<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Kecamatan Pasirian &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/kecamatan-pasirian/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Wed, 17 Mar 2021 03:59:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Kecamatan Pasirian &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Lewati Gunung Turuni Lembah, Dua Bulan Lagi Jalan Pasirian &#8211; Tempursari Bakal Bisa Dilewati</title>
		<link>https://memontum.com/lewati-gunung-turuni-lembah-dua-bulan-lagi-jalan-pasirian-tempursari-bakal-bisa-dilewati</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum Editorial Team 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 17 Mar 2021 01:00:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pemerintahan]]></category>
		<category><![CDATA[Abrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Berita hari ini]]></category>
		<category><![CDATA[Cak Thoriq]]></category>
		<category><![CDATA[kabupaten lumajang]]></category>
		<category><![CDATA[Kecamatan Pasirian]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=137039</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Lumajang &#8211; Bupati Lumajang, Thoriqul Haq, menyampaikan jalan penghubung antara Kecamatan Pasirian dan Kecamatan Tempursari yang terputus akibat abrasi air laut, harus dibangun kembali guna menunjang perekonomian masyarakat. &#8220;Hari ini, saya meninjau langsung kondisi jalan setapak untuk rencana akses baru jalur Pasirian &#8211; Tempursari. Tentu, jalannya sangat tidak layak, karena memang ini bukan jalan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Lumajang</strong> &#8211; Bupati Lumajang, <a href="https://memontum.com/tag/cak-thoriq">Thoriqul Haq</a>, menyampaikan jalan penghubung antara Kecamatan Pasirian dan Kecamatan Tempursari yang terputus akibat abrasi air laut, harus dibangun kembali guna menunjang perekonomian masyarakat.</p>



<p>&#8220;Hari ini, saya meninjau langsung kondisi jalan setapak untuk rencana akses baru jalur Pasirian &#8211; Tempursari. Tentu, jalannya sangat tidak layak, karena memang ini bukan jalan yang bisa di lalui dengan mudah. Karena memang, jalur ini melalui kawasan hutan pada area Perhutani,&#8221; kata Bupati saat meninjau jembatan Rowopandan dan akses jalan yang terputus akibat abrasi air laut di wilayah Pantai Watugodek, Selasa (16/03).</p>



<p>Akses jalan penghubung dua kecamatan yang masih dalam proses pengerjaan tersebut, masih masuk dalam kawasan perhutani. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Lumajang akan terus melakukan koordinasi untuk mendapatkan akses pembangunan jalan itu.</p>



<p>&#8220;Insya Allah, awal bulan depan sudah bisa di mulai pekerjaan pembukaan jalan. Dan, untuk langkah awal, akan di lakukan pemadatan dengan membangun jalan rabat kiri dan kanan. Supaya dalam waktu dekat segera bisa di lalui kendaraan roda dua, dan angkutan ringan&#8221; terangnya.</p>



<p><strong>Baca juga: <a href="https://memontum.com/136383-kondisi-jalan-nasional-di-lumajang-amburadul-masyarakat-berharap-kpk-turut-melakukan-pengawasan">Kondisi Jalan Nasional di Lumajang Amburadul, Masyarakat Berharap KPK Turut Melakukan Pengawasan</a></strong></p>



<p>Pekerjaan pembukaan akses baru Pasirian &#8211; Tempursari ini direncanakan akan selesai dikerjakan dalam waktu dua bulan. Dan saat ini, sudah dimulai pekerjaan swadaya dengan gotong royong bersama untuk membuka akses pelebaran jalan.</p>



<p>&#8220;Sebenarnya jalan ini merupakan akses jalan kabupaten, namun aset tersebut belum terverifkasi dalam catatan administrasi dengan baik dan kami akan urus kembali. Akses jalan yang akan kita bangun ini sudah kita survei dan jauh lebih aman dari abrasi air laut, karena melewati gunung langsung dan jalannya landai,&#8221; ujarnya. <strong>(adi/ed2)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">137039</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Perjuangan Pembuat Gula Nira Kelapa Lumajang di Tengah Pandemi dan Terjangan Rafinasi</title>
		<link>https://memontum.com/perjuangan-pembuat-gula-nira-kelapa-lumajang-di-tengah-pandemi-dan-terjangan-rafinasi</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum Editorial Team 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 18 Feb 2021 14:55:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KREATIF MASYARAKAT]]></category>
		<category><![CDATA[Berita hari ini]]></category>
		<category><![CDATA[Gula Merah]]></category>
		<category><![CDATA[Gula Rafinasi]]></category>
		<category><![CDATA[kabupaten lumajang]]></category>
		<category><![CDATA[Kecamatan Pasirian]]></category>
		<category><![CDATA[nira kelapa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=134962</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Lumajang &#8211; Romim (50) warga Dusun Kaliwelang, Desa Gondoruso, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, berusaha tegar dan terus berjuang di tengah pandemi Covid-19. Dengan telaten dan penuh kesabaran, bersama keluarganya, terus sesempurna mungkin mengolah nira kelapa menjadi gula merah. Bersaing dengan banyaknya gula merah kw alias gula merah hasil olahan gula rafinasi, pria sederhana yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong><a href="https://memontum.com/tag/kabupaten-lumajang">Memontum</a> Lumajang</strong> &#8211; Romim (50) warga Dusun Kaliwelang, Desa Gondoruso, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, berusaha tegar dan terus berjuang di tengah pandemi Covid-19.</p>



