Politik
DPRD Trenggalek Gelar Paripurna Mendengarkan Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo Subianto

Memontum Trenggalek – Bupati Trenggalek, Mohammad Nur Arifin didampingi Wakil Bupati Trenggalek, Syah Natanegara, bersama unsur Forkopimda Kabupaten Trenggalek, mengikuti Sidang Paripurna DPRD dengan agenda mendengarkan Pidato Kenegaraan Presiden RI, Prabowo Subianto, menjelang peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia. Mengawali pidatonya, Presiden Prabowo mengurai langsung keberhasilan presiden-presiden RI sebelumnya, mulai dari Presiden Soekarno hingga Presiden Joko Widodo.
Menjawab pertanyaaan negara lain mengenai keberhasilan Indonesia selama ini, menurut Prabowo karena negaranya menganut demokrasi yang khas Indonesia. Demokrasi yang sejuk, demokrasi yang mempersatukan, bukan demokrasi yang saling gontok-gontokan, saling menjatuhkan, saling memaki, saling menghujat dan bukan demokrasi yang saling membenci. Diharapkan olehnya, demokrasi warisan nenek moyang ini bisa terus dipegang teguh oleh bangsa ini.
“Bangsa Indonesia harus berani melihat kekurangan-kekurangan sendiri, harus berani memperbaiki kesalahan-kesalahan sendiri. Kemudian harus berani melihat penyakit-penyakit di tubuh sendiri agar bisa memperbaiki kekurangan-kekurangan itu. Karena itu tanpa mau mengakui tentu tidak akan mampu memperbaiki,” kata Presiden Prabowo Subianto, dalam pidatonya, Jumat (15/08/2025) tadi.
Presiden juga menyinggung, mengenai kebocoran anggaran negara yang sangat besar, namun negara ini tidak cukup waktu, tidak cukup energi untuk mencari kesalahan orang. Pemerintah yang dipimpinnya, diharapkan bisa mengusahakan diri mencari solusi cepat dan tepat atas masalah pokok tersebut.
Diibaratkan oleh Presiden Prabowo, kalau mengeluarkan darah terus menerus orang bisa mati. Dan bila negara ini kekayaannya keluar terus menerus ke luar negeri, maka Indonesia akan menjadi negara yang gagal.
Presiden perlu mengambil langkah-langkah konkrit, meskipun itu sulit dan tidak populer bagi pihak-pihak tertentu. Langkah-langkah penyelamatan ini perlu diambil, untuk menyelamatkan kekayaan negara guna bisa digunakan untuk kepentingan bangsa di hari ini dan hari esok. Untuk kepentingan generasi sekarang dan juga generasi mendatang.
“Kalau konsekuen menjalankan perintah pendahulu bangsa yang semua telah tertuang dalam UUD 1945, bangsa ini akan selamat. UUD 1945 harus dipelajari dan jangan hanya dijadikan mantra atau slogan dibibir saja. Alasannya karena rancang bangun yang tertuang dalam UUD 45 dianggap relevan, ampuh, nyata dan operasional untuk digunakan. Mengikuti rancang bangun pendahulu bangsa ini kita akan kuat,” terangnya.
Baca juga :
Masih menurut Presiden Prabowo, kekuatan negara itu terlihat bagaimana bisa menguasai dan mengelola kekayaan negara itu sendiri. Harus berani mengkoreksi bila mengambil langkah keliru. Pemerintah melakukan berbagai subsidi pangan mulai dari pupuk beras dan yang lainnya, namun kadang-kadang pangan itu tidak terjangkau masyarakat. Ini menjadikan suatu keanehan, bahkan katanya negara penghasil Sawit tapi sempat mengalami kelangkaan sawit. Semua ini menjadi perhatian serius Presiden ke-8 itu.
Sistem ekonomi yang diamanatkan UUD 1945 diabaikan. Pasal 33 ayat 1, 2 dan 3 seolah-olah diabaikan karena tidak relevan. Padahal ini merupakan pasal pengaman dan benteng pertahanan ekonomi bangsa. Ayat 1 disebutkan perkonomian disusun atas azas kekeluargaan. Ditegaskan oleh Presiden Prabowo berazaskan kekeluargaan bukan azas konglomerat. Kemudian dikupas juga relevansi ayat-ayat berikutnya dalam pasal tersebut.
“Pertumbuhan ekonomi dinilai masih dinikmati oleh segelintir orang karena masih banyak anak-anak kelaparan, petani dan nelayan yang kesulitan menjual hasil panennya. Kemudian rakyat yang belum memiliki rumah layak huni, guru yang belum dihargai dan masyarakat yang tidak mampu berobat karena tidak ada fasilitas kesehatan di daerahnya,” kata Presiden Prabowo.
Melaksanakan undang-undang dasar, Presiden Prabowo melaksanakan program Makan Bergizi Gratis (MBG). 20 juta anak sekolah, anak belum sekolah, ibu hamil dan ibu menyusui sudah menerima program makan bergizi gratis ini. Dalam kesempatan itu Presiden RI itu berterima kasih dan menyampaikan penghargaan kepada Badan Gizi Nasional (BGN) yang telah bekerja keras mencapai capaian ini. “Dalam 7 bulan Indonesia telah mencapai apa yang negara-negara lain butuh mencapai belasan tahun. Seperti halnya Brasil yang membutuhkan waktu belasan tahun untuk melaksanakan program serupa,” imbuhnya.
Banyak hal lain yang disinggung Presiden ke-8 itu, dalam pidatonya. Mengenai program ketahanan pangan serapan beras yang cukup tinggi, sehingga cadangan beras negara surplus luar biasa. Kesejahteraan petani juga terangkat dengan penyerapan gabah petani oleh Bulog Rp 6.500 perkilogram. Belum lagi program Sekolah Rakyat, Koperasi Merah Putih, program kampung nelayan dan program-program strategis nasional lainnya.
Mendengarkan pidato kenegaraan Presiden ke-8 itu, Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, sangat mendukung kebijakan-kebijakan yang telah diambil Presiden Prabowo. Menurutnya, penyerapan beras petani dengan harga yang layak, kemudian Makan Bergizi Gratis, Sekolah Rakyat, Koperasi Merah Putih serta program-program lainnya itu merupakan program nasional yang wajib didukung oleh pemerintah daerah.
Sementara itu, Ketua DPRD Trenggalek, Doding Rahmadi, menyampaikan bahwa banyak sekali informasi yang disampaikan oleh Presiden RI, yang mana semua inti dari yang disampaikan untuk kemajuan bangsa Indonesia.
“Banyak program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis yang disampaikan. Sudah ada 20 juta penerima manfaat. Di kita ada 2 dapur umum MBG yang sudah berjalan dan semoga yang selanjutnya bisa segera kita resmikan. Kemudian juga tentang Koperasi Merah Putih, termasuk juga Sekolah Rakyat, ketahanan pangan dan yang lainnya. Jadi di hari ulang tahun kemerdekaan ke-80 ini, kita semakin baik, semakin sejahtera dan maju,” ujar Doding. (mil/sit)
















