Kota Malang

Ribuan Jamaah Muhammadiyah Rayakan Idul Fitri 1447 Hijriah di Stadion Gajayana

Diterbitkan

-

IDUL FITRI: Ribuan jamaah yang melaksanakan Salat Idul Fitri di Stadion Gajayana Malang. (memontum.com/rsy)

Memontum Kota Malang – Ribuan jamaah sejak pukul 05.30 WIB, mulai berdatangan memadati Stadion Gajayana untuk melaksanakan Salat Idul Fitri 1447 Hijriah, pada Jumat (20/03/2026) tadi. Mereka tampak mengenakan pakaian terbaik, dengan didominasi berwarna putih, serta membawa sajadah dan perlengkapan ibadah.

Suasana khidmat langsung terasa menyelimuti kawasan stadion, yang menjadi salah satu pusat pelaksanaan Salat Id bagi warga Muhammadiyah. Tepat pukul 06.10 WIB, salat dimulai dengan Syawaludin Usman bertindak sebagai imam.

Bertindak sebagai khatib, Prof Dr Ahsan, S Kp M Kes, yang juga Ketua Majelis Pembinaan Kesehatan Umum (MPKU) Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Malang. Dalam khutbahnya, menekankan pentingnya muhasabah atau introspeksi diri sebagai bagian dari perjalanan spiritual manusia. Dirinya mengingatkan, setiap individu perlu merenungkan asal-usul kehidupan, posisi saat ini, serta tujuan akhir yang akan dituju.

“Yang paling penting adalah bagaimana kita melakukan muhasabah. Dari mana kita berasal, saat ini berada di mana, dan ke mana kita akan menuju,” ujar Ahsan, di hadapan jamaah.

Advertisement

Menurutnya, tanpa proses introspeksi, manusia berpotensi kehilangan arah di tengah dinamika kehidupan modern yang serba cepat. Oleh karena itu, momentum Idul Fitri harus dimanfaatkan sebagai titik balik untuk memperbaiki diri.

Baca juga :

Tidak hanya itu, Ahsan juga menyoroti pentingnya memaknai ilmu dan profesi sebagai sarana ibadah kepada Allah SWT. Dirinya menegaskan, setiap pekerjaan memiliki nilai ibadah apabila dilandasi niat yang benar dan memberikan manfaat bagi sesama.

“Setiap profesi yang dijalankan dengan niat yang benar dan memberikan manfaat bagi orang lain, sejatinya adalah bagian dari ibadah,” tegasnya.

Momentum Idul Fitri tahun ini juga diwarnai perbedaan penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah antara Muhammadiyah dan pemerintah. Menanggapi hal tersebut, Ahsan menilai perbedaan itu tidak perlu dipersoalkan secara berlebihan.

Advertisement

“Tidak masalah. Itu tergantung metode yang digunakan dan sudah jelas. Muhammadiyah menggunakan hisab, sedangkan pemerintah dan Nahdlatul Ulama menggunakan rukyat atau hilal,” jelasnya.

Lebih lanjut ditambahkannya, bahwa masing-masing metode memiliki dasar dan standar yang telah disepakati. Karena itu, perbedaan tersebut harus disikapi dengan saling menghormati.

“Kita harus saling menghargai. Masing-masing sudah punya standar nilai,” imbuhnya.

Usai pelaksanaan salat, suasana hangat silaturahmi terlihat di antara para jemaah. Mereka saling bersalaman, bermaaf-maafan, dan mempererat kebersamaan di hari kemenangan. (rsy/sit)

Advertisement
Advertisement
Click to comment

Tinggalkan Balasan

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker

Refresh Page
Lewat ke baris perkakas