<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Pagebluk &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/pagebluk/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Thu, 12 Aug 2021 14:59:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Pagebluk &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Tangkal Covid-19, Warga Boto Probolinggo Pasang Orang-orangan di Depan Rumah</title>
		<link>https://memontum.com/tangkal-covid-19-warga-boto-probolinggo-pasang-orang-orangan-di-depan-rumah</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Memontum Editorial Team 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Aug 2021 14:30:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Probolinggo]]></category>
		<category><![CDATA[SEKITAR KITA]]></category>
		<category><![CDATA[Berita hari ini]]></category>
		<category><![CDATA[kabupaten probolinggo]]></category>
		<category><![CDATA[Pagebluk]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=150527</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Probolinggo &#8211; Pemandangan berbeda terlihat di sepanjang Jalan Raya Sukapura, tepatnya di Wilayah Boto, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo. Di sepanjang jalan itu, hampir seluruh pemukiman warga, di depan rumahnya memasang orang-orangan di depan rumah. Orang-orangan yang dipasang seolah dalam posisi sedang berjaga di depan rumah warga atau gang, dipasang lengkap dengan pakaian layaknya manusia. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Probolinggo</strong> &#8211; Pemandangan berbeda terlihat di sepanjang Jalan Raya Sukapura, tepatnya di Wilayah Boto, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo. Di sepanjang jalan itu, hampir seluruh pemukiman warga, di depan rumahnya memasang orang-orangan di depan rumah.</p>



<p>Orang-orangan yang dipasang seolah dalam posisi sedang berjaga di depan rumah warga atau gang, dipasang lengkap dengan pakaian layaknya manusia. Sedangkan rangka orang-orangan tersebut, terbuat dari bambu, guling maupun bantal. Untuk posisi kepala, biasa terbuat dari tempurung batok kelapa.</p>



<p>Baca juga:</p>


<ul class="wp-block-latest-posts__list is-grid columns-3 wp-block-latest-posts"><li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/polres-situbondo-ungkap-praktik-pembuatan-petasan-dan-amankan-51-kg-bubuk-mercon">Polres Situbondo Ungkap Praktik Pembuatan Petasan dan Amankan 5,1 Kg Bubuk Mercon</a></li>
<li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/ramadan-kondusif-rutan-situbondo-perketat-pengamanan-lewat-sidak-blok-hunian">Ramadan Kondusif, Rutan Situbondo Perketat Pengamanan Lewat Sidak Blok Hunian</a></li>
<li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/hari-kedua-pencarian-jenazah-bocah-hanyut-di-sungai-kasin-berhasil-ditemukan">Hari Kedua Pencarian, Jenazah Bocah Hanyut di Sungai Kasin Berhasil Ditemukan</a></li>
</ul>


<p>Menurut warga, orang-orangan itu sengaja dipasang di depan rumah, bukan sebagai hiasan. Pemandangan beda nan sedikit unik itu, menurut warga merupakan warisan budaya leluhur untuk menangkal wabah penyakit alias pagebluk. Termasuk, virus Corona.</p>



<p>&#8220;Ceritanya, nenek moyang pada zaman dahulu kalau ada wabah penyakit atau pagebluk, masyarakat memasang boneka ini untuk menolak wabah penyakit,&#8221; ujar salah satu warga, Uul, Kamis (12/08) tadi.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Tangkal Covid 19, Warga Boto Probolinggo Pasang Orang orangan di Depan Rumah" width="740" height="416" src="https://www.youtube.com/embed/PHvah_34UzY?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p>Ditambahkannya, apa yang dilakukan warga, adalah bagian usaha untuk mengusir penyakit. Karena, segala antisipasi dan usaha, harus dilakukan. Termasuk, juga tetap dan selalu berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa.</p>



<p>Uul menjelaskan, pemasangan orang-orangan tersebut hanya ikhtiar warga mencegah virus Corona. &#8220;Kita tetap berdoa kepada Allah SWT serta menjaga protokol kesehatan di tengah pandemi,&#8221; ujar Uul.</p>



<p>Salah satu pengendara, Rozak, mengaku tidak masalah dengan pemandangan yang ada di sepanjang jalan. Menurutnya, memang semua langkah dan usaha, harus dilakukan. Selain menjaga aturan pemerintahan, juga senantiasa iktiar.</p>



<p>“Unik juga warga sekitar sini, ya. Yang penting, tetap berdoa dan mentaati anjuran pemerintah juga serta ikut vaksinasi,” terangnya.<strong> (geo/ed2)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">150527</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Warga Argoyuwono Ampelgading Begadang Sambil Cithek Geni Depan Rumah</title>
		<link>https://memontum.com/warga-argoyuwono-ampelgading-begadang-sambil-cithek-geni-depan-rumah</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Apr 2020 10:57:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kabar Desa]]></category>
		<category><![CDATA[Antisipasi Covid-19]]></category>
		<category><![CDATA[Desa Argoyuwono]]></category>
		<category><![CDATA[Pagebluk]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=111276</guid>

