<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Sungai Wrati &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/sungai-wrati/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Mon, 08 Nov 2021 16:23:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Sungai Wrati &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Menunggu Jembatan Rampung, Warga Desa di Jember harus Seberangi Sungai dengan Perahu Getek</title>
		<link>https://memontum.com/menunggu-jembatan-rampung-warga-desa-di-jember-harus-seberangi-sungai-dengan-perahu-getek</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Nov 2021 16:23:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[Jember]]></category>
		<category><![CDATA[pemkab jember]]></category>
		<category><![CDATA[Sungai]]></category>
		<category><![CDATA[Sungai Bedadung]]></category>
		<category><![CDATA[Sungai Bondoyudo]]></category>
		<category><![CDATA[Sungai Brantas]]></category>
		<category><![CDATA[Sungai Wrati]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=157757</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Jember &#8211; Warga di Dusun Bregoh, Desa Sumberejo dan Dusun Ungkalan, Desa Sabrang, Kecamatan Ambulu, selama empat bulan terakhir sepertinya harus bersabar. Itu karena, jembatan penghubung antar dua desa tersebut, masih dalam tahap perbaikan sejak bulan Juli 2021 lalu. Akibatnya, warga pun saat akan beraktifitas, harus melintasi Sungai Mayang, dengan perahu getek. Saat perahu [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p></p>



<p>Me<strong>montum Jember</strong> &#8211; Warga di Dusun Bregoh, Desa Sumberejo dan Dusun Ungkalan, Desa Sabrang, Kecamatan Ambulu, selama empat bulan terakhir sepertinya harus bersabar. Itu karena, jembatan penghubung antar dua desa tersebut, masih dalam tahap perbaikan sejak bulan Juli 2021 lalu.</p>



<p>Akibatnya, warga pun saat akan beraktifitas, harus melintasi Sungai Mayang, dengan perahu getek. Saat perahu melintasi sungai, pun rawan terjadi kecelakaan karena arus sungai selebar 100 meter dengan kedalaman 5-6 meter, cukup deras. Terlebih, kini tengah musim penghujan.</p>



<p>Sementara, jembatan darurat yang dibuat oleh warga, pun tidak bisa digunakan sebagaimana harapan, karena debit air sungai cukup tinggi dan kondisinya rusak. Jika tidak menyeberang dengan menggunakan perahu, warga harus memutar jauh. Untuk memotong jarak dan waktu, mereka harus menumpang perahu tersebut.&nbsp;</p>



<p>Setiap kali menumpang, warga harus membayar jasa perahu getek sebesar Rp 2 ribu sekali melintas. Kondisi ini dikeluhkan warga pasalnya jembatan penghubung antar dua desa itu sangat dibutuhkan warga saat beraktifitas keluar masuk pemukiman mereka.</p>



<p>Salah seorang warga Dusun Ungkalan, Desa Sabrang, Susi Solehatin mengaku sering melintasi Sungai Mayang itu dengan menggunakan perahu getek. &#8220;Saya sering lewat sini, karena tidak ada jalan lain dan satu-satunya lewat sini. Apalagi sudah sebulan ini pakai (perahu) getek. Karena (sekitar 3 bulan belakangan), gladak sesek (jembatan darurat dari bambu) itu rusak jadi aksesnya diganti pakai getek ini,&#8221; kata Susi saat akan melintasi sungai, Senin (08/11/2022).</p>



<p>Ditambahkan Susi, akses jalan melintasi sungai dengan menggunakan perahu getek itu, dianggap penting. Karena satu-satunya akses jalan paling cepat untuk melintas antar dua desa. &#8220;Kalau semisal lewat jalan lain ada. Tapi harus mutar jauh kurang lebih 15 km dan harus lewat hutan. Jalur Lintas Selatan sih. Jadi lebih enak lewat sini,&#8221; katanya.</p>



<p>Ditanya bagaimana perasaanya harus mengeluarkan uang sebesar Rp 2 ribu sekali melintasndengan perahu getek, Susi mengaku tidak jadi masalah. &#8220;Iya tidak apa-apa sih, tapi kan kalau sering lumayan kalau ditotal. Ya semoga saja perbaikan jembatan itu cepat selesai. Jadi aktifitas kembali normal,&#8221; kata wanita yang juga berprofesi sebagai guru TK ini.</p>



<p>Sementara itu menurut petugas yang membantu penyeberangan Basori, adanya aktifitas melintasi Sungai Mayang itu dengan menggunakan perahu getek, sudah ada sejak sebulan belakangan.</p>



<p>&#8220;Sebulanan ini ada perahu getek ini. Sebelumnya ada sesek (jembatan darurat dari bambu itu). Tapi karena musim penghujan, debit air pasang surut. Jembatan gantung (darurat) itu rusak dan tidak bisa digunakan. Akhirnya sementara diganti dengan perahu getek ini,&#8221; kata pria yang juga akrab dipanggil Abas ini.</p>



<p>Abas mengaku, setiap warga melintas ada tarikan Rp 2 ribu seikhlasnya. Karena untuk melintasi sungai tersebut menggunakan tenaga manusia untuk menggerakkan perahu. &#8220;Setiap harinya ada sistem piket, sehari ada 5 petugas dari pagi sampai malam hari. Waktunya tidak tentu. Tugasnya membantu melintas sungai ini. Jarak tempuhnya kurang lebih 80 meteran,&#8221; jelasnya.</p>



<p>Lebih lanjut Abas mengatakan, dalam sehari ada 300 orang yang melintas menggunakan perahu getek tersebut. Sehingga penghasilan per hari dari adanya perahu getek tersebut, kurang lebih Rp 600 ribu. &#8220;Itu belum termasuk gaji (honor) dari petugas (yang membantu menarik perahu getek). Bersih bisa sampai Rp 250 ribu,&#8221; katanya. Nantinya uang itu dipakai untuk kegiatan sosial antar warga.</p>



<p>Untuk melintas menggunakan perahu getek hanya bisa menyebrangkan pengguna motor . &#8220;Mobil tidak bisa. Biasanya yang melintas pengendara motor, membawa hasil pertanian, atau habis mencari rumput untuk pakan ternak. Sekali melintas biasanya 5 &#8211; 6 motor. Sebenarnya selain harus menyeberang, ada jalan alternatif. Tapi jarak jauh dan jalanannya becek (licin). Jadi masyarakat lebih memilih lewat sini (melintas sungai menggunakan perahu getek),&#8221; sambungnya.</p>



<p>Perbaikan jembatan itu sudah berlangsung selama kurang lebih 4 bulan. Namun hingga saat ini belum ada tanda-tanda kapan selesai. Jembatan model gantung itu harus diperbaiki karena kondisinya miring. Sangat berbahaya karena rawan putus dan mencelakai warga yang melintas di atasnya.</p>



