<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Topeng Malang &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/topeng-malang/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Thu, 14 Apr 2022 02:12:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Topeng Malang &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Sejarah Singkat Seni Topeng Malangan</title>
		<link>https://memontum.com/sejarah-singkat-seni-topeng-malangan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 14 Apr 2022 02:13:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[KREATIF MASYARAKAT]]></category>
		<category><![CDATA[Berita hari ini]]></category>
		<category><![CDATA[kota malang]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Topeng Malang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=167589</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Wayang Topeng atau Akrab dikenal Topeng Malangan, merupakan sebuah karya seni yang luar biasa. Salah satu Penggagas Kampung Budaya Polowijen, Ki Demang, saat ditemui di Kampung Budaya Polowijen Kota Malang, Kamis (14/04/2022) tadi, bercerita bahwa awal mula karya seni Topeng Malangan ini, merupakan sebuah karya cipta tangan dingin seorang Empu Topeng [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Wayang Topeng atau Akrab dikenal Topeng Malangan, merupakan sebuah karya seni yang luar biasa. Salah satu Penggagas Kampung Budaya Polowijen, Ki Demang, saat ditemui di Kampung Budaya Polowijen Kota Malang, Kamis (14/04/2022) tadi, bercerita bahwa awal mula karya seni Topeng Malangan ini, merupakan sebuah karya cipta tangan dingin seorang Empu Topeng Malang yang bernama Ki Condro Suwono yang biasa disapa Mbah Reni pada tahun 1880-an.</p>



<p>Dari karya Seni Topeng yang di buat oleh Ki Condro tersebut, kemudian menjadi karya seni yang digemari oleh Bupati Ke-empat (4) Malang, Adipati Aryo Suryo Adiningrat. &#8220;Malang kala itu, yaitu dari Malang Kota, Kabupaten dan Kota Batu. Karena secara administrasi, waktu itu masih jadi satu,” ungkapnya.</p>



<p>Lebih lanjut disampaikannya, sejarah tentang perkembangan Topeng Malang, telah ada sejak zaman Kerajaan Kanjuruhan. Kala itu, ketika Raja Gajayana hendak melakukan upacara ritual dan persembayangan penghormatan terhadap ayahandanya Raja Dewa Simha.</p>



<p>“Saat itu, wajahnya ditutupi topeng yang terbuat dari lempengan Emas. Yang digunakan, untuk upacara persembayang dan sebagainya. Topeng saat itu di sebut dengan istilah Puspa Sari pada tahun abad ke-VIII atau ke-IX,” ujarnya</p>



<p>Ditambahkannya, pada jaman Kerajaan Singosari, Seni Topeng hidup kembali pada masa pimpinan Raja Kertanegara dengan banyak menemukan Topeng, relief-relief secara antofaktul seperti relief pada Candi Jago. Kemudian pada zaman Kerajaan Majapahit atau pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk, topeng telah menjadi seni dan atraksi pertunjukan.</p>



<p>Baca juga :</p>


<ul class="wp-block-latest-posts__list wp-block-latest-posts"><li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/hut-112-kota-malang-pemkot-malang-segera-tetapkan-logo-baru">HUT 112 Kota Malang, Pemkot Malang segera Tetapkan Logo Baru</a></li>
<li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/pengawasan-menyeluruh-thr-pemprov-jatim-buka-54-titik-posko-pelayanan-pengaduan">Pengawasan Menyeluruh THR, Pemprov Jatim Buka 54 Titik Posko Pelayanan Pengaduan</a></li>
<li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/kolaborasi-dengan-pihak-swasta-pemkot-malang-gelar-mudik-gratis-tahun-2026">Kolaborasi dengan Pihak Swasta, Pemkot Malang Gelar Mudik Gratis Tahun 2026</a></li>
<li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/ikuti-hlm-tpid-dan-tp2dd-jawa-timur-ini-langkah-pemkab-kediri-cegah-inflasi">Ikuti HLM TPID dan TP2DD Jawa Timur, Ini Langkah Pemkab Kediri Cegah Inflasi</a></li>
<li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/dukung-ketahanan-pangan-bupati-malang-ikuti-hlm-tpid-dan-tp2dd-jatim-2026">Dukung Ketahanan Pangan, Bupati Malang Ikuti HLM TPID dan TP2DD Jatim 2026</a></li>
</ul>


<p>“Dalam perkembangannya di era modern di zaman Adipati Aryo Suryo Adiningrat, topeng kemudian menjadi kesenian yang khas di Malang dengan cerita Epos Panji pada saat di jaman masanya Mbah Reni,” bebernya.</p>



<p>Dirinya juga menegaskan, dalam perkembangan modern di jaman Ki Condro atau yang akrab disapa Mbah Reni, ini sudah mulai muncul banyak seniman dan pengrajin topeng. &#8220;Akan tetapi orang yang dipercaya mengkurasi terhadap sebuah Kesenian Topeng adalah Mbah Reni. Sehingga kemudian, perkembangan Seni Topeng di Malang menjadi menarik dan banyak,” terangnya.</p>



