<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Tradisi &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/tradisi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Tue, 30 Dec 2025 10:57:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Tradisi &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Kodim 0809 Kediri Gelar Acara Tradisi Lepas dan Sambut Dandim Baru</title>
		<link>https://memontum.com/kodim-0809-kediri-gelar-acara-tradisi-lepas-dan-sambut-dandim-baru</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 30 Dec 2025 06:10:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hukum & Kriminal]]></category>
		<category><![CDATA[Kediri]]></category>
		<category><![CDATA[Dandim]]></category>
		<category><![CDATA[kediri]]></category>
		<category><![CDATA[sambut]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=229135</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kediri &#8211; Kodim 0809/Kediri menggelar acara tradisi yang penuh makna untuk menyambut Dandim 0809/Kediri yang baru, Letkol Inf Dhavid Nur Hadiansyah dan melepas Dandim lama, Letkol Inf Ragil Jaka Utama. Acara tersebut, digelar di Markas Kodim 0809/Kediri, Jalan A Yani, Kelurahan Banjaran, Kecamatan Kota, Kota Kediri, Selasa (30/12/2025) tadi. Acara sendiri, dimulai dengan penyambutan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kediri</strong> &#8211; Kodim 0809/Kediri menggelar acara tradisi yang penuh makna untuk menyambut Dandim 0809/Kediri yang baru, Letkol Inf Dhavid Nur Hadiansyah dan melepas Dandim lama, Letkol Inf Ragil Jaka Utama. Acara tersebut, digelar di Markas Kodim 0809/Kediri, Jalan A Yani, Kelurahan Banjaran, Kecamatan Kota, Kota Kediri, Selasa (30/12/2025) tadi.</p>



<p>Acara sendiri, dimulai dengan penyambutan yang dipimpin oleh Kasdim 0809/Kediri, Mayor Inf Yuliadi Purnomo. Tradisi penyambutan ini, ditandai dengan pengalungan bunga dan diikuti dengan penghormatan jajar dari anggota Jaga Kesatrian.</p>



<p>Tidak hanya itu, suasana semakin meriah dengan tarian Cucuk Lampah, yang merupakan simbol penyambutan pejabat baru, serta iring-iringan Pedang Pora.</p>



<p>Dalam sambutannya, Dandim 0809/Kediri yang lama, Letkol Inf Ragil Jaka Utama, mengungkapkan rasa syukur dan apresiasi atas dukungan yang diberikan selama menjabat. Dirinya mengatakan, meskipun masa jabatannya hanya berlangsung selama 1 tahun lebih, namun merasa bangga dapat memimpin Kodim Kediri.</p>



<p>“Waktu saya di sini memang singkat, tapi saya bangga bisa memimpin rekan-rekan sekalian. Kodim Kediri memiliki loyalitas yang luar biasa. Terima kasih atas kerjasama dan semangat yang telah diberikan selama ini,” ujar Letkol Inf Ragil.</p>



<p>Letkol Inf Ragil juga menyampaikan permintaan maaf, jika selama kepemimpinannya ada kesalahan, baik pribadi maupun keluarga. “Saya berharap hubungan silaturahmi tetap terjaga meski saya sudah tidak lagi di sini. Terima kasih atas segala dukungan yang telah diberikan,” imbuhnya.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Sementara itu, Dandim 0809/Kediri yang baru, Letkol Inf Dhavid Nur Hadiansyah, dalam sambutannya menyampaikan rasa semangat dan antusias untuk memimpin Kodim Kediri ke depannya. Dirinya juga mengapresiasi semangat luar biasa yang ditunjukkan oleh seluruh anggota Kodim 0809/Kediri dan mengajak semua pihak untuk bekerja dengan bahagia.</p>



<p>“Saya sangat bangga bisa bergabung dengan keluarga besar Kodim Kediri. Kita harus selalu semangat dalam bertugas. Dinas kita harus dilakukan dengan penuh kebahagiaan. Saya berharap kita bisa bekerja bersama dengan baik,” ujar Letkol Inf Dhavid.</p>



<p>Letkol Inf Dhavid juga menyampaikan, mengenai komitmennya untuk memanfaatkan teknologi dalam mendukung tugas-tugas ke depan, seperti mencetak aplikasi yang dapat memonitor kegiatan anggota secara langsung. Dirinya juga meminta dukungan penuh dari semua anggota dalam menjalankan tugas bersama.</p>



<p>“Jangan ragu untuk menghubungi saya. Jika ada masalah, segera sampaikan. Saya yang bertanggung jawab sekarang. Kita semua harus bekerja sama dengan baik,” tegasnya.</p>



