<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>Wisata Kota Malang &#8211; Memontum</title>
	<atom:link href="https://memontum.com/tag/wisata-kota-malang/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://memontum.com</link>
	<description>Buka Mata Dengan Berita</description>
	<lastBuildDate>Sat, 09 Oct 2021 06:42:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.2.8</generator>

<image>
	<url>https://i0.wp.com/memontum.com/wp-content/uploads/2020/11/cropped-logo-1.png?fit=32%2C32&#038;ssl=1</url>
	<title>Wisata Kota Malang &#8211; Memontum</title>
	<link>https://memontum.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">146458747</site>	<item>
		<title>Wisata Kota Malang Belum Dibuka, Wali Kota Sutiaji Jadwalkan Rakor bersama Forkopimda dan Komunitas</title>
		<link>https://memontum.com/wisata-kota-malang-belum-dibuka-wali-kota-sutiaji-jadwalkan-rakor-bersama-forkopimda-dan-komunitas</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 09 Oct 2021 06:42:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pemerintahan]]></category>
		<category><![CDATA[Forkopimda dan Komunitas]]></category>
		<category><![CDATA[kota malang]]></category>
		<category><![CDATA[Wali Kota Sutiaji]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Kota Malang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=155511</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Beberapa jujugan wisata di Kota Malang, hingga Sabtu (09/10/2021) ini masih belum bisa dibuka. Merespon kondisi itu, Wali Kota Malang, Sutiaji, berencana menggelar rapat koordinasi (Rakor) dengan mengumpulkan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan beberapa komunitas. &#8220;Insyaallah, segera. Forkopimda akan agendakan rapat dengan mengundang Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), pedagang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Beberapa jujugan wisata di Kota Malang, hingga Sabtu (09/10/2021) ini masih belum bisa dibuka. Merespon kondisi itu, Wali Kota Malang, Sutiaji, berencana menggelar rapat koordinasi (Rakor) dengan mengumpulkan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan beberapa komunitas.</p>



<p>&#8220;Insyaallah, segera. Forkopimda akan agendakan rapat dengan mengundang Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), pedagang dan perwakilan tempat wisata. Kita akan konsultasikan juga dengan Pemerintah Pusat, terkait hal ini,&#8221; terangnya, Sabtu (09/10/2021).<br>Menurut Wali Kota Malang, pada daerah yang diterapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 3 versi Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri), ada beberapa wisata sudah bisa diuji cobakan. &#8220;Dengan syarat, destinasi wisata itu punya aplikasi PeduliLindungi. Jadi akan terus kita pantau, sama halnya dengan sekolah yang terus dipantau supaya ketika ada kasus paparan Covid-19, cepat dilakukan tracing. Sehingga, segera tahu transmisi atau penyebarannya dari mana,&#8221; bebernya.</p>



<p>Lebih lanjut Sutiaji mengatakan, terkait aturan anak usia 12 tahun ke bawah yang belum boleh masuk ke tempat wisata, dirinya mengatakan juga akan mengkaji lebih jauh lagi.<br>&#8220;Rupa-rupanya, di daerah lain ada relaksasi. Seperti anak kurang dari 12 tahun, masuk mall sudah boleh. Jadi, kita lihat saja test case di daerah-daerah yang sudah menerapkan itu,&#8221; paparnya.</p>



<p>Pengamatan pada daerah yang sudah melonggarkan aturan tersebut, terang Wali Kota Sutiaji, seperti Surabaya, dirasa penting. Pasalnya, tempat atau fasilitas umum yang ramai rentan penyebaran Covid-19.</p>



<p>&#8220;Sama halnya dengan mall atau tempat wisata, di sekolah SD kan yang masuk anak umur 12 tahun kebawah. Makanya terkait bahayanya kita perlu melihat test case. Mungkin di sekolah memang lebih ketat protokol kesehatannya (Prokes), kalau di mall atau tempat umum lebih khawatir. Tapi, Insyaallah masyarakat juga bisa menjaga dirinya sendiri,&#8221; tegas orang nomor satu di Pemerintah Kota Malang itu. <strong>(hms/mus/sit)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">155511</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kampung Topeng, Salah Satu Destinasi Wisata Kota Malang yang Mulai Ditinggalkan</title>
		<link>https://memontum.com/kampung-topeng-salah-satu-destinasi-wisata-kota-malang-yang-mulai-ditinggalkan</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[memontum]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 18 Jun 2021 07:56:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kota Malang]]></category>
		<category><![CDATA[KREATIF MASYARAKAT]]></category>
		<category><![CDATA[Kampung Topeng Tlogowaru Dilengkapi Flying Fox]]></category>
		<category><![CDATA[Mulai Ditinggalkan]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata Kota Malang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://memontum.com/?p=145571</guid>