<p>Dengan telaten dan penuh kesabaran, bersama keluarganya, terus sesempurna mungkin mengolah nira kelapa menjadi gula merah.</p>



<p>Bersaing dengan banyaknya gula merah kw alias gula merah hasil olahan gula rafinasi, pria sederhana yang merupakan mantan kepala Desa Gondoruso itu, terus menekuni usaha yang dirintisnya.</p>



<p><strong>Baca: <a href="https://memontum.com/134192-krecek-rebung-khas-pasrujambe-lumajang-rebung-berasa-seperti-daging">Krecek Rebung Khas Pasrujambe Lumajang, Rebung Berasa Seperti Daging</a></strong></p>



<p>Awalnya, pria yang berusia setengah abad ini, hanya memproduksi gula merah yang dibuat gula semut. Lambat laun, seiring berjalannya waktu, Romim terus berinofasi membuat produk baru yaitu gula cair, gula koin dan yang terbaru minuman dari olahan nira.</p>



<p>Kepada memontum.com, Romim bercerita, dirinya membuat gula dari nira kelapa karena menurutnya gula yang bersumber dari nira pohon kelapa, sehat dan kaya manfaat.</p>



<p>&#8220;Gula dari nira pohon kelapa sehat dan banyak manfaatnya. Saya yakin pembeli yang cerdas tidak hanya menghendaki gula yang manis saja. Tetapi juga menyehatkan,&#8221; ungkapnya.</p>



<p>Disisi lain, kata Romin, dengan membuat gula dengan bahan dasar nira, petani nira kelapa (Penderes) di daerahnya juga tetap bisa bertahan.</p>



<p> &#8220;Selain itu, dengan menggunakan bahan alami nira kelapa para penderes kelapa disini juga bisa terus hidup,&#8221; ujarnya.</p>



<p>Gula merah menjadi sumber penghidupan bagi sebagian warga di Dusun Kaliwelang, Desa Gondoruso Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang.</p>



<p>Romim membeli nira dari penderes di desanya, lalu nira pohon kelapa dipanaskan dengan wadah atau dimasak secara tradisional menggunakan kayu bakar dan airnya dibiarkan menguap.</p>



<p>Saat mengering, kemudian jadilah gula merah, dengan kristalisasi yang manis seperti gula putih biasa. Ada yang dicetak dengan cetakan kayu berbentuk bulatan kecil (Gula Koin) dan ada yang dicetak agak besar lalu dihaluskan setelah dijemur (Gula Semut).</p>



<p>&#8220;Untuk gula koin kita gunakan cetakan dari kayu. Kalau untuk gula semut prosesnya masih kita lakukan penjemuran beberapa hari lalu kita giling, sebelum kemudian dikemas,&#8221; terangnya.</p>



<p>Lebih lanjut, kata dia, untuk pemasaran produk miliknya dipasarkan secara langsung dirumahnya juga secara online. </p>



<p>Bahkan, sekarang ini sudah ada langganan dari Lumajang dan luar Kabupaten Lumajang yang diantar langsung ketempat.</p>



<p><strong>Baca Juga: <a href="https://memontum.com/134897-korban-dugaan-kekerasan-terhadap-anak-yang-surati-kapolri-jalani-pemeriksaan-korban-diminta-peragakan-kasusnya-saat-di-room-karaoke">Korban Dugaan Kekerasan Terhadap Anak yang Surati Kapolri Jalani Pemeriksaan, Korban Diminta Peragakan Kasusnya Saat di Room Karaoke</a></strong></p>



<p>&#8220;Alhamdulillah, pelangan lumayan lah, ada yang kita kirim seminggu sekali ada yang sebulan sekali, mohon doanya lah semoga lancar,&#8221; paparnya.</p>



<p>Pembuatan gula dari nira kelapa, dilatar-belakangi oleh potensi alam Kaliwelang yang melimpah akan kelapa dan banyak masyarakat yang bermata pencaharian sebagai penderes atau penyadap nira kelapa.</p>



