<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Sungai Bedadung &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/sungai-bedadung/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Mon, 08 Nov 2021 16:23:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Sungai Bedadung &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Menunggu Jembatan Rampung, Warga Desa di Jember harus Seberangi Sungai dengan Perahu Getek</title>
		<link>https://memontum.com/menunggu-jembatan-rampung-warga-desa-di-jember-harus-seberangi-sungai-dengan-perahu-getek</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Nov 2021 16:23:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[Jember]]></category>
		<category><![CDATA[pemkab jember]]></category>
		<category><![CDATA[Sungai]]></category>
		<category><![CDATA[Sungai Bedadung]]></category>
		<category><![CDATA[Sungai Bondoyudo]]></category>
		<category><![CDATA[Sungai Brantas]]></category>
		<category><![CDATA[Sungai Wrati]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=157757</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Jember &#8211; Warga di Dusun Bregoh, Desa Sumberejo dan Dusun Ungkalan, Desa Sabrang, Kecamatan Ambulu, selama empat bulan terakhir sepertinya harus bersabar. Itu karena, jembatan penghubung antar dua desa tersebut, masih dalam tahap perbaikan sejak bulan Juli 2021 lalu. Akibatnya, warga pun saat akan beraktifitas, harus melintasi Sungai Mayang, dengan perahu getek. Saat perahu [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p></p>



<p>Me<strong>montum Jember</strong> &#8211; Warga di Dusun Bregoh, Desa Sumberejo dan Dusun Ungkalan, Desa Sabrang, Kecamatan Ambulu, selama empat bulan terakhir sepertinya harus bersabar. Itu karena, jembatan penghubung antar dua desa tersebut, masih dalam tahap perbaikan sejak bulan Juli 2021 lalu.</p>



<p>Akibatnya, warga pun saat akan beraktifitas, harus melintasi Sungai Mayang, dengan perahu getek. Saat perahu melintasi sungai, pun rawan terjadi kecelakaan karena arus sungai selebar 100 meter dengan kedalaman 5-6 meter, cukup deras. Terlebih, kini tengah musim penghujan.</p>



<p>Sementara, jembatan darurat yang dibuat oleh warga, pun tidak bisa digunakan sebagaimana harapan, karena debit air sungai cukup tinggi dan kondisinya rusak. Jika tidak menyeberang dengan menggunakan perahu, warga harus memutar jauh. Untuk memotong jarak dan waktu, mereka harus menumpang perahu tersebut.&nbsp;</p>



<p>Setiap kali menumpang, warga harus membayar jasa perahu getek sebesar Rp 2 ribu sekali melintas. Kondisi ini dikeluhkan warga pasalnya jembatan penghubung antar dua desa itu sangat dibutuhkan warga saat beraktifitas keluar masuk pemukiman mereka.</p>



<p>Salah seorang warga Dusun Ungkalan, Desa Sabrang, Susi Solehatin mengaku sering melintasi Sungai Mayang itu dengan menggunakan perahu getek. &#8220;Saya sering lewat sini, karena tidak ada jalan lain dan satu-satunya lewat sini. Apalagi sudah sebulan ini pakai (perahu) getek. Karena (sekitar 3 bulan belakangan), gladak sesek (jembatan darurat dari bambu) itu rusak jadi aksesnya diganti pakai getek ini,&#8221; kata Susi saat akan melintasi sungai, Senin (08/11/2022).</p>



<p>Ditambahkan Susi, akses jalan melintasi sungai dengan menggunakan perahu getek itu, dianggap penting. Karena satu-satunya akses jalan paling cepat untuk melintas antar dua desa. &#8220;Kalau semisal lewat jalan lain ada. Tapi harus mutar jauh kurang lebih 15 km dan harus lewat hutan. Jalur Lintas Selatan sih. Jadi lebih enak lewat sini,&#8221; katanya.</p>



<p>Ditanya bagaimana perasaanya harus mengeluarkan uang sebesar Rp 2 ribu sekali melintasndengan perahu getek, Susi mengaku tidak jadi masalah. &#8220;Iya tidak apa-apa sih, tapi kan kalau sering lumayan kalau ditotal. Ya semoga saja perbaikan jembatan itu cepat selesai. Jadi aktifitas kembali normal,&#8221; kata wanita yang juga berprofesi sebagai guru TK ini.</p>



<p>Sementara itu menurut petugas yang membantu penyeberangan Basori, adanya aktifitas melintasi Sungai Mayang itu dengan menggunakan perahu getek, sudah ada sejak sebulan belakangan.</p>



