<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Warisan &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/warisan/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Wed, 29 Oct 2025 16:48:46 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Warisan &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Bupati Lumajang Tekankan Pentingnya Batik Sebagai Warisan Budaya kepada Anak Sejak Dini</title>
		<link>https://memontum.com/bupati-lumajang-tekankan-pentingnya-batik-sebagai-warisan-budaya-kepada-anak-sejak-dini</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2025 06:20:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Lumajang]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[bupati]]></category>
		<category><![CDATA[kepada]]></category>
		<category><![CDATA[Pentingnya]]></category>
		<category><![CDATA[sebagai]]></category>
		<category><![CDATA[tekankan]]></category>
		<category><![CDATA[Warisan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=227232</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Lumajang &#8211; Bupati Lumajang, Indah Amperawati, bersama Wakil Bupati, Yudha Adji Kusuma, membuka event Gerakan Nasional Raudhatul Athfal Membatik (Gernasratik), Rabu (29/10/2025) tadi. Gelaran ini, sebuah semangat untuk menjaga warisan leluhur, bahwa batik bukan sekadar kain bermotif indah, melainkan simbol jati diri bangsa yang sarat makna dan nilai filosofis. Sementara kegiatan sendiri, digelar dalam [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Lumajang</strong> &#8211; Bupati Lumajang, Indah Amperawati, bersama Wakil Bupati, Yudha Adji Kusuma, membuka event Gerakan Nasional Raudhatul Athfal Membatik (Gernasratik), Rabu (29/10/2025) tadi.</p>



<p>Gelaran ini, sebuah semangat untuk menjaga warisan leluhur, bahwa batik bukan sekadar kain bermotif indah, melainkan simbol jati diri bangsa yang sarat makna dan nilai filosofis. Sementara kegiatan sendiri, digelar dalam rangka memperingati Milad ke-32 Ikatan Guru Raudhatul Athfal (IGRA) dengan mengusung tema &#8216;Melalui Gerakan Nasional RA Membatik (Gernasratik), Kita Tumbuhkan Generasi Cinta Budaya Bangsa&#8217;.</p>



<p>Bunda Indah-sapaan Bupati Lumajang, dalam sambutannya menegaskan bahwa Gernasratik bukan sekadar kegiatan seni anak-anak, melainkan gerakan kebudayaan yang menghidupkan kembali kesadaran akan pentingnya mencintai produk dan budaya bangsa sendiri. “Anak-anak kita harus dikenalkan pada batik bukan hanya sebagai karya estetika, tetapi sebagai simbol identitas dan filosofi kehidupan. Dalam setiap goresan malam dan warna, ada cerita tentang kesabaran, ketekunan dan cinta tanah air,” ujarnya.</p>



<p>Masih menurut Bunda Indah, membatik adalah bentuk penghargaan terhadap warisan nenek moyang yang berhasil menjadikan kain sebagai media ekspresi nilai dan moral. Dirinya menilai, bahwa dengan memperkenalkan batik sejak dini merupakan cara efektif menanamkan karakter bangsa yang berakar pada kebudayaan lokal.</p>



<p>“Melalui kegiatan seperti ini, kita menanamkan rasa bangga kepada anak-anak bahwa budaya kita luar biasa. Mereka harus tumbuh dengan rasa memiliki dan tanggung jawab untuk melestarikannya,” tambahnya.</p>



<p>Suasana kegiatan berlangsung meriah dan sarat makna. Ratusan anak terlihat antusias mengikuti proses membatik, sementara hasil karya mereka dipamerkan sebagai wujud ekspresi cinta terhadap budaya Indonesia.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>“Kita ingin anak-anak tidak hanya memakai batik, tetapi memahami bahwa setiap lembar batik adalah cerita tentang bangsa kita. Jika sejak kecil mereka sudah mencintainya, maka budaya ini akan terus hidup,” imbuh Bunda Indah.</p>



<p>Sementara itu, Wakil Bupati Lumajang, Yudha Adji Kusuma, menyampaikan kegiatan Gernasratik menjadi bukti nyata kolaborasi antara dunia pendidikan dan kebudayaan. Anak-anak tidak hanya belajar tentang warna dan motif, tetapi juga memahami nilai-nilai luhur yang terkandung dalam setiap corak batik. “Batik mengajarkan kesabaran, ketelitian dan cinta terhadap keindahan yang diciptakan dari proses panjang. Inilah pelajaran budaya yang tidak bisa digantikan oleh teknologi,” kata Wabup Yudha.</p>



<p>Menurutnya, pelestarian batik merupakan bagian dari upaya membangun karakter bangsa di tengah arus globalisasi yang serba instan. Dengan membatik, anak-anak belajar menghargai proses, bukan sekadar hasil.</p>



<p>Kegiatan Gernasratik di Lumajang juga menjadi momentum penting dalam penguatan identitas budaya daerah. Lumajang sendiri dikenal memiliki potensi batik khas yang terus berkembang sebagai produk ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.</p>



