelanjutan, mereka diharapkan tumbuh menjadi generasi emas Lumajang yang siap menghadapi tantangan global tanpa kehilangan akar nasionalisme.</p>



<p>Sementara itu, Wakil Bupati Lumajang, Yudha Adji Kusuma, menyampaikan apresiasi yang sama. Menurutnya, dedikasi 75 anggota Paskibraka 2025 menjadi bukti nyata bahwa generasi muda Lumajang memiliki daya juang yang tinggi.</p>



<p>“Energi positif mereka adalah modal penting untuk membangun bangsa ke depan. Dari lapangan ini, akan lahir pemimpin masa depan,” tegas Mas Yudha-sapaan Wabup Lumajang.</p>



<p>Malam keakraban sendiri, juga menjadi ruang refleksi. Para Paskibraka juga merenungkan perjalanan panjang sejak proses seleksi, pelatihan keras, hingga momen mengibarkan bendera pada upacara HUT ke-80 Republik Indonesia.</p>



<p>Suasana penuh haru, ketika para anggota menyadari bahwa tugas mereka bukan hanya untuk satu hari, melainkan akan menjadi bekal karakter dalam kehidupan mereka selanjutnya. Acara sendiri, juga diisi dengan dialog inspiratif bersama pimpinan daerah, doa bersama dan kegiatan kebersamaan yang menekankan pentingnya solidaritas dan jiwa kepemimpinan kolektif. Nilai-nilai ini penting, untuk memastikan bahwa Paskibraka bukan hanya berkumpul di momen 17 Agustus, melainkan tetap menjadi motor penggerak di lingkungan sekolah, keluarga, hingga masyarakat.</p>



<p>Malam keakraban itu pun menjadi penegasan, bahwa kemerdekaan tidak hanya dirayakan dengan simbol, tetapi juga dengan komitmen. Paskibraka Lumajang 2025 menjadi saksi bahwa generasi muda siap menjaga, merawat dan meneruskan nilai kebangsaan dengan disiplin, prestasi dan pengabdian nyata. <strong>(kom/adi/gie)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">225146</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Ritual Larung Saji di Kondang Merak, Tradisi Simbol Penghormatan untuk Laut dan Sang Pencipta</title>
		<link>https://memontum.com/ritual-larung-saji-di-kondang-merak-tradisi-simbol-penghormatan-untuk-laut-dan-sang-pencipta</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Jun 2025 08:40:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar Desa]]></category>
		<category><![CDATA[Kabupaten Malang]]></category>
		<category><![CDATA[kondang]]></category>
		<category><![CDATA[Larung]]></category>
		<category><![CDATA[merak,]]></category>
		<category><![CDATA[pencipta]]></category>
		<category><![CDATA[penghormatan]]></category>
		<category><![CDATA[Ritual]]></category>
		<category><![CDATA[simbol]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=223447</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Malang &#8211; Bertepatan dengan 1 Suro 1447 H, para nelayan dan warga Desa Sumber Bening, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, menggelar ritual Larung Saji di Pantai Kondang Merak, Sabtu (28/06/2025) tadi. Gelaran ini dilakukan, sebagai ungkapan syukur dan doa keselamatan dalam menjalani kehidupan laut yang penuh tantangan. Meski langit mendung dan ombak bergulung hebat sejak [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Malang</strong> &#8211; Bertepatan dengan 1 Suro 1447 H, para nelayan dan warga Desa Sumber Bening, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, menggelar ritual Larung Saji di Pantai Kondang Merak, Sabtu (28/06/2025) tadi. Gelaran ini dilakukan, sebagai ungkapan syukur dan doa keselamatan dalam menjalani kehidupan laut yang penuh tantangan.</p>



<p>Meski langit mendung dan ombak bergulung hebat sejak dini hari, namun prosesi ritual tetap berjalan dengan lancar. Cuaca yang tak bersahabat, menurut nelayan justru menegaskan keteguhan hati warga, bahwa momen ini lebih dari sekadar tradisi.</p>