<p>&#8220;Sebulanan ini ada perahu getek ini. Sebelumnya ada sesek (jembatan darurat dari bambu itu). Tapi karena musim penghujan, debit air pasang surut. Jembatan gantung (darurat) itu rusak dan tidak bisa digunakan. Akhirnya sementara diganti dengan perahu getek ini,&#8221; kata pria yang juga akrab dipanggil Abas ini.</p>



<p>Abas mengaku, setiap warga melintas ada tarikan Rp 2 ribu seikhlasnya. Karena untuk melintasi sungai tersebut menggunakan tenaga manusia untuk menggerakkan perahu. &#8220;Setiap harinya ada sistem piket, sehari ada 5 petugas dari pagi sampai malam hari. Waktunya tidak tentu. Tugasnya membantu melintas sungai ini. Jarak tempuhnya kurang lebih 80 meteran,&#8221; jelasnya.</p>



<p>Lebih lanjut Abas mengatakan, dalam sehari ada 300 orang yang melintas menggunakan perahu getek tersebut. Sehingga penghasilan per hari dari adanya perahu getek tersebut, kurang lebih Rp 600 ribu. &#8220;Itu belum termasuk gaji (honor) dari petugas (yang membantu menarik perahu getek). Bersih bisa sampai Rp 250 ribu,&#8221; katanya. Nantinya uang itu dipakai untuk kegiatan sosial antar warga.</p>



<p>Untuk melintas menggunakan perahu getek hanya bisa menyebrangkan pengguna motor . &#8220;Mobil tidak bisa. Biasanya yang melintas pengendara motor, membawa hasil pertanian, atau habis mencari rumput untuk pakan ternak. Sekali melintas biasanya 5 &#8211; 6 motor. Sebenarnya selain harus menyeberang, ada jalan alternatif. Tapi jarak jauh dan jalanannya becek (licin). Jadi masyarakat lebih memilih lewat sini (melintas sungai menggunakan perahu getek),&#8221; sambungnya.</p>



<p>Perbaikan jembatan itu sudah berlangsung selama kurang lebih 4 bulan. Namun hingga saat ini belum ada tanda-tanda kapan selesai. Jembatan model gantung itu harus diperbaiki karena kondisinya miring. Sangat berbahaya karena rawan putus dan mencelakai warga yang melintas di atasnya.</p>



<p>Sejumlah awak media kemudian berusaha meminta konfirmasi dari Kepala Desa Sumberejo yang saat ini dijabat oleh seorang Pelaksana Jabatan (Pj). Namun Pj Kades Sumberejo, Samsuri sedang tidak ada di kantornya. Menurut informasi dari salah seorang perangkat desa setempat, Pj Kades Samsuri sudah pulang lebih dulu. &#8220;Pak Pj Kades sudah pulang sekitar jam 1 siang tadi. Karena rumahnya jauh di sekitar Desa Pontang sana,&#8221; ujarnya singkat. (ark/rio/gie)</p>



<p>Menunggu Jembatan Rampung, Warga Desa di Jember harus Seberangi Sungai dengan Perahu Getek</p>



<p>Memontum Jember &#8211; Warga di Dusun Bregoh, Desa Sumberejo dan Dusun Ungkalan, Desa Sabrang, Kecamatan Ambulu, selama empat bulan terakhir sepertinya harus bersabar. Itu karena, jembatan penghubung antar dua desa tersebut, masih dalam tahap perbaikan sejak bulan Juli 2021 lalu.</p>



<p>Akibatnya, warga pun saat akan beraktifitas, harus melintasi Sungai Mayang, dengan perahu getek. Saat perahu melintasi sungai, pun rawan terjadi kecelakaan karena arus sungai selebar 100 meter dengan kedalaman 5-6 meter, cukup deras. Terlebih, kini tengah musim penghujan.</p>



<p>Sementara, jembatan darurat yang dibuat oleh warga, pun tidak bisa digunakan sebagaimana harapan, karena debit air sungai cukup tinggi dan kondisinya rusak. Jika tidak menyeberang dengan menggunakan perahu, warga harus memutar jauh. Untuk memotong jarak dan waktu, mereka harus menumpang perahu tersebut.</p>



<p>Setiap kali menumpang, warga harus membayar jasa perahu getek sebesar Rp 2 ribu sekali melintas. Kondisi ini dikeluhkan warga pasalnya jembatan penghubung antar dua desa itu sangat dibutuhkan warga saat beraktifitas keluar masuk pemukiman mereka.</p>



