Kabar Desa
Harga Telur Puyuh Melonjak, Pedagang Sebut Stok Banyak Diserap Program MBG

Memontum Kota Malang – Harga telur puyuh di Pasar Sawojajar, Kota Malang, mengalami kenaikan cukup signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Kenaikan tersebut dirasakan langsung oleh para pedagang, salah satunya Sriyama, yang menyebut harga telur puyuh kini jauh lebih mahal dibanding sebelumnya.
Sriyama mengatakan, saat ini harga telur puyuh mencapai Rp 430 ribu perpeti dengan isi sekitar 10 kilogram. Padahal sebelumnya, harga telur puyuh hanya sekitar Rp 280 ribu perpeti.
“Kalau yang naik ini telur puyuh. Untuk satu peti isinya 10 kilogram, sekarang harganya Rp 430 ribu. Kalau beli eceran seperempat kilo sekitar Rp 12 ribu. Sebelumnya itu satu peti Rp 280 ribu,” ujar Sriyama, Jumat (13/03/2026) tadi.
Sriyama mengaku, kenaikan harga telur puyuh sudah terjadi sejak beberapa waktu lalu. Bahkan, menurutnya, ada pedagang yang membeli dari pemasok dengan harga hingga Rp 450 ribu per peti.
“Sudah lama sih naiknya. Bahkan ada juga yang kulakan sampai Rp 450 ribu per peti, memang mahal sekarang,” katanya.
Baca juag :
Dirinya menduga, kenaikan harga tersebut berkaitan dengan meningkatnya permintaan, salah satunya untuk kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah-sekolah. “Katanya buat sekolah-sekolah, buat MBG. Katanya stoknya tidak ada karena diambil buat MBG,” ucapnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang, Slamet Husnan, mengaku belum menerima laporan khusus terkait kenaikan harga telur puyuh. “Telur puyuh belum dapat info saya. Kalau MBG memang dipakai, tapi tidak terlalu sering,” ujar Slamet.
Namun, Slamet menjelaskan bahwa kenaikan harga suatu komoditas umumnya dipengaruhi oleh hukum ekonomi, yaitu ketika permintaan meningkat sementara ketersediaan barang terbatas. “Biasanya hukum ekonomi. Permintaan tinggi, ketersediaan stabil atau berkurang, harga naik,” jelasnya.
Lebih lanjut, menurutnya jumlah peternak puyuh di Kota Malang relatif sedikit, bahkan diperkirakan tidak sampai sepuluh peternak. Sebagian peternakan tersebut berada di wilayah Kecamatan Kedungkandang dan Sukun.
“Jumlah peternak di Kota Malang cenderung berkurang karena banyak lahan peternakan yang beralih fungsi menjadi kawasan permukiman. Sebagian warga juga sering komplain karena baunya,” imbuh Slamet. (rsy/sit)