<p>Rangkaian tradisi sendiri, diawali dengan pembacaan khataman Al-Quran dan makan bersama di Balai Nelayan, tempat para warga berkumpul dalam suasana kebersamaan. Doa-doa dipanjatkan oleh sesepuh nelayan, memohon perlindungan dan limpahan rezeki.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Prosesi pun, berlanjut dengan arak-arakan menuju laut, membawa sesaji berisi hasil bumi dan makanan tradisional untuk dilarungkan sebagai simbol penghormatan kepada laut dan Sang Pencipta. &#8220;Semua itu berkah,&#8221; ujar Ketua Nelayan Bina Karya Mina Kondang Merak, Aral Subagyo.</p>



<p>Diketahui, bahwa Larung Saji merupakan warisan budaya masyarakat pesisir Jawa yang telah hidup turun-temurun. Istilah larung bermakna menghanyutkan, sedangkan saji berarti persembahan.</p>



<p>Di banyak wilayah Pantai Selatan Jawa, tradisi ini menjadi jembatan spiritual antara nelayan dan lautan yang menjadi sumber hidup mereka. Selain doa dan syukur, Larung Saji juga memperkuat ikatan sosial antar warga dan menyemai kebanggaan atas warisan leluhur.</p>



<p>Hadir dalam prosesi ini, perangkat Desa Sumber Bening, LMDH Wonoraharjo, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta NGO Sahabat Alam Indonesia yang turut menyaksikan kekuatan budaya lokal dalam menjaga harmoni antara manusia dan alam. <strong>(had/gie)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">223447</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kampung Moderasi Tanjungrejo Jadi Simbol Kerukunan Beragama, Pj Wali Kota Malang Harap Jadi Percontohan</title>
		<link>https://memontum.com/kampung-moderasi-tanjungrejo-jadi-simbol-kerukunan-beragama-pj-wali-kota-malang-harap-jadi-percontohan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Dec 2024 10:30:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[beragama,]]></category>
		<category><![CDATA[kampung]]></category>
		<category><![CDATA[kerukunan]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>
		<category><![CDATA[moderasi]]></category>
		<category><![CDATA[Percontohan]]></category>
		<category><![CDATA[simbol]]></category>
		<category><![CDATA[tanjungrejo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=217486</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Keberadaan Kampung Moderasi Beragama yang ada di wilayah Tanjungrejo, Kecamatan Sukun, Kota Malang, mendapat apresiasi Pj Wali Kota Malang, Iwan Kurniawan. Karena di wilayah tersebut, menjadi contoh nyata toleransi lima kelompok agama hidup rukun dalam kebersamaan. Pria yang menduduki kursi N1 di Kota Malang, menyampaikan bahwa kerukunan antar umat beragama di [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Keberadaan Kampung Moderasi Beragama yang ada di wilayah Tanjungrejo, Kecamatan Sukun, Kota Malang, mendapat apresiasi Pj Wali Kota Malang, Iwan Kurniawan. Karena di wilayah tersebut, menjadi contoh nyata toleransi lima kelompok agama hidup rukun dalam kebersamaan.</p>



<p>Pria yang menduduki kursi N1 di Kota Malang, menyampaikan bahwa kerukunan antar umat beragama di Kelurahan Tanjungrejo tersebut terbangun dengan baik. Sehingga, diharapkan dapat menjadi percontohan bagi kelurahan lainnya yang ada di Kota Malang.</p>



<p>“Tentunya dengan terbangun kerukunan dengan baik maka akan berdampak dalam menjaga kondusifitas sebuah wilayah. Karenanya saya berharap agar Kampung Moderasi Beragama ini dapat menjadi percontohan bagi kelurahan lainnya di wilayah Kota Malang,” kata Pj Wali Kota Iwan, Rabu (11/12/2024) tadi.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Tidak hanya itu, dirinya juga mendorong peningkatan literasi tentang Kampung Moderasi Beragama dengan mengusulkan pembuatan buku khusus yang dapat menjadi sarana edukasi bagi generasi muda. “Saya ingin anak-anak kita bisa belajar dari Kampung Moderasi ini, agar kerukunan ke depannya dapat terus terjaga,” tambahnya.</p>



<p>Beberapa waktu lalu, saat dirinya berkunjung ke Kampung Moderasi Beragama juga melakukan dialog bersama dengan pada tokoh agama dan tokoh masyarakat yang ada di wilayah tersebut. Dirinya mendengarkan berbagai persoalan dan aspirasi yang telah disampaikan.</p>



<p>“Tentu sudah langsung kami tindaklanjuti melalui Perangkat Daerah yang membersamai saya. Sebisa mungkin persoalan terkait jalan rusak sampai dengan kebutuhan guru agama akan segera ditindaklanjuti,” tambahnya.</p>