<p>Salah seorang warga Dusun Ungkalan, Desa Sabrang, Susi Solehatin mengaku sering melintasi Sungai Mayang itu dengan menggunakan perahu getek. &#8220;Saya sering lewat sini, karena tidak ada jalan lain dan satu-satunya lewat sini. Apalagi sudah sebulan ini pakai (perahu) getek. Karena (sekitar 3 bulan belakangan), gladak sesek (jembatan darurat dari bambu) itu rusak jadi aksesnya diganti pakai getek ini,&#8221; kata Susi saat akan melintasi sungai, Senin (08/11/2022).</p>



<p>Ditambahkan Susi, akses jalan melintasi sungai dengan menggunakan perahu getek itu, dianggap penting. Karena satu-satunya akses jalan paling cepat untuk melintas antar dua desa. &#8220;Kalau semisal lewat jalan lain ada. Tapi harus mutar jauh kurang lebih 15 km dan harus lewat hutan. Jalur Lintas Selatan sih. Jadi lebih enak lewat sini,&#8221; katanya.</p>



<p>Ditanya bagaimana perasaanya harus mengeluarkan uang sebesar Rp 2 ribu sekali melintasndengan perahu getek, Susi mengaku tidak jadi masalah. &#8220;Iya tidak apa-apa sih, tapi kan kalau sering lumayan kalau ditotal. Ya semoga saja perbaikan jembatan itu cepat selesai. Jadi aktifitas kembali normal,&#8221; kata wanita yang juga berprofesi sebagai guru TK ini.</p>



<p>Sementara itu menurut petugas yang membantu penyeberangan Basori, adanya aktifitas melintasi Sungai Mayang itu dengan menggunakan perahu getek, sudah ada sejak sebulan belakangan.</p>



<p>&#8220;Sebulanan ini ada perahu getek ini. Sebelumnya ada sesek (jembatan darurat dari bambu itu). Tapi karena musim penghujan, debit air pasang surut. Jembatan gantung (darurat) itu rusak dan tidak bisa digunakan. Akhirnya sementara diganti dengan perahu getek ini,&#8221; kata pria yang juga akrab dipanggil Abas ini.</p>



<p>Abas mengaku, setiap warga melintas ada tarikan Rp 2 ribu seikhlasnya. Karena untuk melintasi sungai tersebut menggunakan tenaga manusia untuk menggerakkan perahu. &#8220;Setiap harinya ada sistem piket, sehari ada 5 petugas dari pagi sampai malam hari. Waktunya tidak tentu. Tugasnya membantu melintas sungai ini. Jarak tempuhnya kurang lebih 80 meteran,&#8221; jelasnya.</p>



<p>Lebih lanjut Abas mengatakan, dalam sehari ada 300 orang yang melintas menggunakan perahu getek tersebut. Sehingga penghasilan per hari dari adanya perahu getek tersebut, kurang lebih Rp 600 ribu. &#8220;Itu belum termasuk gaji (honor) dari petugas (yang membantu menarik perahu getek). Bersih bisa sampai Rp 250 ribu,&#8221; katanya. Nantinya uang itu dipakai untuk kegiatan sosial antar warga.</p>



<p>Untuk melintas menggunakan perahu getek hanya bisa menyebrangkan pengguna motor . &#8220;Mobil tidak bisa. Biasanya yang melintas pengendara motor, membawa hasil pertanian, atau habis mencari rumput untuk pakan ternak. Sekali melintas biasanya 5 &#8211; 6 motor. Sebenarnya selain harus menyeberang, ada jalan alternatif. Tapi jarak jauh dan jalanannya becek (licin). Jadi masyarakat lebih memilih lewat sini (melintas sungai menggunakan perahu getek),&#8221; sambungnya.</p>



<p>Perbaikan jembatan itu sudah berlangsung selama kurang lebih 4 bulan. Namun hingga saat ini belum ada tanda-tanda kapan selesai. Jembatan model gantung itu harus diperbaiki karena kondisinya miring. Sangat berbahaya karena rawan putus dan mencelakai warga yang melintas di atasnya.</p>



