<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Simulasi Bencana &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/simulasi-bencana/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Wed, 03 Mar 2021 14:52:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Simulasi Bencana &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Presiden Ingatkan Pencegahan dan Mitigasi Kunci Utama Kurangi Resiko Bencana</title>
		<link>https://memontum.com/presiden-ingatkan-pencegahan-dan-mitigasi-kunci-utama-kurangi-resiko-bencana</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Mar 2021 14:52:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Antisipasi]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana Alam]]></category>
		<category><![CDATA[BNPB]]></category>
		<category><![CDATA[Mitigasi Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[Simulasi Bencana]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=135931</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Jakarta – Saat membuka Rapat Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana Tahun 2021 di Istana Negara, Jakarta, Rabu (03/03), Presiden Joko Widodo kembali mengingatkan, bahwa kunci utama dalam mengurangi risiko bencana terletak pada aspek pencegahan dan mitigasi bencana. Namun, hal tersebut tidak menjadikan aspek lain dalam manajemen kebencanaan menjadi tidak diperhatikan. &#8220;Jangan sampai kita hanya bersifat [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Jakarta</strong> – Saat membuka Rapat Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana Tahun 2021 di Istana Negara, Jakarta, Rabu (03/03), Presiden Joko Widodo kembali mengingatkan, bahwa kunci utama dalam mengurangi risiko bencana terletak pada aspek pencegahan dan mitigasi bencana. Namun, hal tersebut tidak menjadikan aspek lain dalam manajemen kebencanaan menjadi tidak diperhatikan.</p>



<p>&#8220;Jangan sampai kita hanya bersifat reaktif saat bencana terjadi. Kita harus mempersiapkan diri dengan antisipasi yang betul-betul terencana dengan baik dan detail. Karena itu, kebijakan nasional dan kebijakan daerah harus sensitif terhadap kerawanan bencana. Jangan ada bencana baru kita pontang-panting, ribut, atau bahkan saling menyalahkan. Seperti itu tidak boleh terjadi,&#8221; kata Presiden.</p>



<p>Pemerintah sendiri, telah memiliki Rencana Induk Penanggulangan Bencana Tahun 2020-2024 melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 Tahun 2020. Meski demikian, Presiden ingatkan, bahwa poin pentingnya tidak berhenti dengan memiliki rencana besar dalam jangka panjang saja. Menurutnya, rencana besar tersebut harus bisa diimplementasikan dalam berbagai kebijakan dan perencanaan kebencanaan.</p>



<p>&#8220;Grand design itu harus bisa diturunkan dalam kebijakan-kebijakan, dalam perencanaan-perencanaan, termasuk tata ruang yang sensitif dan memperhatikan aspek kerawanan bencana, serta tentu saja dilanjutkan dengan audit dan pengendalian kebijakan dan tata ruang yang berjalan di lapangan, bukan di atas kertas saja. Ini yang juga sudah berulang-ulang saya sampaikan,&#8221; ujarnya.</p>



<p>Untuk itu, pada kesempatan tersebut Presiden kembali menegaskan beberapa hal terkait kebencanaan. Pertama, Presiden meminta agar jajarannya tidak hanya sibuk membuat aturan, Menurutnya, hal paling utama adalah pelaksanaan di lapangan, Karena hal itulah yang dibutuhkan oleh rakyat. Selain itu, aspek pengendalian dan penegakan standar-standar di lapangan juga perlu diperhatikan.</p>



<p>&#8220;Misalnya, ini urusan yang berkaitan dengan gempa, standar bangunan tahan gempa fasilitas umum dan fasilitas sosial. Hal seperti ini harus dikawal dalam pelaksanaannya, harus diikuti dengan audit ketahanan bangunan agar betul-betul sesuai dengan standar. Sehingga kalau terjadi lagi bencana di lokasi itu, di daerah itu, di provinsi itu, korban yang ada bisa diminimalisir,&#8221; jelasnya.</p>



