<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Suku Tengger &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/suku-tengger/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Sep 2021 14:18:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Suku Tengger &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Mengenal Yadnya Karo Masyarakat Adat Tengger Ranu Pani Lumajang</title>
		<link>https://memontum.com/mengenal-yadnya-karo-masyarakat-adat-tengger-ranu-pani-lumajang</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 08 Sep 2021 16:30:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KREATIF MASYARAKAT]]></category>
		<category><![CDATA[Lumajang]]></category>
		<category><![CDATA[Berita hari ini]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[Ranu Pani Lumajang]]></category>
		<category><![CDATA[Suku Tengger]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=153098</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Lumajang &#8211; Hari Raya Karo atau Yadnya Karo merupakan hari raya kedua setelah Kasada alias bulan kedua dari 12 bulan menurut kalender Suku Tengger. Perayaan Karo menjadi lambang asal mula kelahiran manusia sehingga berbagai rangkaian Upacara Karo wajib dilakukan oleh masyarakat adat Tengger di Ranu Pani. Ketua Panitia Perayaan Karo, Bandri, menjelaskan bahwa perayaan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Lumajang</strong> &#8211; Hari Raya Karo atau Yadnya Karo merupakan hari raya kedua setelah Kasada alias bulan kedua dari 12 bulan menurut kalender Suku Tengger. Perayaan Karo menjadi lambang asal mula kelahiran manusia sehingga berbagai rangkaian Upacara Karo wajib dilakukan oleh masyarakat adat Tengger di Ranu Pani.</p>



<p>Ketua Panitia Perayaan Karo, Bandri, menjelaskan bahwa perayaan tahun ini dilakukan oleh masyarakat Ranu Pani tanpa adanya kunjungan wisatawan mengingat masih dalam kondisi pandemi. Ia juga mewajibkan masyarakat tetap diwajibkan mematuhi protokol kesehatan.</p>



<p><strong><em>Baca Juga:</em></strong></p>


<ul class="wp-block-latest-posts__list is-grid columns-3 wp-block-latest-posts"><li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/kualitas-indek-pelayanan-publik-pemkab-lumajang-kian-meningkat-dan-masuk-kategori-sangat-tinggi">Kualitas Indek Pelayanan Publik Pemkab Lumajang Kian Meningkat dan Masuk Kategori Sangat Tinggi</a></li>
<li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/angka-kemiskinan-dan-tingkat-pengangguran-terbuka-di-kabupaten-lumajang-kian-turun">Angka Kemiskinan dan Tingkat Pengangguran Terbuka di Kabupaten Lumajang Kian Turun</a></li>
<li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/santunan-bersama-aliansi-lintas-konstruksi-lumajang-bupati-indah-nilai-kolaborasi-hadirkan-energi-positif">Santunan bersama Aliansi Lintas Konstruksi Lumajang, Bupati Indah Nilai Kolaborasi Hadirkan Energi Positif</a></li>
</ul>


<p>Bandri, menjelaskan bahwa Perayaan Karo dimulai dengan Prepekan atau pembukaan, mbesan duata dan tayub pada malam harinya. Hari kedua dilakukan sesanti yang diawali pemberangkatan Punden dan Mbatek Tumpeng Gede di kediaman Kepala Desa.</p>



<p>&#8220;Diawali dari tayub pada malam hari, paginya pemberangkatan punden dilanjutkan ke rumah Kepala Desa mbatek tumpeng gede setelah itu mengikuti romo dukun melakukan sesanti,&#8221; jelasnya saat dihubungi, Rabu (08/09).</p>



<p>Rangkaian Perayaan Karo Suku Tengger dilanjutkan dengan Andon Mangan atau budaya saling berkunjung dan menjamu tamu dengan sajian khas Ranu Pani.</p>



<p>&#8220;Setelah sesanti tidak boleh ada hiburan agar tidak mengganggu kekhidmatan masyarakat melakukan andon mangan, masyarakat saling sowan (berkunjung) meskipun sedikit sesuap harus tetap dilakukan, ini diwajibkan,&#8221; terangnya.</p>



