Kabar Desa

Bukan Kebaya, Tapi Kardus dan Plastik Jadi Simbol Perjuangan Misyani di Hari Kartini

Diterbitkan

-

KERAS: Sosok Misyani, yang setiap hari bekerja keras tanpa lelah. (memontum.com/rsy)

Memontum Kota Malang – Memperingati Hari Kartini, tidak selalu harus identik dengan kebaya atau seremoni. Bagi Misyani (54), semangat Kartini justru hadir dalam kerja keras sehari-hari demi bertahan hidup secara mandiri dan menghidupi keluarga.

Sejak pukul 05.30, Misyani yang bekerja sebagai pemulung, sudah mulai menyusuri jalanan untuk mengumpulkan barang bekas. Kardus, botol plastik hingga gelas air mineral, menjadi sumber penghasilannya. Aktivitas itu, di jalani hingga sekitar pukul 10.30 hingga 11.00 di setiap hari.

“Mulai tahun 2004, saya mulung di sini. Dahulu sama bapaknya anak-anak, sekarang sudah tidak ada. Jadi, saya sendiri yang meneruskan,” kata Misyani, saat ditemui di Tempat Penampungan Sementara (TPS) Borobudur, Selasa (21/04/2026) tadi.

Pekerjaan sebagai pemulung, bagi Misyani tentunya bukan pilihan mudah. Namun, setelah sang suami meninggal dunia, dirinya memilih tetap bekerja agar tidak bergantung pada orang lain. Baginya, bekerja adalah bentuk kemandirian sekaligus cara bertahan hidup.

Advertisement

Dalam sehari, Misyani mengaku kalau penghasilannya tidak menentu. Namun bila dirata-rata, hasil yang diperolehnya sekitar Rp 35 ribu hingga Rp 50 ribu. Tergantung, dari banyaknya barang yang berhasil dikumpulkan.

Baca juga :

Harga jual barang bekas, pun relatif kecil, seperti botol plastik yang hanya dihargai Rp 500 hingga Rp 600 perkg. Sementara untuk kardus, sekitar Rp 1.500.

“Dapat sedikit disyukuri, dapat banyak juga disyukuri. Yang penting berkah,” papar perempuan yang tinggal di kawasan Plaosan, Kecamatan Blimbing.

Usai bekerja, Misyani biasanya pulang menggunakan becak langganan. Ongkosnya berkisar Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu, tergantung banyaknya barang bawaan. Sementara untuk berangkat, sesekali menggunakan ojek daring karena sudah tidak mampu mengayuh sepeda.

Advertisement

“Saya punya empat anak. Dua diantaranya sudah berkeluarga dan saya hidup mandiri di rumah sendiri, agar tidak merepotkan anak-anak,” katanya.

Semangat sederhana itulah, yang membuat kisah Misyani menjadi potret nyata perjuangan perempuan di Hari Kartini. Tanpa sorotan panggung, dirinya terus bekerja, menjaga harga diri melalui kemandirian. Harapannya pun sederhana.

“Semoga diberi kesehatan, rezeki yang berkah dan panjang umur supaya bisa terus bekerja,” imbuhnya. (rsy/sit)

Advertisement

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker

Refresh Page
Lewat ke baris perkakas