<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Wisata Siti Sundari &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/wisata-siti-sundari/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Mon, 23 Nov 2020 05:43:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Wisata Siti Sundari &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Pola Pengelolaan Wisata Siti Sundari Dipertanyakan Warga</title>
		<link>https://memontum.com/pola-pengelolaan-wisata-siti-sundari-dipertanyakan-warga</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum Editorial Team 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Nov 2020 05:43:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[Kesejahteraan Masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Siti Sundari]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=128099</guid>

					<description><![CDATA[Masyarakat Sekitar Merasa Dipinggirkan Memontum Lumajang &#8211; Tempat Wisata Siti Sundari di Dusun Karang Anyar, Desa Burno, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, kini sudah dikenal masyarakat luas. Hanya saja, seiring terkenalnya wisata itu, ternyata kurang begitu membawa sisi positif untuk masyarakat. Meski awalnya, masyarakat mengaku dilibatkan selama dalam proses pengembangan. &#8220;Pertama kali diajak kerjasama bareng-bareng, seperti [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h3><strong>Masyarakat Sekitar Merasa Dipinggirkan</strong></h3>
<p><strong>Memontum Lumajang</strong> &#8211; Tempat Wisata Siti Sundari di Dusun Karang Anyar, Desa Burno, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, kini sudah dikenal masyarakat luas. Hanya saja, seiring terkenalnya wisata itu, ternyata kurang begitu membawa sisi positif untuk masyarakat. Meski awalnya, masyarakat mengaku dilibatkan selama dalam proses pengembangan.</p>
<p>&#8220;Pertama kali diajak kerjasama bareng-bareng, seperti kerja bakti. Tapi kenyataannya, setelah sudah jadi tempat wisata, ternyata cuma satu-dua orang saja yang dilibatkan. Jadi yang dulunya ikut kerja bakti, banyak yang tidak menikmati hasil Wisata Siti Sundari, yang sekarang sudah ramai ini,&#8221; kata Tokoh Masyarakat, Sumar, kepada Memontum.com.</p>
<p>Ketika ditanya, apakah mereka yang menempati lahan tersebut merupakan orang-orang yang punya uang, sehingga mampu membeli lahan dan mendapatkan fasilitas? Dirinya mengatakan, terkait masalah itu, warga masyarakat juga bingung. Masalahnya, cara begitu itu, disini umumnya rahasia-rahasia saja.</p>
<p>&#8220;Semua diam-diam saja. Jadi tidak jujur sepertinya,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>Ditambahkan, Wisata Siti Sundari harusnya untuk menyejahterakan masyarakat sekitar. Namun faktanya, banyak masyarakat dari luar daerah yang memiliki lapak dan menempati lahan tersebut.</p>
<p>&#8220;Jane kados wisata niku lak kangge kesejahteraan masyarakat ngriki, antara Burno lah saget. Tapi kenyata&#8217;ane namung setunggal kale seng diparingi lokasi, seng katah niku tiyang jawi (Harusnya Siti Sundari adalah untuk kesejahteraan masyarakat di sini, antara Burno lah mungkin. Namun faktanya hanya satu dua yang diberi lokasi, kebanyakan adalah orang luar,&#8221; terangnya.</p>
<p>Ketua LMDH Wono Lestari, Edi Santoso, ketika dikonfirmasi mengatakan kalau konsep wisata Siti Sundari adalah ekowisata. Di mana, keterlibatan masyarakat secara keseluruhan. Dahulu, sudah melakukan kegiatan, tapi tidak ada pengunjung waktu itu.</p>
<p>&#8220;Sehingga, sekarang konsep ekowisata berbasis masyarakat dan komunitas. Komunitas ini yang selalu melakukan kegiatan di dalam hutan pangkuan LMDH Wonolestari,&#8221; katanya.</p>