<p>Puncak Perayaan Karo dilakukan Nyadran atau Sadranan yang artinya ruwah syakban dalam bahasa jawa. Tradisi ini masyarakat melakukan tabur bunga ke makam leluhur yang diawali dengan pemberangkatan Sadranan dari rumah romo dukun menuju makam yang diiringi Jaran Kencak &amp; Tabuan Ketepong. Sebagai tanda ucapan terima kasih, Panitia Perayaan Karo Suku Tengger menyajikan berbagai hiburan masyarakat seperti Jaran Kencak, Ujung dan Jaran Kepang hingga Minggu (12/09) esok. <strong>(kom/adi/ed2)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">153098</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Jelang Nyepi, Jalan Menuju Bromo Ditutup</title>
		<link>https://memontum.com/jelang-nyepi-jalan-menuju-bromo-ditutup</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 Mar 2021 14:42:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabupaten Malang]]></category>
		<category><![CDATA[Probolinggo]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[bromo]]></category>
		<category><![CDATA[Desa Wonokerto]]></category>
		<category><![CDATA[Ditutup]]></category>
		<category><![CDATA[Forkopimka]]></category>
		<category><![CDATA[gunung bromo]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Raya Nyepi]]></category>
		<category><![CDATA[Hindu]]></category>
		<category><![CDATA[kabupaten probolinggo]]></category>
		<category><![CDATA[Lumajang]]></category>
		<category><![CDATA[Memontum.com]]></category>
		<category><![CDATA[Pawai Ogoh-ogoh]]></category>
		<category><![CDATA[protokol kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Suku Tengger]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=136803</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Probolinggo &#8211; Sejumlah ruas akses jalan masuk menuju obyek wisata Gunung Bromo, bakal dilakukan penutupan pada Minggu 14 Maret 2021 hingga Senin 15 Maret. Pasalnya di waktu&#160; itu, merupakan momen Hari Raya Nyepi 1943 Saka/2021 Masehi bagi Umat Hindu Suku Tengger yang tinggal di wilayah lereng Gunung Bromo. Untuk titik akses jalan yang bakal [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Probolinggo</strong> &#8211; Sejumlah ruas akses jalan masuk menuju obyek wisata Gunung Bromo, bakal dilakukan penutupan pada Minggu 14 Maret 2021 hingga Senin 15 Maret.</p>



<p>Pasalnya di waktu&nbsp; itu, merupakan momen Hari Raya Nyepi 1943 Saka/2021 Masehi bagi Umat Hindu Suku Tengger yang tinggal di wilayah lereng Gunung Bromo.</p>



<p>Untuk titik akses jalan yang bakal ditutup, yakni jalur dari arah Probolinggo, ditutup di Desa Wonokerto, Kecamatan Sukapura. Lalu dari arah Pasuruan, penutupan akses jalan dilakukan di Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari. Sedangkan dari arah Lumajang dan Malang, penutupan dilakukan di Jemplang.</p>



<p>Terkait penutupan akses jalan sendiri, dimulai sejak pukul 00.00 WIB, Minggu 14 Maret 2021, lalu dibuka kembali pada pukul 06.00 WIB, Senin 15 Maret 2021. Sejumlah akses jalan yang ditutup, bakal dijaga oleh Forkopimka setempat, yang melibatkan unsur TNI/Polri, kecamatan dan masyarakat adat di daerah masing-masing.</p>



<p>Sementara guna menjaga kesakralan ritual Catur Bratha penyepian, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia, Kabupaten Probolinggo, Bambang Suprapto mengatakan, bakal dijaga oleh sekitar 100 orang Jagabaya , yakni petugas keamanan adat Suku Tengger.</p>



<p>Nantinya mereka akan berjaga di desanya masing-masing, sekaligus sesekali berkeliling guna menjaga ritual Catur Bratha penyepian umat Hindu Suku Tengger agar berlangsung khidmat dan lancar.</p>



<p><strong><a href="https://memontum.com/136658-khawatir-banjir-susulan-puluhan-warga-di-dua-desa-probolinggo-pilih-bertahan-di-pengungsian#ixzz6p0FEELfL" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Baca Juga : Khawatir Banjir Susulan, Puluhan Warga di Dua Desa Probolinggo Pilih Bertahan di Pengungsian</a></strong></p>



<p>“Untuk mereka yang berjaga, tentunya tetap menjalankan protokol kesehatan, karena saat ini masih dalam masa pandemi Covid-19,”ujar Bambang, Sabtu (13/03).</p>



<p>Bambang juga menyampaikan, semenjak dua tahun terakhir dampak pandemi Covid-19, serangkaian ritual upacara penyepian umat Hindu Suku Tengger di Bromo, tak semeriah dibanding tahun-tahun sebelumnya atau sebelum adanya pandemi Covid-19.</p>



<p>Itu karena, kegiatan seperti Tawur Agung Kesanga, yang biasanya dimeriahkan pawai ogoh-ogoh, tak bisa digelar secara ramai seperti sebelum adanya pandemi. Salah satu alasannya, yakni mencegah terjadinya kerumunan.</p>