<p>Sebagai informasi, Kampung Moderasi Beragama di Tanjungrejo telah berdiri sejak 2022 dan diharapkan dapat menjadi contoh bagi wilayah lain di Kota Malang dalam mewujudkan kedamaian melalui keberagaman. <strong>(rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">217486</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Terima Nomor Urut 1, Paslon Wahyu-Ali Sebut Simbol Kemenangan di Pilkada Kota Malang 2024</title>
		<link>https://memontum.com/terima-nomor-urut-1-paslon-wahyu-ali-sebut-simbol-kemenangan-di-pilkada-kota-malang-2024</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Sep 2024 07:55:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[kemenangan]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>
		<category><![CDATA[paslon]]></category>
		<category><![CDATA[pilkada]]></category>
		<category><![CDATA[simbol]]></category>
		<category><![CDATA[terima]]></category>
		<category><![CDATA[wahyu-ali]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=214507</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Pasangan Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat dan Ali Mutohirin (Wali), secara resmi menerima nomor urut 1 dalam pengundian penetapan nomor untuk Pilkada Serentak 2024, Senin (23/09/2024) tadi. Calon Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, menyampaikan bahwa nomor tersebut dianggap sebagai simbol kemenangan bagi Paslon yang telah diusung [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Pasangan Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat dan Ali Mutohirin (Wali), secara resmi menerima nomor urut 1 dalam pengundian penetapan nomor untuk Pilkada Serentak 2024, Senin (23/09/2024) tadi.</p>



<p>Calon Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, menyampaikan bahwa nomor tersebut dianggap sebagai simbol kemenangan bagi Paslon yang telah diusung oleh 14 partai pendukung. &#8220;Alhamdulillah, kami mendapat nomor urut 1. Ini bukan hanya nomor, tetapi doa dari seluruh partai pendukung kami. Nomor 1 adalah simbol kemenangan dan sesuai dengan visi kami. Wali (Wahyu-Ali) akan membawa Kota Malang menjadi kota nomor satu,&#8221; ungkap Wahyu.</p>



<p>Ditambahkannya, bahwa nomor 1 juga mencerminkan harapan dan doa yang telah dipanjatkan bersama para pendukungnya. Menurutnya, nomor tersebut menguatkan visi pasangan Wali untuk menjadikan Malang sebagai kota mbois yang berkelas dan unggul di Indonesia.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>“Nomor 1 bukan hanya nomor urut, tetapi juga bagian dari visi kami untuk menjadikan Kota Malang sebagai kota yang terbaik, kota nomor satu di Indonesia,&#8221; tambah Wahyu.</p>



<p>Keduanya juga mengatakan, bahwa dirinya siap memulai kampanye yang akan dimulai pada tanggal 25 September 2024. Termasuk, juga menyampaikan bahwa bersama dengan timnya siap untuk menyampaikan visi dan misi di berbagai tempat.</p>



<p>“Kami siap menyampaikan visi misi kami di mana pun, termasuk di kampus. Kami akan bekerja sama dengan seluruh masyarakat dan partai pendukung untuk mewujudkan Kota Malang yang lebih baik dan unggul,” imbuh Wahyu. <strong>(rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">214507</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Ketua DPC PDI-Perjuangan Kota Malang Tegaskan Pentingnya Komunikasi dalam Penertiban Simbol Parpol</title>
		<link>https://memontum.com/ketua-dpc-pdi-perjuangan-kota-malang-tegaskan-pentingnya-komunikasi-dalam-penertiban-simbol-parpol</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 17 Nov 2023 11:50:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>
		<category><![CDATA[Parpol]]></category>
		<category><![CDATA[PDI Perjuangan]]></category>
		<category><![CDATA[penertiban]]></category>
		<category><![CDATA[Pentingnya]]></category>
		<category><![CDATA[simbol]]></category>
		<category><![CDATA[tegaskan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=201781</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Ketua DPC PDI-Perjuangan Kota Malang, I Made Riandiana Kartika, menegaskan pentingnya komunikasi di dalam menegakkan Peraturan Daerah (Perda). Terlebih, dalam melakukan penertiban terhadap simbol-simbol partai politik (Parpol). Pria yang kerapa disapa Made, itu menyampaikan jika simbol partai itu menyangkut sensitifitas para anggota Parpol. Sehingga, itu perlu untuk dihargai bersama. “Pada saat [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong><a href="http://memontum.com" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Memontum</a> Kota Malang</strong> &#8211; Ketua DPC PDI-Perjuangan Kota Malang, I Made Riandiana Kartika, menegaskan pentingnya komunikasi di dalam menegakkan Peraturan Daerah (Perda). Terlebih, dalam melakukan penertiban terhadap simbol-simbol partai politik (Parpol).</p>