<p>Melalui gerakan ini, pemerintah daerah berharap dapat melahirkan generasi yang bangga dan aktif melestarikan budaya bangsa. Pembelajaran membatik di tingkat RA dianggap sebagai langkah awal memperkenalkan nilai-nilai budaya dengan cara yang menyenangkan dan bermakna.</p>



<p>Selain anak-anak, para Guru RA dan pengurus IGRA turut mengambil peran penting sebagai agen pelestari budaya. Mereka tidak hanya mengajarkan teknik membatik, tetapi juga menanamkan makna filosofis di balik setiap motif dan warna.</p>



<p>Melalui Gernasratik, Kabupaten Lumajang meneguhkan komitmennya untuk menjadikan kebudayaan sebagai pondasi pembangunan karakter dan peradaban. Membatik bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga jembatan menuju masa depan yang berakar kuat pada nilai-nilai budaya bangsa. <strong>(kom/adi/gie)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">227232</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Dukung Pencak Silat sebagai Warisan Budaya, Wali Kota Malang Dianugerahi Gelar Pendekar IPSI</title>
		<link>https://memontum.com/dukung-pencak-silat-sebagai-warisan-budaya-wali-kota-malang-dianugerahi-gelar-pendekar-ipsi</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 19 Jul 2025 05:40:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[dianugerahi]]></category>
		<category><![CDATA[dukung]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>
		<category><![CDATA[pencak]]></category>
		<category><![CDATA[pendekar]]></category>
		<category><![CDATA[sebagai]]></category>
		<category><![CDATA[Warisan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=224108</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, diangkat menjadi Pendekar Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kota Malang. Pengangkatan itu diberikan, saat dirinya membuka Kejuaraan Pencak Silat Malang Championship 5 tahun 2025, di GOR Ken Arok, Kota Malang, Sabtu (19/07/2025) tadi. Pelaksanaan pengangkatan tersebut, didasarkan pada Surat Keputusan IPSI Kota Malang Nomor: 60/097/PK.18XA/VII/2025 tanggal [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, diangkat menjadi Pendekar Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kota Malang. Pengangkatan itu diberikan, saat dirinya membuka Kejuaraan Pencak Silat Malang Championship 5 tahun 2025, di GOR Ken Arok, Kota Malang, Sabtu (19/07/2025) tadi.</p>



<p>Pelaksanaan pengangkatan tersebut, didasarkan pada Surat Keputusan IPSI Kota Malang Nomor: 60/097/PK.18XA/VII/2025 tanggal 19 Juli 2025, yang menetapkan Wali Kota Wahyu sebagai Pendekar IPSI Kota Malang. “Ini adalah gelar kehormatan bagi saya. Sejak kecil saya sudah mengikuti pencak silat, jadi tentu saya sangat mengapresiasi gelar Pendekar ini dan tentunya juga menambah tanggung jawab saya untuk terus mendukung pengembangan pencak silat di Kota Malang,&#8221; kata Wali Kota Wahyu.</p>



<p>Ditambahkannya, bahwa dirinya memang memiliki latar belakang dalam dunia pencak silat, khususnya melalui organisasi Perisai Diri. Dimana sebelumnya, pernah menjadi anggota dan kini tercatat sebagai anggota kehormatan.</p>



<p>&#8220;Selain itu saya juga aktif dalam mendukung berbagai agenda pencak silat, termasuk Kejuaraan IPSI dan ajang Porprov Jatim IX yang digelar di Kota Malang,&#8221; ujarnya.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Wali Kota Wahyu berharap, dalam kejuaraan Malang Championship 5 kali ini mampu melahirkan bibit-bibit atlet potensial yang dapat mengharumkan nama Kota Malang. Bahkan Indonesia di level nasional dan internasional.</p>



<p>“Mari jadikan kejuaraan ini sebagai momentum untuk membangun masa depan pencak silat yang lebih gemilang,” tambahnya.</p>



<p>Tak hanya itu, Wali Kota Wahyu juga mendorong semangat juang dan sportivitas. Apalagi, dalam kejuaraan kali ini tidak hanya memperebutkan Piala Wali Kota Malang saja, tetapi juga Piala Menteri Pemuda dan Olah Raga Republik Indonesia.</p>



<p>“Setiap pertandingan adalah pengalaman berharga untuk meningkatkan kemampuan sekaligus memperkuat mental juara,” tegasnya.</p>