					<description><![CDATA[Memontum Kota Malang &#8211; Kampung tematik di Kota Malang menjadi salah satu jujukan wisata yang paling diminati, salah satunya adalah Kampung Topeng. Wisata yang berlokasi di Kelurahan Tlogowaru, Kecamatan Kedungkandang, ini telah diresmikan sejak Februari 2017 lalu. Namun sayangnya setelah lebih dari 4 tahun dibuka, kampung tematik kini terlihat mulai ditinggalkan wisatawan atau pengunjung. Dari [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Memontum Kota Malang</strong> &#8211; Kampung tematik di Kota Malang menjadi salah satu jujukan wisata yang paling diminati, salah satunya adalah Kampung Topeng. Wisata yang berlokasi di Kelurahan Tlogowaru, Kecamatan Kedungkandang, ini telah diresmikan sejak Februari 2017 lalu. Namun sayangnya setelah lebih dari 4 tahun dibuka, kampung tematik kini terlihat mulai ditinggalkan wisatawan atau pengunjung.</p>



<p>Dari keterangan salah satu pengrajin topeng di Kampung Topeng, Wahyu Setyawan, merosotnya jumlah pengunjung saat pandemi menjadi alasan terbesar tak terurusnya salah satu destinasi wisata Kota Malang ini.</p>



<p><strong><em>Baca Juga:</em></strong></p>


<ul class="wp-block-latest-posts__list is-grid columns-3 wp-block-latest-posts"><li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/pemkot-dan-dprd-kota-malang-jemput-dukungan-pusat-untuk-penanganan-pasar-besar">Pemkot dan DPRD Kota Malang Jemput Dukungan Pusat untuk Penanganan Pasar Besar</a></li>
<li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/masuki-pertengahan-ramadan-kiriman-uang-pmi-via-kantor-pos-malang-turun-rp-18-miliar">Masuki Pertengahan Ramadan, Kiriman Uang PMI via Kantor Pos Malang Turun Rp 1,8 Miliar</a></li>
<li><a class="wp-block-latest-posts__post-title" href="https://memontum.com/bi-malang-sebut-lonjakan-harga-emas-dorong-inflasi-di-februari-2026">BI Malang Sebut Lonjakan Harga Emas Dorong Inflasi di Februari 2026</a></li>
</ul>


<p>&#8220;Dulu kami sempat adakan acara wilujeng-an pada bulan Oktober lalu. Sempat rame beberapa hari tapi habis itu sepi lagi. Ya sampai sekarang ya begini sama sekali tidak ada yang datang,&#8221; ujar Wahyu, Jumat (18/06).</p>



<p>Pemandangan memprihatn seperti banyaknya rerumputan liar tumbuh tinggi di sekitaran area permainan anak Kampung Topeng nampak terlihat. Padahal banyak bangunan unik yang mampu memiliki daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Contohnya dua topeng raksasa yang menjadi ikon utamanya.</p>



<p>&#8220;Ya warga sini sudah berusaha merawatnya, tapi mau bagaimana lagi tidak ada pengunjung. Ekonomi disini juga makin merosot akhirnya kita memilih mengerjakan apa yang bisa menghasilkan uang,&#8221; imbuhnya.</p>



<p>Diakui Wahyu, sebelumnya Kampung Topeng mampu menarik animo pengunjung hingga 500 orang perharinya. Tidak sekedar hanya berjalan-jalan, pengunjung juga bisa melakukan wisata edukasi berupa pembuatan dan pewarnaan topeng.</p>



<p>&#8220;Pengunjung hanya cukup membayar sebesar Rp 5 ribu saja, mereka bisa menikmati tampilan topeng-topeng khas Malangan,&#8221; sambungnya.</p>



<p>Dari segi pengelolaan, dikatakan Wahyu, sebenarnya Kampung Topeng berada dibawah pengelolaan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsos-P3AP2KB) Kota Malang. Namun dia mengungkapkan kini dari kedua belah pihak belum ada sama sekali perhatian terkait makin sepinya dan mirisnya kondisi Kampung Topeng ini.</p>



<p>&#8220;Penduduk disini kan memang warga binaan dari Dinsos-P3AP2KB. Kemudian, agar bisa berkembang jadilah Kampung Topeng ini yang dikelola oleh Pokdarwis. Tapi sekarang ya begini,&#8221; paparnya.</p>



<p>Terakhir pria 18 tahun itu hanya bisa berharap Pemerintah Kota (Pemkot) maupun pihak terkait kembali menilik Kampung Topeng yang saat ini terkesan mangkrak. &#8220;Saya berharap pihak-pihak terkait bisa minimal lihat kondisinya, kemudian bisa membantu untuk mengembangkan. Jadi bisa jalan lagi wisatanya disini,&#8221; harap Wahyu. <strong>(mus/ed2)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">145571</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