<p>Sejumlah awak media kemudian berusaha meminta konfirmasi dari Kepala Desa Sumberejo yang saat ini dijabat oleh seorang Pelaksana Jabatan (Pj). Namun Pj Kades Sumberejo, Samsuri sedang tidak ada di kantornya. Menurut informasi dari salah seorang perangkat desa setempat, Pj Kades Samsuri sudah pulang lebih dulu. &#8220;Pak Pj Kades sudah pulang sekitar jam 1 siang tadi. Karena rumahnya jauh di sekitar Desa Pontang sana,&#8221; ujarnya singkat. <strong>(ark/rio/gie)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">157757</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Ratusan Warga Jember Turun Ke Sungai Setelah Hujan Deras, Ada Apa?</title>
		<link>https://memontum.com/ratusan-warga-jember-turun-ke-sungai-setelah-hujan-deras-ada-apa</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 10 Aug 2020 14:56:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[ikan mabuk]]></category>
		<category><![CDATA[Sungai Bedadung]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/121187-ratusan-warga-jember-turun-ke-sungai-setelah-hujan-deras-ada-apa</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Jember &#8211; Ratusan warga yang tinggal di aliran Sungai Bedadung Jalan Imam Bonjol, Lingkungan Bedadung, Kelurahan/Kecamatan Kaliwates, beramai-ramai turun ke sungai setelah hujan deras reda. Dengan membawa kantong plastik, dan jaring ikan mereka terjun ke sungai untuk mengambil berbagai macam jenis ikan air tawar yang diketahui mengambang di aliran tersebut. Berbagai macam jenis ikan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memontum Jember</strong> &#8211; Ratusan warga yang tinggal di aliran Sungai Bedadung Jalan Imam Bonjol, Lingkungan Bedadung, Kelurahan/Kecamatan Kaliwates, beramai-ramai turun ke sungai setelah hujan deras reda. Dengan membawa kantong plastik, dan jaring ikan mereka terjun ke sungai untuk mengambil berbagai macam jenis ikan air tawar yang diketahui mengambang di aliran tersebut.</p>
<p>Berbagai macam jenis ikan air tawar mulai dari nila, bader, mujair, dan ikan kecil lainnya dengan mudahnya ditangkap oleh warga. Ternyata kegiatan ini biasa dilakukan warga ketika hujan pertama turun setelah melewati musim kemarau. Istilah warga ratusan ikan air tawar itu mabuk karena pada hujan pertama aliran sungai deras. Sehingga ikan-ikan terbawa arus sungai dari hulu.</p>
<p><div id="attachment_121188" style="width: 760px" class="wp-caption aligncenter"><img aria-describedby="caption-attachment-121188" decoding="async" class="size-full wp-image-121188" src="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/08/sungai-bedadung-2-copy.jpg?resize=740%2C370&#038;ssl=1" alt="Dengan membawa kantong plastik, dan jaring ikan, para warga terjun ke sungai untuk mengambil berbagai macam jenis ikan air tawar yang diketahui mengambang di aliran tersebut" width="740" height="370" srcset="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/08/sungai-bedadung-2-copy.jpg?w=750&amp;ssl=1 750w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/08/sungai-bedadung-2-copy.jpg?resize=300%2C150&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/08/sungai-bedadung-2-copy.jpg?resize=600%2C300&amp;ssl=1 600w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/08/sungai-bedadung-2-copy.jpg?resize=200%2C100&amp;ssl=1 200w" sizes="(max-width: 740px) 100vw, 740px" data-recalc-dims="1" /><p id="caption-attachment-121188" class="wp-caption-text">Dengan membawa kantong plastik, dan jaring ikan, para warga terjun ke sungai untuk mengambil berbagai macam jenis ikan air tawar yang diketahui mengambang di aliran tersebut</p></div></p>
<p>Tidak hanya warga sekitar, sejumlah warga dari kecamatan tetangga juga ikut turun ke sungai untuk mengambil ikan yang jumlahnya lebih dari ratusan ekor itu.</p>
<p>&#8220;Kegiatan ini biasa dilakukan pada hari pertama hujan mas. Kan setelah beberapa bulan kemarau jarang hujan,&#8221; kata salah seorang warga asal Kecamatan Gebang, Solikhin saat dikonfirmasi wartawan, Senin (10/8/2020) sore.</p>
<p>Karena ikan itu mabuk dan mengambang, warga pun dengan mudahnya dapat mengambil ikan di sungai. Namun karena juga banyak sampah di aliran sungai yang berada di bawah jembatan jalan itu, warga yang mengambil ikan dengan jaring tidak sedikit juga menjaring sampah.</p>
<p>&#8220;Ya karena di sungai ini kan juga banyak sampahnya, jadi ada sampah plastik, pampers, kaleng minuman yang ikut terjaring. Ya pokok dapat ikan lumayan. Lagi mabok ikannya,&#8221; sambungnya.</p>
