Jember
Kantongi Predikat Penduduk Miskin Tertinggi Kedua, Bupati Jember Gandeng Ika Unair

Memontum Jember – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember di bawah kepemimpinan Bupati Fawait, secara terbuka memetakan tantangan terbesar daerah yang harus segera diselesaikan melalui kerja kolaboratif. Berdasarkan data makro pembangunan daerah, Kabupaten Jember saat ini menempati posisi yang kurang menguntungkan, dengan mencatatkan jumlah penduduk miskin secara absolut tertinggi kedua di Provinsi Jawa Timur, tepatnya berada di bawah Kabupaten Malang.
Menanggapi urgensi tersebut, Pemkab Jember secara resmi menggandeng Ikatan Alumni Universitas Airlangga (Ika Unair) Cabang Jember, untuk merumuskan formula aksi pengentasan kemiskinan dari hulu ke hilir. Langkah strategis tersebut, dilakukan melalui prosesi Penandatanganan Kesepakatan bersama sekaligus Pelantikan Pengurus IKA Unair Cabang Jember, yang digelar di Pendopo Wahyawibawagraha, Senin (27/07/2026) tadi.
Dalam pidato kebudayaan dan arah kebijakan, Gus Fawait-sapaan Bupati Jember, menekankan bahwa potret kemiskinan yang tinggi merupakan akar masalah (root cause) utama dari berbagai dinamika sosial-ekonomi, yang mendera Bumi Pandhalungan selama satu dekade terakhir. “Membangun Jember tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan harus bersama-sama. Saya memilih fokus menyelesaikan masalah besar yang menjadi akar persoalan, yaitu kemiskinan. Jika masalah kemiskinan bisa terurai, persoalan lain seperti stunting, AKI (Angka Kematian Ibu), dan AKB (Angka Kematian Bayi) tentu dapat kita atasi,” kata Gus Fawait, di hadapan ratusan alumnus Ika Unair.
Baca juga :
Pemkab Jember menganalisis, tambahnya, bahwa jika kondisi finansial keluarga di tingkat akar rumput berada di bawah garis kelayakan, maka secara otomatis akan memicu efek domino yang buruk terhadap pemenuhan gizi anak dan kesehatan ibu hamil. Ketidakmampuan daya beli masyarakat, memicu tingginya kasus stunting akibat malnutrisi, serta berkontribusi langsung pada tingginya angka kematian ibu dan bayi karena keterbatasan akses nutrisi preventif. Tidak hanya itu, tekanan ekonomi yang tidak merata, juga dinilai memiliki korelasi linear terhadap potensi peningkatan angka kriminalitas di berbagai wilayah kecamatan di Jember.
Oleh karena itu, melalui kemitraan strategis ini, Gus Fawait menantang para pengurus baru Ika Unair Jember yang memiliki latar belakang keahlian beragam, mulai dari pakar ekonomi, sosiolog, pengusaha, hingga akademisi—untuk tidak sekadar menjadikan organisasi ini sebagai tempat bernostalgia. Ika Unair dituntut bertindak sebagai think tank daerah, yang mampu menyuplai rekomendasi kebijakan berbasis riset ilmiah dan data faktual guna memetakan kantong-kantong kemiskinan secara akurat.
Sinergi pasca penandatanganan nota kesepakatan ini, akan diwujudkan dalam pembentukan tim kerja bersama. Tim ini, bertugas menyusun program aksi nyata di lapangan, seperti pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas, pendampingan literasi keuangan bagi pelaku usaha mikro di desa-desa tertinggal, serta penyusunan jaring pengaman sosial yang lebih adaptif.
Pemkab Jember berharap, kontribusi keilmuan dari para alumnus Universitas Airlangga ini, mampu menstimulus pergerakan ekonomi inklusif yang pada akhirnya dapat menurunkan angka kemiskinan absolut secara signifikan. Termasuk, membawa Jember keluar dari zona merah kerentanan sosial di Jawa Timur. (rio/sit/adv)