<p>Acara ini dihadiri oleh sejumlah pejabat dan anggota Kodim 0809/Kediri, antara lain Kasdim, Mayor Inf Yuliadi Purnomo, Pabung, Mayor Inf Ngatari, serta Danramil dan Perwira Staf Kodim 0809/Kediri. Hadir pula Ketua Persit KCK Cabang XXV Kodim 0809/Kediri yang lama, Ketua Ranting Persit KCK Cabang XXV yang baru, serta anggota Persit dan PNS Kodim 0809/Kediri.</p>



<p>Acara tradisi ini, menjadi momen penting dalam perjalanan Kodim 0809/Kediri, sekaligus sebagai bentuk penghargaan terhadap kepemimpinan dan dedikasi kedua Dandim yang telah mengabdi kepada masyarakat dan negara. <strong>(pan/gie)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">229135</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Ziarah ke Situs Biting, Bunda Indah Tegaskan Pentingnya Melanjutkan Tradisi Bupati Terdahulu</title>
		<link>https://memontum.com/ziarah-ke-situs-biting-bunda-indah-tegaskan-pentingnya-melanjutkan-tradisi-bupati-terdahulu</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 14 Dec 2025 06:20:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Lumajang]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[biting,]]></category>
		<category><![CDATA[bupati]]></category>
		<category><![CDATA[melanjutkan]]></category>
		<category><![CDATA[Pentingnya]]></category>
		<category><![CDATA[tegaskan]]></category>
		<category><![CDATA[terdahulu]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[ziarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=228744</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Lumajang &#8211; Bupati Lumajang, Indah Amperawati, kembali menegaskan komitmennya untuk menjadikan ziarah ke Situs Biting sebagai agenda rutin dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Lumajang (Harjalu). Komitmen tersebut, merupakan kelanjutan dari tradisi yang pernah dijalankan oleh Bupati Lumajang terdahulu, sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah dan leluhur Lumajang. Hal ini disampaikan Bunda Indah-sapaan Bupati Lumajang, saat [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Lumajang</strong> &#8211; Bupati Lumajang, Indah Amperawati, kembali menegaskan komitmennya untuk menjadikan ziarah ke Situs Biting sebagai agenda rutin dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Lumajang (Harjalu). Komitmen tersebut, merupakan kelanjutan dari tradisi yang pernah dijalankan oleh Bupati Lumajang terdahulu, sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah dan leluhur Lumajang.</p>



<p>Hal ini disampaikan Bunda Indah-sapaan Bupati Lumajang, saat memberikan sambutan kegiatan ziarah makam di kawasan Situs Biting, Desa Kutorenon, Kecamatan Sukodono. Bunda Indah menyampaikan akan senantiasa berkomitmen untuk menjaga tradisi kegiatan tersebut. Itu karena, ziarah ke Situs Biting bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan momentum refleksi bagi jajaran pemerintah daerah untuk mengenang perjuangan, kearifan lokal serta pondasi sejarah berdirinya Kabupaten Lumajang.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>“Saat ini kita berada di Situs Biting, tempat bersemayam para pendiri Kabupaten Lumajang. Almarhum Bapak Sahrazad Masdar pernah menyampaikan, bahwa ziarah ke makam di area Situs Biting ini merupakan bagian dari prosesi Hari Jadi Lumajang. Karena itu, saya bersama Wakil Bupati berkomitmen untuk melanjutkan tradisi ini,” kata Bunda Indah, Minggu (14/12/2025) tadi.</p>



<p>Dalam kegiatan ziarah tersebut, dilakukan doa bersama yang dilanjutkan dengan prosesi pemotongan tumpeng, sebagai simbol rasa syukur sekaligus harapan agar Kabupaten Lumajang terus berkembang tanpa melupakan nilai-nilai budaya dan sejarah. Pemerintah Kabupaten Lumajang berharap, tradisi ziarah ke Situs Biting ini dapat memperkuat identitas daerah, menumbuhkan kecintaan terhadap sejarah di kalangan generasi muda, serta menjadikan peringatan Harjalu tidak hanya sebagai ajang perayaan, tetapi juga sarana memperkokoh persatuan dan karakter masyarakat Lumajang. <strong>(kom/adi/gie)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">228744</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Ribuan Peserta Meriahkan Tradisi Legendaris Gerak Jalan Mojokerto-Surabaya</title>
		<link>https://memontum.com/ribuan-peserta-meriahkan-tradisi-legendaris-gerak-jalan-mojokerto-surabaya</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 15 Nov 2025 03:45:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Mojokerto]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[legendaris]]></category>
		<category><![CDATA[meriahkan]]></category>
		<category><![CDATA[mojokerto-surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[Peserta]]></category>
		<category><![CDATA[ribuan]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=227762</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Mojokerto &#8211; Ribuan peserta ikuti tradisi legendaris Gerak Jalan Mojokerto–Surabaya (GMS), Sabtu (15/11/2025) tadi. Sejumlah peserta, memadati garis start di depan Kantor Kecamatan Prajuritkulon, Jalan Raya Surodinawan, Kota Mojokerto, untuk menempuh perjalanan sejauh 55 kilometer menuju Tugu Pahlawan Surabaya. Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Timur, Adhy Karyono, mewakili Gubernur Jatim, dalam sambutannya menegaskan bahwa [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Mojokerto</strong> &#8211; Ribuan peserta ikuti tradisi legendaris Gerak Jalan Mojokerto–Surabaya (GMS), Sabtu (15/11/2025) tadi. Sejumlah peserta, memadati garis start di depan Kantor Kecamatan Prajuritkulon, Jalan Raya Surodinawan, Kota Mojokerto, untuk menempuh perjalanan sejauh 55 kilometer menuju Tugu Pahlawan Surabaya.</p>



