Kota Malang

Angkat Relief Candi Jago Jadi Motif Batik Baru, Mahasiswa Binus Malang Siap Kembangkan ke UMKM

Diterbitkan

-

BATIK: Mahasiswa Binus jurusan DKV, Arka Rasika Damara, saat menunjukkan hasil karyanya. (memontum.com/rsy)

Memontum Kota Malang – Relief Candi Jago di Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, menjadi inspirasi karya tugas akhir mahasiswa Program Studi Visual Communication Design (VCD) BINUS University @Malang. Melalui riset selama berbulan-bulan, Arka Rasika Damara, mahasiswa angkatan 2022, mengembangkan identitas visual berbasis relief Candi Jago yang kemudian diterapkan menjadi motif batik dan berbagai produk suvenir.

Pria semester delapan itu, mengatakan bahwa gagasan tersebut berangkat dari minimnya pemanfaatan visual relief Candi Jago sebagai identitas budaya. Selama ini, cerita yang terkandung dalam relief lebih banyak dikenal melalui narasi, sementara visualnya belum banyak diadaptasi ke berbagai media kreatif.

“Potensi Candi Jago sangat besar, tetapi visual reliefnya belum banyak diterapkan pada media lain. Saya ingin membuatnya lebih fleksibel sehingga bisa digunakan pada berbagai produk,” ujar Arka, Kamis (09/07/2026) tadi.

Arka sengaja memilih Candi Jago, setelah melakukan survei ke sejumlah situs cagar budaya di Jawa Timur. Dibandingkan candi lain yang sudah cukup sering diangkat menjadi inspirasi karya, kata Arka, Candi Jago masih jarang dieksplorasi, padahal memiliki nilai sejarah dan cerita yang kuat, seperti kisah Angling Dharma.

Advertisement

“Jadi prosesnya mulai dari nol, di bulan Februari 2026. Mulai dari mengambil foto, survei dan sampai riset beberapa cerita yang mungkin lebih cocok untuk diterapkan,” katanya.

Baca juga :

Arka mengaku dalam proses yang dijalani tidaklah mudah. Salah satu tantangan terbesar adalah merekonstruksi bagian-bagian relief yang telah rusak atau aus dimakan usia. Dia harus menginterpretasikan kembali sejumlah motif agar tetap merepresentasikan bentuk aslinya sekaligus menarik secara visual.

“Dalam proses rekonstruksi memang cukup menantang karena ada beberapa relief yang sudah tidak utuh. Saya mencoba mengolahnya menjadi visual yang tetap mencerminkan karakter Candi Jago, tetapi lebih relevan dengan kebutuhan saat ini,” tutur Arka.

Arka berharap, hasil karyanya tidak berhenti sebagai proyek akademik, melainkan dapat dimanfaatkan masyarakat melalui berbagai produk kreatif yang mengangkat identitas budaya lokal. “Untuk saya sendiri sebenarnya ingin menerapkannya ke masyarakat dan kemudian mungkin bisa dijadikan sebuah media bentuk lain kedepannya,” tambahnya.

Advertisement

Sementara itu, pemilik UMKM Batik Pandan Arum, Halimah, menyambut positif kolaborasi yang dia jalin dengan mahasiswa Binus Malang. Motif yang dikembangkan Arka, menawarkan perspektif baru dalam pengembangan batik khas Malangan.

“Kalau motif khas Malang biasanya topeng atau singa. Motif Candi Jago seperti ini belum pernah ada, sehingga menjadi sesuatu yang baru dan punya potensi pasar,” ucap Halimah.

Dirinya menilai, desain tersebut tidak hanya dapat diterapkan pada kain batik, tetapi juga dikembangkan menjadi berbagai produk suvenir atau merchandise khas Malang. “Harapannya dengan kolaborasi ini dapat terus berlanjut. Terlebih, selama menjadi mitra binaan banyak sekali manfaat yang saya dapat, mulai dari pengembangan desain hingga pemasaran digital yang membantu meningkatkan daya saing usahanya,” imbuhnya. (rsy/sit)

Advertisement
Advertisement
Click to comment

Tinggalkan Balasan

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker

Refresh Page
Lewat ke baris perkakas