<p>Wali Kota Wahyu juga menekankan, bahwa pencak silat bukan sekadar olah raga bela diri, tetapi juga warisan budaya yang mengandung nilai-nilai luhur bangsa. &#8220;Bagi para pelatih dan official, mari terus berikan bimbingan dan teladan yang baik. Ajarkan disiplin, integritas, serta nilai-nilai luhur pencak silat sebagai bagian dari budaya bangsa,&#8221; imbuh Wali Kota Wahyu. <strong>(kom/rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">224108</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Makanan Khas Lumajang, Krecek Rebung Ditetapkan Warisan Budaya Takbenda Indonesia</title>
		<link>https://memontum.com/makanan-khas-lumajang-krecek-rebung-ditetapkan-warisan-budaya-takbenda-indonesia</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 Nov 2024 05:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar Desa]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[ditetapkan]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[krecek]]></category>
		<category><![CDATA[Lumajang]]></category>
		<category><![CDATA[makanan]]></category>
		<category><![CDATA[rebung]]></category>
		<category><![CDATA[takbenda]]></category>
		<category><![CDATA[Warisan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=216763</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Lumajang &#8211; Kabupaten Lumajang, kembali menorehkan kebanggaan di kancah nasional. Salah satu kuliner tradisional khasnya, Krecek Rebung, resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Sabtu (16/11/2024) lalu. Pengakuan ini, tentunya menjadi bukti keunikan dan kekayaan budaya lokal Lumajang yang terus dilestarikan. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Lumajang, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Lumajang</strong> &#8211; Kabupaten Lumajang, kembali menorehkan kebanggaan di kancah nasional. Salah satu kuliner tradisional khasnya, Krecek Rebung, resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Sabtu (16/11/2024) lalu. Pengakuan ini, tentunya menjadi bukti keunikan dan kekayaan budaya lokal Lumajang yang terus dilestarikan.</p>



<p>Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Lumajang, Nugraha Yudha, mengatakan bahwa penetapan ini bukan hanya penghargaan terhadap kuliner, tetapi juga apresiasi atas warisan budaya yang kaya akan nilai sejarah dan tradisi. “Krecek Rebung memiliki sejarah panjang dalam budaya kuliner masyarakat Pasrujambe dan sekitarnya. Proses pembuatannya yang rumit, dari pemilihan rebung hingga pengasapan tradisional, menjadi ciri khas yang membuatnya berbeda dari produk serupa di daerah lain,” kata Yudha, Kamis (21/11/2024) tadi.</p>



<p>Dengan statusnya sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, Krecek Rebung tidak hanya menjadi simbol kebanggaan lokal tetapi juga tanggung jawab besar untuk terus melestarikannya.</p>



<p>Nugraha Yudha berharap, penetapan ini dapat mendorong masyarakat, terutama generasi muda, untuk lebih mencintai dan menjaga kekayaan budaya lokal. “Melalui pengakuan ini, kami ingin mengajak masyarakat Lumajang untuk terus menjaga tradisi ini agar tidak punah. Kami juga mendorong pelaku UMKM untuk memanfaatkan momentum ini dalam memperkenalkan Krecek Rebung ke tingkat nasional dan internasional,” tambahnya.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Krecek Rebung, yang sekilas menyerupai daging, berbahan dasar bambu muda jenis jajang atau petung. Proses pembuatannya terbilang panjang dan unik. Rebung yang telah direbus selama 2-3 jam dipotong kecil, ditusuk seperti sate, kemudian diasapi secara tradisional selama satu hingga dua bulan di atas tungku.</p>



<p>“Pengasapan ini adalah rahasia kelezatan Krecek Rebung Lumajang. Lama pengasapan menentukan kualitas rasa. Semakin lama diasapi, semakin enak dan tahan lama,” terang Lukman, pembuat Krecek Rebung asal Dusun Krajan, Desa Pasrujambe.</p>



<p>Untuk penyajian, masyarakat Lumajang biasanya mengolah Krecek Rebung dengan santan dan bumbu opor. Hidangan ini, semakin lengkap dengan tambahan lontong, sambal petis, bubuk kedelai dan telur goreng.</p>



<p>“Rasa khas Krecek Rebung Lumajang tidak bisa ditemukan di tempat lain karena proses pengolahannya menggunakan metode tradisional. Itu yang membuat rasanya istimewa,” tambah Lukman.</p>



<p>Krecek Rebung adalah bukti nyata bahwa kekayaan budaya lokal bisa menjadi identitas yang membanggakan sekaligus potensi ekonomi yang menjanjikan bagi Kabupaten Lumajang. <strong>(kom/adi/gie)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">216763</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Sebagai Warisan Batik Khas Banyuwangi, Motif Batik Gajah Oling Miliki KIK dari Kemenkumham</title>
		<link>https://memontum.com/sebagai-warisan-batik-khas-banyuwangi-motif-batik-gajah-oling-miliki-kik-dari-kemenkumham</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Oct 2024 06:20:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Banyuwangi]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[Kemenkumham]]></category>
		<category><![CDATA[miliki]]></category>
		<category><![CDATA[sebagai]]></category>
		<category><![CDATA[Warisan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=215622</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Banyuwangi &#8211; Motif Batik Gajah Oling khas Banyuwangi resmi mendapat surat pencatatan inventarisasi Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) dari Kementrian Hukum dan HAM (Kemenkumham). Motif Gajah Oling tercatat sebagai Ekspresi Budaya Tradisional (EBT) asli Banyuwangi. &#8220;Kita semua sangat bersyukur. Motif Batik Gajah Oling sudah sah secara hukum diakui berasal dari Banyuwangi. Kita akan terus dorong [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Banyuwangi</strong> &#8211; Motif Batik Gajah Oling khas Banyuwangi resmi mendapat surat pencatatan inventarisasi Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) dari Kementrian Hukum dan HAM (Kemenkumham). Motif Gajah Oling tercatat sebagai Ekspresi Budaya Tradisional (EBT) asli Banyuwangi.</p>