<p>Sejumlah awak media kemudian berusaha meminta konfirmasi dari Kepala Desa Sumberejo yang saat ini dijabat oleh seorang Pelaksana Jabatan (Pj). Namun Pj Kades Sumberejo, Samsuri sedang tidak ada di kantornya. Menurut informasi dari salah seorang perangkat desa setempat, Pj Kades Samsuri sudah pulang lebih dulu. &#8220;Pak Pj Kades sudah pulang sekitar jam 1 siang tadi. Karena rumahnya jauh di sekitar Desa Pontang sana,&#8221; ujarnya singkat. (ark/rio/gie)</p>



<p>Menunggu Jembatan Rampung, Warga Desa di Jember harus Seberangi Sungai dengan Perahu Getek</p>



<p>Memontum Jember &#8211; Warga di Dusun Bregoh, Desa Sumberejo dan Dusun Ungkalan, Desa Sabrang, Kecamatan Ambulu, selama empat bulan terakhir sepertinya harus bersabar. Itu karena, jembatan penghubung antar dua desa tersebut, masih dalam tahap perbaikan sejak bulan Juli 2021 lalu.</p>



<p>Akibatnya, warga pun saat akan beraktifitas, harus melintasi Sungai Mayang, dengan perahu getek. Saat perahu melintasi sungai, pun rawan terjadi kecelakaan karena arus sungai selebar 100 meter dengan kedalaman 5-6 meter, cukup deras. Terlebih, kini tengah musim penghujan.</p>



<p>Sementara, jembatan darurat yang dibuat oleh warga, pun tidak bisa digunakan sebagaimana harapan, karena debit air sungai cukup tinggi dan kondisinya rusak. Jika tidak menyeberang dengan menggunakan perahu, warga harus memutar jauh. Untuk memotong jarak dan waktu, mereka harus menumpang perahu tersebut.</p>



<p>Setiap kali menumpang, warga harus membayar jasa perahu getek sebesar Rp 2 ribu sekali melintas. Kondisi ini dikeluhkan warga pasalnya jembatan penghubung antar dua desa itu sangat dibutuhkan warga saat beraktifitas keluar masuk pemukiman mereka.</p>



<p>Salah seorang warga Dusun Ungkalan, Desa Sabrang, Susi Solehatin mengaku sering melintasi Sungai Mayang itu dengan menggunakan perahu getek. &#8220;Saya sering lewat sini, karena tidak ada jalan lain dan satu-satunya lewat sini. Apalagi sudah sebulan ini pakai (perahu) getek. Karena (sekitar 3 bulan belakangan), gladak sesek (jembatan darurat dari bambu) itu rusak jadi aksesnya diganti pakai getek ini,&#8221; kata Susi saat akan melintasi sungai, Senin (08/11/2022).</p>



<p>Ditambahkan Susi, akses jalan melintasi sungai dengan menggunakan perahu getek itu, dianggap penting. Karena satu-satunya akses jalan paling cepat untuk melintas antar dua desa. &#8220;Kalau semisal lewat jalan lain ada. Tapi harus mutar jauh kurang lebih 15 km dan harus lewat hutan. Jalur Lintas Selatan sih. Jadi lebih enak lewat sini,&#8221; katanya.</p>



<p>Ditanya bagaimana perasaanya harus mengeluarkan uang sebesar Rp 2 ribu sekali melintasndengan perahu getek, Susi mengaku tidak jadi masalah. &#8220;Iya tidak apa-apa sih, tapi kan kalau sering lumayan kalau ditotal. Ya semoga saja perbaikan jembatan itu cepat selesai. Jadi aktifitas kembali normal,&#8221; kata wanita yang juga berprofesi sebagai guru TK ini.</p>



<p>Sementara itu menurut petugas yang membantu penyeberangan Basori, adanya aktifitas melintasi Sungai Mayang itu dengan menggunakan perahu getek, sudah ada sejak sebulan belakangan.</p>



<p>&#8220;Sebulanan ini ada perahu getek ini. Sebelumnya ada sesek (jembatan darurat dari bambu itu). Tapi karena musim penghujan, debit air pasang surut. Jembatan gantung (darurat) itu rusak dan tidak bisa digunakan. Akhirnya sementara diganti dengan perahu getek ini,&#8221; kata pria yang juga akrab dipanggil Abas ini.</p>



<p>Abas mengaku, setiap warga melintas ada tarikan Rp 2 ribu seikhlasnya. Karena untuk melintasi sungai tersebut menggunakan tenaga manusia untuk menggerakkan perahu. &#8220;Setiap harinya ada sistem piket, sehari ada 5 petugas dari pagi sampai malam hari. Waktunya tidak tentu. Tugasnya membantu melintas sungai ini. Jarak tempuhnya kurang lebih 80 meteran,&#8221; jelasnya.</p>



<p>Lebih lanjut Abas mengatakan, dalam sehari ada 300 orang yang melintas menggunakan perahu getek tersebut. Sehingga penghasilan per hari dari adanya perahu getek tersebut, kurang lebih Rp 600 ribu. &#8220;Itu belum termasuk gaji (honor) dari petugas (yang membantu menarik perahu getek). Bersih bisa sampai Rp 250 ribu,&#8221; katanya. Nantinya uang itu dipakai untuk kegiatan sosial antar warga.</p>



<p>Untuk melintas menggunakan perahu getek hanya bisa menyebrangkan pengguna motor . &#8220;Mobil tidak bisa. Biasanya yang melintas pengendara motor, membawa hasil pertanian, atau habis mencari rumput untuk pakan ternak. Sekali melintas biasanya 5 &#8211; 6 motor. Sebenarnya selain harus menyeberang, ada jalan alternatif. Tapi jarak jauh dan jalanannya becek (licin). Jadi masyarakat lebih memilih lewat sini (melintas sungai menggunakan perahu getek),&#8221; sambungnya.</p>



<p>Perbaikan jembatan itu sudah berlangsung selama kurang lebih 4 bulan. Namun hingga saat ini belum ada tanda-tanda kapan selesai. Jembatan model gantung itu harus diperbaiki karena kondisinya miring. Sangat berbahaya karena rawan putus dan mencelakai warga yang melintas di atasnya.</p>