<p>Kedua, kebijakan untuk mengurangi risiko bencana harus benar-benar terintegrasi dari hulu sampai ke hilir. Kepala Negara juga menegaskan, agar tidak ada yang namanya ego sektoral dan ego daerah di dalam proses penanganan bencana.</p>



<p>&#8220;Semuanya terintegrasi, benar-benar terintegrasi, semuanya saling mengisi, semuanya saling menutup. Tidak boleh ada yang merasa kalau ini bukan tugasnya, bukan tugas saya, bukan urusan saya. Hati-hati ini bencana, berbeda dengan hal-hal yang normal,&#8221; ucapnya.</p>



<p>Ketiga, Presiden tekankan pentingnya manajemen tanggap darurat, serta kemampuan dalam melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi yang cepat. Presiden tidak menghendaki jika sampai lebih dari satu tahun, apa yang sudah dijanjikan kepada rakyat tidak juga dipenuhi.</p>



<p>Selain itu, sistem peringatan dini juga berfungsi dengan baik, bekerja dengan cepat, dan bisa bekerja dengan akurat. Kecepatan respons juga harus terus ditingkatkan.</p>



<p>&#8220;Semua rencana kontingensi dan rencana operasi saat tanggap darurat harus dapat diimplementasikan dengan cepat. Sekali lagi, kecepatan adalah kunci menyelamatkan dan mengurangi jatuhnya korban. Penting sekali,&#8221; tambahnya.</p>



<p>Keempat, edukasi dan literasi kepada masyarakat, terkait dengan kebencanaan harus terus-menerus ditingkatkan. Mulai dari lingkup sosial yang paling kecil yaitu keluarga, serta melakukan simulasi bencana secara rutin di daerah-daerah yang rawan bencana, sehingga warga semakin siap dalam menghadapi bencana yang akan datang.</p>



<p>Dalam satu tahun ini, Indonesia telah diberi banyak pengalaman dan pelajaran yang sangat luar biasa. Bukan hanya bencana alam, tetapi juga bencana non alam berupa pandemi Covid-19. Bencana berskala global tersebut, mengharuskan semua pihak bekerja cepat, inovatif, dan juga kolaboratif. Untuk itu, pada kesempatan tersebut Presiden menyampaikan apresiasinya kepada seluruh jajaran BNPB yang telah ikut bekerja keras dalam menangani pandemi ini.</p>



<p>&#8220;Pengalaman ini harus kita jadikan sebagai momentum untuk memperkokoh ketangguhan kita dalam menghadapi segala bentuk bencana,&#8221; tandasnya.</p>



<p>Turut hadir secara langsung dalam acara tersebut antara lain, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy dan Kepala BNPB Doni Monardo. <strong>(hms/neg/aye/ed2)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">135931</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Simulasi Bencana, BPBD Trenggalek Wujudkan Destana</title>
		<link>https://memontum.com/simulasi-bencana-bpbd-trenggalek-wujudkan-destana</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 23 Nov 2019 09:55:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pemerintahan]]></category>
		<category><![CDATA[BPBD Trenggalek]]></category>
		<category><![CDATA[Destana]]></category>
		<category><![CDATA[Simulasi Bencana]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/100284-simulasi-bencana-bpbd-trenggalek-wujudkan-destana</guid>