<p>&#8220;Kita semua sangat bersyukur. Motif Batik Gajah Oling sudah sah secara hukum diakui berasal dari Banyuwangi. Kita akan terus dorong motif-motif batik lain untuk segera dicatatkan pula,” kata Plt Bupati Banyuwangi, Minggu (20/10/2024) tadi.</p>



<p>Gajah Oling sendiri, merupakan satu dari puluhan motif batik yang ada di Banyuwangi. Motif ini, bisa dibilang paling populer dibanding motif lainnya. Gajah Oling merupakan perpaduan dari gambaran gajah dan uling atau sejenis belut.</p>



<p>Ada beberapa pendapat dalam memaknai motif ini. Namun, yang paling terkenal adalah perlambang dari mengingat Tuhan. Oling adalah pasemon dari kata iling (ingat), sedangkan gajah adalah simbol dari sesuatu yang besar yang tak lain adalah Tuhan Yang Mahakuasa.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Dikatakan Pj Bupati Sugirah, dengan dicatatkannya motif Gajah Oling, maka telah menjadi bukti bahwa batik telah lama menjadi bagian dari seni budaya Banyuwangi. Pemkab Banyuwangi beserta stakeholder lain tentunya harus merasa memiliki tanggung jawab besar untuk melestarikan batik di daerahnya.</p>



<p>Event Banyuwangi Batik Festival (BBF) 2024, kata Pj Bupati Sugirah, merupakan salah satu contoh keseriusan Pemkab Banyuwangi dalam melestarikan dan menjadikan Batik Banyuwangi untuk berkembang industrinya. Dimana pada tahun 2024, BBF mengangkat salah satu motif lawas Batik Banyuwangi, yakni Jenon. Sebelumnya, BBF juga mengangkat motif Gajah Oling, Galaran, Sembruk Cacing, Gedekan, Kangkung Setingkes, Paras Gempal dan Jajang Sebarong, hingga Sekar Jagad Blambangan.</p>



<p>“Satu persatu setiap tahunnya motif-motif khas Banyuwangi kita angkat dalam BBF, mulai tahun 2013. Diawali dari Gajah Oling, lalu Kangkung Setingkes, Paras Gempol, Sekar Jagad Blambangan, Kopi Pecah, hingga tahun ini Jenon. Ini adalah kekayaan warisan leluhur yang harus kita jaga, lestarikan dan kembangkan,” terang Pj Bupati Sugirah.</p>



<p>Beragamnya motif batik yang dimiliki, akan terus didorong dan difasilitasi Pemkab Banyuwangi untuk disahkan sebagai kekayaan intelektual komunal dari Kemenkumham. “Ke depan Pemkab akan terus mengupayakan pengakuan hukum atas keanekaragaman budaya Banyuwangi, termasuk motif batik khas-nya,” tambahnya. <strong>(kom/bwi/gie)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">215622</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Komunitas Jamus Kalimosodo Wajak, Pertahankan Warisan Budaya melalui Musik Tradisional</title>
		<link>https://memontum.com/komunitas-jamus-kalimosodo-wajak-pertahankan-warisan-budaya-melalui-musik-tradisional</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 02 Mar 2024 06:50:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar Desa]]></category>
		<category><![CDATA[Kabupaten Malang]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[kalimosodo]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[melalui]]></category>
		<category><![CDATA[pertahankan]]></category>
		<category><![CDATA[tradisional]]></category>
		<category><![CDATA[wajak]]></category>
		<category><![CDATA[Warisan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=207178</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Komunitas musik Jamus Kalimosodo, asal Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, terus berupaya mempertahankan dan mengembangkan warisan budaya Indonesia melalui aliran musik tradisional Jawa. Dibentuk sejak tahun 2012, komunitas itu telah menjadi rumah bagi 52 anggota dari berbagai kalangan usia, bahkan termasuk anak-anak sekolah dasar dan menengah pertama. Ketua Komunitas Jamus Kalimosodo, Supriyanto, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Komunitas musik Jamus Kalimosodo, asal Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, terus berupaya mempertahankan dan mengembangkan warisan budaya Indonesia melalui aliran musik tradisional Jawa. Dibentuk sejak tahun 2012, komunitas itu telah menjadi rumah bagi 52 anggota dari berbagai kalangan usia, bahkan termasuk anak-anak sekolah dasar dan menengah pertama.</p>



<p>Ketua Komunitas Jamus Kalimosodo, Supriyanto, menyampaikan bahwa ide terbentuknya komunitas tersebut berawal dari keisengan kumpul bersama dengan duduk santai tiap sore dan malam. Kemudian, berkembang menjadi kegiatan ronda malam yang dilakukan sambil bermain musik.</p>