<p>Selain mengambil ikan dengan jaring, tidak sedikit warga juga terjun langsung ke sungai untuk mengambil ikam dari dalam air. &#8220;Ada yang masih berenang, tapi ambilnya gampang. Lumayan dapat banyak, ada nila, bader, ikan kecil-kecil gitu. Dari panjang 7 cm sampai 15 cm ada. Tapi rebutan mas,&#8221; katanya.</p>
<p>Solikhin pun mengaku mendapat ratusan ikan. &#8220;Ini dibantu anak saya mengambilnya, ada juga jenis nila kecil-kecil saya ambil, untuk diternak di keramba,&#8221; katanya.</p>
<p>Aliran sungai bedadung di lokasi warga mencari ikan hulunya adalah pertemuan aliran sungai Jompo dan Bedadung. Dari Kecamatan Kalisat dan Kecamatan mayang, yang nantinya terus mengalir hingga hilirnya di Laut Puger.</p>
<p>Sementara itu Ferdy salah seorang warga lainnya mengatakan, nantinya ikan yang mabuk itu akan ada banyak lagi pada hari ketiga hujan di awal musim ini.</p>
<p>&#8220;Kan sudah mulai masuk musim hujan. Hari ini pertama. Nanti hari ketiga biasanya ada lagi ikannya. Karena aliran sungainya di atas kan hujan juga. Jadi ikan lebih banyak,&#8221; katanya. <strong>(ark/tog/mzm)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">121187</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Bocah SD Patrang Terseret Arus Bedadung Jember</title>
		<link>https://memontum.com/bocah-sd-patrang-terseret-arus-bedadung-jember</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Mar 2020 05:28:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hukum & Kriminal]]></category>
		<category><![CDATA[Polsek Patrang]]></category>
		<category><![CDATA[Sungai Bedadung]]></category>
		<category><![CDATA[terseret arus sungai]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/107398-bocah-sd-patrang-terseret-arus-bedadung-jember</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Jember &#8211; Warga Jalan M Sroedji Patrang, Minggu Minggu (1/3/2020) siang dikejutkan dengan teriakan minta tolong dari 2 bocah yakni FHM dan IBN siswa kelas 6 SD di Patrang. Dua siswa SD tersebut berteriak minta tolong karena salah satu temannya (KA) terseret arus sungai Bedadung yang ada di belakang gedung Diploma III Universitas Negeri [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memontum Jember </strong>&#8211; Warga Jalan M Sroedji Patrang, Minggu Minggu (1/3/2020) siang dikejutkan dengan teriakan minta tolong dari 2 bocah yakni FHM dan IBN siswa kelas 6 SD di Patrang. Dua siswa SD tersebut berteriak minta tolong karena salah satu temannya (KA) terseret arus sungai Bedadung yang ada di belakang gedung Diploma III Universitas Negeri Jember.</p>
<p>Informasi yang berhasil dihimpun Memontum.com, KA, FHM dan IBN yang merupakan warga Jalan Srikoyo, berniat buang air besar (BAB) dan mandi di sungai. Namun karena arusnya deras, salah satu dari ketiganya, yakni KA terseret arus.</p>
<p><img decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-107399" src="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/03/IMG-20200301-WA0091-copy.jpg?resize=740%2C395&#038;ssl=1" alt="" width="740" height="395" srcset="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/03/IMG-20200301-WA0091-copy.jpg?w=750&amp;ssl=1 750w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/03/IMG-20200301-WA0091-copy.jpg?resize=300%2C160&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/03/IMG-20200301-WA0091-copy.jpg?resize=600%2C320&amp;ssl=1 600w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/03/IMG-20200301-WA0091-copy.jpg?resize=200%2C107&amp;ssl=1 200w" sizes="(max-width: 740px) 100vw, 740px" data-recalc-dims="1" /></p>
<p>&#8220;Tadi ketiganya usai BAB korban diajak mandi, korban lebih dulu mandi, kemudian mengajak kedua temannya untuk ke tengah, tujuannya mencari yang agak dangkal, saat mau ke tengah, arusnya deras, korban terseret, kedua temannya ingin menolong tapi gak kuat, akhirnya korban hilang,&#8221; ujar Sugeng Hariyadi (39) salah satu warga di lokasi kejadian.</p>
<p>Sugeng menceritakan, pada saat kejadian, ada seorang pemancing yang diketahui bernama Kurniawan, melihat dari seberang sungai, korban terseret arus sungai, dan tidak bisa berenang.</p>
<p>Melihat itu kurniawan berupaya untuk menolongnya, namun usahanya gagal, karena korban jaraknya cukup jauh dari kejadian dan arus sungai cukup deras, karena korban tidak ditemukan, akhirnya warga melaporkan kejadian ini ke Mapolsek Patrang.</p>