					<description><![CDATA[Trenggalek, Memontum &#8211; Dalam rangka mengantisipasi bencana banjir dan tanah longsor saat musim pancaroba tiba, sejumlah warga di Kecamatan Tugu Kabupaten Trenggalek melakukan simulasi menghadapi bencana. Didampingi langsung oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Trenggalek, dalam simulasi ini warga juga memasang rambu jalur evakuasi saat terjadi bencana. Rambu &#8211; rambu akan dipasang di lokasi rawan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Trenggalek, Memontum</strong> &#8211; Dalam rangka mengantisipasi bencana banjir dan tanah longsor saat musim pancaroba tiba, sejumlah warga di Kecamatan Tugu Kabupaten Trenggalek melakukan simulasi menghadapi bencana.</p>
<p>Didampingi langsung oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Trenggalek, dalam simulasi ini warga juga memasang rambu jalur evakuasi saat terjadi bencana.</p>
<p><div id="attachment_100285" style="width: 710px" class="wp-caption aligncenter"><img aria-describedby="caption-attachment-100285" decoding="async" class="size-full wp-image-100285" src="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2019/11/Lumii_20191123_164456295-copy.jpg?resize=700%2C934&#038;ssl=1" alt="TITIK KUMPUL : Pasang papan titik evakuasi. (mil) " width="700" height="934" srcset="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2019/11/Lumii_20191123_164456295-copy.jpg?w=700&amp;ssl=1 700w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2019/11/Lumii_20191123_164456295-copy.jpg?resize=225%2C300&amp;ssl=1 225w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2019/11/Lumii_20191123_164456295-copy.jpg?resize=600%2C801&amp;ssl=1 600w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2019/11/Lumii_20191123_164456295-copy.jpg?resize=200%2C267&amp;ssl=1 200w" sizes="(max-width: 700px) 100vw, 700px" data-recalc-dims="1" /><p id="caption-attachment-100285" class="wp-caption-text">TITIK KUMPUL : Pasang papan titik evakuasi. (mil)</p></div></p>
<p>Rambu &#8211; rambu akan dipasang di lokasi rawan bencana menuju ke tempat yang lebih aman seperti mushola yang ada di desa setempat.</p>
<p>Fokus simulasi bencana yang dilakukan kali ini ada di Desa Nglinggis dan Desa Duren Kecamatan Tugu. Kegiatan ini juga merupakan salah satu wujud kesiapsiagaan Desa Tangguh Bencana (Destana).</p>
<p>Dikonfirmasi terkait kegiatan ini, Kasi Kedaruratan BPBD Kabupaten Trenggalek Edi Purwanto mengatakan, tercatat ada 30 Desa Tangguh Bencana tahun 2019 ini. Jumlah itu ditargetkan naik dari tahun ke tahun.</p>
<p>&#8220;Setiap tahun jumlah Destana ditargetkan naik. Tak hanya itu, kesiapsiagaan bencana juga dilakukan di sekolah-sekolah. Sejauh ini ada 6 sekolah yang sudah dilatih untuk tangguh bencana, &#8221; ungkap Edi, Sabtu (23/11/2019) siang.</p>
<p>Dikatakan Edi, untuk desa yang dipilih menjadi Destana juga tidak sembarangan. Hanya desa atau daerah rawan bencana baik banjir ataupun tanah longsor yang akan dilakukan sosialisasi maupun simulasi bencana.</p>
<p>“Untuk fokus bencana banjir kali ini ada di Kecamatan Gandusari. Sedangkan fokus bencana tanah longsor ada di Kecamatan Tugu, &#8221; tegasnya.</p>
<p>Pihaknya berharap melalui simulasi ini warga bisa lebih sigap dalam menghadapi bencana yang dapat datang kapan saja.</p>
<p>&#8220;Kami berharap dengan beberapa ilmu dan ketrampilan yang diberikan dari BPDB Trenggalek ini, masyarakat bisa lebih waspada saat bencana terjadi sewaktu &#8211; waktu, &#8221; tandas Edi.</p>
<p>Sementara itu salah satu warga yang mengikuti simulasi bencana mengaku sangat terbantu dengan pengetahuan yang diberikan BPBD Trenggalek.</p>
<p>&#8220;Simulasi ini sangat bermanfaat buat kita semua, terlebih dalam hal menghadapi situasi bencana yang bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. Belum lagi, di daerah ini hampir setiap tahun terjadi bencana longsor, terlebih saat musim hujan tiba, &#8221; kata Sutrisno. <strong>(mil/oso)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">100284</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