<p>Terkait lapak atau kios di Siti Sundari yang banyak dihuni orang luar Karang Anyar, Edi Santoso menyatakan, kios tersebut memang di prioritaskan untuk komunitas. Sementara masyarakat kiosnya kuliner dan bagian jagawana.</p>
<p>&#8220;Waktu perencanaan, komunitaas ini kami prioritaskan ada kiosnya. Kalau masyarakat, kan kiosnya kuliner atau warung. Masyarakat ini adalah jaga wana, salah satunya parkir. Ada jasa-jasa kuda, permainan-permainan, Jagawana itu bukan komunitas sebenarnya, masyarakat setempat,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Edi menambahkan, bahwa ada tujuh komunitas yang terlibat dalam Wisata Siti Sundari. Diantaranya Trail, Raja Giri, MKD, Jeep, Dunhil dan lainnya.<strong> (adi/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">128099</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Perhutani Lumajang Sebut Usulan Awal Penebangan 7,5 Hektare</title>
		<link>https://memontum.com/perhutani-lumajang-sebut-usulan-awal-penebangan-75-hektare</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum Editorial Team 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Nov 2020 10:20:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[alas burno]]></category>
		<category><![CDATA[kabupaten lumajang]]></category>
		<category><![CDATA[penebangan pohon]]></category>
		<category><![CDATA[Perhutani]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Siti Sundari]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=127128</guid>

					<description><![CDATA[Tebang Kayu di Kawasan Alas Burno 3,3 Hektare Memontum Lumajang &#8211; Wakil Kepala (Waka) Administratur/KSKPH Perhutani Lumajang, Marhaendro Bagyo Sungkowo, akhirnya ikut angkat bicara terkait penebangan kayu yang dilakukan di kawasan Alas Burno Hutan Damaran area Wisata Siti Sundari, Kabupaten Lumajang. Saat dikonfirmasi memontum.com, dirinya mengatakan bahwa penebangan Kayu Damaran di Alas Burno tersebut, rencana [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h3><strong>Tebang Kayu di Kawasan Alas Burno 3,3 Hektare</strong></h3>
<p><strong>Memontum Lumajang</strong> &#8211; Wakil Kepala (Waka) Administratur/KSKPH Perhutani Lumajang, Marhaendro Bagyo Sungkowo, akhirnya ikut angkat bicara terkait penebangan kayu yang dilakukan di kawasan Alas Burno Hutan Damaran area Wisata Siti Sundari, Kabupaten Lumajang.</p>
<p>Saat dikonfirmasi memontum.com, dirinya mengatakan bahwa penebangan Kayu Damaran di Alas Burno tersebut, rencana awalnya adalah akan menebang seluas 7,5 hektare. Hanya saja, karena Perhutani Probolinggo membuat usulan baru. Sehingga dari usulan pertama, hanya terealisasi 3,3 hektare.</p>
<p>&#8220;Penebangan Kayu Damar di petak 16a RPH Senduro BKPH Senduro, berdasarkan Rencana Pengaturan Kelestarian Hutan (RPKH), luas bakunya adalah 7,5 hektare. Tetapi, Perhutani KPH Probolinggo punya kebijakan dalam pengusulan Rencana Teknik Tahunan (RTT). Sehingga, tebangan hanya 3,3 hektare dan menyisakan 4,2 hektare atau 56 persen,&#8221; kata Marhaendro.</p>
<p>Dengan adanya sisa tersebut, tambahnya, maka bisa sebagai show window yang berfungsi daya penyangga terhadap erosi.</p>
<p>&#8220;Show window mempunyai fungsi erodibilitas (daya penyangga terhadap erosi). Adapun tebangan, telah dibatasi lebih kurang 30 meter, dari tepi jalan atau sampai pohon yg akan ditebang sepanjang lebih kurang 250 meter. Itu, merupakan jalur utama menuju Ranupani dan rencana pengembangan wana wisata Siti Sundari,&#8221; ujarnya menjelaskan. <strong>(adi/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">127128</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Ancam Kawasan dan Bencana, Perhutani Diminta Hentikan Penebangan</title>