<p>Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Timur, Adhy Karyono, mewakili Gubernur Jatim, dalam sambutannya menegaskan bahwa GMS bukan hanya kegiatan olah raga, melainkan tradisi penuh nilai perjuangan yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. “Kegiatan ini menjadi sarana menggali kembali nilai perjuangan para prajurit kemerdekaan, sekaligus wujud terima kasih kepada para pejuang yang telah mengorbankan jiwa dan raga,” kata Sekda Adhy.</p>



<p>Dirinya menambahkan, pelaksanaan GMS 2025 memiliki makna khusus, karena bertepatan dengan HUT ke-80 Provinsi Jawa Timur. Pemerintah berharap, kegiatan ini turut menggerakkan ekonomi daerah dan memberikan dampak positif pada UMKM, sektor riil, hingga pariwisata, sekaligus memperluas gaungnya di tingkat nasional maupun internasional.</p>



<p>Wakil Wali Kota Mojokerto, Rachman Sidharta Arisandi, dalam kesempatan itu turut hadir memberikan dukungan. Dirinya mengajak peserta, untuk menjadikan kegiatan ini sebagai momentum memperkuat solidaritas dan kepedulian sosial.</p>



<p>“Mari jadi pahlawan, untuk diri kita sendiri dan untuk orang lain,” pesannya.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>GMS 2025 sendiri menghadirkan konsep baru yang lebih interaktif, dengan menghadirkan 5 zona perjalanan waktu, yang menggambarkan perjalanan sejarah Jawa Timur dari masa lampau hingga masa depan. Diantaranya, Era Majapahit, menggambarkan kejayaan peradaban Nusantara. Masa Pra-Kemerdekaan, menumbuhkan semangat perjuangan melawan penjajahan.</p>



<p>Episentrum Kemerdekaan, merefleksikan semangat 10 November 1945. Pasca Kemerdekaan dan Era Pembangunan 1980-an, simbol kebangkitan ekonomi dan sosial.</p>



<p>Selanjutnya zona Jawa Timur Kini dan Masa Depan, menampilkan visi Gerbang Baru Nusantara. Konsep ini dirancang untuk memberikan edukasi sejarah sekaligus memperkuat kesadaran kolektif mengenai panjangnya napas perjuangan bangsa.</p>



<p>Kepala Disporapar Kota Mojokerto, Ani Wijaya, menyampaikan bahwa antusiasme masyarakat sangat tinggi. Data yang tercatat di https://gms2025.id/ jumlah peserta perorangan 2613, beregu pelajar 38 tim, beregu umum 264 tim, beregu TNI/Polri 15 tim</p>



<p>Panitia menyiapkan sejumlah pos check-in, demi memastikan keamanan dan kelancaran perjalanan panjang peserta. Pos pertama berlokasi di Kantor Kepala Desa Singkalan, disusul pos kedua di SMPN 1 Krian, pos ketiga di Kantor Kepala Desa Gilang dan pos terakhir di Kantor Kelurahan Kedurus, Kota Surabaya. <strong>(kom/moj/gie)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">227762</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Tiga Kampung Tematik di Kota Malang Masih Lestarikan Tradisi di Momen Maulid Nabi</title>
		<link>https://memontum.com/tiga-kampung-tematik-di-kota-malang-masih-lestarikan-tradisi-di-momen-maulid-nabi</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 06 Sep 2025 05:20:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar Desa]]></category>
		<category><![CDATA[kampung]]></category>
		<category><![CDATA[lestarikan]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>
		<category><![CDATA[maulid]]></category>
		<category><![CDATA[tematik]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=225763</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Sejumlah kampung tematik di Kota Malang masih menjaga tradisi dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW atau Bulan Mulud, Jumat (05/09/2025) malam. Diantaranya, seperti di Kampung Grabah Penanggungan, Kampung Gribig Religi dan Kampung Budaya Polowijen. Di Kampung Grabah Penanggungan misalkan, menonjolkan tradisi pecah ajang. Yakni, warga mengisi piring gerabah dengan makanan, lalu [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Sejumlah kampung tematik di Kota Malang masih menjaga tradisi dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW atau Bulan Mulud, Jumat (05/09/2025) malam. Diantaranya, seperti di Kampung Grabah Penanggungan, Kampung Gribig Religi dan Kampung Budaya Polowijen. Di Kampung Grabah Penanggungan misalkan, menonjolkan tradisi pecah ajang. Yakni, warga mengisi piring gerabah dengan makanan, lalu disantap bersama. Setelah itu, piring gerabah dipecah serentak.</p>



