KREATIF MASYARAKAT
Berkah Ramadan, Opak Gambir Maharis Kota Malang Kewalahan Layani Orderan Premium

Memontum Kota Malang – Salah satu UMKM legendaris di Kota Malang, Opak Gambir Maharis yang berlokasi di Jalan Aris Munandar 799 RT 05/RW 01, Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Klojen, Kota Malang, kebanjiran pesanan selama Ramadan 2026. Bahkan, orderan sudah berdatangan jauh sebelum Bulan Puasa dimulai.
Owner Opak Gambir Maharis, Hartiningsih, mengatakan bahwa lonjakan pesanan tahun ini terasa lebih awal dibandingkan biasanya. Produk premium menjadi yang paling banyak diburu pelanggan, terutama untuk kebutuhan hampers Lebaran yang dikirim ke luar kota seperti Bandung, Semarang hingga Surabaya.
“Alhamdulillah, pesanan sudah masuk sebelum Puasa. Ada pelanggan tetap yang pesan sampai 20 kilo untuk dikirim jadi hampers ke luar kota,” ujar Hartiningsih, saat ditemui pada Senin (02/03/2026) tadi.
Usaha yang dirintis sejak tahun 2005 itu, ujarnya, bermula dari keisengan setelah dirinya berhenti bekerja di restoran untuk mengurus anak. Dari belajar kepada saudara hingga bereksperimen sendiri di rumah, Hartiningsih terus menyempurnakan rasa dan resep hingga menemukan ciri khas yang kini dikenal pelanggan.
“Ada lima varian rasa, mulai original, wijen, jahe, keningar dan cokelat. Tapi ada varian premium dengan taburan wijen yang melimpah dan komposisi santan serta telur lebih banyak, itu menjadi favorit pelanggan. Cita rasanya ini juga lebih antep dan berbeda dari produk lain. Orang sudah kenal dengan cirinya,” katanya.
Baca juga :
Harga opak gambir reguler dibanderol Rp 110 ribu perkilogram, sementara varian premium Rp 135 ribu perkilogram. Kenaikan harga sebesar Rp 5 ribu baru dilakukan tahun ini setelah sebelumnya bertahan di angka lama selama beberapa tahun.
“Kenaikan bahan baku seperti gula, telur, wijen, dan cokelat memang terasa. Tapi saya baru berani naikkan harga tahun ini,” tuturnya.
Dalam sehari selama Ramadan, dirinya mampu memproduksi sekitar satu kilogram untuk ukuran premium dan dua kilogram untuk ukuran reguler jika kondisi fisik mendukung. Seluruh proses produksi dikerjakan sendiri, dengan bantuan suami untuk memarut santan, belanja bahan, hingga pengemasan.
“Tapi saya tetap membatasi pesanan hingga H-7 Lebaran demi menjaga kualitas dan menghindari kuwalahan. Tahun ini, sudah ada 15 pelanggan utama yang masuk, tapi itu belum termasuk reseller,” tambahnya.
Sistem pemasaran dilakukan dengan Pre-Order (PO) dan promosi dari mulut ke mulut. Dirinya juga sesekali mengikuti pameran UMKM di tingkat kelurahan maupun kecamatan. Legalitas usaha seperti merek, PIRT dan sertifikasi halal telah dikantongi melalui pembinaan Diskopindag. Selain opak gambir, dia juga memproduksi bumbu pecel serta jamu tradisional. (rsy/sit)