		<link>https://memontum.com/ancam-kawasan-dan-bencana-perhutani-diminta-hentikan-penebangan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum Editorial Team 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Nov 2020 10:18:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[alas burno]]></category>
		<category><![CDATA[kabupaten lumajang]]></category>
		<category><![CDATA[penebangan pohon]]></category>
		<category><![CDATA[Perhutani]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Siti Sundari]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=127131</guid>

					<description><![CDATA[Tebang Kayu di Kawasan Alas Burno 3,3 Hektare Memontum Lumajang &#8211; Pegiat Lingkungan Kabupaten Lumajang, Arsad Subekti, mengingatkan agar Perhutani tidak sembarang dalam melakukan penebangan kayu di kawasan Alas Burno Hutan Damaran area Wisata Siti Sundari, Kabupaten Lumajang. Namun, lebih mempertimbangkan faktor lingkungan seperti membahayakan keselamatan masyarakat sekitar dan kemungkinan ancaman bencana. &#8220;Seharusnya, dalam melakukan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h3><strong>Tebang Kayu di Kawasan Alas Burno 3,3 Hektare</strong></h3>
<p><strong>Memontum Lumajang</strong> &#8211; Pegiat Lingkungan Kabupaten Lumajang, Arsad Subekti, mengingatkan agar Perhutani tidak sembarang dalam melakukan penebangan kayu di kawasan Alas Burno Hutan Damaran area Wisata Siti Sundari, Kabupaten Lumajang. Namun, lebih mempertimbangkan faktor lingkungan seperti membahayakan keselamatan masyarakat sekitar dan kemungkinan ancaman bencana.</p>
<p>&#8220;Seharusnya, dalam melakukan proses penebangan, Perhutani lebih mempertimbangkan aspek kelayakan dan kepentingan secara umum. Apalagi, tempat itu lebih dekat dengan pemukiman masyarakat dan bisa membahayakan lingkungan. Sementara, penebangan juga dilakukan secara besar-besaran,&#8221; katanya kepada memontum.com.</p>
<p>Jadi, urainya, jangan hanya bermodalkan bahwa proses tersebut sudah sesuai prosedur. Namun, Perhutani juga mempertimbangkan aspek lain. Seperti, memilih tempat yang lebih aman yang lebih sesuai untuk kepentingan masyarakat.</p>
<p>&#8220;Kalau di bawah banyak pemukiman masyarakat, sementara tanaman itu juga sebagai penyangga agar tidak terjadi longsor, lalu kenapa dipotong dihabiskan. Saya curiga, jangan-jangan ada indikasi lain dari tujuan terselubung dibalik penebangan itu,&#8221; tegas Arsad, Minggu (8/11) pagi.</p>
<p>Lebih lanjut Arsad mengungkapkan, kalau hutannya digunduli, sementara dibawahnya banyak pemukiman warga, kemungkinan terburuknya dampaknya akan terjadi longsor ketika musim hujan. Apalagi, sekarang sudah memasuki musim hujan. Seharusnya, Perhutani juga mempertimbangkan dampak-dampak itu.</p>
<p>&#8220;Sekali lagi, jangan hanya asal ngomong itu sudah prosedural. Terus, kemudian akan ditanami kembali. Untuk menanam atau kelangsungan pohon, itu membutukan waktu yang sangat lama. Sedangkan kepentingan masyarakat, tidak bisa ditunda karena hari ini sudah ada di situ. Kalau nanti setelah ditebang terjadi hujan besar lalu kemudian hutan penyangganya tidak ada, apakah ini tidak akan membahayakan masyarakat yang ada disekitarnya,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>Dirinya menyarankan, seharusnya Perhutani bisa memilih dan memilah. Mana yang harus ditebang dan mana yang tidak. Karena bisa membahayakan kepentingan umum.</p>
<p>&#8220;Apa nggak bisa dipertimbangkan lagi. Jangan-jangan, Perhutani ini mempunyai tujuan lain, dibalik penebangan itu. Dengan dasar, bahwa prosesnya sudah prosedural. Yang pertanyaan sekarang, apakah iya pemerintah ini mau mengorbankan masyarakat sekitar hutan hanya demi kepentingan orang-orang yang punyai kepentingan,&#8221; ujarnya. <strong>(adi/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">127131</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
