Kota Malang
Dinkes Kota Malang Perkuat Kewaspadaan Kasus Super Flu

Memontum Kota Malang – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang memastikan hingga kini belum ditemukan virus Super Flu atau Influenza A (H3N2) subclade K di Kota Malang. Meski begitu, upaya pemantauan dan kewaspadaan terus diperketat untuk mengantisipasi potensi penularan.
Kepala Dinkes Kota Malang, Husnul Muarif, menyampaikan bahwa kesiapsiagaan dilakukan dengan mengoptimalkan seluruh layanan kesehatan yang ada. Mulai dari 16 Puskesmas, 33 Puskesmas Pembantu (Pustu) dan 642 Posyandu yang tersebar di 57 kelurahan. Termasuk, 29 rumah sakit dan sekitar 156 klinik yang dapat diakses masyarakat.
“Tenaga kesehatan sudah kami bekali informasi untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, mulai dari mengenali gejala flu yang lebih berat hingga langkah pencegahan,” kata Husnul, Senin (05/01/2026) tadi.
Dalam hal ini, Husnul juga menekankan agar masyarakat tidak perlu panik, namun tetap waspada. Beberapa langkah pencegahan yang dianjurkan, antara lain menggunakan masker saat berada di kerumunan, rutin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menjaga asupan gizi seimbang, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami keluhan.
“Prinsipnya waspada, bukan takut. Kalau ada keluhan, segera ke faskes agar bisa ditangani sejak dini,” tambahnya.
Kemudian, ditambahkannya bahwa kasus Super Flu telah terdeteksi sejak Agustus 2025. Hingga akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus di delapan provinsi, dengan jumlah terbanyak berada di Jawa Timur, Kalimantan Selatan dan Jawa Barat.
Baca juga :
Untuk mendeteksi dini, Kota Malang memiliki dua fasilitas sentinel. Pemantauan Influenza Like Illness (ILI) dilakukan di Puskesmas Dinoyo, sedangkan Severe Acute Respiratory Infection (SARI) atau infeksi saluran pernapasan berat dipantau melalui RSUD Saiful Anwar.
“Kedua fasilitas tersebut secara rutin mengirimkan sampel pasien ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) Surabaya untuk pemeriksaan lanjutan,” jelasnya.
Saat ini, Dinkes Kota Malang juga tengah meminta rekapitulasi hasil pemeriksaan periode Juli hingga Desember 2025, guna memastikan ada atau tidaknya temuan virus H3N2 varian terbaru di daerah.
“Sampai sekarang belum ada laporan kasus suspek yang mengarah ke superflu. Tapi kami tetap menunggu hasil rekap dan koordinasi dengan BBLKM Surabaya,” lanjut Husnul.
Sebagai informasi, menurutnya Super Flu merupakan virus influenza A yang mengalami mutasi. Sehingga, memicu gejala yang lebih berat dibandingkan flu biasa.
Secara medis, terdapat tiga tahapan penanganan, yakni suspek, probable, hingga konfirmasi yang hanya dapat dipastikan melalui pemeriksaan Whole Genome Sequencing (WGS). Bahkan, mutasi virus ini dapat diperparah oleh cuaca ekstrem dan gaya hidup masyarakat yang mulai longgar terhadap protokol kesehatan.
“Gejalanya mirip flu, tapi lebih berat. Badan bisa terasa sangat lemah, nyeri hebat, sulit beraktivitas, serta muncul gangguan pernapasan akibat produksi lendir yang meningkat,” imbuhnya. (rsy/sit)