<p>“Ajang layah yang dipecah itu simbol membuang bala dan membuka jalan hidup baru. Pecahnya wadah justru mempererat warga,” kata Ketua Kampung Grabah Penanggungan, Hariyono, Sabtu (06/09/2025) tadi.</p>



<p>Berbeda dengan itu, di Kampung Gribig Religi, Muludan dikaitkan dengan ziarah. Usai doa bersama di makam keramat, warga membagikan bubur sumsum dan tumpeng sego gurih kepada para peziarah.</p>



<p>“Ini bukan hanya sedekah makanan, tetapi sedekah doa. Berkah semakin besar ketika dibagi,” jelas Ketua Pokdarwis Kampung Gribig Religi, Devi Nurhadyanto.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Sementara itu, di Kampung Budaya Polowijen, warga menggelar selamatan Muludan dengan menyajikan beragam makanan tradisional. Mulai dari ajang layah, bubur sumsum, tumpeng buceng, tumpeng buah, hingga sego gurih dengan ingkung ayam.</p>



<p>Penggagas Kampung Budaya Polowijen, Ki Demang, mengatakan bahwa sajian tersebut bukan sekadar makanan. Namun, memiliki makna simbolik yang mengajarkan syukur, kebersamaan, hingga kepasrahan kepada Tuhan.</p>



<p>“Lewat tradisi Muludan ini kita belajar makna syukur, kebersamaan dan kepasrahan. Sajian itu simbol, bukan sekadar dimakan,” ujar Ki Demang.</p>



<p>Ditambahkannya, dengan adanya tradisi di tiga kampung tersebut menunjukkan bahwa peringatan Muludan tidak hanya menjadi ritual keagamaan. Namun, juga ruang kebudayaan yang mempererat solidaritas sosial dan menjaga identitas lokal masyarakat Malang Raya.</p>



<p>&#8220;Tradisi Muludan di Malang Raya tidak hanya hidup sebagai ritual, tetapi juga dijaga dengan kesadaran penuh oleh para tokoh dan komunitas. Mereka bukan sekadar pelaksana, tetapi juga penafsir dan penjaga makna, sehingga Muludan tetap relevan di tengah perubahan zaman,&#8221; imbuh Ki Demang. <strong>(rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">225763</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Ritual Larung Saji di Kondang Merak, Tradisi Simbol Penghormatan untuk Laut dan Sang Pencipta</title>
		<link>https://memontum.com/ritual-larung-saji-di-kondang-merak-tradisi-simbol-penghormatan-untuk-laut-dan-sang-pencipta</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Jun 2025 08:40:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar Desa]]></category>
		<category><![CDATA[Kabupaten Malang]]></category>
		<category><![CDATA[kondang]]></category>
		<category><![CDATA[Larung]]></category>
		<category><![CDATA[merak,]]></category>
		<category><![CDATA[pencipta]]></category>
		<category><![CDATA[penghormatan]]></category>
		<category><![CDATA[Ritual]]></category>
		<category><![CDATA[simbol]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=223447</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Malang &#8211; Bertepatan dengan 1 Suro 1447 H, para nelayan dan warga Desa Sumber Bening, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, menggelar ritual Larung Saji di Pantai Kondang Merak, Sabtu (28/06/2025) tadi. Gelaran ini dilakukan, sebagai ungkapan syukur dan doa keselamatan dalam menjalani kehidupan laut yang penuh tantangan. Meski langit mendung dan ombak bergulung hebat sejak [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Malang</strong> &#8211; Bertepatan dengan 1 Suro 1447 H, para nelayan dan warga Desa Sumber Bening, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, menggelar ritual Larung Saji di Pantai Kondang Merak, Sabtu (28/06/2025) tadi. Gelaran ini dilakukan, sebagai ungkapan syukur dan doa keselamatan dalam menjalani kehidupan laut yang penuh tantangan.</p>



<p>Meski langit mendung dan ombak bergulung hebat sejak dini hari, namun prosesi ritual tetap berjalan dengan lancar. Cuaca yang tak bersahabat, menurut nelayan justru menegaskan keteguhan hati warga, bahwa momen ini lebih dari sekadar tradisi.</p>