<p>Pria yang kerapa disapa Made, itu menyampaikan jika simbol partai itu menyangkut sensitifitas para anggota Parpol. Sehingga, itu perlu untuk dihargai bersama.</p>



<p>“Pada saat ada penertiban, lebih baik sampaikan kepada partai yang bersangkutan, kalau memang itu melanggar. Karena kadang, kita ada perbedaan persepsi dalam menerjemahkan Perda itu. Menurut kita orang partai tidak melanggar, tapi menurut eksekutif melanggar. Nah pelanggarannya dimana, ayo diskusikan, sampaikan,” jelas Made, seusai menghadiri Pembukaan Kegiatan Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) di salah satu Hotel Kota Malang, Jumat (17/11/2023) tadi.</p>



<p>Sehingga, Made berharap para penegak Perda ke depan bisa melakukan komunikasi bersama dengan Ketua Parpol dan diimbau agar tidak tebang pilih dalam menertibkan simbol-simbol partai. &#8220;Kalau memang mau ditertibkan, lakukan komunikasi yang baik. Jangan melaksanakan aturan dengan kacamata kuda. Komunikasikan lebih dahulu, di telpon ketua partainya. Simbol partai itu sensitif harus dijaga benar,” katanya.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Hingga saat ini, menurut Made penegak Perda Kota Malang, masih belum melakukan komunikasi bersama mengenai penertiban tersebut. Hanya saja, pemberitahuan itu melalui Bawaslu kepada partai politik.</p>



<p>“Saya ingatkan pada caleg lebih baik diambil (jika menempatkan reklame di tempat terlarang). Tetapi ada pemahaman bahwa boleh (memasang) di lahan privat, lahan pribadi,” tambahnya.</p>



<p>Lebih lanjut, Made juga menyinggung soal reklame Ketua Umum PDI-Perjuangan, yang berada di Jalan Trunojoyo Kota Malang dan dilakukan penertiban oleh Satpol PP Kota Malang. Padahal, menurutnya penempatan itu berada di tanah privat dan persis di pagar rumah simpatisan.</p>