<p>Sejumlah awak media kemudian berusaha meminta konfirmasi dari Kepala Desa Sumberejo yang saat ini dijabat oleh seorang Pelaksana Jabatan (Pj). Namun Pj Kades Sumberejo, Samsuri sedang tidak ada di kantornya. Menurut informasi dari salah seorang perangkat desa setempat, Pj Kades Samsuri sudah pulang lebih dulu. &#8220;Pak Pj Kades sudah pulang sekitar jam 1 siang tadi. Karena rumahnya jauh di sekitar Desa Pontang sana,&#8221; ujarnya singkat. <strong>(ark/rio/gie)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">157757</post-id>	</item>
		<item>
		<title>DLH Pasuruan Dinilai Lambat Tangani Dugaan Pencemaran Sungai Wrati</title>
		<link>https://memontum.com/dlh-pasuruan-dinilai-lambat-tangani-dugaan-pencemaran-sungai-wrati</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Apr 2020 12:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pemerintahan]]></category>
		<category><![CDATA[DLH Pasuruan]]></category>
		<category><![CDATA[Dugaan Pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[Sungai Wrati]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=110624</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Pasuruan &#8211; Hampir lima hari sejak ditemukan dan diberitakan atas dugaan pencemaran di sungai Wrati, pada Sabtu (28/3/2020). Pihak DLH (Dinas Lingkungan Hidup) Kabupaten Pasuruan tampaknya kurang tanggap dan terkesan &#8220;tak mau ambil pusing&#8221; atas kejadian tersebut. Hal ini terbukti setelah sejumlah awak media melakukan konfirmasi pada Kepala Dinas DLH Kabupaten Pasuruan Heru Ferianto, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memontum Pasuruan</strong> &#8211; Hampir lima hari sejak ditemukan dan diberitakan atas dugaan pencemaran di sungai Wrati, pada Sabtu (28/3/2020). Pihak DLH (Dinas Lingkungan Hidup) Kabupaten Pasuruan tampaknya kurang tanggap dan terkesan &#8220;tak mau ambil pusing&#8221; atas kejadian tersebut.</p>
<p>Hal ini terbukti setelah sejumlah awak media melakukan konfirmasi pada Kepala Dinas DLH Kabupaten Pasuruan Heru Ferianto, Rabu (1/4/2020) melalui sambungan telepon selular dan pesan WA tidak dijawab.</p>
<p>Menurut Henry Sulfianto Ketua DAS Wrati Sinergi, &#8220;Sejak awal diangkatnya Heru Farianto sebagai Kepala Dinas DLH Kabupaten Pasuruan, saya pribadi sudah tidak respek sama sekali.&#8221;</p>
<p>&#8220;Beberapa kali kami melakukan koordinasi dengan pihak DLH terkait adanya temuan pencemaran limbah di sungai Wrati dan beberapa anak sungai yang berada di seputaran Kecamatan Beji. Selalu saja dipingpong ke beberapa bagian. Salah satunya harus melalui bagian pengaduan dan lain sebagainya. Tidak seperti adanya koordinasi dengan pihak Dinas PU Sumber Daya Air (Misbah Zunip).</p>
<p>Keberadaan DLH Kabupaten Pasuruan sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan, buktinya saat hearing dengan pihak komisi III beberapa waktu lalu. Pihak DLH tidak bisa menunjukan dokumen pendukung tentang adanya pencemaran di wilayah Kecamatan Beji. Alasan klasik selalu disampaikan oleh pihak DLH yakni kekurangan tenaga pengawasan atau PPLH, dimana saat ini hanya ada satu petugas pengawasan.</p>
<p>Namun pada tahun 2018-2019 Komisi III DPRD Kab.Pasuruan hendak membantu pihak DLH, agar mengajukan penambahan personil pengawasan dan anggaran untuk kebutuhan tersebut. Hingga sekarang 2020 DLH Kabupaten Pasuruan belum juga mengajukannya. Menarik akar permasalahan dan data yang ada, jelas sekali DLH kami duga menyembunyikan sesuatu hal dan lebih enjoy dengan hal ini ( kekurangan tenaga pengawasan), sehingga dapat dijadikan alasan jika terjadi pertanyaan atau tuntutan dari masyarakat, papar Henry.</p>
<p>Apalagi saat ini mantan Camat Pasrepan (Heru Farianto) telah menduduki kursi Kepala DLH Kab.Pasuruan, hingga saat ini tidak ada gebrakan apapun,&#8221; Ketua DAS Wrati Sinergi.</p>
<p>Lain halnya yang diungkapkan oleh Vicky Arianto, tokoh masyarakat Desa Kedungringin. &#8220;Percuma kami melaporkan adanya pencemaran pada pihak DLH, toh hanya sebatas laporan dan tidak ada tindaklanjut apapun,&#8221; tandasnya.</p>
<p>Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, pada Sabtu pagi (28/3/2020) pekan lalu. Keberadaan air sungai wrati yang berada di Dusun Gersikan,Desa Kedungringin, Kecamatan Beji mendadak airnya berubah menjadi merah kecoklatan. Masyarakat menduga kuat bahwa berubahnya air sungai tersebut akibat limbah dari salah satu pabrik kain yang berada di kawasan Desa Gununggangsir. Dari informasi yang diberikan oleh masyarakat setempat, perubahan air sungai menjadi merah kecoklatan tak hanya terjadi pada saat itu saja, namun sudah kerapkali terjadi. <strong>(arf/bw/yan)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">110624</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Tanggul di Pasuruan Jebol Tak Segera Diperbaiki, 4 Dusun Tenggelam</title>