<p>Mendapat pelaporan tersebut, pihak Polsek berkoordinasi dengan Basarnas dan TNI untuk melakukan pencarian korban, sesaat kemudian terlihat Tim datang ke lokasi dan melalukan pencarian dengan menggunakan perahu karet.</p>
<p>Hingga berita ini ditulis, Tim yang terdiri dari Polsek Patrang, Basarnas, TNI dengan dibantu warga masih menyisir sungai Bedadung untuk pencarian korban.<strong> (gik/yud/oso)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">107398</post-id>	</item>
		<item>
		<title>World Clean Up Day Jember, Faida Turun di Bedadung</title>
		<link>https://memontum.com/world-clean-up-day-jember-faida-turun-di-bedadung</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 21 Sep 2019 07:04:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pemerintahan]]></category>
		<category><![CDATA[Bupati Jember]]></category>
		<category><![CDATA[Sungai Bedadung]]></category>
		<category><![CDATA[World Clean Up Day]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://memontum.com/95741-world-clean-up-day-jember-faida-turun-di-bedadung</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Jember &#8211; Bupati Jember dr Hj Faida, MMR turut membersihkan sampah di Sungai Bedadung di Kelurahan Tegal Besar, Sabtu (21/9/2019) pagi, dalam kegiatan World Clean Up Day. “Ini lingkungan kita, tempat tinggal kita, dan bumi kita. Kalau bukan kita yang menjaga, lalu siapa yang menjaganya, karena yang hidup dan berdiri di atasnya adalah kita [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memontum Jember </strong>&#8211; Bupati Jember dr Hj Faida, MMR turut membersihkan sampah di Sungai Bedadung di Kelurahan Tegal Besar, Sabtu (21/9/2019) pagi, dalam kegiatan World Clean Up Day.</p>
<p>“Ini lingkungan kita, tempat tinggal kita, dan bumi kita. Kalau bukan kita yang menjaga, lalu siapa yang menjaganya, karena yang hidup dan berdiri di atasnya adalah kita semua,” tutur Bupati.</p>
<p>Selain turun sendiri membersihkan sungai, Bupati juga mengerahkan jajaran instansi pemerintah seperti Dinas Lingkungan Hidup, Satpol PP, dan Dinas Perhubungan.</p>
<p>World Clean Up Day digelar di tiga tempat di Jember, yakni di Kecamatan Kaliwates, Balung, dan Ledokombo.</p>
<p>Gerakan ini adalah gerakan masyarakat yang dipelopori oleh para pemuda yang menjadi panitia dalam kegiatan ini.</p>
<p>Ada lebih dari 80 komunitas yang tergabung dalam gerakan ini. Hal ini merupakan bentuk kesadaran yang luar biasa.</p>
<p>Para pemuda menyadari bersih-bersih lingkungan adalah tanggung jawab bersama. “Ini adalah suatu kemajuan yang luar biasa, karena yang sulit adalah mengubah budaya,” Bupati memberikan apresiasi.</p>
<p>Bupati menyatakan, pemerintah telah membuat percontohan dengan menempatkan lurah yang mengerti manajemen sampah. Ini bertujuan membentuk kelurahan percontohan di bidang pengelolaan sampah.</p>
<p>Pemerintah juga memilih pemuda yang bergerak untuk melakukan perubahan pada lingkungannya, menjadi pemimpin untuk perbaikan lingkungan masing-masing.</p>
<p>“Manajemen sampah adalah masa depan kita. Kualitas hidup kita dan kebahagiaan kita juga ditentukan oleh bersihnya lingkungan kita,” ujar Bupati.</p>
<p>Masih banyak masyarakat yang membuang sampah ke sungai. Namun banyak pula anak muda dan komunitas yang mencintai lingkungan. Oleh karena itu, Bupati yakin lahirnya perda soal sampah akan mendapat dukungan luar biasa.</p>
<p>Jika lahirnya perda ini mendapat dukungan penuh masyarakat, maka implementasinya juga akan mendapatkan dukungan penuh masyarakat.</p>
<p>Dengan perda sampah itu nantinya, bukan hanya sanksi. Ada pula operasi tangkap tangan bagi pembuang sampah sembarangan.</p>
<p>Sementara itu, Dandim 0824 Jember, Letkol Inf. Laode M Nurdin, yang turut ikut kegiatan ini menyampaikan, kegiatan ini adalah wujud nyata dalam suatu kegiatan, karena mengerahkan tenaganya untuk membersihkan lingkungan.</p>
<p>“Kegiatan ini eksekusinya kepada masyarakat, karena mereka sasaran yang jauh lebih penting. Kami selalu siap untuk melakukan bakti sosial, tetapi edukasi tentang sampah paling penting diberikan kepada masyarakat dan anak usia dini,” terangnya.</p>
<p>Dandim berharap, edukasi menjaga lingkungan dan membuang sampah diajarkan di setiap sekolah untuk menciptakan kesadaran lingkungan sejak dini.</p>
<p>Selaku leader WCDI (World CleanUp Day Indonesia) Kabupaten Jember, Pramuji menyampaikan, bahwa komunitas tidak bisa bekerja sendiri tanpa ada dukungan dari Pemerintah.</p>
<p>“Alhamdulillah, adanya dukungan dari pemerintah, ini suatu peluang bagi masyarakat untuk mempertanggungjawabkan sampahnya sendiri,” ungkapnya.</p>
