Kabar Desa
Bernostalgia bersama Bus Trans Jatim, Masuk Jalur Desa Bertemu Terminal Kian Menua

Memontum Kota Malang – Minggu (23/11/2025) tadi, aku sengaja bersama anak dan istri, ingin jalan-jalan ke Kota Malang dengan tujuan Jalan Ijen. Yaitu, tempat Car Free Day(CFD) yang disiapkan oleh Pemerintah Kota Malang. Cari suasana baru, karena intinya biasa kami CFD di depan Stadion Gelora Brantas, Kota Batu.
Selain mencari suasana baru, kebetulan di dekat rumahku adalah depan BNS (Batu Night Spectacular), atau tempat yang dilintasi Bus Trans Jatim. Ternyata asyik, kayak orang kota beneran.
Paling tidak, aku dan anak-anak ku bisa cerita kalau aku sekarang tidak tinggal di kawasan pedesaan. Sebab dahulu, ketika aku masih STM (Sekolah Tinggi Mesin) sekarang SMK, tak semua orang mau tinggal di Desa Oro Oro Ombo, Kecamatan/Kota Batu. Katanya banyak orang, desa angker dan banyak malingnya.
Tapi kini, kawasan itu menjadi rebutan para investor, karena dekat dengan BNS, Jatim Park 2 dan tempat wisata lain di Jalan Lingkar Barat (Jalibar). Pagi udaranya sejuk banget di Kota Batu.
Seperti biasa, mobil ku panasi dahulu, sebelum kemudian kupacu ke Terminal Batu. Aku dapat bus ke 3 di Trans Jatim.
Tidak masalah, yang penting aku, istri dan anaku, Aqilla Bening Nafisah, dapat bangku paling depan. Tepat di belakang sopir dan pramugari.
“Tujuan mana bu, pak, adik?” tanya pramugari Bus Trans Jatim, dengan sopan.
“Jalan Ijen,” jawab Bu Nurul pada pramugari.
Sepanjang perjalanan dalam Bus Trans Jatim, kami bercerita panjang lebar. Sambil tolah toleh atau tengak twnggok kanan-kiri melihat rambu rambu dan halte bus Trans Jatim. “Maaf bu, belum semua rambunya terpasang,” imbuh pramugari.
Baca juga :
Tidak selang lama, kira-kira 45 dari saya dan keluarga naik Bus Trans Jatim, yaitu dari Terminal Kota Batu, bus belok ke kanan masuk Terminal Landungsari. Saya, istri dan beberapa penumpang bus yang berbadan warna biru dongker, itu tersenyum sambil berkata kita bernostalgia.
“Hee hee, sudah lama kita tidak masuk Terminal Landungsari. Ternyata jalannya berlubang, toiletnya sedang diperbaiki. Kios PKL banyak yang tutup, loket peron tutup. Kantor tempat pegawai kurang terawat. Mikroletnya bisa dihitung, ada bus Bagong yang parkir. Bener-bener nostalgia,” ucap salah satu penumpang Bus Trans Jatim.
Kira-kira 20 tahun yang lalu, ketika aku masih kuliah di UMM, Terminal Landungsari salah satu tempat favorit. Itu lantaran, kalau mau ke pusat Kota Malang atau ke Alun Alun kota Malang, harus naik mikrolet atau bemo (ke daraan roda tiga) dari terminal Landungsari.
Tempat favorit juga, itu karena ibu dan bapak mertua ku selalu membeli es dawet dalam terminal Landungsari. Bus Trans Jatim terus menyusuri jalan di Kabupaten Malang, wilayah Sengkaling terus Tlogomas, Dinoyo dan bus berhenti di halte depan Matos. Kalau tidak digelar CFD, bus menyusuri Jalan Ijen, tempat yang akan aku tuju bersama keluarga.
Tak masalah, perjalananku aku lanjut dengan jalan kaki. Sepanjang jalan ku ingat, kawasan Terminal Landungsari.
Selain bernostalgia, ternyata bangunannya sudah menua. Jadi perlu dirombak total, agar masyarakat mau naik angkutan umum lagi.
Di Jalan Ijen, sambil menikmati kuliner desa, nasi pecel, tahu genjrot dan beberapa makanan kekinian (Taroyaki) yang dibeli Bocil, aku berusaha membangun komunikasi dengan istri dan anak anak anak. My time begitu orang sekarang menyebutnya.
Itung-itung cari suasana baru, karena hampir 4 bulan aku dan keluarga menjalani kehidupan dalam rumah karena aku sakit. Begitu cerita aku dan keluarga sambil menikmati Bus Trans Jatim yang lagi fomo. (man/sit)
