					<description><![CDATA[Upaya Lokal Jenius Tangkal Pagebluk Memontum Malang &#8211; Indonesia yang terdiri dari ragam suku bangsa dan budayanya punya kearifan lokal yang berbeda. Seperti halnya yang dilakukan warga Desa Argoyuwono, Kecamatan Ampelgading Kabupaten Malang. Guna memutuskan mata rantai Virus Corona atau Convid-19 yang merebak negeri kita saat ini, pada malam hari,disetiap depan rumah Warga desa yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2>Upaya Lokal Jenius Tangkal Pagebluk</h2>
<p><strong>Memontum Malang</strong> &#8211; Indonesia yang terdiri dari ragam suku bangsa dan budayanya punya kearifan lokal yang berbeda. Seperti halnya yang dilakukan warga Desa Argoyuwono, Kecamatan Ampelgading Kabupaten Malang.</p>
<p>Guna memutuskan mata rantai Virus Corona atau Convid-19 yang merebak negeri kita saat ini, pada malam hari,disetiap depan rumah Warga desa yang terletak dilereng kaki Gunung Semeru ini menyalakan api (citek geni-red).</p>
<p>&#8220;Jaman dahulu, apabila terjadi pagebluk (wabah) orang-orang tua melakukan mele&#8217;an (begadang) hampir semalam suntuk sembari citek geni,&#8221; ujar salah seorang warga yang keberatan disebutkan namanya.</p>
<p>Lanjut petani yang nyambi sebagai tukang tambal ban ini,setelah shalat magrib sebagian warga membakar tumpukan kayu yang sudah ia persiapkan sebelumnya.</p>
<p>&#8220;Maaf, tujuan pastinya saya kurang paham.Ini sekedar melestarikan warisan leluhur nenek moyang. Bagi saya, itu sekedar kepercayaan warga dalam upaya mengusir wabah Corona yang sudah mendunia ini, &#8221; ulasnya.</p>
<p>Sebelumnya, Kepala Desa Argoyuwono Purnomo menjelaskan, budaya cetek geni ini hanya dilakukan oleh warga disebagian pedukuhan.</p>
<p>&#8220;Melestarikan warisan leluhur nenek moyang, setiap malam ada sebagian warga desa melakukan melekan (begadang) hingga larut malam sambil citek geni. Tujuannya sama yaitu untuk mengusir pandemi corona yang sebagian warga menyebutnya dengan pagebluk,&#8221; erang Kades sekaligus pedagang kambing ini Selasa (7/4/2020) siang.</p>
<p>Lanjut Kades di desa berpenduduk 3600 jiwa,terdiri dari 3 pedukuhan 21 RT dan 4 RW ini, pihaknya bersama Babinsa, Bhabinkamtibmas, tim Kesehatan, perangkat desa, tokoh pemuda dan masyarakat sudah melakukan penyemprotan disinfektan.</p>
<p>&#8220;Tahap pertama bersama Muspika Ampelgading.Kemudian yang kedua bersama Komunitas Airo (sepeda motor jenis Yamaha besar). Dan yang ketiga bersama Karang Taruna.Penyemprotan ini juga akan berlanjut keseluruh lingkungan Desa Argoyuwono dan terus kami lakukan hingga situasi kembali normal, &#8221; beber Purnomo dengan nada semangat.</p>
<p>Disinggung mengenai dampak wabah Corona bagi perekonomian warga desa saat ini,papar Purnomo,yang jelas sangat berdampak. Salah satunya seperti petani salak. Dalam kondisi saat ini,petani salak merasa sulit untuk menjual hasil panen mereka ke kota. Selain petani salak juga pengrajin ruji atau tusuk sate.</p>
<p>&#8220;Hasil pertanian tersendat.Selain harga cengkeh anjlok, harga kambing saat ini juga turun drastis, &#8221; ungkapnya.</p>
<p>Tak kalah pentingnya,Pemerintah Desa Argoyuwono saat ini juga sudah mendirikan posko siaga Convid-19 yang dipusatkan dikantor desa setempat. Dengan menetapkan piket setiap hari sebanyak 2 orang<br />
Yang terdiri dari semua unsur mulai dari tokoh masyarkat, tokoh pemuda, BPBD dan LPMD.</p>
<p>&#8220;Untuk sementara waktu kami juga menjatuhkan himbauan kepada warga agar tidak melakukan berbagai kegiatan yang berbasis massa.Seperti tahlil, dziba&#8217; termasuk hajatan, &#8221; pungkas Purnomo.<strong> (sur/oso)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">111276</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