<p>Terdapat 10 daerah persebaran kantong topeng di Malang seperti Kampung Polowijen, Jabo, Tumpang, Glegedowo, Senggreng, Jambower, Pakisaji, Pakisaji Kedung Monggo, Lowokperman Kedung Monggo, Jati Kui, Gubuk Klaka yang sampai saat ini masih dilestarikan. &#8220;Kebetulan Mbah Reni ini pembuat topeng yang paling bagus pada zaman tahun 80-an tersebut. Hingga kemudian, kesenian topeng tersebut banyak di tiru oleh para pengrajin topeng mulai dari cara pembuatannya hingga pengukirannya,” paparnya.</p>



<p>Hingga sampai saat ini, ujarnya, hasil karya seni topeng terus dikembangkan. Salah satunya, di Kampung Budaya Polowijen tempat peristahatan dari Empu Topeng Malang Ki Condro dan hasil karya topeng tersebut, digunakan dalam atribut seni tari yang biasa dibawakan oleh para penari yang biasa di kenal sebagai Tari Topeng Malangan. <strong>(mg2/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">167589</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Bangkitkan Wisata Budaya dan Ekonomi Kreatif, Gelar Festival Topeng di Taman Krida Malang</title>
		<link>https://memontum.com/bangkitkan-wisata-budaya-dan-ekonomi-kreatif-gelar-festival-topeng-di-taman-krida-malang</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum Editorial Team 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 26 Mar 2021 10:49:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[Berita hari ini]]></category>
		<category><![CDATA[Disbudpar]]></category>
		<category><![CDATA[kota malang]]></category>
		<category><![CDATA[Topeng Malang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=137828</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Sebagai magnet membangkitkan wisata budaya dan ekonomi kreatif, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur gelar Festival Topeng. Gelaran yang berlangsung di Taman Krida Budaya Kota Malang, mulai Kamis (25/03) hingga Sabtu (27/03) besok. Acara sendiri juga berlangsung dalam bentuk seminar dan pementasan dengan pembatasan jumlah peserta dan pengujung. Baca [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Sebagai magnet membangkitkan wisata budaya dan ekonomi kreatif, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur gelar Festival Topeng. </p>



<p>Gelaran yang berlangsung di Taman Krida Budaya Kota Malang, mulai Kamis (25/03) hingga Sabtu (27/03) besok. </p>



<p>Acara sendiri juga berlangsung dalam bentuk seminar dan pementasan dengan pembatasan jumlah peserta dan pengujung.</p>



<p><strong>Baca juga: <a href="https://memontum.com/132195-proses-14-tahun-lahirkan-buku-tentang-budaya-topeng-malang">Proses 14 Tahun, Lahirkan Buku Tentang Budaya Topeng Malang</a></strong></p>



<p>Kepala Disbudpar Propinsi Jawa Timur, Sinarto, mengatakan bahwa Festival Topeng yang berlangsung di Kota Malang ini merupakan rintisan untuk merancang event Festival Topeng yang lebih besar di Jawa Timur.</p>



<p>Menurut Sinarto, topeng selain sebagai kesenian tradisional, juga masuk dalam ranah seni pertunjukan yang bisa merangsang perkembangan ekonomi kreatif.</p>



<p>&#8220;Topeng harus menginspirasi terciptanya ekonomi kreatif dan kegiatan wisata berbasis budaya. Apalagi di Malang Raya budaya topeng sangat terkenal,” ujarnya.</p>



<p>Sehingga pihaknya berharap budaya topeng bisa menjadi maskot dan ikon wisata di Malang Raya, utamanya Kota Malang. Bahkan Sinarto berpesan, semua sajian wisata dari sisi kesenian harus menampilkan Topeng Malang.</p>



<p>&#8220;Kemarin ada 50 peserta pelaku kesenian topeng yang datang ke festival ini. Mereka berasal dari berbagai daerah yang menjadi basis topeng. Seperti Malang Raya, Sampang, Sumenep, Jobang, Kediri, Situbondo, Bondowoso,&#8221; tambahnya.</p>



<p>Sementara itu, Ketua Forum Komunikasi Kelompok Sadar Wisata (Forkom Pokdarwis) Kota Malang, Isa Wahyudi, menggarisbawahi melalui topeng sesungguhnya dapat di kembangkan ekonomi kreatif berbasis wisata budaya.</p>



<p>“Wisata budaya Tari Topeng Malangan termasuk dalam revitalisasi dan konservasi sejarah serta budaya yang dapat menjadi salah satu objek andalan. Sehingga budaya topeng bisa untuk mengembangkan pariwisata di Malang,” jelasnya.</p>