<p>“Nah, seperti ini yang akhirnya menimbulkan perbedaan persepsi. Kalau saya bilang mau ditertibkan, ayo tertibkan semuanya. Kalau kita melanggar, maka kita sepakat ikuti peraturan perundang-undangan. Jangan langsung main hantam. Itu kalau tidak kita cegah, bisa menimbulkan hal-hal yang tidak kita inginkan. Karena fanatisme seseorang lebih berbahaya daripada aturan penegakan aturan itu sendiri,” imbuhnya. <strong>(rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">201781</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Penggunaan Bahasa Asing pada Simbol ”I Like Lumajang“” Dipertanyakan</title>
		<link>https://memontum.com/penggunaan-bahasa-asing-pada-simbol-i-like-lumajang-dipertanyakan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 18 Mar 2018 12:45:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Lumajang]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa asing]]></category>
		<category><![CDATA[I Like Lumajang]]></category>
		<category><![CDATA[simbol]]></category>
		<category><![CDATA[UUD 1945]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/32167-penggunaan-bahasa-asing-pada-simbol-i-like-lumajang-dipertanyakan</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Lumajang &#8212; I Like Lumajang yang menjadi simbol dan yang kabarnya sudah diperdakan selayaknya ditinjau kembali. Hal ini disampaikan tokoh muda Lumajang Ikbal Zamzami SH. Menurutnya simbol I Like Lumajang tidak mengedukasi dan tidak sesuai dengan budaya. Ikbal Zamzami SH yang juga seorang Pengacara ini berpendapat bahwa dalam undang-undang dasar 1945 sudah jelas mengatur [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memontum Lumajang</strong> &#8212; I Like Lumajang yang menjadi simbol dan yang kabarnya sudah diperdakan selayaknya ditinjau kembali. Hal ini disampaikan tokoh muda Lumajang Ikbal Zamzami SH. Menurutnya simbol I Like Lumajang tidak mengedukasi dan tidak sesuai dengan budaya. Ikbal Zamzami SH yang juga seorang Pengacara ini berpendapat bahwa dalam undang-undang dasar 1945 sudah jelas mengatur tentang itu.</p>
<p>&#8220;Kenapa tidak memakai bahasa Indonesia saja atau bahasa daerah, kenapa mesti bahasa asing,&#8221; kata Ikbal, pada Memontum.com, Minggu (18/3/2018).</p>
<p>Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan sekaligus bagian dari identitas bangsa. Penggunaannya luas, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Simbol suatu daerah seharusnya bisa mengedukasi agar masyarakat kita selalu belajar dalam menjalankan komponen keterampilan berbahasa Indonesia, yakni membaca, menulis, berbicara, dimulai dari keterampilan itu, kita akan mencoba mengembangkan daya imajinasi, kreasi masyarakat.</p>
<p>Karena Bahasa itu mampu menjadi satu kekuatan yang sanggup menghimpun serpihan sejarah Nusantara yang beragam sebagai bangsa besar dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.</p>
<p>Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi nasional yang digunakan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Berarti, bahasa Indonesia merupakan jati diri bangsa dan identitas Negara Kesatuan Republik Indonesia.</p>
<p>Bahasa Kita adalah Simbol yang menjadi cerminan kedaulatan negara di dalam tata pergaulan dengan negara-negara lain dan menjadi cermin kemandirian dan eksistensi negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Dengan demikian, bahasa tidak hanya sekadar pengakuan atas Indonesia sebagai bangsa dan negara, melainkan menjadi simbol atau lambang negara yang dihormati dan dibanggakan warga negara.</p>
<p>Selain itu Kekayaan bangsa Indonesia juga diakui dengan penggunaan bahasa daerah yang beraneka ragam. Secara konteks pemahaman, bahasa daerah menjadi simbol dari budaya daerah yang harus dipahami dan dipraktekkan sebagai identitas masing-masing daerah.</p>
<p>&#8220;Melihat praktek semacam ini, Saya melihat bahasa daerah sudah mulai dilupakan sehingga pelestarian budaya sudah tidak mampu terkendali. Ironis memang ketika penggunaan bahasa daerah sudah tergantikan dengan penggunaan bahasa asing,&#8221; jelas Ikbal Zamzami.</p>
<p>Masih menurutnya, Kondisi demikian menuntut kita untuk tetap memandang kebahasaan sebagai simbol identitas wujud eksistensi bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia dilaksanakan berdasarkan asas persatuan. Yang dimaksud dengan &#8220;asas persatuan&#8221; adalah bahwa penggunaan bahasa sebagai sarana pemersatu bangsa dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini dikarenakan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara berfungsi sebagai bahasa resmi kenegaraan, pengantar pendidikan, komunikasi tingkat nasional, pengembangan kebudayaan nasional, transaksi dan dokumentasi niaga, serta sarana pengembangan, seni dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi.</p>
<p>&#8220;Bahasa yang harus kita junjung tinggi dan kuasai tampak asing di negeri sendiri. Hal ini akan menjadi bumerang bagi remaja yang menjadi penerus masa depan bangsa&#8221; Ucapnya.</p>
<p>I Like Lumajang ini menjadi momok tersendiri, lunturnya nilai-nilai bahasa persatuan bangsa yaitu bahasa Indonesia. Jadi, kita harus berpegang teguh kembali dalam mengembalikan identitas bangsa. Selayaknya penggunaan bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan asing harus digunakan sesuai dengan situasi dan kondisi yang tepat.</p>
<p>Kita sebagai anak bangsa seharusnya bangga menjadi Warga Negara Indonesia karena memiliki bahasa sendiri, yaitu bahasa Indonesia yang mampu mendukung budaya bangsa dengan perkembangan berkelanjutan terhadap ilmu pengetahuan. Kita patut berbangga karena tidak semua bangsa di dunia ini mempunyai bahasa nasional yang dipakai secara luas dan dijunjung tinggi. bahasa nasional yang dapat menyatukan berbagai suku bangsa yang berbeda dan merupakan kebanggaan bagi bangsa Kita. <strong>(adi/nay)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">32167</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