<p>World CleanUp Day Indonesia ini berlangsung serentak di seluruh dunia. “Jadi Jember ikut pada hari ini, dan relawan ini nantinya akan menjadi tim edukasi sosialisasi bagaimana mengolah sampah yang baik kepada masyarakat,” jelasnya. <strong>(bud/oso)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">95741</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Bupati Jember Blusukan ke Rumah Sepanjang Sungai Bedadung</title>
		<link>https://memontum.com/bupati-jember-blusukan-ke-rumah-sepanjang-sungai-bedadung</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 23 Dec 2018 13:33:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jember]]></category>
		<category><![CDATA[Blusukan]]></category>
		<category><![CDATA[Bupati Jember]]></category>
		<category><![CDATA[Sungai Bedadung]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/70114-bupati-jember-blusukan-ke-rumah-sepanjang-sungai-bedadung</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Jember &#8211; Di sela-sela aktifitasnya dalam acara Festival Sungai Bedadung di Kelurahan Tegal Gede, Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember, Minggu (23/12/2018), Bupati Jember dr Hj Faida, MMR, blusukan ke rumah-rumah warga setempat. Tanpa canggung Bupati berlatar belakang dokter ini memasuki satu per satu rumah warga yang dilewatinya, saat menuju Sungai Bedadung, rumah-rumah itu terbuat dari [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memontum Jember</strong> &#8211; Di sela-sela aktifitasnya dalam acara Festival Sungai Bedadung di Kelurahan Tegal Gede, Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember, Minggu (23/12/2018), Bupati Jember dr Hj Faida, MMR, blusukan ke rumah-rumah warga setempat. </p>
<p>Tanpa canggung Bupati berlatar belakang dokter ini memasuki satu per satu rumah warga yang dilewatinya, saat menuju Sungai Bedadung, rumah-rumah itu terbuat dari kayu, bahkan berlantaikan tanah, boleh dibilang, rumah mereka dalam kategori tidak layak huni. </p>
<p><img decoding="async" src="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2018/12/IMG-20181223-WA0056-copy.jpg?resize=650%2C366&#038;ssl=1" alt="" width="650" height="366" class="aligncenter size-full wp-image-70115" srcset="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2018/12/IMG-20181223-WA0056-copy.jpg?w=650&amp;ssl=1 650w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2018/12/IMG-20181223-WA0056-copy.jpg?resize=300%2C169&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2018/12/IMG-20181223-WA0056-copy.jpg?resize=120%2C69&amp;ssl=1 120w" sizes="(max-width: 650px) 100vw, 650px" data-recalc-dims="1" /></p>
<p>&#8220;Para penghuni rumah itu rata-rata bekerja di sektor informal. Seperti tukang becak, pengasuh anak, dukun bayi, kondisi tubuh yang tak lagi kuat dan sehat memaksa mereka untuk sekedar bertahan hidup,&#8221; ujarnya </p>
<p>Melihat kondisi semua warga yang ditemuinya itu, bupati Perempuan pertama di Jember ini, memberikan bantuan asuransi kesehatan. Harapannya, jika sakit lebih mudah berobat dan tidak lagi memikirkan biaya</p>
<p>&#8220;Kita menemukan ada seorang warga yang baru saja menjalani operasi, untuk kontrol, ia menggunakan sepeda motor ke rumah sakit,&#8221; katanya usai memasuki rumah rumah warga saat dikonfirmasi awak media. </p>
<p>&#8220;Untuk itu warga ini untuk diantar jemput memakai mobil ambulan saat kontrol, &#8221; sambungnya. </p>
<p>Bukan hanya asuransi kesehatan, bupati yang akrab disapa Faida ini mengatakan akan membantu warga dengan program-program pemerintah yang belum pernah terwujud. </p>
<p>&#8220;Contohnya untuk keperluan administasi kependudukan, mereka juga dibantu pengurusannya, &#8221; ungkapnya.<strong>(yud/oso) </strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">70114</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Plengsengan Sungai Bedadung Terancam Dibongkar</title>
		<link>https://memontum.com/plengsengan-sungai-bedadung-terancam-dibongkar</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Oct 2017 08:47:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jember]]></category>
		<category><![CDATA[IAIN Jember]]></category>
		<category><![CDATA[proyek bermasalah]]></category>
		<category><![CDATA[Sungai Bedadung]]></category>
		<category><![CDATA[Tak Berijin]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/545-plengsengan-sungai-bedadung-terancam-dibongkar</guid>