		<link>https://memontum.com/tanggul-di-pasuruan-jebol-tak-segera-diperbaiki-4-dusun-tenggelam</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 17 Feb 2020 11:31:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Banjir]]></category>
		<category><![CDATA[Sungai Wrati]]></category>
		<category><![CDATA[tanggul jebol]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/106464-tanggul-di-pasuruan-jebol-tak-segera-diperbaiki-4-dusun-tenggelam</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Pasuruan &#8211; Banjir kiriman yang merendam Desa Kedungringin, Kecamatan Beji pada tiga hari belakangan,setidaknya membuat lumpuh aktivitas dan ekonomi warga setempat. Seperti diketahui sejak hari Jumat (14/2/2020) malam lalu, sungai wrati yang membelah Desa Kedungringin meluap lantaran tak mampu lagi menampung debit air kiriman dari anak sungainya dan akibatnya merendam Dusun Gersikan, Kedungringin Selatan, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memontum Pasuruan</strong> &#8211; Banjir kiriman yang merendam Desa Kedungringin, Kecamatan Beji pada tiga hari belakangan,setidaknya membuat lumpuh aktivitas dan ekonomi warga setempat.</p>
<p>Seperti diketahui sejak hari Jumat (14/2/2020) malam lalu, sungai wrati yang membelah Desa Kedungringin meluap lantaran tak mampu lagi menampung debit air kiriman dari anak sungainya dan akibatnya merendam Dusun Gersikan, Kedungringin Selatan, Kedungringin Tengah dan Dusun Balangrejo desa setempat.</p>
<p>Dari pantuan Memontum.com, hingga Senin sore (17/2) air banjir dengan rata-rata setinggi 30-60cm belum surut dan diperkirakan akan bertambah lagi.</p>
<p>Hal ini dapat diprediksi dengan turunnya hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di Kecamatan Prigen, Pandaan, Gempol dan Beji. Tak hanya itu saja, jebolnya tanggul sungai wrati disejumlah titik yang ada di desa setempat juga memperparah banjir pada dusun yang ada.</p>
<p>Menurut Kepala Desa Kedungringin Rizky Wahyuni, pihak Pemdes Kedungringin sudah berupaya meminimalisir banjir dengan berbagai cara.</p>
<p>Banjir yang merendam sejumlah dusun ini akibat dangkalnya sungai wrati,badan sungai yang tertutup enceng gondok dan jebolnya beberapa tanggul. Rizky berharap pihak terkait yakni BBWS dan Dinas Pengairan segera melakukan upaya semisal normalisasi sungai wrati serta menambal beberapa tanggul yang jebol.</p>
<p>&#8220;Saat ini yang sangat urgent yakni menambal tanggul yang jebol, agar dusun yang saat ini terendam air tidak bertambah tinggi airnya. Jika penambalan tanggul yang jebol tiudak segera dilakukan, maka Dusun Balangrejo dan Dusun Kedungringin Tengah akan bertambah tinggi debit airnya serta tenggelam. Saat ini dua dusun tersebut sudah terisolasi banjir,&#8221;jelas Rizky Wahyuni Kades Kedungringin.</p>
<p>Sementara itu saat hal ini dikonfirmasikan pada Ir Misbah Zunip Kepala Dinas Sumber Daya Air Kabupaten Pasuruan, mendapat informasi tersebut pihaknya akan segera menurunkan tim untuk mensurvei beberapa tanggul sungai yang jebol.</p>
<p>&#8220;Terimakasih atas informasinya, kami akan segera berkoordinasi dengan pihak terkait malam ini untuk mengatasi hal tersebut. Sejatinya wewenang sungai wrati bukan pada kami (Pemkab Pasuruan), akan tetapi pada BBWS. Namun guna mengatasi permasalahan yang bersifat urgen seperti ini, akan kami atasi dengan anggaran taktis,&#8221;terang Misbah Zunip.</p>
<p>Hingga berita ini ditulis, Senin (17/2/2020) pukul 18:00 kondisi cuaca di sekitaran Kecamatan Pandaan, Gempol, Beji dan Bangil masih diguyur hujan dengan intensitas sedang.</p>
<p>Masyarakat Desa Kedungringin yang bermukim disepanjang bantaran sungai wrati ( Dusun kedungringin Tengah dan Balangrejo) tampak kuatir air banjir bertambah tinggi.</p>
<p>Seperti yang diungkapkan oleh salah satu warga Dusun Balangrejo, Desa Kedungringin Cak Genjik.</p>
<p>&#8220;Jujur mas dengan jebolnya beberapa tanggul sungai, kami sangat was-was. Apalagi kondisi cuaca saat ini masih hujan. Sudah 3 hari dusun ini terendam air dengan setinggi 60 cm dan belum ada tanda-tanda surut. Satu lagi yang kami harapkan dari pihak Pemkab Pasuruan yakni suplai air bersih,&#8221; tukas Cak Genjik.<strong> (hen/oso)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">106464</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Ratusan Rumah Warga Kedungringin Pasuruan Terancam Digusur</title>
		<link>https://memontum.com/ratusan-rumah-warga-kedungringin-pasuruan-terancam-digusur</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Feb 2020 10:17:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pemerintahan]]></category>
		<category><![CDATA[BBWS]]></category>
		<category><![CDATA[pemkab pasuruan]]></category>
		<category><![CDATA[penggusuran]]></category>
		<category><![CDATA[Sungai Wrati]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/106045-ratusan-rumah-warga-kedungringin-pasuruan-terancam-digusur</guid>