<p>Rangkaian tradisi sendiri, diawali dengan pembacaan khataman Al-Quran dan makan bersama di Balai Nelayan, tempat para warga berkumpul dalam suasana kebersamaan. Doa-doa dipanjatkan oleh sesepuh nelayan, memohon perlindungan dan limpahan rezeki.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Prosesi pun, berlanjut dengan arak-arakan menuju laut, membawa sesaji berisi hasil bumi dan makanan tradisional untuk dilarungkan sebagai simbol penghormatan kepada laut dan Sang Pencipta. &#8220;Semua itu berkah,&#8221; ujar Ketua Nelayan Bina Karya Mina Kondang Merak, Aral Subagyo.</p>



<p>Diketahui, bahwa Larung Saji merupakan warisan budaya masyarakat pesisir Jawa yang telah hidup turun-temurun. Istilah larung bermakna menghanyutkan, sedangkan saji berarti persembahan.</p>



<p>Di banyak wilayah Pantai Selatan Jawa, tradisi ini menjadi jembatan spiritual antara nelayan dan lautan yang menjadi sumber hidup mereka. Selain doa dan syukur, Larung Saji juga memperkuat ikatan sosial antar warga dan menyemai kebanggaan atas warisan leluhur.</p>



<p>Hadir dalam prosesi ini, perangkat Desa Sumber Bening, LMDH Wonoraharjo, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta NGO Sahabat Alam Indonesia yang turut menyaksikan kekuatan budaya lokal dalam menjaga harmoni antara manusia dan alam. <strong>(had/gie)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">223447</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Hindari Bencana dan Wabah Penyakit, Masyarakat Desa Kemiren Banyuwangi Gelar Tradisi Barong Ider Bumi</title>
		<link>https://memontum.com/hindari-bencana-dan-wabah-penyakit-masyarakat-desa-kemiren-banyuwangi-gelar-tradisi-barong-ider-bumi</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 01 Apr 2025 07:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar Desa]]></category>
		<category><![CDATA[Banyuwangi]]></category>
		<category><![CDATA[barong]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hindari]]></category>
		<category><![CDATA[kemiren]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=220795</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Banyuwangi &#8211; Tradisi adat Barong Ider Bumi berlangsung meriah di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Selasa (01/04/2025) tadi. Meski di bawah guyuran hujan, ratusan warga lokal dan wisatawan dari berbagai daerah tetap antusias mengikuti dan menyaksikan prosesi arak-arakan Barong berusia ratusan tahun tersebut. Ritual Barong Ider Bumi sendiri, digelar setiap tanggal 2 Syawal, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Banyuwangi</strong> &#8211; Tradisi adat Barong Ider Bumi berlangsung meriah di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Selasa (01/04/2025) tadi. Meski di bawah guyuran hujan, ratusan warga lokal dan wisatawan dari berbagai daerah tetap antusias mengikuti dan menyaksikan prosesi arak-arakan Barong berusia ratusan tahun tersebut.</p>



<p>Ritual Barong Ider Bumi sendiri, digelar setiap tanggal 2 Syawal, atau bertepatan dengan hari ke dua Idul Fitri. Tradisi ini, dipercaya sebagai bentuk ikhtiar masyarakat untuk menolak bencana dan pageblug (wabah penyakit) yang pernah melanda desa pada masa lampau.</p>



<p>Tokoh masyarakat adat Desa Kemiren, Suhaimi, menjelaskan bahwa ritual Barong Ider Bumi pertama kali dilakukan sekitar tahun 1840 an. Kala itu, Desa Kemiren dilanda wabah yang menyebabkan banyak korban jiwa serta gagal panen akibat serangan hama.</p>



<p>Keadaan semakin sulit, dengan masa paceklik yang berkepanjangan. Hingga akhirnya, dilakukanlah arak-arakan Barong.</p>



<p>&#8220;Sesepuh desa, saat itu meminta saran kepada Mbah Buyut Cili, atau leluhur Desa Kemiren. Dalam mimpi, beliau mendapat petunjuk agar warga mengadakan arak-arakan Barong keliling kampung sebagai upaya penolak bala,&#8221; ungkap Suhaimi.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Barong, tambahnya, dalam tradisi ini digambarkan sebagai sosok makhluk bermahkota dengan sayap yang dipercaya mampu melindungi desa dari marabahaya. &#8220;Ritual diawali dengan doa yang dipanjatkan oleh para tokoh pelestari Barong di petilasan Buyut Cili,&#8221; tambah Suhaimi.</p>



<p>Kepala Desa Kemiren, Arifin, mengungkapkan rasa syukur atas terlaksananya ritual tahun ini meskipun dalam kondisi hujan. &#8220;Kita tetap bersyukur karena hujan adalah anugerah dari Yang Maha Kuasa,&#8221; ujarnya.</p>