					<description><![CDATA[# Wasdal DPU Pengairan Provinsi Pastikan Tak Berijin Memontum Jember &#8211; Proses pembangunan Plengsengan Sungai Bedadung oleh Intitut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember mendapat rekomendasi untuk dibongkar setelah Tim dari Pengawasan dan Pengendalian Lingkungan (Wasdal) Dinas PU Pengairan Jawa Timur mengeluarkan rekomendasi. Rekomendasi ini muncul setelah tim melakukan Inspeksi Mendadak (Sidak) ke lokasi proyek pembangunan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong># Wasdal DPU Pengairan Provinsi Pastikan Tak Berijin</strong></h2>
<p><strong>Memontum Jember</strong> &#8211; Proses pembangunan Plengsengan Sungai Bedadung oleh Intitut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember mendapat rekomendasi untuk dibongkar setelah Tim dari Pengawasan dan Pengendalian Lingkungan (Wasdal) Dinas PU Pengairan Jawa Timur mengeluarkan rekomendasi.  Rekomendasi ini muncul setelah tim melakukan Inspeksi Mendadak (Sidak) ke lokasi proyek pembangunan Plengsengan senilai Rp. 4,3 Milyar tersebut.</p>
<p>Turhadi kepala UPTD Dinas Pengairan Provinsi kepada media mengungkapkan, setelah dilakukan sidak bisa dipastikan jika pembangunan Plengsengan tersebut tidak memiliki Ijin dan bisa membahayakan harta dan nyawa bagi masyarakat di pinggiran sungai bedadung.  Terutama yang berada diada  sisi Selatan IAIN Jember, yang berada di wilayah lingkungan Klanceng &#8211; Desa Ajung.</p>
<p>“Sungai sebagai salah satu sumber air mempunyai fungsi yang sangat penting bagi kehidupan dan penghidupan masyarakat, perlu dijaga kelestariannya dan kelangsungan fungsinya dengan mengamankan daerah sekitarnya,” ujar Turhadi kepala UPTD Dinas PU Pengairan Jatim.</p>
<p>Oleh sebab itu, berdasarkan dari hasil Sidak, bisa dipastikan jika pembangunan Plengsengan tersebut telah melebihi batas Sepadan Sungai. Turhadi meyakini, setelah melihat kondisi lokasi, dipastikan pembangunan Plengsengan ini telah menyalahi aturan dan harus dibongkar.</p>
<p>“Kita belum proses ijinnya, jadi pembangunan Plengsengan ini dipastikan tidak berijin, dan cukup membahayakan keselamatan warga yang ada dipinggiran sungai bedadung,” imbuhnya.</p>
<p> Pihaknya saat ini sebelumnya telah meminta pihak IAIN untuk menghentikan proses pembangunan Plengsengan tersebut.<br />
Dengan adanya proses pembangunan plengsengan oleh pihak IAIN yang justru memakan batas sepadan sungai dan mempersempit lebar sungai bedadung. Tidak menutup kemungkinan bakal membawa dampak yang lebih fatal bagi masyarakat Lingkungan Klanceng &#8211; Desa Ajung.     </p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">545</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