<p>“Kami selalu njagong (duduk,red) nyantai tiap sore, kemudian ada ide dari kawan-kawan untuk membuat ronda malam. Nah, dari situ lama-lama kita tambah alat musiknya dan kita padukan dengan alat musik yang lain,” ujar Supriyanto, Sabtu (02/03/2024) tadi.</p>



<p>Hanya dengan mengenakan alat musik kentongan bambu yang dipadukan dengan drum band, komunitas tersebut telah aktif tampil diberbagai acara hingga luar kota. Bahkan, juga sampai meraih kejuaraan di beberapa lomba yang diikuti.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>“Dari tahun 2012 kami sudah pernah diundang di 800 lebih kegiatan, sampai ke luar kota juga seperti Surabaya, Tulungagung, Blitar hingga Kediri. Kami juga sudah pernah juara di Festival Patrol tingkat Kecamatan Wajak, itu juara satu dari 23 grup. Kemudian pernah juara 2 lomba musik patrol Ramadan di Krida Budaya, tingkat Kabupaten Malang. Kemudian pernah ikut kegiatan lomba juga di Makodam V Brawijaya, saat itu masih masa kepemimpinan Gubernur Jawa Timur, Soekarwo,” ucapnya.</p>



<p>Meskipun latihan musik dilakukan saat menjelang event-event tertentu, Komunitas Jamus Kalimosodo selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik. Bahkan, juga tidak pernah menggunakan guru dari luar, semua aransemen musik murni hasil dari kolaborasi anggota komunitas itu sendiri.</p>



<p>“Kita latihannya jarang-jarang, tapi kalau ada event-event tertentu kita biasanya 2 sampai 3 kali. Kita selalu kerja sama dan semuanya murni dari anggota, kita berlatih bersama,” paparnya.</p>



<p>Diakhir, Supriyanto menyampaikan bahwa motivasi utama dari komunitasnya adalah untuk memberikan wadah kepada generasi muda untuk mengembangkan dan melestarikan musik tradisional daerah. Meskipun belum mendapatkan dukungan moril dari Pemerintah Kabupaten Malang, Paguyuban Jamus Kalimosodo tetap semangat dan berharap dapat terus berkarya dan memberikan kontribusi bagi pelestarian budaya Indonesia. <strong>(rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">207178</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Upacara Adat Ngetung Batih di Trenggalek Ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda</title>
		<link>https://memontum.com/upacara-adat-ngetung-batih-di-trenggalek-ditetapkan-sebagai-warisan-budaya-tak-benda</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 2]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Nov 2023 03:20:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[Surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[Trenggalek]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[ditetapkan]]></category>
		<category><![CDATA[ngetung]]></category>
		<category><![CDATA[sebagai]]></category>
		<category><![CDATA[upacara]]></category>
		<category><![CDATA[Warisan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=200812</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Trenggalek &#8211; Upacara Adat Ngetung Batih, sebuah tradisi adat masyarakat Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek, telah resmi dinyatakan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). Upacara adat ini, masuk dalam kategori adat istiadat oleh Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi Republik Indonesia. Sertifikat penghargaan untuk warisan budaya, ini diberikan oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Trenggalek</strong> &#8211; Upacara Adat Ngetung Batih, sebuah tradisi adat masyarakat Kecamatan Dongko, Kabupaten Trenggalek, telah resmi dinyatakan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). Upacara adat ini, masuk dalam kategori adat istiadat oleh Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi Republik Indonesia.</p>



<p>Sertifikat penghargaan untuk warisan budaya, ini diberikan oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, kepada Sekretaris Daerah Kabupaten Trenggalek, Edy Soepriyanto, dalam rangka East Java Tourism Awards 2023, yang berlangsung di Taman Chandra Wilwatikta, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan.</p>



<p>&#8220;Alhamdulillah, upacara adat Ngetung Batih asli Kecamatan Dongko sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda dari Kementerian. Ini tentu sangat membanggakan,&#8221; kata Sekda Edy saat dikonfirmasi, Kamis (02/11/2023) tadi.</p>



<p><strong>Baca juga:</strong></p>





<p>Diketahui, dalam Bahasa Jawa, Ngitung Batih memiliki arti menghitung keluarga (batih). Diharapkan, dengan berkumpulnya seluruh anggota keluarga ini dapat membawa keberkahan dan kemudahan dalam mencari rezeki.</p>



<p>Setiap tahun, Ngitung Batih dilaksanakan bertepatan dengan penanggalan tahun baru 1 Muharam atau 1 Suro oleh masyarakat Kecamatan Dongko. Upacara tersebut, diawali dengan kirab dayang-dayang yang membawa takir plontang (makanan dalam mangkuk daun). Serta tumpeng dari jalan raya Dongko menuju pendapa kecamatan.</p>