					<description><![CDATA[Rencana Normalisasi Kalimati &#8216;Dilematis&#8221; Pasuruan, Memontum &#8211; Rencana pemerintah untuk menanggulangi banjir tahunan di wilayah Kecamatan Beji, akibat luapan sungai Wrati mulai ada titik terang. Hal ini diketahui setelah pihak pemerintah pusat melalui Balai Besar Wilayah Sungai Brantas (BBWS) menyetujui usulan Pemkab Pasuruan, atas normalisasi sungai Bangil Tak atau lebih dikenal sebutan Kali Mati. &#8220;Pemanfaatan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2>Rencana Normalisasi Kalimati &#8216;Dilematis&#8221;</h2>
<p><strong>Pasuruan, Memontum</strong> &#8211; Rencana pemerintah untuk menanggulangi banjir tahunan di wilayah Kecamatan Beji, akibat luapan sungai Wrati mulai ada titik terang. Hal ini diketahui setelah pihak pemerintah pusat melalui Balai Besar Wilayah Sungai Brantas (BBWS) menyetujui usulan Pemkab Pasuruan, atas normalisasi sungai Bangil Tak atau lebih dikenal sebutan Kali Mati.</p>
<p>&#8220;Pemanfaatan kali mati telah disetujui pihak pemerintah pusat,&#8221; ungkap Ir Misbah Zunip, Kepala Dinas PU Sumber Daya Air dan Tata Ruang, Kabupaten Pasuruan.</p>
<p>Lebih lanjut, respon tersebut melalui keluarnya Perpres RI No.80 tahun 2019 tentang percepatan pembangunan ekonomi kawasan Gresik-Bangkalan-Mojokerto-Surabaya-Sidoarjo-Lamongan, Kawasan TNBS (Taman Nasional Bromo-Semeru), Kawasan Selingkar Gunung Wilis dan Lintas Selatan.</p>
<p>Pada Perpres tersebut salah satunya termaktub, bahwa pemerintah akan segera menormalisasi keberadaan sungai Bangil Tak atau Kali Mati pada tahun 2021 dengan support anggaran sebesar Rp 568 miliar.</p>
<p>Adapun untuk pelaksanaan mulai dari proses lelang proyek hingga pengerjaan, semuanya dilakukan oleh pemerintah pusat dan Pemkab Pasuruan hanya menerima manfaat atas proyek tersebut.</p>
<p>Masih menurut Pak Misbah sapaan Kadis PU SDA Kabupaten Pasuruan ini, jika proyek tersebut terwujud, maka konsekuensinya yakni relokasi sejumlah bangunan yang saat ini berdiri di sepadan kali mati.</p>
<p>&#8220;Dari hasil survei yang telah kami lakukan setidaknya ada ratusan bangunan yang berada di sepadan sunagi Bangil Tak atau Kali Mati yang membujur pada dua kecamatan yakni Gempol dan Beji. Adapun bangunan tersebut hampir 90% adalah rumah tinggal dan sisanya adalah tempat ibadah, sarana umum(balai pertemuan) dan lembaga pendidikan,&#8221;pungkasnya.</p>
<p>Sementara itu saat Memontum.com mengkonfirmasi Kepala Desa Kedungringin Rizky Wahyuni, pihaknya memberi tanggapan. &#8220;Aelaku kepala desa Kedungringin, saya sangat dilema atas hal tersebut,&#8221;ujarnya.</p>
<p>&#8220;Perlu diketahui sebelumnya, warga kami yang terdampak jika ada relokasi sebanyak 450 rumah yang tersebar pada 3 dusun yaitu Dusun Ngayunan, Kedungringin Utara dan Dusun Ngampel. Jika diperkenankan pada Pemerintah Pusat dan Pemkap Pasuruan, kami meminta agar normalisasi Sungai Bangil Tak atau Kali Mati tidak sampai menggusur atau merelokasi rumah warga,&#8221;pungkas Kades Kedungringin, Kecamatan Beji ini.</p>
<p>Lain halnya komentar Vicky Arianto tokoh masyarakat setempat.</p>
<p>&#8220;Dari normalisasi dan perelokasian bangunan, Desa Kedungringin yang terdampak sangat banyak. Kami sependapat dengan permintaan Bu Kades yakni mendukung normalisasi namun tidak sampai menggusur atau merelokasi rumah warga,&#8221; urai Vicky.</p>
<p>&#8220;Banyak cara untuk menormalisasi sungai dengan tidak melakukan penggusuran. Apalagi pihak Pemerintah Pusat dan pemkab Pasuruan tidak pernah sekalipun melakukan sosialisasikan hal tersebut pada kami (masyarakat terdampak) secara langsung,&#8221; tukasnya.</p>
<p>Dari data yang berhasil dixapat Memontum.com, Sungai Bangil Tak atau Kali Mati memiliki panjang 12 Km akan difungsikan kembali sebagai tempat penampungan air.</p>
<p>Hal ini lantaran sungai wrati yang membelah 2 kecamatan yakni Gempol dan Beji sudah tidak mampu menampung debit air dikala musim penghujan.Sehingga beberapa desa yang ada di bantaran sungai wrati selalu terdampak banjir akibat luapan sungai wrati.<strong> (hen/oso)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">106045</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Tanggul Sungai Wrati Jebol, Belasan Hektar Sawah Terendam Air</title>
		<link>https://memontum.com/tanggul-sungai-wrati-jebol-belasan-hektar-sawah-terendam-air</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 23 Jan 2020 10:29:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Sungai Wrati]]></category>
		<category><![CDATA[tanggul jebol]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/104776-tanggul-sungai-wrati-jebol-belasan-hektar-sawah-terendam-air</guid>

