Kota Malang
13.465 Rumah di Kota Malang Rawan Bencana, BPBD Petakan hingga Level RT

Memontum Kota Malang – Sebanyak 13.465 rumah dan bangunan di Kota Malang, masuk kategori rawan terdampak bencana. Data tersebut, merupakan hasil pemetaan detail kebencanaan yang dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Malang melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang.
Tidak hanya bangunan, dalam pemetaan itu, juga terdapat sebanyak 53.860 jiwa berada dalam kelompok rentan terhadap berbagai potensi bencana. Baik itu mulai dari banjir, tanah longsor hingga cuaca ekstrem.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Malang, Prayitno, mengatakan bahwa pemetaan dilakukan hingga tingkat paling detail, bahkan mencakup rumah warga, RT/RW, hingga jumlah kepala keluarga yang berisiko terdampak. “Kami sudah memetakan seluruh potensi kebencanaan di 57 kelurahan. Dari jumlah itu, ada 40 kelurahan yang memiliki titik rawan sangat spesifik, sampai data warga yang berpotensi terdampak,” ujar Prayitno, Kamis (14/05/2026) tadi.
Hasil pemetaan tersebut, ujarnya, kini telah diserahkan kepada seluruh lurah sebagai acuan mitigasi dan penanganan cepat saat terjadi bencana. Menurutnya, data yang disusun tidak hanya memuat lokasi rawan, tetapi juga identitas warga, alamat, serta kategori usia yang menjadi prioritas evakuasi. Informasi tersebut, sekaligus menjadi dasar perencanaan pembangunan berbasis mitigasi melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang).
Baca juga :
“Sekarang lurah sudah punya peta risiko. Jadi ketika ada ancaman bencana, respons bisa langsung menuju titik sasaran,” tambahnya.
Dari hasil analisis BPBD, banjir menjadi ancaman bencana dengan tingkat risiko tertinggi di Kota Malang. Kondisi geografis kota yang berada di wilayah cekungan membuat aliran air dari kawasan utara dan selatan bermuara ke wilayah kota.
“Secara geografis Malang ini cekungan. Air dari arah Pakis, Tumpang maupun selatan mengalir ke sini. Karena itu penanganan drainase menjadi fokus OPD teknis, sementara relawan memperkuat mitigasi masyarakat,” ucapnya.
Selain banjir, ancaman cuaca ekstrem juga menjadi perhatian serius, terutama risiko pohon tumbang. Meski perempesan pohon rawan telah dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH), anomali cuaca kerap menyebabkan dahan pohon patah akibat angin kencang.
Saat ini, seluruh data pemetaan kebencanaan telah tersimpan di Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kota Malang, untuk dilakukan pemantauan secara real time oleh camat dan lurah. “Harapannya, dari data ini tidak hanya dipakai saat tanggap darurat, tetapi juga untuk pengurangan risiko bencana agar dampaknya tidak semakin besar,” imbuh Prayitno. (rsy/sit)