<p>Kemudian, upacara dilanjutkan dengan murwakala dengan harapan doa bersama agar dijauhkan dari marabahaya. Lalu dayang-dayang yang juga mengisi rangkaian prosesi menjadi perwujudan dari anggota keluarga yang hadir.</p>



<p>&#8220;Semoga apa yang sudah kita raih ini membawa berkah kepada semua masyarakat utamanya di Kabupaten Trenggalek. Dan warisan budaya ini bisa dilestarikan dan diturunkan kepada anak cucu kita nanti,&#8221; harapnya.</p>



<p>Kearifan lokal dalam ragam kegiatannya, memiliki filosofi dan sarat makna. Termasuk, simbol kebaikan ekonomi dengan melepaskan ayam yang kemudian diperebutkan oleh warga untuk dipelihara agar bisa berkembang biak untuk menambah penghasilan.</p>



<p>Tidak heran, prosesi adat Ngitung Batih ini selalu menjadi daya tarik masyarakat. Selain berbagai kegiatan, adat Ngitung Batih secara tidak langsung menjadi sarana komunikasi antar masyarakat di sepuluh desa tersebut. Dengan tidak mengurangi kesakralannya, adat Ngitung Batih menjadi wisata budaya dan diharapkan berdampak pada perekonomian masyarakat. <strong>(mil/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">200812</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kenang Warisan Budaya Panji, 120 Delegasi ASEAN Kunjungi Museum Mpu Purwa Kota Malang</title>
		<link>https://memontum.com/kenang-warisan-budaya-panji-120-delegasi-asean-kunjungi-museum-mpu-purwa-kota-malang</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 19 Oct 2023 09:35:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[delegasi]]></category>
		<category><![CDATA[kenang]]></category>
		<category><![CDATA[kunjungi]]></category>
		<category><![CDATA[malang]]></category>
		<category><![CDATA[Museum]]></category>
		<category><![CDATA[panji,]]></category>
		<category><![CDATA[Warisan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=200055</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Dalam rangka mengenang warisan Budaya Panji, sebanyak 120 orang dari sembilan Negara di Asia mengunjungi Museum Mpu Purwa, yang terletak di Jalan Soekarno Hatta, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Kamis (19/10/2023) tadi. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang, Suwarjana, menyampaikan jika kunjungan tersebut merupakan bagian dari kegiatan ASEAN Panji Festival [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong><a href="http://memontum.com" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Memontum</a> Kota Malang</strong> &#8211; Dalam rangka mengenang warisan Budaya Panji, sebanyak 120 orang dari sembilan Negara di Asia mengunjungi Museum Mpu Purwa, yang terletak di Jalan Soekarno Hatta, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Kamis (19/10/2023) tadi.</p>



<p>Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang, Suwarjana, menyampaikan jika kunjungan tersebut merupakan bagian dari kegiatan ASEAN Panji Festival yang diselenggarakan di enam daerah di Indonesia. &#8220;Mereka ini dari negara ASEAN, yang di dalamnya ada dari Indonesia, Vietnam, Laos, Myanmar, Kamboja, Thailand, Singapore (minus Brunei dan Timor Leste). Rombongan itu sudah dari tanggal 13 Oktober kemarin mengikuti pembukaan di Jogja dan kemarin di Surabaya serta mulai hari ini sampai 21 Oktober nanti akan ada di Malang,” jelas Suwarjana.</p>



<p>Ditambahkan Suwarjana, melalui kegiatan tersebut diharapkan nantinya dapat mempersatukan negara-negara yang ada di ASEAN. Terlebih, juga untuk pengenalan budaya kepada para generasi muda.</p>



<p>&#8220;Karena bagaimanapun juga, sekarang dengan perkembangan zaman, anak-anak kita kan sudah lupa terhadap kebudayaan. Padahal kebudayaan ini berguna untuk menumbuhkan karakter anak. Apalagi di kurikulum merdeka sekarang ini anak-anak harus berani tampil kreatif. Tentu harapan kami dengan festival ini anak-anak bisa mengetahui, harus belajar dan ini sangat luar biasa antusiasmenya,&#8221; jelasnya.</p>



<p><strong>Baca juga :</strong></p>





<p>Dipilihnya Museum Mpu Purwa tersebut, lanjutnya, karena Kota Malang juga menjadi salah satu pelestari budaya dan telah ditunjuk menjadi salah satu tuan rumah. Sebelumnya, mereka juga telah mengunjungi dan dikenalkan ke Kampung Kayutangan Heritage, Kota Malang.</p>



<p>&#8220;Nanti malam mereka akan ke Museum Ganesya. Kemudian di hari Sabtu (21/10/2023) mendatang, juga ada penampilan di Balai Kota. Jadi dari 8 negara ini mau menampilkan sebuah cerita Panji. Karena ternyata Panji ini tidak hanya dipunyai oleh Indonesia, tapi bahkan di ASEAN juga,&#8221; tambahnya.</p>