					<description><![CDATA[Pipa PGN Biang Jebolnya Tanggul &#160; Pasuruan, Memontum &#8211; Curah hujan berintensitas sedang yang mengguyur Kecamatan Gempol dan Beji pada Rabu (22/1/2020) mulai sore hingga malam hari membuat beberapa pemukiman, jalan pedesaan dan area persawahan di Desa Kedungringin dan Cangkringmalag Beji terendam air banjir luapan dari sungai Wrati. Selain itu kondisi tersebut diperparah dengan jebolnya [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2>Pipa PGN Biang Jebolnya Tanggul</h2>
<p>&nbsp;<br />
<strong>Pasuruan, Memontum</strong> &#8211; Curah hujan berintensitas sedang yang mengguyur Kecamatan Gempol dan Beji pada Rabu (22/1/2020) mulai sore hingga malam hari membuat beberapa pemukiman, jalan pedesaan dan area persawahan di Desa Kedungringin dan Cangkringmalag Beji terendam air banjir luapan dari sungai Wrati.</p>
<p>Selain itu kondisi tersebut diperparah dengan jebolnya tanggul sungai Wrati di Dusun Minggir, Desa Cangkringmalang, Kamis (23/1/2020) dini hari.</p>
<p>&#8220;Pagi tadi sekitar pukul 04.00 dapat laporan dari ibu kades Kedungringin Rizky Wahyuni,&#8221; tegas Camat Beji Thifaqul Ghony saat berada di lokasi jebolnya tanggul.</p>
<p>&#8220;Sebelumnya selaku pribadi dan camat Beji, saya salut dan terima kasih dengan masyarakat desa kedungringin yang begitu tanggap melakukan penanganan darurat pada tanggul jebol ini, utama ibu kades kedungringin yang dalam keadaan hamil tujuh bulan masih tanggap dengan turun ke lapangan memimpin penanganan darurat, &#8221; ungkapnya.</p>
<p>Tanggul jebol sepanjang kurang lebih 3 m ini, akibat labilnya tanah setelah dilakukan penggalian dan penanaman pipa gas milik PGN. Kemungkinan awal dugaan, saat kembali melakukan penimbunan pipa gas tidak maksimal yakni kurang padat dan tinggi.</p>
<p>Akibatnya sangat rentan serta labil kontur tanahnya,saat diterjang air banjir kiriman dari wilayah atas (Gempol dan Pandaan). Kejadian jebolnya tanggul ini sendiri setidaknya beberapa kali terjadi.</p>
<p>&#8220;Guna penanganan lebih lanjut kami dari Muspika Kecamatan Beji telah melakukan langkah koordinasi dengan pihak Dinas Sumber Daya Air, BPBD, BPWS dan instansi terkait,&#8221; beber Cak Ghony sapaan akrab Camat Beji.</p>
<p>Sementara itu Rizky Wahyuni Kades Kedungringin, mengatakan bahwa akibat jebolnya tanggul ini, setidaknya 13 hektar lahan persawahan yang baru ditanami sepuluh hari belakangan terendam air, pemukiman warga di Dusun Karangkletak Desa Kedungringin dan Dusun Minggir Desa Cangkringmalang terendam air setinggi 20 cm.</p>
<p><strong>BACA :</strong> <a href="https://pasuruan.memontum.com/823-tercemar-akut-tim-das-wrati-kirim-surat-ke-presiden-pihak-terkait-ojo-mbideg" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Tercemar Akut, Tim DAS Wrati Kirim Surat Ke Presiden, Pihak Terkait “Ojo Mbideg”</a></p>
<p>&#8220;Langkah darurat yang kami lakukan pagi ini sembari menunggu tim dari dinas terkait yakni, menamping tanggul yang jebol ini dengan senback dan sesek bambu serta terpal,&#8221; tandas istri dari Vicky Arianto mantan Kades setempat.</p>
<p>Dari pantuan Memontum.com, Kamis (23/1/2020) tepat pukul 10.00 tanggul sungai wrati yang jebol telah berhasil ditamping. Untuk selanjutnya akan segera dilakukan penebalan, pemadatan serta peninggian tanggul dengan menggunakan sirtu oleh dinas terkait.<strong> (hen/oso)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">104776</post-id>	</item>
		<item>
		<title>DPU SDA dan Muspika Beji, Turun Bersihkan Sungai Wrati</title>
		<link>https://memontum.com/dpu-sda-dan-muspika-beji-turun-bersihkan-sungai-wrati</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 28 Nov 2019 11:41:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pemerintahan]]></category>
		<category><![CDATA[DAS Wrati]]></category>
		<category><![CDATA[Pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[Sungai Wrati]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/100685-dpu-sda-dan-muspika-beji-turun-bersihkan-sungai-wrati</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Pasuruan &#8211; Dinas PU Sumber Daya Air (Pemkab Pasuruan), Tim Terpadu Forum DAS Wrati dan Muspika Beji, Kamis (28/11/2019) pagi, membersihkan sungai Wrati dari sampah dan enceng gondok. Giat ini untuk menunjukkan kepedulian dan menanggapi kegusaran warga Beji terhadap kondisi sungai yang memprihatinkan. Seperti yang terpantau Kamis pagi, giat bersih sungai diikuti Kepala Dinas [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memontum Pasuruan</strong> &#8211; Dinas PU Sumber Daya Air (Pemkab Pasuruan), Tim Terpadu Forum DAS Wrati dan Muspika Beji, Kamis (28/11/2019) pagi, membersihkan sungai Wrati dari sampah dan enceng gondok. Giat ini untuk menunjukkan kepedulian dan menanggapi kegusaran warga Beji terhadap kondisi sungai yang memprihatinkan.</p>
<p>Seperti yang terpantau Kamis pagi, giat bersih sungai diikuti Kepala Dinas PU Sumber Daya Air (SDA) Ir Misbah Zunip didampingi Camat Beji Thifaqul Ghony, Kapten Nanang Danramil Beji, Tim Terpadu DAS Wrati serta Kepala Desa Kedungboto dan jajarannya.</p>
<p>Giat dilaksanakan dengan terjun langsung dalam pembersihan sampah di aliran sungai wrati mulai dari pintu air Dusun Keputran-Bangil hingga jembatan Desa Kedungboto-Beji.</p>
<p>Menurut Kepala Dinas PU SDA Kabupaten Pasuruan Ir Misbah Zunip, gerakan bersih sungai itu sebagai tanggung jawab pemerintah sebagai bentuk pelayanan pada masyarakat.</p>
<p>Dilanjutkan Misbah, pelaksanaan pembersihan sungai sudah dilakukan sejak 3 minggu lalu dengan anggaran sekitar Rp 40 juta.</p>
<p>&#8220;Giat bersih sungai yang dikerjakan oleh Tim Terpadu Forum DAS Wrati sebelumnya secara mandiri, kami apresiasi bersama pihak legislatif. Hal ini sebagai langkah antisipasi seluruh elemen yang ada pada musim penghujan, agar dampak banjir dapat ditekan,&#8221; beber Pak Misbah sapaan akrab Kadis PU SDA Kabupaten Pasuruan ini.</p>
<p>Sementara di tempat yang sama Camat Beji, Thafiqul Ghony menyampaikan hal lain.&#8221;Ini merupakan rangkain giat sungai bersih dan ayo adus kali yang dicanangkan Bupati,&#8221; ucapnya.</p>
<p><strong>BACA :</strong> <a href="https://kabardesa.memontum.com/3269-sungai-wrati-tercemar-kades-kedungringin-geram" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Sungai Wrati Tercemar, Kades Kedungringin Geram</a></p>
<p>Lebih lanjut, bersama jajaran Muspika utamanya Danramil Beji yakni Kapten Nanang, pihaknya mendukung apa yang dilakukan Tim Terpadu DAS Wrati yang diketuai oleh Henry Sulfianto.</p>
<p>&#8220;Kepedulian ini secara khusus diapresiasi oleh pihak Pemkab dan Komisi III DPRD,&#8221; ujar Camat Beji.</p>
<p>Senada juga dilontarkan Danramil Beji, Kapten Nanang, kegiatan tersebut adalah bentuk kepedulian masyarakat yang harus didukung sepenuhnya.</p>