<p>“Kalo dulu itu ramainya, biasanya pas pawai ogoh-ogoh dijadikan satu di daerah Sumber, yakni di Jurang Kendil. Tapi kalo sekarang, meski ada ya, paling di desanya sendiri-sendiri. Selama upacara nyepi ini, serangkaian ritualnya tetap dilakukan tapi jumlah umatnya dikurangi,&#8221; imbuhnya</p>



<p>Meski demikian, Bambang menyebut, kondisi tersebut tak mengurangi kesakralan dan kehidmatan umat hindu Suku Tengger, dalam melangsungkan serangkaian upacara ritual penyepian.</p>



<p>“Harapan kami dimomen nyepi kali ini, semoga pandemi Covid-19 segera berakhir. Agar masyarakat di seluruh dunia, bisa hidup secara normal seperti sebelumnya,” harap Bambang.</p>



<p>Sekadar informasi, serangkaian upacara ritual penyepian sendiri meliputi Melasti yang digelar di Goa Widodaren, Tawur Agung Kesanga di Jurang Kendil, Catur Bratha Peyepian di rumah masing-masing dan Ngembak Geni di pura desa. <strong>(geo/ed2)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">136803</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Hadiri Yadnya Karo Suku Tengger, Bupati Lumajang Berpesan agar Budaya dan Warisan Leluhur Tetap Dijaga</title>
		<link>https://memontum.com/hadiri-yadnya-karo-suku-tengger-bupati-lumajang-berpesan-agar-budaya-dan-warisan-leluhur-tetap-dijaga</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum Editorial Team 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Sep 2020 09:07:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Lumajang]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintahan]]></category>
		<category><![CDATA[bupati lumajang]]></category>
		<category><![CDATA[Suku Tengger]]></category>
		<category><![CDATA[Yadnya Karo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=123551</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Lumajang  &#8211; Bupati Lumajang H Thoriqul Haq MML, mengaku bersyukur bisa menyaksikan adat istiadat masyarakat Suku Tengger yang hingga kini tetap dilestarikan. Hal itu disampaikan saat menghadiri Yadnya Karo atau Hari Raya Karo 1942 Saka di Desa Argosari, Kecamatan Senduro, Minggu (06/09/2020). &#8220;Saya bahagia dan bersyukur karena bisa menyaksikan kegiatan Hari Raya Karo sekaligus [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memontum Lumajang</strong>  &#8211; Bupati Lumajang H Thoriqul Haq MML, mengaku bersyukur bisa menyaksikan adat istiadat masyarakat Suku Tengger yang hingga kini tetap dilestarikan. Hal itu disampaikan saat menghadiri Yadnya Karo atau Hari Raya Karo 1942 Saka di Desa Argosari, Kecamatan Senduro, Minggu (06/09/2020).</p>
<p>&#8220;Saya bahagia dan bersyukur karena bisa menyaksikan kegiatan Hari Raya Karo sekaligus adat istiadat masyarakat tengger,&#8221; terangnya.</p>
<p>Kedatangan Cak Thoriq sapaan akrab orang nomor satu di Pemkab Lumajang itu langsung disambut alunan musik baleganjur masyarakat setempat.</p>
<p>Pada kesempatan tersebut Cak Thoriq berpesan agar budaya dan warisan leluhur tetap dijaga oleh generasi muda suku Tengger di Argosari.</p>
<p>Ia meyakini apabila budaya masyarakat tengger tetap terjaga, Argosari akan selalu ramai dikunjungi wisatawan, baik wisatawan lokal dan masyarakat luar Kabupaten Lumajang. Mereka tidak hanya datang menyaksikan keindahan Argosari, tetapi juga menyaksikan kearifan budaya Suku Tengger di Argosari.</p>
<p>&#8220;Kalau adat istiadat seperti ini terus kita jaga saya yakin masyarakat luar akan datang ke Argosari sehingga perekonomian masyarakat disini juga akan ikut meningkat dan semakin maju,&#8221; ungkap Cak Thoriq.</p>
<p>Yadnya Karo tiap tahunnya diadakan pada sasi kapindho atau bulan kedua tahun saka. Berbagai sesajen hasil bumi dipersiapkan sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan Tuhan.</p>
<p>Dalam kesempatan itu, dukun adat memakaikan udeng dan sarung tanda penghormatan masyarakat adat Tengger kepada Bupati Lumajang. <strong>(adi/syn)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">123551</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
