<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Universitas PGRI Adi Buana &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/universitas-pgri-adi-buana/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 Jan 2019 13:14:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Universitas PGRI Adi Buana &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Rias Pengantin Tradisional Dikemas Modern</title>
		<link>https://memontum.com/rias-pengantin-tradisional-dikemas-modern</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Jan 2019 13:14:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas PGRI Adi Buana]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/74701-rias-pengantin-tradisional-dikemas-modern</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Surabaya &#8211; Merias pengantin tidak dapat dilakukan oleh semua orang.Terlebih memoles wajah calon mempelai dengan beberapa make up secara tradisional. Namun sebanyak 74 mahasiswa semester 5 mata kuliah Indonesia 1 (Jawa Barat – ujung Banyuwangi) dan 2 (ujung Aceh sampai ujung Pulau Dewata Bali), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas PGRI Adi Buana Surabaya [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memontum Surabaya</strong> &#8211; Merias pengantin tidak dapat dilakukan oleh semua orang.Terlebih memoles wajah calon mempelai dengan beberapa make up secara tradisional. </p>
<p>Namun sebanyak 74 mahasiswa  semester 5 mata kuliah Indonesia 1 (Jawa Barat – ujung Banyuwangi) dan 2 (ujung Aceh sampai ujung Pulau Dewata Bali), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas PGRI Adi Buana Surabaya merias 74 model pengantin di waktu bersamaan. </p>
<p>Merias ini untuk menuntaskan Ujian Akhir Semester (UAS) yang mengharuskan mahasiswa praktik secara langsung. Hal ini disampaikan langsung oleh Endah Setyowati, Dosen Tata Rias Pengantin Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, jika pihak kampus telah menyusun kegiatan tersebut dengan kurikulum tata rias pengantin tradisional yang sudah dilakukan secara nasional. </p>
<p>“Jadi semua pengantin yang ada di sini itu adalah namanya pengantin Pakem. Pakem itu sudah dibakukan secara nasional resmi secara nasional tetapi di sini kita sebagai dosen memberikan sentuhan-sentuhan inovasi untuk tata rias wajahnya,” kata Endah saat ditemui di sela-sela acara di Royal Plaza Surabaya, Selasa (22/1/2019).</p>
<p>Menurut Endah, jika merias wajah dengan balutan tradisional dirasa kurang menjual (karyanya kurang). Oleh sebab itu Dosen Tata Rias dan pihak Universitas Adi Buana untuk mengemasnya dengan cara yang berbeda, yakni dengan cara modern yang sekaligus dapat mempelajari 115 gaya dari seluruh Indonesia. </p>
<p>“Pengantin Indonesia itu tidak bisa dikatakan sebagai trend, karena ini sudah bukan pakem. Yang bisa diubah itu adalah tata rias wajahnya yang sudah modern seperti barbie, glowy, mereka (mahasiswa) mengikuti . Tapi kalau busana perhiasan tidak,” ujarnya. </p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">74701</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