<p><strong>BACA JUGA :</strong> <a href="https://pemerintahan.memontum.com/23091-das-wrati-bom-waktu-jika-tak-segera-ditangani" target="_blank" rel="noopener noreferrer">DAS Wrati “Bom Waktu” Jika Tak Segera Ditangani</a></p>
<p>&#8220;Sinergitas antar instansi yang ada telah dirangkai Tim Terpadu Forum DAS Wrati, untuk menyelesaikan permasalahan yang ada tanpa mencari siapa yang salah namun bersama mencari solusi,&#8221; tandasnya.</p>
<p>Dari penelusuran Memontum.com, setidaknya dalam pengerjaan pembersihan yang dilakukan, sudah mencapai 15Km. Pembersihan dilaksanakan di badan sungai wrati mulai dari hulu hingga hilir. Daerah itu tertutup enceng gondok dan sampah, sehingga aliran sungai tersendat. <strong>(arf/oso)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">100685</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Tim Terpadu Bergerak, Tagih Komitmen Perusahaan Bersihkan Sungai Wrati</title>
		<link>https://memontum.com/tim-terpadu-bergerak-tagih-komitmen-perusahaan-bersihkan-sungai-wrati</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 30 Sep 2019 09:23:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pemerintahan]]></category>
		<category><![CDATA[DAS Wrati]]></category>
		<category><![CDATA[DLH Kabupaten Pasuruan]]></category>
		<category><![CDATA[Sungai Wrati]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://memontum.com/94763-tim-terpadu-bergerak-tagih-komitmen-perusahaan-bersihkan-sungai-wrati</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Pasuruan &#8211; Setelah terbentuk Tim Terpadu Forum DAS Wrati pada 17 September lalu dan telah pula disetujui oleh jajaran dinas terkait yakni Dinas Lingkungan Hidup, Dinas PU Sumber Daya Air dan Tata Ruang serta Muspika Kecamatan Beji. Para punggawa Tim Terpadu DAS Wrati dibawah kendali Henry Sulfianto, pada Kamis(26/9) bersama tim pelaksana M.Furqon, Achmad [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memontum Pasuruan</strong> &#8211; Setelah terbentuk Tim Terpadu Forum DAS Wrati pada 17 September lalu dan telah pula disetujui oleh jajaran dinas terkait yakni Dinas Lingkungan Hidup, Dinas PU Sumber Daya Air dan Tata Ruang serta Muspika Kecamatan Beji.</p>
<p>Para punggawa Tim Terpadu DAS Wrati dibawah kendali Henry Sulfianto, pada Kamis(26/9) bersama tim pelaksana M.Furqon, Achmad Jito, Sueb, Abdul Ghofur, Muqarom serta satu sukarelawan Tomo. Bergerak melakukan survey lapangan (anak sungai wrati) mulai dari Desa Wonokoyo Kecamatan Beji hingga Desa Tambakan Kecamatan Bangil.</p>
<p>Selain melakukan survey lapangan, tim yang dikomandoi oleh M. Furqon tersebut juga menagih janji pada perusahaan,yang sebelumnya berkomitmen untuk bersama-sama menjaga kebersihan dan menjaga ekosistem sungai wrati dari segala bentuk pencemaran.</p>
<p>Pada paparanya dihadapan tim pelaksana, Camat Beji Thifaqul Ghony saat memberikan arahannya, mengatakan.</p>
<p>&#8221; Seluruh masyarakat pada tiga kecamatan yakno Gempol, Beji dan Bangil atau khususnya ribuan warga yang bermukim di sepanjang bantaran sungai wrati. Menunggu action tim ini, guna untuk mengurai serta mencari solusi terbaik atas pencemaran yang ada di sungai wrati serta anak sungai wrati.</p>
<p>Pada pundak bapak-bapak inilah,ribuan warga menggantungkan diri atas nasib sungai wrati kembali bersih dan tidak berbau. Kami atas nama Pemkab Pasuruan sangat berterima kasih atas semangat dan kerja sosial tim ini,yang sudi mencurahkan seluruh energinya untuk sungai wrati. Nama bapak-bapak dan seluruh Tim Terpadu Forum DAS Wrati akan tercatat dalam sejarah,serta diingat oleh anak-cucu kita kelak.Akhir kata Selamat bekerja dan berjuang,&#8221;ucap Camat Beji.</p>
<p><a href="https://kabardesa.memontum.com/3269-sungai-wrati-tercemar-kades-kedungringin-geram" target="_blank" rel="noopener noreferrer"><strong>Baca :</strong> Sungai Wrati Tercemar, Kades Kedungringin Geram</a></p>
<p>Sementara itu M.Furqon selaku koordinator pelaksana saat mendampingi Henry Sulfianto Ketua Tim Terpadu Forum DAS Wrati, menyampaikan</p>
<p>&#8221; kami(tim terpadu) ini dibentuk dan bekerja tanpa ada kepentingan apapun. Hanya satu yang menjadi fokus kami yaitu mencari solusi atas permasalahan yang ada di sungai wrati. Kami sangat berharap pada perusahaan untuk terus berkomitmen menjaga kebersihan sungai bersama-sama, sesuai kesepakatan saat berada di gedung Segoropuro Pendopo Kabupaten Pasuruan dan dilanjutkan di Pendopo Kecamatan Beji beberapa waktu lalu. Jika semua pihak bersinergi, semua permasalahan akan tuntas,&#8221;pungkas pria yang juga berprofesi sebagai lawyer ini.</p>
<p><a href="https://pemerintahan.memontum.com/23091-das-wrati-bom-waktu-jika-tak-segera-ditangani" target="_blank" rel="noopener noreferrer"><strong>Baca Juga :</strong> DAS Wrati “Bom Waktu” Jika Tak Segera Ditangani</a></p>
<p>Dari data yang berhasil didapat, aksi pembersihan sungai yang dilakukan oleh Tim Terpadu Forum DAS Wrati, sedianya akan dilaksanakan pada Minggu 29 September 2019 mendatang, diawali dari anak sungai wrati yang berada di Desa Wonokoyo-Beji dan berkelanjutan hingga Desa Tambakan-Bangil.</p>
<p>Seperti diberitakan sebelumnya, ribuan warga dari berbagai desa yang bermukim disepanjang bantaran sungai wrati, bergolak akibat adanya pencemaran pada sungai wrati. Selain air berbusa, berwarna hitam dan sangat gatal jika terkena kulit serta berbau anyir.Hal tersebut langsung mendapat respon dari pihak eksekutif maupun legislatif, hingga terbentuknya Tim Terpadu Forum DAS Wrati sesuai arahan dan petunjuk Bupati Pasuruan Irsyad Yusuf.<strong> (arp/yan)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">94763</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Tiga Anggota Dewan Fasilitasi, Bentuk Tim Terpadu Pembersihan Sungai Wrati</title>
		<link>https://memontum.com/tiga-anggota-dewan-fasilitasi-bentuk-tim-terpadu-pembersihan-sungai-wrati</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Sep 2019 12:53:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pasuruan]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintahan]]></category>
		<category><![CDATA[pemkab pasuruan]]></category>