<p>Arifin menambahkan, ritual Barong Ider Bumi merupakan bagian dari upaya pelestarian adat dan budaya. “Ini merupakan kewajiban kami untuk melestarikan budaya leluhur. Ke depan, kami berharap tradisi ini tetap dilestarikan oleh generasi muda, sehingga budaya dan adat istiadat Osing tetap lestari,” tambah Arifin.</p>



<p>Saat gamelan mulai dimainkan, Barong siap diarak keliling desa dengan iringan masyarakat yang mengenakan pakaian adat. Arak-arakan dimulai dari sisi timur Desa Kemiren menuju bagian barat, menempuh jarak sekitar 2 km. Sepanjang perjalanan, tokoh adat melakukan tradisi Sembur Uthik-Uthik, yaitu menebarkan sekitar 999 koin logam yang dicampur dengan beras kuning dan berbagai macam bunga sebagai simbol penolak bala.</p>



<p>Puncak acara ditandai dengan kenduri massal, di mana warga duduk bersama di sepanjang jalan desa, menikmati hidangan khas Banyuwangi, pecel pithik yang disajikan secara beramai-ramai. Hidangan ini, dibuat dari ayam kampung muda yang dipanggang utuh di perapian. Kemudian, disuwir dan dicampur dengan bumbu khas yang terdiri dari cabai rawit, terasi, daun jeruk, gula serta parutan kelapa muda.</p>



<p>Wisatawan asal Surabaya, Dian Eka Putri Nasution, menyebut atmosfer kekeluargaan dalam ritual ini sangat terasa. “Yang paling saya suka adalah kendurinya. Semua duduk bersama, makan bersama di jalanan desa. Rasanya hangat dan sangat membumi. Ini pengalaman yang tidak bisa saya temukan di kota,&#8221; ujar Dian. <strong>(kom/bwi/gie)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">220795</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kuatkan Solidaritas, Pemkab Banyuwangi Gelar Tradisi Tahunan Bertajuk Diaspora Banyuwangi</title>
		<link>https://memontum.com/kuatkan-solidaritas-pemkab-banyuwangi-gelar-tradisi-tahunan-bertajuk-diaspora-banyuwangi</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Mar 2025 06:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Banyuwangi]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[bertajuk]]></category>
		<category><![CDATA[diaspora]]></category>
		<category><![CDATA[kuatkan]]></category>
		<category><![CDATA[Pemkab]]></category>
		<category><![CDATA[solidaritas]]></category>
		<category><![CDATA[tahunan]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=220670</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Banyuwangi &#8211; Pemkab Banyuwangi mengundang para Diaspora Banyuwangi dari berbagai daerah di Indonesia dan belahan dunia, untuk berkumpul bersama menguatkan solidaritas. Tradisi tahunan di momen Lebaran tahun ini tersebut, bertajuk &#8216;Diaspora Banyuwangi&#8217;, yang rencananya bakal kembali digelar di Pendopo Sabha Swagatha Blambangan, Kamis (03/04/2025) tadi. “Diaspora Banyuwangi tahun ini akan kembali kami gelar. Ini [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Banyuwangi</strong> &#8211; Pemkab Banyuwangi mengundang para Diaspora Banyuwangi dari berbagai daerah di Indonesia dan belahan dunia, untuk berkumpul bersama menguatkan solidaritas. Tradisi tahunan di momen Lebaran tahun ini tersebut, bertajuk &#8216;Diaspora Banyuwangi&#8217;, yang rencananya bakal kembali digelar di Pendopo Sabha Swagatha Blambangan, Kamis (03/04/2025) tadi.</p>



<p>“Diaspora Banyuwangi tahun ini akan kembali kami gelar. Ini bukan sekadar pelepas kangen para perantau, tetapi ini juga untuk terus menumbuhkan solidaritas serta semangat untuk membangun Banyuwangi lebih baik lagi,” kata Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, Kamis (27/03/2025) tadi.&nbsp;&nbsp;&nbsp;</p>



<p>Diaspora Banyuwangi, tambahnya, akan digelar mulai pukul 09.00. Acara ini akan dihadiri para Diaspora (perantau) asal Banyuwangi yang sedang mudik Lebaran ke Banyuwangi dari berbagai daerah dan bahkan luar negeri. Seperti Hongkong, Taiwan, Amerika, Rusia, Jerman, Australia dan masih banyak lainnya.</p>



<p>“Juga biasanya, kami akan bercengkerama dan silaturahim online dengan para Diaspora internasional yang kebetulan tidak sempat pulang ke Banyuwangi. Semacam tombo kangen buat mereka yang tentunya rindu kampung halaman,” tambah Bupati Ipuk.</p>