<p>Setidaknya disampaikan pria penggagas Kampung Budaya Polowijen itu, kesenian topeng mampu menggerakkan 10 sub sektor ekonomi kreatif.</p>



<p>Mulai dari desain interior berkaitan soal tata letak panggung dan background, desain komunikasi visual untuk kepentingan promosi. Film, videografi, fotografi semua yang menyangkut topeng bisa disupport melalui sub sektor ini.</p>



<p>&#8220;Adapun topeng juga bisa menyasar ke dalam sub sektor kriya, fashion, dan seni rupa dengan diversifikasi bersama produk lainnya. Dan tak kalah menariknya jika terjadi pementasan, otomatis kegiatan kuliner menyertai,&#8221; jabarnya.</p>



<p>Namun diakui pria yang akrab disapa Ki Demang itu, memang dibutuhkan unsur penunjang lainnya demi mengundang minat wisatawan. Selain itu sebagai salah satu wisata budaya, semestinya Tari Topeng Malangan dapat disajikan sebagai hiburan wisatawan di pentas rutin.</p>



<p>&#8220;Topeng sebagai wisata budaya dapat pula di tampilkan dalam ragam macam event yang di gelar oleh komunitas, kampung wisata, kegiatan pemerintahan, event perusahaan, di caffe restoran, hotel, serta kegiatan rutin lainnya,&#8221; jelas Ki Demang. <strong>(mus/ed2)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">137828</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Proses 14 Tahun, Lahirkan Buku Tentang Budaya Topeng Malang</title>
		<link>https://memontum.com/proses-14-tahun-lahirkan-buku-tentang-budaya-topeng-malang</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum Editorial Team 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 16 Jan 2021 05:50:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KREATIF MASYARAKAT]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[ISI]]></category>
		<category><![CDATA[Topeng Malang]]></category>
		<category><![CDATA[UM]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=132195</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Sejarah dan budaya menjadi warisan yang sarat akan nilai. Di Kota Malang sendiri juga memiliki banyak kesenian yang membuat kota ini menjadi gudangnya seni. Salah satu diantaranya adalah Wayang Topeng Malang yang perkembangannya sangat dinamis. Hal tersebut membuat Koordinator Prodi Pascasarjana Keguruan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (UM), [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Sejarah dan budaya menjadi warisan yang sarat akan nilai. Di Kota Malang sendiri juga memiliki banyak kesenian yang membuat kota ini menjadi gudangnya seni. Salah satu diantaranya adalah Wayang Topeng Malang yang perkembangannya sangat dinamis.</p>



<p>Hal tersebut membuat Koordinator Prodi Pascasarjana Keguruan Seni dan Desain Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (UM), Dr Robby Hidajat M Sn, tergugah untuk lakukan penelitian. Dirinya aktif menerbitkan buku yang mengangkat seni topeng Malangan.</p>



<p>Sejauh ini, sudah lima buku yang berhasil ditulis Robby. Terbaru, dirinya menulis &#8216;Dari Panggung ke Panggung Perkembangan Wayang Topeng Malang&#8217;.</p>



<p>Diakuinya, proses penulisan buku yang dilaunching terbatas pada November 2020 ini adalah yang terlama. &#8220;Saya mulai menulis buku ini sejak 2004, prosesnya paling lama dibanding ke 5 buku lainnya yang pernah saya tulis. Saya nambah lagi, revisi, lalu tulis ulang,&#8221; cerita Robby saat ditemui wartawan.</p>



<p>Lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) ini menjelaskan bahwa fungsi primer wayang topeng adalah sebagai sarana ritual tradisional. Pagelaran dilakukan di latar-latar punden pada saat kegiatan bersih desa, ruwatan, atau nadhar.</p>



<p>Namun, seiring dengan perkembangan dinamika masyarakat, perkumpulan wayang topeng yang semula dibina oleh desa, saat ini menjadi milik perseorangan.</p>



<p>&#8220;Masyarakat memfungsikan sebagai usaha jasa hiburan. Mereka menggelar pertunjukan di panggung-panggung untuk menghibur penonton,&#8221; tambahnya.</p>



<p>Bahkan, menurut penuturan pria berkaca mata itu, beberapa perkumpulan topeng malangan tampil di panggung, televisi, festival-festival budaya, dan berbagai acara yang diselenggarakan untuk memeriahkan sebuah kegiatan.</p>



<p>Baginya, &#8216;Dari Panggung ke Panggung Perkembangan Wayang Topeng Malang&#8217; adalah realitas perkembangan sosial masyarakat seni pertunjukan tradisional di Malang.</p>



<p>&#8220;Mereka secara simultan telah memasuki wilayah-wilayah jasa hiburan untuk kegiatan yang bersifat ekonomis. Ini perlu dilestarikan,&#8221; tandas Robby. <strong>(cw1/sit)</strong></p>



<p></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">132195</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