<p>&#8220;Gula merah yang alami juga diyakini lebih sehat dan memiliki manfaat bagi kesehatan tubuh seperti mencegah anemia, memperlancar peredaran darah, mencegah diabetes dan menjaga keseimbangan kadar kolesterol.Bagi yang berminat bisa langsung kontak no hp +62 857-8464-6930,&#8221; paparnya. <strong>(adi/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">134962</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Satu Keluarga Kompak Berharap Manisnya Gula Semut</title>
		<link>https://memontum.com/satu-keluarga-kompak-berharap-manisnya-gula-semut</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum Editorial Team 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 17 Sep 2020 04:44:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[KREATIF MASYARAKAT]]></category>
		<category><![CDATA[Bangkit di Masa Pandemi]]></category>
		<category><![CDATA[Desa Gondoruso]]></category>
		<category><![CDATA[Gula Semut]]></category>
		<category><![CDATA[Kecamatan Pasirian]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=123831</guid>

					<description><![CDATA[Bangkit Ekonomi di Masa Pandemi Memontum Lumajang &#8211; Banyak diantara kita yang menyerah di saat dunia mengalami keterpurukan karena Pandemi Covid- 19. Namun tidak bagi satu keluarga yang tinggal di pesisir selatan Kabupaten Lumajang Jawa Timur ini. Dengan semangat kebersamaan satu keluarga kompak untuk bangkit berusaha dengan membuat Gula Semut. Dengan menggunakan peralatan manual, Romim, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h3><strong>Bangkit Ekonomi di Masa Pandemi</strong></h3>
<p><strong>Memontum Lumajang</strong> &#8211; Banyak diantara kita yang menyerah di saat dunia mengalami keterpurukan karena Pandemi Covid- 19. Namun tidak bagi satu keluarga yang tinggal di pesisir selatan Kabupaten Lumajang Jawa Timur ini. Dengan semangat kebersamaan satu keluarga kompak untuk bangkit berusaha dengan membuat Gula Semut.</p>
<p>Dengan menggunakan peralatan manual, Romim, warga Desa Gondoruso Kecamatan Pasirian, bersama Rika Damayanti istrinya, dibantu Rusmini, sang ibu dan Wawan, anaknya. Mereka berbagi tugas mengolah nira kelapa untuk dijadikan Gula Semut. Alhasil Gula Semut produk Romim, sedikit demi sedikit mulai dikenal dan laris manis bahkan banyak dipesan warga luar daerah. &#8220;Alhamdulillah, setelah kita berusaha memasarkan lewat media sosial, banyak yang pesan,&#8221; kata Romim pada memontum.com, Kamis (17/9/2020) siang.</p>
<p>Meski di pasaran banyak gula merah palsu atau gula merah yang dihasilkan dari gula rafinasi, Romim tidak terpengaruh. Ia memilih dan konsisten menggunakan bahan alami yakni nira kelapa dengan campuran kulit manggis dan kapur sirih. &#8220;Saya membeli nira asli dari langganan (penderes) lalu kita olah, sementara kita kerjakan sendiri bersama keluarga,&#8221; ujarnya.<img decoding="async" class="wp-image-123821 aligncenter" src="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/09/Ft-bangkit-2.jpg?resize=458%2C344&#038;ssl=1" alt="" width="458" height="344" srcset="https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/09/Ft-bangkit-2.jpg?resize=300%2C225&amp;ssl=1 300w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/09/Ft-bangkit-2.jpg?resize=200%2C150&amp;ssl=1 200w, https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/09/Ft-bangkit-2.jpg?w=448&amp;ssl=1 448w" sizes="(max-width: 458px) 100vw, 458px" data-recalc-dims="1" /></p>
<p>Dijelaskan, gula semut merupakan gula yang dibuat dari gula kelapa ataupun nira dengan bentuk akhir berupa serbuk. Proses pembuatan dimulai dengan merebus nira selama empat jam (per 20 Kg), setelah itu dituang pada cetakan, lalu setelah dingin baru dilakukan perajangan.</p>
<p>&#8220;Nira yang kita dapat dimasak sampai kandungan airnya berkurang dan berubah menjadi kental, selanjutnya dicetak menjadi gula kelapa, lalu kita rajang (Di iris tipis) setelah itu kita jemur, Perajangan yang tipis dimaksudkan untuk mempermudah ketika proses pengeringan dan penghancuran gula semut,&#8221; katanya.</p>
<p>Proses penjemuran setelah dirajang memerlukan waktu dua hari, baru setelah itu di haluskan lagi, lalu di ayak dan dikemas dalam bungkus berbagi ukuran, ada yang 250 gram, 500 gram dan 1000 gram. Gula kelapa juga biasa digunakan untuk bahan campuran pembuatan makanan agar memiliki cita rasa karamel dan manis.</p>
<p>&#8220;Mungkin saja ketika pembuatan, produsen dari gula merah tersebut ada yang memakai obat kimia, tapi saya tidak. Karena bahan baku yang kurang baik, hasilnya kurang memuaskan. Gula semut yang asli mempunyai rasa manis dan aroma yang khas sekali, gula semut juga lebih tahan lama, diisisi lain gula semut bisa untuk mengobati beberapa penyakit,&#8221; pungkasnya. <strong>(adi/syn)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">123831</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