<p>Dijelaskan Bupati Ipuk, bahwa kegiatan Diaspora ini rutin digelar dan salah satu tujuannya adalah untuk membangun networking antar warga Banyuwangi di manapun berada. Dengan saling bertemu dan kenal, diharapkan Diaspora ini menjadi ajang sharing bagi para perantau asal Banyuwangi. Termasuk, diharapkan mereka bisa saling memotivasi antar para perantau, sekaligus memberikan masukan positif bagi Pemkab Banyuwangi.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>“Dengan saling bertemu, harapannya akan terjalin network. Yang punya usaha di Banyuwangi, bisa kenal dengan yang dari luar negeri. Sehingga, mungkin bisa menumbuhkan pasar usahanya dan bisa saling bantu serta dukung usaha sesama perantau. Kami berharap, pengalaman baik yang ada di rantau, bisa ditularkan di Banyuwangi,” ujar Bupati Ipuk.</p>



<p>Pj Sekretaris Daerah Kabupaten Banyuwangi, Guntur Priambodo, menambahkan bahwa Pemkab telah mengajak kepada para perantau yang di berbagai daerah se-Indonesia untuk hadir. Seperti diantaranya, dari Bogor, Jakarta, Bandung, Balikpapan, Riau, Jogjakarta dan masih banyak lainnya.</p>



<p>“Wakil Bupati Sorong 2025-2030 yang merupakan putra daerah Banyuwangi, kemungkinan akan hadir. Bahkan dari luar negeri juga ada yang mengkonfirmasi bisa hadir. Misalnya dari Jepang, Jerman, Australia dan USA,” ujar Guntur.</p>



<p>Sekda Guntur juga memastikan, bahwa ajang temu kangen Diaspora tahun ini bakal seru karena seluruh pelaku acara merupakan para perantau sendiri. Mulai dari penerima tamu, penyaji tari hingga pembawa doa.</p>



<p>“Sengaja kita libatkan, agar mereka merasa memiliki acara ini. Jadi, bukan hanya sekadar tamu, tapi mereka lah pelaku acaranya,” imbuh Guntur. <strong>(kom/bwi/gie)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">220670</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Sambut Ramadan, Pokdarwis Pesarean Ki Ageng Gribig Gelar Tradisi Kirab Apem</title>
		<link>https://memontum.com/sambut-ramadan-pokdarwis-pesarean-ki-ageng-gribig-gelar-tradisi-kirab-apem</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Feb 2025 09:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar Desa]]></category>
		<category><![CDATA[gribig]]></category>
		<category><![CDATA[pesarean]]></category>
		<category><![CDATA[Pokdarwis]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[sambut]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=219710</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Menyambut Bulan Suci Ramadan, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pesarean Ki Ageng Gribig, kembali menggelar tradisi Kirab Apem, Kamis (27/02/2025) tadi. Ketua Pokdarwis Pesarean Ki Ageng Gribig, Devi Nur Hadianto, menyampaikan bahwa Kirab Apem merupakan bagian dari megengan dan itu sebuah tradisi turun-temurun yang melambangkan permohonan maaf, serta kesiapan menyambut Ramadan dengan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Menyambut Bulan Suci Ramadan, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pesarean Ki Ageng Gribig, kembali menggelar tradisi Kirab Apem, Kamis (27/02/2025) tadi.</p>



<p>Ketua Pokdarwis Pesarean Ki Ageng Gribig, Devi Nur Hadianto, menyampaikan bahwa Kirab Apem merupakan bagian dari megengan dan itu sebuah tradisi turun-temurun yang melambangkan permohonan maaf, serta kesiapan menyambut Ramadan dengan hati yang damai. Dalam pembuatan dan pembagian kue apem, itu menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan tersebut.</p>



<p>&#8220;Konsep apem dalam megengan adalah simbol permohonan maaf dan refleksi diri sebelum memasuki Ramadan. Tradisi ini diwariskan oleh para tetua kami sebagai bentuk kesiapan spiritual dalam menyongsong bulan suci,&#8221; ujar Devi.</p>



<p>Sebagai bagian dari syiar Ramadan, kue apem tersebut tidak hanya dibuat dan dibagikan saja, namun juga dikirab keliling area makam Ki Ageng Gribig.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>&#8220;Dikirabnya apem ini bertujuan untuk syiar, grebek, sekaligus mengingatkan masyarakat bahwa besok sudah memasuki bulan puasa. Ini cara kami meramaikan sekaligus mengajak masyarakat menyambut Ramadan dengan suka cita,&#8221; tambahnya.</p>