<p>Sementara itu, Koordinator Kelompok Kerja Diplomasi Budaya Dit PPK Kemendikbudristek, Yusmawati,, menyampaikan jika kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka 5 tahun panji diakui sebagai Memory of the Word. &#8220;Sebagai bentuk perawatan dan telah diakui Unesco maka kita melakukan perawatan dengan pelestarian bagaimana dia terus dikembangkan ceritanya di masyarakat agar terus hidup untuk bagaimana pelaku seni, ekosistemnya agar tetap hidup. Kota Malang dipilih karena termasuk kota panji,&#8221; ujar Yusmawati.</p>



<p>Selain itu, sebagai salah satu delegasi dari Myanmar, Jooh, menyampaikan jika pihaknya sangat menikmati dalam festival panji tersebut. Sebab, menurutnya bisa bertemu dengan banyak orang Asia dan bisa bertukar bermacam-macam budaya yang ada.</p>



<p>&#8220;Tentu sangat menikmati event ini. Kota Malang juga sangat bagus dan wonderful. Apalagi makanannya juga enak-enak,&#8221; imbuh Jooh. <strong>(rsy/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">200055</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Buka Jambore Batik 2023, Bupati Jember dan Wagub Jatim Ingatkan Warisan Leluhur Kelas Dunia</title>
		<link>https://memontum.com/buka-jambore-batik-2023-bupati-jember-dan-wagub-jatim-ingatkan-warisan-leluhur-kelas-dunia</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum 2]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 28 Jul 2023 12:20:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jember]]></category>
		<category><![CDATA[Pemerintahan]]></category>
		<category><![CDATA[Batik]]></category>
		<category><![CDATA[buka]]></category>
		<category><![CDATA[bupati]]></category>
		<category><![CDATA[dunia]]></category>
		<category><![CDATA[ingatkan]]></category>
		<category><![CDATA[Jambore]]></category>
		<category><![CDATA[Jatim]]></category>
		<category><![CDATA[kelas]]></category>
		<category><![CDATA[leluhur]]></category>
		<category><![CDATA[pemerintahan]]></category>
		<category><![CDATA[Wagub]]></category>
		<category><![CDATA[Warisan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=194531</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Jember &#8211; Bupati Jember, Hendy Siswanto, membuka Jambore Batik 2023 di Wisata Puncak Rembangan, Jumat (28/07/2023) sore. Hadir dalam kegiatan itu, Wakil Gubernur Jawa Timur (Wagub Jatim), Emil Elestianto Dardak, sejumlah pimpinan OPD Jember, camat hingga para pembatik se Jawa Timur. Dalam sambutannya, bupati mengajak agar setiap pembatik untuk bisa mengeksplore Kabupaten Jember. &#8220;Silahkan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Jember</strong> &#8211; Bupati Jember, Hendy Siswanto, membuka Jambore Batik 2023 di Wisata Puncak Rembangan, Jumat (28/07/2023) sore. Hadir dalam kegiatan itu, Wakil Gubernur Jawa Timur (Wagub Jatim), Emil Elestianto Dardak, sejumlah pimpinan OPD Jember, camat hingga para pembatik se Jawa Timur.</p>



<p>Dalam sambutannya, bupati mengajak agar setiap pembatik untuk bisa mengeksplore Kabupaten Jember. &#8220;Silahkan berkeliling, karena ada wisata juga yang bisa dinikmati. Semua wisata di Jatim memang luar biasa. Tapi, berikan saran untuk wisata di Jember, agar lebih bagus lagi,&#8221; kata Bupati Hendy.</p>



<p>Lebih lanjut bupati menambahkan, bahwa Jambore Batik Ke-3 ini menjadi semangat Pemerintah Kabupaten Jember, untuk lebih siap melayani perhelatan Jambore Ke-4. &#8220;Kami siap jika Jambore Batik Ke-4, akan kembali dilaksanakan di Jember,&#8221; tegas Bupati Hendy.</p>



<p>Dirinya pun menjelaskan, bahwa pihaknya juga sangat peduli dengan batik yang sudah merupakan bagian budaya di Indonesia. &#8220;Kami ini sangat care dengan batik, karena itu merupakan kearifan lokal yang merupakan kekuatan budaya untuk anak cucu kita. Jadi, Parade Batik 2023 merupakan kesempatan yang tepat untuk mengawal. Jadi, harus serius agar batik bisa bertahan,&#8221; tuturnya.</p>



<p><strong>Baca Juga :</strong></p>





<p>Jambore Batik sendiri, ujarnya, di samping untuk mendongkrak ekonomi juga sebagai bentuk untuk mengenalkan budaya. &#8220;Kalau lupa dengan budaya, akan menjadi masalah besar. Semoga kegiatan hari ini, menjadi kegiatan yang berkah,&#8221; paparnya.</p>



<p>Sementara itu, Wagub Jatim menambahkan bahwa pihaknya sangat senang lantaran dapat hadir dalam Jambore Batik. Belum lagi, dirinya juga sangat terkesan dengan kepedulian Bupati Hendy.</p>