		<category><![CDATA[Pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[Sungai Wrati]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/93067-tiga-anggota-dewan-fasilitasi-bentuk-tim-terpadu-pembersihan-sungai-wrati</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Pasuruan &#8211; Menindaklanjuti hasil pertemuan antara pihak Pemkab Pasuruan dan sejumlah perusahaan beberapa waktu lalu (10/9/2019) di gedung Segoro Puro Pemkab Pasuruan. Pada Selasa siang (17/9/2019) kembali pihak Pemkab Pasuruan diwakili oleh DLH selaku leading sektor atas permasalahan pencemaran sungai wrati, mengundang sejumlah pihak diantaranya anggota dewan(Arifin PDIP, Najib Setiawan PKS dan Saad Muafi [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memontum Pasuruan</strong> &#8211; Menindaklanjuti hasil pertemuan antara pihak Pemkab Pasuruan dan sejumlah perusahaan beberapa waktu lalu (10/9/2019) di gedung Segoro Puro Pemkab Pasuruan. Pada Selasa siang (17/9/2019) kembali pihak Pemkab Pasuruan diwakili oleh DLH selaku leading sektor atas permasalahan pencemaran sungai wrati, mengundang sejumlah pihak diantaranya anggota dewan(Arifin PDIP, Najib Setiawan PKS dan Saad Muafi PKB), Muspika Kecamatan Beji dan Bangil, warga, pengurus harian Forum DAS Wrati, kepala desa, perwakilan perusahaan, warga terdampak dan pegiat sosial (LSM) guna membahas solusi penanganan pembersihan sungai wrati.</p>
<p>Pada pertemuan yang dimediatori oleh Camat Beji Taufiqul Ghony, langsung membahas mekanisme awal penanganan pembersihan sungai wrati dengan membentuk tim pelaksana yang terdiri dari unsur executive, legislatif,masyarakat dan diperkuat oleh perusahaan dalam kontek pembiayaan pembersihan sungai yang dimaksud.</p>
<p>Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, keberadaan sungai wrati pada satu bulan belakangan, kondisinya kotor dan berbau sangat anyir serta badan sungai tertutupi oleh enceng gondok. Mendapati hal tersebut, masyarakat dari tiga desa mengadu pada para anggota dewan yakni Najib Setiawan (PKS) dan Saad Muafi(PKB). Bahkan membuat acara Ngopi Legi (Ngobrol Pinter Legowo Ning Ati) membahas pencemaran sungai wrati yang telah mencapai titik nadir,bersama stake holder yang ada.</p>
<p>Setelah membentuk tim terpadu yang diketuai oleh Henry Londo dengan langkah awal pembersihan sungai wrati. Pihak Muspika Beji bersama tiga anggota dewan, meminta pada akhir bulan September ini tim terpadu segara melakukan action membersihkan sungai dengan biaya ditanggung oleh sejumlah perusahaan yang ada diwilayah Kecamatan Beji.</p>
<p><strong>Baca : </strong><a href="https://kabardesa.memontum.com/3269-sungai-wrati-tercemar-kades-kedungringin-geram" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Sungai Wrati Tercemar, Kades Kedungringin Geram</a></p>
<p>Menurut Camat Beji Taufiqul Ghony,&#8221; tim terpadu yang telah dibentuk ini langkah awalnya yaitu membersihkan DAS wrati dari enceng gondok yang telah menutupi badan sungai. Hal ini sesuai petunjuk dan arahan Bupati Pasuruan beberapa waktu lalu,&#8221;tegasnya.</p>
<p>Ditempat yang sama Henry Londo selaku Ketua Tim,menyampaikan,&#8221; langkah awal yang kami lakukan yakni pembersihan badan sungai dari enceng gondok dan penggelontoran air. Cara ini adalah langkah awal yang efektif untuk memperlancar aliran air sungai dan menghilangkan bau anyir,&#8221;ungkapnya.</p>
<p><strong>Baca Juga : </strong><a href="https://pemerintahan.memontum.com/23091-das-wrati-bom-waktu-jika-tak-segera-ditangani" target="_blank" rel="noopener noreferrer">DAS Wrati “Bom Waktu” Jika Tak Segera Ditangani</a></p>
<p>Saat ditanya terkait anggaran biaya yang akan digunakan, ia menjawab &#8220;terkait anggaran biaya yang muncul dalam kegiatan tersebut, berasal dari tanggung renteng atau urunan sejumlah pabrik yang ada serta diketahui oleh Muspika juga tiga anggota dewan yakni Arifin PDIP, Saad Muafi PKB dan Najib Setiawan PKS. Tak hanya itu saja, para anggota tim terpadu yang dibentuk tadi beranggotakan para kepala desa, kepala dusun dan warga terdampak. Untuk itu kami tim terpadu, mohon bantuan doa dan partisipasi warga untuk mensukseskan kegiatan pembersihan sunga wrati tersebut,&#8221; urainya.<strong> (rip/yan)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">93067</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Sungai Wrati Tercemar, Kades Kedungringin Geram</title>
		<link>https://memontum.com/sungai-wrati-tercemar-kades-kedungringin-geram</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 Aug 2019 02:59:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pasuruan]]></category>
		<category><![CDATA[Desa Kedungringin]]></category>
		<category><![CDATA[Pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[protes warga]]></category>
		<category><![CDATA[Sungai Wrati]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/90814-sungai-wrati-tercemar-kades-kedungringin-geram</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Pasuruan &#8211; Ribuan warga dua desa di Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan yakni Desa Kedungringin dan Kedungboto, pada beberapa hari terakhir terakhir resah. Hal ini diakibatkan air sungai wrati berbau busuk menyengat serta berbusa. Menurut Kepala Desa Kedungringin Vicky Arianto saat dikonfirmasi,Selasa petang (20/8) mengatakan,&#8221;sungai wrati tersebut sekitar 5hari belakangan berbusa menyebarkan bau busuk serta [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memontum Pasuruan</strong> &#8211; Ribuan warga dua desa di Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan yakni Desa Kedungringin dan Kedungboto, pada beberapa hari terakhir terakhir resah. Hal ini diakibatkan air sungai wrati berbau busuk menyengat serta berbusa.</p>
<p>Menurut Kepala Desa Kedungringin Vicky Arianto saat dikonfirmasi,Selasa petang (20/8) mengatakan,&#8221;sungai wrati tersebut sekitar 5hari belakangan berbusa menyebarkan bau busuk serta berwarna agak kekuningan yang cukup menyengat,&#8221; tegasnya.</p>
<p>&#8220;Permasalahan pencemaran limbah industri di sungai wrati yang membelah desa kami ini, sudah kerapkali terjadi.Kami warga sudah sering mengadukan permasalahan ini pada instansi terkait, namun ujungnya tidak ada tindaklanjut. Tak hanya itu saja, bahkan salah satu warga kami yakni Henry pernah membuat banner berukuran 5x10meter tertuliskan &#8220;surat terbuka pada Presiden&#8221; dan dipasang pada jalan raya Surabaya-Banyuwangi.</p>
<p>Mendapati hal tersebut pihak, akhirnya ada perhatian dari instansi terkait dengan melakukan normalisasi sungai wrati, akan tetapi tidak ada penanganan lebih lanjut dari pihak pemerintah pelaku atau pabrik pembuang limbah yang mencemari sunga wrati. Kami meminta agar negara hadir dan melakukan langkah hukum yang konkrit atas permasalah yang kerap terjadi ini,&#8221; pungkas Vicky.</p>
<p>Sementara ditempat terpisah Camat Beji Taufiqul Ghani, pihaknya telah mendapat laporan dari stafnya dan warga setempat.</p>
<p>“Saat ini anggota Sat Pol PP Kabupaten Pasuruan dan Kecamatan Beji, mengecek ke lokasi. Hasil pengecekan itu kami harapkan ada hasilnya. Dan nanti akan kami infokan lebih lanjut,” papar Camat Beji melalui sambungan telepon selularnya.<strong> (hen/yan)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">90814</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