<p>Pada tahun ini, kue apem yang diproduksi ada sekitar 15 kilogram, di mana setiap kilogramnya menghasilkan sekitar 70 kue. Apem-apem tersebut nantinya akan dibagikan kepada masyarakat, pengunjung dan peziarah yang datang ke kompleks makam.</p>



<p>&#8220;Banyak warga yang juga turut berpartisipasi dengan mengirimkan apem sebagai bentuk rasa syukur dan doa agar Ramadan tahun ini lebih baik dari sebelumnya,&#8221; katanya.</p>



<p>Sebagai informasi, tradisi Kirab Apem di Pesarean Ki Ageng Gribig telah rutin diselenggarakan sejak tahun 2020, setelah Pokdarwis resmi berdiri pada 2017. Sebagian besar peserta kirab berasal dari lingkungan sekitar, yang setiap tahunnya dengan antusias menjaga dan melestarikan budaya tersebut sebagai bagian dari wisata religi di kawasan makam Ki Ageng Gribig. <strong>(rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">219710</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Sambut Imlek, Klenteng Eng An Kiong Kota Malang Gelar Tradisi Pencucian Patung Dewa</title>
		<link>https://memontum.com/sambut-imlek-klenteng-eng-an-kiong-kota-malang-gelar-tradisi-pencucian-patung-dewa</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 23 Jan 2025 10:25:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[Imlek]]></category>
		<category><![CDATA[klenteng]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>
		<category><![CDATA[patung]]></category>
		<category><![CDATA[pencucian]]></category>
		<category><![CDATA[sambut]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=218629</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Dalam rangka menyambut Tahun Baru Imlek 2576, Klenteng Eng An Kiong menggelar tradisi pencucian patung dewa yang menjadi bagian dari ritual Sembayang Song Sen. Pelaksanaan itu digelar, selama tiga hari, yaitu mulai Kamis (23/01/2025) hingga Sabtu (25/01/2025) mendatang. Pembantu muda-mudi Klenteng Eng An Kiong, David Kurniawan, mengatakan bahwa Sembayang Song Sen [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Dalam rangka menyambut Tahun Baru Imlek 2576, Klenteng Eng An Kiong menggelar tradisi pencucian patung dewa yang menjadi bagian dari ritual Sembayang Song Sen. Pelaksanaan itu digelar, selama tiga hari, yaitu mulai Kamis (23/01/2025) hingga Sabtu (25/01/2025) mendatang.</p>



<p>Pembantu muda-mudi Klenteng Eng An Kiong, David Kurniawan, mengatakan bahwa Sembayang Song Sen memiliki filosofi mendalam sebagai ungkapan syukur atas berkah yang diterima selama setahun terakhir. Sekaligus, juga mengantarkan roh para dewa ke langit.</p>



<p>&#8220;Inikan momen imlek, jadi kami melakukan Sembayang Song Sen. Diharapkan tahun depan mendapatkan hal-hal yang lebih baik,&#8221; ucap David.</p>



<p>Di Klenteng Eng An Kiong sendiri, saat ini memiliki 25 patung dewa, termasuk Dewa Po Te Koh, dewa bumi yang menjadi tuan rumah utama klenteng. Patung tersebut berusia lebih dari 200 tahun dan lebih tua dari usia klenteng yang kini genap 200 tahun. Patung-patung lainnya termasuk Dewa Chaw Kun Kong, dewa dapur, serta beberapa patung tambahan yang usianya lebih muda.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>“Patung-patung ini diturunkan dari altar, dibuka pakaiannya, lalu dibersihkan menggunakan air bunga. Pembersihan dilakukan oleh pengurus dan umat secara sukarela.Tradisi ini dilakukan karena roh suci para dewa dianggap sedang naik ke langit, sehingga patung-patung dapat dibersihkan,” ujarnya.</p>



<p>Selain Sembayang Song Sen, juga diadakan berbagai kegiatan lain, termasuk ritual kias untuk menetralisir keberuntungan bagi shio yang diprediksi kurang baik tahun ini, seperti ular, harimau, dan babi. “Kias ini seperti ruwatan dalam budaya Jawa, dilakukan di awal tahun untuk memastikan keberuntungan berjalan mulus,” tambahnya.</p>



<p>Rangkaian perayaan Imlek nantinya akan dimeriahkan oleh atraksi barongsai dan pertunjukan wayang potehi, serta diakhiri dengan Cap Go Meh. Selain itu, pengunjung juga dapat menikmati tradisi meramal nasib menggunakan bambu dan mencicipi kue keranjang yang melambangkan harapan akan hal-hal manis di tahun mendatang.</p>



<p>&#8220;Kami berharap imlek di tahun ini dan yang akan datang semakin baik, khususnya untuk warga Malang. Semoga warga Malang mendapatkan banyak berkah, Indonesia lebih maju dan semakin makmur,&#8221; imbuh David. <strong>(rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">218629</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