<p>&#8220;Bupati Hendy ini ngopeni Jember tenanan,&#8221; tegasnya.</p>



<p>Wagub juga mengomentari, bahwa batik ini merupakan warisan nenek luhur yang bisa memegang kelas dunia. &#8220;Oleh karena itu, kita perlu bangga. Motif dan corak yang ada di sini merupakan kreativitas yang sangat beragam. Ke depan, mari kita lebih optimis lagi. Pengrajin batik jangan ragu menggenjot produksi dan kreasinya. Ekonomi kita akan terus pulih. Kalau ekonomi pulih, masyarakat bakal lebih makmur,&#8221; urainya.<strong> (kom/rio/gie)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">194531</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Ontalan, Tradisi Masyarakat Lumajang Keturunan Madura</title>
		<link>https://memontum.com/ontalan-tradisi-masyarakat-lumajang-keturunan-madura</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 20 Feb 2021 11:12:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar Desa]]></category>
		<category><![CDATA[kabupaten lumajang]]></category>
		<category><![CDATA[Lumajang]]></category>
		<category><![CDATA[memontum]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[Tari]]></category>
		<category><![CDATA[Video]]></category>
		<category><![CDATA[Warisan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=135080</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Lumajang &#8211; Ontalan adalah sebuah tradisi masyarakat Kabupaten Lumajang, Jawa Timur yang hingga kini masih dilestarikan. Tradisi ini telah turun temurun selalu dilakukan pada saat acara pertunangan atau perkawinan khususnya bagi masyarakat Suku Madura. Seperti di Kampung Jatilan, Desa Tegal Randu, Kecamatan Klakah. Sebuah acara pertunangan dirumah salah seorang warga yang lagi ramai melakukan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p></p>



<p><strong>Memontum Lumajang</strong> &#8211; Ontalan adalah sebuah tradisi masyarakat Kabupaten Lumajang, Jawa Timur yang hingga kini masih dilestarikan. Tradisi ini telah turun temurun selalu dilakukan pada saat acara pertunangan atau perkawinan khususnya bagi masyarakat Suku Madura.</p>



<p>Seperti di Kampung Jatilan, Desa Tegal Randu, Kecamatan Klakah. Sebuah acara pertunangan dirumah salah seorang warga yang lagi ramai melakukan tradisi Ontalan, Sabtu (20/02) sore.</p>



<p>&#8220;Kita dari Desa Mlawang mas, bersama rombongan mengantar keluarga wanita ke rumah calon atau tunangan pria. Beberapa waktu lalu keponakan saya dilamar, jadi sekarang kita gantian kesini,&#8221; kata Karto.</p>



<p>Dia menceritakan, di Klakah sudah lazim setiap acara pertunangan ataupun pernikahan tradisi Ontalan selalu dilakukan. Hari ini ada acara pertunangan, yang menggunakan tradisi Ontalan. “Untuk itu tradisi ini perlu dilestarikan, karena tidak semua daerah ada. Ini warisan leluhur,&#8221; ungkap Karto.</p>



<figure class="wp-block-video"><video controls src="https://s3-id-jkt-1.kilatstorage.id/memontum/2021/02/VID-20210220-WA0038.mp4"></video></figure>



<p><strong>Baca juga : </strong><a href="https://memontum.com/132195-proses-14-tahun-lahirkan-buku-tentang-budaya-topeng-malang" data-type="URL" data-id="https://memontum.com/132195-proses-14-tahun-lahirkan-buku-tentang-budaya-topeng-malang" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Proses 14 Tahun, Lahirkan Buku Tentang Budaya Topeng Malang</a></p>



<p>Kata Ontalan dari bahasa Madura yang berarti melempar, dilakukan oleh sanak saudara dan handai taulan ketika pengantin atau tunangan wanita datang ke rumah si pria.</p>



<p>Pasca keluarga pria menyambut kedatangan rombongan keluarga wanita, dengan didahului dengan serah terima atau sambutan dari kedua belah pihak dan terkadang juga ada ceramah agama dari alim ulama. Setelah acara makan bersama kedua mempelai dipersilahkan untuk duduk berdua di kursi depan rumah atau teras.</p>



<p>Di depan kedua mempelai ditaruh sebuah nampan atau wadah. Pada saat itu semua kerabat dan handai taulan dari keluarga pria memberikan uang secara bergantian dengan menaruh pada sebuah wadah yang telah dipersiapkan. Bahkan ada yang menghias uang lalu mengalungkannya pada si wanita.</p>



<p>Setelah semua orang selesai melakukan Ontalan, uang tersebut dihitung ramai-ramai lalu dibungkus dan diberikan pada mempelai wanita. Acara tersebut sangat unik, maka bagi anda para wanita yang mendapatkan tunangan atau suami orang Lumajang. Jangan kaget jika nanti disambut dengan tradisi Ontalan. (adi/ed2)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://s3-id-jkt-1.kilatstorage.id/memontum/2021/02/VID-20210220-WA0038.mp4" length="218" type="video/mp4" />

		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">135080</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
